Dari jam 8 tadi berawal dari membuka situs Al Jazeera, aku menonton debat kandidat presiden AS Barrack Obama dan Mc Cain dari Oxforf Missisippi AS. Seru juga ternyata, meskipun banyak kata yang luput dari vocabulary memori. Dengan semangat, ku ikuti juga acara ini sampai selesai.

Sebenarnya saya ngak begitu peduli siapa yang menang pada Pilpres AS kali ini. Karena menurut artikel-artikel yang saya baca, baik Obama maupun Mc Cain, tetap sama-sama berada di bawah pengaruh Yahudi. Memang banyak orang yang terpukau dengan talenta humanis Obama sehingga berharap dia bisa jadi orang No. 1 AS. Apalagi Obama masih muda yang tentunya membawa semangat pembaharuan. Inilah yang menginspirasi para politikus muda Indonesia untuk maju mencalonkan diri. Ya, maklumlah euforia Obama begitu massif di Indonesia, bahkan cendrung dibesar-besarkan.

Kembali pada debat, dari rangkaian debat tersebut nampak sekali kematangan dan pengalaman Mc Cain. Seringkali Obama terpancing untuk segera menanggapi pernyataan Mc Cain yang dirasa agak memojokkan dirinya. Meskipun Obama bisa menyatakan kritik atas kebijakan Republikan terkait perang Irak yang memakan 10 Miliar Dollar/Bulan dan juga kebijakan politik AS yang mengepankan pendekatan militer, namun Mc Cain dengan mengangakt isu security dalam negeri bisa menimpali balik kritik Obama. Sering dia mengatakan, Obama tidak tahu tentang strategi militer.

Menurut saya, Obama telah melihat kepentingan AS di Iraq, Afganistan, Iran, dan Pakistan sangat erat kaitan dengan masalah energi. Oleh karena itu Obama mengedepankan pengembangan sumber energi non minyak seperti biosel dll yang ramah lingkungan. Sehingga ketika kebutuhan energi terpenuhi AS tidak perlu lagi terlibat dalam konflik di daerah-daerah kaya minyak. Anggaran militer bisa dihemat untuk kepentingan di dalam negeri.

Bagi Obama, lawan serius AS adalah Al Qaeda yang sekarang masih bergerilya di sekitar Afgan dan Pakitan. Sehingga baginya, terus berkonsentrasi di Iraq adalah strategi yang keliru.  Meskipun kita tahu bahwa banyak rekayasa terkait peristiwa 9/11, namun kedua calon presiden AS ini tetap mempercayai bahwa dalam peristiwa itu adalah Al Qaeda dan Osama Bin Laden. Agaknya isu ini masih menjadi primadona untuk memperoleh dukungan dari rakyat AS.

Ketika, AS telah sanggup memenuhi kebutuhan energi lewat sumber alternatif, maka hubungan luar negeri dapat dilakukan tanpa militer. Pendekatan persuasif akan dilakukan termasuk dengan negara-negara penentang AS no wahid seperti Iran, Korut, Kuba dan beberapa negara di Amerika Selatan. Begitulah kata Obama. Jadi ketika musuh telah dirangkul, maka rakyat AS tidak perlu lagi phobia dengan serangan musuh seperti kejadian 9/11 yang sampai saat ini masih membekas di benak orang-orang AS.

Namun, dari debat tadi pagi agaknya Mc Cain mampu menyakinkan publik dengan ketenangan dan pengalamannya. Sementara Obama masih agak teoritis menyampaikan ide-ide tentang masa depan AS. Entahlah, siapa yang menang? Mari kita tunggu bersama.