Beberapa waktu yang lalu, dalam kuliah Bahasa Arab, Pak Hamdan, S.S,. M.A, seorang dosen muda yang dulu ku kenal di Jama’ah Shalahuddin menyampaikan suatu berita yang menarik terkait dengan lulusan Universitas Al Azhar dari Mesir. Kata beliau, dalam sejarah sampai hari ini, belum ada mahasiswa Malaysia yang memperoleh predikat cum laude dari Al Azhar.

Jangan bandingkan dengan Indonesia. Doktor Al Azhar pertama dari Al Azhar se Asia Tenggara adalah orang Indonesia, ahli tafsir Al Qur’an Prof. Dr. Quraish Shihab. Apalagi yang lulus dengan cum laude baik dari S1, S2 atau S3. Kata pak Hamdan, hal itu disebabkan sistem pengajaran di Al Azhar sangat mengedepankan kemampuan hafalan. Bahkan diceritakan sistem komputerisasi tidak terlalu dipentingkan oleh Al Azhar, karena kemampuan hafalan staf akademik mereka luar biasa.

Meski hafalan tidak kuat-kuat amat, namun sistem pendidikan pesantren di Indonesia yang memang sangat mengandalkan aspek hafalan, telah mempersiapkan calon mahasiswa Indonesia untuk kuliah di Universitas Islam ternama itu. Sehingga mereka tidak lagi canggung dengan model pendidikan di Al Azhar dan bisa menyelesaikan studi dengan predikat kelulusan cum laude.

Berbeda dengan sistem pendidikan di Malaysia yang banyak dipengaruhi oleh model Inggris (Eropa pada umumnya) yang mementingkan aspek pemahaman dan analisis. Sehingga ketika menemukan sistem pembelajaan yang berbeda mereka  membutuhkan adaptasi.

Terlepas dari sistem itu, agaknya memang orang Indonesia lebih pintar dari orang Malaysia. Sekarang coba bandingkan berapa sih siswa Malaysia yang bisa meraih medali dalam lomba-lomba olimpiade sains tingkat internasional? Berapa dosen Indonesia yang mengajar di Malaysia dan dosen Malaysia yang mengajar di Universitas Malaysia?

Memang belakangan ini institusi pendidikan Malaysia banyak dilirik oleh orang-orang Indonesia karena dinilai bagus. Namun, menurut penulis ini bukan terkait dengan kalahnya universitas-universitas di Indonesia, tapi lebih kepada sistem dan lingkungan akademis yang kondusif di Malaysia. Di sana pemerintah memang sangat memperhatikan pendidikan. Kalau di negara kita, pemerintah masih setengah hati.

Agaknya sebagai bekas jajahan Inggris, Malaysia punya sisi kelebihan dalam kemampuan Bahasa Inggris. Sehingga mereka punya akses yang lebih luas untuk melanjutkan studi ke berbagai negara yang berbahasa Inggris. Tapi, tetap saja statistik mahasiswa luar negeri mereka masih kalah dari Indonesia.

So, kata seorang teman, “ntar kalau kamu mau S2 jangan ke Malaysia lah. Karena mereka bukan pusat ilmu. Kalau mau S2 atau S3 sekalian aja ke Amerika atau ke Eropa.” So, Malaysia g hebat-hebat banget gitu lhoh…