Ternyata hipotesis yang saya sampaikan pada artikel Partai Gerindra dan Kaum Kiri, tidak sama dengan pandangan yang disampaik oleh Bapak Ikrar Nusa Bhakti. Beliau lebih cendrung meletakkan Gerindra sebagai Partai Nasionalis Borjouis. sebagaimana yang beliau sampaikan dalam kutipan artikel berikut ini:

“Menjelang Pemilu 2009, tipologi partai mirip 1950-an. Misalnya, Sosialis kiri (Partai Buruh); sosial demokrat dianut Partai Persatuan Indonesia Baru (PPIB); nasionalis kerakyatan (PDI-P, PDP, PNI Massa Marhaen, PNBKI); nasionalis borjuis (Golkar, Hanura, Gerindra, Partai Demokrat, Partai Barnas); Islam modernis (PAN, PMB, PKS, PBB dan separuh PPP); Islam dan Sosialis (PBR); Islam tradisionalis (PKB, PNU; separuh PPP plus partai beraliran NU); partai-partai kecil beraliran campuran, sosialisme dan nasionalisme.” (Sumber: http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/09/08/00250255/kekuatan.parpol.pada.pemilu.2009)

Namun, dalam artikel yang dirilis oleh Koran Kompas senin 8 september itu, tidak saya temukan penjelasan kenapa Pak Ikrar mengkategorikan Partai Gerindra sebagai Nasionalis Borjuis. Mungkin kita perlu menelusuri lagi tentang kategorisasi yang beliau sampaikan yang mencoba mencocokan dengan teori Herbert Feith.