Seringkali masalah membuat kita gila. Otak yang membawa beban membuat pikiran tak lagi jernih. Yang tampak hanyalah bayang-bayang kabur. Terkadang stress bahkan membuka gila.

Itulah yang kurasakan belakangan ini. Entah beban apa yang membuat aku seperti ini, tiada pula ku tahu benar. Mungkin ketakutan-ketakutan akan masa depanlah yang merisaukan. Sampai hari ini belum wisuda. Kalau wisuda nanti bisa kerja apa, apalagi untuk jurusanku yang tidak marketable. Kalau mau ngandalin soft skill, aku bisa apa? Duh benar-benar pusing.

Begitu pula dengan masalah cinta. Sampai detik ini belum juga ada yang tertarik denganku. Apakah aku bujang lapuk? Yang mesti merana karena tak laku? Telah pula aku berusaha jadi orang baik. Tapi tak bisa aku jadi baik-baik amat. Karena aku sudah kehilangan kepercayaan dan tak tahu lagi apa itu kebaikan. Telah kucoba pula menjadi orang yang terbuka. Ternyata semua usaha itu berbalik. Aku semakin ingin menyendiri.

Entah apa dosa, hingga Tuhan menyempitkan dada, terus sesak seperti ini. Tak serius beribadahkah? Banyak berdustakah? Sering meyakitikah?

Dalam kekalutan beberapa hari ini, hanya dia yang membuatku bisa tersenyum melupakan sejenak halangan hati. Tak seperti biasa. Tiap kali ku sms, segera saja ia membalas. Padahal dulu ngak begitu. Tiba-tiba ia jauh menjadi baik. Kadang sering membuat lelucon juga. Meski bahasanya masih ia jaga, tapi tetap saja ada yang lain. Daripada penasaran kutanyakan saja perubahan itu padanya. Ia cuma menjawab, “Aku akan berbuat pada pada orang yang juga baik padaku. Siapa saja.” Mungkin aku saja yang kege-eran karena dia serasa begitu dekat belakangan ini.

Kembali pada masalah. Agaknya ketakutanku itu karena aku terlalu banyak memikirkan, bukan segera menyelesaikan. Sehingga alam bawah sadarku terus ditekan. Akibatnya ada beban sekarung yang menghimpit pundak. Benar juga kata orang psikologi. Masalah itu menjadi besar/kecil tergantung pikiranku menyikapinya.

Duh, biarkanlah saja semua berjalan seperti apa adanya. Yang penting jalanin aja apa yang terjadi. Mau kerja apa nanti, mau dikatakan baik atau enggak terserah, mau nikah sama siapa nanti biarlah takdir saja yang memilihkan. Daripada mumet, bikin sakit kepala. Karena tidak semua harus difilsafatkan.

Mudah-mudahan masalah yang ada bisa dijadikan media untuk mengasah kemampuan. Menambah skill hidup. Kalau punya motor yang rusak, kan bisa belajar bengkel. Dapat juga ilmu baru. Kalau komputer kena virus, bisa juga jadi petualangan mencari antivirus. Kalau sering ditolak sama cewek, yang mudah-mudahan bisa jadi bekal jadi lebih sabar. Kalau sampai sekarang belum wisuda, mudah-mudahan bisa jadi kesempatan untuk menambah ilmu-ilmu baru. Kalau sekarang berwajah jelek, mudah-mudahan di sorga bisa jadi ganteng. Kalau sekarang lagi bokek, yang persiapan kalau esok mengalami kemiskinan. Kalau dosen galak pas ngajar, ya hadapin aja. Anggap saja latihan mental.

Hidup harus terus berjalan, sampai batas yang tidak kita duga. Mungkin itulah romantikanya misteri masa depan. Dinikmatin aja. Ngak usah nanya-nanya ke peramal kayak Mama Lauren atau lihat bintang-bintang segala.

Udah dulu ah. Dah kehabisan ide ni… Entar disambung lagi.