“Sekte” Nikah Dini


5-2 tahun yang lalu fenomena nikah dini marak dilakoni oleh mahasiswa, terutama yang tergabung dalam pengajian-pengajian keIslaman. Kampanye ini dihembuskan lewat kajian-kajian dan peluncuran buku-buku sejenis ini. Indahnya Pernikahan Dini, Nikmatnya Pacaran Setelah Nikah, Ku Pinang Engkau Dengan Hamdallah, dan yang lain. Banyak mahasiswa yang terayu oleh propaganda ini sehingga mengajukan proposal nikah kepada orang tuanya.

Jika memang sang laki-laki sudah punya pekerjaan, itu tidak jadi masalah. Namun, jika hanya mengandalkan kesholehan untuk meminang akhwat dan dilandasi oleh rasa “kebelet” agaknya ini perlu kita kritisi. Okelah, jika sang laki-laki berasal dari keluarga kaya, bisa minta sama orang tua untuk membiayai hidup sampai dia mendapat penghasilan yang mumpuni. Tapi kalau hanya dari keluarga menengah ke bawah, untuk bayar spp aja orang tua udah ngos-ngosan, agak otak harus dipakai.

Pembelaan yang dilontarkan oleh kaum pengusung nikah dini adalah “kamu lihat tu tukang becak, meski pendapatannya segitu, mereka tetap aja bisa menghidupi anak istri”. “Kan lebih baik nikah dari pada kamu pacaran kemudian terjerumusan zina?”. Kalau mahasiswa berkaca dari tukang becak untuk kasus ini, kok rasanya ngak tepat. Tukang becak kebanyakan lulusan SD atau paling kurang SMA. Kalaupun mereka bisa menghidupi keluarga, pertanyaannya adalah keluarga dengan tingkat ekonomi seperti apa? Terkait dengan argumen takut terjerumus zina, ya kalau dekat-dekat dengan zina ya pasti terjerumus. Kan bisa ambil tindakan preventif seperti tidak pacaran, berhubungan dengan lawan jenis ya seperlunya saja. Apalagi untuk yang telah ngaji. Seharusnya dengan ilmu agama yang mereka dapatkan, bisa menjadi tameng untuk menahan diri dari hal-hal yang seperti itu.

Memang tidak bisa dipungkiri, masa muda seumuran mahasiswa memang rentan dengan ketertarikan dengan lawan jenis. Perasaan suka-lah, cinta-lah dan lainnya. Apalagi kalau sering ketemuan, sering rapat bareng, sering ikut kegiatan bareng, maka benih-benih suka akan muncul. Jika memang suka, ya katakan saja. Cukup sekedar itu, kalau semisalnya kita tidak memiliki kemampuan untuk meminang si dia. Setelah itu, ya hilangkanlah perasaan itu secara perlahan. Jangan sampai mengikat janji, bahwa saya akan menikahi kamu 1 tahun, 2 tahun atau 3 tahun lagi. Itu namanya mempersulit diri sendiri dan memenjarakan sang akhwat dengan janji yang sangat rentan fitnah. Penulis telah menemui kasus ini, dimana sepasang anak muda yang berikrar akan menikah setahun lagi, berinteraksi layaknya orang pacaran. Goncengan berdua, sering-sering nelpon tengah malam, dan pegangan tangan. Selain itu sering kali godaan untuk mengakhiri pertunangan datang. Jadi kalau mau bertunangan paling ngak 3 bulan aja deh. Jangan lebih lama dari itu.

Untuk meredam keinginan nikah bagi mahasiswa, menurut penulis mesti ada idealisme tertentu. Moehammad Hatta misalnya berjanji pada diri sendiri tidak akan nikah sampai Indonesia merdeka. Mesti ada idealisme lain yang bisa meredam kebelet nikah. Menyibukan diri dengan ilmu, atau sebuah janji tidak akan nikah sebelum bisa memberikan 12 bulan gaji pertama untuk orang tua. Semoga kita tidak termasuk kepada “sekte nikah dini” hanya karena udah ngak tahan, sebagaimana yang diledek oleh Eko Prasetyo sang penulis “Orang Miskin Dilarang Sekolah”.

Tapi bagi yang memang sudah benar-benar ngak tahan, ya, mau gimana lagi. Setiap orang punya pilihan, namun yang penting bertanggung jawab atas pilihan itu. Tapi kalau penulis punya cita-cita, menikah setelah dapat gelar master dulu atau paling tidak udah bekerja selama satu tahun.

NB: Tulisan ini lahir, ketika aku harus meredam rasa cinta karena saat ini belumlah waktu yang tepat.

Iklan

5 thoughts on ““Sekte” Nikah Dini

  1. saya tidak merasa ikut sekte menikah dini, namun 15 tahun yang lalu, ketika umur saya sudah 22 tahun, saya menikah. Waktu itu kami, saya dan istri, sama2 sudah jadi PNS. Alhamdulillah, sampai skrg kami bisa melewati gempuran ombak dalam perjalanan ber rumah tangga.
    Kondisi kami berdua memang berbeda dengan kawan2 Mahasiswa yang dibahas dalam tulisan di atas.
    Yang dapat saya sampaikan adalah, janganlah umur dijadikan target, karena usia itu relatif bagi masing-masing orang.

  2. Masih ingat obrolan saya dengan mas Anggun dulu… mengenai perbedaan orang tua di Jawa dengan yang luar Jawa…

    kalau di Jawa, orang tua tidak akan segan2 terus memberi bantuan finansial kepada anak2nya meskipun sudah nikah… mungkin itu pula yang jadi alasan begitu mudahnya menikah dini…

  3. sebenarnya yang dimaksud bukan lantas menikah tanpa persiapan,
    tetapi juga lantas tidak berlambat-lambat ketika sudah siap.
    hal ini untuk menhindari bermaksiat,
    karena ketika pacaran, akan banyak godaan untuk cenderung bermaksiat

    Islam sendiri mempunyai syarat ketat untuk menikah,
    berupa niat yang lurus dan kemampuan, baik pekerjaan/uang, kesehatan.
    menikah dini hanya karena udah nggak tahan
    lebih kepada pemuasan hawa nafsu.
    sedang dalam Islam, menikah adalah ibadah

    jadi Anda salah faham tentang apa yang Anda komentari
    kita harus berfikir integral dalam memaknai ‘menikah dini’ ini

    yang jadi masalah anak muda sekarang kebanyakan bermalas-malas
    sudah berumur diatas 20th tapi belum bisa mandiri
    sekolah nggak pinter, bekerja juga tidak
    hidup akhirnya hanya untuk bersenang senang,
    termasuk berpacaran dengan bukan istrinya

    itu dulu ya

  4. Tampaknya saya harus mengomentari tulisan Anda di atas. Bukannya menggurui, hanya saling nasehat-menasehati, syukur-syukur kalau bisa dibilang berbagi ilmu. Baca ya…..!
    Suka terhadap lawan jenis adalah fitrah manusia atau istilahnya “gharizah an-nau'”. Naluri tersebut memang diciptakan oleh Allah swt untuk kebaikan umat manusia apabila dimanfaatkan sesuai tempatnya. Apabila naluri ini sudah memuncak, keinginan untuk memiliki pendamping hidup sudah agak susah membendungnya meskipun dengan berpuasa, maka Islam menganjurkan dan memberi solusi untuk SEGERA NIKAH DINI. Jika keadaan ekonomi-dalam pandangan manusia-belum memungkinkan, maka hal itu menjadi urusan Allah karena Allah swt. berjanji akan menolong tiga golongan manusia yaitu: fisabilillah, budak yang berjanji pada majikannya ingin memerdekakan diri dan ORANG YANG MENIKAH KARENA INGIN MEMELIHARA KEMALUAN/KEHORMATANNYA” (Al-Hadits). Sedangkan dalam Al-Qur’an surat An-Nur Allah berfirman:
    “….dan nikahkanlah orang yang masih sendirian di antara kamu…..JIKA MEREKA MISKIN MAKA ALLAH AKAN MENCUKUPKANNYA DENGAN KARUNIANYA”.
    Jadi, masih ragukah kita dengan janji Allah swt untuk menolong orang yang menikah? Masih belum beranikah kita untuk nikah dini karena terhalang masalah ekonomi sementara kita mengaku sebagai muslim yang bertaqwa?
    Tapi ingat, yang dimaksud dengan nikah dini di sini adalah MENIKAH UNTUK MEMLIHARA KEHORMATAN (KEMALUAN) KARENA TUNTUTAN NALURI SEKSUAL SEBAGAI MANUSIA YANG NORMAL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s