Hidup memang tidak cukup waktu untuk merasakan semua pengalaman berharga, yang bisa buat kita tersentak dari lamunan dari segala kebodohan yang mendarah daging dalam hari hari kita. Kejadian dan bacaan akan kisah orang lain dapat membawa kita ikut merasakan. Alangkah bodoh ketika kita jatuh pada lobang yang sama seperti mereka yang selama ini tidak mengambil pengalaman dari orang lain. Alangkah kampungan ketika kita masih mengikuti tren karena takut dikatakan kolot, alangkah indah ketika kita mampu hadir sebagai diri kita sendiri dikala semua umat manusia hadir dengan gaya para selebritis. Tidakkah teman teman sadar bahwa setiap kita memiliki kelebihan yang orang lain tidak memiliki kemampuan itu. Tidakkah teman teman ingat bahwa kita juga punya memory yang melebihi 1000.000 gygabite dengan proccesor yang tidak ada bandingan dengan komputer mana saja didunia. So kapan lagi kita jadi diri kita sendiri…..

Minggu 13 mei 2007 salah seorag temanku melangsungkan pernikahan. Kedua teman ini telah pacaran selama 2 thn, kedua keluarga mereka sudah saling akrab bahkan seluruh seluk beluk di rumah si cewek tlah diketahui oleh si cowok begitu sebaliknya, sehingga cowok tidak ada merasa canggung sedikitpun. Sekilas hal tersebut seperti tampak biasa biasa saja, terkesan si pengantin terlihat bahagia ketika akad nikah dilaksanakan. Setelah akad nikah si pengantin langsung saja bersalaman dan saling cipika-cipiki. seluruh tamu dan keluarga waktu turut merasa bahagia.

Namun 2 jam setelah akad nikah suasana rumah kembali seperti biasa, tamu tamu yang tadi ikut mengubah suasana acara pulang kerumah masing masing. Yang tinggal hanyalah sisa makanan dan piring piring yang terhampar tak terurus.

Dari beranda rumah tempat biasa kami kumpul, terdengar suara gelak tawa yang riuh, seperti biasa kami selalu aja cari bahan yang bikin perut tergelitik. Saat itu timbul pertanyaan, “apa yang kau rasakan sekarang fren?” Spontan aja si cowok menjawab biasa biasa aja, seperti kita kumpul kumpul biasa, berikutnya “apa yang kau rasakan ketika ijab kabul” sedikit gerogi namun setelah itu ya… seperti biasa kalau hanya cipika cipiki apa lebihnya. mungkin yang luar biasa pada waktu malam pengantinnya. lagi lagi timbul tawa…. hahahahaha Sedikit tanya itu terasa amat berkesan, jawaban “biasa biasa saja” yang hadir ketika suasana awal kita menempuh hidup baru, mungkinkah hari hari mereka sangat biasa biasa saja ketika setelah berkeluarga???? Ya…..

Sungguh merugi ketika tidak dapat merasakan suatu yang sangat baru ketika akada nikah usai dilaksanakan, alangkah merugi ketika kita tidak merasakan getaran yang maha dasyat ketika kita menyentuh kulit orang akan mendampingi hidup dengan cintanya untuk pertama kali, alangkah malangnya ketika kita tidak merasakan malu malu tapi mau, wajah merah merona dan senyum tersipu sipu sewaktu kita disuruh saling berciuman… sungguh malang sekali ketika harus menjalani awal hidup dengan seseorang yang telah kita lihat rambut, lehernya yang waw, dan molek tubuhnya yang telah biasa dijamah walaupun itu dengan diri kita.

Rasanya banyak hal yang akan hilang ketika kita terlalu lebur dalam berpacaran, Sisi romantis yang selama ini ada dalam tren kehidupan hanyalah gerbang untuk menghilangkan keindahan yang tiada tara, Justru romantis yang ada hanya akan mengurangi kenikmatan, ketika pacaran semuanya dijalani dengan kehati- hatian, ketakutan dan malu pada orang lain, sehingga kenikmatan2 itu sangat sangat sedikit sekali. Setelah pernikahan apalagi yang dirasakan “manisnya bibir, pipi dan bagian yang lain dari pasangan telah kita renggut dengan ciuman dan sentuhan dosa sebelumnya”

Ketika malam pengantin, akankah kita menyia-nyiakan kenikmatan degup jantung yang teramat besar, rasa gerogi yang teramat tajam, ketika untuk pertama kali mata ini melihat bidadari sajian sorga dengan rambutnya yang terurai. Akankah kita menghilangkan kebahagian getaran diri tiada tara ketika kita pertama kali menyentuh rambutnya. Dan akankah mebludaknya kenikmatan ketika kita membiarkan syahwat firdaus yang belum pernah kita obral mengerjakan kewajibnya.

Sobat pacaran bukanlah sebuah kenikmatan, justru pacaran akan menghilangkannya perlahan demi perlahan namun itu pasti, jikala kita telah benar benar mengenal sifat dan kelurga pasangan kita menikahlah jangan ada beri jalan untuk pacaran.

Sedikit tips ” Untuk mengatahui sifat pasangan bartanyalah tapi jangan tanya
langsung, minta bantuan teman untuk menanyakan pada orang disekitar lingkungan dimana pasangan kita sehari harinya (tetangga, teman akrab, teman biasa, kalau ada musuhnya), biasanya jawaban mereka lebih relistis”

(Dari Dedi Yandri, ST, Alumnus Teknik Mesin Universitas Andalas Padang, Sahabat terbaik yang pernah ku miliki)