Satu Jam Bersama Prof. Mestika Zed, M.A

Posted on Updated on


Sabtu siang, 22 Januari 2011. Kecewa karena kalah dari Jambi pada turnamen futsal yang diadakan teman-teman Asrama Lampung membuat tubuhku lemah. Padahal cuma main 15 menit. Tumpahkan kekesalan dengan makan sebanyak mungkin. Tiba-tiba handphoneku berdering. Ada telpon dari Da Adam (alumni asramaku yang sekarang lagi ambil S3 di jurusan Sejarah UGM). Beberapa saat, kemudian suara di seberang sana tiba-tiba berubah. Ternyata Da Adam  menyerahkan handphone-nya pada seseorang.

Suprise, karena yang menelponku adalah Prof. Dr. Mestika Zed, M.A (Sejarawan dari Universitas Negeri Padang lulusan Niet Westerse Geschiedenis department, Faculteit der sociaal-culturele wetenschapen, Vrije Universiteit, Amsterdam). Tokoh terkemuka dalam dunia keilmuan sejarah di Indonesia. Memang sebelumnya, beliau sudah mengontakku lewat email karena ingin memesan buku “Manusia Minangkabau”. Tapi ketika diminta untuk mengantar buku pesanan itu ke UC Hotel UGM, membuatku gembira bukan kepalang.

Setelah berjanji akan datang setelah sholat Ashar, akupun segera menelpon Dr. Nusyirwan, penulis “Manusia Minangkabau”. Beliaupun bersedia untuk bertemu dengan Prof. Mestika Zed.

Langit Jogja masih mendung. Rintik-rintik gerimis mengiringi perjalananku dari asrama menuju UC Hotel UGM. Meminjam motor Uyung, karena motorku masih memerlukan perbaikan setelah tabrakan hari Rabu kemarin.

Sekitar jam 5 kurang 10 menit, Pak Nusyirwan akhirnya datang bersama istri dan anak perempuannya. Kamipun langsung menuju resepsionis. Selang beberapa menit, kamipun dipersilahkan untuk menuju lantai 2, langsung menuju kamar Prof. Mestika.

Ketika dibukakan pintu, wajah beliau langsung sumbringah. Sosok sederhana itu langsung mempersilahkan kami masuk ke dalam kamar. Setelah sedikit perkenalan, obrolanpun berlangsung dengan hangat. Mulai dari kondisi aktual di Sumatera Barat saat ini, perlawanan terhadap kapitalis perbukuan di Indonesia, sampai carut-marut kondisi bangsa saat ini.

Setiap menguraikan satu tema terlihat begitu dalamnya pemahaman Prof. Mestika akan satu persoalan. Lengkap dengan tinjauan historis yang menjadi bidang kajian keilmuannya.

Sebagai sejawan yang intens mengikuti perkembangan bangsa ini dari masa kolonial hingga sekarang, beliau tak habis pikir dengan logika apa yang dipakai yang dipakai oleh penguasa untuk mengurus Indonesia. Mulai dari pejabat daerah, sampai pejabat tingkat nasional. Pemerintah selalu merasa telah berbuat banyak, sementara keadaan tetap tak berubah bahkan semakin parah. Kritik yang disampaikan ilmuwan hanya dianggap angin lalu dan dijawab dengan berbagai pernyataan kamuflase.

Tanpa terasa, adzan Magribpun berkumandang. Obrolan satu jam, terasa singkat dan belum memuaskan. Kamipun mohon pamit. Prof. Mestika mengantar sampai ke beranda depan. Tampak taksi berhenti. 2 orang penumpangpun turun hendak memasuki UC Hotel UGM. Kali ini suprise kedua menaungi kami, karena penumpang yang turun barusan adalah  Prof. Taufik Abdullah bersama Ibuk. Tampilan beliau sederhana, tapi aura intelektualnya begitu bercahaya. Setelah ngobrol sebentar, Prof. Taufik-pun pamit hendak masuk ke dalam.

Menjelang pulang, akupun sempat ngobrol sebentar dengan Prof. Mestika. “Saya sudah dengar sedikit kiprah anda selama ini dari Zayardam (Da Adam). Katanya anda ini termasuk anak muda potensial yang sedikit gila. Saya bangga dengan anda…”. Mendapat pujian itu, aku merasa terhormat sekali.

Terima Prof. Mestika atas pertemuan perdana yang sangat mengesankan kemarin sore. Mudah-mudahan saya bisa mengikuti jejak Professor; kuliah di luar negeri, menjadi ilmuwan yang kaya dengan karya, menjadi ilmuwan kritis yang cermat melihat permasalahan, meneruskan perjuangan membangun kampung halaman, dan meneruskan perjuangan untuk membangun negeri ini menjadi bangsa besar. Amien…

======================

Tadi sore kukirimkan sms ke Bapak, bahwa aku bertemu dengan Prof. Mestika. Terus Bapak mengatakan, “Beliau itu pernah sekelas di kelas 1 dan 2 jo Apa di PGA Payakumbuah. Ndak nyangko loh nyo ka jadi Prof. Dr pakar sejarah lulusan Balando. (Beliau itu pernah sekelas dengan Papa di kelas 1 dan 2 PGA Payakumbuh. Tidak disangka sekarang beliau jadi Professor Doktor, pakar sejarah lulusan Belanda).”

Ketika kukonfirmasi ke Prof. Mestika, ternyata memang beliau kenal dengan Bapak. “Oo, jadi anda putra Pak Alizar. Beliau itu hebat sejak di siswa PGA. Dimana beliau sekarang? Salam saya juga untuknya. Salam takzim…”

Ya Allah, terima kasih atas pertemuan istimewa ini. Sungguh nikmatmu begitu berlimpah untukku. Ya Allah, terima kasih atas nikmat yang teramat berharga ini.. Karena Engkau telah mengenalkanku dan mengikat silaturrahim dengan orang-orang hebat di negeri ini.. Alhamdulillah…

About these ads

2 pemikiran pada “Satu Jam Bersama Prof. Mestika Zed, M.A

    Deddi Ajir berkata:
    11 Februari 2011 pukul 15:13

    harus banyak anak muda seperti anda. untuk kebersihan bangsa ini

    Cut Irna Setiawati (@iicoet) berkata:
    9 Desember 2013 pukul 14:31

    Nice sharing..
    Oiya, ada alamat email nya beliau nggak? Mohon di share ya, ada yang ingin saya tanyakan seputar buku beliau yg berjudul Metode Penelitian Kepustakaan (Yayasan Obor Indonesia, 2008) Mohon dikirim ke setiawaticutirna@gmail.com
    Terimakasih banyak sebelumnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s