Filsafat

Pembuktian Keberadaan Tuhan

Posted on

1. Pembuktian Ontologis

“Pembuktian ontologis” eksistensi Tuhan adalah salah satu usaha untuk membuktikan eksistensi Tuhan yang paling termasyur dan kontroversi. Banyak filosof besar membahasnya. Orang yang pertama kali mengemukakan hal ini adalah Anselmus dari Canterbury (1033-1109), seorang biarawan Benediktin yang menjadi abbas (pemimpin) biaranya dan kemudian menjadi Uskup Agung di Canterbury di Inggris.

Argumentasi Anselmus, “Allah adalah pengada yang tidak dapat dipikirkan sesuatu yang lebih besar daripadanya” (id quo majus cogitari nequit). Namun, “sesuatu yang tidak dapat dipikirkan sesuatu yang lebih besar daripadanya” tentu bereksistensi dalam kenyataan dan bukan hanya dalam pikiran, karena kalau eksistensinya hanya dalam pikiran orang yang memikirkannya, maka tentu ada sesuatu yang lebih besar yang dapat dipikirkan daripadanya yaitu “yang nyata-nyata ada di luar pikiran”. Maka, mengingat kita dapat memikirkan Tuhan sebagai “sesuatu yang tidak dapat dipikirkan sesuatu yang besar daripadanya”, mala Tuhan mesti bereksistensi dalam kenyataan. Jadi eksistensi Tuhan tidak dapat disangkal. Pemikiran ini bertolak dari logika pemikiran.

2. Dari Realitas Terbatas ke Realitas Mutlak (Pembuktian Kosmologis)

Sesuatu yang mutlak adalah sesuatu yang ada karena dirinya sendiri dan bukan sesuatu yang yang lain. Pemikiran ini bertolak dari sebuah realitas, realitas alam raya. Gagasan ini ditopang oleh tiga gagasan dasar:

1) Ditegaskan bahwa kalau ada sesuatu, maka harus ada “yang mutlak”

2) Diperlihatkan bahwa segenap realitas yang berubah-ubah tidak mungkin mutlak.

3) Ditarik kesimpulan bahwa selain realitas yang berubah-ubah mesti ada yang lain lagi, “yang mutlak”, yang tidak sama dengan realitas yang berubah-ubah itu.

3. Keterarahan Alam (Pembuktian Teleologis)

Jalan pembuktian Tuhan ini bertolak dari keterarahan yang merupakan ciri khas alam semesta di mana manusia hidup di dalamnya. Argumentasi keterarahan alam dapat disusun menjadi 5 tahap:

1) Dalam alam terdapat proses-proses yang terarah ke suatu tujuan.

2) Keterarahan itu tidak dapat dijelaskan sebagai kejadian kebetulan.

3) Apabila proses-proses itu bukan kebetulan, proses-prosen itu adalah hasil pengarahan.

4) Maka proses-proses terarah dalam alam semesta menunjuk pada realitas yang mengarahkan.

5) Realitas itu adalah apa yang disebut Tuhan.

4. Pernyataan dan Apa yang Termuat di Dalamnya (Pembuktian Antroposentris I)

Pengalaman adalah titik tolak manusia dalam pencarian jejak-jejak Tuhan berkorelasi dengan kemampuan manusia untuk membuat pernyataan mutlak. Pernyataan mutlak ini bukanlah silogisme, melainkan eksplisitasi dan pendalaman suatu kesadaran yang menunjukkan diri. perjelasan tentang argumen ini dapat dipahami sebagai berikut:

1) Manusia mampu menyatakan sesuatu dengan mutlak.

2) Kemampuan ini menunjukkan bahwa manusia selalu sudah bergerak dalam suatu cakrawala kemutlakan.

3) Cakrawala kemutlakan itu bukan suatu keterbukaan kosong, melainkan realitas transenden nyata.

4) Realitas transenden nyata itu bukan objek pengetahuan manusia, melainkan syarat kemungkinan bahwa manusia membuat pernyataan (mutlak), jadi disadari secara transendental dalam setiap kali manusia membuat pernyataan (mutlak).

5) Maka dalam segenap pernyataan (mutlak) yang dibuat manusia selalu diandaikan dan dibenarkan, eksistensi realitas transenden sebagai syarat kemungkinan pernyataan itu.

5. Kebebasan Manusia dan Implikasinya (Pembuktian Antropologis II)

Tindakan adalan perpanjangan dan pernyataan kehendak manusia. Manusia bertindak dengan memilih di antara berbagai kemungkinan untuk menjawab situasi yang menantangnya, di mana “memilih” berarti “menghendaki” atau “menentukan diri”. Perjalanan manusia dari kebebasan dalam bertindak terhadap objek-objek terhingga menuju realitas yang tak terhingga dapat dirumuskan sebagai berikut:

1) Setiap pilihan tindakan menunjukkan kebebasan manusia.

2) Dengan demikian, setiap pilihan tindakan terarah pada sesuatu yang tak terhingga.

3) Cakrawala Keterarahan ke yang tak terhingga itu bukan keterbukaan kosong, melainkan realitas transenden nyata.

4) Realitas transenden nyata itu bukan objek pengetahuan manusia, melainkan syarat kemungkinannya, jadi disadari secara transenden dalam segala kesibukan rohani.

5) Maka dalam segenap pilihan tindakan yang dilakukan manusia selalu diandaikan dan dibenarkan, eksistensi realitas transenden sebagai syarat kemungkinan pilihan tindakan itu.

6. Manusia Mencari Makna Akhir (Pembuktian Antropologis III)

Titik tolak pembuktian ini adalah kenyataan bahwa manusia tidak dapat melakukan sesuatu apapun kalau tidak bermakna baginya. Dari makna suatu perbuatan kita akhirnya dibawa ke pertanyaan tentang maknan eksistensi kita sendiri. Apa yang membuat eksistensi manusia menjadi sesuatu yang berarti, positif, membahagiakan? Penelusuran pertanyaan ini membawa manusia pada kesadaran bahwa dalam pengalaman makna, manusia mengalami diri di-iya-kan dan dicintai secara mutlak. Jadi eksistensi manusia didukung oleh realitas mutlak personal yang ternyata meminati manusia, daripadanya manusia menerima diri sebagai anugerah. Gagasan ini dapat dirumuskan dalam kerangka berikut:

1) Manusia hanya dapat berbuat sesuatu apa pun apabila perbuatan itu berarti sesuatu baginya.

2) Suatu perbuatan hanya dapat berarti sesuatu bagi manusia, apabila seluruh eksistensinya bermakna baginya.

3) Eksistensi manusia bermakna bagi dirinya karena berdasar dalam suatu makna mutlak menyeluruh.

4) Makna mutlak menyeluruh itu tak lain kenyataan bahwa manusia diiyakan dan diminati tanpa syarat.

5) Artinya, dalam pengalaman makna eksistensinya manusia bersentuhan dengan Kenyataan Mutlak personal, dasar eksistensinya, yang mengiyakannya, dan itulah yang disebut Tuhan.

7. Manusia Berhadapan Tuntutan Mutlak dalam Kesadaran Moral (Pembuktian Antropologis IV)

John Henry Newman (1801-1890), seorang teolog dan kardinal Inggris Raya menunjukkan bahwa suara hati (conscience) adalah tempat manusia bersentuhan dengan realitas Ilahi. Menurut Newman, dalam suara hati, manusia menyadari bahwa ia berkewajiban mutlak untuk melakukan yang baik dan benar, serta menolak yang tidak baik dan tidak benar. Suara hati bagaikan panggilan dari suatu realitas personal yang berkuasa atas diri manusia, yang kalau manusia mengikutinya, membuat ia merasa bernilai, aman, dan bersedia untuk menyerah.

Pandangan ini juga dapat ditemui pada Immanuel Kant. Bagi Kant, kesadaran moral manusia tidak dapat dimengerti kalau tidak ada Tuhan/

Kesadaran moral menunjuk pada Allah dapat diuraikan dalam enam langkah:

1) Manusia berkesadaran moral (yang berarti manusia memiliki suara hati).

2) Dalam kesadaran moral, manusia sadar bahwa ia mutlak wajib untuk memilih yang benar.

3) Kesadaran itu berakar dalam hati nurani, yaitu dalam kesadaran di dasar hati manusia bahwa ia wajib mutlak untuk memilih yang baik, jujur, adil dan sebagainya serta menolak yang tidak baik, tidak jujur, dan tidak adil.

4) Kesadaran akan kewajiban mutlak ini berasal dari dunia luar, tidak dari diri manusia sendiri.

5) Melainkan kesadaran itu disadari secara langsung oleh manusia sebagai jawaban terhadap suatu tuntutan dari sebuah realitas yang dihadapi, dimana manusia tidak dapat lari daripadanya, dimana sikap terhadap hal itu menentukan mutu sebagai manusia.

6) Realitas itu bersifat mutlak, personal, dan suci. Itulah yang disebut Tuhan.

Referensi:

  • Suseno, Franz Magnis. 2006. Menalar Tuhan. Penerbit Kanisius: Yogyakarta.

Konsep Ketuhanan dalam Agama Hindu

Posted on Updated on

Pengunjung yang saya hormati, sebelum membaca artikel ini mohon sekiranya untuk mengklik link di bawah ini terlebih dahulu. Makasi…

*****************************

  • Wujud Tuhan

Pertanyaan awal yang menarik terkait dengan agama Hindu: Apakah Tuhan Agama Hindu mempunyai wujud? Hal ini terkait dalam sistem pemujaan agama Hindu para pemeluknya membuat bangunan suci, arca (patung-patung), pratima, pralinga, mempersembahkan bhusana, sesajen dan lain-lain. Hal ini menimbulkan prasangka dan tuduhan yang bertubi-tubi dengan mengatakan umat Hindu menyembah berhala.

Penjelasan lebih lanjut tentang pelukisan Tuhan dalam bentuk patung adalah suatu cetusan rasa cinta (bhakti). Sebagaimana halnya jika seorang pemuda jatuh cinta pada kekasihnya, sampai tingkat madness (tergila-gila) maka bantal gulingpun dipeluknya erat-erat, diumpamakan kekasihnya., diapun ingin mengambarkan kekasihnya itu dengan sajak-sajak yang penuh dengan perumpamaan. Begitu pula dalam peribadatan membawa sajen (yang berisi makanan yang lezat dan buah-buahan) ke Pura, apakah berarti Tuhan umat Hindu seperti manusia, suka makan yang enak-enak? Pura dihias dan diukir sedemikian indah, apakah Tuhan umat Hindu suka dengan seni? Tentu saja tidak. Semua sajen dan kesenian ini hanyalah sebagai alat untuk mewujudkan rasa bhakti kepada Tuhan.

  • Brahman/ Tuhan Yang Maha Esa

Tuhan dalam agama Hindu sebagaimana yang disebutkan dalam Weda adalah Tuhan tidak berwujud dan tidak dapat digambarkan, bahkan tidak bisa dipikirkan. Dalam bahasa Sanskerta keberadaan ini disebut Acintyarupa yang artinya: tidak berwujud dalam alam pikiran manusia. Tuhan Yang Maha Esa ini disebut dalam beberapa nama, antara lain:

* Brahman: asal muasal dari alam semestea dan segala isinya

* Purushottama atau Maha Purusha

* Iswara (dalam Weda)

* Parama Ciwa (dalam Whraspati tatwa)

* Sanghyang Widi Wasa (dalam lontar Purwabhumi Kemulan)

* Dhata: yang memegang atau menampilkan segala sesuatu

* Abjayoni: yang lahir dari bunga teratai

* Druhina: yang membunuh raksasa

* Viranci: yang menciptakan

* Kamalasana: yang duduk di atas bunga teratai

* Srsta: yang menciptakan

* Prajapati: raja dari semua makhluk/masyarakat

* Vedha: ia yang menciptakan

* Vidhata: yang menjadikan segala sesuatu

* Visvasrt: ia yang menciptakan dunia

* Vidhi: yan menciptakan atau yang menentukan atau yang mengadili.

Tuhan Yang Maha Esa ini apapun namaNya digambarkan sebagai:

· Beliau yang merupakan asal mula. Pencipta dan tujuan akhir dari seluruh alam semesta

· Wujud kesadaran agung yang merupakan asal dari segala yang telah dan yang akan ada

· Raja di alam yang abadi dan juga di bumi ini yang hidup dan berkembang dengan makanan

· Sumber segalanya dan sumber kebahagiaan hiudp

· Maha suci tidak ternoda

· Mengatasi segala kegelapan, tak termusnahkan, maha cemerlang, tiada terucapkan, tiada duanya.

· Absolut dalam segala-galanya, tidak dilahirkan karena Beliau ada dengan sendirinya (swayambhu)

Penggambaran tentang Tuhan Yang Maha Esa ini, meskipun telah berusaha menggambarkan Tuhan semaksimal mungkin, tetap saja sangat terbatas. Oleh karena itu kitab-kitab Upanisad menyatakan definisi atau pengertian apapun yang ditujukan untuk memberikan batasan kepada Tuhan Yang Tidak Terbatas itu tidaklah menjangkau kebesaranNya. Sehingga kitab-kitab Upanisad menyatakan tidak ada definsi yang tepat untukNya, Neti-Neti (Na + iti, na + iti), bukan ini, bukan ini.

Untuk memahami Tuhan, maka tidak ada jalan lain kecuali mendalami ajaran agama, memohon penjelasan para guru yang ahli di bidangnya yang mampu merealisasikan ajaran ketuhanan dalam kehidupan pribadinya. Sedangkan kitab suci Veda dan temasuk kitab-kitab Vedanta (Upanisad) adalah sumber yang paling diakui otoritasnya dalam menjelaskan tentang Brahman (Tuhan Yang Maha Esa).

Brahman memiliki 3 aspek:

1. Sat: sebagai Maha Ada satu-satunya, tidak ada keberadaan yang lain di luar beliau

Dengan kekuatanNya Brahman telah menciptakan bermacam-macam bentuk, warna, serta sifat banyak di alam semesta ini. Planet, manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan serta benda yang disebut benda mati berasal dari Tuhan dan kembali pada Tuhan bila saatnya pralaya tiba. Tidak ada satupun benda-benda alam semesta ini yang tidak bisa bersatu kembali dengan Tuhan, karena tidak ada barang atau zat lain di alam semesta ini selain Tuhan.

2. Cit: sebagai Maha Tahu

Beliaulah sumber ilmu pengetahuan, bukan pengetahuan agama, tetapi sumber segala pengetahuan. Dengan pengetahuan maka dunia ini menjadi berkembang dan berevolusi, dari bentuk yang sederhana bergerak menuju bentuk yang sempurna. Dari avidya (absence of knowledge- kekurangtahuan) menuju vidya atau maha tahu.

3. Ananda

Ananda adalah kebahagiaan abadi yang bebas dari penderitaan dan suka duka. Maya yang diciptakan Brahman menimbulkan illusi, namun tidak berpengaruh sedikitpun terhadap kebahagiaan Brahman. Pada hakikatnya semua kegembiraan, kesukaran, dan kesenangan yang ada, yang ditimbulkan oleh materi bersumber pula pada Ananda ini bersumber pula pada Ananda ini, bedanya hanya dalam tingkatan. Kebahagiaan yang paling rendah ialah berwujud kenikmatan instingtif yang dimiliki oleh binatang pada waktu menyantap makanan dan kegiatan sex. Tingkatan yang lebih tinggi ialah kesenangan yang bersifat sementara yang kemudian disusul duka. Tingkatan yang tertinggi adalah suka tan pawali duhka, kebahagian abadi, bebas dari daya tarik atau kemelekatan terhadap benda-benda duniawi.

Alam semesta ini adalah fragmenNya Tuhan. Brahman memiliki prabawa sebagai asal mula dari segala yang ada. Brahman tidak terbatas oleh waktu tempat dan keadaan. Waktu dan tempat adalah kekuatan Maya (istilah sansekerta untuk menamakan sesuatu yang bersifat illusi, yakni keadaan yang selalu berubah baik nama maupun bentuk bergantung dari waktu, tempat dan keadaan) Brahman.

Jiwa atau atma yang menghidupi alam ini dari makhluk yang terendah sampai manusia yang tersuci adalah unsur Brahman yang lebih tinggi. Adapun bnda-benda (materi) di alam semesta ini adalah unsur Brahman yang lebih rendah. Walaupun alam semesta merupakan ciptaan namun letaknya bukan di luar Brahman melainkan di dalam tubuh Brahman.

  • Devata atau Deva

Prasangka banyak orang yang menganggap konsep teologis Hindu adalah politeistik berangkat dari pemahaman yang salah tentang Deva. Deva adalah sesuatu yang memancar dari Tuhan Yang Maha Esa. Beraneka Deva itu adalah untuk memudahkan membayangkanNya.

Dewa-dewa atau devata digambarkan dalam berbagai wujud, yang menampakkan diri sebagai yang personal, yang berpribadi dan juga yang tidak berpribadi. Yang Berpribadi dapat kita amati keterangan tentang dewa Indra, Vayu, Surya, Garutman, Ansa yang terbang beas di angkasa, dan sebagainya. Sedang Yang Tidak Berpribadi, antara lain sebagai Om (Omkara/Pranava), Sat, Tat, dan lain-lain.

Dalam kitab suci Rgveda seperti halnya Atharvaveda disebutkan jumlah dewa-dewa itu sebanyak 33 dewa. Bila kita membaca mantram-mantram lainnya dari kitab suci Rgveda ternyata jumlah Dewa-dewa sebanyak 3339

  • Personal God dan Impersonal God

Tuhan menurut monotheisme Trancendent digambarkan dalam wujud Personal God (Tuhan Yang Maha Esa Berpribadi). Sedangkan menurut monotheisme Immanent, Tuhan Yang Maha Esa selalu digambarkan Impersonal God. Memang menyembah Tuhan Yang Maha Esa yang abstrak (Impersonal God) tanpa mempergunakan sarana jauh lebih sulit dibandingkan dengan menyembah Tuhan Yang Personal God melalui Bhakti dan Karma Marga.

Tuhan Yang Maha Esa di dalam Veda digambarkan sebagai Personal God, dapat dibagi menjadi tga kategori:

1. Penggambaran Antrophomorphic: sebagai manusia dengan berbagai kelebihan seperti bermata seribu, berkaki tiga, bertangan empat dan sebagainya.

2. Penggambaran Semianthrophomorphic: sebagai setengah manusia atau setengah binatang. Hal ini lebih menonjol dalam kitab-kitab Purana seperti dewa Ganesha (manusia berkepala gajah), Hayagriwa (manusia berkepala kuda, dan sebagainya.

3. Penggambaran Unantrophomorphic: tidak sebagai manusia melainkan sebagai binatang saja, misalnya Garutman (Garuda), sebagai tumbuh-tumbuhan, misalnya Soma dan lain-lain.

  • Referensi:

Cudami. 1989. Pengantar Agama Hindu Untuk Perguruan Tinggi. Yayasan Dharma Sarathi: Jakarta

Titib, I Made. 2003. Teologi & Simbol-Simbol dalam Agama Hindu. Penerbit Paramita: Surabaya.

Mengapa epistemologi perlu dipelajari?

Posted on

Paling tidak ada tiga alasan pragmatis:

1. Pertimbangan strategis

Kajian epistemologis perlu karena pengetahuan sendiri merupakan hal yang secara strategis penting bagi hidup manusia. Strategi berkenaan dengan bagaimana mengelola kekuasaan atau daya kekuatan yang ada. Sehingga tujuan dapat tercapai. Pengetahuan pada dasarnya adalah suatu kekuasaan atau daya. Sudah sejak Francis Bacon (1561-1626) orang disadarkan akan kenyataan bahwa pengetahuan adalah suatu kekuasaan (knowledge is power). Pengetahuan mempunyai daya kekuatan untuk mengubah keadaan. Seperti yang dikatakan Pranarka: “Apabila pengetahuan adalah suatu kekuatan yang telah dan akan terus membentuk kebudayaan, mneggerakkan dan mengubah dunia, sudah semestinyalah apabila kita berusaha memahamii apa itu pengetahuan, apa sifat dan hakikatnya, apa daya dan keterbatasannnya, apa kemungkinan dan permasalahannya.” Pertanyaan-pertanyaan asasi tentang pengetahuan seperti itu dicoba untuk dijawab oleh epistemologi

2. Pertimbangan kebudayaan

Pengetahuan merupakan salah satu unsur kebudayaan. Pengetahuan memegang peran penting. Berkat pengetahuan, manusia dapat mengolah dan mendayagunakan alam lingkungannya. Ia juga dapat mengenali permasalahan yang dihadapi, menganalisis, menafsirkan pengalaman dan peristiwa-peristiwa yang dihadapinya, menilai situasi serta mengambil keputusan untuk berkegiatan.

Dari segi pertimbangan kebudayaan, memperlajari epistemologi diperlukan pertama-pertama untuk mengungkap pandangan epistemologis yang sesungguhnya ada dari kandungan dalam setiap kebudayaan. Setiap kebudayaan, entah implisit atau eksplisit, entah hanya secara lisan atau tulisan, entah secara sistematis ataupun tidak, selalu memuat pandangan penting tentang pengetahuan berikut arti dan pentingnya dalam kehidupan manusia.

3. Pertimbangan pendidikan

Epistemologi perlu dipelajari karena manfaatnya untuk bidang pendidikan. Pendidikan sebagai usaha sadar untuk membantu peserta didik mengembangkan pandangan hidup, serta sikap hidup dan keterampilan hidup, tidak dapat lepas dari penguasaan pengetahuan.

Pengetahuan tentang peta ilmu, sejarah perkembangannya, sifat hakiki, dan cara kerja ilmu yang diandikan dimiliki oleh mereka yang mau mengelola pendidikan merupakan pokok bahasan dalam kajian epistemologi.

Referensi:

  • Sudarminta, J. Cetakan ke-5 2006. Epistemologi Dasar: Pengantar Filsafat Pengetahuan. Penerbit Kanisius: Yogyakarta.

Tata Hubungan antara Metafisika dengan Cabang-Cabang Ilmu Khusus

Posted on

Tata hubungan metafisika dengan ilmu-ilmu khusus adalah keduanya tidak dapat saling mengecualikan dan mengucilkan; melainkan saling melengkapi di dalam pemahaman manusia tentang seluruh kenyataan. Sebenarnya semua ilmu menyelidiki seluruh kenyataan, namun masing-masing menurut aspek formal tersendiri dan dengan memakai metode ilmiah yang sesuai. Oleh karena itu sama sekali tidak usah ada pertentangan dan persaingan antara metafisika dan ilmu-ilmu khusus. Sebab kenyataan itu hanya satu, maka semua taraf ilmiah juga dapat disesuaikan satu sama lain. Mereka saling melengkapi untuk mencapai pemahaman menyeluruh mengenai kenyataan.

Untuk memahami lebih lanjut, agaknya kita mesti meninjau objek material dan objek formal metafisika dalam perbandingannya dengan ilmu-ilmu khusus. Paling tidak ada tiga tinjauan:

  • Ilmu pengetahuan khusus/partikular bergulat dengan sebagian realitas sebagai objek materialnya. Ilmu itu menyelidiki bagian khusus dari yang ada. Sedangkan metafisika tidak mempunyai objek material tertentu, tetapi semuanya, menyangkut semua yang ada.
  • Kekhususan metafisika ialah dalam melihat semuanya secara universal, yakni yang ada pada semua hal. Karena itu metafisika dalam hubungan dengan ilmu-ilmu lain disebut scientia universalis (ilmu universal). Tetapi keliru kalau kita melihat metafisika sebagai koleksi atau penjumlahan ilmu-ilmu lain. Kekeliruan ini terletak pada sikap tidak menerima metafisika sebagai ilmu otonom, yang memiliki objek formal dan materialnya sendiri. Anggapan bahwa metafisika adalah ilmu sebagai penjumlahan ilmu-ilmu khusus yang lain adalah keliru karena tidak cocok dengan objek formalnya.
  • Metafisika meneliti hal-hal yang ada sehubungan dengan sebab-sebab yang terdalam dan universal. Karena itu, metafisika merupakan ilmu pengetahuan yang paling tinggi dalam pengertian kata ilmu. Karena kedudukannya sebagai ilmu pengetahuan yang paling tinggi, metafisika lebih bercorak kebijaksanaan dari pada ilmu. Metafisika mempunyai kedudukan tersendiri dan tidak boleh diperlakukan seperti yang lain, karena setiap ilmu tergantung pada metafisika . pada prinsip-prinsip metafisik yakni prinsip-prinsip realitas itu sendiri.

Referensi:

  • Bagus, Lorens. 1991. Metafisika. Penerbit PT Gramedia Utama: Jakarta
  • Siswanto, Joko. 2004. Metafisika Sistematik. Penerbit Taman Pustaka Kristen: Yogyakarta

Aliran-Aliran Epistemologi

Posted on

1. Skeptisisme

· Skeptisisme adalah aliran yang secara radikal dan fundamental tidak mengakui adanya kepastian dan kebenaran pengetahuan atau sekurang-kurangnya menyangsikan secara fundamental kemampuan pikiran manusia untuk mendapat kepastian dan kebenaran.

· Skeptisisme berasal dari bahasa Yunani, skeptomai: memperhatikan dengan cermat, teliti.

· Skeptisisme adalah aliran atau sistem pemikiran yang mengajarkan sikap ragu sebagai sikap dasar yang fundamental dan universal.

· Tokoh-Tokohnya: Democritus, Protagoras, Phyrro, Montaigne, Charron, Bayle, Nietze, Spengler, Goblot.

2. Relativisme

· Relativisme adalah suatu aliran atau paham yang mengajarkan bahwa kebenaran itu ada, akan tetapi kebenaran itu tidak mempunyai sifat mutlak.

· Istilah relativisme diangkat dari kata relatif, berasal dari kata latin reffere: membawa, mengacu, menghubungkan . dari situ timbullah kata relatio yang artinya relasi: hubungan, ikatan. Relativisme: adanya ikatan, adanya keterbatasa, nisbi.

3. Fenomenalisme

· Phenomenalism: theory that knowledge is limited to phenomena including: (a) physical phenomena or totally of objects of actual and possible perception; and (b) mental phenomena, the totally of objects of introspection. ( Fenomenalisme: teori yang memandang pengetahuan terbatas pada gejala (fenomena) yang mencakup: (a) fenomena fisik atau seluruh object yang nyata dan dapat dipersepsi; dan (b) fenomena mental, yakni seluruh object yang dapat diintrospeksi).

· Tokohnya: Kant, Comte, Spencer).

4. Empirisisme

· Empiricism: (1) a proposition about sources of knowledge: that the sole source of knowledge is experience; or that no knowledge at all or no knowledge with existential reference is possible independently of experience. (2) A proposition about origin of ideas, concepts, or universals: that they or at least those of theme having existential reference are derived solely or primarily from experience or some significant part of experience. (Empirisme: (1) Sebuah dalil tentang sumber pengetahuan: dimana sumber pengetahuan adalah pengalaman; tidak ada pengetahuan yang eksistensial kecuali hal-hal mungkin dialami secara bebas. (2) Sebuah dalil tentang sekitar asal mula ide-ide, konsep-konsep atau hal-hal universal: dimana hal-hal acuan yang eksis adalah sesuatu diperoleh semata-mata atau terutama didapatkan dari pengalaman atau beberapa bagian penting dari pengalaman.

5. Subjektibisme

· Subjectivism: the restriction of knowledge to the knowing subject and its sensory. Affective and volitional states and to such external realities as may be inferred from the mind’s subjection states. (Subjectivism: aliran yang membatasi pengetahuan pada hal-hal (objek) yang dapat diketahui dan dirasa. Kecendrungan dan kedudukan kemauan pada realitas eksternal sebagai sesuatu yang bisa ditinjau dari pemikiran yang subjektif).

Definisi Epistemologi

Posted on

  • Epistemologi ialah cabang filsafat yang menyelidiki asal mula, susunan, metode-metode dan sahnya pengetahuan (Buku Unsur-Unsur Filsafat, Louis Kattsoff).
  • Secara etimologikal, epistemologi merupakan kata gabungan yang diangkat dari dua kata dalam bahasa Yunani: episteme dan logos. Episteme artinya pengetahuan; logos lazim dipakai untuk menunjukkan adanya pengetahuan sistemik. Epistemologi diartikan sebagai kajian sistematik mengenai pengetahuan. (Epstemologi Dasar, AM.W Pranarka, 1987)
  • Webster Third New International Dictionary mengartikan epistemologii sebagai “the study of method and ground of knowledge, especially with reference to its limits and validity. Epistemologi adalah the theory of knowledge. (Epstemologi Dasar, AM.W Pranarka, 1987)
  • Runnes dalam Dictionary of Philosophy, epistemologi: the branch of philosophy which investigates the origin, stucture, methods and validity of knowledge. (Epstemologi Dasar, AM.W Pranarka, 1987)
  • Epistemologi is one the core areas of philosophy. It is concerned with the nature, sources and limits of knowledge. There is a vast array of view about those topics, but one virtually universal presupposition is that knowledge is true belie, but not mere true belief (Concise Routledge Encyclopedia of Philosophy, Taylor and Francis, 2003)

Letak Kebebasan Menurut J.S Mill

Posted on Updated on

Jika demokrasi sudah berjalan, apa yang dapat dilakukan oleh seorang filsuf politik?

Pandangan positif mengatakan bahwa segera setelah kita memiliki prosedur pengambilan keputusan secara demokratik, maka tugas mendasar filsuf politik selesai; semua keputusan sekarang dapat diserahkan pada proses yang fair dari mesin pemilihan.

Sayangnya, demokrasi bukan obat penyembuh segala penyakit, meskipun ia merupakan sistem terbaik yang bisa kita bayangkan: Mill mengatakan ada ‘ancaman tirani mayoritas’. Maka adalah naif mengatakan bahwa demokrasi dapat mencegah terjadinya ketidakadilan: kenyataan bahwa rakyat membuat hukum, tidak akan mencegah terjadinya kemungkinan bahwa mayoritas akan meloloskan hukum yang menindas, atau sebaliknya tidak fair, terhadap minoritas. Jadi, dalam arti tertentu perlu ada perlindungan terhadap minoritas.

Pandangan Mill dalam mengatasi masalah tersebut agak mengejutkan: setelah membela kebaikan dari demokrasi perwakilan, hal lain yang diusulkannya adalah bahwa kita harus sungguh-sungguh membatasi kekuasaan.

Karya Mill On Liberty (terbit lebih dulu daripada On Representative Government) memusatkan perhatian pada pertanyaan mengenai ‘hakikat dan batas kekuasaan yang dapat dijalankan secara absah oleh masyarakat terhadap individu’ (On Liberty, 126): Mill berargumen bahwa kita harus memberikan kekuasaan yang cukup pada para individu. Ada batas campurtangan negara, dan juga ada batas penggunaan pendapat publik sebagai cara membentuk kepercayaan atau perilaku.

Seberapa banyak kekuasaan yang harus dimiliki negara?

Anarkis: negara tidak memiliki kekuasaan yang dapat dibenarkan sama sekali. Jadi tidak ada batas bagi kebebasan individu, setidaknya, tidak ada batas yang mungkin dapat dipaksakan oleh negara.

Pembela negara absolut (Hobbes): negara tidak punya kewajiban untuk memperhatikan sama sekali kebebasan warganegaranya. Negara dapat memaksakan pembatasan atau aturan apapun yang mungkin diinginkannya.

Mill mengambil spektrum yang berbeda: bukan anarkis dan bukan absolutis. Mengapa sebagai penganjur kebebasan, Mill menolak anarkisme, yang oleh banyak orang dirasakan sebagai perwujudkan tertinggi dari kebebasan individu?

Mill berpandangan bahwa jika orang diberi kebebasan sempurna, maka ia tentu akan menyalahgunakan kebebasan itu, dengan memanfaatkan ketiadaan pemerintah untuk mengeksploitasi orang lain. Menurut Mill: “All that make existence valuable to anyone depends on the enforcement of restraints upon the actions of other people” (On Liberty, 130).

Anarki berarti kehidupan tanpa hukum, dan menurut Mill dalam keadaan spt itu hidup akan menjadi sesuatu yang tidak berharga untuk dialami. Mill mengambil pandangan sederhana bahwa tirani tidak lagi dapat dianggap sebagai pilihan yang serius, dan karena itu ia mulai menentukan campuran yang tepat antara kebebasan dan kekuasaan (otoritas).

Apakah dasar intervensi negara dengan melarang orang bertindak sesuai keinginannya atau memaksa orang bertindak yang bertentangan dengan keinginannya? Masyarakat yang berbeda, menurut Mill, menjawab masalah ini dengan cara yang berbeda:
– Sebagian melarang praktek agama tertentu atau bahkan menindas agama sama sekali.
– Sebagian memaksakan sensor pada pers atau media massa yang lain.
– Banyak masyarakat juga melarang praktek seksual tertentu (homoseksualitas, prostitusi dsb)

Apakah negara berhak mencampuri kehidupan dan kebebasan orang dengan hal-hal semacam itu?

Mill mencoba mencari prinsip atau kumpulan prinsip, yang akan memungkinkan kita memutuskan masing-masing kasus berdasarkan manfaat sebenarnya, daripada hanya membiarkan masalah ini diselesaikan berdasarkan moralitas populer dan kebiasaan yang sewenang-wenang (dua musuh terbesar Mill).

Prinsip Kebebasan Mill: “Harm Principle”, menyatakan bahwa “you may justifiably limit a person’s freedom of action only if they threaten harm to another”. Harm Principle: membatasi kebebasan atas tindakan orang lain diperbolehkan hanya jika tindakan orang itu membahayakan (mengancam kebebasan) orang lain.

Bagi banyak orang modern, prinsip ini mungkin sudah dianggap sebagai sesuatu yang sangat jelas, tetapi sepanjang sejarah prinsip ini sering dikaburkan:

Selama berabad-abad, orang telah disiksa karena menyembang Tuhan yang salah, atau karena tidak menyembah Tuhan sama sekali; bahaya apa yang telah dilakukan oleh orang-orang ini pada orang lain, kecuali mungkin membahayakan keabadian jiwa-nya sendiri?

Dewasa ini pandangan Mill juga tidak dengan sendirinya jelas bagi kita: Misalnya, jika teman kita menjadi pecandu obat-obat terlarang, apakah kita akan mengintervensi tindakan teman itu dengan paksa untuk menghentikannya hanya jika kemungkinannya ia membahayakan orang lain? Contoh ini membuka awal masalah yang serius mengenai interpretasi dan kemasuk-akalan mengenai prinsip Mill.

Mungkin tidak ada masyarakat, di masa lalu maupun masa sekarang, yang benar-benar hidup berdasarkan prinsip yang ingin dipahami Mill. Seperti yang akan kita lihat, Mill sendiri menghindarkan diri dari sejumlah konsekuensinya yang sangat tidak konvensional.

Menurut Mill, prinsip kebebasannya berlaku untuk “semua anggota masyarakat yang beradab”. Jadi apakah Mill berniat mempercayai pembatasan untuk kebebasan masyarakat yang tidak beradab? Kenyataannya, Mill menerima hal ini. Ia secara eksplisit menyatakan bahwa prinsip kebebasannya hanya dapat berlaku pada masyarakat yang ‘yang mengalami kematangan dalam kemampuan bernalarnya’ (On Liberty 135).

Anak-anak dan kaum barbar tidak dimasukkan, karena “kebebasan, sebagai prinsip, tidak dapat diterapkan pada keadaan lebih dahulu di waktu ketika kemanusian memiliki kemampuan meningkatkan dirinya melalui diskusi yang bebas dan setara (On Liberty, 136).

Jadi, menurut Mill, kebebasan hanya bernilai di bawah persyaratan tertentu. Jika persyaratan ini tidak berlaku, maka kebebasan bisa sangat membahayakan. Anak-anak seharusnya tidak memiliki kebebasan untuk memutuskan apakah mereka belajar membaca atau tidak, dan Mill sepakat dengan pandangan di jaman Victoria bahwa masyarakat tertentu adalah ‘terbelakang’, dan karena itu seharusnya juga diperlakukan seperti anak-anak. Yang penting di sini bukan apakah pandangan Mill mengenai orang barbar tepat atau tidak, tetapi kondisi yang diletakkannya bagi penerapan prinsip kebebasan.

Kebebasan bernilai sebagai sarana memperbaiki kehidupan manusia—memperbaiki kemajuan moral. Dalam keadaan tertentu kebebasan akan memiliki pengaruh yang sama sekali berbeda [dengan yang diinginkan], sehingga kemajuan harus dicapai dengan sarana yang lain. Namun Mill sangat yakin bahwa jika masyarakat telah mengalami kematangan—jika kita telah mencapai kemajuan ke arah tingkat yang lebih beradab—campurtangan (keterlibatan) negara pada tindakan individu harus diatur oleh prinsip kebebasan.

Tulisan ini dikutip dari Hand Out Mata Kuliah Filsafat Politik di Fakultas Filsafat UGM, yang diampu oleh Dosen Agus Wahyudi M.A

Seri Kuliah Filsafat Nilai

Posted on Updated on

Artikel Berikut ini adalah Materi Kuliah Filsafat Nilai di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, yang diampu oleh Ibu Septiana Dwiputri M., S.S., M.Hum.

Buku – Buku Filsafat dari Harvard

Posted on Updated on

Jewish Philosophy as a Guide to Life: Rosenzweig, Buber, Levinas, Wittgenstein

by:Putnam, Hilary

2008/06
ISBN:0253351332 / 9780253351333
Format:
Hardcover

Order

$19.95 Special Order
…More


ISBN:0674018516 / 9780674018518
Format:Trade Paper
See Other Formats

Order
$17.50 In Stock

In this brief book one of the most distinguished living American philosophers takes up the question of whether ethical judgments can properly be considered objective–a question that has vexed philosophers over the past century. Looking at the efforts
…More


Fact, Fiction, and Forecast
by:Goodman, Nelson

Format:Trade Paper

2005/06
ISBN:0674290712 / 9780674290716
See Other Formats

Order
$18.50 In Stock

The controversy surrounding these unsolved problems is as relevant to the psychology of cognitive development as it is to the philosophy of science. No serious student of either discipline can afford to misunderstand Goodman’s classic argument.
…More


Reason, Truth and History
by:Putnam, Hilary

2004/09
ISBN:0521297761 / 9780521297769

Format:Trade Paper

See Other Formats

Print on Demand
Order

$37.99 Special Order

‘This is a timely book, with penetrating discussion of issues very much in the forefront of the contemporary philosophy. Despite the prominence of negative arguments it contains much to contribute positively to our understanding of what is needed for a con
…More


by:Putnam, Hilary

2004/03
ISBN:0674013107 / 9780674013100
Format:Hardcover
See Other Formats

Order

$32.50 Special Order

In this brief book one of the most distinguished living American philosophers takes up the question of whether ethical judgments can properly be considered objective–a question that has vexed philosophers over the past century. Looking at the efforts
…More


2004/03
ISBN:0674013808 / 9780674013803
Format:Trade Paper
See Other Formats

Order

$19.50 In Stock

If philosophy has any business in the world, it is the clarification of our thinking and the clearing away of ideas that cloud the mind. In this book, one of the world’s preeminent philosophers takes issue with an idea that has found an all-too-promine
…More


ISBN:0521295505 / 9780521295505
Format:Trade Paper
See Other Formats Print on Demand

Order

$52.00 In Stock

This book deals with the philosophy of mathematics and of science and the nature of philosophical and scientific enquiry, and with the philosophy of language and mind.
…More


The Threefold Cord: Mind, Body, and World
by:Putnam, Hilary
2001/03
ISBN:0231102879 / 9780231102872

Format:Trade Paper
See Other Formats

Order

$24.50 In Stock

“One of the most exciting of contemporary philosophers” (Times Literary Supplement) illuminates and reconfigures a perennially intriguing problem: the relationship between our perceptions and reality. Putnam first examines the problem of realism: Is object

…More


ISBN:0674760948 / 9780674760943
Format:Trade Paper
See Other Formats

Order

$24.00 In Stock

Hilary Putnam, one of America’s most distinguished philosophers, surveys an astonishingly wide range of issues and proposes a new, clear-cut approach to philosophical questions–a renewal of philosophy. He contests the view that only science offers an appr
…More


Words and Life
by:Putnam, Hilary

1995/08
ISBN:0674956079 / 9780674956070

Format:Trade Paper

See Other Formats
Order

$35.00 Special Order

Hilary Putnam has been convinced for some time that the present situation in philosophy calls for revitalization and renewal; in this latest book he shows us what shape he would like that renewal to take. Words and Life offers a sweeping account of the sou
…More

Pragmatism
by:Putnam, Hilary
1995/01
ISBN:063119343X / 9780631193432
Format:Trade Paper

See Other Formats Print on Demand
Order

$36.95 Special Order

In this book, the author turns to pragmatism, and confronts the teachings of James, Pierce, Dewey, and Wittgenstein, not solely out of interest in theoretical questions, but above all to respond to the question whether it is possible to find an alternative
…More


Realism with a Human Face
by:Putnam, Hilary
1992/03
ISBN:0674749456 / 9780674749450
Format:Trade Paper

See Other Formats
Order

$27.50 Special Order

The time has come to reform philosophy, says Hilary Putnam, one of America’s great philosophers. He calls upon philosophers to attend to the gap between the present condition of their subject and the human aspirations that philosophy should and once di
…More


by:Putnam, Hilary
1988/12
ISBN:0812690435 / 9780812690439
Format:Trade Paper
Print on Demand

Order

$26.95 Special Order

“The first two lectures place the alternative I defend — a kind of pragmatic realism — in a historical and metaphysical context. Part of that context is provided by Husserl’s remark that the history of modern philosophy begins with Galileo — that is, mo
…More


1985/12
ISBN:0521313945 / 9780521313940
Format:Trade Paper
See Other Formats Print on Demand

Order

$58.00 Special Order

Volume Three is the completion of philosophical papers by one of America’s most distinguished philosophers. His works mark his highly significant and original contribution in a number of related fields and they have been praised for “their sophistication,
…More


ISBN:052129648X / 9780521296489
Format:Trade Paper
See Other Formats Print on Demand

Order

$58.00 Special Order

In a similar vein, we tried also to narrow the range of philosophical issues discussed in the selection ones that could most easily be recognized as concerning the philosophy of mathematics. Both of these admittedly loose principles served as guidelines on
…More


Philosophical Papers: Volume 2, Mind, Language and Reality
by:Putnam, Hilary

1979/04
ISBN:0521295513 / 9780521295512
Format:Trade Paper

See Other Formats Print on Demand
Order

$60.00 In Stock

Professor Hilary Putnam??’s most important published work is collected here in two volumes.
…More

Mau Pesan? Silahkan klik di sini: http://www.booksite.com

TEORI EVOLUSI CHARLES DARWIN

Posted on Updated on

Oleh: Drs. Bambang Agus Suripto, SU., M.Sc. (Dosen Fakultas Biologi UGM)

“In 1831 the Englishman set forth on his famous vayage in the Beagle. After 28 years he published Origin of Species, which revolutionized man’s view of nature and his place in it” (Loren C. Elseley, February 1956)

Pendahuluan

Sejak dahulu kala manusia selalu mempertanyakan asal-usul kehidupan dan dirinya. Jawaban sementara atas pertanyaan tersebut ada tiga altenatif, yaitu penciptaan, transformasi, atau evolusi biologi.

Definisi evolusi biologi bermacam-macam tergantung dari aspek biologi yang dikaji. Beberapa definisi yang umum dijumpai di buku-buku biologi, antara lain: evolusi pada makhluk hidup adalah perubahan-perubahan yang dialami makhluk hidup secara perlahan-lahan dalam kurun waktu yang lama dan diturunkan, sehingga lama kelamaan dapat terbentuk species baru: evolusi adalah perubahan frekuensi gen pada populasi dari masa ke masa; dan evolusi adalah perubahan karakter adaptif pada populasi dari masa ke masa. Evolusi telah mempersatukan semua cabang ilmu biologi.

Idea tentang terjadinya evolusi biologis sudah lama menjadi pemikiran manusia. Namun, di antara berbagai teori evolusi yang pernah diusulkan, nampaknya teori evolusi oleh Darwin yang paling dapat teori . Darwin (1858) mengajukan 2 teori pokok yaitu spesies yang hidup sekarang berasal dari spesies yang hidup sebelumnya, dan evolusi terjadi melalui seleksi alam. Perkembangan tentang teori evolusi sangat menarik untuk diikuti. Darwin berpendapat bahwa berdasarkan pola evolusi bersifat gradual, berdasarkan arah adaptasinya bersifat divergen dan berdasarkan hasilnya sendiri selalu dimulai terbentuknya varian baru.

Dalam perkembangannya teori evolusi Darwin mendapat tantangan (terutama dari golongan agama, dan yang menganut paham teori penciptaan – Universal Creation), dukungan dan pengkayaan-pengkayaan. Jadi, teori sendiri juga berevolusi sehingga teori evolusi biologis yang sekarang kita kenal dengan label “Neo Darwinian” dan “Modern Sintesis”, bukanlah murni seperti yang diusulkan oleh Darwin. Berbagai istilah di bawah ini merupakan hasil pengkayaan yang mencerminkan pergulatan pemikiran dan argumentasi ilmiah seputar teori evolusi: berdasarkan kecepatan evolusi (evolusi quasi dan evolusi quantum); berdasarkan polanya (evolusi gradual, evolusi punctual, dan evolusi saltasi) dan berdasarkan skala produknya (evolusi makro dan evolusi mikro).

Topic yang akan dibahas dibawah ini meliputi perkembagan teori evolusi Darwin dan implikasi dari teori evolusi biologi Darwin terhadap cara pandang kita tentang keberadaan makhluk dan alam semesta.

Perkembangan Teori Evolusi Darwin

1. Sejarah Singkat Charles Darwin (1809 – 1882)

  • 1831-1836: Perjalanan laut dengan kapal Beagle.
  • 1844: Draft buku “Origin of Species by Means of Natural Selection” telah selesai.
  • 1858: Afred Russel Wallace mengirim manuscript kepada J. Hooker anggota Royal Society, berisi tentang perluasan ide dari Malthus. Makalah bersama oleh Darwin dan Wallace di forum Society.
  • 1859: Publikasi buku “ On The Origin of Species by Means of Natural Selection”
  • 1860: Perdebatan antara Huxley dan Wilbeforce tanpa kehadiran Darwin
  • Darwin menghabiskan sisa masa hidupnya untuk penelitian dan publikasi buku “Descen of Man” (1871) dan “The Expression of Emotion in Man and Animals” (1871).

Buku “Origin of Species by Means of Natural Selection” yang diterbitkan tahun 1959 ini, menurut indeks sitasi merupakan buku yang paling banyak diacu oleh penulis lain (selain kitab suci) selama ini.

2. Perkembangan Teori Evolusi

Banyak hal dan pemikiran ahli lain yang mempengaruhi perkembangan teori Darwin, antara lain:

  • Ekspedisi ke lautan Galapagos ditemukan bahwa perbedaan bentuk paruh burung Finch disebabkan perbedaan jenis makanannya.
  • Geolog Charles Lyell (1830) menyatakan bahwa batu-batuan di bumi selalu mengalami perubahan. Menurut Darwin, hal-hal tersebut kemungkinan mempengaruhi makhluk hidupnya. Pikiran ini juga didasarkan pada penyelidikannya pada fosil.
  • Pendapat ekonom Malthus yang menyatakan adanya kecendrungan kenaikan jumlah penduduk lebih cepat dari kenaikan produksi pangan. Hal ini menimbulkan terjadinya suatu persaingan untuk kelangsungan hidup. Oleh Darwin hal ini dibandingkan dengan seleksi yang dilakukan oleh para peternak untuk memperoleh bibit unggul.
  • Pendapat beberapa ahli seperti Geoffroy (1829), WC Wells (1813), Grant (1826), Freke (1851), dan Rafinisque (1836).

Tahun 1858 Darwin mempublikasikan The Origin yang memuat 2 teori utama yaitu:

1. Spesies yang hidup sekarang berasal dari spesies lain yang hidup di masa lampau.

2. Evolusi terjadi melalui seleksi alam.

Menurut Darwin, agen tunggal penyebab terjadinya evolusi adalah seleksi alam. Seleksi alam adalah “process of preserving in nature favorable variations and ultimately eliminating those that are ‘injurious’”.

Secara umum, tanggapan ahli lain terhadap teori Darwin adalah:

a. Mendapat tantangan terutama dari golongan agama, dan yang menganut paham teori penciptaan (Universal Creation).

b. Mendapat pembelaan dari penganut Darwin antara lain , Yoseph Hooker dan Thomas Henry Huxley (1825-1895).

c. Mendapat kritik dan pengkayaan dari banyak ahli antara lain Morgan (1915), Fisher (1930), Dobzhansky (1937), Goldschmidt (1940) dan Mayr (1942).

Dengan berbagai perkembangan dalam perkembangan dalam ilmu biologi, khususnya genetika maka kemudian Teori Evolusi Darwin diperkaya. Seleksi alam tidak lagi menjadi satu-satunya agen penyebab terjadinya evolusi, melainkan ada tambahan faktor-faktor penyebab lain yaitu: mutasi, aliran gen, dan genetic drift. Oleh karenanya teori evolusi yang sekarang kita seirng disebut Neo-Darwinian atau Modern Systhesis.

Secara singkat, proses evolusi oleh seleksi alam (Neo Darwinian) terjadi karena adanya:

a. Perubahan frekuensi gen dari satu generasi ke generasi berikutnya.

b. Perubahan dan genotype yang terakumulasi seiring berjalannya waktu.

c. Produksi varian baru melalui pada materi genetic yang diturunkan (DNA/RNA).

d. Kompetisi antar individu karena keberadaan besaran individu melebihi sumber daya lingkungan tidak cukup untuk menyokongnya.

e. Generasi berikut mewarisi “kombinasi gen yang sukses” dari individu fertile (dan beruntung) yang masih dapat bertahan hidup dari kompetisi.

Implikasi Teori Evolusi Darwin

1. Asal Usul Spesies

Teori utama Darwin bahwa spesies yang hidup sekarang berasal dari spesies lain yang hidup di masa lampau dan bila diurut lebih lanjut semua spesies makhluk hidup diturunkan dari nenek moyang umum yang sama. Seperti yang juga diperkirakan oleh Darwin. Teorinya akan ditentang banyak pihak. Para penentang teori ini dikategorikan dalam tiga kelompok utama:

a. Kelompok yang berpendapat bahwa teori Darwin tersebut tidak cukup “ilmiah”.

b. Kelompok “Creationist” yang berpendapat bahwa masing-masing spesies diciptakan khusus oleh yang Maha Kuasa untuk tujuan tertentu.

c. Kelompok penganut filsafat “idealist” yang berpendapat bahwa spesies tidak berubah. Variasi yang ada merupakan tiruan tidak sempurna dari pola umum “archetypes”. Goethe mengabstaksikan satu archetype atau Urbild untuk semua tanaman (Urplanze) dan beberapa Bauplane untuk hewan.

Untuk para penentangnya dari dua kelompok pertama di atas Darwin cukup menandaskan bahwa keajaiban-keajaiban atau intervensi dari kekauatan supranatural dalam pembentukan spesies adalah tidak ilmiah. Dalam menanggapi kelompok Idealist (seperti Owen dan Lois Agassiz) Darwin mampu menangkis dengan baik. Pada Origin edisi pertama, Darwin (1959) di halaman 435, menyimpulkan bahwa penjelasan Owen pada masalah archetype adalah “interesting” dan “unity of type”nya merupakan “hukum” biologi yang penting. Kemudian setelah Owen lebih keras lagi menentang teorinya. Darwin pada edisi berikutnya menambahkan “…tetapi itu bukan penjelasan ilmiah”. Menurut Darwin penjelasan tentang “homologi” dan “unity of types” terkait dengan nenek moyang adalah ilmiah, sementara penjelasan terkait dengan archetype tidak ilmiah. Oleh karena Darwin memandang masalah ini sebagai proses, sementara konsep archetype adalam timeless. Secara umum Darwin adalam penganut paham Materialisme.

2. Seleksi Alam

Darwin mengemukakan bahwa seleksi alam merupakan agen utama penyebab terjadinya evolusi. Darwin (dan Wallace) menyimpulkan seleksi dari prinsip yang dikemukakan oleh Malthus bahwa setiap populasi cendrung bertambah jumlahnya seperti deret ukur, dan sebagai akibatnya cepat atau lambat akan terjadi perbenturan antar anggota dalam pemanfaatan sumber daya khususnya bila ketersediaannya terbatas. Hanya sebagian, seringkali merupakan bagian kecil, dari keturunannya bertahan hidup: sementara besar lainnya tereliminasi.

Dengan berkembangnya ilmu genetika, teori itu diperkaya sehingga muncul Neo Darwinian. Menurut Lemer (1958), definisi seleksi alam adalah segala proses yang menyebabkan pembedaan non random dalam reproduksi terhadap genotype; atau allele gen dan kompleks gen dari generasi ke generasi berikutnya.

Anggota populasi yang membawa genotype yang lebih adaptif (superior) berpeluang lebih besar untuk bertahan daripada keturunan yang inferior. Jumlah individu keturunan yang superior akan bertambah sementara jumlah individu inferior akan berkurang dari satu generasi ke generasi lainnya. Seleksi alampun juga masih bekerja, sekalipun jika semua keturunan dapat bertahan hidup dalam beberapa generasi. Contohnya adalah pada jenis fauna yang memiliki beberapa generasi dalam satu tahun. Jika makanan dan sumberdaya yang lain tidak terbatas selama suatu musim, populasi akan bertambah seperti deret ukur dengan tidak ada kematian di antara keturunannya. Hal itu tidak berarti seleksi tidak terjadi, karena anggota populasi dengan genotype yang berbeda memproduksi keturunan dalam jumlah yang berbeda atau berkembang mencapai matang seksual pada kecepatan yang berbeda. Musim yang lain kemungkinan mengurangi jumlah individu secara drastic tanpa pilih-pilih. Jadi pertumbuhan eksponensial dan seleksi kemungkinan akan dilanjutkan lagi pada tahun berikutnya. Pebedaan fekunditas, sesungguhnya juga merupakan agent penyeleksi yang kuat karena menentukan perbedaan jumlah individu yang dapat bertahan hidup atau dan jumlah individu yang akan mati, yang ditunjukkan dalam angka kematian (Dobzhansky, 1970).

Darwin telah menerim, namun dengan sedikit keraguan, slogan Herbert Spencer “survival of the fittest in the struggle for life” sebagai altenatif untuk menerangkan proses seleksi alam, namun saat ini slogan itu nampaknya dipandang tidak sepenuhnya tepat. Tidak hanya individu atau jenis yang terkuat tetapi mereka yang lumayan pas dengan lingkungan dapat bertahan hidup dan bereproduksi. Dalam kondisi seleksi yang lunak atau halus semua individu atau jenis pembawa genotype yang bermacam-macam dapat bertahan hidup ketika populasi berkurang. Individu yang fit (individu yang sesuai dengan lingkungan dapat bertoleransi dengan lingkungan) tidak harus mereka yang paling kuat, paling agresif atau paling bertenaga, melainkan mereka yang mampu bereproduksi menghasilkan keturunan dengan jumlah terbanyak yang viable dan fertile.

Seleksi alam tidak menyebabkan timbulnya material baru (bahan genetic yang baru yang di masa mendatang akan datang diseleksi lagi),melainkan justru menyebabkan hilangnya suatu varian genetic atau berkurang frekuensi gen tertentu. Seleksi alam bekerja efektif hanya bila populasi berisi dua atau lebih genotype, yang mana dari varian itu ada yang akan tetap bertahan atau ada yang tereliminasi pada kecepatan yang berbeda-beda. Pada seleksi buatan, breeder akan memilih varian genetic (individu dengan genotype) tertentu untuk dijadikan induk untuk generasi yang akan datang. permasalahan yang timbul adalah dari mana sumber materi dasar atau bahan mentah genetic penyebab keanekaragaman genetic pada varian-varian yang akan obyek seleksi oleh alam. Permasalahan itu terpecahkan setelah T.H Morgan dan kawan-kawan meneliti mutasi pada lalat buah Drosophilia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses mutasi menyuplai bahan mentah genetic yang menyebabkan terjadinya keanekaragaman genetic dimana nantinya seleksi alam bekerja (Dobzhansky, 1970).

Implikasi dari teori evolusi melalui ala mini sangat luas, tidak hanya mencakup bidang filsafat namun juga social-ekonomi dan budaya:

  • Penggantian cara pandang bahwa dunia tidak statis melainkan berevolusi.
  • Paham creationisme berkurang pengaruhn ya.
  • Penolakan terhadap teleology kosmis.
  • Penjelasan “desain” di dunia oleh proses materialistic seleksi alam, proses yang mencakup interaksi antara variasi yang tidak beraturan dan reproduksi yang sukses bersifat oportunistik yang sepenuhnya jauh dari dogma agama.
  • Penggatian pola pikir Essensialisme oleh pola pikir populasi.
  • Memberikan inspirasi yang disalahgunakan untuk tujuan yang tidak baik seperti gerakan Nazi di Jerman, Musolini di Italia, kebijakan “eugenic” di Singapura di masa Lee Kuan Yu dan berkembangnya ekonomi liberal yang dikemas dengan label Social-Darwinian.

Islam Dan Teori Darwin

Secara ilmiah teori evolusi Darwin utama belum dapat dikatakan runtuh, karena sebelum ditemukan bukti-bukti empiris yang bertentangan dengan kesimpulan teori tersebut, maka pernyataan dalam teori itu masih dianggap benar. Akan tetapi sampai saat ini banyak kalangan masih meragukan kebenaran teori itu terutama dari kalangan agama.

Saat ini Indonesia kebanjiran buku-buku Islam yang diproduksi Dr. Harun Yahya yang “menyerang” teori Darwin. Dari segi teologis ada kekuatiran bahwa teori Darwin akan mengusir Tuhan dari kehidupan, namun Haidar Bagir, pakar filsafat Islam, tidak sepenuhnya sependapat dengan Harun Yahya. Bagir (2003) menanggapinya dengan mengatakan “Sikap kita terhadap keyakinan Darwinian mengenai sifat kebetulan dan materialistic asal-usul kehidupan yang terkandung dalam teori itu sudah jelas. Kita menolaknya. Tidak demikian halnya dengan kesimpulan utama teori ini mengenai sifat-sifat evolusioner kehidupan. Karena betapapun demikian, tetap saja Tuhan bisa dipercayai sebagai Dzat di balik semua gerakan evolusi itu…”. Tentang prinsip survival of the littest, Bagir justru membenarkannya dan kita harus mengambil hikmahnya, karena hal itu sesuai dengan kenyataan sehari-hari dan didukung oleh tidak bertentangan dengan kandungan Alqur’an. Dingin dari dari dua sisi yaitu aspek teologis dan sisi etis.

Daftar Pustaka

  • Bagir, Haidar. 2003. Islam dan Teori Evolusi (Butir-butir tanggapan terhadap Harun Yahya). Harian Republika 14 Maret 2003. Jakarta.
  • Bowler, P. J. 1989. Evolution: The History of an Idea. University of California Press. Los Angeles.
  • Darwin, Charles. 1859. The Origin of Species by Means of Natural Selection or The Preversation of Favoured Race in The Struggle for Life. Penguin Books. London.
  • Dawkins, R. 1976. The Selfish Gene. Oxford University Press. Oxford.
  • Dobzhansky, T. 1970. Genetics of The Evolutionary Process. Columbia University Press. New York.
  • Dodson, E. O. and G. F. Howe. 1990. Creation or Evolution: Correspondence on The Current Controversy. University of Ottawa Press. Otttawa.
  • Eiseley, L. C. 1956. Charles Darwin: Reading from Scientific American; Scientific Genius and Creativity.
  • Ereshefsky, M. 1992. The Unit of Evolution: Essays on The Nature og Species. A Bradford Book The MIT Press. Cambridge.
  • Greene, J. C. 1977. Science, Ideology, and World View. University of California Press. Los Angeles.
  • Hull, D. L. 1988. Science as A Process: An Evolutionary Account of The Social and Conceptual Development of Science. The University of Chicago Press. Chicago.
  • Kaye, H. L. 1983. The Social Meaning of Modern Biology. Yale University Press. London.
  • Mayr, E. 1982. The Growth of Biological Thought: Diversity, Evolution, and Inheritance. The Belknap Press of Harvard University Press. Cambridge.
  • Pettman, R. 1981. Biopolitics and International Values: Investigating Liberal Norms. Pergamon Press. Oxford.
  • Sober, E. 1993. Phylosophy of Biology. Westview Press. San Fransisco.
  • Yahya, H. 1987. Keruntuhan Teori Evolusi. Penerbit Dzikra. Bandung.


Mohon klik iklan ini… makasi ya…

Penghambat Kepada Pemikiran yang Jelas

Posted on Updated on

Sebagaimana cacat lisan dapat menghalang seseorang untuk bicara dengan jelas, ada hambatan-hambatan pikiran yang tidak memungkinkan seseorang untuk berpikir secara jelas. Emosi, kepentingan pribadi, desakan-desakan dari luar dapat pikiran kita. Hambatan-hambatan terhadap pemikiran yang jernih sebagaimana tersebut di atas mungkin menyebabkan sains dan filsafat kita berpijak di atas dasar yang salah, dan semua itu dapat mempengaruhi dan mengubah kumpulan pendapat-pendapat paham orang awam kita.

  • Arca-arca Akal (Idols of the Mind)

Francis Bacon (1561-1626) telah member kita pernyataan yang klasik tentang kesalahan-kesalahan berpikir dalam “Idols of the Mind”:

Pertama, idols of the trible. Kita condong menerima bukti-bukti dan kejadian-kejadian yang menguntungkan pihak atau kelompok kita (suku atau bangsa).

Kedua, arca-arca gua (idols of the cave). Kita cendrung memandang diri kita sebagai pusat dunia dan menekankan pendapat kita yang terbatas.

Ketiga, arca-arca pasar (idols of the market) yang menjadikan kita terpengaruh oleh kata-kata atau nama-nama yang kita kenal dalam percakapan kita sehari-hari. Kita disesatkan oleh kata-kata yang diucapkan secara emosional. Sebagai contoh, dalam masyarakat (Amerika) kata-kata komunis dan radikal.

Dan akhirnya arca panggung (idols of the theatre) yang timbul karena sikap kita yang berpegang kepada partai, kepercayaan atau keyakinan. Tingkah laku, cara-cara dan aliran-aliran pikiran adalah seperti panggung, dalam arti bahwa mereka membawa kita kepada dunia khayal. Akhirnya arca panggung membawa kita kepada kesimpulan yang salah dasar. Hambatan-hambatan kepada pemikiran yang jernih dapat disajikan dengan istilah-istilah yang lain, yakni tidak dengan istilah klasik tersebut. Kita dapat memakai kata-kata purbasangka (prejudice) kerawanan terhadap propaganda (susceptibility to propaganda) dan sumonngo-dawuhisme, abs-isme, patuh mutlak tanpa reserve keapda seseorang atau suatu badan atau otoriterianisme (authoritarianism).

  • Purbasangka

Purbasangka selalu menganggu pemikiran yang jernih. Akal manusia biasanya meras sukar untuk menunda pertimbangan (judgment) sampai semua bukti sudah tersedia. Walaupun bukti-bukti sudah terkumpul, purbasangka mempersukar menarik kesimpulan yang tepat. Purbasangka adalah suatu pertimbangan yang terburu-buru, suatu dasar pemikiran yang salah yang mendorong kita menganggap sepi atau memperkecil bukti atau menilai bagian-bagian lain dari bukti tersebut secara berlebihan. Purbasangka biasanya timbul atas dasar emosional dan cenrung untuk sejalan dengan kenikmatan, kebanggaan dan kepentingan kita. Jika kita dihadapkan dengan purbasangka kita, kita selalu mengambil sikap membenarkannya, yakni kita mecari sebab atau argumentasi untuk percaya apa yang kita ingin percayai.

  • Propaganda

Hambatan lain untuk pikiran jernih fakta bahwa kita sangat mudah terpengaruh oleh proganda. Wlaupun kita ingin menghadapi fakta dan berpikir secara jelas, pikiran kita dapat tersesat karena informasi kita telah diwarnai dan dimanipulasi oleh sumber-sumbernya. Propagandis dari keompok-kelompok berkepentingan memakai radio, televise, surat kabar dan gambar hidup untuk mengontrol jalan pikiran kit. Mula-mula propagandis atau juru penerang berusaha untuk membangkitkan dalam diri kita suatu emosi atau keinginan dan kemudian, dengan melalui sugesti, menyajikan kemungkinan-kemungkinan bertindak yang Nampak sebagai jalan yang memuaskan untuk mengekspresikan emosi atau keinginan tersebut. Akan tetapi sesungguhnya tak ada hubungan antara emosi yang dibangkitkan seperti rasa cinta kepad istria dan tindakan yang diusulkan seperti membeli benda-benda, dari bunga sampai piano.

  • Otoriterianisme

Mengikuti kekuasaan secara buta atau tanpa kritik adalah suatu cara untuk memperoleh pengetahuan tetapi sifatnya tidak filosofis atau tidak ilmiah. Hal ini benar, apakah kekuasaan itu ada atau tradisi, keluarga atau gereja,Negara atau alat-alat media massa. Tunduk kepada kekuasaan secara tidak kritis dinamakan otoriterianisme.

Otoriterianisme berbeda dari sekedar tunduk kepada suatu kekuasaan dalam sesuatu hal. Otoriterianisme berarti keyakinan bahwa pengetahuan itu dijamin atau disahkan oleh otoritas. Jika seseorang menerima otoritas secara tidak kritis, ia menghentikan usaha-usahanya yang bebas untuk mencari yang benar atau yang salah. Tanpa memandang bentuknya, kesaksian yang diterima karena kepercayaan yang membabi-buta tanpa memperhatikan apakah kesaksian itu sesuia dengan pengalaman atau akal adalah berbahaya.

Kelemahan dan bahaya otoriterianisme itu banyak. Sebagai suatu sikap yang menonjol, sikap yang tidak menggunakan sarana untuk mengetahui betul tidaknya sesuatu kecuali karena ia datang dari yang berkuasa, otoriterianisme condong untuk menghambat  kemajuan dan mengesampingkan pemikiran dan penyelidikan yang lebih jauh.

Kita hidup dalam zaman di mana masyarakat itu berubah dengan cepat dan oleh karena itu kepercayaan dan praktek-praktek pada suatu waktu tidak sesuai dengan waktu berikutnya. Kedua, jika para penguasa berselisih atau konfli, dan hal ini biasa terjadi, kita jadi binggung kecuali jika kita mempunyai sumber lain untuk pegangan. Ketiga, kita dapat tersesat oleh karena prestise penguasa kita, dan kita tak memahami hal ini jikasi penguasa itu bicara mengenai bidang-bidnag pengetahuannya. Seseorang yang sangat mahir dalam suatu bidang akan dipercaya jika ia berbicara tentang hal-hal yang tidak ia mempunyai keahlian mengenainya. Keempat, kita mungkin tersesat jika suatu keyakinan telah lama dan meluas. Sikap menerima yang telah meluas itu akan menambah prestise dan daya tariknya serta mempersulit kita untuk membuka kesalahan-kesalahan lama. Ada baiknya untuk menginggat bahwa banyak dari kepercayaan-kepercayaan itu salah, bahkan sesungguhnya telah banyak yang sudah dibuktikan kesalahannya.

Sebagai contoh otoriterianisme klasik kita sebutkan pemikir-pemikir filsafat skolastik pada abad pertengahan yang tidak berani menyimpang dari ajaran gereja dan tulisan-tulisan Aristoteles. Contoh lain, tetapi modern juga ada. Barangkali garis partai komunis dapat kita rasakan langsung.

Banyak orang yang percaya kepada otoritas oleh karena mereka tidak percaya kepada diri sendiri atau secara intelektual bersifat malas. Untuk menerima kata-kata orang lain merupakan jalan yang mudah untuk mendapat kenikmatan dan jaminan. Pada umumnya orang itu bersifat peniru, suka percaya dan mudah diberi sugesti. Mendengar, membaca, sama dengan percaya, oleh karena itu mereka menerima ide: masuklah ke kendaraan jama’ah, ikutilah garis partai. Untuk mengikuti orang banyak dan pendapat umum merupakan perlindunganbagi orang yang binggung dan berpikiran yang lelah. Kecendrungan konformis semacam itu merukan tanah yang subur bagi iklan dan propaganda yang lihai.

  • Kesalahan semantik, kesalahan formal dan kesalahan empiris

Tekanan pendapat umum, purbasangka, propaganda serta tunduk secara buta terhadap otoritas bukan merupakan semua hambatan berpikir. Kita semua memiliki dorongan dan adat. Adat adalah sangat baik untuk memilihara kegiatan hidup yang rutin, tetapi ia tidak membantu malah kadang-kadang banyak menyulitkan jika kita menghadapi situasi baru yang belum terkenal.

Terdapat juga banyak kesalahan berpikir atau pelanggaran terhadap prinsip-prinsip logika dan konsistensi. Kesalahan-kesalahan tersebut dapat dibagi dalam tiga kelompok. Kesalahan semantic disebabkan oleh pemakaian kata-kata secara tidak teliti atau tidak tepat. Kata-kata mungkin berganti arti selama kita mengadakan diskusi. Sebagai contoh: jika kata hukum (law) dalam pembicaraan tentang hokum alam (natural law), secara tidak terasa diganti dengan hokum Negara atau hokum moral dalam arti kaidah tingkah laku, kita telah mengganti  arti kata tersebut.

Kesalahan format terjadi kita mengambil kesimpulan yang salah dari dasar pikiran (premise) kita. Mungkinj kita membicarakan tentang semua anggota kelompok, sedangkan dasar pikiran kita hanya membicarakan tentang sebagian dari anggota kelompok. Kesalahan empiris terjadi karena kita melakukan generalisasi secara tergopoh-gopoh. Karena sesuatu kejadian terjadi sesudah kejadian lain, mungkin kita condong untuk mengatakan bahwa kejadian pertama adalah sebab dari kejadian kedua.

Untuk menjauhi generalisasi yang tergopoh-gopoh, kita perlu mengetahui corak premise yang daripadanya kita dapat menarik kesimpulan yang benar, dan juga kondisi-kondisi di mana kita dapat mengadakan  generalisasi dari pengetahuan tentang hal-hal yang khusus (particular). Deduksi dan induksi adalah proses pemikiran yang kita perlukan untuk mengetahuinya supaya kita dapat menjauhkan diri dari hambatan yang serius dalam pemikiran kita. Deduksi dan induksi adalah dua istilah untuk melukiskan metoda yang kita pakai untuk bergerak dari bukti kepada kesimpulan yang didasarkan kepadanya. Deduksi adalah proses yang kita pakai untuk menarik suatu suatu kesimpulan dari satu dasar pikiran (premise) atau lebih. Jika cara penarikan kesimpulan itu benar, dan kesimpulannya betul-betul muncul, maka deduksi itu benar. Sebagai contoh: jika kita berkata: “semua orang itu mati (mortal)”, dan “Socrates adalah manusia”, maka kesimpulan yang kita ambil adalah “Socrates akan mati (mortal)”. Di sini semua dasar pikiran (premise) adalah bukti yang relevan untuk kebenaran kesimpulan.

Di lain pihak, induksi adalah empiris, karena hubungan dengan benda. Ia berusaha untuk mengambil kesimpulan mengenai semua anggota kelas setelah menyelidiki sebagian saja atau mengenai anggota kelas yang tidak diselidiki. Tujuannya adalah untuk menyelidiki sebagian saja atau mengenai anggota kelas yang tidak diselidiki. Maksudnya adalah untuk membentuk suatu pernyataan yang benar. Sebagai contoh, setelah menyelidiki beberapa burung gagak atau bilangan lebih banyak lagi, dapatlah kita menarik kesimpulan bahwa burung gagak yang kita lihat berwarna hitam? Bentuk-bentuk deduksi dan induksi adalah terlalu banyak untuk disebutkan di sini, tetapi pembaca yang belum biasa dengan cara-cara berpikir ini serta bentuk-bentuk yang akan diambilkan, begitu juga kesalahan-kesalahan yang dapay menyesatkan pemikiran, dianjurkan untuk membaca buku logika yang baik.

  • Kesalahan “Ad Hominem”

Satu dari hambatan yang sangat sering terjadi terhadap pemikiran yang jelas adalah kesalahan “ad hominem” (kepada manusia). Pemikiran yang salah beralih dari suatu issue kepada orang. Kita dapatkan hal ini dalam berita-berita, tajuk rencana, pidato-pidato politik, perdebatan agama bahkan dalam pecakapan biasa antara seorang dengan seorang lain. “Saya tahu bahwa Tuhan itu tidak ada, karena semua orang percaya kepada Tuhan karena sebab-sebab psikologis”. Perhatikanlah apa yang telah terjadi. Yang menjadi issue adalah wujud Tuhan. Tetapi cara berpikir dari penyelidikan issue tersebut telah beralih kepada perhatian terhadap motivasi manusia untuk percaya. Motivasi manusia telah membuktikan atau meniadakan wujud Tuhan. Walaupun umpamanya dapat dibuktikan bahwa semua orang yang beragama itu mempunyai pikiran yang tidak sehat, issue terpisah, yakni issue tentang adanya Tuhan, telah dianggap sepi. Sesungguhnya, motivasi manusia tidak mengisbatkan (menetapkan) atau menafikan sesuatu issue; motivasi tersebut hanya menyajikan sebab-sebab yang mugkin untuk persetujuan atau penolakan orang terhadap sesuatu ide.

“Musuh saya adalah pembohong. Ia tak dapat dipercaya”. Menyerang budi pekerti seseorang adalh suatu metoda ad hominem yang lain. Pembicara tidak bersandar kepada bukti untuk membuktikan atau membatalkan isu; sebagai gantinya, ia mengandalkan: mengundang nama (name calling). Ia menyerang pribadi musuhnya.

“Jones percaya kepada manfaat penjemputan anak dengan bis. Apakah yang ia ketahui tentang hal itu. Ia tidak punya anak.”

“Jangan percaya akan apa yang ia katakana; ia itu berbeda”. Suatu metoda ad hominem menjauhi usaha pikiran untuk memeriksa isu. Ia gagal untuk memperkuat atau menolak suatu pernyataan; ia menggunankan serangan pribadi sebagai ganti bukti yang relevan.

Oleh: Harold H Titus (Denilson University), Marilyn S. Smith (University of Hartford) dan Richard T. Nolan (Mattutuck Community College).

Thomas Hobbes

Posted on Updated on

Pengunjung yang saya hormati, sebelum membaca artikel ini mohon sekiranya untuk mengklik link di bawah ini terlebih dahulu. Makasi…

*****************************

Thomas Hobbes (1588-1679) dilahirkan sebelum waktunya ketika ibunya tercekam rasa takut oleh ancaman penyerbuan armada Spayol ke Inggris. Ia belajar di Universitas Oxford, kemudian menjadi pengajar pada suatu keluarga terpandang. Hubungan dengan keluarga tersebut memberi kesempatan kepadanya untuk membaca buku-buku, bepergian ke negeri asing dan berjumpa dengan tokoh-tokoh penting. Simpatinya kepada sistim kerajaan pada waktu Inggris dilanda perang saudara, mendorngnya untuk lari ke Perancis. Di sanalah ia mengenal filsafat Descartes dan pemikir-pemikir Perancis lainnya. Karena sangat terkesan dengan ketepatan sains, ia berusaha menciptakan filsafat atas dasar matematika.

Hobbes menolak tradisi skolastik dalam filsafat dan berusaha menerapkan konsep-konsep mekanik dari alam fisika kepada pikirannya tentang manusia dan kehidupan mental. Hal ini mendorongnya untuk menerima materialism,mekanisme dan determinisme. Karya utamanya dalam filsafat, Leviathan (1651), mengekspresikan pandangannya tentang hubungan antara alam, manusia dan masyarakat. Hobbes melukiskan manusia-manusia ketika mereka hidup dalam keadaan yang ia namakan “state of nature” (keadaan alamiah), yang merupakan kondisi manusia sebelum dicetuskannya suatu Negara atau masyarakat beradab. Kehidupan dalam keadaan alamiah adalah buas dan singkat, karena merupakan keadaan perjuangan dan peperangan yang terus-menerus. Oleh karena manusia menginginkan kelangsungan hidup dan perdamaian, ia mengalihkan kemauannya kepada kemauan Negara dalam suatu kontrak social yang membenarkan kekuasaan tertinggi yang mutlak.

Charles R. Darwin

Posted on

Charles R. Darwin (1809-1882) adalah seorang ahli pengetahuan alam (naturalis) berkebangsaan Inggris. Teorinya tentang evolusi organic melewati seleksi alamiah telah menyebabkan perubahan besar dalam sains biologi, filsafat dan pemikiran keagamaan. Ia mendapat pendidikan di Universitas Edinburgh dan Universitas Cambridge. Kemudian ia mengabungkan diri dengan ekspedisi Inggris di kapal H.M.S. Beagle untuk melakukan penyelidikan selama lima tahun (1831-1836) tentang tumbuh-tumbuhan binatang, fosil dan bentukan-bentukan geologi di tempat-tempat yang terpencil jauh, kebanyakan di pantai Amerika Selatan dan pulau-pulau di samudera Pasifik.

Karya-karya Darwin, Origin og Species (1859) dan Descent of Man (1871) memberikan bukti dengan fakta kepada anggapan bahwa species-species itu mempunyai hubungan satu dengan lainnya dalam garis ke atas; dan bahwa manusia itu berasal dari kelompok binatang yang sama seperti chimpanse dan lain-lain jenis yang berlangsung selama beberapa puluh tahun.

Aristoteles

Posted on

Aristoteles (384-322 SM) adalah seorang filosof, saintis dan ahli pendidikan. Ia secara luas dianggap sebagai satu dari ahli-ahli pikir yang sangat berpengaruh dalam kebudayaan Barat. Ia dilahirkan di Stagira, di bagian utara dari Yunani. Pada umur 18 tahun ia masuk Akademi Plato dan menetap di situ selama hampir 20 tahun, yakni sampai Plato meninggal. Ia sering melakukan perjalanan, dan pernah semala empat tahun menjadi guru Prince Alexander yang kemudian terkenal dengan nama Raja Alexander yang Agung (“The Great”).

Sekitar tahun 334 SM, Aristoteles kembali ke Athena dan mendirikan perguruannya sendiri, yang dinamakan Lyceum. Ia meringkaskan dan mengembangkan pengetahuan pada masanya, serta memperkayanya dengan penyelidikan-penyelidikannya sendiri serta pemikiran yang kritis. Aristoteles menaruh perhatian kepada ilmu kedokteran dan ilmu hewan serta ilmu-ilmu lainnya; ia juga mendirikan laboratorium-laboratorium dan museum-museum. Muridnya, Raja Alexander, pernah menyediakan tenaga sebanyak 1000 orang di Yunani dan Asia untuk membantu Aristoteles mengumpulkan dan melaporkan perincian-perincian tentang kehidupan dan kebiasaan binatang-binantang. Ia juga mengumpulkan konstitusi-konstitusi dan dokumen-dokumen mengenai struktur kehidupan berpolitik di beberapa Negara.

Tulisan-tulisannya menunjukkan perhatian dalam segala ilmu pengetahuan, termasuk sains (alam), masyarakat dan Negara, sastra dan kesenia serta kehidupan manusia. Karangannya tentang logika (organon) mengembagkan logika deduktif dan syllogistic. Etikanya (Nichomachean Ethic) merupakan karangan sistematik pertama yang pernah ditulis dalam bidang etika dan sampai sekarang masih dibaca umum.

Socrates

Posted on

Socrates (469-399 SM) seorang filosof Yunani dari Athena. Ia tersohor dengan pendapatnya tentang filsafat sebagai suatu usaha pencarian yang perlu bagi tiap intelektual. Ia merupakan contoh seorang yang menghayati prinsip-prinsipnya, walaupun akhirnya prinsip itu berakibat fatal bagi nyawanya.

Socrates adalah anak Sophronicus, seorang ahli pahat; dalam usia pertengahan ia kawin dengan Xanthippe, yang dikatakan suka mengomel dan mencaki-maki, walaupun tak ada dasar kuat untuk sangkaan tersebut. Socrates termasyur dengan kekuatan intelektualnya sebelum berusia 40 tahun. Pada waktu itu, menurut buku Plato yang berjudul Apology (meriwayatkan tentang pidato pembelaan Socrates), Dewa di Delphi (Oracle at Delphi) mengatakan bahwa Socrates adalah orang yang paling bijaksana di Yunani.

Ia menjadi yakin bahwa tugasnya adalah untuk mencari kebijaksanaan tentang perilaku yang benar yang dapat dipakai untuk mengarahkan perkembangan moral dan intelektual bagi warga Athena. Dengan melupakan urusan-urusan pribadinya, ia selalu sibuk dengan pembicaraan mengenai kebajikan, keadilan, dan ketaqwaan di tempat-tempat pertemuan penduduk Athena.

Pada tahun 399 SM Socrates diadili dengan tuduhan merusak kaum remaja dan meyiarkan ajaran agama yang salah. Peradilan serta kematian Socrates dibentangkan dalam buku-buku Plato yang berjudul Apology; Crito dan Phaedo. Buku-buku ini ditulis dengan cara yang dramatis

Mutiara Filsafat

Posted on

Pemikiran filsafat hanya akan berhenti
Apabila pemikiran non-falsafi juga berhenti…
Filsafat adalah bersifat terus menerus (perennial).
Kehidupan segi dalamnya dan lingkungan intelektualnya
Menghadapkan seorang filosof kepada
Bentuk persoalan-persoalan yang selalu berubah
Dan tidak akan membebaskannya dari tugas untuk berpikir lagi.
(Stephan Korner, “Fundamental Question in Philosophy”)

 

 

Kata-kata “kamu tidak dapat mengubah watak manusia”
Sering ditolak oleh kaum reformer sebagai suatu ucapan putus asa
Dan suatu alasan yang mudah untuk bersikap masa bodoh
Terhadap kekalutan-kekalutan dunia. Walaupun begitu kata-kata tersebut
Mempunyai aspeknya yang positif. Mengatakan bahwa watak manusia tak dapat diubah berarti bahwa watak manusia itu merupakan kenyataan dan berarti pula sebagian dari kenyataan tersebut dalah berharga.
(Joseph Wood Krutch, “The Measure og Man”)

Pemikiran Sigmund Freud

Posted on Updated on

Pada hari Rabu, 12 September 2007 bertempat di Perpustakaan Pasca Sarjana UGM diadakan Diskusi Bulanan “Greater Thinking” yang pada kesempatan bulan ini mengangkat tema “Pemikiran Sigmund Freud”. Panitia menghadirkan Prof. Drs. Koentjoro. Ph.D., seorang Psikolog Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada dan Drs. Rizal Muntasyir, M.Hum., dosen Filsafat UGM sebagai Host diskusi. Dari jam 09.00 sampai 10.30, diskusi berlangsung hidup. Panitia menyediakan fasilitas berupa makanan ringan dan sertifikat.

Pada kesempatan ini, saya akan menyajikan kepada pembaca sekalian makalah yang disampaikan oleh Prof. Koentjoro kepada pengunjung sekalian. Semoga tulisan ini memberikan pemahaman kita kepada pemikiran Freud (Baca: Froid), yang sangat besar pengaruh ya terhadap perkembangan ilmu Psikologi.

*************************

Sigmund Freud (1856-1939)
Oleh: Prof. Drs. MBSc. Ph.D., Psikolog Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada

Latar Belakang Kehidupan

• Lahir di Freiberg Moravia
• Pindah ke Wina (dikejar Nazi terus ke London)
• Selama tinggal di London hampir setiap tahun menerbitkan buku
• Meninggal di London
• Dia adalah Dokter yang mengobati kekacauan syaraf.
• 1909, pengakuan pertama keahliannya oleh Clark University, Worchester.

Latar Belakang Pandangannya

Sangat dipengaruhi oleh Darwin (survival) dan Fechner (dasar pengetahuan ilmu jiwa). Selanjutnya ahli Hermann von Helmholtz (pengawetan energy) bahwa energy adalah kumpulan dari massa. Dokter muda yang menyelidiki ilmu hayat, ia sukar melepaskan dirinya dari fisika. Untungnya ia dibimbing Ernst Brucke (direktur laboratorium physiology) yang ia kagumi karena teorinya yang dinamis.

Konsep-konsep yang ditawarkan dan karya utama Sigmund Freud

• Psikoanalisa sebagai system ilmu jiwa dan bukan suatu cabang ilmu jiwa atau psikiatri.

Karya Freud

• 1890, Interpretation of Dreams
• 1904, The Psycopathology of Everyday life
• 1905, A Case of Hysteria, Three Essays of Sexualities, Wit and Its Relation to the Unconcious
• The Future of Illussion
• Civilization and Its Discontents (Kritik Kemasyarakatan)

Menghidangkan Karya Freud

  • Karya-karyanya terpencar dalam banyak artikel dan tulisannya buku terpencar di beberapa media dan buku yang ditulis sejak 1890 hingga 1936.
  • Pribadi Freud adalah pribadi yang berkembang, Freud selalu memperbaiki, mengubah dan memperluas teorinya.
  • Beberapa pendapatnya terdahulu yang telah dibuang dan banyak yang lain dirumuskan kembali.

Histeria (A Case of Hysteria, 1905)

  • Penanganan pasien hysteria mengarahkan pada kesadaran bahwa masalah fisik berhubungan dengan masalah intra psikis, seperti ingatan akan peristiwa lampau yang traumatic.
  • Proses intra-psikis digambarkan dengan adanya resistensi, represi, yang terjadi karena adanya konflik antara keinginan dan keinginan lain, dan yang tidak dapat diselesaikan dengan etika, estetika dan keyakinan personal dalam kepribadian individu. Konflik-konflik yang tidak dapat diselesaikan tersebut kemudian direpresi dari kesadaran dan dilupakan.

Gagasan Struktur Psikis

  • Struktur kepribadian: id, ego dan superego.
  • Kesadaran dibedakan atas kesadaran, ambang kesadaran, dan ketidak-sadaran.
  • Dinamika proses ketika ada kebutuhan atau konflik kebutuhan dimana ego menjadi pengatur sesuai prinsip realitas, dengan adanya proses represi, yang dapat berakibat terjadi hambatan, simtom dan kecemasan.
  • Ketidaksadaran akan berisi hal-hal yang sudah direpresi.
  • Kebutuhan yang direpresi bukannya menjadi tidak ada, melainkan tetap aktif hanya menunggu kesempatan untuk muncul kembali ke kesadaran.
  • Dengan cara terselubung atau mengambil bentuk lain kekuatan yang direpresi muncul kembali ke kesadaran dengan sensasi yang sama-sama menyakitkan.
  • Bentuk lain dari gagasan yang ditekan, disebut juga sebagai simtom, aman dari serangan pertahanan diri ego.
  • Sublimasi merupakan suatu cara untuk mengatasi rasa bersalah karena adanya gagasan patogenik, yaitu dengan mengarahkan pada tujuan yang lebih tinggi yang bebas dari penolakan.

Susunan dan Dinamika Kepribadian (Ilmu Jiwa Dinamis)

Erotic Spheres Three Essays of Sexualities, 1905

  • Simton terkait dengan harapan-harapan seksual yang patogenik (infatil seksualitas) di masa kecil, baik pada laki-laki maupun perempuan.
  • Seksualitas anak kecil, terlepas dari masalah reproduksi yang berfungsi paling akhir.
  • Seksualitas infatil memungkinkan anak mendapatkan kesenangan dari berbagai sumber.
  • Sumber kesenangan adalah perangsangan sendiri (auto-erotism) pada bagian-bagian tubuh yang peka (erogenous-zones).
  • Komponen lain dari kesenangan seksual adalah komponen impuls, atau libido, yang melibatkan orang lain sebagai objek. Komponen ini muncul sebagai pasangan yang berlawanan, seperti aktif dan pasif (missal sadism-masochisme; kesenangan ekshibisi aktif/pasif).
  • Manifestasi seksual infatil dapat dilihat dari pilihan objek, dimana orang lain mempunyai peran penting.
  • Kehidupan seksual kanak-kanak sangat kaya tetapi tidak saling terkait, dimana satu impuls mengarahkan pada kesenangan yang tidak terkait dengan impuls lain. Hal ini di masa datang akan berkorelasi dan diorganisasi dalam dua arah umum sehingga mendekati pubertas karakter seksual menjadi lebih jelas.
  • Jika ada yang kurang terpuaskan akan terjadi regresi (kekanak-kanakan).

Psikologi dari Error The (Psychopathology of Everyday life, tahun 1904)

• Keseleo lidah, salah tulis, salah baca, salah dengar.
• Kelupaan temporer: nama, apa yang akan dilakukan.

Interpretasi Mimpi (merupakan buku pertama tahun 1890 dan Wit dan Its Relation to the Unconcious)

  • Menggantikan hypnosis
  • Merupakan cara tidak langsung untuk mengnterpretasi hal-hal yang ditekan di ketidak-sadaran.
  • Isi dari mimpi merupakan pemunculan terselubung dari pikiran-impian yang tidak disadari akibat resistensi ego.

Mimpi

  • Bukan fenomenon somatic melainkan fenomenon mental.
  • Orang mempunyai pikiran yang ia ketahui tanpa pengetahuan bahwa ia mengetahuinya.
  • Interpretasi mimpi dan error untuk memahami pikiran yang tidak disadari.

Garis Besar

  • Konsep kesadaran-ketidaksadaran
  • Kebutuhan-kebutuhan yang menimbulkan konflik, menyebabkan terjadinya represi, resistensi.
  • Kebutuhan didasari oleh kesenangan seksual.
  • Kesenangan seksual muncul sejak masa kanak-kanak, jika tidak terpenuhi akan terjadi regresi.
  • Substitusi kebutuhan yang direpresi, muncul sebagai simton.
  • Interpretasi mimpi dan error menjadi cara memahami pikiran/harapan/kebutuhan yang ada di ketidaksadaran.

Kata Kunci

• Hidup itu pilihan
• Konflik
• Energy dan motivasi
• Kastrasi kompleks

Yang dipengaruhi Freud

• Carl Gustave Jung
• Adler
• Erich From dan Neo Freudian
• Lacan
• Fritz Kunkel

Catatan

  • Frustasi adalah tumpukan kegagalan yang menutup id sehingga kita sulit membedakan kenyataan dan impian.
  • Libido  Eros Thanatos  Motivasi
  • Saat tidur, control diri lemah.
  • Id: bawah sadar (dorongan diri, tuntutan), Ego: alam sadar (realitas), superego: normative (harapan).
  • Rahasia memberikan beban (menekan id).
  • Perokok adalah contoh kasus orang yang tidak puas pada masa oral, dan homoseksual adalah orang yang tidak puas pada fase anal.
  • 2 kategori orang dalam dunia seks: pemuas dan penikmat (tidak akan pernah puas).
  • Dalam rumah tangga yang perlu diperhatikan adalah jadilah pendengar yang baik (komunikasi).
  • Sesuatu yang menyenangkan ingin diulangi lagi, sesuatu yang tidak disukai tidak ingin terulang kembali.
  • Pembunuh sadis biasanya pendiam.
  • Demokrasi dapat berjalan dengan baik jika berangkat dari ego.
  • Keadaan yang bagus adalah selalu merubah kondisi id, ego dan superego sesuai dengan kondisi yang kita hadapi (contoh: pakailah id ketika berhadapan dengan anak-anak).

SEKITAR ETIKA POLITIK

Posted on Updated on

Pengunjung yang saya hormati, sebelum membaca artikel ini mohon sekiranya untuk mengklik link di bawah ini terlebih dahulu. Makasi…

*****************************

Pengantar

Dalam catatan-catatan berikut dijelaskan secara singkat:

1. Apa itu “etika politik”
2. Hal moralitas politisi
3. Tiga prinsip dasar etika politik
4. Etika politik dan demokrasi

A. Etika Politik

Perlu dibedakan antara etika politik dengan moralitas politisi. Moralitas politisi menyangkut mutu moral negarawan dan politisi secara pribadi (dan memang sangat diandaikan), misalnya apakah ia korup atau tidak (di sini tidak dibahas). Etika politik menjawab dua pertanyaan:

  • Bagaimana seharusnya bentuk lembaga-lembaga kenegaraan seperti hokum dan Negara (misalnya: bentuk Negara seharusnya demokratis); jadi etika politik adalah etika institusi.
  • Apa yang seharusnya menjadi tujuan/sasaran segala kebijakan politik, jadi apa yang harus mau dicapai baik oleh badan legislative maupun eksekutif.

Etika politik adalah perkembangan filsafat di zaman pasca tradisional. Dalam tulisan para filosof politik klasik: Plato, Aristoteles, Thomas Aquinas, Marsilius dari Padua, Ibnu Khaldun, kita menemukan pelbagai unsur etika politik, tetapi tidak secara sistematik. Dua pertanyaan etika politik di atas baru bisa muncul di ambang zaman modern, dalam rangka pemikiran zaman pencerahan, karena pencerahan tidak lagi menerima tradisi/otoritas/agama, melainkan menentukan sendiri bentuk kenegaraan menurut ratio/nalar, secara etis.

Maka sejak abad ke-17 filsafat mengembangkan pokok-pokok etika politik seperti:

  1. Perpisahan antara kekuasaan gereja dan kekuasaan Negara (John Locke)
  2. Kebebasan berpikir dan beragama (Locke)
  3. Pembagian kekuasaan (Locke, Montesquie)
  4. Kedaulatan rakyat (Rousseau)
  5. Negara hokum demokratis/republican (Kant)
  6. Hak-hak asasi manusia (Locke, dsb)
  7. Keadilan social

B. Lima Prinsip Dasar Etika Politik Kontemporer

Kalau lima prinsip itu berikut ini disusun menurut pengelompokan pancasila, maka itu bukan sekedar sebuah penyesuaian dengan situasi Indonesia, melainkan karena Pancasila memiliki logika internal yang sesuai dengan tuntutan-tuntutan dasar etika politik modern (yang belum ada dalam Pancasila adalah perhatian pada lingkungan hidup).

1. Pluralisme
Dengan pluralism dimaksud kesediaan untuk menerima pluralitas, artinya, untuk hidup dengan positif, damai, toleran, dan biasa/normal bersama warga masyarakat yang berbeda pandangan hidup, agama, budaya, adat. Pluralism mengimplikasikan pengakuan terhadap kebebasan beragama, kebebasan berpikir, kebebasan mencari informasi, toleransi. Pluralisme memerlukan kematangan kepribadian seseorang dan sekelompok orang. Lawan pluralism adalah intoleransi, segenap paksaan dalam hal agama, kepicikan ideologis yang mau memaksakan pandangannya kepada orang lain.

Prinsip pluralism terungkap dalam Ketuhanan Yang Maha Esa yang menyatakan bahwa di Indonesia tidak ada orang yang boleh didisriminasikan karena keyakinan religiusnya. Sikap ini adalah bukti keberadaban dan kematangan karakter koletif bangsa.

2. HAM
Jaminan hak-hak asasi manusia adalah bukti Kemanusia yang adil dan beradab. Mengapa? Karena hak-hak asasi manusia menyatakan bagaimana manusia wajib diperlakukan dan wajib tidak diperlakukan. Jadi bagaimana manusia harus diperlakukan agar sesuai dengan martabatnya sebagai manusia.

Hak-hak asasi manusia adalah baik mutlak maupun kontekstual:

  • Mutlak karena manusia memilikinya bukan karena pemberian Negara, masyarakat, melainkan karena ia manusia, jadi dari tangan Sang Pencipta.
  • Kontekstual karena baru mempunyai fungsi dan karena itu mulai disadari, di ambang modernitas di mana manusia tidak lagi dilindungi oleh adat/tradisi, dan seblaiknya diancam oleh Negara modern.

Dibedakan tiga generasi hak-hak asasi manusia:

  1. Generasi pertama (abad ke 17 dan 18): hak-hak liberal, demokratis dan perlakuan wajar di depan hokum.
  2. Generasi kedua (abad ke 19/20): hak-hak sosial
  3. Generasi ketiga (bagian kedua abad ke 20): hak-hak kolektif (misalnya minoritas-minoritas etnik).

Kemanusiaan yang adil dan beradab juga menolak kekerasan dan eklusivisme suku dan ras. Pelanggaran hak-hak asasi manusia tidak boleh dibiarkan (impunity).

3. Solidaritas Bangsa

Solidaritas mengatakan bahwa kita tidak hanya hidup demi diri sendiri, melainkan juga demi orang lain, bahwa kita bersatu senasib sepenanggungan. Manusia hanya hidup menurut harkatnya apabila tidak hanya bagi dirinya sendiri, melainkan menyumbang sesuatu pada hidup manusia-manusia lain. Sosialitas manusia berkembnag secara melingkar: keluarga, kampong, kelompok etnis, kelompok agama, kebangsaan, solidaritas sebagai manusia. Maka di sini termasuk rasa kebangsaan. Manusia menjadi seimbang apabila semua lingkaran kesosialan itu dihayati dalam kaitan dan keterbatasan masing-masing. Solidaritas itu dilanggar dengan kasar oleh korupsi. Korupsi bak kanker yang mengerogoti kejujuran, tanggung-jawab, sikap objektif, dan kompetensi orang/kelompok orang yang korup. Korupsi membuat mustahil orang mencapai sesuatu yang mutu.

4. Demokrasi

Prinsip “kedaulatan rakyat” menyatakan bahwa tak ada manusia, atau sebuah elit, atau sekelompok ideology, atau sekelompok pendeta/pastor/ulama berhak untuk menentukan dan memaksakan (menuntut dengan pakai ancaman) bagaimana orang lain harus atau boleh hidup. Demokrasi berdasarkan kesadaran bahwa mereka yang dipimpin berhak menentukan siapa yang memimpin mereka dan kemana mereka mau dipimpin. Demokrasi adalah “kedaulatan rakyat plus prinsip keterwakilan”. Jadi demokrasi memrlukan sebuah system penerjemah kehendak masyarakat ke dalam tindakan politik.

Demokrasi hanya dapat berjalan baik atas dua dasar:

  • Pengakuan dan jaminan terhadap HAM; perlindungan terhadap HAM menjadi prinsip mayoritas tidak menjadi kediktatoran mayoritas.
  • Kekuasaan dijalankan atas dasar, dan dalam ketaatan terhadap hokum (Negara hukum demokratis). Maka kepastian hokum merupakan unsur hakiki dalam demokrasi (karena mencegah pemerintah yang sewenang-wenang).

5. Keadilan Sosial

Keadilan merupakan norma moral paling dasar dalam kehidupan masyarakat. Maksud baik apa pun kandas apabila melanggar keadilan. Moralitas masyarakat mulai dengan penolakan terhadap ketidakadilan. Keadilan social mencegah bahwa masyarakat pecah ke dalam dua bagian; bagian atas yang maju terus dan bagian bawah yang paling-paling bisa survive di hari berikut.

Tuntutan keadilan social tidak boleh dipahami secara ideologis, sebagai pelaksanaan ide-ide, ideology-ideologi, agama-agama tertentu; keadilan social tidak sama dengan sosialisme. Keadilan social adalah keadilan yang terlaksana. Dalam kenyataan, keadilan social diusahakan dengan membongkar ketidakadilan-ketidakadilan yang ada dalam masyarakat. Di mana perlu diperhatikan bahwa ketidakadilan-ketidakadilan itu bersifat structural, bukan pertama-pertama individual. Artinya, ketidakadilan tidak pertama-tama terletak dalam sikap kurang adil orang-orang tertentu (misalnya para pemimpin), melainkan dalam struktur-struktur politik/ekonomi/social/budaya/ideologis. Struktur-struktur itu hanya dapat dibongkar dengan tekanan dari bawah dan tidak hanya dengan kehendak baik dari atas. Ketidakadilan structural paling gawat sekarang adalah sebagian besar segala kemiskinan. Ketidakadilan struktur lain adalah diskriminasi di semua bidang terhadap perempuan, semua diskriminasi atas dasar ras, suku dan budaya.

Dalam pendapat penulis, tantangan etika politik paling serius di Indonesia sekarang adalah:

  1. Kemiskinan, ketidakpedulian dan kekerasan social.
  2. Ekstremisme ideologis yang anti pluralism, pertama-tama ekstremisme agama dimana mereka yang merasa tahu kehendak Tuhan merasa berhak juga memaksakan pendapat mereka pada masyarakat.
  3. Korupsi.

Jakarta, 23 Agustus 2007
Franz Magnis Suseno SJ

Artikel ini ditulis ulang dari makalah “KULIAH UMUM PROF. FRANZ MAGNIS SUSENO, SJ DI FAKULTAS FILSAFAT UGM YOGYAKARTA SENIN 27 AGUSTUS 2007″

PANGGIL AKU KARTINI SAKA

Posted on

PANGGIL AKU KARTINI SAKA
PENULIS: PRAMOEDYA ANANTA TOER

PEMBAHASAN
1.NARASI HISTORIS
1830, muncullah ke hadapan Raja Belanda seorang pensiunan Komisaris Jendral Hindia Barat untuk memulihkan keuangan Hindia Belanda melaui rencana Cultuurstelsel. Raja Belanda, Willem menerima rencana itu. Gubenur Jendral Du Bus diturunkan dari takhta Hindia Belanda, dan dikirmkan van den Bosch ke Jawa untuk mengantikan, untuk mewujudkan rencana itu (Hal 22).
21 April 1879 atau tahun Jawa 28 Rabiulakhir 1808 Kartini lahir (Hal: 51).
Sejarah tidak menyampaikan secara jelas bagaimana kehidupan Kartini semasa kecil (hal 53).
Sejarah belum pernah melaporkan kepada kita tentang ibu kandung Kartini hal 54).
Sejarah tidak melaporkan apakah Kartini mempunyai tembusan dari surat-suratnya , tetapi lebih setahun dari pernyataannya pertama tentang sikapnya terhadap ayahnya, ia ulangi pernyataan itu dengan kata-kata yang hampir sama (hal 58).
Saat Kartini masuk sekolah-Sekolah Rendah Belanda sewaktu ia berumur 20 tahun, sejarah tidak pernah melaporkan apakah ia duduk di bangku depan, di deretan murid-murid wanita (hal 61).
Rakyat itu hidupnya sangat tergantung pada pertanian, dan pertanian pada gilirannya sangat tergantung kepada teraturnya musim, kalau musim tidak menepati janji seluruh Rakyat akan menerima bencana seperti yang terjadi pada tahun 1901 (Hal 95).
Inilah beberapa narasi historis yang disampaikan Pramoedya dalam bukunya ini.

2.ANALISIS FILSAFAT SEJARAH KRITIS
Filsafat sejarah kritis meletakan posisi strategis, sejauh mana kita dapat memperoleh pengetahuan yang benar mengenai masa silam dan bagaimana sifat pengetahuan itu. Hal pertama yang dilakukan adalah kita menyadari bahwa suatu pengalaman langsung mengenai masa silam tidak mungkin. Kemudian pertanyaan mengenai kebenaran dalam pengkajian sejarah, membawa kita kepada masalah benar-tidaknya pernyataan-pernyataan para ahli sejarah mengenai masa silam. Masalah ini dapat kita teliti melalui tiga tahap:
1.Hendaknya kita tetapkan, apakah tepat maksud kita bila suatu pernyataan sejarah benar. Seorang ahli sejarah tidak hanya membatasi diri pada pernyataan-pernyataan yang benar pada masa silam, tetapi juga berusaha menerangkannya.
2.Pertanyaan mengenai kebenaran atau kesahihan juga dapat diajukan mengenai keterangan-keterangan historis: kriteria mana harus dipenuhi oleh suatu keterangan historis, supaya dapat diterima. Pernyataan-pernyataan mengenai hal ikhwal tertentu pada masa silam, serta keterangan historis mengenai itu, biasanya hanya merupakan sebagian dari buku-buku dan karangan yang ditulis oleh para ahli sejarah.
3.Sejauh mana suatu gambaran atau penafsiran mengenai masa depan memadai atau benar.
Terkait dengan hal ini, menurut penulis Pramoedya dalam buku ini memposisikan dirnya sebagai penulis biografi Kartini sehingga bisa dikatakan ia mengambil posisi sebagai penulis sejarah. Hal ini tampak jelas pada banyaknya kutipan-kutipan surat-surat yang pernah ditulis oleh Kartini. Dalam posisi ini ia mencoba mengambil data dari salah satu sumber sejarah sumber sejarah. Kemudian, Pramoedya mencoba menyajikan keilmiahan dalam tulisannya ini dengan merujuk kepada referensi sejarah yang pernah ditulis. Hal ini dapat kita temukan buktikan pada kata-kata yang beberapa kali muncul dalam buku ini seperti sejarah belum pernah melaporkan, sejarah tidak melaporkan, sejarah tidak menyampaikan dengan jelas.
Terkait dengan analisis filsafat sejarah kritis yang mencoba untuk menelaah secara lebih dalam pernyataan, keterangan dan kebenaran historis, maka penulis melihat Pramoeya masih belum memenuhi secara ketat apa yang ditekankan dalam filsafat sejarah kritis. Dalam bukunya Pramoedya masih banyak melakukan tafsiran atau suatu fakta sejarah dengan interpretasinya. Terlihat juga Pramoedya masih terpengaruh dengan darah sastra yang menjadi trendmarknya dalam penulisan buku “Panggil Aku Kartini Saja”. Dalam artian pengaruh filsafat sejarah spekulatif yang mempertimbangkan etika dan estetika dalam penulisan sejarah masih tampak (Ankersmit, 1988; 71-73).

PENUTUP
Demikianlah analisis penulis mengenai gaya penulisan sejarah Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya “Panggil Aku Kartini Saja” dalam sudut pandang filsafat sejarah kritis. Semoga penulisan ini bermanfaat.

DAFTAR PUSTAKA
Ankersmit, F.R.1988. Refleksi Tentang Sejarah. Terjemahan; Dick Hartoko. PT. Gramedia; Jakarta.
Toer, Pramoedya Ananta. 2003. Panggil Aku Kartini Saja. Lentera Dipantara; Jakarta.

PANDANGAN HIDUP ISLAM SEBAGAI ASAS EPISTEMOLOGI

Posted on Updated on

Oleh: Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi

Dalam kajian Thomas F. Wall kaitan konsep worldview dan moralitas sangat jelas. Ia menyatakan: “kepercayaan kepada Tuhan adalah sangat penting dan mungkin elemen terpenting dalam pandangan hidup manapun. Pertama, jika kita percaya bahwa Tuhan itu wujud, maka sangat mungkin kita percaya bahwa di sana ada arti dan tujuan hidup. Dan jika kita konsisten kita akan percaya bahwa sumber moralitas bukanlah sekedar kesepakatan manusia, tapi kehendak Tuhan dan Tuhan adalah nilai tertinggi. Selanjutnya, kita harus percaya bahwa ilmu dapat lebih dari apa yang dapat diamati (empiris) dan di sana terdapat realitas yang lebih tinggi yakni alam supranatural. Sebaliknya jika kita tidak percaya pada Tuhan dan alam itu hanya satu, lalu apa akan kita percaya tentang arti hidup, hakekat diri kita, hidup sesudah mati, sumber standar moralitas, kebebasan dan tanggung jawab dan sebagainya.”

Prinsip ontologi dalam Islam dapat disebut juga sebagai visi metafisis tentang wujud dan realitas tertinggi yang diambil dari wahyu. Wujud Tuhan sebagai realitas tertinggin dalam Islam adalah sentral. Dalam Islam realitas alam fisik yang tampak (sensible world) dipandang sebagai realitas relatif yang berhubungan dan bergantung pada realitas metafisis absolut. Struktur ontologis yang dalam terminologi Islam dikategorikan menjadi ‘alam al-mulk dan ‘alam al- shahadah, menunjukkan bahwa pencarian ilmu dalam Islam tidak sekedar persoalan panca indra dan akal yang analitis yang bidang operasioanalnya dalam sains modern dibatasi oleh realitas alam dan pengalaman inderawi. Ia melibatkan realitas yang tertinggi, sebab hanya dalam konteks realitas inilah maka hakekat dan pentingnya realitas alam nyata ini dapat dipahami. Maka dari itu dalam sains Islam, pengetahuan pragmatis horizontal (diskriptif dan prediktif) tentang realitas alam berada di bawah pengetahuan vertikal kontemplatif dan apresiatif tentang makna kedua alam itu. Ini berarti bahwa bertambahnya ilmu tentang alam semesta membawa pada bertambahnya ilmu tentang alam trasenden dan ini adalah tujuan akhir dari ilmu dalam Islam.

Prinsip kosmologis artinya adalah visi tentang stuktur, proses dan fungsi realitas fenomenal. Dalam prinsip ini alam dilihat sebagai ciptaan yang sejalan dengan Al Qur’an yang tidak diciptakan . Sebab keduanya mempunyai sistem ayat yang integral yang memberi petunjuk kepada manusia tentang Penciptanya. Alam semesta ini adalah kitab yang tak tertulis sedangkan Al qur’an adalh kitab yang tertulis. Dalam hal ini Al Attas menyatakan bahwa “alam dunia ini terdiri dari ayat-ayat Tuhan, yang makna-makna simboliknya diilhamkan kepada manusia dan memberik kesempatan kepada manusia untuk mengamati dan melibatkan dirinya dalam mengetahui aspek realitas ini agar dapat memahami hakekatnya yang tertinggi. Karena susunan dan sistem kebendaan pada alam ciptaan adalah analog dengan susunan dan sistem kata dalam wahyu, maka benda-benda pada dunia empiris harus diperlakukan sebagai kata-kata, sebagai ayat dan simbol yang terdapat dalam jaringan konsep-konsep yang seluruhnya menggambarkan suatu kesatuan organis yang merelekflesikan al Qur’an itu sendiri.

Karena struktur ontologis dan kosmologis Islam yang sedemikian itu maka relaitas dan kebenaran dimaknai berdasarkan kajian metrafisika terhadap dunia yang nampak (visible world) dan yang tidak tampak (invisible world). Ini berbeda dari pandangan Barat terhadap realitas dan kebenaran yang dibentuk berdasarkan akulmulasi pandangan terhadap kehidupan kultural, tata nilai dan berbagai fenomena sosial. Meskipun, pandanganini tersusun secara coherence, tapi sejatinya bersifat artifisal.

Pendekatan integral terhadap realitas fisik dengan realitas metafisik, antara ayat-ayat kawniyah dengan ayat-ayat qauliyah, inilah sejatinya framework epistemologi dalam Islam. Dan disinilah sejatinya pandangan hidup Islam terkait secara konseptual dengan epistemologi. Untuk lebih detailnya ilustrasi berikut ini menunjukkan peran pandangan hidup terhadap cara pandang sesorang terhadap realitas alam nyata. Contioh ynag paling sederhana adalah pandangan seorang pengamat peristiwa alam. Orang pertama mengatakan “saya melihat gunung dan melihat letusan dari dalamnya, dan saya menyebutkan seperti apa yang terjadi”; orang kedua menyatakan “saya melihat gunung dan melihat letusan dari dalamnya, dan saya menyebutnya seperti apa yang saya lihat’; orang ketiga menyatakan “saya melihat gunung dan melihat letusan dari dalamnya, dan semua itu bukan apa-apa kecuali setelah saya menyebutnya”. Masing-masing cara pandang di atas menunjukkan pandangan tentang bagaimana kita mengetahui.

Di Barat cara pandang orang pertama disebut dengan cara pandangan realisme; yang kedua dinamakan anti-realisme dan yang ketiga dinamai realisme kritis. Realisme berdalih bahwa pemahaman terhadap cosmos adalah langsung dan akurat serta tidak dipengaruhi oleh presupposisi dari worldview ataupun pengaruh-pengaruh subjektif lainnya. Pandangan ini berdasarkan pada empat premis dasar 1) realitas objektif dan independen itu ada 2) ciri-ciri realitas ini adalah tetap dan bebas dari pengamat 3) manusia yang mengetahui memiliki kemampuan kognitif untuk memahami realitas yang tetap ini tanpa dibebani oleh tradisi atau kecendrungan personal 4) kebenaran dan pengetahuan tentang adalah ditemukan dan pasti, dan tidak diciptakan dan relatif. Ringkasnya, bagi seorang realis menolak masuk masuknya (interposition) apapun dari pikiran ke dalam diri pengamat dan objek yang diamati.

Sedangkan anti-realisme adalah pandangan yang memisahkan secara radikal apa yang ada di sana dan berbagai pandangan tentang itu. Di sini worldview mendominasi dan sistem kepercayaan tidak ada kaitannya dengan realitas, dan bahkan realitas dianggap tidak ada. Pandangan ini dapat dicirikan menjadi empat 1) meski mengakui bahwa dunia yang nampak ini mungkin saja ada, ciri-ciri objektifnya tetap saja kabur 2) pengetahuan manusia memiliki kelemahan dalam memahami alam seperti apa adanya 3) apa yang dianggap realitas adalah sesuatu yang dibentuk secara linguistik, produk akal manusia yang idealistis dan 4) konsekuensinya, kebenaran dan penegtahuan tentang alam, tidak ditemukan (dicovered) dan pasti, tapi diciptakan (invented) dan relatif.

Adapun realisme kritis (critical realism) menerima realitas objektif dan kemungkinan diperoleh ilmu yang dapat dipecaya tentangnya, bahkan juga mengakui adanya presupposisi yang menyertai manusia ketika mereka mengetahui sesuatu yang mendorong pembahasan kritis tentang esensi pengetahuan seseorang tentang itu. Proposisi aliran ini ada empat 1) realitas objektif dan endenpenden itu ada 2) ciri-ciri realitas ini adalah tetap dan independen dari pengamat 3) seseorang yang tahu, memiliki kemampuan kognitif yang dapat dipercaya untuk mengetahui realitas yang tetap ini, namun pengaruh presupposisi dan pandangan hidup serta tradisi menjadi prasyarat dan merelatifkan proses mengetahui itu dan 4) karena itu kebenaran dan pengetahuan tentang alam, sebagiannya ditemukan dan pasti dan sebagian yang lain diciptakan dan relatif.

Metode menegatahui dalam tradisi intelektual Barat seperti yang dipaparkan di atas dan juga metode-metode lain seperti metode rasional, empiris, dan kombinasi antara realisme, idealisme dan pragmatisme sebagai asas-asas kognitif mempunyai kesamaan dengan tradisi keilmuan Islam. Namun, kesamaan dengan realisme kritis dan juga metode-metode lain hanya dalam aspek-aspek eksternal saja. Keduanya menggunakan medium yang sama untuk mengetahui, seperti panca indera eksternal yakni indera raba, bau, rasa, lihat dan dengar, dan panca indera internal seperti indera umum, representasi, estimasi, retensi, rekoleksi, dan imaniginasi. Keduanya sama-sama bersandar pada akal sebagai alat dan sumber pengetahuan. Selain itu realisme kritis menggunakan pandangan hidup (worldview) untuk mengetahui sesuatu dan tidak bisa menerima realisme karena menafikan kaitan antara worldview dengan realitas dan juga berseberangan dengan anti-realisme yang melepaskan pandangan hidup dan kepercayaan dari realitas. Realisme kritis menggabungkan objektifisme dan subjektifisme, mengakui alam nyata dan juga realitas manusia yang ingin mengetahui alam. Tidak sepenuhnya percaya pada kemampuan kognitif manusia, tapi mengakui apa yang bisa dilakukan dan apa yang tidak bisa dilakukan oleh manusia.

Perbedaan yang nampak pada prinsip epistemologis yang dilatarbelakangi oleh pandangan hidup. Jika realisme kritis mencoba menengahi cara pandang realisme dan anti-realisme,c ara pandang dalam pandangan hidup Islam telah bersifat tawhidi (integral), tidak dichotomis, tidak membedakan antara subjektif-objektif , tektual-kontekstual, historis-normatif, dsb. Prinsip epistemologi tentang kesatuan subjektif-objektif dalam Islam, misalnya, berdasarkan pada konsep manusia dalam Islam bahwa jiwa manusia itu bersifat kreatif dan dengan persepsi, imaginasi dan intelegensinya ia berpartisipasi dalam membentuk dan menerjemahkan dunia indera dan pengalaman inderawi dan dunia imaginasi. Artinya ketika seorang subjek yang memiliki pandangan hidup Islam akan melihat objek sesuai dengan prinsip-prinsip ontologi dan kosmologi dalam Islam dan akan memahami objek itu dengan cara pandangnya sebagai seorang muslim. Cara pandang yang dichotomis dalam cara berpikir barat tidak dapat diterima dalam epistemologi Islam karena ia memisahkan dua hal yang saling berhubungan yang mengakibatkan timbulnya paham-paham ekstrim seperti materialisme dan idealisme atau metodologi-metodologi yang sama ekstrimnya seperti empirisisme, rasionalisme, realisme, nominalisme, pragmastisme dan lain-lain.

Perbedaan prinsip epistemologi lainnya menurut Prof. Naquib al-Attas adalah dalam masalah sumber ilmu pengetahuan. Islam menerima wahyu sebagai sumber ilmu pengetahuan tentang Realitas dan kebenaran tertinggi. Penerimaan ini, yang sudah tentu disertai pada keimanan pada Tuhan, mempengaruhi cara pandang muslim terhadap benda-benda ciptaan dan Penciptanya. Cara pandang inilah yang memberi kira asas bagi framework metafisis yang dapat menjelaskan filsafat sains sebagai sistem integral yang mengambarkan realitas dan kebenaran. Hal ini berarti dalam Islam, ilmu pengetahuan itu berasal dari Allah dan selain melalui media panca indera dan akal yang sehat, ia diperoleh dari berita yang benar dari sumber yang otoritatif dan intuisi. Dengan kata lain epistemologi dalam Islam berkaitan erat dengan struktur metafisika dasar Islam yang telah terformulasikan sejalan wahyu, hadith, akal, pengalaman, dan intuisi.

Jika sumber ilmu pengetahuan dalam Islam adalah dua jenis kitab yaitu wahyu Al Qur’an sebagai kitab tertulis dan alam semesta sebagai kitab tidak tertulis, maka pada keduanya terdapat ayat-ayat yang perlu dipahami dengan metodologi masing-masing. Al-Attas memperkenalkan suatu analogi metodologis antara bahasa wahyu dan bahasa penciptaan dengan ilmu alat yang disebut ta’wil dan tafsir. Seperti halnya kitab Al Qur’an, alam semesta ini juga mempunyai ayat-ayat yang jelas dan pasti (muhkamat) dan ada pula ayat-ayat mutasyabihat (ambigu). Untuk memahami ayat-ayat yang jelas dan pasti dipergunakan metode tafsir, sedangkan untuk memahami ayat-ayat yang ambigu digunakan metode ta’wil. Dalam pandangan Al Attas tafsir bukanlah pemahaman yang final, ia masih memerlukan ta’wil agar makna lebih umum dna lebih tinggi dapat diperoleh.

Jika metode ini diterapkan dalam memahami realitas fisik dan spiritual, maka pemahaman realitas fisik yang bersifat empiris melalui metode tafsir itu dikembangkan dengan metode pemahaman dengan menggunakan metode ta’wil. Jadi metode ta’wil adalah perluasan intensif dari tafsir dan tidak pernah berlawanan, sebab ta’wil harus didasarkan pada tafsir. Yang pasti tafsir adalah syarat bagi ta’wil, jika tafsir terhadap suatu objek itu benar maka ta’wilnya akan benar pula. Penggunaan metode ini menurut Al Attas berkaitan dengan konsep realitas dalam Islam. Realitas memiliki beberapa tingkatan dari realitas yang artinya terbukti dengan sendirinya (self evident) oleh adanya pengalaman langsung indera hingga makna-makna yang abstrak yang meningkat menjadi makna yang tidak dapat diindera kecuali dengan intuisi. Dalam hal ini Al Attas menyatakan:

“… di sana ada sesuatu yang makna sesungguhnya tidak dapat ditangkap oleh intelek;dan mereka memiliki ilmu yang dalam menerima itu semua apa adanya melalui kepercayaan yang kita sebut iman. Ini adalah pandangan yang benar; artinya di sana ada batasan-batasan dalam makna sesuatu dan tempat sesuatu itu terikat secara mendalam dengan batasan kepentingan.”

Islam mengkombinasikan antara metodologi rasionalisem dan empirisisme, tapi dengan tambahan wahyu sebagai sumber ilmu pengetahuan tentang sesuatu yang tidak dapat di jangkau oleh metode empiris-rasional tersebut. Jadi meskipun dalam aspek rasionalitas dan metodologi pencarian ilmu dalam Islam memiliki beberapa kesamaan dengan Barat, namun secara mendasar dibedakan oleh pandangan hidup. Oleh sebab itu metode filsafat Rasionalisme sekuler dan empirisisme filsafata dan sains modern yang merupakan produk pandangan hidup Barat tidak dapat dianggap sma dengan metode filsafat dalam Islam. Perbedaan utamanya terletak pada asumsi dasar keduanya, dan asumsi dasar itu dipengaruhi oleh konsep-konsep kunci dalam pandangan hidup masing-masing seperti misalnya konsep tentang alam, manusia, ilmu, nilai, kehidupan dan sebagainya.

Meskipun pengaruh pandangan hidup terhadap epistemologi sangat besar, namun pengaruhnya terhadap setiap disiplin ilmu berbeda-beda. David K. Naugle dalam karyanya “Worldview, History of Concept” menyatakan:

“Implikasi epistemologis dari pandangan hidup berbeda-beda pada setiap disiplin ilmu. Pandangan hidup nampak kuran berpengaruh (tidak untuk mengatakan tidak berpengaruh) dalam apa yang disebut ilmu eksak dan formal, tapi lebih banyak berepengaruh pada ilmu humaniora, ilmu sosial dan seni halus.”

David juga menjelaskan impak asumsi-asumsi pandangan hidup nampak lebih berkurang dalam praktek ilmu kimia dibanding ilmu sejarah, misalnya, dan bahkan lebih kurang lagi dalam bidang mathematika dibanding filsafat. Kecuali jika pembahasan menyangkut filsafat kimia atau matematika, karena yang dibahas bukan soal praktek ilmu ini tapi mengenai prinsip-prinsip utamanya atau filosofinya. Dalam kasus ini peran pandangan hidup sangat penting. Jika pandangan hidup tidak banyak berpengaruh terhadap sains keras (hard science) maka unsur realisme meningkat dan diskusi kritis mengenainya berkurang secara proporsional. Ketidaksepakatan di antara para praktisi bidang sains keras ini juga kurang meskipun mereka berbeda pandangan hidup.

Perlu Revitalisasi Negara Kebangsaan

Posted on

Pengukuhan Prof Kaelan: Perlu Revitalisasi Negara Kebangsaan

Proses pembaharuan yang dilakukan negara untuk mewujudkan mesyarakat yang demokratis telah terdistorsi ke dalam kancah kekerasan politik, sehingga melahirkan penderitaan baru. Bahwa kesesatan dan kekeliruan dalam memaknai tujuan negara dalam reformasi, telah memberikan peluang kalangan birokrat dan politisi untuk mengembangkan kekuasaannya, sehingga panggung politik di Indonesia lebih diwarnai tarik-ulur kekuasaan, dan bukannya memberikan prioritas pada terwujudnya kesejahteraan masyarakat sebagai esensi dari welfare state.

Demikian sari pidato Prof Dr Kaelan MS saat dikukuhkan sebagai Guru Besar Fakultas Filsafat UGM, hari Selasa, (10/7), di ruang Balai Senat UGM. Dirinya menyampikan pidato berjudul “Kesesatan Epistemologis di Era Reformasi dan Revitalisasi Nation State”.

Kata Prof Kaelan, fakta-fakta menunjukkan bahwa reformasi tidak berdasar pada core philosophy bangsa, sehingga membawa pada krisis negara berkepanjangan. Bahwa konflik kekerasan, terorisme, konflik etnis, ras, suku, golongan, dan agama di negeri ini telah membawa korban anak-anak bangsa yang tidak berdosa.

“Kesemuanya itu dikarenakan kesesatan dan kekacauan dalam memaknai dasar filsafat negara Pancasila yaitu Teositas, Humanitas, Nasionalitas, Demokrasi dan Keadilan Sosial, yang merupakan etos perekat kehidupan kebangsaan yang religius dan beradab. Dasar filsafat negara ini merupakan hasil konsensus kehidupan kenegaraan untuk mewujudkan negara yang modern, demokratis, konstitusional untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera,” ujar pria kelahiran Magetan, 27 Januari 1946 ini.

Era global yang melanda seluruh bangsa di dunia, kata Prof Kaelan, telah membawa Indonesia kearah runtuhnya negara kebangsaan (nation state), lunturnya nasionalisme, persatuan dan kesatuan, dan kepribadian Indonesia yang merupakan local wisdom atau karya besar bangsa.

Oleh karena itu, agar bangsa Indonesia dapat mewujudkan suatu masyarakat demokratis, religius dan berkeadaban di dalam proses reformasi di era global saat ini, maka harus dilakukan revitalisasi negara kebangsaan (nation state) Indonesia yang fondasinya telah diletakkan diatas dasar filosofi negara. “Selain itu, dalam konteks kenegaraan saat ini, para birokrat dan elit politik lainnya seharusnya mengembangkan sikap komunikasi politik yang didasari moralitas, nilai-nilai agama dan keadaban agar terwujud masyarakat sejahtera atas dasar kebersamaan,” tandas suami Purwaningsih ini dalam pidatonya. (Humas UGM).

Sumber: http://www.ugm.ac.id/index.php?page=rilis&artikel=819

Teristimewa Bagi Aktivis Perempuan

Posted on Updated on

Zaman saat ini sulit untuk dicerna oleh akal sehat. Banyak hal-hal yang sebenarnya aneh namun telah menjadi suatu hal yang biasa dilakukan oleh masyarakat Indonesia.

Perkembangan pemikiran dewasa ini, juga mendaftarkan suatu pemikiran baru yang mencoba untuk mengembalikan hak-hak perempuan yang selama ini ditenggarai telah direndahkan dan diabaikan oleh sistem sosial yang ada. Perlakuan diskriminatif terhadap perempuan telah mendapat perhatian yang cukup besar bagi kalangan aktivis perempuan yang secara ideologis terpengaruh oleh paham feminisme.

Menarik ketika mencermati sepak terjang yang dilakukan oleh aktivis perempuan ini. Mereka banyak mengusung wacana kesetaraan jender, kekerasan rumah tangga, dan ajaran-ajaran agama yang menurut mereka telah melegalisasi penindasan terhadap perempuan. Salah satu kasus yang mendapat perhatian sangat intens dari aktivis ini adalah masalah poligami. Menurut mereka poligami adalah salah satu bentuk perlakuan tidak adil agama terhadap perempuan.

Namun, ada satu hal yang mungkin dilupakan oleh aktivis perempuan. Mereka cendrung menganggap budaya patriakhi sebagai penyebab atas penindasan terhadap perempuan. Mereka seakan menutup mata atas suatu fenomena yang saat ini luar biasa mengejala di masyarakat perempuan terkait dengan masalah pakaian. Sekarang ini kita disungguhnya pemandangan yang “menstimulan” syaraf penglihatan oleh perempuan-perempuan yang memakai pakaian serba ketat dan serba kekurangan. Sehingga kita bisa menyaksikan secara leluasa lekuk tubuh dari seorang wanita meskipun oleh mengenakan pakaian. Puser yang tampak, celana dalam yang tampak bukanlah suatu yang membuat mereka risih. Malah sebaliknya, mereka begitu bangga memperlihatkan tubuh mereka kepada siapapun, termasuk laki-laki. Kenyataan ini telah mewabah luar biasa.

Pada dataran yang lebih tinggi, kontes-kontes pemilihan putri Indonesia, miss Word, Miss Universe, perlombaan cover girl dan bintang media, yang menonjolkan aspek kecantikan seorang wanita menjadi sasaran yang dijadikan sebagai jenjang pencapaian oleh para wanita.

Yang menjadi pertanyaan penulis adalah kenapa para aktivis perempuan tidak melihat ini sebagai bentuk pelecehan terhadap perempuan. Tidak pernah kita dengar aktivis perempuan melakukan pengkutukkan dan perlawanan terhadap kontes-kontes semacam ini dan tetap membiarkan produk pakaian kapitalis dan hedonis terus merasuk meninabobokan perempuan dalam jerat pamer kecantikan dan keindahan tubuh. Mengapa aktivis perempuan tidak melakukan perlawanan terhadap praktek-praktek prostitusi dan pacaran yang akan menjadikan perempuan sebagai pelampiasan seks para pria. Mengapa aktivis perempuan tidak menyerukan penutupan tempat-tempat hiburan yang menjadikan wanita sebagai daya tarik dan objek eksploitasi.

Memang mereka tidak akan bersuara untuk itu. Karena mereka bukanlah aktivis perempuan sejati. Mereka hanya menginginkan kepopuleran bukan sebuah perbaikan yang signifikan. Mereka menyalahkan sistem, tapi tak melakukan upaya penyadaran yang serius terhadap perempuan akan harga diri dan martabat mereka. Atau jangan-jangan mereka adalah bagian dari kapitalis itu sendiri yang menjadikan agama sebagai musuh utama, karena agama telah menghambat laju kapitalis dalam meraih keuntungan. Karena agama membuat orang independen dan tidak terpengaruh oleh tendensi ekonomi yang itu sangat dibenci oleh kapitalis. Oleh karena itu, tidak salah kenapa saat seorang alim ulama kenamaan Indonesia melakukan poligami, mereka menyerukan untuk menolak dan mencela pelaku poligami. Sedangkan ketika kontes cantik-cantikan mereka diam seribu bahasa.

Akhirnya kita akan mengetahui siapa mereka sebenarnya…
Mereka hanyalah aktivis perempuan gadungan…

Konsep Para Filsuf tentang Manusia

Posted on Updated on

A. KONSEP ARISTOTELES ANIMAL RATIONALE

Manusia adalah “animal rationale”.Karena, menurutnya, ada tahap perkembangan:

  • Benda mati -> tumbuhan -> binatang -> manusia.
  • Tumbuhan = benda mati + hidup —-> tumbuhan memiliki jiwa hidup.
  • Binatang = benda mati + hidup + perasaan —-> binatang memiliki jiwa perasaan.
  • Manusia = benda mati + hidup + akal —-> manusia memiliki jiwa rasional.

Materi (“Hyle”, “matter”) seakan-akan menyediakan “kemungkinan” (Yunani: “dynamis”, Latin: “potentia”) untuk pengejawantahan bentuk dalam setiap individu dengan cara yang berbeda-beda. Bentuk dalam hal makhluk hidup diberi nama “jiwa” (Yunani: “psyche”, Latin: “anima”), yang berlaku sama saja untuk tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia. Hanya jiwa manusia yang mempunyai kedudukan istimewa, karena manusia berkat jiwanya yang khas itu tidak hanya sanggup “mengamati” dunia di sekitar secara inderawi, tetapi sanggup juga “mengerti” dunia maupun dirinya. Di samping itu adalah karena jiwa manusia dilengkapi “nous” (Latin: “ratio” atau “intellectus”) yang menerima, dan malahan mengucapkan “logos” (sabda, pengertian) yang pada gilirannya menjelma dalam sabda-sabda “jasmani” yang diberi nama bahasa.

Manusia adalah makhluk yang berakal budi. Dengan akal budi itulah ia dapat berpikir dan mengambil tindakan.

Manusia adalah makhluk yang rasional. Puncak perbuatan kesusilaan manusia terletak dalam “pikiran murni”. Kebahagiaan mnausia yang tertinggi adalah “berpikir murni”. Tetapi, puncak itu hanya dapat dicapai oleh para Dewa. Manusia hanya dapat mencoba mendekatinya dengan mengatur keinginannya.

Manusia itu bukan serigala, melainkan ia adalah makluk yang berpikir ( animal rationale). Artinya, dengan pikirannya ia mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk dalam tindakannya. Dengan pikirannya pula, ia bisa mengatasi naluri kebinatangannya dan bertindak lebih menusiawi. Berbekalkan akal budinya aksinya bukan hanya merupakan actus hominis dalam arti gerakan-gerakan yang hanya dikuasai oleh hukum-hukum biologis, melainkan merupakan actus humanus dalam arti tindakannya sarat dengan pertimbangan-pertimbangan nilai.

B. TEILHARDIN de CHARDIN MENJELASKAN MANUSIA SAMPAI PADA CO- REFLEXSION

Chardin menggali sejarah manusia purbakala dan berhasil membuktikan bahwa proses evolusi berjalan dengan empat tahap. Ditentukan juga bahwa seluruh alam semesta terisi dengan kekuatan Allah, yang menyusun kekacauan dunia menjadi lebih teratur

Teori ini sesuai dengan kisah Kejadian dari Kitab Suci. Dikatakan oleh Teilhard de Chardin bahwa seluruh evolusi berjalan dalam dengan kekuatan Ilahi tahap demi tahap dengan empat tahap. Sesudah setiap tahap terjadi loncatan karena proses evolusi tidak berjalan lurus.

Pada tahap pertama hanya ada zat anorganik yang terdiri dari zat dan benda mati, seperti garam dan logam. Zat anorganik ini menjadi semakin kompleks dan tersusun banyak kombinasi bahan anorganik seperti garam susunan baru.

Pada suatu saat terjadi loncatan tingkat kalau susunanan organik diteruskan menjadi susunan organik. Molekul-molekul anorganik menyusun sel yang hidup dan bisa berkembang biak. Dunia organik yang serba baru dan berbeda mulai juga berkembang dan menjadi semakin kompleks.

Pada permulaan ada makhluk hidup yang paling sederhana sebagai tumbuhan, yang semakin berkembang menjadi tumbuhan yang makan seranga, dsb. Tumbuhan berkembang menjadi binatang sederhana, yang semakin kompleks dan akhirnya menjadi binatang menyusui dengan DNA yang khas bagi setiap individu.

Sesudah peningkatan dunia anorganik menjadi dunia organic terdapat loncatan baru kalau binatang menyusui menjadi manusia. Pada saat itu binatang menyusui mendapat kesadaran rohani dan tangung-jawab dan bisa mengenal diri sendiri. Pada tahap evolusi ini mulai juga berkembang sifat-empati yang manusiawi.

Pada tingkat kebinatangan sudah ada yang dinamakan instink, tetapi binatang tidak sadar memiliki instink. Manusia menyadari instink ini dan menikmati empati. Dengan rasa empati bisa disadari perasaan orang lain. Manusia bisa bergaul dengan sesama manusia dari hati ke hati.

Pada tahap ketiga ini dari evolusi terjadi manusia sebagai makhluk yang bisa mengenal diri sebagai ciptaan Tuhan dan mengenal Tuhan juga dari hati ke hati. Pengalaman Tuhan ini tidak masuk akal, tetapi hanya bisa ditangkap secara empatis dengan isi hatinya

Menurut Teilhard tahap manusiawi ini belum lengkap juga dan proses evolusi jalan terus dengan meloncat ke tahap keempat sehingga menjadi manusia ilahi

Intuisi berarti pengertian yang menembus kedalam keadaan, dan berasal dari istilah Latin, “intueri”, melihat kedalamnya. Empati lebih bersifat ikut merasakan perasaan orang lain. Simpati merumuskan perasaan yang sama antara dua orang. baik Allah maupun manusia.

Manusia inilah yang boleh dinamakan manusia yang sepenuhnya segambaran dengan Allah. Kristus yang sebagai manusia bisa bangkit dari maut kematian merupakan titik akhir dari proses evolusi. Dengan titik evolusi Kristus ini setiap manusia bisa menikmati gambaran Tuhan sepenuhnya sebagai “alter-Christus”, sebagai seorang Kristus yang lain. Permulaan proses evolusi sebagai dunia anorganik oleh Teilhard dinamakan titik Alfa dan puncak evolusi sebagai manusia yang bangkit bersama Kristus disebut titik Omega. Maka proses evolusi menurut Teilhard berjalan dari titik Alfa ke titik Omega. Pada titik Omega kekuatan empatis memuncak dan menjadi pengetahuan yang bisa mengatasi keterbatasan panca indera dan akal dan bisa “melihat” sesama dan Tuhan dari hati ke hati.

Menurut Teilhard dari saat permulaan semuanya dialam semesta sudah dijiwai oleh kehidupan ilahi dan diinspirasi oleh Tuhan, sebab dari permulaan ciptaan yang masih gelap dan kosong sudah digerakkan oleh hidup ilahi. Sebab kalau tidak didorong dari dalam bagaimana bisa berjalan proses evolusi? Kalau tidak bagaimana garam atau zat besi, mangan, carbon, dsb bisa menjadi bahan kehidupan manusia dan bisa diasimilasi dalam darah manusia? Kalau saya tidak makan garam, langsung pingsan dan sembahyangpun tidak bisa. Dan, bagaimana manusia bisa bangkit seperti Kristus kalau dari permulaan belum ada bibit ilahi. Tetapi, baru pada tahap manusia Ilahi kekuatan Allah sebagai pengalaman Tuhan dan empati Ilahi bisa memuncak. Baru manusialah yang bisa menyadari kehidupan ilahi dalam dirinya sendiri dan mengalami cinta-kasih Allah secara empatis. Maka, empati ada sangkut paut dengan pengalaman Tuhan. Dunia ilmu pengetahuan mengembangkan empati global Selain teori evolusi dunia ilmu pengetahuan lain juga menyambung persoalan ciptaan bumi langit.

Menurut Teilhard, evolusi tidak maju secara mekanistis, tidak hanya karena seleksi dan mutasi, melainkan atas dasar kesadaran yang makin berkembang. Ia membedakan dalam setiap benda dua segi yang saling berjalin, yaitu segi luar dan segi dalam. Yang dimaksudkan dengan segi luar ialah seluruh struktur benda sejauh dapat diukur, diperiksa secara fisika-kimia. Yang dimaksudkan dengan segi luar ialah konsentrasi psikis, inti kecendrungan dari benda itu dan factor penyatuan. Konsentrasi psikis itu disebutnya “kesadaran”

Kesadaran tampak paling jelas dalam diri manusia, namun ada juga dalam binatang sebagai naluri dan perasaan, dalam tumbuh-tumbuhan sebagai hidup vegetatif. Sedangkan dalam “benda mati”, kesadaran itu menjadi tipis. Segi luar dan segi dalam tidak merupakan dua bagian yang berlainan dalam satu benda, melainkan dua sudut, dua wajah dari kenyataan yang sama, sehingga tidak dapat dipisahkan.jadi, benda bukanlah semacam kumpulan atom-atom yang berjajaran secara mekanis saja, melainkan merupakan kesatuan atom-atom dan molekul-molekul dengan daya inovasi (ingeniosite) dan kecendrungan tertentu. Kecendrungan, kesadaran itu adalah kunci evolusi.

Makin kompleks, makin kaya segi luar, yaitu kumpulan, kombinasi molekul-molekul dalam suatu benda, makin padat dan kuat segi batinnya. Evolusi menuju struktur benda yang makin sempurna adalah sekaligus evolusi menuju kesadaran batin yang makin memusat. Sampai pada suatu saat, terjadilah loncatan yang maha penting dalam proses alam semesta, yaitu meningkatkan kesadaran naluriah menjadi kesadaran reflektif, kesadaran diri dalam jiwa manusia. Makin manusia sadar akan diri sendiri, dapat berkata “aku”, bisa merenungkan masa lampau dan merencanakan masa depan, bisa mengambil kesimpulan. Fase seperti ini terutama terasa dalam masa remaja. Para remaja mulai menginsafi perbedaan dengan orang tua, kakak-adik, teman-teman, menjaga jarak dari mereka dan sekaligus berusaha mengatur pergaulan dengan merekan secara baru untuk menjadi diri sendiri. Penjelmaan tidak hanya merupakan hasil proses biologis seperti kentara dalam perkembangan dan diferensiasi otak. Penjelasan biologis hanya menyelami segi luar manusia (yang bisa diukur dan diperiksa), sedangkan perbedaan hakiki dari binatang tidak dimengerti. Menurut paham ini Teilhard, merumuskan hukum evolusi (loi de complexite et de conscience): makin kompleks benda, makin besar konsentrasi batin. Ditambahkannya, makin padat konsentrasi batin-kesadaran, makin bebas, makin merdeka.

C. TESIS PARA FILSUF TENTANG MANUSIA

1. John Wild

Ia mengawali uraiannya tentang manusia dengan menunjukkan hakekat rangkap yang dipunyai manusia. Apabila orang memperhatikan dirinya sendiri atau manusia lain, ia akan menyadari terdapat segi fisik dan segi yang tidak bersifat material, yang bersifat akali. Manusia makhluk yang bersifat material, terbukti dari keadaan dirinya yang terkena oleh perubahan dan individuasi. Selain dari itu, manusia, individu, mempunyai kualitas-kualitas fisik, seperti bangun tubuh, warna , bobot, dan menempati ruang dan waktu bersama-sama dengan segala sesuatu yang lain yang bereksistensi dan terdapat di alam.

2. Ernest Cassirer

Manusia adalah animal simbolikum. Manusia ialah binatang yang mengenal simbol, misalnya adat-istiadat, kepercayaan, dan bahasa. Inilah kelebihan manusia jika dibandingkan dengan makhluk lainnya. Itulah sebabnya manusia dapat mengembangkan dirinya jauh lebih hebat daripada binatang yang hanya mengenal tanda dan bukan simbol.

3. Plato

Dalam pemikirann Plato, seorang pribadi merupakan bagian dari dunia fisik dalam pengertian bahwa ia mempunyai tubuh yang melaluinya dia menerima impresi-impresi indrawi. Tetapi, pada waktu yang sama ia mempunyai budi rohani yang mampu mengetahui kebenaran-kebenaran abadi yang mengatasi dunia. Ia juga mempunyai daya mengarahkan, jiwa, yang digambarkan oleh Plato sebagai pengendara kereta, yang membimbing dan dibimbing oleh dua kuda, budi dan badan.

Budi ingin menjelajahi kawasan surgawi dari ide-ide memahami mereka; badan ingin terlibat dalam masalah-masalah duniawi yang berkaitanm dengan indera. Jiwa manusia terperangkap antara dua kekuatan yang berlainan ini. Jiwa mencoba mengarahkan, tetapi terperangkap dalam penjara badan. Maka, menurut Plato, manusia tidak mempunyai kebebasan nyata bila hidup mereka dipusatkan pada tuntutan-tuntutan fisik. Namun, jiwa manusia dapat membebaskan diri dari belenggu ini dan mengarahkan hidup, baik di lingkungan fisik maupun kegiatan-kegiatan intelektual. Tetapi, ini terjadi hanya setelah eksistensi badani sehingga jiwa naik ke dunia abadi, Ide-Ide. Bagi Plato, jiwa dan badan merupakan dua hal berbeda. Jiwa itu immortal, abadi; dia mendiamni badan yang sementara.

4. Jean- Paul Sartre

Eksistensi mendahului esensi adalah bahwa pertama-tama manusia itu eksis (ada, hadir), menjumpai dirinya, muncul (Inggris: surges up; Jawa: mentas) di dunia dan baru setelah itu mendefinisikan dirinya itu siapa. Jika manusia sebagai eksistensialis melihat bahwa dirinya itu belum ditentukan. Hal itu adalah karena pada permulaannya dia itu memang bukan apa-apa (nothing). Dia tidak akan menjadi apa-apa sampai tiba saatnya ketika ia menjadi apa yang ia tentukan sendiri. Oleh karenanya, tidak ada itu yang dinamakan kodrat manusia, sebab tidak ada Allah yang mempunyai konsepsi tentang dia (manusia).

Inilah prinsip pertama dari eksistensialisme. Manusia tak lain tak bukan adalah dia yang menentukan dirinya sendiri mau menjadi apa. Apakah pandangan ini tidak terlalu subyektif? Lalu, di mana tempat orang lain dalam eksistensi si individu itu? Bagaimana dengan hal-hal tertentu yang tidak bisa kita tentukan sendiri misalnya: kita lahir di mana, dalam keluarga apa, dibesarkan dalam lingkungan berbahasa apa, dan macam-macam hal lainnya?.

Mengenai subjektivitas ini, Sartre mengakuinya. Namun, bukan subjektivitas sebagaimana dimaksud oleh para pengkritiknya. Subjektivitas yang dimaksud Sartre dalam pengertiannya tentang eksistensi, bahwa manusia itu mempunyai martabat yang lebih luhur daripada, katakanlah, batu atau meja. Subjektivitas yang dimaksud Sartre adalah bahwa manusia pertama-tama eksis. Bahwa manusia adalah manusia (man is), sesuatu yang mendesak, bergerak maju menuju masa depan dan bahwa ia menyadari apa yang ia lakukan itu. Jika memang benar bahwa eksistensi itu mendahului esensi, maka manusia itu bertanggungjawab atas mau menjadi apa dia (what he is). Inilah dampak paling pertama dari eksistensialisme, bahwa manusia dengan menyadari bahwa kontrol berada penuh di tangannya, ia memikul beban eksistensinya itu, yaitu tanggungjawab, di pundaknya. Namun hal ini tidak lantas berarti bahwa ia bertanggungjawab hanya atas individualitasnya sendiri. Melainkan, bahwa ia bertanggungjawab atas semua umat manusia. Kita tentu bertanya, bagaimana bisa demikian?

Untuk menjawab ini, Sartre mengadakan dua distingsi atas subyektivisme. Pengertian yang pertama adalah kebebasan subjek individu. Pengertian kedua adalah bahwa manusia tidak bisa melampaui subjektivitas kemanusiaannya (human subjectivity). Pengertian kedua inilah yang pengertian yang lebih mendalam dari eksistensialisme. Pengertian yang kedua inilah yang memberikan gambaran kepada kita mengenai sifat dasar manusia yang kreatif, yang terus menerus mencipta dan menjadi apa yang dia inginkan. Mencipta ini berarti juga memilih dari sekian banyak kemungkinan-kemungkinan yang terbentang luas di hadapannya. Memilih antara ini atau itu pada saat yang bersamaan juga berarti mengafirmasi nilai dari apa yang dipilih. Dan, yang kita pilih itu tentu apa yang kita anggap lebih baik, dan yang lebih baik bagi kita tentu juga kita anggap baik untuk semua. Tanggung-jawab kita lantas terletak pada kualitas pilihan kita ini. Pilihan-pilihan yang kita buat itu menyangkut kemanusiaan sebagai suatu keseluruhan. Berangkat dari pengertian ini, kita siap memasuki dimensi kedua dari eksistensialisme yang mau dibuktikan Sartre dalam tulisannya yaitu tentang humanisme.

Dalam pandangan Sartre, yang membedakan humanisme-nya dengan humanisme yang sudah digagas oleh banyak filsuf yang mendahuluinya terletak pada radikalitasnya. Nilai humanisme pada era sebelumnya oleh Sartre dianggap belum radikal karena masih mengandaikan adanya nilai-nilai yang ditentukan dari luar diri manusia itu sendiri, entah itu Tuhan, Realitas Tertinggi, ataupun norma-norma buatan manusia yang dilanggengkan. Individu tidak mendapatkan tempat untuk menciptakan sendiri nilai-nilai yang ia percayai dan yang ia libati (engagement). Baginya, tidak akan ada satu perubahan apapun jika kita masih menganggap bahwa Tuhan itu ada. Kita seharusnya menemukan kembali norma-norma seperti kejujuran, kemajuan, dan kemanusiaan. Untuk itu Allah harus dibuang jauh-jauh sebagai sebuah hipotesis yang sudah usang dan yang akan mati dengan sendirinya. Bagi Sartre, mengutip Dostoevsky, “Jika Allah tidak eksis, maka segala sesuatu akan diizinkan”. Inilah titik berangkat dari eksistensialisme yang diacu Sartre.

Manusia lantas tidak bisa lagi menggantungkan dirinya erat-erat pada kodrat manusia yang spesifik dan tertentu. Tidak ada determinisme. Manusia itu bebas, manusia adalah bebas. Tidak ada lagi excuse, manusia ditinggalkan sendirian. Manusia dikutuk, terhukum untuk menjadi bebas. Terkutuk, sebab ia tidak menciptakan dirinya sendiri namun sungguh-sungguh bebas. Dan, terhitung sejak ia terlempar ke dunia ini ia bertanggungjawab atas segala sesuatu yang ia lakukan. Action (tindakan), itulah kata kunci yang mau ditunjukkan Sartre kepada kita guna memberi makna pada kemanusiaan. Action dan bukan quietism. Dengan kata lain, “Man is nothing else but what he purposes, he exists only in so far as he realises himself. He is therefore nothing else but the sum of his actions, nothing else but what his life is”. Jadi, jelas di sini bahwa realisasi diri manusia lewat tindakan adalah yang sesungguhnya membuat dirinya menjadi manusia.

Namun, tindakan ini jangan dimengerti sebagai tindakan tunggal pada saat tertentu saja. Tindakan di sini dimengerti sebagai totalitas dari rangkaian tindakan-tindakan yang sudah, sedang, dan akan dilakukannya sepanjang hidupnya. “A man is no other than a series of undertakings that he is the sum, the organisation, the set of relations that constitute these undertakings”. Lewat itulah muncul apa yang kita sebut komitmen. “I ought to commit myself and then act my commitmen”. Dan, komitmen itupun perlu dipahami sebagai komitmen total dan bukan komitmen kasus-per-kasus atau tindakan tertentu. Inilah yang membedakan Humanisme Sartre dengan humanisme sebelumnya. Konsepsi humanisme Sartre tidak hanya bermain di level abstrak-spekulatif, namun lebih pada etika tindakan dan self-commitment.

Konsepsi humanisme Sartre yang kedua menyangkut martabat manusia itu sendiri, satu-satunya hal yang tidak membuat manusia menjadi sebuah objek. Dengan mengkritik materialisme yang mendasarkan segala realitas (termasuk manusia di dalamnya) pada materi, Sartre mau membangun kerajaan manusia (bukan Kerajaan Allah!) sebagai sebuah pola dari nilai-nilai yang berbeda dari dunia materi. Subyektivitas, sebagaimana sudah disinggung pada bagian satu di atas tidak bisa dipersempit artinya menjadi individual subjectivism. Sebabnya apa? Meminjam istilah yang digunakan Descartes, namun sekaligus mengoreksinya, dalam kesadaran cogito, aku berpikir, tidak hanya diri sendiri yang ditemukan namun juga orang lain. Manusia tidak bisa menjadi apapun kecuali, kalau orang lain mengakui (bukan menentukan) dirinya secara demikian. Penyingkapan jati diriku pada saat yang bersamaan berarti penyingkapan diri orang lain sebagai sebuah kebebasan yang berhadapan dengan kebebasanku. Berhadapan baik dalam artian “bagi” atau “melawan.” Dengan begitu, kesadaran akan diriku dalam dunia ini sifatnya adalah inter-subjectivity. Berkenaan dengan itu, meskipun menyangkal adanya kodrat manusia, Sartre mengakui adanya “a human universality of condition”. Human universality ini bukan sesuatu yang sudah jadi (given), namun yang harus senantiasa dibuat oleh manusia yang melakukan tindakan pemilihan lagi, dan lagi selama hidupnya.

Sartre sudah menekankan bahwa tidak ada Tuhan yang menciptakan nilai-nilai bagi manusia. Manusia sendirilah yang harus menemukan (invent dan bukan create) nilai-nilai bagi dirinya sendiri. Dan, penemuan nilai-nilai ini berarti bahwa tidak ada yang à priori dalam hidup. Hidup belumlah apa-apa jika belum dihayati. Dan, penghayatan ini, engkau sendirilah yang menetukannya. Dan nilai atau makna atas kehidupan ini tak lain tak bukan adalah sesuatu yang engkau pilih. Karenanya, menjadi jelas bahwa selalu ada kemungkinan untuk menciptakan sebuah komunitas manusia. Dengan itu, Sartre mau menegaskan bahwa yang ia maksud dengan humanisme di sini bukanlah humanisme dalam kerangka teori yang meninggikan manusia sebagai tujuan pada dirinya sendiri, dan
sebagai nilai tertinggi (supreme value). Bagi Sartre, ini humanisme yang absurd sebab hanya anjing atau kuda yang paling mungkin berada dalam posisi untuk melontarkan penilaian umum atas apa manusia itu. Seorang eksistensialis tidak pernah menganggap manusia sebagai tujuan pada dirinya sendiri sebab manusia masih harus ditentukan. Humanity yang absurd semacam ini akan menggiring manusia pada pengkultusan, suatu sikap tertutup-pada-dirinya-sendiri sebagaimana sudah dirintis oleh Auguste Comte (Comtian humanism), dan berpuncak pada Fasisme.

Pengertian humanisme yang diikuti Sartre adalah pengertian bahwa manusia adalah makhluk yang mampu mengejar tujuan-tujuan transenden. Karena. manusia adalah makhluk yang mampu melampaui dirinya sendiri, self-surpassing, dan mampu meraih obyek-obyek hanya dalam hubungannya dengan ke-self-surpassing-annya, maka ialah yang menjadi jantung dan pusat dari transendensinya (bukan dalam pengertian bahwa Tuhan adalah Yang Transenden, namun dalam pengertian self-surpassing). Dan, relasi antara transendensi manusia dengan subjektivitas (dalam pengertian bahwa manusia tidak tertutup dalam dirinya sendiri, melainkan selalu hadir dalam semesta manusia). Itulah yang disebut Sartre dengan “existential humanism”. Ini disebut humanisme karena mengingatkan kita bahwa manusia adalah legislator bagi dirinya sendiri; betapapun ditinggalkan (abandoned) ia harus memutuskan bagi dirinya sendiri. Bukan dengan berbalik pada dirinya sendiri, namun dengan mencari, sembari melampaui dirinya, tujuan yang berupa kemerdekaan atau sejumlah realisasi tertentu, manusia bisa sampai pada kesadaran bahwa dirinya adalah sungguh-sungguh manusia. Yang manusia butuhkan bukanlah bukti dari eksistensi Tuhan, namun penemuan dirinya kembali dan untuk memahami bahwa tidak ada satupun yang dapat menyelamatkan dirinya kecuali dirinya sendiri. Dalam terang pengertian inilah Sartre berani mengatakan bahwa eksistensialisme itu optimistis, bukan sebuah ajaran untuk menarik diri dari dunia ramai dan masuk ke pertapaan guna menemukan kedamaian jiwa, melainkan sebuah ajaran untuk bertindaksecara konkret dalam dunia nyata, dunia sehari-hari, dunia umat manusia.

5. Rene Descartes (1596-1650)

Filsuf terkenal dari Perancis, mendefinisikan manusia sebagai ‘animal rationale,’ binatang yang dapat berpikir, atau ‘a thinking being,’ makhluk yang berpikir. Sementara itu, berpikir diartikan sebagai kegiatan refleksif yang melibatkan otak sebagai organ pengendali semua panca indera, organ yang secara auto-refleksif melakukan fungsi perencanaan, penelaahan, pengambilan keputusan, dan pengkoordinasian terhadap
program-program kerja jasmani-rohani tubuh manusia. Salah satu program kerja yang paling penting adalah berpikir, melakukan penelaahan atas sesuatu topik yang biasanya muncul dari adanya rangsangan atau impulsi dari luar. Topik yang muncul tersebut bisa
jadi memerlukan penelahaan yang terkait dengan sebab-akibat, dengan kemungkinan pelaksanaannya atau terjadinya, dengan segi baik-buruknya atau untung-ruginya, dan/atau berbagai segi lain.

6. Martin Heidegger

Heidegger menyebut manusia dengan Dasein (ada di situ atau ada di sini). Dasein adalah khas manusia sebagai mahluk yang memiliki pengertian tentang Ada. Tiga sifat yang menandai keberadaan Dasein yaitu “faktisitas”, “eksistensialitas” dan “kemerosotan”. Faktisitas adalah kenyataan bahwa manusia, diluar kemauannya, terdampar di dunia dengan kondisi dan situasi tertentu. Faktisitas ini mengandaikan kebebasan eksistensial manusia untuk mewujudkan kemampuan dan menentukan diri, masuk ke eksistensialitas dimana manusia memikul tanggung jawab pribadi untuk membentuk hidupnya sendiri. Sedangkan “kemerosotan” adalah keadaan ketika manusia cenderung untuk menyesuaikan diri dengan dunia sekitar, akibat kurang penghayatan terhadap eksistensialitasnya. Di sini manusia tidak autentik lagi. Untuk mengatasi kemerosotan ini, menurut Heidegger, adalah dengan mengenal Angst (rasa takut tak berobyek). Angst dapat muncul jika manusia membuka diri bagi suara hati. Suara hati dapat mengingatkan manusia dari kelupaannya dan kembali menerima eksistensialitasnya sehingga kembali menjadi manusia autentik.

7. Augustinus

Augustinus memandang manusia sebagai ciptaan Allah. Dalam hal ini, ia menentang ajaran Neo-Platonisme yang tidak memakai istilah penciptaan (“creatio”), tidak membicarakan Allah sebagai Pencipta (“Creator”), dan yang tidak sanggup membedakan ciptaan dengan penciptanya (monisme yang bercorak panteisme). Menurut Augustinus, segala makhluk merupakan “vestigia Dei” (“jejak-jejak Allah”) yang memaklumkan bahwa “Allah telah lewat”. Manusia menjadi “vestigium Dei” sedemikian istimewa, sehingga disebut “imago Dei” (“citra Allah”). Manusia memantulkan siapa Allah itu dengan lebih jelas daripada segala ciptaan lainnya.

Dalam rangka itu, Augustinus menguraikan gejala manusia dengan memakai tiga istilah, yaitu mens – notitita -amor, sekali-kali juga memoria – intellectus – voluntas. Yang pertama, (“mens”, “memoria”) bukan hanya berarti ingatan saja, melainkan juga dasar segala kegiatan dan tindakan manusia sebagai makhluk yang sadar akan dirinya sendiri. Maka boleh dikatakan bahwa itu merupakan sumber kegiatannya, kekayaan dasarnya sebagai pribadi. Yang kedua, (“notitia”, “intellectus”) berkaitan dengan kegiatan pengetahuan. Yang ketiga, (“amor”, “voluntas”) menunjukkan kegiatan kehendak yang memuncak dalam cinta murni. Tritunggal seperti itu tidak asing dalam konteks pemikiran Neo-Platonisme dalam rangka irama keluar kembali berlingkaran, tetapi oleh Augustinus dalam De Trinitate, secara khusus hal tersebut dipergunakan untuk menggambarkan manusia sebagai ciptaan Allah sesuai dengan rumus yang ditemukannya dalam Kitab Suci Perjanjian Baru.

DAFTAR PUSTAKA

  • Dahler, Franz dan Eka Budianta. 2005. Pijar Peradaban Manusia Denyut Harapan Evolusi. Cetakan Kelima. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
  • Fridayanti. 2006. “Tentang Manusia dalam Perspektif Ilmu Barat”. Dalam Sejarah Ilmu Pengetahuan, http://arc.itb.ac.id/~aris/PRIVAT/galileo.
  • Redaksi. 2005. “Konsepsi Manusia: Tinjauan Umum pada Era Pramodernisme Modernisme dan Posmodernisme”. Dalam Suluk Blogsome, http://suluk.blogsome.com.
  • Redaksi.2006.“Heidegger”.http://www.freewebs.com/payung/coretcoretkehidupanku.htm
  • Redaksi. 2006. “Pemikiran Jean-Paul Sartre dalam Existentialism and Humanism”. Dalam Filsafat Kita, http://filsafatkita.f2g.net.
  • Smith, Linda dan William Raeper. 2004. Ide-Ide Filsafat dan Agama Dulu dan Sekarang. Cetakan Kelima. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Dimanakah Nurani Itu

Posted on Updated on

Dimanakah Nurani Itu.

Belum kering tangisan saudara kita di bumi Aceh dan Nias, bencana longsor, banjir, kasus sutet, kekerasan terhadap anak oleh orang tua, formalin-boraks dan berjuta kesengsaraan hidup yang setiap hari menjadi tontonan kita atau mungkin kita sendiri yang mengalami ini, menerpa bangsa ini.
Namun apa yang terjadi, kemaksiatan dan kedurhakaan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap saja berjalan. Ketika ada niat baik dari pemerintah dan wakil rakyat untuk membentengi bangsa ini dari tayangan-tayangan cabul-kebinatangan maka syaitan-syaitan berwajah manusia yang haus uang serta merta mencerca pemerintah. Dalih kebebasan, demokrasi, seni, hak privat dilontarkan untuk menghadang RUU anti pornografi dan pornoaksi disahkan menjadi UU.

Kita patut mengacungkan jempol dan menghargai anggota dewan yang terhormat ketika masih punya kepedulian terhadap masalah ini. Paling tidak mereka masih punya nurani dan kejernihan berpikir ditengah terpaan kasus korupsi, dan permainan politik kotor di dalam instiusi mereka sendiri.
Ya, benar-benar heran dengan tingkah pongah sebagian manusia Indonesia yang tidak setuju dengan RUU tersebut. Entah apa yang ada dipikirkan mereka. Bolehlah mereka itu mengaku intelektual, pembawa panji kebebasan atau sebagainya. Namun pada hakikatnya mereka itu bodoh bin pandir. Dalam hal ini mungkin masyarakat biasa tamatan SD saja akan setuju dengan RUU ini.
Ketika mereka berposisi sebagai penentang RUU pornografi dan pornoaksi berarti mereka menempatkan diri sebagai pro pornografi dan pornoaksi. Terserah dengan dalil dan celotehan apa yang mereka lontarkan. Memang benar ketika RUU itu telah disahkan menjadi UU belumlah menjamin negeri ini menjadi negeri yang suci. Tapi paling tidak sudah ada niatn baik untuk mengcover dan menyelamatkan anak-anak bangsa dari virus yang teramat berbahaya ini.

Coba saja tanyakan pada mereka-mereka penentang itu, bagaimana kalau suatu ketika saudara perempuan anda diperkosa oleh laki-laki bejat yang terinspirasi dari tontonan blue film. Dan maukah anda ibu, kakak, adik atau keluarga perempuan anda muncul dengan cantik di cover-cover majalah telanjang? Kalau jawaban ya, cuma satu pertanyaan yang tak perlu anda jawab, apakah anda manusia??

Mau seperti apalagi murka yang mau ditimpakan Allah untuk menyadarkan kita semua. Ketika tsunami menerjang Aceh, kita semua prihatin dan sedih tiada terkira. Berbondong kita memberikan sumbangan, rela kita diterbangkan ke sana terjun langsung menolong korban. Tapi seperti kesadaran kita hanya sampai di situ saja. Tidakkah kita berpikir, mengambil ibrah atas kejadian itu?? Tidakkah kita percaya bahwa musibah yang diitimpakan kepada umat manusia dikarenakan ulah manusia sendiri?? Atau kita sudah tak peduli dengan Tuhan, dan menantang Tuhan dengan mengejek Tuhan. Oo, ternyata murka Tuhan baru segini?

Entahlah saya tak mau menjudgement lebih jauh. Saya yakin masih ada orang yang benar-benar peduli dengan bangsa ini, masih banyak orang jernih nurani dan pikirannya dan masih banyak orang yang mau taat pada Tuhan. Dan saya yakin suatu kebusukan mau dibungkus dengan dalil, dan dibingkai dengan kata-kata mutiara tak akan menang melawan kebenaran.

Mersi, rabu 1 februari 2006

MEMBELA FILSAFAT (STUDI KRITIS TERHADAP FATWA “HARAMNYA FILSAFAT”

Posted on Updated on

I. Prolog

Sudah sangat lama penulis ingin membedah tentang fatwa dari sebagian ulama yang mengharamkan umat Islam untuk mempelajari filsafat, disamping mengharamkan filsafat itu sendiri. Fatwa ini penulis dapatkan semenjak semester awal kuliah di fakultas Filsafat UGM melalui sebuah artikel yang dicopy seorang teman dari situs internet http://www.salafy.or.id. Artikel itu telah menguncangkan kemantapan penulis untuk kuliah di Filsafat, sehingga membuat penulis “shock” dan berniat untuk pindah jurusan. Namun, karena ada beberapa hal, penulis tidak jadi pindah dari Filsafat UGM. Meski penulis telah memasuki tahun ke 5 di fakultas ini, tetap saja penulis masih dihantui oleh fatwa “haramnya” filsafat. Tapi, ada satu hal yang masih menganjal bagi penulis, mengapa fatwa itu muncul ?. Bukankah filsafat hanyalah menuntun orang untuk berpikir secara logis dan jernih. Dan apa yang penulis pelajari di perkuliahan hanyalah teori-teori pemikiran yang disampaikan oleh orang-orang yang “tercerahkan” sepanjang sejarah dari seluruh dunia. Apakah Islam melarang umatnya untuk berpikir sistematis, logis, komprehensif dan mendalam untuk memahami sesuatu ?.

Kegelisahan ini menurut penulis harus ada jawabannya dan jalan keluarnya. Dengan mengumpulkan beberapa literature tentang keberadaan filsafat, baik itu yang kontra maupun yang membela, penulis mencoba untuk memberikan dan merumuskan suatu sikap yang objektif dalam meletakkan posisi filsafat dalam tradisi keilmuan Islam.

II. Filsafat itu Haram

Untuk bagian pertama, penulis akan memaparkan tentang pendapat-pendapat yang mengharamkan filsafat. bagian ini penulis kutip dari sebuah majalah Islam yang bernama “Al Furqon” Tahun 6 Edisi Spesial Ramadhan-Syawal 1427H atau Oktober-November 2006.
Berikut penulis cantumkan apa yang ditulis majalah ini tentang filsafat.

“Diantara musibah terbesar yang menimpa kaum muslimin adalah tersebarnya ilmu kalam yang sangat terpengaruh oleh ilmu manthiq dan filsafat Yunani. Ilmu manthiq dicetuskan oleh Aristoteles sekitar 800 tahun sebelum Islam karena Aristoteles dilahirkan pada tahun 384 SM.

Ketika Islam datang, Allah mencukupkan manusia dengan Islam ini, sehingga tidak membutuhkan semua ilmu yang berbicara tentang aqidah dan syari’at. Walaupun ilmu-ilmu tersebut datang dari agama samawi yang turun dari langit, apalagi jika ilmu-ilmu tersebut datang dari manusia.

Tetapi yang sangat disayangkan, kita mendapati para ahli ilmu kalam yang sebagian orang meyebutnya ilmu ushuluddin, berpaling dari ilmu yang datang dari Allah. Mereka lantas mengarahkan pandangan mereka kepada ilmu manthiq dan filsafat. Mereka terlampau mengagungkan manthiq dan filsafat hingga mereka menjuluki Aristoteles sebagai “ Guru Pertama”. Mereka berdalih bahwa mereka melakukan hal itu untuk membela Islam dan untuk memahami Islam.

Kita tanyakan kepada orang-orang yang terpedaya ini:

  • Apakah Islam membutuhkan ilmu-ilmu di luar Islam untuk membelanya ?
  • Apakah Islam membutuhkan ilmu-ilmu di luar Islam untuk memahaminya Jikalau Islam masih membutuhkan ilmu-ilmu di luar Islam untuk membelanya dan memahaminya maka bukankah ia datang dari Allah?
  • Kemudian dengan apakah Islam mengalami kejayaan di saat datangnya ?
  • Bagaimanakah Islam dipahami di saat kedatangannya ?Apakah Rasulullah dan para sahabatnya menggunakan filsafat untuk memahami Islam?
  • Apakah para tabi’in dan para Imam memahami Islam dengan metode filsafat ?

Setiap orang yang mau menelaah tarikh Islam akam melihat bahwasanya Rasulullah, para sahabat dan para tabi’in dan para Imam tidaklah pernah menggunakan filsafat sebagai sarana untuk memahami Islam, dan tidak juga untuk membela Islam. bahkan Rasulullah begitu tegas melarang umat dari menelaah dan mengikuti ajaran-ajaran dari luar Islam.

Suatu ketika Rasulullah melihat Umar memegang Taurat, maka beliau bersabda :

“Apakah kamu masuk ke dalamnya tanpa perhitungan wahai anak Khaththab ?. Demi Dzat yang jiwaku di tanganNya, sungguh aku telah membawa agama yang putih bersih…demi Dzat yang jiwaku di tanganNya , seandainya Musa hidup maka tidak boleh baginya kecuali mengikutiku” ( Dihasankan oleh Syaikh Albani dalam Irwa’ul Gholil 6/34).

Al Imam Ibnu Sholah berkata “filsafat adalah induk kebodohan dan penghalalan terhadap semua yang diharamkan syari’at, sumber kebinggungan dan kesesatan, serta membuat penyelewengan dan kezindikkan… Adapun manthiq maka dia adalah pintu menuju filsafat, dan pintu kejahatan adalah kejahatan ( Fatawa Ibnu Sholah 1/209 )”

III. Rumusan Masalah

Dari kutipan di atas , ada beberapa hal yang perlu diluruskan. Hal ini dikarenakan terdapat pemahaman yang bias, tidak komprehensif, dan tidak jernih dalam menilai sesuatu, sehingga melahirkan suatu kesimpulan yang salah yang bisa merusak pemikiran masyarakat. Banyak hal yang perlu diluruskan dari tulisan di majalah Al Furqan tersebut. Namun karena keterbatasan waktu dan literature, penulis mencukupkan untuk membahas:

  1. Filsafat identik dengan Aristoteles-Warisan pemikiran Yunani.
  2. Benarkah Ulama seperti Ibnu Taimiyyah dan yang lainnya mengecam dan mengharamkan filsafat.
  3. Filsafat adalah induk kebodohan.

IV. Menimbang Filsafat Secara Jernih

a. Filsafat identik dengan Aristoteles-Warisan pemikiran Yunani

Pendapat seperti ini juga ada pada Orientalis. Framework Orientalis memposisikan filsafat dalam Islam berasal dari Yunani dan menganggap konsep-konsep dan sistem pemikiran dalam Islam berasal dari dan didominasi oleh filsafat Yunani.1

Filsafat Islam lahir dari penetrasi unsur asing (di luar Islam) ke dalam alam pikiran Islam hanya bisa diterima dalam kasus lahirnya falsafah dalam Islam. Namun untuk munculnya Filsafat Islam secara Islam, sebelum bersentuhan dengan Yunani dalam pikiran Islam telah terdapat elemen-elemen filsafat.2

C.A. Qadir seorang cendikiawan Muslim menyatakan bahwa: “sumber inspirasi yang asli dan riil para pemikir Muslim adalah Al Qur’an dan Hadist. Pemikiran Yunani hanyalah memberikan stimulasi dan membuka jalan untuknya.3

Filsafat dalam Islam itu ada dan tidak mengada-ada. Filsafat Islam bukan filsafat yang dibangun dari tradisi filsafat Yunani yang bercorak rasionalistik, tetapi dibangun dari tradisi sunnah Nabi dalam berpikir rasional transedental. Rujukan filsafat Islam bukan tradisi inteletual Yunani, tetapi rujukkannya adalah sunnah Nabi dalam berpikir, yang akan menjadi tuntunan dan suri tauladan bagi kegiatan berpikir umatnya.4

Filsafat Islam mempunyai metode yang jelas, yaitu rasional transendental, dan berbasis pada kitab dan hikmah, pada dialektika fungsional Alquran dan aqal untuk memahami realitas. Secara operasional bekerja melalui kesatuan organik pikir dan qalb, yang menjadi bagian utuh kesatuan diri/nafs.5

Filsafat umumnya pada saat ini sudah jauh meninggalkan Aristoteles. Pemikiran yang ada di dunia filsafat saat ini sangat kompleks dan telah melahirkan filsuf-filsuf baru dengan corak yang baru pula. Sehingga pengidentikkan ini seakan lucu dan tidak ilmiah sama sekali.

b. Benarkah Ulama seperti Ibnu Taimiyyah dan yang lainnya mengecam dan mengharamkan filsafat

Dalam sejarah peradaban Islam, filsafat pernah diharamkan oleh para ulama. Alasannya kerena filsafat masih mengandung konsep-konsep asing yang bertentangan dengan Islam. Padahal Ibnu Taimiyyah yang termasuk diantara ulama penolak keras filsafat, ternyata juga menerima filsafat dengan pra syarat, yaitu asal berdasarkan pada akal dan berpijak pada kebenaran yang dibawa oleh para Nabi. Filsafat yang demikian beliau sebut al-falsafah as sahihah (filsafat yang betul) atau al falsafah-al haqiqiyah (filsafat yang sebenarnya). Imam Al Ghazzali sendiri sebenarnya juga tidak menolak filsafat tapi mengkritik cara pandang filosof. Jadi filsafat yang diharamkan dan ditolak oleh para ulama adalah filsafat yang memiliki konsep-konsep atau cara pandang yang bertentangan dengan Islam.6

c. Filsafat adalah induk kebodohan

Pernyataan ini sebenarnya dilandasi oleh semangat resistensi terhadap pemikiran asing yang menjadikan ketakutan yang berlebihan sehingga menutup diri dari hal-hal yang berasal dari luar dirinya. Filsafat dianggap virus yang akan merusak Islam. Seperti virus-virus lainnya (virus penyakit, dan virus komputer), maka ia juga mesti dibasmi dan dimusnahkan. Kita lihat di Arab Saudi, dimana persepsi ini tumbuh, buku-buku filsafat dilarang beredar, dan keilmuan filsafat dilarang untuk dipelajari, kecuali bagi orang-orang khusus. Akan tetapi, karena upaya untuk “membunuh”-melenyapkannya merupakan hal yang mustahil (karena filsafat akan tetap ada selagi manusia masih berpikir), maka dibuatlah slogan-slogan yang menakutkan (seperti “filsafat adalah induk kebodohan) dengan harapan orang akan lari darinya.

Filsafat adalah berpikir bebas, radikal, dan berada dalam dataran makna. Bebas artinya dapat memilih apa saja untuk dipikirkan, tidak ada yang haram untuk dipikirkan semua tergantung seseorang untuk memikirkannya7 . Tidak ada intimidasi dari siapapun, meski ia berada dalam penjara sekalipun, meski tubuhnya dipasung dalam kerangkeng, tetap saja pikirannya bekerja. Bebas juga dapat berarti melepaskan diri dari doktrin-doktrin yang tidak berdalil (memililki alasan), kejumudan berpikir, dan taqliq pada seseorang atau sesuatu tanpa mengerti persoalannya seperti apa. Bukankah ini yang dilawan oleh ajaran Islam ? Melawan kemalasan berpikir, kebodohan dan beragama tanpa ada dasar pemikirannya.

Radikal artinya sampai ke akar suatu masalah, mendalam sampai ke akar-akarnya, bahkan melewati batas-batas fisik yang ada, memasuki medan pengembaraan di luar yang fisik, dan seringkali disebut sebagai metafisis. Pengembaraan filsafat melewati batas-batas penginderaan manusia8. Bukankah dalam Islam sendiri sangat membenci materialistik (konsep hidup yang lebih memprioritaskan hal-hal yang bersifat materi). Dan untuk lepas dari matetialistik maka kita harus bisa melampaui hal-hal yang fisik. Di dalam Islam sendiripun ada konsep tentang dunia ghoib, dan untuk memahami hal yang ghaib kita tidak bisa memahaminya melalui indrawi belaka.

Berfilsafat adalah berpikir adalam tahap makna, ia mencari hakikat makna dari sesuatu, atau keberadaan dan kehadiran. Berpikir dalam tahap makna bukan dan tidak dipakai untuk menjawab persoalan teknik. Berpikir dalam tahap makna artinya menemukan makna terdalam dari sesuatu. Makna yang terkandung itu berupa nilai-nilai, yaitu kebenaran, keindahan, ataupun kebaikan.9

V. Kesimpulan

Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa filsafat tidak bisa sepenuhnya dikatakan “HARAM”. Filsafat yang dipahami oleh sebagian umat/ulama Islam tidak sama dengan apa menjadi pengertian filsafat sebenarnya. Filsafat yang dipahami oleh orang-orang yang mengharamkannya dikarena mereka masih memakai kitab-kitab kuno yang telah jauh tertinggal dari segi perkembangan zaman sekarang. Untuk itu kita perlu bijak dalam menghakimi sesuatu sehingga tidak timbul fatwa-fatwa yang tidak semestinya. Akhirnya penulis menyadari bahwa makalah ini belumlah cukup untuk menjawab atau membela filsafat secara ilmiah. Tapi paling tidak bisa memberikan suatu wacana baru dalam kancah pemikiran.

Catatan Kaki

  1. Artikel Framework Kajian Orientalis dalam Filsafat Islam oleh Hamid Fahmy Zakarsyi dalam majalah Islamia Vol. II No. 3/ Desember 2005 halaman 50.
  2. Ibid; hal. 51
  3. Ibid; hal. 52
  4. Prof. Dr. Musa Asy’arie dalam bukunya Filsafat Islam: Sunnah Nabi Dalam Berpikir terbitan LESFI Yogyakarta Cetakan ke III tahun 2002, halaman 30.
  5. Ibid; hal 30-31
  6. Artikel Framework Kajian Orientalis dalam Filsafat Islam oleh Hamid Fahmy Zakarsyi dalam majalah Islamia Vol. II No. 3/ Desember 2005 halaman 44.
  7. Prof. Dr. Musa Asy’arie dalam bukunya Filsafat Islam: Sunnah Nabi Dalam Berpikir terbitan LESFI Yogyakarta Cetakan ke III tahun 2002, halaman 1.
  8. Ibid; hal. 3-4.
  9. Ibid; hal.4.

KEDUDUKAN PEREMPUAN MENURUT PROF. DR. HAMKA (Sebuah Proposal Penelitian)

Posted on Updated on

LATAR BELAKANG MASALAH

Terbukanya keran demokrasi dan kebebasan berbicara telah membuka suara-suara dan ide-ide yang selama ini cendrung bungkam karena ditekan oleh tindakan represif penguasa. Sekarang, setiap orang bebas mengekspresikan kehendaknya tanpa takut lagi akan dihukum, diberendel, dan diberangus oleh pihak-pihak tertentu yang merupakan perpanjangan tangan penguasa.

Salah satu bidang yang mendapat porsi yang cukup besar dan mendapatkan ruang gerak yang leluasa adalah menyangkut masalah perempuan. Isu-isu dan gerakan tentang emansipasi, kesetaraan gender, dan perjuangan hak-hak perempuan telah menjadi perbincangan dan wacana yang menarik.

Atmosfir perbincangan tentang perempuan ini semakin hangat ketika kasus-kasus pelecehan, kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan semakin menjadi-jadi. Hamper setiap hari media baik elektronik maupun cetak menayangkan berita pemerkosaan, kekerasan suami terhadap istri dan anak perempuan, tingkat aborsi yang sangat tinggi ( mencapai 4 juta kasus setiap tahunnya di Negara ini ).

Perlakuan yang diskriminatif dan semena-mena terhadap perempuan ini tidak hanya berada pada dataran kasus per kasus, namun telah menginjak dataran kebijakan pemerintah.

Prinsip persamaan telah menjadi bagian dari sistem hokum kita yang tertuang dalam pasal 27 UUD 1945. Di samping itu, pemerintah telah meratifikasi berbagai konvensi internasional seperti konvensi ILO No. 100 tentang upah yang sama untuk pekerjaan yang sama nilainya, konvensi tentang hak-hak politik perempuan dan konvensi penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan. Pemerintah pun juga telah mengeluarkan berbagai kebijakan lain, seperti: dalam peraturan tentang perkawinan dan perceraian yang bertujuan untuk meningkatkan status perempuan dalam keluarga dan masyarakat. Akan tetapi, sebenarnya jika dikaji lebih lanjut, peraturan itu justru bias gender. Sebab dalam putusannya, di satu sisi menjamin hak yang sama dalam hokum dan masyarakat antara perempuan dan laki-laki, di sisi lain dinyatakan bahwa laki-laki berperan di sektok publik dan perempuan berperan di sector privat ( di rumah saja ). Malah UU ini memberi peluang bagi seorang suami untuk beristri lebih dari satu.

Perbincangan dan perjuangan hak-hak perempuan timbul karena adanya suatu kesadaran, pergaulan, dan arus informasi yang membuat perempuan Indonesia semakin kritis dengan apa yang menimpa kaumnya. Pejuang hak-hak perempuan di Indonesia sangat dipengaruhi oleh perkembangan feminisme yanga ada di luar, baik itu di barat dan beberapa mendapat inspirasi dari feminis Islam.

Tidak ada yang salah dengan pendekatan pisau analisis yang ditawarkan oleh feminis Barat dengan berbagai alirannya ( Liberal, Radikal, Marxis dan Sosialis, Psikoanalisi dan Gender, Eksistensialis, Posmodern, Multikultural dan Global, Ekofeminisme) maupun apa yang ditawarkan oleh feminis Islam seperti, Asghar Ali Engineer, Fatimah Mernissi, Riffat Hassan, dan Aminan Wadud. Namun, latar belakang sejarah, budaya, dan sosial yang dihadapi perempuan Indonesia berbeda dengan apa yang terjadi di barat maupun di Negara-negara ( Arab ) Islam. Padahal faktor-faktor tersebut mempengaruhi kita dalam menganalisis atau membuat suatu kesimpulan dan kebijakan. Oleh karena itu, peneliti menilai dan merasa perlu adanya suatu konsep yang benar-benar berasal dari Indonesia dan sesuai dengan kultur serta kepribadian bangsa Indonesia.

Pada penelitian ini, penulis ingin menelaah tentang feminisme ini dengan mengambil pemikiran Prof. Dr. Hamka. Hal ini dikarenakan, sosok beliau telah banyak menciptakan karya-karya fenomenal yang sangat kental nuansa filosofisnya. Ada 4 buku yang telah beliau tulis yang diberi judul “Mutiara Filsafat” yaitu Tasauf Modern, Falsafah Hidup, Lembaga Budi dan Lembaga Hidup. Melalui pisau analisis filsafat manusia yang ditulis Hamka dalam karya-karyanya, peneliti mencoba untuk mengambil dan mengungkakan pandangan Hamka terhadap kedudukan perempuan.

1. Pembatasan dan Perumusan Masalah

Kriteria yang peneliti gunakan dalam menentukan buku-buku karangan Hamka yang berjumlah 75 judul adalah berkisar pada buku-buku yang yang memuat tema tentang perempuan saja. Adapun tentang pembahasannya, peneliti lebih mengfokuskan kepada tema-tema yang menyangkut: kedudukan wanita secara kodrat dan adat, hak dan kewajiban wanita di sektor publik, wanita dalam perkawinan dan warisan, serta fenomena poligami dan perceraian.

Adapun rumusan masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah:
1. Apa pandangan Hamka terhadap berbagai macam aliran feminisme yang muncul saat ini;
2. Sejauh mana matrilineal Minangkabau berpengaruh terhadap konsep Hamka mengenai perempuan;
3. Bagaimana konsep perempuan yang ideal menurut Hamka.

2. Keaslian Penelitian

Penelitian terhadap pemikiran buya Hamka dan feminisme telah dilakukan oleh beberapa peneliti, antara lain:

  1. Konsep Manusia Seutuhnya menurut Prof. Dr. Hamka oleh Sukris Andayani. E, skipsi fakultas Filsafat UGM 1990.
  2. Konstruksi Pemikiran Gender dalam Pemikiran Mufasir Indonesia Modern oleh Yunahar Ilyas, Desertasi Doctor bidang Ilmu Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta tahun 2004.
  3. Peranan Wanita dalam Hubungan dengan Gerak dan Perkembangan Emansipasi oleh Indah Aswiyati, skipsi fakultas Filsafat 1981.
  4. Tinjauan Filosofis tentang Hak-Hak Wanita menurut Doktrin Islam oleh Johan Syamsi. K, skipsi fakultas Filsafat 1981.
  5. Tinjauan secara Kefilsafatan terhadap Harkat dan Martabat Wanita oleh Isnainy Hanim. H, skipsi fakultas Filsafat 1983.
  6. Tinjauan Etika terhadap “ Kedudukan dan Peran Wanita dalam Adat Minangkabau” oleh Tauran Betty, skipsi fakultas Filsafat 1987.
  7. Emansipasi di antara Karir dan Kodrat Wanita Indonesia ( Sebuah Telaah Filsafati ) oleh S. Handaru.P.A, skipsi fakulatas Filsafat 1991.
  8. Peran Ganda sebagai Konsekuensi Sadar Moral Konsep Emansipasi Wanita oleh Eliana Sari Munthalib, skripsi fakultas Filsafat 1993.

Namun, penelitian tentang konsep dan kedudukan perempuan menurut Hamka berdasarkan referensi-referensi yang ada, belum ada yang menelitinya. Oleh karena itu, penelitian ini dapat diyakini keasliannya.

3. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat:

  1. Memperkaya wawasan penulis tentang konsep dan kedudukan perempuan.
  2. Memberikan sumbangan pemikiran bagi bangsa Indonesia dalam menghadapi masalah-masalah yang berkaitan dengan feminisme di Indonesia.
  3. Memberikan sudut pandang baru dalam memahami kedudukan dan peran perempuan dalam kehidupan yang sesuia dengan latar belakang sosio-kultural Indonesia.

TUJUAN PENELITIAN

Penelitian ini memiliki tujuan:

  1. Membuat inventarisasi tentang pandangan Hamka mengenai perempuan yang terpencar-pencar dalam beberapa buku karangannya menjadi satu kesatuan.
  2. Memberikan evaluasi kritis terhadap konsep-konsep feminisme Barat dan feminisme Islam dengan pisau analisis Hamka.
  3. Memperoleh bahan baru dan interpretasi baru sehingga melahirkan konsep-konsep tentang perempuan yang khas dari pemikir Indonesia khususnya Hamka.

TINJAUAN PUSTAKA

Beberapa sarjana, penulis dan pemikir telah menulis buku dan artikel yang membahas tema-tema perempuan. Ashgar Ali Engineer, dalam bukunya “Hak-hak Perempuan dalam Islam” melakukan kajian kritis menyangkut hak-hak perempuan dalam perkawinan, perceraian, pemilikan harta benda, pewarisan, pemeliharaan anak, pemeberian kesaksian, ganjaran dan hukuman. Asghar menemptkan kembali hak-hak perempuan dalam Islam dengan semangat Al Quran sejati.

Riffat Hassan, dalam salah satu dari tiga artikelnya yang ditampilkan bersama-sama dengan empat artikel karya Fatima Mernissi dalam buku “Setara di Hadapan Allah, Relasi Laki-Laki dan Perempuan dalam Tradisi Islam Pasca Patriakhi”, mengkaji secara kritis tentang penciptaan Adam dan Hawa.

Safrudin Halimy Kamaluddin. MA, dalam bukunya “ Adat Minangkabau dalam Perspektif Hukum Islam”, menempatkan bab khusus yang membahas tentang konsep matrilineal, eksogami suku dan hokum waris adat Minangkabau yang banyak berhubungan dengan hak-hak perempuan.

Mazhar ul-Haq Khan, dalam bukunya “Wanita Islam Korban Patologi Sosial”, membahas secara khusus tema purdah (hijab) dan poligami dengan menggunakan pendekatan sosiologis.

Rosemarie Putnam, dalam bukunya “ Feminism Thought”, memberikan penjelasan komprehensif mengenai feminisme dan menguraikan aliran-aliran feminisme yang ada di dunia.

Adnan Tharsyah, dalam bukunya “Serba Serbi Wanita” , menyampaikan konsep-konsep yang ideal bagi perempuan ditinjau dari aspek biologis dan psikologis menurut ajaran Islam.

LANDASAN TEORI

Menjadi laki-laki atau perempuan adalah takdir yang tidak bisa dibantah dan diingkari oleh seseorang. Jenis kelamin adalah sesuatu yang dibawa sejak lahir. Oleh karena itu, hal ini bersifat alami, kodrati dan tidak bisa berubah. Sedangkan penilaian terhadap kenyataan sebagai laki-laki atau perempuan oleh masyarakat dengan sosial dan budayanya dinamakan dengan gender ( Ilyas, Yunahar; 12-13 ).

Konstruk sosial dan budaya yang menempatkan perbedaan antara laki-laki dan perempuan telah melahirkan paham feminisme. Feminisme adalah suatu filsafat luas yang memperhatikan tempat dan kodrat perempuan dalam masyarakat (Smith, Linda dan William Rapper; 228).

Telah banyak lahir teori-teori yang membahas tentang perbedaan laki-laki dan perempuan, antara lain:

a. Teori Psikoanalisa
Menurut teori ini unsure biologislah yang menjadi faktor dominant dalam menentukan pola prilaku seseorang.

b. Teori Fungsional Struktural
Pembagian peran laki-laki dan perempuan tidak didasari oleh distrupsi dan kompetisi, tetapi lebih kepada melestarikan harmoni dan stabilitas di dalam masyrakat. Laki-laki dan perempuan menjalankan perannya masing-masing.

c. Teori Konflik
Perbedaan dan ketimpangan gender disebabkan dari penindasan dari kelas yang berkuasa dalam relasi produksi yang diterapkan dalam konsep keluarga. Terjadinya subordinasi perempuan akibat pertumbuhan hak milik pribadi.

d. Teori Sosio-Biologis
Faktor biologis dan sosial menyebabkan laki-laki lebih unggul dari perempuan. Fungsi reproduksi perempuan dianggap sebagai faktor penghambat untuk mengimbangi kekuatan dan peran laki-laki (Ilyas, Yunahar; 14-15).

Para feminis yang mempunyai kesadaran dan tampil di garda depan dalam perjuangan hak-hak perempuan terpecah dalam beberapa aliran karena perbedaan dalam memandang sebab-sebab terjadinya keadilan terhadap perempuan , bentuk perjuangan dan tujuan yang ingin dicapai. Secara garis besar, ada 4 mainstream aliran feminisme:

a. Feminisme Liberal
Mereka mengusahakan perubahan kedudukan perempuan dalam masyarakat dengan mengubah hokum. Mereka percaya bahwa perempuan telah ditindas oleh hokum yang dibuat oleh laki-laki. Dengan mengubah hokum (misalnya, dengan mengizinkan perempuan memilih, mempertahankan milik mereka sendiri setelah perkawinan, untuk cerai), tempat perempuan di masyarakat harus berubah seterusnya ( Smith, Linda dan William Rapper; 229).

b. Feminisme Radikal
Mereka percaya bahwa pengertian paling mendalam mengenai keadaan perempuan telah dibentuk dan diselewengkan oleh laki-laki. Dengan mengubah hokum, kaum feminisme Radikal percaya tidak akan mengubah prasangka-prasangka mendalam yang dimiliki oleh kaum laki-laki terhadap perempuan. Kaum feminisme radikal ingin menemukan suatu pemahaman baru mengenai apa artinya menjadi perempuan, dan suatu cara yang sama sekali baru untuk hidup bagi perempuan di dalam dunia kita ( Smith, Linda dan William Rapper; 229).

c. Feminisme Marxis
Feminisme Marxis berpendapat bahwa ketertinggalan yang dialami perempuan bukan disebabkan oleh tindakan individu secara sengaja tetapi akibat struktur sosial, politik dan ekonomi yang erat kaitannya dengan system kapitalisme. Menurut mereka, tidak mungkin perempuan dapat memperoleh kesempatan yang sama seperti laki-laki jika mereka masih tetap hidup dalam masyarakat yang berkelas ( Ilyas, Yunahar; 18 ).

d. Feminisme Sosialis
Menurut mereka hidup dalam masyarakat yang kapitalistik bukan satu-satunya penyebab utama keterbelakangan perempuan. Menurut mereka, penindasan perempuan ada di kelas manapun. Gerakan feminisme Sosialis lebih menfokuskan kepada penyadaran akan posisi mereka yang tertindas. Timbulnya kesadaran ini akan membuat kaum perempuan bangkit emosinya, dan secara kelomok diharapkan untuk mengadakan konflik langsung dengan kelompok dominant ( laki-laki), sehingga diharapkan dapat meruntuhkan sistem patriakhi (Ilyas, Yunahar; 21).

Sementara itu di wilayah lainnya ada suatu konsep masyarakat yang menjunjung tinggi harkat dan martabat perempuan melalui sistem adat yang unik, yaitu sistem matrilineal di Minangkabau. Dalam menentukan garis keturunan kesukuan, masyarakat Minangkabau masih mengikuti garis ibu, yang meminang pihak perempuan, sistem matrilokal, pemimpin rumah tangga adalah ibu bersama-sama dengan saudara laki-lakinya (mamak), dan dalam pembagian harta warisan jatuh kepada kaum perempuan sementara kaum laki-laki tidak mendapatkan apa-apa (Ilyas, Yunahar; 49).

METODE PENELITIAN

Penelitian ini bersifat kepustakaan murni, karena sumber datanya adalah buku-buku dan artikel –artikel yang jadi objek penelitian. Metode penelitian menggunakan model penelitian filosofis historis-faktual mngenai tokoh, dimana di sini yang menjadi kajian adalah pemikiran Prof. Dr. Hamka.

Metode yang digunakan adalah metode deskriptif-analitis. Metode deskriptif mencoba untuk memaparkan konsep-konsep pemikiran Hamka tentang perempuan. Sementara metode analitis merupkan gabungan antara deduktif, induktif, komparatif dan interpretasi. Deduktif digunakan untuk memperoleh gambaran detail tentang pemikiran Hamka dalam melihat konsep feminisme dan perempuan. Induktif digunakan untuk memperoleh gambaran utuh tentang pemikiran Hamka mengenai topic-topik yang diteliti setelah dikelompokkan secara tematik. Komparasi dipakai untuk membandingkan antara pemikiran Hamka dengan pemikiran feminisme Barat dan Islam. Terakhir, interpretasi untuk menyelami pemikiran Hamka sehingga bisa ditangkap nuansa yang dimaksudkannya.

DAFTAR PUSTAKA

At-Thasyah, Adnan. Serba-Serbi Wanita: Panduan Mengenal Wanita. Terjemahan Gazi Saloom. Jakarta; Penerbit Al-Mahira. Cet I.2001.

Barker, Anton dan Achmad Charris Zubair. Metode Penelitian Filsafat. Yogyakarta; Penerbit Kanisius. Cet I. 1990.

Engineer, Asghar Ali. Hak-Hak Perempuan dalam Islam. Terjemahan Farid Wajidi dan Cici Farkha Assegaf. Yogyakarta; Yayasan Bentang Budaya.1994.

Hamka. Islam dan Adat Minangkabau. Jakarta; Pustaka Panji Mas. Cet II.1985.

——— Falsafah Hidup. Jakarta; Pustaka Panji Mas. Jakarta. Cet XII. 1994.

Hassan, Riffat. “Teologi Perempuan dalam Tradisi Islam”. Dalam jurnal Ulumul Quran No. 3 Vol. V. Tahun 1994.

Ilyas, Yunahar. Kesetaraan Gender dalam Alquran: Studi Pemikiran Para Mufasir. Yogyakarta; Labda Press. 2006.

Kamaludin, Syafruddin Halimy. Adat Minangkabau dalam Perspektif Hukum Islam. Padang; Hayfa Press.2005.

Khan, Mazhar ul-Haq. Wanita Islam Korban Patologi Sosial. Terjemahan Luqman Hakim. Bandung; Pustaka.1994.

Mernissi, Fatima. Wanita di dalam Islam. Terjemahan Yaziar Radianti. Bandung; Pustaka.1994.

Penghulu, Idrus Hakimy Dt. Rajo. Rangkaian Mustika Adat Basandi Syarak di Minangkabau. Bandung; Remaja Karta. 1978.

Smith, Linda dan William Rapper. Ide-Ide Filsafat dan Agama Dulu dan Sekarang. Terjemahan Pardono Hadi. Yogyakarta; Penerbit Kanisius. Cet V. 2004.

Tong, Rosemarie Putnam. Feminist Thougt. Terjemahan Aquarini Priyatna Prabasmoro. Yogyakarta; Penerbit Jalasutra.1998.

Pluralisme Agama

Posted on Updated on

PLURALISME AGAMA

A. Pluralisme Agama menurut MUI

Majelis Ulama Indonesia, dalam Munasnya yang ke 7 pada 25-29 Juli 2005 di Jakarta mendefinisikan pluralisme agama sebagai berikut :
Pluralitas Agama adalah sebuah kenyataan bahwa di negara atau daerah tertentu tertentu terdapat berbagai pemeluk agama yang hidup secara berdampingan. Pluralisme Agama adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif. Oleh karena itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama lain salah.

Pluralisme juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di dalam sorga. Ma’ruf Amin, ketua Komisi Fatwa MUI menyatakan “Dalam aqidah dan ibadah umat Islam wajib bersikap ekslusif dalam arti haram mencampuradukkan aqidah dan ibadah umat Islam dengan aqidah dan ibadah pemeluk agama lain. Namun demikian, bagi masyrakat muslim yang tinggal bersama dengan pemeluk lain (pluralitas agama) dalam masalah sosial yang tidak berkaitan dengan aqidah dan ibadah, umat Islam bersikap inklusif dalam arti tetap melakukan pergaulan sosial degan pemeluk agama lain sepanjang tidak saling merugikan.

B. Pluralisme menurut Anis Malik Thoha, PhD.

Menurut Anis Malik Thoha, PhD, salah seorang Dosen Perbandingan Agama di Universitas Islam Internasional Malaysia, Pluralisme Agama adalah respon teologis terhadap political pluralism yang telah cukup lama digulirkan (sebagai wacana) oleh peletak dasar-dasar demokrasi pada awal-awal abad modern dan secara nyata dipraktekkan oleh AS. Pluralisme agama pada hakekatnya adalah gerakan politik dan bukan gerakan agama.

Pluralisme tidak membenarkan penganut atau pemeluk agama lain untuk menjadi dirinya sendiri, atau mengekspresikan jati dirinya secara utuh, seperti mengenakan simbol-simbol keagamaan tradisional. Pluralisme merupakan penyeragaman atau menyeragamkan segala perbedaan dan keberagaman agama. Ini secara ontologis bertentang dengan sunnatullah yang pada gilirannya akan mengancam eksistensi manusia itu sendiri.

C. Pandangan Nurcholis Madjid tentang Pluralisme Agama

Menurut Nurcholis Madjid ada tiga sikap dialog agama yang dapat diambil :
1. Sikap eksklusif dalam melihat agama lain
Agama-agama lain adalah jalan yang salah, yang menyesatkan umat.
2. Sikap inklusif
Agama-agama lain adalah bentuk implisit agama kita.
3. Sikap pluralis
Bisa terekspresikan dalam macam-macam rumusan, misalnya “Agama-agama lain adalah jalan yang sama-sama sah untuk mencapai kebenaran yang sama”, “Agama-agama lain berbicara secara berbeda, tetapi merupakan kebenaran yang sama sah”, atau “ Setiap agama mengekspresikan bagian penting bagi sebuah kebenaran”.

Sebagai sebuah pandangan keagamaan, pada dasarnya Islam bersifat inklusif dan merentangkan tafsirannya ke arah yang semakin pluralis. Jadi, pluralisme sesungguhnya adalah sebuah aturan Tuhan (sunnatullah) yang tidak akan berubah, sehingga tidak mungkin dilawan atau diingkari.

Masalah Islam vis a vis pluralisme adalah masalah bagaimana kaum muslim mengadaptasi diri dengan dunia modern. Dan ini, pada gilirannya, melibatkan masalah bagaimana mereka memandang dan menilai sejarah Islam, dan bagaimana mereka melihat dan menilai perubahan dan keharusan membawa masuk nilai-nilai Islam yang normatif dan universal ke dalam dialog dengan realitas ruang dan waktu (Jalan Baru Islam ;102).

D. Kelemahan- Kelemahan Pluralisme Agama

Menurut Anis Malik Thoha ada dua kelemahan mendasar dari pluralisme agama :

1. Kaum pluralis mengklaim bahwa pluralisme menjunjung tinggi dan mengajarkan toleransi, tapi justru mereka sendiri tidak toleran karena menafikan “kebenaran ekslusif” sebuah agama. Mereka menafikan klaim “paling benar sendiri” dalam suatu agama, tapi justru faktanya “kaum pluralis”-lah yang mengklaim dirinya paling benar sendiri dalam membuat dan memahami statement keagamaan (religious statement). Patut dicatat, bahwa “any statement about religion is religious statement”.

2. Mereka merelatifkan tuhan-tuhan yang dianggap absolut oleh kelompok-kelompok lain seperti Allah, Trinitas, Yahweh, Trimurti dan lain sebagainya. Namun di saat yang sama, “secara tanpa sadar” mereka juga mengklaim bahwa hanya tuhan mereka saja yang absolut. Tuhan yang absolut menurut mereka ini adalah seperti yang diusulkan oleh John Hick (seorang pengusung pluralisme agama, teolog, dan profesor filsafat agama dari Claremont Graduate University, California) yaitu “The Real” yang merupakan muara manifestasi tuhan-tuhan dalam berbagai agama dan tradisi. Di sini bisa dikatakan bahwa alih-alih jadi wasit, kaum pluralis terseret jadi pemain, sehingga menambah jumlah pemain yang saling berkompetisi di lapangan.

E. Eklusivisme dalam Islam

Selama beberapa ratus tahun, kaum muslimin sangat mafhum, bahwa kaum di luar Islam adalah kaum kafir. Seorang muslim secara formal otomatis selamat di akhirat dan masuk sorga. Kaum muslim memahami Islam sebagai sebuah jalan yang benar, yang mengandung ajaran-ajaran dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tergantung pada individu muslim itu sendiri, apakah ia mengikuti jalan yang benar itu, atau ia akan meninggalkan bahkan melawan Islam. Ia bisa menjadi mukmin yang benar atau menjadi munafik.

Adanya upaya-upaya dari berbagai kalangan, baik dari kalangan muslim sendiri, yang mencoba melakukan dekonstruksi terhadap berbagai konsep baku dalam Islam berkembang pesat sejalan dengan penyebarluasan dan propaganda paham pluralisme agama di dunia internasional. Ide ini berawal dari tradisi traumatis dalam sejarah Kristen dan masyarakat barat sehingga melahirkan perkembangan konsep teologi, dari teologi eksklusif, inklusif, lalu ke teologi pluralis.

Upaya dekonstruksi makna Islam sebenarnya merupakan bagian dari upaya dekonstruksi istilah-istilah kunci dalam Islam seperti makna “kafir”, “murtad”, “munafik”, “al haq”, “jihad” dan lain sebagainya, yang merupakan bagian dari dekonstruksi Islam secara keseluruhan. Bahkan upaya ini berlanjut ke konsep-konsep dasar Islam, seperti “wahyu”, “Al-Qur’an”, “mukjizat” dan lain sebagainya. Dekonstruksi makna Islam berdampak pada tidak boleh adanya klaim kebenaran pada Islam. Islam bukan satu-satunya agama yang benar, sehingga orang Islam tidak boleh mengklaim sebagai pemilik agama satu-satunya yang benar.

DAFTAR PUSTAKA

Husaini, Adian MA. Pluralisme Agama : Haram, Fatwa MUI yang Tegas dan Tidak Kontroversial. Pustaka Al Kausar. Jakarta. 2005.

Madjid, Nurcholis Prof, Dr. “Mencari Akar-Akar Islam bagi Pluralisme Modern : Pengalaman Indonesia”. Dalam Jalan Baru Islam” editor Mark R. Woodward. Penerbit Mizan. Bandung. 1998.

KEDUDUKAN PEREMPUAN MENURUT PROF. DR. HAMKA

Posted on Updated on

  • LATAR BELAKANG MASALAH

Terbukanya keran demokrasi dan kebebasan berbicara telah membuka suara-suara dan ide-ide yang selama ini cendrung bungkam karena ditekan oleh tindakan represif penguasa. Sekarang, setiap orang bebas mengekspresikan kehendaknya tanpa takut lagi akan dihukum, diberendel, dan diberangus oleh pihak-pihak tertentu yang merupakan perpanjangan tangan penguasa.

Salah satu bidang yang mendapat porsi yang cukup besar dan mendapatkan ruang gerak yang leluasa adalah menyangkut masalah perempuan. Isu-isu dan gerakan tentang emansipasi, kesetaraan gender, dan perjuangan hak-hak perempuan telah menjadi perbincangan dan wacana yang menarik.

Atmosfir perbincangan tentang perempuan ini semakin hangat ketika kasus-kasus pelecehan, kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan semakin menjadi-jadi. Hamper setiap hari media baik elektronik maupun cetak menayangkan berita pemerkosaan, kekerasan suami terhadap istri dan anak perempuan, tingkat aborsi yang sangat tinggi ( mencapai 4 juta kasus setiap tahunnya di Negara ini ).

Perlakuan yang diskriminatif dan semena-mena terhadap perempuan ini tidak hanya berada pada dataran kasus per kasus, namun telah menginjak dataran kebijakan pemerintah.

Prinsip persamaan telah menjadi bagian dari sistem hokum kita yang tertuang dalam pasal 27 UUD 1945. Di samping itu, pemerintah telah meratifikasi berbagai konvensi internasional seperti konvensi ILO No. 100 tentang upah yang sama untuk pekerjaan yang sama nilainya, konvensi tentang hak-hak politik perempuan dan konvensi penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan. Pemerintah pun juga telah mengeluarkan berbagai kebijakan lain, seperti: dalam peraturan tentang perkawinan dan perceraian yang bertujuan untuk meningkatkan status perempuan dalam keluarga dan masyarakat. Akan tetapi, sebenarnya jika dikaji lebih lanjut, peraturan itu justru bias gender. Sebab dalam putusannya, di satu sisi menjamin hak yang sama dalam hokum dan masyarakat antara perempuan dan laki-laki, di sisi lain dinyatakan bahwa laki-laki berperan di sektok publik dan perempuan berperan di sector privat ( di rumah saja ). Malah UU ini memberi peluang bagi seorang suami untuk beristri lebih dari satu.

Perbincangan dan perjuangan hak-hak perempuan timbul karena adanya suatu kesadaran, pergaulan, dan arus informasi yang membuat perempuan Indonesia semakin kritis dengan apa yang menimpa kaumnya. Pejuang hak-hak perempuan di Indonesia sangat dipengaruhi oleh perkembangan feminisme yanga ada di luar, baik itu di barat dan beberapa mendapat inspirasi dari feminis Islam.

Tidak ada yang salah dengan pendekatan pisau analisis yang ditawarkan oleh feminis Barat dengan berbagai alirannya ( Liberal, Radikal, Marxis dan Sosialis, Psikoanalisi dan Gender, Eksistensialis, Posmodern, Multikultural dan Global, Ekofeminisme) maupun apa yang ditawarkan oleh feminis Islam seperti, Asghar Ali Engineer, Fatimah Mernissi, Riffat Hassan, dan Aminan Wadud. Namun, latar belakang sejarah, budaya, dan sosial yang dihadapi perempuan Indonesia berbeda dengan apa yang terjadi di barat maupun di Negara-negara ( Arab ) Islam. Padahal faktor-faktor tersebut mempengaruhi kita dalam menganalisis atau membuat suatu kesimpulan dan kebijakan. Oleh karena itu, peneliti menilai dan merasa perlu adanya suatu konsep yang benar-benar berasal dari Indonesia dan sesuai dengan kultur serta kepribadian bangsa Indonesia.

Pada penelitian ini, penulis ingin menelaah tentang feminisme ini dengan mengambil pemikiran Prof. Dr. Hamka. Hal ini dikarenakan, sosok beliau telah banyak menciptakan karya-karya fenomenal yang sangat kental nuansa filosofisnya. Ada 4 buku yang telah beliau tulis yang diberi judul “Mutiara Filsafat” yaitu Tasauf Modern, Falsafah Hidup, Lembaga Budi dan Lembaga Hidup. Melalui pisau analisis filsafat manusia yang ditulis Hamka dalam karya-karyanya, peneliti mencoba untuk mengambil dan mengungkakan pandangan Hamka terhadap kedudukan perempuan.

1. Pembatasan dan Perumusan Masalah

Kriteria yang peneliti gunakan dalam menentukan buku-buku karangan Hamka yang berjumlah 75 judul adalah berkisar pada buku-buku yang yang memuat tema tentang perempuan saja. Adapun tentang pembahasannya, peneliti lebih mengfokuskan kepada tema-tema yang menyangkut: kedudukan wanita secara kodrat dan adat, hak dan kewajiban wanita di sektor publik, wanita dalam perkawinan dan warisan, serta fenomena poligami dan perceraian.

Adapun rumusan masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah:

  1. Apa pandangan Hamka terhadap berbagai macam aliran feminisme yang muncul saat ini?
  2. Sejauh mana matrilineal Minangkabau berpengaruh terhadap konsep Hamka mengenai perempuan?
  3. Bagaimana konsep perempuan yang ideal menurut Hamka?

2. Keaslian Penelitian

Penelitian terhadap pemikiran buya Hamka dan feminisme telah dilakukan oleh beberapa peneliti, antara lain:

  1. Konsep Manusia Seutuhnya menurut Prof. Dr. Hamka oleh Sukris Andayani. E, skipsi fakultas Filsafat UGM 1990.
  2. Konstruksi Pemikiran Gender dalam Pemikiran Mufasir Indonesia Modern oleh Yunahar Ilyas, Desertasi Doctor bidang Ilmu Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta tahun 2004.
  3. Peranan Wanita dalam Hubungan dengan Gerak dan Perkembangan Emansipasi oleh Indah Aswiyati, skipsi fakultas Filsafat 1981.
  4. Tinjauan Filosofis tentang Hak-Hak Wanita menurut Doktrin Islam oleh Johan Syamsi. K, skipsi fakultas Filsafat 1981.
  5. Tinjauan secara Kefilsafatan terhadap Harkat dan Martabat Wanita oleh Isnainy Hanim. H, skipsi fakultas Filsafat 1983.
  6. Tinjauan Etika terhadap “ Kedudukan dan Peran Wanita dalam Adat Minangkabau” oleh Tauran Betty, skipsi fakultas Filsafat 1987.
  7. Emansipasi di antara Karir dan Kodrat Wanita Indonesia ( Sebuah Telaah Filsafati ) oleh S. Handaru.P.A, skipsi fakulatas Filsafat 1991.
    h. Peran Ganda sebagai Konsekuensi Sadar Moral Konsep Emansipasi Wanita oleh Eliana Sari Munthalib, skripsi fakultas Filsafat 1993.

Namun, penelitian tentang konsep dan kedudukan perempuan menurut Hamka berdasarkan referensi-referensi yang ada, belum ada yang menelitinya. Oleh karena itu, penelitian ini dapat diyakini keasliannya.

3. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat:

  1. Memperkaya wawasan penulis tentang konsep dan kedudukan perempuan.
  2. Memberikan sumbangan pemikiran bagi bangsa Indonesia dalam menghadapi masalah-masalah yang berkaitan dengan feminisme di Indonesia.
  3. Memberikan sudut pandang baru dalam memahami kedudukan dan peran perempuan dalam kehidupan yang sesuia dengan latar belakang sosio-kultural Indonesia.
  • TUJUAN PENELITIAN

Penelitian ini memiliki tujuan:

  1. Membuat inventarisasi tentang pandangan Hamka mengenai perempuan yang terpencar-pencar dalam beberapa buku karangannya menjadi satu kesatuan.
  2. Memberikan evaluasi kritis terhadap konsep-konsep feminisme Barat dan feminisme Islam dengan pisau analisis Hamka.
  3. Memperoleh bahan baru dan interpretasi baru sehingga melahirkan konsep-konsep tentang perempuan yang khas dari pemikir Indonesia khususnya Hamka.
  • TINJAUAN PUSTAKA

Beberapa sarjana, penulis dan pemikir telah menulis buku dan artikel yang membahas tema-tema perempuan. Ashgar Ali Engineer, dalam bukunya “Hak-hak Perempuan dalam Islam” melakukan kajian kritis menyangkut hak-hak perempuan dalam perkawinan, perceraian, pemilikan harta benda, pewarisan, pemeliharaan anak, pemeberian kesaksian, ganjaran dan hukuman. Asghar menemptkan kembali hak-hak perempuan dalam Islam dengan semangat Al Quran sejati.

Riffat Hassan, dalam salah satu dari tiga artikelnya yang ditampilkan bersama-sama dengan empat artikel karya Fatima Mernissi dalam buku “Setara di Hadapan Allah, Relasi Laki-Laki dan Perempuan dalam Tradisi Islam Pasca Patriakhi”, mengkaji secara kritis tentang penciptaan Adam dan Hawa.

Safrudin Halimy Kamaluddin. MA, dalam bukunya “ Adat Minangkabau dalam Perspektif Hukum Islam”, menempatkan bab khusus yang membahas tentang konsep matrilineal, eksogami suku dan hukum waris adat Minangkabau yang banyak berhubungan dengan hak-hak perempuan.

Mazhar ul-Haq Khan, dalam bukunya “Wanita Islam Korban Patologi Sosial”, membahas secara khusus tema purdah (hijab) dan poligami dengan menggunakan pendekatan sosiologis.

Rosemarie Putnam, dalam bukunya “ Feminism Thought”, memberikan penjelasan komprehensif mengenai feminisme dan menguraikan aliran-aliran feminisme yang ada di dunia.

Adnan Tharsyah, dalam bukunya “Serba Serbi Wanita” , menyampaikan konsep-konsep yang ideal bagi perempuan ditinjau dari aspek biologis dan psikologis menurut ajaran Islam.

  • LANDASAN TEORI

Menjadi laki-laki atau perempuan adalah takdir yang tidak bisa dibantah dan diingkari oleh seseorang. Jenis kelamin adalah sesuatu yang dibawa sejak lahir. Oleh karena itu, hal ini bersifat alami, kodrati dan tidak bisa berubah. Sedangkan penilaian terhadap kenyataan sebagai laki-laki atau perempuan oleh masyarakat dengan sosial dan budayanya dinamakan dengan gender ( Ilyas, Yunahar; 12-13 ).

Konstruk sosial dan budaya yang menempatkan perbedaan antara laki-laki dan perempuan telah melahirkan paham feminisme. Feminisme adalah suatu filsafat luas yang memperhatikan tempat dan kodrat perempuan dalam masyarakat (Smith, Linda dan William Rapper; 228).

Telah banyak lahir teori-teori yang membahas tentang perbedaan laki-laki dan perempuan, antara lain:

a. Teori Psikoanalisa

Menurut teori ini unsure biologislah yang menjadi faktor dominant dalam menentukan pola prilaku seseorang.

b. Teori Fungsional Struktural

Pembagian peran laki-laki dan perempuan tidak didasari oleh distrupsi dan kompetisi, tetapi lebih kepada melestarikan harmoni dan stabilitas di dalam masyrakat. Laki-laki dan perempuan menjalankan perannya masing-masing.

c. Teori Konflik

Perbedaan dan ketimpangan gender disebabkan dari penindasan dari kelas yang berkuasa dalam relasi produksi yang diterapkan dalam konsep keluarga. Terjadinya subordinasi perempuan akibat pertumbuhan hak milik pribadi.

d. Teori Sosio-Biologis

Faktor biologis dan sosial menyebabkan laki-laki lebih unggul dari perempuan. Fungsi reproduksi perempuan dianggap sebagai faktor penghambat untuk mengimbangi kekuatan dan peran laki-laki (Ilyas, Yunahar; 14-15).

Para feminis yang mempunyai kesadaran dan tampil di garda depan dalam perjuangan hak-hak perempuan terpecah dalam beberapa aliran karena perbedaan dalam memandang sebab-sebab terjadinya keadilan terhadap perempuan , bentuk perjuangan dan tujuan yang ingin dicapai. Secara garis besar, ada 4 mainstream aliran feminisme:

a. Feminisme Liberal

Mereka mengusahakan perubahan kedudukan perempuan dalam masyarakat dengan mengubah hokum. Mereka percaya bahwa perempuan telah ditindas oleh hokum yang dibuat oleh laki-laki. Dengan mengubah hokum (misalnya, dengan mengizinkan perempuan memilih, mempertahankan milik mereka sendiri setelah perkawinan, untuk cerai), tempat perempuan di masyarakat harus berubah seterusnya ( Smith, Linda dan William Rapper; 229).

b. Feminisme Radikal

Mereka percaya bahwa pengertian paling mendalam mengenai keadaan perempuan telah dibentuk dan diselewengkan oleh laki-laki. Dengan mengubah hokum, kaum feminisme Radikal percaya tidak akan mengubah prasangka-prasangka mendalam yang dimiliki oleh kaum laki-laki terhadap perempuan. Kaum feminisme radikal ingin menemukan suatu pemahaman baru mengenai apa artinya menjadi perempuan, dan suatu cara yang sama sekali baru untuk hidup bagi perempuan di dalam dunia kita ( Smith, Linda dan William Rapper; 229).

c. Feminisme Marxis

Feminisme Marxis berpendapat bahwa ketertinggalan yang dialami perempuan bukan disebabkan oleh tindakan individu secara sengaja tetapi akibat struktur sosial, politik dan ekonomi yang erat kaitannya dengan system kapitalisme. Menurut mereka, tidak mungkin perempuan dapat memperoleh kesempatan yang sama seperti laki-laki jika mereka masih tetap hidup dalam masyarakat yang berkelas ( Ilyas, Yunahar; 18 ).

d. Feminisme Sosialis

Menurut mereka hidup dalam masyarakat yang kapitalistik bukan satu-satunya penyebab utama keterbelakangan perempuan. Menurut mereka, penindasan perempuan ada di kelas manapun. Gerakan feminisme Sosialis lebih menfokuskan kepada penyadaran akan posisi mereka yang tertindas. Timbulnya kesadaran ini akan membuat kaum perempuan bangkit emosinya, dan secara kelomok diharapkan untuk mengadakan konflik langsung dengan kelompok dominant ( laki-laki), sehingga diharapkan dapat meruntuhkan sistem patriakhi (Ilyas, Yunahar; 21).

Sementara itu di wilayah lainnya ada suatu konsep masyarakat yang menjunjung tinggi harkat dan martabat perempuan melalui sistem adat yang unik, yaitu sistem matrilineal di Minangkabau. Dalam menentukan garis keturunan kesukuan, masyarakat Minangkabau masih mengikuti garis ibu, yang meminang pihak perempuan, sistem matrilokal, pemimpin rumah tangga adalah ibu bersama-sama dengan saudara laki-lakinya (mamak), dan dalam pembagian harta warisan jatuh kepada kaum perempuan sementara kaum laki-laki tidak mendapatkan apa-apa (Ilyas, Yunahar; 49).

  • METODE PENELITIAN

Penelitian ini bersifat kepustakaan murni, karena sumber datanya adalah buku-buku dan artikel –artikel yang jadi objek penelitian. Metode penelitian menggunakan model penelitian filosofis historis-faktual mngenai tokoh, dimana di sini yang menjadi kajian adalah pemikiran Prof. Dr. Hamka.

Metode yang digunakan adalah metode deskriptif-analitis. Metode deskriptif mencoba untuk memaparkan konsep-konsep pemikiran Hamka tentang perempuan. Sementara metode analitis merupkan gabungan antara deduktif, induktif, komparatif dan interpretasi. Deduktif digunakan untuk memperoleh gambaran detail tentang pemikiran Hamka dalam melihat konsep feminisme dan perempuan. Induktif digunakan untuk memperoleh gambaran utuh tentang pemikiran Hamka mengenai topic-topik yang diteliti setelah dikelompokkan secara tematik. Komparasi dipakai untuk membandingkan antara pemikiran Hamka dengan pemikiran feminisme Barat dan Islam. Terakhir, interpretasi untuk menyelami pemikiran Hamka sehingga bisa ditangkap nuansa yang dimaksudkannya.

  • DAFTAR PUSTAKA

- At-Thasyah, Adnan. Serba-Serbi Wanita: Panduan Mengenal Wanita. Terjemahan Gazi Saloom. Jakarta; Penerbit Al-Mahira. Cet I.2001.

- Barker, Anton dan Achmad Charris Zubair. Metode Penelitian Filsafat. Yogyakarta; Penerbit Kanisius. Cet I. 1990.

- Engineer, Asghar Ali. Hak-Hak Perempuan dalam Islam. Terjemahan Farid Wajidi dan Cici Farkha Assegaf. Yogyakarta; Yayasan Bentang Budaya.1994.

- Hamka. Islam dan Adat Minangkabau. Jakarta; Pustaka Panji Mas. Cet II.1985.

——— Falsafah Hidup. Jakarta; Pustaka Panji Mas. Jakarta. Cet XII. 1994.

- Hassan, Riffat. “Teologi Perempuan dalam Tradisi Islam”. Dalam jurnal Ulumul Quran No. 3 Vol. V. Tahun 1994.

- Ilyas, Yunahar. Kesetaraan Gender dalam Alquran: Studi Pemikiran Para Mufasir. Yogyakarta; Labda Press. 2006.

- Kamaludin, Syafruddin Halimy. Adat Minangkabau dalam Perspektif Hukum Islam. Padang; Hayfa Press.2005.

- Khan, Mazhar ul-Haq. Wanita Islam Korban Patologi Sosial. Terjemahan Luqman Hakim. Bandung; Pustaka.1994.

- Mernissi, Fatima. Wanita di dalam Islam. Terjemahan Yaziar Radianti. Bandung; Pustaka.1994.

- Penghulu, Idrus Hakimy Dt. Rajo. Rangkaian Mustika Adat Basandi Syarak di Minangkabau. Bandung; Remaja Karta. 1978.

- Smith, Linda dan William Rapper. Ide-Ide Filsafat dan Agama Dulu dan Sekarang. Terjemahan Pardono Hadi. Yogyakarta; Penerbit Kanisius. Cet V. 2004.

- Tong, Rosemarie Putnam. Feminist Thougt. Terjemahan Aquarini Priyatna Prabasmoro. Yogyakarta; Penerbit Jalasutra.1998.

A. Syafi’i Ma’arif: Demokrasi dan Kebebasan di Cina?

Posted on Updated on

A. Syafi’i Ma’arif: Demokrasi dan Kebebasan di Cina?

Anda masih ingat bukan pembicaraan saya pada Februari 2004 dengan Lu Shumin, Dubes Cina waktu itu? (Lih. Resonansi 2 Maret 2004). Kami telah berbicara tentang Marxisme dan korupsi di Cina, dan sedikit tentang demokrasi pasca pembaruan yang dilancarkan Deng Shiaoping dengan mengoreksi secara radikal politik Mao Zedong yang otoritarian yang banyak makan korban itu.
Seperti saya katakan dalam kolom itu bahwa Lu adalah seorang intelektual Marxist yang tercerahkan, jika bukan telah meninggalkan Marxisme yang hampir bangkrut itu. Kali ini mari kita lihat apakah demokrasi punya prospek di negara dengan penduduk lebih dari 1,3 miliar itu. Bagaimana dengan kebebasan pers sebagai salah satu pilar demokrasi yang terpenting? Pengakuan Li Datong di bawah cukup menarik untuk disimak sebagaimana dituturkannya dalam wawancara dengan Melinda Liu dari Newsweek (3 April 2006).
Li Datong semula adalah editor-in chief Freezing Point yang dibreidel Januari 2006, tetapi diizinkan terbit kembali pada 1 Maret 2006 tanpa mengikutsertakan namanya. Li dipindah ke News Research Institute of the China Youth Daily, suatu cara untuk merumahkan wartawan senior ini. Komentar Li tentang kepindahannya ini cukup lugas dan tanpa ragu-ragu: “Orang yang bekerja di sini [News Research] jika bukan orang tua, ya orang sakit. Ini adalah penghentian di tengah jalan sebelum mundur. Artikel-artikel saya sudah tak diizinkan lagi terbit di Cina sekarang –bahkan tidak di dalam internet. Segera setelah nama saya dikenali, artikel itu akan dibuang. Telepon saya juga dipantau. Saya tidak takut tentang masalah itu karena saya tak punya rahasia.”
Saat disusuli pertanyaan: “Jika ini berlaku 10 tahun yang lalu, barangkali Anda juga telah kehilangan kebebasan Anda?” Li menjawab: “Tentu. Sekarang setidaknya mereka masih membayar gaji saya. Ini semacam kemajuan sosial.” Dari percakapan di atas kita melihat bahwa untuk membangun demokrasi yang sehat dan kuat dengan menjamin kebebasan pers di sebuah negara raksasa seperti Cina sukarnya bukan main. Ini berbeda dengan Taiwan setelah Presiden Chiang Ching-kuo mencabut UU Darurat untuk mengganti kediktatoran partai tunggal pada pertengahan 1980-an dengan sistem multipartai, sehingga memungkinkan negeri ini mengikuti cara demokrasi.
Komentar Li: “Dia [Chiang] menyadari sesuatu yang mustahak, yaitu menyertai gelombang utama moral masyarakat di dunia. Dia paham betul apa yang akan berlaku kemudian, tetapi telah berketetapan hati untuk melakukan perubahan.” Dalam kasus Taiwan ini jelas sekali bahwa jika ingin demokrasi, pimpinan tertinggi negara harus memeloporinya. Di Cina Daratan gerak serupa belum terjadi, sekalipun sedikit ada kemajuan, Li Datong misalnya tidak langsung ditangkap, tetapi kebebasannya dikebiri.
Anda tentu ingat nasib alm Mochtar Lubis, baik di era Bung Karno maupun di era Jenderal Soeharto? Dia dipenjara selama beberapa tahun dan/atau korannya, Indonesia Raya, diberangus atas nama demokrasi: terpimpin atau Pancasila. Pancasila telah disalahgunakan untuk menindas. Kalau sistem politik di Cina sampai sekarang masih bercorak autarki (despotik), tetapi karena tekanan internet, negara pada akhirnya akan kewalahan membendung kebebasan agar rakyat tidak punya akses terhadap informasi, termasuk informasi tentang apa yang sedang terjadi dalam negeri sendiri.
Sebuah kebobrokan kebijakan tidak mungkin lagi ditutup-tutupi. Sewaktu Li ditanya apakah dia punya harapan di bawah Presiden Cina Hu Jintao sekarang, yaitu Cina Daratan mengikuti jejak Taiwan dalam hal kebebasan dan demokrasi. Dijawab, akan sulit sekali. Bahkan, dikatakan jika dua kecenderungan politik (kebebasan dan pengekangan) tidak teratasi, kekacauan besar akan berlaku. Tidak mustahil tragedi berdarah model Tiananmen pada 1989 akan berulang. Sekarang pemerintah Cina telah berunding dengan perusahaan asing Google dan Yahoo agar isi internet dikontrol sekalipun dengan biaya yang besar sekali. Kedua perusahaan ini, demi pangsa pasar yang dahsyat, setuju.
Tetapi, kata Li, untuk mengontrol seluruh isi informasi sudah tidak mungkin lagi. Sebagai salah seorang intelektual kritikal jika bukan pembangkang, Li sampai pada kesimpulan: ‘Sebuah masyarakat yang sehat harus punya suara-suara yang berbeda, termasuk [suara] dari ekstrem kiri, ekstrem kanan, dan mereka yang berada di tengah. Suara tunggal untuk seluruh negeri jelas berbahaya bagi negeri manapun di dunia.’
Bagaimana Indonesia? Dalam arti kebebasan, kita jauh lebih maju dibandingkan dengan negeri raksasa itu. Tetapi, yang baru kita alami di sini adalah: kebebasan untuk kebebasan atau untuk menghidupi kaum elite yang beruntung tetapi tidak pernah kenyang; bukan kebebasan untuk membantu rakyat yang kelaparan. Serba sulit bukan? Memang peradaban politik Indonesia baru sampai di situ, Anda mau apa?

http://www.republika.co.id/kolom.asp?kat_id=19

ANDA ADALAH PENGUNJUNG KE
counter

PENGUNJUNG ONLINE


Web site ROI

Mengapa Belajar Filsafat

Posted on Updated on

Banyak orang merasa asing dengan filsafat. Mereka bertanya filsafat itu ilmu apa, atau apakah orang bisa hidup dengan filsafat? Apakah orang bisa bekerja dan mendapatkan karir yang bagus setelah belajar ilmu filsafat?

Banyak mahasiswa yang masuk perguruan tinggi tidak mengenal ilmu filsafat. Bahkan meskipun anak-anak Sekolah Menengah Umum (SMU) memiliki kemampuan yang memadai untuk mempelajari filsafat, kesempatan jarang sekali diberikan pada mereka. Jadi, mudah dipahami jika kesan mahasiswa pada umumnya tentang filsafat, sebuah kesan yang juga tertanam luas dalam masyarakat umum, adalah bahwa mereka tidak mengerti (uninformed) atau menyalahpahami (misinformed) ilmu filsafat. Mereka mungkin bertanya:

“Mengapa dan untuk apa saya harus belajar filsafat?” Berikut ini adalah pertimbangan yang bisa diajukan:

  • Filsafat membantu kita memahami bahwa sesuatu tidak selalu tampak seperti apa adanya.
  • Filsafat membantu kita mengerti tentang diri kita sendiri dan dunia kita, karena filsafat mengajarkan bagaimana kita bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti:
    – Siapakah diri saya?
    – Apakah Tuhan benar-benar ada?
    – Bagaimana seharusnya saya hidup? Bagaimana seharusnya kehidupan bersama di atur?
    – Haruskah saya mematuhi apa yang telah diatur dalam kehidupan masyarakat?
    – Dapatkah saya meyakini kebenaran dari setiap kepercayaan yang saya anut?
    – Apakah hidup saya berarti dan punya makna?
    – Apakah nilai-nilai dan kepercayaan sebenarnya hanya merupakan sebuah opini?
    – Apakah hakikat pikiran, bahasa dan gagasan?
  • Filsafat membuat kita lebih kritis. Filsafat mengajarkan pada kita bahwa apa yang mungkin kita terima begitu saja ternyata salah atau menyesatkan—atau hanya merupakan sebagian dari kebenaran.
  • Filsafat mengembangkan kemampuan kita dalam:
    – menalar secara jelas
    – membedakan argumen yang baik dan yang buruk
    – menyampaikan pendapat (lesan dan tertulis) secara jelas
    – melihat sesuatu melalui kacamata yang lebih luas
    – melihat dan mempertimbangkan pendapat dan pandangan yang berbeda.
  • Dengan mempelajari karya-karya para pemikir besar, para filsuf dalam sejarah dan tradisi filsafat, kita akan melihat betapa besar sesungguhnya pengaruh filsafat terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, agama, pemerintahan, pendidikan dan karya seni.
  • Filsafat memberi bekal dan kemampulan pada kita untuk memperhatikan pandangan kita sendiri dan pandangan orang lain dengan kritis. Kadang ini memang bisa mendorong kita menolak pendapat-pendapat yang telah ditanamkan pada kita, tetapi filsafat juga memberikan kita cara-cara berfikir baru dan yang lebih kreatif dalam mengahadapi masalah yang mungkin tidak dapat dipecahkan dengan cara lain.

Apakah Belajar Filsafat Membantu Kita Mendapatkan Pekerjaan dan Karir yang Baik?Filsafat penting bagi setiap pendidikan yang berorientasi pada pembebasan. Tetapi filsafat sebenarnya juga sangat praktis. Banyak penyedia lapangan kerja mencari tenaga kerja dari latar belakang ilmu filsafat—tentu dengan syarat bahwa ada ketrampilan teknis yang juga dimiliki. Latihan dalam bidang filsafat sungguh-sungguh memberikan pada kita ketrampilan yang dapat ditularkan yang pada gilirannya sangat dihargai oleh penyedia lapangan pekerjaan dalam bidang bisnis dan kehidupan profesional.

Kemampuan berfikir secara jernih, menalar secara logis, dan mengajukan dan menilai argumen, menolak asumsi yang diterima begitu saja, dan pencarian akan prinsip-prinsip pemikiran dan tindakan yang koheren—semuanya ini merupakan ciri dari hasil latihan dalam ilmu filsafat. Tidak ada mahasiswa filsafat yang lulus studinya yang tidak mengenal ketrampilan yang sangat berharga ini. Jadi tidak sulit melihat mengapa :

Sebagian lulusan Filsafat meneruskan studinya ke jenjang pendidikan lebih tinggi dalam ilmu ilmu filsafat dan bekerja sebagai dosen atau peneliti di lembaga-lembaga pendidikan atau penelitian. Namun, sebagian besar diantara mereka juga mengembangkan karirnya di bidang lain seperti lembaga pemerintah, hukum, perbankan, komputer, media massa dan penerbitan, kesehatan dan sebagainya yang semuanya membutuhkan kemampaun dalam berfikir. Karena itu, lulusan filsafat bisa (dan dalam kenyataannya) terjun dan meneruskan karir dalam bidang yang luas seperti

  • BISNIS: asuransi, penerbitan, periklanan, pemrograman computer, konsultan, perbankan, pemasaran, penulis teknis
  • PEMERINTAHAN: pegawai administrasi, diplomat, analis kebijakan, intelegen, pelayanan sosial
  • WARTAWAN: editor, penulis lepas, kritikus film dan naskah
  • HUKUM: wartawan hukum, peneliti dan pengamat hukum, pegawai di lembaga bantuan hukum atau pengadilan.
  • PENGOBATAN: konsultan, pegawai administrasi rumah sakit, praktisi pengobatan, perawat
  • SENI DAN KEMANUSIAAN: pegawai administrasi pemerintah atau swasta, penulis kreatif, produser film, atau karya seni
  • LAIN-LAIN: pendidik, pegawai, politisi, pemograman computer, administrsi perpustakaan, pramugari/pramugara

Banyak tokoh internasional belajar filsafat :

  • Woody Allen (Sutradara dan pelawak)
  • Bill Clinton (mantan Presiden AS)
  • Philip K. Dick (penulis fiksi ilmiah)
  • Feodor Dostoevsky (penulis novel)
  • David Duchovny (filsafat membawanya pada The X Files?)
  • Carol Ann Duffy (penyair)
  • T.S. Eliot (penyair; karya disertasinya adalah tentang filsafat F.H. Bradley)
  • John Elway (pemain gelandang, Denver Broncos – mungkin disukai sejumlah orang Amerika)
  • Harrison Ford (aktor)
  • Ivan Frolov (editor Pravda; filsuf dapat menjadi ahli propaganda yang baik…Goebbels mempelajarinya)
  • Rebecca Goldstein (penulis novel; novelnya The Mind-Body Problem, sekarang dicetak, novel ini didasarkan pada pengelamannya sebagai mahasiswa doktor dalam ilmu filsafat di Princeton)
  • Vaclav Havel (dramawan, mantan presiden Czechoslovakia
  • Bill Hicks (dikenal sebagai pelawak)
  • Mark Hulbert (penulis kolom keuangan di majalah Forbes)
  • Martin Luther King, Jr (pemimpin hak-hak sipil di AS)
  • Aung San Suu Kyi (Pemimpin oposisi politik Burma)
  • Bruce Lee (ahli kung fu, aktor
  • Peter Lynch (salah satu menajer keuangan yang sangat sukses,. Pengarang buku yang yang sangat laris One Up on Wall Street)
  • Naguib Mahfouz (Penulis Mesir)
  • Osip Mandelstam (penyair, dihukum mati oleh Stalin)
  • Steve Martin (pelawak dan aktor; kata orang ia pernah belajar filsafat, tapi mungkin tidak)
  • Kate Millett (penulis feminis)
  • Iris Murdoch (penulis novel)
  • Ricardo Muti (pemimpin orkestra)
  • Chaim Potok (penulis novel)
  • Robert Reich (penggubah lagu)
  • Gene Siskel (kritikus film)
  • Susan Sontag (penulis)
  • George Soros (manipulator pasar uang, pernah mengatakan bahwa dirinya bisa seperti itu karena belajar dari Karl Popper)
  • Leo Tolstoy (penulis novel)

Di pentas nasional, juga banyak tokoh yang belajar filsafat :

  • Dian Sastrowardoyo (Bintang Film, Belajar Filsafat di UI)
  • Sophia Lajuba (Bintang Film, konon juga suka mengoleksi buku-buku filsafat)
  • Dyah Rieke Pitoloka (Bintang Film)
  • Gus Dur (Mantan Presiden)
  • Ahmad Dani (Pemusik, setidaknya suka karya-karya Kahlil Gibran)

Kalau ada nama-nama lain, kami sangat gembira mendengarnya. Sampaikan pada kami ke email: filsafat@ugm.ac.id. Dan jika orang-orang yang terdapat dalam daftar di atas ternyata tidak pernah berhubungan dengan filsafat, beritahu kami dan kami akan menghapuskannya dari daftar.
Uraian di diatas diambil dari:

Sumber : http://www.filsafat.ugm.ac.id/isi/view/40/66/