Prolog

Dalam acara “Pidato Kebudayaan” yang diadakan di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki Jakarta pada tanggal 18 Agustus 1989, Umar Kayam seorang Budayawan UGM lulusan Cornell University mengemukakan suatu makalah yang menarik dengan judul “ Pembebasab Budaya-Budaya Kita”

Pidato Kebudayaan Umar Kayam inilah yang coba penulis angkat dalam makalah ini. Umar Kayam menghimbau untuk membebaskan berbagai macam budaya local Nusantara agar berkembang tanpa dikerdilkan serta dikungkung wacana tunggal kesatuan. Dari perjumpaan berbagai budaya di Indonesia diharapkan muncul dinamika yang menggerakkan kreativitas budaya Indonesia.

Makalah “Pembebasan Budaya-Budaya Kita”

Berikut akan saya kutipkan inti sari dari makalah.

Transformasi besar budaya Indonesia menyangkut dua jalur transformasi besar yang saling berkaitan, yaitu :

  1. Transformasi budaya Indonesia yang menarik budaya etnik ke tatanan budaya Negara-kebangsaan.
  2. Transformasi budaya Indonesia yang menggeser budaya agraris tradisional ke tataran budaya industi modern.

Transformasi budaya pertama adalah konsekuensi dari komitmen bangsa Indonesia untuk bersedia bersatu bernaung di bawah satu Negara-kebangsaan yang berbentuk satu republik satu kesatuan. Sedangkan yang kedua adalah konsekuensi dari komitmen untuk mengubah sistem ekonomi pertanian tradisi menjadi suatu sistem ekonomi industri dan perdagangan.

Pada transformasi budaya etnik menjadi budaya negara-kebangsaan tantangan yang dihadapi adalah bagaimana menciptakan kondisi yang sehat serta menguntungkan bagi terciptanya dialog budaya antar nilai-nilai etnik dengan nilai-nilai Negara-kebangsaan. Adapun nilai-nilai etnik adalah nilai-nilai tradisional yang diwarisi oleh lingkungan etnik dari pemantapan struktur masyarakat-masyarakat yang mendahului mereka. Sedangkan nilai-nilai Negara-kebangsaan adalah nilai-nilai kontemporer yang diletakkan oleh persyaratan minimal untuk membangun sosok struktur Negara-kebangsaan tersebut.

Untuk mewujudkan tranformasi ini tidaklah mudah.Ada kendala-kendala yang menghadap terciptanya kondisi yang diinginkan, yaitu:

  1. Kemapanan dan kekukuhan akar-budaya serta sistem-sitem tradisi dalam tubuh lingkungan etnik.
  2. sifat atau ciri dari sistem Negara kebangsaan yang cendrung imperatif (memerintah untuk tidak ditawar lagi) terhadap sistem nilai lama yang dianggap akan menghalangi struktur baru itu.

Kondisi ini mendorong terciptanya ketimpangan dan ketidak-sejajaran dialog antara masing-masing masyrakat etnik maupun antara masyarakat etnik dengan Negara kebangsaan.

Pada lajur kedua, tranformasi budaya pertanian tradisonal ke budaya yang mengacu pada masyarakat industri modern juga mengalami tantangan, yaitu bagaimana menyiapkan masa transisi yang cukup membuka banyak kesempatan bagi unsur-unsur budaya baru tersebut.

Ciri utama dari budaya tradisional pertanian adalah pada penekanan orientasi pandangan-dunia yang melihat masyarakat sebagai suatu rumpun bagian dari satu jagad yang bulat yang mesti dijaga keseimbangannya. Perbedaan pendapat yang tajam, konfrontasi persaingan terbuka dan sengit, penonjolan prestasi yang berlebihan, dipandang sebagai nilai-nilai yang kurang baik karena akan memicu disharmoni.

Pandangan dunia budaya industri moder justru menekankan persaingan yang terbuka, konflik dan konfrontasi, penonjolan prestasi, dau pendapat. Pandangan dunia masyarakat ini tidak melihat dunia sebagai jagad yang statis melainkan dunia terus bergolak dan berkembang untuk maju. Sementara pandangan budaya tradisional menurut mereka tidak menggalang kondisi harmonis yang dinamis.Tantangan dialog dua kubu ini sangat mendasar dan prinsipil.

Sejarah bangsa ini membuktikan bahwa masyarakat etnik Indonesia mampu mengembangkan dialog budaya dengan kebudayaan asing seperti Budha, Hindu dan Islam. Namun saat mereka mesti menghadapi kebudayaan barat yang diwakili oleh Portugis, Belanda, Inggris dan Perancis, mengapa kita tidak berdaya ? Jawaban dari pertanyaan ini adalah Budha, Hindu dan Islam dating secara bertahap dan damai. Sedangkan budaya barat masul ke negeri ini melalui perang, penaklukan, dan penjajahan.

Dalam konteks penerimaan pengaruh barat ini masyarakat etnik kita terbelah menjadi dua:

  1. Pada masyarakat yang menganut Splendid Isolation, mereka tidak memiliki suatu warisan budaya yang rumit dan kompleks. Sehingga ketika mereka dikalahkan Belanda, maka mereka menerima pengaruh Barat lewat pendidikan dan pergantian sistem kepercayaan tanpa harus melewati penyesuaian yang berat.
  2. Masyarakat yang telah kompleks kebudayaannya sebelum datangnya Belanda, ketika mereka dikalahkan Belanda maka terasa amat pahit bagi mereka. Karena mereka mengira bahwa budaya mereka yang begitu “sempurna” kalah oleh kekuatan asing.

Selain dari permasalahan di atas kita juga menghadapi problem-problem lain :

  • Masyarakat etnik Indonesia tidak mampu memanfaatkan dialog dengan kebudayaan Barat. Kebanggaan akan diri sendiri yang kemudian mengukung dan mengurung sehingga memunculkan sikap tertutup, tidak egaliter dan tidak demokratis.Gejala ini berlaku secara umum, kecuali beberapa suku seperti masyarakat Minangkabau.
  • Kebanggan berlebihan terhadap budaya sendiri sehingga menimbulkan kecendrungan meremehkan dan menganggap etnik lain sebagai pesaing (kecemburuan budaya). Misalnya: sikap tidak mau kalah orang Minang dengan orang Jawa. Hal ini akan menjadi penghalang bagi dialog antar budaya.
  • Sikap imperatif Budaya Negara-kebangsaan telah mengakibatkan pergeseran budaya yang jauh. Contoh dari hal ini, Bahasa Nasional yang menjadi sangat penting mulai mendesak mundur bahasa-bahasa daerah.
  • Sangat menonjolnya pengaruh budaya Jawa dalam kehidupan masyarakat kita sebagai Negara Bangsa yang sangat rentan akan “kecemburuan budaya” terutama bagi etnik yang juga peranannya dalam membangun negeri ini.
  • Sikap persimpangan jalan dari generasi muda diantara pengagungan akan tradisi lama dengan fenomena yang sedang mereka hadapi.

Komentar

Pemaparan dari Budayawan Umar Kayam membukakan kepada kita sebuah tinjauan sejarah kebudayaan dan analisis yang cukup sistematis agar kita bisa memahami permasalahan budaya yang sedang dihadapi oleh bangsa kita pada hari ini. Meskipun pidato beliau ini disampaikan pada tahun 1989, namun menurut penulis apa yang beliau paparkan masih relevan dengan kondisi yang kita hadapi saat ini.

Permasalahan-permasalahan yang beliau utarakan telah menemukan pembuktian konkritnya. Masalah “kecemburuan budaya” diantara masing-masing etnik di Indonesia telah melahirkan Tragedi Poso, Aceh, dan Sampit yang juga erat kaitannya dengan masalah agama, ekonomi dan politik.

Selain persoalan internal, kita juga masih bermasalahan dengan pengaruh budaya Barat yang hari ini semakin menjadi-jadi masuk ke negeri ini dengan berbagai macam sarana. Mental rendah diri dan menganggap budaya barat lebih unggul telah membuat kita latah untuk mengikuti mereka. Fenomena ini terutama terjadi pada generasi muda. Jika Umar Kayam melihat generasi muda masih mengagungkan nilai-nilai lama dari tradisi, tapi kondisi hari ini telah berbeda. Pernyataan kuno, ketinggalan zaman, usang adalah label yang diberikan generasi muda kita terhadap budaya bangsanya sendiri. Hal ini menjadi persoalan serius, karena di tangan merekalah masa depan bangsa ini. Jika kita telah meninggalkan habis tradisi lama terus apalagi yang akan kita jadikan sebagai pedoman dan dasar bagi pencarian jati diri kita sebagai bangsa yang sampai hari ini masih dalam proses.

Sikap apatis dan ketidakmampuan kita untuk beradaptasi dan berdialektis secara kreatif dengan budaya asing terutama Barat juga masih terlihat saat ini. Seperti yang disinyalir oleh Umar Kayam, bahwa kita tidak mampu meniru Jepang dan mungkin sekarang Cina, yang mampu memanfaatkan keunggulan Barat terutama dalam teknologi dan pendidikan untuk mereka serap secara selektif tanpa membuat mereka “terbaratkan” bermetamorfosisi menjadi kekuatan ekonomi dan teknologi yang mampu bersaing dengan Barat.

Akhirnya, dari apa yang disampaikan oleh beliau seharusnya menjadi renungan bagi kita semua bahwa ada masalah budaya yang besar yang mesti kita pecahkan agar bahwa ini tidak menjadi bangsa yang terombang-ambing.

Daftar Pustaka

  • Kayam, Umar. “Pembebasan Budaya-Budaya Kita”. Dalam Agus R. Sarjono, Pembebasan Budaya-Budaya Kita. 1999. PT Gramedia Pustaka Utam