Mungkin aku ditakdirkan sebagai pemuda penyendiri. Dari SMP sampai sekarang hari-hariku selalu dibayangi sepi dan sunyi. Entah takdir apa yang lagi ku jalani sekarang. Apakah ini hukuman atas dosa sehingga keterkucilan yang harus diterima? Entahlah…

Sejak menjadi mahasiswa aku sudah bisa menghilangkan rasa protesku kepada Tuhan yang telah memberikan aku wajah dan fisik seperti ini. Aku sudah bisa menerima diriku apa adanya. Karena apa yang dikarunia Tuhan kepadaku tiada yang salah dan tak berarti. Terlalu sombong jika aku mencaci apa yang telah Tuhan berikan padaku.

Seringkali rasa cemburu hadir ketika teman-teman yang lain bisa bergaul dengan baik, bisa punya banyak teman. Sungguh kontras dengan diriku yang dingin lebih senang menyendiri. Sebenarnya telah kucuba membuka diri, mengakrabkan diri, dan menjalin hubungan dengan yang lain. Tapi seringkali perhubungan itu kandas dan berakhir dengan rasa sakit hati.

Momen terakhir, ku hapus no Hp beberapa orang yang telah ku sakiti. Karena kebencian mereka terhadapku telah menjadikan perhubungan akan semakin mengesalkan hati. Kalau sudah begitu, ya lebih baik tidak menyapa sama sekali.

Penggembaraan membuka diri setahun ini, tiadalah menghasilkan apa-apa, selain menyisa dendam di banyak hati. Mulai hari ini, aku kembali berlabuh di pulau sepiku. Pulau yang aku sendiri menikmatinya. Tempat dimana aku bisa bergulat dengan leluasa. Wahai pulau sunyi, aku kembali padamu…