Partai Gerindra dan Kaum Kiri


Pada awal kuliah dulu, kampusku identik dengan kampus merah. Dimana mahasiswa-mahasiswa banyak bergulat pada pemikiran kiri (Marxis-Sosialis). Sehingga, pada masa itu aku lumayan takut juga terjerat dalam arus pemikiran mereka yang nota bene membenci hal-hal yang berbau agama.

Tapi untunglah suasana angker itu memasuki masa-masa akhir, dan mulai tahun 2004 jejak mereka seakan pudar dari peredaran kampus filsafat. Sekarang yang ada adalah kampus filsafat yang gaul dengan mahasiswa-mahasiswa yang dinamis dan tidak terjebak pada fanatisme ideologi-ideologi tertentu, khususnya ideologi kiri.

Beberapa hari yang lalu, aku mendapatkan informasi bahwa para pengusung Marxisme di Filsafat yang dulu sering masuk penjara karena aksi-aksi radikal yang mereka lakukan ada beberapa dari mereka yang mencoba menguji nasib dengan mencalonkan diri menjadi anggota parlemen. Tidak tanggung-tanggung partai yang dipilihpun adalah Partai Baru yang lagi gencar-gencarnya melakukan kampanye, GERINDA. Sebenarnya ada yang janggal dengan fenomena ini. Mengapa tidak? Para aktivis kiri itu dulu didzolimi oleh militer, dan sekarang mereka berjuang di Partai yang dipimpin oleh mantan pentolan Militer, Prabowo dan Muchdi.

Memang agak janggal kalau kita melihat sekilas mata. Karena ngak logis bagi para korban militer seperti mereka berdiri di garda partai yang kental nuansa militernya. Tesis yang mungkin tepat mengambarkan realitas ini mungkin bisa kita lihat pada visi yang diusung oleh Partai Gerindra. Dalam iklan-iklan yang sering muncul di media akhir-akhir, Gerindra mengusung semangat mengangkat harkat martabat petani dan pedagang tradisional. Tahukah anda dua elemen masyarakat ini dalam term Marx adalah bagian dari kaum proletar yang diperlukan secara tidak adil oleh sistem sehingga kehidupan mereka lebih banyak berkuatat dengan penderitaan. Agaknya kecendrungan Gerindra yang sangat peduli sekali dengan Petani dan Pedangan tradisional inilah yang menjadi titik temu, sehingga para aktivis kiri masuk menjadi anggota Gerindra. Konon, dikatakan pula bahwa ada sebuah kesan mengusung Prabowo sebagai Hugo Chaveznya Indonesia. So, apakah Gerinda adalah Partai Sosialis baru Indonesia? Penulis sendiri juga tidak bisa memutuskan. Tapi tulisan ini hanya memaparkan sebuah tesis yang bisa jadi salah, namun kemungkinan benarnya juga ada.

Iklan

7 thoughts on “Partai Gerindra dan Kaum Kiri

  1. Kesamaan kepentingan… jadi faktor utama migrasi itu…
    Sehingga masalah masa lalu pun bisa sejenak dilupakan oleh aktivis2 tsb..

  2. Memang setelah tertindas sekian lama, maka seluruh gerakan kiri atau komunis merasa bahwa kini saatnya untuk dapat mengekspresikan diri. Kebanyakan mereka sudah tua, tidak punya karisma dalam pergerakan. Mereka bukan syam, aidit, atau tan malaka yang memiliki gagasan-gagasan melalui tulisan yang justru mengilhami gerakan-gerakan mahasiswa, karena memiliki nilai perlawan terhadap establishment yang jelas; artinya, ideologi perjuangan menngena dengan jiwa muda yang selalu ingin mengerkspresikan diri tanpa pamrih. Jadi sebenarnya gerakan komunis atau sosial sekarang ini tinggal simbol yang sama artinya dengan simbol-simbol kekaryaan(golokar), bulan bintang (masyumi) atau simbol “peace”. Jadi tidaklah mengheraqnkan bahwa yang tertinggal hanyalah takut tidak mendapat kesempatan untuk berperan. Tidak ada laghi unsur-unsur ideologis apalagi perjuangan untuk rakyat banyak; karena pada dasarnya para “pejuang” yang disebutkan tidak memiliki “beliefs” yang tumbuh menjadi nilai-nilai karakter memperjuangkan rakyat. Yang ada hanya beliefs to rule dan takut ketinggalan.

  3. Saya pikir terlalu dini jika menganggap seorang prabowo disebut orang kiri. Bagi saya program-program Gerinda yang dekat dengan petani dan buruh masih sebatas pemanis iklan partai. Dan saya sebagai simpatisan kaum kiri sangat menyayangkan teman-teman seperjuangan yang sudah melacurkan idealismenya dengan bergabung dengan partai yang para pimpinannya mempunyai andil dalam kehancuran bangsa. Dan yang pasti Hugo Chavez tidak layak disamakan dengan seorang prabowo.

  4. PARTAI GERINDRA, UNTUK INDONESIA RAYA………….

    Partai Gerakaan Indonesia Raya ( Partai Gerindra) memang bukan satu-satunya partai yang lahir menjelang pemilu 2009. Banyak partai baru bermunculan hingga akhirnya tersaring menjadi 38 partai politik peserta pemilu. Tetapi hal yang menarik dari PartaI Gerindra adalah fenomena kemunculannya yang menyentakkan banyak kalangan.. Bagaimana tidak, diawal kemunculannya tidak satupun orang menyadari bahwa saat itu telah muncul suatu kekuatan baru dengan gerakan baru yang membawa haluan baru dan mengusung pemimpin baru secara konsisten sejak awal kemunculannya..

    Gerindra bukanlah parpol yang masih “wait and see” untuk mengusung suatu tokoh menjadi calon presiden. Betapa dengan tegas dan jelas, sejak awal Gerindra hanya mengusung satu nama “Prabowo Subianto” untuk menjadi capres dan tetap konsisten dengan konsep capres tersebut.

    Dalam situasi demikian Gerindra tumbuh dengan pesat bagaikan bayi ajaib, dimana semua energy yang dikeluarkan hanyalah focus pada satu tujuan yaitu semata-mata mengambil alih kepemimpinan nasional secara konstitusional. Hal inilah yang menjadikan betapa sistematisnya partai ini bekerja. Mereka tidak membuang energy sedikitpun untuk pertikaian siapa capres, bagaimana kans seseorang untuk dicalonkan sebagai capres, melirik dan mengukur kekuatan partai-partai lain untuk diajak koalisi, bahkan tidak pernah memikirkan bagaimana menjegal lawan dalam pertarungan capres, baik melalui peraturan perundang-undangan maupun melalui issu-issu yang direkayasa untuk menjadi konsumsi public.

    Partai Gerindra bekerja scara sistematis dan konstitusional melalui tahapan-tahapan yang menjadi persyaratan sebuah parpol. Dan dengan keajaiban yang tidak terduga, bagaikan sebuah ‘miracle’ yang mungkin terasa bagaikan ada tangan-tangan Tuhan yang terjulur menyambut kehadiran Partai Gerindra ditengah sengitnya pergulatan politik di Negara ini.

    Partai ini resmi dibentuk pada tanggal 06 Februari 2008. Duapuluh hari kemudian, guna memenuhi persyaratan Undang-undang Partai Politik bahwa sebuah Partai Politik harus berbentuk Badan Hukum, maka Partai ini di daftarkan pada kantor Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, guna mendapatkan pengesahannya sebagai sebuah Badan Hukum. Dengan pola kerja yang sangat sistematis, dalam waktu 20 hari, Partai Gerindra ternyata berhasil membentuk kepengurusan di 85% propinsi di Indonesia dan di masing-masing propinsi Partai Gerindra telah terbentuk di 70% Kabupaten Kota, lengkap dengan kepengurusan, kantor dan persyaratan administrasi yang diwajibkan oleh Departemen Hukum dan Hak asazi Manusia sehingga oleh Dpartemen Hukum dan HAM RI Partai Gerindra dinyatakan resmi sebagai Partai Politik yang ber badan hukum .

    Langkah selanjutnya adalah mendaftarkan Partai Gerindra pada Komisi Pemilihan Umum untuk megikuti verifikasi apakah bisa menjadi Partai Politik Peserta Pemilihan Umum (PEMILU) atau tidak. Untuk Partai baru seperti Gerindra yang baru berusia 4 bulan, pesyaratan yg diamanahkan dalam Undang-undang Pemilu terhadap sebuah partai untuk ditetapkan sebagai Partai peserta PEMILU cukup berat, tetapi Partai ini dapat membuktikan kemampuan kerjanya yang sangat fantastis dimana persyaratan verifikasi factual terhadap kepengurusan, kantor plus isinya dan jumlah keanggotaan yang diwajibkan KPU ternyata dapat dipenuhi oleh Partai Gerindra secara sempurna, bahkan untuk jumlah keanggotaan dapat dipenuhi sampai dengan 500% (limaratus persen)dari yang diwajibkan. Tidak ada kata lain lagi bahwa, Partai Gerindra harus ditetapkan sebagai Partai peserta Pemilu dan berhasil mengantongi nomor Partai Politik, yaitu Partai Gerindra nomor 5. Bagi rakyat Indonesia, angka 5 adalah angka yang penuh makna dimana Dasar Negara kita Pancasila ada 5, kewajiban Ibadah sholat umat muslim (sebagian besar rakyat Indonesia adalah muslim) sebanyak 5 waktu dan Rukun Islam ada 5. Suatu angka yang sarat makna dan mudah untuk diingat dan ditunjukkan oleh rakyat Indonesia.

    Setalah ditetapkan sebagai peserta Pemilu, Parti Gerindra harus segera maju kemedan perang dan mulai mengerahkan segenap kemampuan moril dan materil untuk tetap konsisten memperjuangkan visi-misi dan tujuannya yaitu menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang bermartabat, mandiri dan menjadi Tuan di negaranya sendiri. Dan tentunya kesemua hal itu akan dicapai dengan meraih kepemimpinan nasional secara konstitusional serta memenangkan Pemilu 2009, baik legislative maupun pemilihan Presiden.

    Sejak awal pendiriannya, visi dan misi partai Gerindra telah disosilaiasikan dengan jelas dan konsisten. partai yang lahir dari sebuah keprihatinan mendalam terhadap kondisi bangsa saat ini. Perjalanan reformasi yang sudah mencapai 10 tahun tidak menunjukkan kearah kemajuan tetapi menarik bangsa ini mundur kebelakang akibat kepemimpinan yang tidak tegas, tidak bersih dan sarat kepentingan golongan. Dukungan dan kesabaran rakyat menanti buah dari reformasi ternyata hanya dibalas dengan penderitaan yang semakin meluas dan memerosotkan bangsa Indonesia ke jurang kemiskinan dan kesulitan disetiap sendi kehidupan rakyat. Bertambahnya pengangguran, sulitnya akses terhadap pendidikan dan fasilitas pertanian, pelayanan kesehatan yang minim serta tingginya harga-harga kebutuhan pokok, berkurangnya sumber-sumber alam yang menjadi hajat hidup rakyat Indonesia, adalah menjadi gambaran nyata penderitaan rakyat Indonesia.

    Dalam suasana prihatin demikian, Partai Gerindra menawarkan konsep kemandirian bangsa ; yaitu mandiri dalam mengelolah dan memanfaatkan sumber daya alamnya yang melimpah ruah, sehingga pemanfaatannya diperuntukkan semata-mata untuk kesejahteraan rakyat Indonesia. Sebagai Negara yang pernah menjadi Negara yang berswasembada pangan dan sekaligus Negara anggota OPEC, tentunya Indonesia memiliki kekayaan alam yang mampu memproduksi hasil-hasil alamnya sendiri, baik untuk rakyatnya maupun untuk dunia, hasil-hasil alam bangsa Indonesia.

    Salah satu permasalahan bangsa ini adalah tingkat ketergantungan yang tinggi kepada pihak asing dan pengelolaan administrasi pemerintahan yang belum ditata secara maksimal dan masih mencari format yang ideal sesuuai kepribadian bangsa, sehingga pelayanan public menjadi hal yang sangat mempihatinkan di negeri ini.. Untuk itu tantangan ini harus mampu dijawab oleh Partai Gerindra yang mengusung konsep “ekonomi kerakyatan” dan system pemerintahan yang berakar pada budaya bangsa sendiri dengan mengedepankan sumber daya alam dan sumber daya manusia Indonesia.

    Visi & misi Partai Gerindra yang bertujuan pada peningkatan kualitas hidup, termasuk diantaranya kualitas pendidikan, kualitas kesehatan yang dipadu kuat dengan akar budaya bangsa, dan memiliki sikap nasionalisme sejati, kiranya dapat menghantarkan Negara ini menjadi NEGARA YANG SEJAHTERA (WELFARE STATE) dan BERMARTABAT.

    Salam Indonesia Raya………………….

  5. Kita jangan berpikiran seperti orde baru yang alergi terhadap kata “rakyat”, membela rakyat kecil bukan berarti marxis atau komunis….
    Gerindra memperjuangkan ekonomi kerakyatan berdasarkan nilai2 Pancasila dan UUD 1945 (bukan UUD 2002 yang sudah liberal).
    Kita jangan Communistophobia, sangat alergi jika ada kata2 “rakyat” apalagi “rakyat kecil”….
    Salam Indonesia Raya!

  6. Gerindra boleh juga. Hanura bagus juga. PD buruk karena kepemimpinannya tidak jelas, rakyat semakin sengsara. TV-TV berita yang ada oportunis. Tak sepenuhnya perang juga, anda bolehs etuju dan boleh tidak, tapi hanya untuk bersaing memenangkan lebih banyak iklan mengeruk untung sebsar-besarnya, melalui permainan perasaan rakyat, agar kupa lapar, serta semakin bodoh dan tolol. Pemanang itu adalah bangsa “kulit putih”. Semua telah dikuasasi mereka sejak lama. Maka pejabat-pejabat hanya mainan mereka, KKN mereka, inilah yang berujung pada mafia kekuasaan. Belanda dulu pun memanfaatkan “kulit putih” negeri ini. Tapi di zaman Wiranto dan Prabowo masih aktif, “etnis putih” dijarah dan dibakar dimana-maa, dan di bawah SBY etnis ulet tapi mayoritas mereka curang dan licik dalam permainan hidup ini, kini aman karena SBY. TV-TV itu pun milik mereka. TV-TV itu seolah-olah membela rakyat dan hendak mengajak menjatuhkan rezim saat ini, pemerintah SBY, tapi ternyata tidak juga. Jadi tv-tv itu tidak jelas membela kejuangan rakyat tetapi cari untung belaka. Maklum di balik itu adalah orang “kulit putih”, dengan kuli-kuli kaum intelektual kita yang susah hidup dan akhirnya terbeli dengan beberapa juta rupiah, dan tidak punya nyali dalam mengungkap kebenaran, malas, dan tidak jelas. Kalau kebakaran tangki Pertamina Cilacap jelas bukan pengalihan isu, tapi kecerobohan. Tapi kalau berbagai berita mulai sidang pengadilan fitnah teroris terhadap tersangka teroris ustaz Abu Bakar Ba’asyir, bom-bom buku, perebutan ketua PSSI yang dibesar-besarkan, hingga tersangka penipu Selli dan tersangka karyawati korup Citibank, Melinda, juga bukan hanya pengalihan isu, tetapi dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya mengalihkan banyak isu. Utamanya soal skandal bank century, yang sebagian uangnya digunakan jelas untuk pemenangan SBY pada pemilu 2009. Tujuannya agar perhatian masyarakat tidak terpaku pada masalah-masalah yang tidak dilaksanakan pemerintah dalam membangun bangsa, dan agar dua media besar negeri ini, MetroTv adn TVOne, utamanya, sibuk memberitakan tetek-bengek itu. Sebab Indonesia diperkirakan akan mengalami seperti Tunisia, Mesir dan Libia, karena tidak mampu menciptakan harga-harga murah dan lapangan kerja buat rakyat. Juga isu santer bahwa SBY mungkin tidak bisa bertahan hingga 2014. Pola-pola seperti ini biasa dilakukan di masa lalu. Satu contoh bahkan di masa Sukarno saja, kelompok musik mengklaim dibayar Sukarno agar mau masuk penjara dengan isu musik ngak-ngik-ngoknya, akibat tekanan publik. Di masa Pak Harto lebih banyak dan lagi kejam. Tak perlu dirinci di sini. SBY juga melakukan hal sama meskipun terlihat seolah-olah tidak kejam terhadap rakyat. Tapi menyengsarakan rakyat banyak apa tidak kejam? Tapi pesaing-pesaing atau komponen-komponen SBY yang kini di luar kekuasaan juga sepertinya pengecut, dan beraninya hanya bicara atau sedikit memprovokasi dan tidak berani bertindak terang dan sistematis melengserkan SBY, meski situasi negeri ini sudah parah begini. Padahal oposisi-oposisi di Tunisia, Mesir dan Libia sangat canggih dalam menggerakkan dan memicu unjuk rasa besar efektif melengserkan. Ini bukan soal 2 tahun, 30 tahun, 40 tahun orang berkuasa, tetapi soal rakyat yang semakin dibuat lapar dan ketidak adilan serta korupsi semakin bebas lepas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s