Minangkabau: Never Ending Intelectual


Tulisan ini bukan bermaksud untuk bernarsis-narsis ria sebagaimana gelora paham Post Modern yang mempengaruhi dunia dewasa ini. Tulisan ini bukan pula hendak menunjukkan kesuksesan suatu etnis dan menepuk dada bahwa inilah ras unggul yang tak tertandingi dalam sejarah Indonesia.

Tulisan ini lahir ketika habis sholat Ashar Sore ini. Seperti biasanya, mendung seringkali membawa angan mengingat kampung halaman. Tadi pagi saat di kampus seorang adik angkatan meminta kesediaan saya untuk diwawancarai terkait “Bersepeda”. Iya, sejak awal kuliah sampai hari ini saya tetap setia mengayuh sepeda ke kampus yang jaraknya 15 menit dari Asrama. Tiada yang istemewa dengan ini, tapi ingatan akan ketika dulu saya juga bersepeda saat SMA kembali hadir. Kalau bersepeda di kampung lebih terasa nyaman karena alam di sana masih sejuk dan hijau.

Ranah Minang, sebuah tempat yang didiami oleh suku bangsa Minangkabau. Alamnya yang hijau dengan bukit – bukit dan lembah – lembah, telah melahirkan anak-anak yang berjasa besar dalam sejarah bangsa ini. Meski alamnya nan permai memberikan kedamaian, namun sosial-kultural masyarakatnya yang keras telah membuat anak-anak yang besar di rahimnya menjadi orang-orang yang selalu tertekan dan terus bergejolak. Tiada kemapanan, karena rasa curiga dan ingin menang selalu menghiasi kehidupan sehari-hari. Demikianlah, kerasnya masyarakat telah membuat anak-anak Minang tak lagi betah berlama-lama tinggal di kampung. Mereka menapaki daerah baru. Memulai pengembaraan untuk mencari sesuatu yang dapat memuaskan hati.

Darah pengembara dan pemberontak telah ada di jiwa-jiwa anak Minang. Tiada sekalipun mau diinjak-injak oleh orang lain apalagi oleh suku lain. Indepensi, itulah yang selalu dicari. Meskipun untuk mencapai itu mesti harus mengais-ngais dulu dari bawah.

Ketika membicarakan Minang, tak sedap rasanya jika tidak menampilkan nama-nama beken yang telah menasional dan menginternasional. Abdul Muis, pahlawan, penulis, jurnalis dan nasionalis; H. Agus Salim, pejuang kemerdekaan, diplomat, menteri luar negeri; Aisyah Aminy, politikus; Mr. Assaat, politikus; I.F.M. Chalid Salim, pejuang, Digulis; Chaerul Saleh, Wakil Perdana Menteri III di bawah Soekarno; Fahmi Idris, menteri; Harun Alrasjid Zain, rektor, gubernur, menteri; Isa Anshari, politikus; Mohammad Hatta, Wakil Presiden Indonesia; Mohammad Natsir, politikus; Mohammad Yamin, pahlawan, menteri; Nazir Datuk Pamoentjak, aktivis; Rasuna Said, pejuang hak-hak perempuan, pahlawan; Rohana Kudus, penulis, aktivis; Siti Manggopoh, pahlawan; Sutan Muhammad Rasjid, gubernur militer, diplomat, menteri,; Sutan Sjahrir, pahlawan, perdana menteri, menteri; Tan Malaka, politikus; Tuanku Imam Bonjol, pahlawan; Tuanku Nan Renceh, pahlawan; Umar Dt. Garang, politik; Zubir Amin, diplomat; Zubir Said, komponis “Majulah Singapura”, lagu kebangsaan Singapura.

Belum lagi dari kalangan Ulama, ada Buya Hamka, Haji Muhammad Nur, Haji Utsman Bin Abdullah, Syeikh Abdul Hamid, Syeikh Abdul Karim Amrullah, Syeikh Abdul Rahman Minangkabau, Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, Syeikh Burhanuddin, Syeikh Ismail Al-Minankabawi, Syeikh Muhammad Amrullah Tuanku Abdullah Saleh, Syeikh Muhammad Saleh Al-Minankabawi, Muhammad Jamil Jambek, Syeikh Sulaiman Ar-Rasuli, Syeikh Tahir Jalaluddin Al-Azhari

Dari kalangan Ilmuwan, budayawan, sastrawan, tersebutlah nama A.A Navis, penulis, sastrawan, Abdul Kadir Usman, budayawan, Adinegoro, sastrawan, wartawan, Delsy Syamsumar, pelukis, Ellywarti Maliki, ilmuwan, Buya Hamka, budayawan, penulis, M. Thaib Sutan Pamoentjak, sastrawan, penulis kamus bahasa Minangkabau, Marah Roesli, sastrawan, Mochtar Lubis, sastrawan, Muhammad Alwi Dahlan, budayawan, Nur Sutan Iskandar, sastrawan, PK Ojong, wartawan, Rosihan Anwar, budayawan, jurnalis, penulis,Prof. Sutan Muhammad Zain, sastrawan, penulis Kamus Modern Bahasa Indonesia, Taufiq Ismail, sastrawan, Wildan Yatim, sastrawan, Wisran Hadi, sastrawan, Zakiah Darajat, budayawan, Afrizal Koto, wartawan

Di bidang Pendidikan, dan Akademisi, tak pula ketinggalang, Asvi Warman Adam, sejarawan, Indra J. Piliang, intelektual CSIS, Muhammad Chatib Basri, ekonomi, Muhammad Alwi Dahlan, dosen komunikasi, Saldi Isra, dosen hukum, kolumnis, Taufik Abdullah, peneliti, sejarawan

Apalagi Pengusaha, bankir dan sejenisnya. Ada Abdulgani, Komisaris PT Garuda Indonesia, Abdul Latief, pemilik Latief Corporation, Arwin Rasyid, bankir, professional, Azwardi Rivai, pemilik jaringan restoran Sari Bundo, Bustaman, pemilik jaringan restoran Sederhana, Chairul Tanjung, pemilik Para Group, Datuk Hakim Thantawi, pengusaha, Djohan Sutan Perpatih, pengusaha, Erry Firmansyah, Direktur Utama PT BEJ, Hasyim Ning, pengusaha, Irman Gusman, pendiri Kopitime.com, politikus, Jefrie Geovannie, pengusaha, Rahimi Sutan, pemilik Natrabu Group, Sutan Sjahsam, pialang saham, pendiri PT Perdanas, Syahril Sabirin, gubernur Bank Indonesia, Hasnul Suhaimi, Dirut XL.

Di bidang Seni ada nama Delsy Sjamsumar,illustrator, Elly Kasim, penyanyi Wakidi, pelukis, Denny Malik, actor, Ernie Djohan, artis, Melanie Putria Dewita Sari, Putri Indonesia, Oppie Andaresta, artis, Zaskia Mecca, Nirina Zubir, Effendi Ghozali, Republik Mimpi.

Deretan panjang nama-nama yang penulis cantumkan di atas hanya sebagian saja dari putra-putri terbaik Minang yang pernah ada dan masih berkiprah sampai hari ini. Padahal menurut Wikipedia jumlah orang Minang hari ini Cuma 12 juta orang itupun masih dikurangi sekitar 500 ribu yang mendomisili di Negeri Sembilan Malaysia. Jumlah ini sangat kecil, hanya sekitar 5,7 % dari total penduduk Indonesia. Dari dulu sampai hari ini Minangkabau telah dipenuhi oleh orang-orang jenius yang akan terus menghiasi sejarah bangsa ini. Oleh karena itu, jangan sepelekan orang Minang…

Iklan

4 thoughts on “Minangkabau: Never Ending Intelectual

  1. saya pikir kita punya ikatan emosional yang dekat, kita orang aceh adalah orang yang masih sangat ikatannya dengan ranah minang, dulu waktu saya masih mondok di pasentren terpadu di aceh, ada salah satu ustadz kami yang bercerita panjang lebar tentang pengalaman beliau berjihad menuntut ilmu di negeri tetangga (saya kira minang layak di panggil negara).

    ah saya jadi teringat kampung halaman saya ni, kalau saya lihat gambaran tentang alam yang sejuk dan hijau….

    1. kebudayaan minang yang matrilineal itu adalah kebudayaan yang sangat aneh. menurut saya itu sangat tidak masuk akal. kenapa garis keturunan diturunkan dari ibu? padahal ayah adalah pemimpin dalam sebuah keluarga, benih manusia berasal dari ayah, dan peremuan itu adalah pada hakikatnya bagian dari laki-laki juga karena Allah menciptakan Siti Hawa dari tulang rusuk Nabi Adam.
      jadi, dari alasan-alasan logis yang saya kemukakan ini, saya bisa mengatakan tanpa keraguan bahwa sistem kekerabatan matrilineal adalah sebuah kesalahan besar sekaligus kebodohan yang teramat sangat dalam peradaban umat manusia sepanjang sejarah. hal ini membuktikan kebodohan nenek moyang orang minang di zaman dahulu. jadi jangan sombong dulu. berpikirlah sebelum berbuat.

  2. Menurut saya matrilineal tidak aneh, kenapa? karena jelas seorang anak dilahirkan dari rahim seorang ibu, memang bapak yang punya benih tapi yang mengandung adalah seorang ibu. Sesuai agama Islam Bapak dibolehkan mempunyai lebih dari seorang istri…nah kalo istri atau ibu hanya dibolehkan mempunyai satu suami/bapak…. jadi jelaslah, saudara seibu disebut saudara kandung… saudara lain ibu tapi satu bapak disebut saudara tiri. Seorang Bapak (laki-laki) adalah pemimpin, demikian juga yang menjadi radja juga seorang laki2…..seperti di Kerajaan Pasaman Kehasilan Kalam yang selalu menjadi radja adalah laki2, tapi dilihat dari keturunan ibu. Saya punya tambo silsilahnya. bisa anda lihat kalau mau…kontak saya di 085691171117. Sekian terima kasih.

  3. Saya senang orang muda yang kreatif dab berfikir provokatif. Namun syaratnya juga harus puya kehati-hatian dan memiliki bacaan yang luas. Tulisan sejawat Gunawean tentu membri input yang bagus untuk diskusikan. Tak usah ragu ada kontrbusinya, walaupun agak sedikti ceroboh menuliskan kata “inteletualism”, Yang benarnya “intellectualism” (Innggris); mestinya kalau di Indonesiakan “intelektualisme” intelektual, “intellect” dan setersunya. Mana yang kata benda, kata sifat dan sebaiknya definiiskan konsep apa yang dimaksud dengan kata itu agar jangan salah paham.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s