Granada (Resensi Novel)


Pengunjung yang saya hormati, sebelum membaca artikel ini mohon sekiranya untuk mengklik link di bawah ini terlebih dahulu. Makasi…

*****************************

Judul : GRANADA (edisi Indonesia)

Pengarang : Radwa Ashour

Penerbit : BUKU MUTU Publishing, Jakarta

Cetakan I, Mei 2008

Penguasa Castile benar-benar hendak menyulap Andalusia menjadi Spanyol modern yang steril dari segala macam atribut Islam. Warga muslim Granada dilarang keras berbicara dalam bahasa Arab, dilarang melakukan semua aktivitas yang berhubungan dengan dunia Islam, dilarang membaca dan mengoleksi kitab-kitab berbahasa Arab. Serdadu Castile tidak segan-segan menelanjangi, bahkan menggagahi seorang gadis, hanya karena gadis itu melenggang di jalan dengan busana Islam.

Abu Jaafar hanya bisa mengurut dada tatkala serdadu-serdadu Castile menggelar semacam `upacara’ api unggun di alun-alun Bab-el-Ramlah, di siang bolong. Api yang berkobar itu tidak sedang membakar tumpukan kayu kering sebagaimana pesta api unggun biasa, tapi membakar ratusan kitab yang ditumpuk hingga membukit di tengah lapangan itu. Badan Inkuisisi Granada merampas semua kitab berbahasa Arab dari mesjid-mesjid yang telah mereka sulap menjadi gereja dan katedral, dari perpustakaan sekolah, dari rumah-rumah warga Granada yang gemar membaca dan mengoleksi kitab. Novel ini menyingkap ketertindasan sebuah keluarga muslim di Granada setelah imperium Islam Andalusia runtuh dan porak poranda.

Bila ingin selamat, segeralah hengkang dari Granada, atau bergegaslah memurtadkan diri, dan serahkan diri pada Gereja untuk dibaptis menjadi kristiani. Tapi, anak cucu Abu Jaafar tetap bertahan di Granada, bertahan menjadi muslim. Mereka begitu piawai berperan sebagai bunglon, di dalam rumah mereka masih shalat, berbahasa Arab, tapi di luar rumah mereka berbahasa Castile, menggunakan nama baptis, juga menghadiri misa suci di Gereja. Tapi sampai kapan Aishah, Saad, Hassan, Mariama, dan semua keturunan Abu Jaafar bisa bertahan dalam situasi kemenduaan yang merisaukan itu? Bertahan sebagai muslim di masa itu seolah sedang menunggu petaka.

Saleemah, cucu kesayangan Abu Jaafar tak peduli dengan segala macam ancaman penguasa. Setelah suaminya, Saad dipenjara, Ia sibuk meracik pelbagai ramuan obat yang diperolehnya dari pelbagai kitab. Banyak pasien yang telah disembuhkannya. Tapi suatu hari, badan inkuisi Granada merazia rumahnya. Perempuan itu diringkus. Bukan karena Saleemah adalah istri Saad, seorang pemberontak yang sebelumnya sudah ditangkap. Tapi karena Saleemah terbukti mempelajari dan menyembunyikan kitab-kitab berbahasa Arab, dan tuduhan yang lebih fatal adalah; praktek sihir dengan barang bukti pelbagai ramuan dari tumbuh-tumbuhan dan biji-bijian (padahal itu ramuan obat). Vonis hukumannya tak tanggung-tanggung; dibakar hidup-hidup. Bisa Saleemah mengelak dari vonis biadab itu? Bagaimana dengan Saad, suaminya, bagaimana pula dengan si kecil, Aishah yang dititipkan pada bibi Mariama? Mampukah mereka bertahan dari kekejaman dan sadisme bertopeng `misi suci’ di bawah kendali Badan Inkuisisi Granada?

Novel berjudul Granada ini adalah buku pertama dari tiga novel yang terhimpun dalam Tsulatsiyah Gharnatah (The Granada Trilogy). Dua buku selanjutnya akan segera terbit.

Sumber: Rantau Net (Milis Komunitas Minang Se Dunia)

Iklan

4 thoughts on “Granada (Resensi Novel)

  1. jadi inget buku “DENDAM BARAT DAN YAHUDI TERHADAP ISLAM’ (kalo ndak salah judul bukunya begitu, maklum bacanya udh lama banget waktu SD dulu)…

    ceritanya hampir sama, settingnya juga sama. tapi kalo ini kisah nyata.

    seorang anak laki-laki yang merasakan keanehan pada org tuanya (yg suka bicara dengan bahasa aneh, melakukan ritual-ritual aneh, yg wajahnya tdk menunjukkan kebahagiaan ketika ia menceritakan prestasinya menghafal injil disekolah, dll)..

    sampai ketika umur 10 th (kalo g’salah), tepat dimalam paskah, saat gedung alhamra gemerlapan dengan berbagai macam perayaan, ia dibangunkan ayahnya, dan diajak untuk masuk sebuah ruangan yang selama ini belum pernah ia masuki meski ruangan itu ada dalam rumahnya.

    malam itulah ayahnya baru membuka rahasia besar yg selama ini disimpan rapat-rapat, yaitu tentang islam.terjawablah rasa penasaran si anak atas keanehan yang selama ini ia lihat pada diri orang tuanya.ayahnya selama ini menyembunyikan identitas ke-islamannya, bukan karena takut akan kekejaman inkuisisi, tetapi krn ayahnya ingin, bisa berkesempatan mendidik anaknya utk mengenalkan islam.

    sejak saat itu, mulailah secara sembunyi2, sianak mendapat pelajaran ttg dasar2 keislaman dari ayahnya, belajar sholat, baca quran, sampai hal-hal dasar lainnya. saat itulah, ketika menatap gedung alhamra, sianak merasa muak, dan berkata: wahai gedung alhamra, relakah dirimu kini di sandari oleh para rahib, padahal dulu yang menyandari dinding2 mu adalah para mujahid….dst(aku lupa)…

    hingga saat anaknya dirasa sudah cukup faham, dititpkannyalah anaknya kepada sahabat dekatnya untuk dibawa lari ke maroko, dibesarkan dan dididik disana hingga nantinya si anak menjadi ulama besar(lagi-lagi saya lupa namanya,tapi yang jelas dibelakang namanya adalah ‘AL ANDALUSY’)

    adapun, sang ayah, setelah selesai menunaikan tugas mengenalkan islam kepada anaknya, lantas dengan ‘tenang’ menyerahkan dirinya kepada inkuisisi…

    kisah yang sangat mengharukan….merasuk dihati….terkenang sampai sekarang, meskipun sudah belasan tahun yang silam membacanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s