Aku semakin muak dengan semua ini. Aku merasa aku hidup dalam topeng kemunafikan. Aku ingin tanggalkan semua simbol yang melekat pada diriku. Semua permainan ini cukuplah sudah. Aku sudah letih dengan semua ini. Apalah arti sebuah pengakuan dan hiasan fisik semata jika hatiku gersang. Ingin kutanggalkan semua. Kembali menjadi orang biasa. Adalah kesalahan bersembunyi dan berlakon berpura diri telah pintar demi sebuah gengsi. Karena ini hanya akan menghancurkan masa depan. Terus-teranglah yang mampu menginsyafkan diri.

Dinda, seharusnya kau membenciku. Cobalah kau renungkan lebih dalam tentang orang yang katakan kakak ini. Aku yakin kamu sangat memuja keidealisan. Aku bertanya kepadamu tentang apa yang telah aku katakan padamu tentang keadaan diriku sebenarnya. Karena itu bencilah diriku…sebab itu sangat pantas. Akulah bukan cerminan yang baik dalam proses yang lakoni sekarang. Aku telah lari. Aku malu mengatakan aku salafi. Aku hanya orang awam.

Aku telah kembali menjadi orang biasa. Dan aku tak lagi berharap dengan apa yang katakan tentang pemuda yang sholeh hanya untuk wanita sholeha. Aku hanya percaya dengan takdir tanpa berharap banyak. Aku masih awam tentang wanita. Namun satu hal yang kutak ingin terjadi adalah apa yang telah terjadi pada abiku. Aku sadar bahwa tipe yang cocok bagiku adalah wanita yang patuh, taat, pendiam namun enak diajak bicara.

Dan dinda terima kasih telah menyampaikan isi hatiku pada kak yang sering kita katakan siti itu. Dan aku akan tetap mencari…cinta sejati itu

Kadang aku berpikir mungkin dinda juga jenuh dengan sms-sms yang telah kita lakukan selama ini. Karena menoton tak ada hal baru yang signifikan dalam sms kita itu. Apalagi kita tak bisa berharap jauh atas apa yang kita ungkapan selama ini.
Aku ingin kembali seperti sma dulu lagi. Menjadi tertutup dalam masalah ini. Biarlah aku berteman dengan pena da kertas. Karena aku yakin perasaanku hanya mampu terobati dengan itu.

Jikalau engkau masih anggap aku sahabatmu, kuucapkan terima kasih. Masih banyak hal yang harus kukejar. Aku telah terbuka padamu. Dan kuharap kau jaga rahasia ini. Aku yakin takdir tak pernah kita sangka-sangka. Entah kemana aku setelah ini. Aku belum bisa mereka-reka. Tapi dari sekarang anggaplah aku orang yang bodoh. Karena kenyataannya seperti. Anggaplah aku orang gila…

MERSI KAMIS 5 JANUARI 2006 – 22.06