Terkadang dirimu teramat kejam duhai wanita. Ketika ada yang seorang pemuda yang mati-matian mencintaimu, mengharapkan kasih dan sambutan cinta darimu, namun kau acuhkan saja dia. Tidakkah dirimu tahu betapa beratnya untuk menyampaikan perasaan kepada dikau yang katanya adalah makhluk penunggu?

Seringkali muru’ah diri harus dilacurkan untuk mengapai cintamu. Seringkali perhatian besar tercurah untukmu. Namun dengan ringannya kau menjawab, “Maaf mas, cobalah cari yang lebih baik”, sebagai jawaban klise penolakanmu karena kau menganggap sang pria adalah sosok yang ngak ganteng, urakan, ngak gaul, ataupun kau anggap tak level dengan dirimu.

Terkadang aku ingin membencimu wahai wanita. Tapi ibuku yang perempuan, telah meredam rasa marahku itu. Agamaku yang kuyakini terlalu menghormatimu. Sehingga kebencianku luluh juga akhirnya. Dirimu tampak lemah gemulai. Tapi dengan kemanjaanmu itulah kau taklukan laki-laki bertekuk di hadapanmu. Dengan senyum dan riuh rendah suaramu, kau hiptonis laki-laki untuk melakukan apa saja buat dirimu.

Tapi egomu hanya sampai umur 25 tahun. Setelah itu kau akan merasa tua. Ketika itu, egomu telah mulai kau campakkan. Kriteria-kriteria idealmu telah kau lucuti satu per-satu. Karena desakan untuk segera mengakhiri masa lajang telah membuatmu tak lagi pilih-pilih. Siapa saja silahkan maju.

Oleh karena itu, ku pinta padamu duhai wanita, “Janganlah kau abaikan cinta seorang pria yang tulus mencintaimu, hanya karena zahirnya kau menganggap dia tak selevel dengan dirimu”. Jika dirimu tak suka. Katakan saja apa adanya. Karena itu lebih baik bagi hatinya, daripada kau permainkan dia dengan kata-kata dilematismu yang membuat dia merasa masih punya harapan untuk dekat denganmu. Bagi laki-laki, biarlah sekalian pahit di awal-awal, karena akan mudah baginya untuk kembali sembuh, daripada kau iris lembut hatinya, hingga ia baru sadar ketika telah terluka parah.

NB: Tulisan ini terinspirasi dari komentar seorang sahabatku TanJabok di Nembak Cewek