Teristimewa Bagi Aktivis Perempuan

Zaman saat ini sulit untuk dicerna oleh akal sehat. Banyak hal-hal yang sebenarnya aneh namun telah menjadi suatu hal yang biasa dilakukan oleh masyarakat Indonesia.

Perkembangan pemikiran dewasa ini, juga mendaftarkan suatu pemikiran baru yang mencoba untuk mengembalikan hak-hak perempuan yang selama ini ditenggarai telah direndahkan dan diabaikan oleh sistem sosial yang ada. Perlakuan diskriminatif terhadap perempuan telah mendapat perhatian yang cukup besar bagi kalangan aktivis perempuan yang secara ideologis terpengaruh oleh paham feminisme.

Menarik ketika mencermati sepak terjang yang dilakukan oleh aktivis perempuan ini. Mereka banyak mengusung wacana kesetaraan jender, kekerasan rumah tangga, dan ajaran-ajaran agama yang menurut mereka telah melegalisasi penindasan terhadap perempuan. Salah satu kasus yang mendapat perhatian sangat intens dari aktivis ini adalah masalah poligami. Menurut mereka poligami adalah salah satu bentuk perlakuan tidak adil agama terhadap perempuan.

Namun, ada satu hal yang mungkin dilupakan oleh aktivis perempuan. Mereka cendrung menganggap budaya patriakhi sebagai penyebab atas penindasan terhadap perempuan. Mereka seakan menutup mata atas suatu fenomena yang saat ini luar biasa mengejala di masyarakat perempuan terkait dengan masalah pakaian. Sekarang ini kita disungguhnya pemandangan yang “menstimulan” syaraf penglihatan oleh perempuan-perempuan yang memakai pakaian serba ketat dan serba kekurangan. Sehingga kita bisa menyaksikan secara leluasa lekuk tubuh dari seorang wanita meskipun oleh mengenakan pakaian. Puser yang tampak, celana dalam yang tampak bukanlah suatu yang membuat mereka risih. Malah sebaliknya, mereka begitu bangga memperlihatkan tubuh mereka kepada siapapun, termasuk laki-laki. Kenyataan ini telah mewabah luar biasa.

Pada dataran yang lebih tinggi, kontes-kontes pemilihan putri Indonesia, miss Word, Miss Universe, perlombaan cover girl dan bintang media, yang menonjolkan aspek kecantikan seorang wanita menjadi sasaran yang dijadikan sebagai jenjang pencapaian oleh para wanita.

Yang menjadi pertanyaan penulis adalah kenapa para aktivis perempuan tidak melihat ini sebagai bentuk pelecehan terhadap perempuan. Tidak pernah kita dengar aktivis perempuan melakukan pengkutukkan dan perlawanan terhadap kontes-kontes semacam ini dan tetap membiarkan produk pakaian kapitalis dan hedonis terus merasuk meninabobokan perempuan dalam jerat pamer kecantikan dan keindahan tubuh. Mengapa aktivis perempuan tidak melakukan perlawanan terhadap praktek-praktek prostitusi dan pacaran yang akan menjadikan perempuan sebagai pelampiasan seks para pria. Mengapa aktivis perempuan tidak menyerukan penutupan tempat-tempat hiburan yang menjadikan wanita sebagai daya tarik dan objek eksploitasi.

Memang mereka tidak akan bersuara untuk itu. Karena mereka bukanlah aktivis perempuan sejati. Mereka hanya menginginkan kepopuleran bukan sebuah perbaikan yang signifikan. Mereka menyalahkan sistem, tapi tak melakukan upaya penyadaran yang serius terhadap perempuan akan harga diri dan martabat mereka. Atau jangan-jangan mereka adalah bagian dari kapitalis itu sendiri yang menjadikan agama sebagai musuh utama, karena agama telah menghambat laju kapitalis dalam meraih keuntungan. Karena agama membuat orang independen dan tidak terpengaruh oleh tendensi ekonomi yang itu sangat dibenci oleh kapitalis. Oleh karena itu, tidak salah kenapa saat seorang alim ulama kenamaan Indonesia melakukan poligami, mereka menyerukan untuk menolak dan mencela pelaku poligami. Sedangkan ketika kontes cantik-cantikan mereka diam seribu bahasa.

Akhirnya kita akan mengetahui siapa mereka sebenarnya…
Mereka hanyalah aktivis perempuan gadungan…

Ketika Kampus Islam Dibajak Orientalis”

Ketika Kampus Islam Dibajak Orientalis”

Oleh: Adian Husaini

Saat mengisi acara workshop di Pondok Pesantren Gontor, 19-20 Agustus 2006 lalu, saya mendapatkan hadiah sebuah Jurnal yang sangat bagus, bernama TSAQAFAH. Jurnal ini diterbitkan oleh Institut Studi Islam Darussalam (ISID) Pondok Modern Darussalam Gontor Indonesia. Pada edisi Vol.2, Nomor 2, 2006/1427, diangkat berbagai artikel menarik tentang keislaman. Salah satu yang perlu kita jadikan catatan adalah sebuah artikel berjudul “Framework Kajian Filsafat Islam” tulisan Hamid Fahmy Zarkasyi, Pembantu Rektor III ISID.

Melalui riset yang cukup mendalam terhadap sejumlah kurikulum kajian filsafat Islam di Perguruan Tinggi Islam di Indonesia –baik yang negeri maupun swasta– Hamid Fahmy membuktikan bahwa kajian filsafat Islam di Indonesia tampak jelas terpengaruh oleh kajian para orientalis. Pengaruh itu tidak hanya pada cara atau metodologi pengkajian, tetapi lebih mendasar lagi, sampai pada framework (kerangka) dan cara pandangnya
terhadap filsafat Islam.

Cara pandang ini tentu bukan tanpa maksud. Secara sistematis, mereka akan menunjukkan bahwa filsafatIslam hanyalah kertas copi dari Yunani; tanpa Yunani, Islam tidak memiliki pemikiran rasional. Padahal, sekalipun konsepsi falsafah juga dikenal dalam pemikiran Islam, namun tetap disertai kritik dan seleksi yang ketat. Itulah yang dilakukan oleh Al-Ghazali dan Ibn Taymiyah.

Menurut Hamid Fahmy, berbeda dengan tradisi filsafat Yunani yang berdasarkan akal, tradisi filsafat Islam bersumberkan pada wahyu. Dengan demikian, filsafat Islam adalah filsafat yang lahir dari pemahaman, penjelasan, dan pengembangan konsep-konsep penting dalam al-Quran dan Sunnah.

Dalam sejarahnya, para ulama dan cendekiawam Muslim telah melakukan proses seleksi dan adapsi yang ketat terhadap pemikiran yang datang dari luar Islam.

Sejumlah ilmuwan seperti Ibn Sina, al-Kindi, dan al-Farabi, menerima filsafat Yunani dan berusaha memodifikasikannya agar sesuai dengan prinsip-prinsip penting dalam ajaran Islam. Al-Ghazali dan Fakhruddin al-Razi menerimanya sejauh masih sejalan dengan ajaran Islam dan menolak konsep-konsep yang bertentangan dengan Islam.

Ibn Taymiyah termasuk diantara penolak keras “filsafat”, tetapi ternyata juga menerima jenis filsafat tertentu, yang disebutnya al-falsafah al-shahihah (filsafat yang benar) dan al-falsafah al-haqiqiyah (filsafat yang sebenarnya).

Hamid Fahmy – yang telah menyelesaikan disertasi doktornya tentang ‘Teori Kausalitas al-Ghazali” di ISTAC-IIUM Kuala Lumpur – mencatat, bahwa para ulama Islam menolak, menerima secara selektif atau menerima dan memodifikasi prinsip-prinsip filsafat Yunani, karena konsep-konsepnya yang tidak sejalan dengan konsep Islam.

Selain itu, mereka juga percaya akan adanya konsep Islam sendiri yang berbeda dengan konsep asing itu. Ini berarti, simpul Hamid Fahmy, para ulama memandang bahwa dalam Islam terdapat prinsip berfikir filosofisnya sendiri yang berbeda dari Yunani.

Jadi, sejak awal, umat Islam sudah memiliki tradisi berpikir sendiri yang berdasarkan wahyu, yang berbeda dengan tradisi berpikir Yunani. Sumber aspirasi yang asli dan riil dari para pemikir Muslim adalah Al-Quran dan Sunnah Rasul. Bahwa ada sebagian unsur asing yang kemudian diserap dalam khazanah pemikiran Islam, tetap diupayakan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip ajaran Islam. Dalam masalah Tuhan, manusia, dan alam semesta, para pemikir Muslim memiliki konsep mereka sendiri yang justru tidak terdapat dalam tradisi filsafat Yunani.

Mengambil contoh Kurikulum dan Silabi Kuliah Filsafat Islam terbitan Departemen Agama, Hamid menunjukkan, bahwa yang dimaksudkan sebagai “pemikiran filsafat Islam yang awal” dalam kurikulum ini adalah dimulai sejak masuknya pengaruh filsafat peripatetik Yunani ke dalam Islam. Artinya, filsafat Islam dianggap wujud hanya setelah datangnya pengaruh filsafat Yunani. Ha ini mendukung anggapan bahwa dalam Islam tidak ada filsafat atau pemikiran filosofis. Model kajian seperti ini tidak akan memberi bekal kemampuan kepada mahasiswa untuk mengembangkan filsafat sains dalam Islam.

“Jika framework ini ditelusuri asal usulnya maka akan terungkap kesamaannya dengan framework yang dipegang secara meluas oleh para orientalis,” tulis Hamid Fahmy, yang juga Direktur Centre for Islamic and Occidental Studies (CIOS), ISID Gontor.

Hasil riset Hamid Fahmy Zarkasyi tentang metode studi filsafat Islam di Perguruan Tinggi Islam di Indonesia ini sangat penting untuk ditelaah dan direnungkan secara mendalam.

Jauh sebelumnya, 30 tahun lalu, Prof. HM Rasjidi telah menunjukkan kuatnya pengaruh metode orientalis terhadap buku wajib dalam studi Islam di Indonesia, yakni buku “Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya”, karya Prof. Harun Nasution. Rasjidi kemudian memberikan kritik-kritik yang tajam terhadap buku tersebut, bahwa buku itu merusak dan membahayakan aqidah Islam.

Tetapi, kritik-kritiknya tidak pernah didengar. Buku ini tetap dijadikan sebagai rujukan dalam studi Islam di Perguruan Tinggi, tanpa didampingi oleh buku Prof. Rasjidi: Koreksi terhadap Dr. Harun Nasution tentang “Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya”.

Seperti pernah kita bahas, buku Harun Nasution ini memuat begitu banyak kesalahan fatal dan mendasar tentang Islam. Dalam aspek filsafat, Harun Nasution juga menulis: “Pemikiran filosofis masuk ke dalam Islam melalui falsafat Yunani yang dijumpai ahli-ahli fikir Islam di Suria, Mesopotamia, Persia, dan Mesir…Filosof kenamaan yang pertama adalah Abu Yusuf Ya’qub Ibn Ishaq al-Kindi.”

Dalam pemaparannya, Harun mengungkap berbagai perdebatan seputar isu-isu dalam kajian filsafat, tetapi tidak melakukan ‘tarjih’ terhadap pendapat yang benar. Bahkan ketika membahas pendapat seorang filosof yang jelas-jelas bertentangan dengan ajaran Islam, Harun tidak memberikan kritik terhadapnya. Seperti ketika menjelaskan tentang filosof Abu Bakr Muhammad Ibn Zakaria al-Razi (864-925), Harun bahkan menulis, “Tetapi sungguhpun ia menentang agama-agama, al-Razi bukanlah seorang ateis. Ia tetap percaya kepada Tuhan sebagai pengatur alam ini.”

Padahal, ditulis oleh Harun: “Al-Razi adalah seorang rasionalis yang hanya percaya pada akal dan tidakpercaya pada wahyu. Menurut keyakinannya akal manusia cukup kuat untuk mengetahui adanya Tuhan, apa yang baik dan apa yang buruk, dan untuk mengatur hidup manusia di dunia ini. Oleh karena itu Nabi dan Rasul tak perlu, bahkan ajaran-ajaran yang mereka bawa menimbulkan kekacauan dalam masyarakat manusia. Semua agama dia kritik. Al-Quran baik dalam bahasa maupun isinya bukanlah mu’jizat.”

Sebagai buku panduan untuk mahasiswa Muslim, harusnya Prof. Harun menjelaskan, bahwa pendapat Abu Bakr Muhammad Ibn Zakaria al-Razi (bukan Fakhruddin al-Razi) adalah keliru dan bertentangan dengan prinsip ajaran Islam.

Harusnya, Prof. Harun tidak bersikap netral dalam hal-hal yang jelas-jelas salah. Bahkan, dalam uraiannya, Harun lebih cenderung mengunggulkan pendapat Ibnu Ruyd, ketimbang al-Ghazali. Dalam kritiknya, Rasjidi menyesalkan kecenderungan Harun untuk lebih menonjolkan pendapat Ibn Rusyd yang memberikan pembelaan kepada para filosof peripatetik dari kritikan al-Ghazali.

Kajian Harun tentang aspek filsafat dalam Islam, menurut Prof. Rasjidi, merupakan aspek yang sangat negatif, khususnya bagi mahasiswa IAIN tingkat pertama.

Dalam kritiknya, Rasjidi mengupas secara tajam kekeliruan pemikiran Ibnu Rusyd, al-Farabi, dan Ibnu Sina.

Filsafat Islam, kata Prof. Rasjidi, adalah suatu usaha untuk mempertahankan aqidah Islam dengan mengambil bahan dari filsafat Yunani yang tidak bertentangan dengan Islam. Teori al-Farabi dan Ibnu Sina tentang emanasi (pancaran) bertentangan dengan Islam, yang menegaskan, bahwa Allah menciptakan alam dengan kemauan-Nya, bukan melalui pancaran. Meskipun mengakui kebaikan niat baik Ibnu Rusyd dalam membela filosof – yakni untuk menunjukkan bahwa Islam tidak bertentangan dengan akal – tetapi Rasjidi menilai teori Ibnu Rusjd tentang kekekalan alam sudah usang untuk abad ke-20. “Kelihatan sekali bahwa Dr. Harun Nasution tidak mengikuti perkembangan ilmu cosmology astrophysic, sehingga ia mempertahankan pendapat Ibnu Rusyd yang sudah usang itu,” tulis Prof. Rasjidi.

Itulah studi kritis Prof. Rasjidi terhadap aspek filsafat dalam buku “Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya” karya Prof. Harun Nasution. Rasjidi menulis kritiknya ini pada tahun 1975. Bisa dikatakan, kajian Hamid Fahmy Zarkasyi lebih maju selangkah lagi dari apa yang telah dilakukan oleh Prof. Rasjidi, karena Hamid Fahmy sudah menyentuh aspek “framework” dan cara pandang. Bahkan, Hamid menawarkan perspektif baru dalam studi filsafat Islam yang belum ditawarkan oleh Prof. Rasjidi sebelumnya.

Kajian-kajian ilmiah dan serius tentang berbagai bidang keilmuan Islam (Ulumuddin) saat ini merupakan proyek yang sangat mendesak bagi umat Islam. Apalagi, 30 tahun setelah benih orientalisme ditanamkan oleh Prof. Harun Nasution, cengkeraman orientalis dalam studi Islam sudah semakin merambah ke berbagai bidang studi-studi lain, baik dalam studi agama-agama maupun dalam studi Al-Quran. Belum lagi dengan masuknya ‘proyek-proyek pesanan’ negara-negara dan LSM Barat dalam studi dan pemikiran Islam. Masuknya studi kritis Al-Quran dan mata kuliah hermeneutika, misalnya, tidak bisa dianggap hal yang enteng.

Penggunaan epistemologi relatif dalam studi agama di Ushuluddin telah membongkar framework studi agama-agama dalam tradisi Islam yang berbasis pada keimaman Islam.

Ketika mengisi satu seminar di Yogyakarta pada 18 Agustus 2006 lalu, seorang peserta menyatakan, bahwa dalam studi ilmu-ilmu agama, metodologi Barat lebih baik dibandingkan dengan metodologi Islam. Pernyataan semacam ini sudah sering disampaikan dalam berbagai buku dan kesempatan. Padahal, biasanya yang mereka maksud dengan ‘metodologi’ yang baik adalah dalam soal teknik penulisan. Misalnya, karena banyak catatan kakinya, maka suatu tulisan disebut ilmiah dan bagus.

Kita tidak menolak metode semacam ini. Bahkan, perlu memberikan apresiasi terhadap ketekunan dankesungguhan para orientalis dalam melakukan penelitian dan penulisan tentang Islam. Terutama dengan kesungguhan mereka dalam menghimpun literatur-literatur Islam.

Tetapi, kita juga perlu senantisa kritis, bahwa dalam metodologi atau lebih tepatnya framework kajian agama, ada perbedaan yang mendasar antara Islam dengan para orientalis pada umumnya. Bagi seorang Muslim, belajar agama bertujuan untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat, yang dapat meningkatkan iman dan ibadah kepada Allah. Sebab, tidaklah manusia diciptakan kecuali hanya untuk beribadah kepada Allah. (QS
51:56).

Seorang Muslim yakin, bahwa mencari ilmu itu sendiri adalah kewajiban dan merupakan ibadah. Karena itu, kita diajarkan untuk senantiasa berdoa, mudah-mudahan kita dijauhkan dari ilmu yang tidak bermanfaat. Ilmu yang manfaat adalah ilmu yang menghasilkan dan memperkuat keimanan, dan bukan ilmu yang menambah keraguan dan kebingungan, serta semakin menjauhkan diri dari ibadah kepada Allah.

Metode studi agama cara Islam ini tentu berbeda dengan metode para studi agama ‘gaya Barat’ yang lebih diarahkan untuk menjadi ‘ilmuwan dan pengamat keagamaan’. Karena itu, dalam model studi seperti ini, para dosen tidak mempersoalkan apakah mahasiswa itu sesat atau benar. Suatu skripsi atau tesis tetap diluluskan jika dianggap sudah memenuhi syarat metode penulisan ilmiah, tanpa peduli apakah karya ilmiah itu benar atau salah dari segi isinya dalam pandangan Islam. Bahkan, banyak yang sudah bersifat skeptis dan agnostik terhadap kebenaran, dengan menyatakan, bahwa manusia tidak akan tahu kebenaran sejati, yang tahu kebenaran hanya Allah. Tentu saja ini sangat keliru, sebab Allah telah menurunkan wahyu-Nya kepada manusia melalui Nabi dan Rasul dengan tujuan untuk bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Kita berharap para dosen di perguruan tinggi Islam dan para pejabat Departemen Agama sadar akan amanah berat yang mereka pikul saat ini, sehingga mereka tidak bersantai-santai atau bermain-main dalam hal ilmu agama.

Mereka perlu sadar, bahwa upaya untuk meruntuhkan Islam yang sangat strategis adalah dengan cara merusak konsep-konsep keilmuan Islam. Itulah yang sejak berabad-abad lalu dilakukan oleh para orientalis.

Dalam pasal 2, Perpres No 11 tahun 1960, tentang pembentukan IAIN disebutkan, bahwa tujuan pembentukan IAIN adalah: “IAIN tersebut bermaksud untuk memberi pengadjaran tinggi dan mendjadi pusat untuk memperkembangkan dan memperdalam ilmu pengetahuan tentang Agama Islam.”

Jadi, sesuai dengan niat mulia sejak awalnya, perguruan-perguruan tinggi Islam harus menjadi pusat pengembangan dan pendalaman ilmu tentang agama Islam. Tentu, sebagai umat Islam Indonesia, kita berharap, dari kampus-kampus ini lahir para cendekiawan dan ulama yang berilmu tinggi dan taat kepada Allah. Untuk itu, agar menjadi kampus Islam yang benar-benar sehat, segala macam jenis kuman dan virus-virus yang merusak ilmu-ilmu Islam harus mulai dikaji, diteliti, untuk selanjutnya ‘dijinakkan’ dan diamankan’.

Cita-cita mulia itu tidak akan terwujud, jika civitas academica di kampus Islam tidak bisa membedakan manayang ‘obat’ dan mana yang ‘racun’; mana ilmu yang bermanfaat dan mana ilmu yang madharat. Jika tidak paham atau tidak peduli dengan masalah ini, bisa jadi, kampus yang semula didirikan dengan niat begitu mulia, akhirnya secara tidak sadar sudah dibajak oleh para orientalis. Wallahu a’lam. (Depok, 25 Agustus 2006/www.hidayatullah.com]

Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini adalah hasil kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan http://www.hidayatullah.com

ACUAN PEMBANGUNAN BERTERASKAN ISLAM

ACUAN PEMBANGUNAN BERTERASKAN ISLAM

 

Prof Madya Dr Muhammad Syukri Salleh
IDMP, Universiti Sains Malaysia

 

 

Sejak kebangkitan Islam pada akhir tahun tujuh-puluhan, pelbagai disiplin ilmu Islam telah diterokai kembali. Sesetengahnya, seperti ilmu pembangunan berteraskan Islam, tidak pernah muncul sebagai satu disiplin ilmu sebelum ini, walaupun asas-asasnya telah dipraktikkan oleh umat Islam terdahulu dengan jayanya. Kegigihan cendekiawan masakini menggali dan menggilap semula ilmu pembangunan berteraskan Islam, seperti juga ilmu-ilmu lain, cukup mengkagumkan.
Namun begitu, dalam keadaan dunia didominasi oleh ilmu-ilmu bukan-Islam, kadangkala ilmu pembangunan yang dikatakan berteraskan Islam ini, seperti juga dalam kes banyak ilmu-ilmu lain, secara sedar atau tidak nampaknya bercampur aduk dengan ilmu-ilmu bukan-Islam berkenaan.
Masalah ini tentunya perlu diatasi. Antara perkara penting yang mesti dilakukan ialah dengan meneliti kembali acuan ilmu pembangunan berteraskan Islam agar dengan itu ilmu ini dapat lahir dari acuan Islam sendiri. Inilah tujuan utama makallah ini.

Asas Teori Pembangunan Lazim
Dalam teori pembangunan lazim, pembangunan muncul hanya dari dua acuan falsafah. Pertama ialah dari falsafah pasca-klasikal manakala kedua ialah dari falsafah radikal. Pembangunan yang lahir dari falsafah pasca-klasikal mengamalkan sistem liberal kapitalis manakala pembangunan yang lahir dari falsafah radikal pula mengamalkan sistem sosialis atau komunis.
Sistem liberal kapitalis yang lahir dari falsafah pasca-klasikal beroperasi berlandaskan teori pertumbuhan dan kemudiannya teori pengagihan-dengan-pertumbuhan. Sistem sosialis atau komunis yang lahir dari falsafah radikal pula mendorong kepada lahirnya teori strukturalis dan kemudiannya teori pergantungan.
Walaupun sistem liberal-kapitalis dan sosialis-komunis lahir dari dua falsafah yang berbeza, namun kedua-dua falsafah itu sebenarnya tumbuh dari acuan paradigme yang sama. Epistemologi falsafah kedua-dua pasca-klasikal dan radikal adalah bersifat eurocentric dan Western ethno-centric. Kedua-duanya berkongsi susur-galur ilmu yang sama, yakni dari Barat. Matlamat akhir kedua-dua falsafah tersebut juga adalah tidak berbeza. Kedua-dua falsafah pasca-klasikal dan radikal menuju kepada pemaksimaan pengeluaran dan kepenggunaan, walaupun dengan memakai istilah yang tidak sama.
Dengan itu, oleh kerana falsafah kedua-dua sistem pembangunan liberal-kapitalis dan sosialis-komunis berasal dari satu dan matlamat kedua-duanya juga adalah sama, maka kedua-duanya adalah serupa. Kalau pun ada perbezaan antara keduanya, ia hanya dari segi perkaedahan mencapai matlamat sahaja. Dalam keadaan demikian, kedua-duanya sebenarnya berada dalam satu paradigme.

Acuan Pembangunan Berteraskan Islam
Pembangunan berteraskan Islam tidak boleh muncul dari paradigme begini. Epistemologi ilmu Islam sendiri adalah berbeza dari epistemologi ilmu teori pembangunan lazim. Epistemologi ilmu teori pembangunan lazim berakar umbi dari pemikiran Barat, manakala epistemologi ilmu Islam berakar umbi dari empat sumber utama, yakni Al-Qur’an, Hadith, Ijma’ dan Qiyas ulamak.
Keempat-empat sumber ini membentuk satu worldview yang jauh berbeza dari world-view Barat yang membentuk ilmu teori pembangunan lazim. Oleh kerana worldviewlah yang mencorak segala kehidupan manusia, maka pembangunan yang muncul dari worldview lazim bukan merupakan pembangunan berteraskan Islam yang tulin. Selagi ia tidak bebaskan diri dari ikatan worldview lazim, selagi itulah ia terkongkong dalam paradigme lazim. Selagi ia terkongkong dalam cengkaman worldview lazim, selagi itulah pembangunan itu tidak boleh dikatakan pembangunan berteraskan Islam.
Atas sebab-sebab di atas, maka pembangunan berteraskan Islam mesti lahir dari acuannya sendiri, dari akar-umbi epistemologi dan worldviewnya sendiri. Atas sebab itu jugalah tidak boleh ada sistem `pembangunan berteraskan Islam’ yang lahir dari campur-aduk antara epistemologi dan worldview Islam dengan epistemologi dan worldview bukan Islam. Dengan ini tidak boleh ada campur-aduk antara isme-isme lain dengan Islam, seperti misalnya kapitalisme Islam atau sosialisme Islam. Hanya dengan acuan epistemologi dan worldview Islam sendiri sahaja akan lahir pembangunan berteraskan Islam yang tulin.
Untuk ini pembangunan berteraskan Islam mesti terbentuk dari empat sumber utama ilmu Islam yakni Al-Qur’an, Hadith, Ijmak dan Qiyas ulamak. Dari sumber ini terbentuklah ilmu yang terbahagi kepada dua, yakni ilmu fardhu `ain dan ilmu fardhu kifayah. Sementara ilmu fardhu `ain menjelaskan tentang ilmu-ilmu yang bersangkutan dengan kewajipan individu manusia, ilmu fardhu kifayah pula bersangkutan dengan kewajipan manusia secara kolektif. Di dalam ilmu fardhu `ain terdapat hal-ehwal keTuhanan (Tauhid), hal-ehwal peraturan hidup (Fiqh) samada dalam pelaksanaan ibadah, muamalah, munakahat atau jinayah, dan hal-ehwal penyucian diri (Tasauf).
Di dalam fardhu kifayah pula terdapat hal-ehwal kehidupan kemasyarakatan seperti perundangan, kedoktoran, politik, ekonomi, pembangunan, sosial dan sebagainya, di samping urusan-urusan memenuhi keperluan kemasyarakatan seperti pengurusan jenazah, pengajaran dan pengajian ilmu dan lain-lain.
Walaupun pembangunan secara umumnya jatuh dalam kategori fardhu kifayah, tunjangnya mesti tetap tertanam kuat dalam ilmu fardhu ‘ain. Tidak boleh dikatakan sesuatu usaha pembangunan itu fardhu kifayah kiranya ia tidak bertunjangkan kepada ilmu fardhu ain. Mana mungkin sesuatu pembangunan itu menjadi fardhu kifayah kiranya ia terputus dari rasa keTauhidan kepada Allah, bebas dari peraturan yang ditetapkan melalui Fekah dan tidak disertai akhlak sebagaimana tuntutan tasauf. Kalau hal ini berlaku, matlamat pembangunan berteraskan Islam tidak mungkin tercapai, skala waktunya menjadi sempit, perkaedahannya tidak berdasarkan kepada pengabdian kepada Allah dan peralatan pembangunan akan dieskploitasi sehabis-habisnya untuk kepentingan nafsu dan keuntungan semata-mata.
Tetapi apabila pembangunan lahir dari acuan Islam, berdasarkan kepada worldview dan epistemologi Islam yang terbentuk dari gabungan ilmu fardhu a’in dan fardhu kifayah, maka matlamat, skala waktu, perkaedahan dan peralatan pembangunan akan berjalan selari sebagaimana tuntutan Islam. Matlamat pembangunan adalah mencapai keredhaan Allah, skala waktunya meliputi alam roh, alam dunia dan alam akhirat, perkaedahannya berdasarkan kepada ibadah, dan peralatannya adalah sumber-sumber alam yang dicipta Allah untuk manusia merealisasikan kekhalifan mereka. Inilah asas-asas pembangunan berteraskan Islam yang tulin.

Sumber:
http://www.geocities.com/muhammadsyukri/DEAcuan.html

Pemurnian menyeluruh epistemologi Muslim

Pemurnian menyeluruh epistemologi Muslim

 

KEMUNDURAN dan kelemahan umat Islam adalah akibat penyakit kronik yang sukar diubati tanpa diserlahkan puncanya. Pelbagai penyakit menimpa dan kerananya kelemahan dan kemunduran yang dialami begitu parah. Antara yang dikenal pasti berkait ilmu dari pelbagai dimensi. Krisis ilmu dalam masyarakat Islam melebar mencakupi pelbagai perkara. Tetapi semuanya belum ditangani secara semestinya. MOHD NAKHAIE AHMAD mengulas.
KEMAJUAN sains dan teknologi yang berkembang daripada epistemologi moden dan penyelidikan empiris, melahirkan kesan dan pengaruh hebat. Kemajuan dalam lapangan perhubungan, perindustrian, pertanian dan lain-lain amat mengagumkan. Bagaimanapun, sehingga kini manusia gagal mengenali dirinya, menerusi kemajuan ilmu sains dan teknologi, walaupun pelbagai ilmu diwujudkan bagi mengkaji manusia. Bahkan epistemologi moden dan ilmu empiris itu, belum mencapai pendekatan jelas untuk melakar wajah pembangunan insan dan arah tujunya dalam kehidupan. Akibatnya kemajuan sains dan teknologi digarap menerusi pendekatan falsafah Barat, menjadikan manusia terumbang-ambing dan menjerumuskan mereka kepada pola hidup permisif (Ibahiyah), bebas nilai dan menjadikan hidup ini sekadar mencari kepuasan fizikal.
Teori pembangunan moden menyarankan untuk mencapai kemajuan, setiap langkah Barat mesti dituruti. Kehidupan tradisional dirombak dan diganti dengan kehidupan moden. Tiada jalan bagi menuju kemajuan, melainkan berasaskan sains dan teknologi. Kemajuan ekonomi adalah teras dan kerana itu penghayatan sains dan teknologi dalam kegiatan ekonomi satu kemestian.
Saranan ini diterima. Pendekatan pembangunan Barat menjadi acuan negara Islam yang bebas daripada penjajahan. Setiap langkah negara Barat diikuti negara Islam bagi mengisi hasrat kemajuan. Tindak-tanduk mereka mengikut saranan sarjana Barat, menepati apa yang disebutkan oleh Nabi Muhammad:
“Kamu akan mengikut perjalanan umat yang terdahulu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sehinggakan jika mereka masuk ke lubang biawak sekalipun, nescaya kamu mengikutnya.”
Walaupun begitu keyakinan dan kepatuhan hukkam di negara Islam terhadap pendekatan Barat, kemajuan yang dicita-citakan tidak tercapai. Negara Islam terus dibelenggu kemiskinan, kemunduran, buta huruf dan perpecahan. Bahkan pengaruh negatif peradaban Barat itu dan pola kehidupan permisif menjalar bersama barangan yang mengukuhkan kedudukan umat Islam sebagai masyarakat mustahlik.
Salah satu puncanya ialah kerana ulama dan ilmuwan Islam terumbang-ambing dalam pergelutan antara pemikiran tradisional yang jumud dengan pemikiran Barat yang sekular dan bebas nilai. Epistemologi tradisional bercelaru, beku dan lesu. Sedangkan epistemologi moden Barat, agresif, praktikal, progresif dan nyata, berasaskan ilmu empiri yang mengagumkan, tetapi lekang daripada agama, kehilangan arah selain mendapatkan kelazatan, kemewahan dan keseronokan. Ulama dan ilmuwan Islam tergamam dalam pertarungan antara keimanan dan nilai moral yang kehilangan dukungan epistemologi kukuh dengan kebudayaan moden yang dicipta kemajuan ilmu empiris berasaskan sains dan teknologi.
Dalam banyak hal, keimanan dan akhlak yang didukung pola pemikiran dan kehidupan tradisional, terpaksa mengalah kepada desakan pembangunan dan pengaruh kebudayaan moden. Sintesis daripada pertembungan itu, terus mengekalkan kemunduran berbaur dengan kepincangan moral import.
Bukan tidak ada ahli fikir Islam yang mengeluh dengan kecelaruan dan kepincangan epistemologi intelektual masyarakat Islam. Bukan tidak ada sarjana Barat yang mengeluh mengenai keadaan intelektual moden yang kehilangan arah tujuan. Namun kepincangan dan kecelaruan epistemologi, menjadikan umat Islam moden kehilangan jati dirinya dan gagal membebaskan diri daripada kemunduran yang melingkunginya. Penyakit kronik yang dihadapi umat tidak juga sembuh dengan gerakan modenisasi besar-besaran.
“Apabila ulama dan ilmuwan tergelincir maka alam keseluruhannya akan tergelincir.” Demikian kata-kata hikmah tradisi keilmuan Islam. Kerana keadaan ulama dan ilmuwan yang terumbang-ambing, masyarakat kehilangan cahaya kepemimpinan. Manusia akan memilih orang jahil sebagai pemimpin dan mereka memberi fatwa sewenang-wenangnya, sehingga mereka sesat.
Persoalan asas dalam menyempurnakan kehidupan manusia bagi mencapai matlamat ialah ilmu. Kerana itulah ayat pertama diturunkan adalah perintah membaca. Nas al-Quran yang lain juga memperlihatkan kegiatan keilmuan itu adalah penting untuk pengukuhan iman dan takwa, untuk kehidupan yang dapat meningkatkan prestasi kemuliaan insan dalam kehidupan duniawi dan ukhrawi.
Kegiatan keilmuandimaksudkan ialah kegiatan pembacaan, pemahaman, melihat dan memerhatikan kejadian alam, langit dan bumi, tumbuh-tumbuhan, haiwan, lautan, angin dan sebagainya. Tetapi bacaan, pemahaman, penyelidikan itu tidak sekadar membaca, menyelidik dan memahami alam, untuk menguasainya, atau dengan lebih jelas untuk memperkosanya. Pembacaan, penyelidikan dan pemahaman itu ialah untuk tujuan murni, untuk manusia memahami destininya, mewujudkan hubungan harmoni dengan alam dan hubungan taqarrub intim dengan Pencipta alam itu sendiri, di samping memanfaatkan nikmat yang diciptakan itu dan diikuti dengan bersyukur kepada Allah.
Perintah membaca dalam al-Quran tidak sekadar membaca al-Quran, tetapi mestilah menembusi laluan hingga memahami alam. Ini kerana arahan Allah dalam al-Quran supaya melihat dan memerhatikan alam, tidak sekadar sedap didengar, tetapi mesti dihayati dan dilaksanakan secara amali. Ini bermakna perintah membaca dalam wahyu pertama itu merangkumi bacaan al-Quran dan bacaan ke atas al-Kanun dan kosmos.
Bacaan, penyelidikan dan pemahaman al-Quran, tidak terbatas kepada mengetahui hukum halal dan haram bagi menyusun tingkah laku manusia atau menyentuh kepercayaan dan keyakinan metafizik. Bacaan itu harus menembusi laluan lebih jauh iaitu memahami hukum perjalanan alam semesta, mengerti kejadian kehidupan dan perjalanan semua kejadian alam. Dalam epistemologi Islam, seperti yang disarankan al-Quran dan al-Sunnah, pengertian sebenar bacaan, tidak terpisah antara bacaan al-Quran yang mengandungi hukum-hakam, arahan, bimbingan dan saranan mengenai susunan perjalanan hidup manusia dari aspek individu dan sosialnya; dengan bacaan al-Kanun yang mengandungi pelbagai ciptaan Allah dan hukum-hakam serta kaedah perjalanannya.
Bacaan, penyelidikan dan pemahaman adalah wasilah kegiatan ilmu dan objek serta saranan yang menjadi bahan bacaan, penyelidikan dan pemahaman untuk mendapat ilmu ialah al-Quran dan al-Kanun. Daripada kedua-duanya dapat ditimba ilmu yang tiada batasan. Allah berfirman yang bermaksud: “Katakanlah (wahai Muhammad) jika lautan itu tinta untuk tulisan kalimah Tuhanku, nescaya keringlah lautan itu sebelum habis kalimah Tuhanku ditulis, walaupun dibekalkan lagi seumpamanya.” – (al-Kahf: 109).
Begitu luas bahan yang ada dalam al-Quran dan alam yang boleh ditimba untuk diketahui dan dirumuskan sebagai ilmu pengetahuan. Tetapi pengetahuan yang dimaksudkan, bukanlah sekadar mengetahui. Ia hendaklah dibina sehingga mencapai tahap kebijaksanaan atau hikmah. Hanya apabila pengetahuan itu dibentuk sehingga mencapai tahap hikmah barulah berhamburan kebaikan yang banyak.
Allah berfirman, ertinya: “Dia mendatangkan hikmah kepada sesiapa yang Ia suka dan sesiapa yang Ia datangkan hikmah, sesungguhnya ia didatangkan kebaikan yang banyak. Dan ini tidak teringat, melainkan oleh orang yang mempunyai hati.” – (al-Baqarah: 269).
Hikmah ialah pengetahuan mendalam yang tidak mengetahui sesuatu daripada satu aspek saja, tetapi daripada pelbagai aspek dan dapat menggarap persoalan itu secara tepat dan mendalam sehingga timbul keyakinan kebenarannya. Keyakinan seperti yang diungkapkan al-Ghazali dalam al-Munqidz Min al-Dhalal, bahawa apabila dipastikan 2 x 2 ialah empat dan jika ada orang yang berkata bahawa 2 x 2 lapan dan buktinya ia boleh menukarkan sebiji telur menjadi emas dan ia berjaya melakukannya. Namun kita hanya kagum dengan kebolehannya, tetapi tidak mengubah keyakinan kita bahawa 2 x 2 itu adalah empat.
Hanya pengetahuan yang dikejapkan keyakinan itulah akan meningkatkan tahap hikmah. Ini kerana dengan keyakinan itu, hikmah itu akan mempengaruhi jiwa dan hati dan akan memberi kesan kepada hati itu untuk mempengaruhi tingkah laku dan tindak-tanduk seseorang sehingga kelakuan dan tingkah lakunya itu kelihatan bijaksana dan berhikmah.
Seorang yang mempunyai hikmah tidak hanya mengetahui, tetapi berada dalam keadaan harmoni dalam hubungannya dengan Allah dengan iman dan takwa dan harmoni dengan makhluknya dengan kebaikan dan keadilan, bersikap wajar dalam menghadapi perbezaan pendapat, tidak mudah memberi reaksi terhadap perkara yang belum pasti, merendah diri dalam perkara yang diketahui, tidak terkeluar dari mulutnya, semata-mata hukuman, tetapi lebih banyak nasihat dan bimbingan daripada kritikan dan kecaman, serta berlapang dada menangani krisis dan pergolakan. Inilah hukum yang dilahirkan daripada penghayatan epistemologi yang dibina al-Quran.
Sebatian antara ilmu akli dan naqli, antara ilmu syariat dan sains, antara ilmu kasbi dan laduni, menjadi teras di dalam epistemologi Islam. Kerana itu, sains, teknologi, falsafah, sosiologi dan sebagainya, sentiasa berpaut kepada syariat dan tidak lekang daripadanya, sehingga meninggalkannya apabila ia berkembang dan maju. Ini kerana ilmu syariat adalah asas dan daripada dorongan dan desakannya, ilmu lain berkembang dan maju. Bahkan ilmu aqli yang dihasilkan daripada peradaban lain, dibersihkan dulu dengan nilai syariat, sebelum diterima dan dimasukkan ke dalam tradisi ilmu Islam. Kerana untuk menjadikannya sebahagian daripada tradisi ilmu Islam, ia harus terlebih dulu serasi dengan epistemologi Islam. Kerana itu, ilmu dibahagikan kepada ilmu yang berguna dan ilmu yang tidak berguna. Menurut Imam al-Ghazali, ilmu yang berguna ialah ilmu yang menambahkan ketakwaan kepada Allah. Hanya ilmu yang dapat meningkatkan hikmah, membangkitkan kesedaran dan keinsafan, dapat membina insan dan meningkatkannya kepada tahap kemanusiaan yang utuh. Ilmu seumpama itulah ilmu yang berguna daripada perspektif epistemologi Islam.
Kita hanya boleh mengagumi pencapaian sains dan teknologi, sehingga boleh mendarat di bulan, mencipta bom nuklear yang boleh memusnahkan jutaan musuh dalam peperangan sekelip mata, menghasilkan teknologi sehingga manusia beribu-ribu batu jaraknya dapat bercakap antara satu dengan lain. Kita hanya dapat mengagumi pencapaian menakjubkan itu. Tetapi ia belum mencapai tahap hikmah, jika kejayaan itu tidak membawa kesedaran dan kesempurnaan kemanusiaan itu sendiri dan kedudukannya sebagai hamba serta khalifah Allah. Ini bermakna ilmu akliah daripada perspektif Islam, bagaimana maju sekalipun, tidak boleh bebas nilai dan tidak boleh lekang daripada tanggungjawab kemanusiaan seperti yang ditentukan oleh Allah.
Nilai dan tanggungjawab kemanusiaan yang mendukung perkembangan ilmu akliah itu ialah ilmu syariat. Nilai dan tanggungjawab itu terbentuk daripada posisi manusia sebagai hamba Allah dan khalifah. Syariat ialah petunjuk, bimbingan, hukum dan perintah yang membentuk kemanusiaan. Ia adalah asas yang memberi dukungan kepada perkembangan ilmu akliah (sains, teknologi, psikologi, dll) dan mendisiplinkan ilmu itu supaya perjalanannya tidak membawa kerosakan kepada manusia dan alam.
Kerosakan alam adalah akibat daripada penyelewengan fungsi ilmu. Allah berfirman, ertinya: “Lahir kerosakan di darat dan di bumi akibat pelakuan manusia.”
Kerosakan terjadi dengan dahsyatnya, jika ilmu akliah itu berada di tangan manusia barbarik yang tohor kemanusiaannya. Untuk membebaskan manusia daripada sifat barbarik ini sehingga menjadi manusia madani, penghayatan syariat adalah syaratnya. Insan mesti dibangun berasaskan epistemologi mengintegrasikan ilmu naqli dan akli yang mensepadukan syariat dengan sains dan kemanusiaan. Sumbernya ialah bacaan teliti kepada al-Quran dan al-Kanun dan menterjemahkan hasil penelitian itu ke dalam pembangunan.
Pencemaran dalam ilmu syariat berpunca daripada penyimpangan kegiatan ilmu daripada epistemologi sebenar, khususnya apabila bacaan yang ditumpukan semata-mata secara harfi dan falsafah. Bacaan seumpama itu terikat kepada susunan bahasa tanpa menembusi kefahaman terhadap realiti alam dan kehidupan yang digarap daripada al-Kanun. Ini menyebabkan pemisahan antara ilmu akli dan naqli. Pemisahan ilmu naqli itu adalah akibat penekanan terhadap pengkhususan cabang ilmu itu.
Penyimpangan ini menyebabkan perkembangan ilmu syariat akhirnya terlepas daripada pegangan epistemologi Islam asal dan melebar pengaruh bidaah dan khurafat. Kesan pengaruh bidaah dan khurafat ini amat besar. Proses keruntuhan tamadun berlaku dengan pantas dan umat Islam menuju zaman kejatuhannya.
Penyimpangan terbesar berpunca daripada pencemaran ke atas salah satu sumber ajaran Islam iaitu al-Sunnah. Pencemaran itu berlaku daripada kegiatan memalsukan hadis. Di peringkat lebih awal ia berpunca daripada kegiatan menafsirkan al-Quran supaya sesuai dengan pegangan politik kepuakan. Umpamanya tafsiran Khawarij terhadap ayat al-Quran bagi menyokong pendirian mereka menentang tahkim.
Pengertian sunnah sebagai sumber ajaran Islam, mengalami pencemaran lebih besar apabila ia bukan hanya diertikan perkataan, perbuatan dan pengakuan Nabi Muhammad tetapi juga perkataan, perbuatan dan pengakuan imam atau pemimpin parti tertentu. Lebih mencemarkan apabila pemimpin itu diangkat ke taraf maksum.
Kepincangan asas epistemologi dalam kegiatan ilmu akli dan naqli dan pencemaran ilmu yang terpancar daripadanya, memerlukan proses pemurnian dan islah menyeluruh. Tetapi perjuangan mengislahkan ilmu menerusi usaha memurnikan epistemologi itu, bukanlah mudah. Ia harus dilakukan ulama dan ilmuwan yang berpengetahuan mendalam dalam lapangan ilmu akli dan naqli, mempunyai kesedaran mendalam, keberanian dan kesabaran tinggi bagi menghadapi cabaran.

Sumber: http://161.139.39.251/akhbar/islam/1996/bh96b01.htm