Pengunjung yang saya hormati, sebelum membaca artikel ini mohon sekiranya untuk mengklik link di bawah ini terlebih dahulu. Makasi…

*****************************

Thomas Hobbes (1588-1679) dilahirkan sebelum waktunya ketika ibunya tercekam rasa takut oleh ancaman penyerbuan armada Spayol ke Inggris. Ia belajar di Universitas Oxford, kemudian menjadi pengajar pada suatu keluarga terpandang. Hubungan dengan keluarga tersebut memberi kesempatan kepadanya untuk membaca buku-buku, bepergian ke negeri asing dan berjumpa dengan tokoh-tokoh penting. Simpatinya kepada sistim kerajaan pada waktu Inggris dilanda perang saudara, mendorngnya untuk lari ke Perancis. Di sanalah ia mengenal filsafat Descartes dan pemikir-pemikir Perancis lainnya. Karena sangat terkesan dengan ketepatan sains, ia berusaha menciptakan filsafat atas dasar matematika.

Hobbes menolak tradisi skolastik dalam filsafat dan berusaha menerapkan konsep-konsep mekanik dari alam fisika kepada pikirannya tentang manusia dan kehidupan mental. Hal ini mendorongnya untuk menerima materialism,mekanisme dan determinisme. Karya utamanya dalam filsafat, Leviathan (1651), mengekspresikan pandangannya tentang hubungan antara alam, manusia dan masyarakat. Hobbes melukiskan manusia-manusia ketika mereka hidup dalam keadaan yang ia namakan “state of nature” (keadaan alamiah), yang merupakan kondisi manusia sebelum dicetuskannya suatu Negara atau masyarakat beradab. Kehidupan dalam keadaan alamiah adalah buas dan singkat, karena merupakan keadaan perjuangan dan peperangan yang terus-menerus. Oleh karena manusia menginginkan kelangsungan hidup dan perdamaian, ia mengalihkan kemauannya kepada kemauan Negara dalam suatu kontrak social yang membenarkan kekuasaan tertinggi yang mutlak.