Sekitar 4,9 juta orang di negara berkembang meninggal dunia karena rokok pada tahun 2003. Bahkan di seluruh dunia, tingkat kematian akibat rokok justru lebih besar ketimbang kematian karena malaria, kematian maternal, penyakit-penyakit yang sering menyerang anak-anak dan tuberculosis. Maka dari itu, para ahli kesehatan dunia memperkirakan tahun 2030 sekitar 10 juta orang mati akibat rokok dan 70 persen terjadi di negara berkembang.

Demikian dikemukakan dr Nawi Ng MPH, PhD dari Quit Tobacco Indonesia (QTI) dalam seminar ‘Update of Tobacco Control Research in Indonesia’ di Ruang Pertemuan Utama Lantai 4 Gedung Diklat RSUP Dr Sardjito, Rabu (25/7).

Seminar yang dibuka Dekan Fakultas Kedokteran (FK) UGM Prof Dr dr Hardyanto Soebono ini diselenggarakan QTI Center for Biothics and Medical Humanities & Center of Health Behavior and Promotion FK-UGM.

Menurut Nawi, Indonesia termasuk 5 negara dengan konsumsi rokok terbesar di dunia. Konsumsi tembakau di Indonesia meningkat 7 kali lipat dalam jangka waktu 3 tahun (1977-2000) dan prevalensi penggunaan tembakau di Indonesia telah meningkat dalam segala usia. “Rata-rata usia merokok pertama kali di Indonesia semakin lama bergeser ke usia semakin muda,” ujarnya.

Selain itu, di Indonesia beban morbiditas tembakau juga tinggi. Nawi juga menunjukkan hasil data studi awal, sekitar 21 persen dokter laki-laki dan 1 persen dokter perempuan saat ini merokok. Prevalensi perokok di kalangan mahasiswa kedokteran laki-laki dan perempuan sebesar 17 persen dan 0,7 persen. “Sebagai besar dokter atau 80 persen percaya merokok 10 batang per hari tidak berbahaya bagi kesehatan,” imbuhnya.

Lebih jauh ia mengungkapkan, hanya 28 persen dokter yang bertanya mengenai perilaku merokok kepada pasien mereka secara rutin. Di mana dokter perempuan lebih sering bertanya mengenai perilaku merokok pasien. Hanya 35 persen dokter yang secara rutin menasehati pasien mereka untuk berhenti merokok. Hanya sedikit dokter yang merasa memiliki kesulitan dalam melatih ataupun berpengalaman dalam membantu orang untuk berhenti merokok. “Dokter Puskesmas menunjukkan ketertarikan paling besar dalam menerima pelatihan dalam konseling untuk membantu orang akan berhenti merokok,” ujar Nawi Ng.

Menjawab pertanyaan bagaimana menghilangkan budaya merokok Direktur Eksekutif QTI FK-UGM Dra Yayi Suryo Prabandari MSi, PhD mengatakan, perlu melibatkan ibu-ibu rumahtangga dan anak-anak agar sumai atau ayah tidak merokok di dalam rumah. Untuk menghilangkan budaya merokok memang harus dimulai dari dalam keluarga dengan menyertakan anak-anak untuk mengingatkan ayah atau ibu tidak merokok.

“Sebab perokok pasif sama bahayanya dengan perokok aktif, apalagi bagi anak-anak karena dalam tembakau itu mengandung berbagai zat beracun. Seperti terdapat 4.000 zat kimia, 40 zat lainnya dan menimbulkan 40 jenis penyakit kanker,” ujar Prof dr Barmawi Hisyam SpPD(K).

Dari hasil penelitian Yayi Suryo di Yogyakarta, iklan rokok dan perilaku merokok berhubungan secara signifikan dengan perilaku merokok di kalangan remaja SMP dan SMA di Kota Yogyakarta. Insidensi perokok pada pria di kalangan remaja lebih tinggi daripada yang ditemukan pada perenpuan. Perokok pria coba-coba dan regular 30 persen dan 31 persen, sementara pada perempuan 10 persen dan 3 persen.

“Secara terpisah perilaku merokok berhubungan dengan adanya teman yang merokok. Dalam analisis multivariate ditemukan jenis kelamin, jumlah uang saku dan tawaran rokok,” ujar Dra Yayi Suryo Prabandari MSi, PhD. (Humas UGM)

Sumber: http://www.ugm.ac.id/index.php?page=rilis&artikel=839