“Bacaan yang bagus itu adalah benar tajwidnya, benar melafadzkannya. Yang paling penting, ikhlas membacanya. Orang yang mendengar menjadi sejuk hatinya semakin ingin mendekatkan diri pada Allah.”

Itulah sebuah sms yang kuterima hari jum’at yang lalu (12 September 2008), ketika sore harinya aku diminta takmir Masjid dekat asrama untuk menjadi qori dalam sebuah pengajian mingguan ramadhan. Dengan semaksimal kemampuan aku kerahkan untuk melantunkan Al Qur’an sebaik mungkin. Namun aku yakin, itu belum ada apa-apanya.

Sms itu datang dari seorang akhwat yang ku kenal baik. Dia punya talenta tilawah yang bagus. Berbagai irama ia kuasai. Maka tak salah dalam berbagai kesempatan dia menang dalam berbagai ivent MTQ. Sekarang dia sudah ngak di Jogja lagi, karena sudah kerja di kampungnya Padang Panjang.

Dalam 2 tarawih terakhir, ustadz-ustadz yang memberikan ceramah di masjid asrama selalu mengangkat tema tentang keutamaan membaca Al Qur’an. Barang siapa yang mahir membaca Al Qur’an, maka ia akan bersama dengan para Nabi dan Rasul di Sorga nanti. Bagi siapa yang masih terbata-bata membaca Al Qur’an. maka baginya dua pahala kebaikan.

Sungguh bahagia jika memiliki kemampuan membaca Al Qur’an yang baik. Tambah bahagia lagi jika berjodoh dengan akhwat yang punya suara bagus ketika melafadzkan Al Qur’an. Dan lebih bahagia lagi jika memiliki anak-anak yang senang dengan Al Qur’an. Betapa indahnya membangun keluarga yang senantiasa dihiasi oleh Al Qur’an.

Karena Al Qur’an pengobat lara di hati. Pengobat sakit jiwa dan lahir. Petunjuk yang akan menuntun jalan terhindar dari kesesatan. Duhai Ya Allah, perkenankanlah memiliki keluarga seperti itu. Amiin…