Hari ini aku kembali bertemu dengan dia yang minggu kemarin juga ikut kuliah Bahasa Palembang. Jika minggu kemarin aku persis duduk di sampingnya, tadi pas kuliah aku persis duduk di depannya. Aku tak tahan untuk menahan pandangan menatap wajahnya yang benar-benar ayu. Astaghfirullah. Mudah-mudahan Allah memaafkan aku. Sosok wajahnya yang memikat hati. Raut khas gadis Jawa.

Sampai kuliah ketiga ini aku belum tahu siapa gerangan gadis nan jelita itu. Yang jelas dia mahasiswi Jurusan Sastra Nusantara atau Sastra Indonesia. Dia benar-benar manis. Dengan kacamata yang menghiasi wajahnya, dia tampak smart sekali. Namun sayang, dia masih berpakaian ketat. Aku masih sangsi dia seorang muslimah. Tapi aku berharap dia Islam. Karena teman-temanku yang serupa dengan wajahnya kebanyakan beragama Nasrani. Sempat jua aku menangankan bagaimana kalau dia mengenakan jilbab. Kayaknya pasti lebih cantik.

Dia benar-benar menyihirku tadi siang, setelah kuliah sebelumnya terasa membosankan. Agaknya hancur puasaku hari ini karena terlalu sering memandangnya, dan memikirkannya. Setelah sholat Ashar di Maskam segera ku kayuh sepeda mini pulang ke asrama. Di perempatan pinggit, lagi-lagi mataku menemukan sosok menarik. Seorang gadis sedang menunggu bis di trotoar. Berbeda dengan Mbak yang bareng kuliah denganku tadi, gadis ini tampak cantik dengan baju kurung muslimah ala Melayu membalut tubuhnya. Sedikit demi sedikit aku bisa menekan lamunanku dari sang gadis sastra. Memang berbeda pesona gadis berjilbab dengan gadis tak berjilbab. Ketika memandang gadis berjilbab ada rasa tenang yang muncul. Tiada pikiran kotor yang menganggu.

Duh… Hari ini aku benar-benar kacau.