Kenapa Aku Meninggalkan Salafi?

Posted on Updated on


Perjalanan spiritualku dalam mengenal Islam menemui babak baru ketika memulai studi di Jogjakarta. Bertemu dengan senior satu kamar di asrama mahasiswa Sumatera Barat yang memiliki penampilan aneh. Berjenggot tebal dan celana di atas mata kaki. Namanya anak kampung yang baru sekali merantau, aku hanya bisa banyak mendengar apa yang seniorku itu sampaikan. Tiap malam aku dibombardir dengan istilah-istilah baru yang belum kuketahui sebelumnya tapi memiliki indikasi negatif dalam agama.

Berjalannya waktu dan semakin intensnya pembicaraan kami, akhirnya aku mengenal sebuah aliran baru “Salafi”. Sebuah ajaran yang diklaim sebagai ajaran yang paling benar dan paling teguh memegang Al Qur’an dan As Sunnah. Sementara gerakan atau ajaran lain dianggap bid’ah dan tidak sesuai dengan Islam “yang sebenarnya”.

Meski tanpa didampingi oleh sang senior, aku melakukan pencarian lebih lanjut tentang “Salafi”. Lewat pamflet-pamflet pengajian yang disebar di kampus, akupun mulai mengunjungi masjid-masjid tempat berlangsungnya kajian yang bertitel “mengikuti sunnah Nabi” ini. Aku terpukau dengan kapabilitas ustadz-ustadznya yang hafal ayat-ayat Al Qur’an dan Hadist. Banyak hadist-hadist baru yang kudengar. Tampilan tawadhu’ para pendengar yang terdiri dari bapak-bapak dan pemuda-pemuda berjenggot-berjubah, serta wanita-wanita bercadar membuat kepincut untuk terus mengikuti pengajian-pengajian Salafi, karena sejak SMA aku sudah memilih memelihara jenggot sebagai sunnah Nabi, sampai-sampai aku berdebat keras dengan seorang guru berjilbab yang menyuruhku untuk memotong jenggot. Aku berpikir, inilah tempat aku menemukan teman-teman yang melaksanakan hadist yang dulu pernah kutemui bahwa memilihara jenggot merupakan bagian dari sunnah Nabi.

Meskipun masih menjadi orang “aneh” dengan penampilan modern (celana panjang dan kemeja), keinginanku untuk belajar mengalahkan rasa risih. Seringkali para jama’ah lain menatap diriku agak lama. Mungkin karena dirasa sebagai orang baru, gaya penampilanku yang tidak lazim dapat mereka maklumi. Minggu-minggu berlalu, aku semakin asyik dengan pengajian demi pengajian. Di Asrama,  sang senior satu kamar semakin intens menceritakan kejelekan-kejelekan ajaran di luar Salafi.

Aku tak ingat lagi sejak kapan memotong celana hingga di atas matakaki. Semua celana panjangku kukirim ke tukang jahit untuk “dirapikan” agar sama seperti celana-celana yang dipakai oleh anggota pengajian. Jenggotku mulai memanjang dan celanaku tidak lagi celana lipatan. Mulailah beberapa peserta pengajian mendekatiku dan mengajakku ngobrol. Aku mulai merasa diterima sebagai bagian mereka. Aku merasa enjoy karena mulai mendapatkan teman-teman baru. Lambat laun hubunganku semakin intens dan mengenal lebih banyak lagi teman-teman Salafi. Sampai suatu kali perkenalan tentang kuliah, aku bilang kuliah di Filsafat UGM. Sontak saja raut teman bicaraku berubah. Awalnya aku tak mengerti, kenapa setiap memperkenalkan diri sebagai mahasiswa Filsafat mereka mencoba mengalihkan pembicaraan?

Akhirnya aku tahu sebab-musabab, kenapa raut wajah mereka berubah ketika kubilang kuliah di Filsafat. Ternyata memang Salafi “mengharamkan Filsafat”. Berkali-kali ketika membahas peran akal dalam memahami wahyu atau kajian-kajian mengenai firqoh-firqoh Islam, istilah filsafat dikatakan dengan ucapan sinis. Berbagai istilah dilekatkan kepada filsafat, “ilmu syetan”, “ilmu sesat”, “ilmu tak bermanfaat”.

Kegelisahan mulai menderaku. Apakah benar kuliah yang sedang kujalani saat ini adalah kuliah yang mempelajari ilmu yang dilarang dalam Islam? Suatu ketika kuberanikan diri bertanya empat mata kepada beberapa Ustadz. Jawaban dari Ustadz yang kudatangi SAMA. Mempelajari filsafat itu haram. Pertahananku jebol. Aku benar-benar binggung. Semester 3 aku mulai malas-malasan pergi ke kampus. Pagi hari dan siang hari aku hanya termanggu di asrama, berkata pada diri sendiri, “betapa bodohnya aku telah salah memilih jurusan”. Aku menghindar memilih jurusan hukum atas dasar asumsi “Islami”, hukum di Indonesia adalah hukum thagut (kafir, sesat). Dan pilihan jurusan filsafat kusandarkan kepada sebuah artikel dalam terjemahan Al Qur’an yang dikeluarkan oleh Departemen Agama. Tapi, di Jogja aku menemukan hal sebaliknya, “Filsafat Haram dalam Islam”.

Akibat jarang mengikuti perkuliahan, IP-ku jeblok. Padahal semester 1 dan 2 aku berhasil meraih IP di atas 3. Sementara, aktivitas pengajianku di Salafi semakin intens. Beberapa kajian yang kuikuti telah melewati batas kota Jogja.

Suatu ketika, aku berpikir tak mungkin lagi melanjutkan kuliah di filsafat. Kuberanikan diri bicara lewat telpon kepada Bapak untuk berhenti kuliah. Aku ingin masuk pondok pesantren, mempelajari ilmu agama yang lebih mulia dari ilmu-ilmu lain. Kusampaikan kepada Bapak dalil-dalil keharaman filsafat sebagaimana yang kudapatkan dari ustadz. Bapak marah besar kepadaku. Aku cuek, karena yakin apa yang sampaikan benar menurut “agama”. Aku bersitegang dengan Bapak. Beberapa hari setelah percekcokanku dengan Bapak, Ibu datang ke Jogja. Tak henti Ibu menangis. Memberitahukan bagaimana Bapak kecewa berat dengan “kegilaan-ku” meninggalkan kuliah di UGM. Ibu memintaku untuk mengurungkan niat berhenti kuliah. Jiwaku masih memberontak waktu itu.

Beberapa hari Ibu menginap di kamar. Tak henti tangisan beliau ketika memintaku untuk memikirkan kerja keras Bapak menguliahkanku dengan biaya yang besar di UGM. Akupun luluh. Tak sanggup rasanya melihat Ibu bercucuran airmata. Hati kecil berontak, bimbang antara memilih “agama” dan keinginan orang tua. Terlintas ucapan ustadz-ustadz Salafi bahwa hormat kepada manusia tidak perlu jika melanggar perintah Tuhan, hatta itu orangtua sendiri. Di sisi lain sanubariku berkata, bukankah agama melarang seorang anak durhaka kepada orang tua?

Aku menghadapi dilema ini sendirian. Seniorku satu kamar yang mengenalkanku dengan Salafi diam masa bodoh. Sibuk dengan kerja dan kuliahnya yang memang begitu padat. Menjelang kepulangan Ibu kembali ke kampung karena sudah tak bisa berlama-lama di Jogja demi kerja dan mengurusi adik-adikku yang masih kecil-kecil, beliau kembali memintaku untuk mengurungkan niat berhenti kuliah. Aku tak bisa melawan Ibu dab melepas kepergian beliau dengan tangisan. Kukuatkan tekad dan bilang sama Ibu bahwa aku mengurungkan niat berhenti kuliah. Aku akan kembali masuk kuliah dan mengejar ketertinggalan selama ini. Berusaha keras meraih IP seperti 2 semester awal dulu. Dalam hati aku menguatkan tekad, “persetan dengan kata-kata Ustadz kalau akhirnya aku membuat Ibu menangis dan Bapak menjadi kecewa. Terserah dibilang membuang umur untuk mempelajari ilmu yang haram, terserah dibilang sebagai pengkhianat agama. Persetan dengan semua dalil dan argumen agamis yang mereka sampaikan. Aku mau menghormati orangtuaku meskipun dianggap sebagai “kedurhakaan” kepada Tuhan.

Titik balik itu berlangsung saat liburan semester 6, persis tiga tahun aku menjalani hidup sebagai mahasiswa di Jogja. Kudatangi kampus untuk registrasi masuk kuliah semester 7. Kuminta transkrip nilai. Tak sampai 40 sks mata kuliah yang telah kuambil. IPK-pun hancur di bawah 2,5. Hanya satu tekad kukobarkan, aku tak boleh mengecewakan Bapak dan Ibu lagi.

Aku mulai kuliah. Kajian Salafi masih tetap kuikuti. Aku masih senang dengan uraian hadist dan Al Qur’an dari Ustadz, meskipun sesekali sentilan negatif terhadap filsafat tetap memerahkan mukaku. Aku kemudian menjadi orang aneh. Pergaulanku dengan teman-teman Salafi semakin luas, karena aku adalah santri yang unik bagi mereka, menjadi Salafi tapi kuliah di filsafat.

Suatu hari di tahun awal 2006, aku memutuskan untuk masuk Muhammadiyah lewat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah UGM. Aku mulai intens mengikuti kajian tafsir Ustadz Dr. Yunahar Ilyas, Lc di kantor pusat Muhammadiyah Yogyakarta. Ada hal lain yang kutemui. Ustadz Yunahar lulusan Saudi Arabia, sama dengan Ustadz-Ustadz kenamaan Salafi yang juga menempuh studi di negeri yang didirikan Keluarga Saud itu, yakni gaya ceramah Ustadz Yunahar yang lebih soft dan lebih mengedepankan analogi. Tidak pernah beliau menyerang filsafat, malahan mengatakan filsafat dibutuhkan untuk menghadang musuh-musuh Islam. Aku terheran-heran. Kok bisa beda ya? Kuperhatikan face ustadz Yuhanar, kumis menghiasi wajahnya. Jenggot hanya sedikit. Tak pernah kulihat Ustadz Yunahar memakai kopiah haji meskipun beliau sudah naik haji berkali-kali. Hanya kopiah hitam nasional yang menurut beberapa teman Salafi, tidak Islami. Kuperhatikan celana beliau, berjuntai melewati mata kaki. Aku bertanya, kenapa “Ustadz” satu ini berbeda dengan Ustadz-Ustadz Salafi-ku?

Keherananku semakin kentara ketika Ustadz Faturahman Kamal mengantikan beberapa kali kajian Ustadz Yunahar. Ustadz Faturahman adalah alumni Universitas Islam Madinah yang diklaim sebagai salah satu pusat keilmuan Salafi. Gaya ceramah beliau berbeda. Bahkan sesekali beliau membicarakan geliat dakwah kampus yang menguraikan ketidakwajaran halaqoh dakwah, yang secara eksplisit mengarah kepada Salafi.

Aku kembali bertanya-tanya, apakah klaim Salafi sebagai firqoh yang paling benar sebagaimana yang berbuih-buih disampaikan oleh para Ustadznya BENAR? Sementara itu, senior satu kamarku yang melepasku dalam kebimbangan sendirian, meninggalkan Jogja. Dia sudah lulus kuliah dan hendak pulang kampung untuk mencari pekerjaan demi mempersiapkan lamarannya kepada salah satu teman dari asrama putri.

Kuliahku berjalan lancar. IPK-ku semakin hari semakin naik. Aku semakin menikmati perkuliahan dan uraian-uraian filosofis yang disampaikan dosen. Kajian Salafi mulai jarang kuikuti, kecuali kajian Ustadz Ridwan Hamidi yang tak bisa kutinggalkan sama sekali. Aku teramat suka dengan Ustadz Ridwan, yang seringkali mendapat ejekan dari kelompok Salafi yang lain, karena ceramah beliau yang lembut dan sering membuat jiwaku tentram.

Singkat cerita, bulan Februari ini aku akan diwisuda. Menjadi lulusan terbaik fakultas Filsafat UGM untuk wisuda periode pertama di tahun 2010 dengan IPK 3,61. Penampilanku sudah biasa. Tak ada lagi celana jingkrang di atas mata kaki dan jenggot panjang yang awut-awutan. Aku menjadi orang biasa. Aku tetap normal tidak menjadi gila dengan filsafat yang kupelajari. Aku masih sholat, baca Al Qur’an dan mempercayai Tuhan. Filsafat telah membuka wawasan dan perspektifku lebih luas dalam memandang dunia. Tidak seperti saat di Salafi dengan pola hitam-putih yang dibangun. Hidup dikurung dan dihiasi kebencian kepada orang lain dengan sekat “Kafir”, “Ahlul Bid’ah” dan “Kaum Sesat” yang didasarkan bingkai agama.

Bulan ini, aku bisa mengobati airmata Ibu dan kekecewaan Bapak beberapa tahun lalu. Hari ini aku bahagia tanpa harus kehilangan keIslamanku. Malahan aku menemukan Islam yang damai lewat uraian Ustadz Yunahar Ilyas dan Ustadz Faturrahman Kamal.

Aku tak peduli dengan sindiran keputusanku keluar dari Salafi. Terserah dibilang orang yang futur, tersesar dari jalan dakwah, atau sebutan menyakitkan lainnya. Aku tak peduli sama sekali. Yang penting aku masih menyembah Tuhan, masih mendengarkan Al Qur’an dan Hadist, masih sholat, puasa, mendengarkan ceramah, dan bisa berbakti kepada orangtuaku. Aku punya jalan hidup sendiri dan punya kekuatan pikiran untuk mengarahkannya kemana. Aku sudah tak peduli dengan omongan-omongan negatif tentang keadaanku sekarang. Terserah mereka mau bilang apa…

*********************

NB: Kutuliskan cerita ini setelah membaca berita penerimaan mahasiswa baru Universitas Islam Madinah diadakan di Pesantren Gontor yang notabene bukan pesantren Salafi. Kenapa pemerintah Saudi lebih percaya kepada Gontor daripada Pesantren-Pesantren Salafi yang saat ini sudah berdiri di berbagai kota di Indonesia??? Entahlah…

About these ads

130 thoughts on “Kenapa Aku Meninggalkan Salafi?

    rima amanda said:
    13 Februari 2010 pukul 07:51

    Jadi Anggun mau melanjutkan ke Univ Islam Madinah nih ceritanya? ALhamdulillah gun, ii ga menyangka kalo kisah yg anggun lewati begitu menyentuh hati.
    Selamat ya gun atas predikat lulusan terbaik nya.. Semoga ilmu anggun bermanfaat bagi kita semua. Amiien

      Preman Insyaf said:
      30 Juni 2014 pukul 08:29

      Salafi Wahabi identik dengan Madzhab Albani……… :)

    hub hub said:
    13 Februari 2010 pukul 08:25

    heheheee,,,
    thanks infonya da anggun…
    sangat bermanfaat…

    Arie said:
    13 Februari 2010 pukul 09:05

    Sungguh mengharukan kisahmu Gun…
    Segala puji dan syukur hanya pantas utk- Nya. Alhamdulillah…

    Abdul9hofur said:
    13 Februari 2010 pukul 11:57

    Assalamu’alaikum…
    Insya Allah akhi telah memilih jalan yang tepat…

    herdin said:
    16 Februari 2010 pukul 20:28

    dinamika hidup yng jd guru dlm hidup,biar ada crita esok hari,but selamat ya… sukses ses ses…..

    rizki mula saputra said:
    21 Februari 2010 pukul 08:08

    Assalamualaikum
    Mudahan mas anggung bisa menjadi salafi lagi seperti dulu. Apapun keadaan mas anggung sekarang, saya tetap menyayangi mas anggung meski tidak jadi salafi lagi. Salafi tidak seperti yang mas anggun gambarkan. salafi itu indah, mudah, dan sesuai dengan fitrah manusia. Saya dulu juga menjadi mantap dengan salafi dan senang dengan ikhwah salafi dengan sebab mas anggun juga. saya ingat dulu mas anggun baik sekali sama saya ketika masih tinggal di wisma.

    memang saya dulu merasa kurang sreg dengan salafi seperti apa yang mas anggun gambarkan. akan tetapi, sejak saya belajar ilmu agama dengan benar, baru saya menyadari bahwa inilah ajaran islam yang benar.
    Terima kasih kepada mas anggun dan semoga mas anggun diberi hidayah lagi untuk menerima ajaran salafi.

      liza said:
      22 November 2013 pukul 22:17

      Salafi memang indah, …

      Caknur said:
      8 Maret 2014 pukul 05:35

      Koq diberi hidayah menerima ajaran salafy..??? Harusnya diberi hidayah menerima ajaran Islam yg benar menurut Allah SWT, bkn menurut salafy…

      Salafy hanya cocok bagi mereka yg kurang menggunakan akalnya. Ustadz Ridwan Hamidi, sebenarnya bukan salafy dalam arti fahamnya ga sempit kayak anak2 salafy. Beliau tawadhu, lemah lembut thd sesama muslim dari harakah apapun dan beiau juga mumpuni dlm ilmu syariah.

        Husain said:
        17 Mei 2014 pukul 19:35

        Salam.. Lah Mas2.. ya Salafy itu jalan yg benar.. Saran saya sampean belajar lagi lbh dalem agama islam mas… sebaiknya mas pikir dahulu sebelum berucap seperti itu, Pake akal dlu mas..
        berfikir blom pake akal ud berani bilang “Salafy hanya cocok bagi mereka yg kurang menggunakan akalnya” mungkin akal ud pake sampean, cuman ilmunya masih dangkal..

      Yanto said:
      24 Juni 2014 pukul 22:45

      hidayah menerima ajaran Islam mas, bukan salafi nambah-nambah syariat saja

      Preman Insyaf said:
      30 Juni 2014 pukul 08:46

      Salafi Wahabi identik dengan Madzhab Albany…… :)

      edwin saputra said:
      7 Juli 2014 pukul 16:22

      Assalamu’alaikum, mas rizki, saya ingin berkenalan dengan anda. saa ingin memperdalam salafi.

    rizki mula saputra said:
    21 Februari 2010 pukul 08:10

    assalamualaikum
    maaf banget ya, mas… itu nama mas anggun salah tulis…. Afwan….

    zia said:
    22 Februari 2010 pukul 05:26

    Assalaamu’alaykum.
    Ni uda Gunawan yang dulu ikut ‘arabic for all’ bareng saya ya? Gimana kabarnya? Lokasi di mana sekarang? Dah balik Solok ya? (wew, banyak kali pertanyaannya ya? (tanya lagi)).
    Membaca artikelnya, kok judulnya ‘akhirnya aku keluar dari salafi’? Memangnya dulu pas masuk ada ngisi formulir atau bayar pendaftaran ya Uda? He..he.. Becanda
    Mungkin maksud Uda, judulnya harusnya ‘akhirnya aku tidak bermanhaj salafi’. Tapi kalau beneran ni judulnya, jadinya ada 3 kemungkinan yakni 1. Tidak berlandaskan Al Quran 2. Tidak berdasarkan hadits Nabi, atau 3. Tidak memahami Al Quran dan hadits sesuai dengan pemahaman para shahabat dan shalafus shalih, secara yang disebut salafy kan manhaj dalam berislam dengan berpedoman pada Al Quran dan hadits nabi sesuai dengan yang dipahami para shahabat dan salafus shalih. Tapi jika Uda tidak bermaksud demikian (dan saya yakin uda tidak bermaksud demikian), mungkin Uda khilaf ya sehingga meninggalkan sunnah memelihara jenggot dan memakai celana di atas mata kaki (dan dibawah lutut tentunya)?
    Afwan Uda, bukan maksud menggurui nih. Hanya hendak memberikan hak Uda yang ada sama saya.
    Wassalaamu’alaykum

      abdullah said:
      12 April 2013 pukul 06:54

      Imam al-Qusyairi rahimahullah menegaskan dengan tegas sekali:
      “Mereka (golongan yang menolak takwil, termasuk salafi wahabi) ini di mana ruh-ruh kami berada dalam kekuasaanNya, lebih memberi mudarat terhadap Islam dari golongan Yahudi dan Nasara serta Majusi yg juga penyembah berhala. Ini kerana kesesatan orang-orang kafir jelas kelihatan, boleh di jauhkan oleh orang-orang Islam, sedangkan mereka ini datang kepada orang yang beragama dan orang biasa melalui cara menipu golongan yang lemah (yaitu kurang mantap ilmu agamanya)” (Murtadha al-Zabidi, 2 / 108-109)

      liza said:
      22 November 2013 pukul 22:21

      Semoga Anggun kembali mencintai islam sesuai dengan pemahaman para salafus sholeh. Aamiin..

      Caknur said:
      8 Maret 2014 pukul 05:43

      Perhatikan anak-anak salafy jika di kampus-kampus: Mereka lebih akrab dan ramah berteman dengan orang-orang non muslim darpada terhadap sesama muslim haraki (dari harakah lain non salafy spt Tarbiyah/IM, HTI atau Hijbut Tahrir dll). Kadang saya suka aneh melihat sikap tmn2 salafy saya, mereka spt ada sekat yg membatasi hati mereka dgn sesama mukmin yg samas sholat di masjid, tp mereka begitu akrab dan dekat hatinya thd orang2 kafir non muslim.

      Silahkan amati dan perhatikan mereka, pasti anda akan melihat itu. Padahal nabi SAW bersabda, “hati itu ibarat tentara, dia akan merasa dekat dengan yang memiliki corak serupa”. Dan saya lihat hatinya anak2 salafy lebih dekat kepada orang kafir daripada hatinya sesama muslim yg mereka anggap beda harakah.

        rahmat said:
        15 Mei 2014 pukul 15:57

        bismillah.. apa benar antum mampu mengetahui hati hamba yang memiliki tunjuan yang di mana antum tidak mengetahuinya ?? kalau benar antum mampu, maka berwaswaslah antum sebeb antum mengabaikan kebenaran,,

        At-Thoriq said:
        16 Juni 2014 pukul 16:12

        afwan akhi-akhi yang dirahmati allah,,, jangan pernah berdebat kusir, islam menganjurkan untuk menghindari perdebatan,, afwan akhi-akhi tidak bermaksud menggurui, cuma ingin mencoba menengahi

    ali said:
    23 Februari 2010 pukul 20:50

    akhi…ketika ustadz mengatakan ilmu filsafat adalah haram, bukan berarti dia mencela antum,tapi dia ingin menjelaskan kepada antum kebenaran…akhi..manhaj salaf bukan organisasi tapi dia adalah metode dalam beragama sebagai mana generasi salaf dahulu..jangan jelekkan manhaj salaf, karena dia manhaj para sahabat..perkuat iman antum ya akhi dengan ketaatan pada Allah, kembalilah menjadi orang yang meniti genarasi sahabat sedikit demi sedikit, semampu kita dan bersabarlah di atas manhaj salaf.ana sedih melihat keadaan antum karena antum tidak merasakan manisnya manhaj salaf yang berdasar alqur’an dan sunnah pemahaman sahabat dan antum tidak bisa bersabar dalam menitinya, maka mintalah hidayah pada Allah..

      abdullah said:
      12 April 2013 pukul 06:54

      Imam al-Qusyairi rahimahullah menegaskan dengan tegas sekali:
      “Mereka (golongan yang menolak takwil) ini di mana ruh-ruh kami berada dalam kekuasaanNya, lebih memberi mudarat terhadap Islam dari golongan Yahudi dan Nasara serta Majusi yg juga penyembah berhala. Ini kerana kesesatan orang-orang kafir jelas kelihatan, boleh di jauhkan oleh orang-orang Islam, sedangkan mereka ini datang kepada orang yang beragama dan orang biasa melalui cara menipu golongan yang lemah (yaitu kurang mantap ilmu agamanya)” (Murtadha al-Zabidi, 2 / 108-109)

      Nasar Azis said:
      16 Mei 2013 pukul 09:14

      Kayaknya secara umum ada semacam kesalahan berfikir di kalangan ikhwan salafi. Selalu saja mereka apabila di kritik mengatakan ” salafi adalah manhaj, jangan jelekkan manhaj salaf, karena dia manhaj para sahabat , tabi’in dan tabi’ tabi’in. Jadi mereka mendudukkan diri sejajar dan sama mulianya dengan generasi terbaik sepanjang sejarah peradaban manusia. Subhanallah ! Begitu buruknya cara berfikir semacam ini. Tolong di bedakan antara kelompok salafi dan Generasi Salafus Shaleh. Kelompok salafi tidak akan pernah bisa menjadi generasi shalafus shaleh karena banyak sekali yang membedakannya. Diantaranya ; akhlaqnya, keikhlasannya dalam berdakwah, dicintai oleh kawan dan lawan, mereka menjadi asbab turunnya hidayah, tidak pernah menghujat baik kawan maupun lawannya, menghabiskan waktu, harta dan dirinya untuk agama dan masih banyak lagi sifat-sifat mulia mereka yang terlalu panjang apabila disebut satu-persatu. Sedangkan kelompok salafi sifat-sifatnya semua bertentangan dengan generasi salafus shaleh. Bagaimana mungkin mereka bisa mengatakan menjelekkan salafi berarti menjelekkan salafus shaleh. Salafi kan sekedar sekumpulan orang yang mendudukkan dirinya sebagai pengikut setia generasi salafus shaleh. Jadi kalo ada yang mengkritik salafi berarti mengkritik orang-orangnya. Jangan melakukan pembenaran dengan cara justifikasi semacam itu dong. Kayaknya ikhwan-ikhwan salafi perlu banyak istighfar dan introspeksi. Jangan sampai dakwahnya justru membuat larinya hidayah ikhwan-ikhwan yang lain. Kalo tidak, pasti akan banyak melahirkan gunawan-gunawan yang lain. Allahummaghfirlana wa li ikhwan salafi, wa li jami’il muslimin wal muslimat. Fa ilallahil mustakaa wallahul musta’aan. Subhanakullah wa bihamdika, asyhadu’anlaa ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik.

        apaituislam said:
        11 Agustus 2013 pukul 13:00

        Saya cuma ingin membenarkan statemn anda,
        Anda bilang kalo shahabat tidak pernah menghujat baik kawan ataupun lawan”
        Dari tulisan anda ini, saya lihat anda adalah orang yg kurang ke-ilmuan-nya dalam islam, padahal dalam sejarah perjalanan islam ini, terdapat waktu dimana para sahabat memboikot tiga orang sahabat yg tidak ikut berperang di tabuk, yaitu sahabat ka’ab bin malik dan dua yg lain di mana Rasulullah dan para sahabat takut adanya sifat kemunafikan pada tiga sahabat, singkat cerita, tiga sahabat ini didiamkan diboikot tidak diajak bicara bahkan tiga sahabat ini tidak dijawab salamnya ketika menberi salam, mereka di boikot oleh Rasulullah dan seluruh sahabat selama 50hari, silakan lihat kisah lengkapnya pada sabab nuzul di dalam surat at taubah yang maknanya “dan kepada tiga orang yg tidak ikut perang………
        Saya cuma orang bodoh yg mencoba memahami islam dari berbagai sisi, bukan hanya dari satu sisi yg mengatakan islam tak pernah menghujat….
        Hadakumullahu wa iyyana

    ali said:
    23 Februari 2010 pukul 20:56

    akhi muqobalah tidak hanya di pesantren gontor, tapi juga di STAI Ali bin abi thalib, imam bukhori, dan ma’ahad2 salafi lainnya, jadi catatan antum yang paling bawah itu salah akh.. bahkan panitia acara juga dari ustadz salafi

    abie said:
    24 Februari 2010 pukul 16:06

    terima kasih infonya..
    sangat bermanfaat..

    أبو محمد العصري said:
    27 Februari 2010 pukul 22:36

    Hah? Akh Anggun? Saya hampir tidak percaya. Akh, saya Jati. mungkin Antum lupa pada saya, tetapi saya tidak lupa antum. Saya yang dulu sering mengurus kegiatan FKIM sehingga saya tidak mungkin lupa Antum.

    Ya Allah…
    Dengan tulus saya katakan, “Saya mencintaimu karena Allah”….
    Dengan tulus saya katakan, “Saya merasa kehilangan salah seorang kawan ketika saya tidak berjumpa antum”

    Saya pernah berkata pada diri saya, “Seandainya akh Anggun itu seperti Ibnu Taimiyyah yang sangat menguasai filsafat bahkan lebih ahli dari ahli filsafat, tetapi itu justru semakin membuat Ibnu Taimiyyah mampu menjelaskan kerusakan filsafat.”

    Tidak! Tidak akhi…! Jangan Engkau menjauhi manhaj salaf, dan ikhwah salafi.
    Saya rasa… saya kehilagan antum…
    Bukan… bukan hanya saya…
    Teman-teman pun kehilangan antum…
    Teman yang mencintaimu karena Allah….

    Akhi…. mungkin saya pernah punya salah/berakhlak buruk kepada antum. maka, dengan tulus saya katakan, “Jika saya pernah salah, maafkanlah saya akhi” Bedakanlah seorang ikhwan salafi yang tidak ma’shum seperti saya dengan manhaj salaf. Perdalam lagi indahnya manhaj salaf, niscaya kau kan rasakan keindahannya. Adapun jika Engaku lihat saudaramu salah, nashatilah dia.

    Maka, jika Engkau pernah melhat saya salah, tolong nasehati saya. Jangan kemudian ketika Engkau melihat seorang salafi berbuat salah, Kau kan serta merta meninggalkan manhaj salaf. Yang salah adalah Ikhwan salafi tersebut, bukan manhaj salafnya.

    Akhi… Saya akan terus mendoakanmu agar Engaku kembali bersama kami…
    Kembali merengkuh indahnya manhaj salaf…

    Dan sekali lagi dengan tulus kukatakan, “Aku mencintaimu karena Allah”

      abdullah said:
      12 April 2013 pukul 06:55

      Ibnu Taimiyyah orang munafik kok di puja2

        liza said:
        22 November 2013 pukul 22:29

        Abdullah semoga pintu hatimu dibukakan oleh Alloh, sebelum ajal menjemput mu.

    Zulfi Ifani said:
    28 Februari 2010 pukul 13:29

    Saya pusing dg tindak-tanduk kawan2 yg mengaku SALAFY…
    Ga jelas… Selalu mau menang sendiiri…
    Dg mudah menyerang kelompok lain. Seakan2 kelompok lain bukan saudara sesama muslim…

      abuerzha said:
      8 Juli 2010 pukul 16:45

      coba antum simak hadist sohih berikut:

      sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

      “Artinya : Hendaklah kalian menjauhi perkara-perkara baru yang diada-adakan, karena setiap perkara baru (dalam agama) adalah bid ‘ah, setiap bid ‘ah itu sesat, dan setiap yang sesat itu (tempatnya) di neraka” [3]

      [3]. HR. Abu Dawud dalam As-Sunnah (4607). Ibnu Majjah dalam Al-Muqaddimah (42). Tambahan “dan yang setiap yang sesat itu (tempatnya di neraka)” pada riwayat An-Nasa’I dalam Al-Idain (1578).

        muhammad irsyad said:
        28 Januari 2013 pukul 10:56

        assalammualaikum w.b.t sya kamu belum betul-betul memahami tentang (bid’ah) terimakasih…

        saya syor kan kamu baca kitab yang bertajuk dibawah-

        Makna sebenar BID’AH: SATU PENJELASAN RAPI
        (al-syeikh al-hafiz abu al-fadl abdullah al-siddiq al-ghumari)

        (ULAMA AHLI SUNNAH WAL JAMA’AH, AL-ASHA’IRAH)

        disemak oleh:
        dato’ hj.mohd murtadza hj.ahmad
        (mufti negeri sembilan darul khusus)

        datuk hj. Md. Hashim hj. Yahya
        (bekas mufti wilayah persekutuan/pensyarah uiam)

        dato’ haji saleh haji ahmad
        (YDP persatuan ulama malaysia/pensyarah uiam)

        dato’ dr. Wan zahidi wan teh
        (mufti wilayah perseketuan)

      abuerzha said:
      8 Juli 2010 pukul 16:46

      ana mo tanya ga jelasnya dimana mas..??

    the titanis said:
    1 Maret 2010 pukul 13:47

    buat saudara2ku yang salafi, mungkin anda nggak termasuk ke salafi yang suka menghujat dan menghina saudara2 nono salafi, tapi hujatan2 itu benar adanya. soalnya pernah menyaksikan sendiri di depan mata.
    buat saudara2ku yang bukan salafi, sebagaimana yang ditulis di atas, masih tetep ada kok salafi2 yang lemah lembut dan menghargai sesama muslim diluar salafi.
    jalan tengahnya, mungkin, salafi yang suka menghujat masih baru belajar.belum melihat atau belum dapat mengaplikasikan ilmunya di kehidupan nyata. soalnya nggak gampang mengaplikasikan teori ke dalam kenyataan.jadi dimaafkan dan dimaklumi saja :)

      Nasar Azis said:
      6 Januari 2013 pukul 08:13

      Salafi yang suka menghujat masih baru belajar? belum melihat atau belum dapat mengaplikasikan ilmunya di kehidupan nyata? Ah masa’ iya? Kalo sekaliber Abdul Hakim Abdat dan Yazid Jawas kan beliau-beliau sudah Ustad semua, bukan baru belajar ! Yang jelas manhaj shalafush shaleh itu bukan sekedar bagus, tapi indah. Ibarat taman yang indah, membuat orang kafir pun ingin masuk ke dalamnya. Tapi sekarang taman yang indah itu sudah rusak, atau di rusak oleh tangan-tangan yang kurang bijak. Jangan lagi orang kafir, orang islam yang ada di dalamnya pun berbondong-bondong ingin keluar !!
      Allahummaghfirlana wa li jami’il muslimina wal muslimat, al ahyaa’i minhum wal amwaat. Subhanakallahumma wabihamdika , asyhadu’anlaa ilaaha illa Anta, astaghfiruka wa atuubu ilaka.

        Mukhanif Yasin Yusuf said:
        13 Januari 2013 pukul 00:46

        setuju banget sama Mas Nazar Azis

        domblank said:
        14 Maret 2013 pukul 11:02

        setuju Nasar azis

        Ahmad Ghulamin Halim said:
        15 Mei 2013 pukul 08:58

        saya santri dari sebuah pondok yang bermanhaj salaf.
        ada beberapa hal yang mau saya komentari :

        1. aqidah dan ibadahnya sudah pas menurut saya (soalnya saya warga muhammadiyah juga aktifis IMM seperti mas gunawan)

        2. mereka memiliki karakter yang tenang dan khusyuk. intinya attitude dan akhlaknya bagus banget.

        tapii,,

        3. metodenya -mohon maaf- menyebalkan. kalau sudah urusan dengan Filsafat atau ilmu kalam dll hobinya TAHDZIIIIIR melulu..
        habis itu HAJR. hadeeh,,, -.-

        belum jelas filsafat mana yang mereka koreksi udah tahdzirnya duluan, kalau filsafat urusanya ketuhanan mungkin IYA boleh lah dikoreksi.
        tapi kalau yang lainya.?

        gini, saya takutnya mereka ndak paham apa itu filsafat.
        dasar2nya apa, trus gimana makeknya tau2 udah ngeklaim.
        apa itu ontologi, epistimologi, aksiologi, dll.

        dibilang tasyabbuh …??
        ini adalah hal umu, ILMU adalah umum. harga filsafat sama dengan harga MATEMATIKA.
        harap dikoreksi kembali fikrohnya..

        kami takut dakwah terhadap kaum pemikir terhambat gara2 ikhwan hobi TAHDZIR. saya seManhaj sama antum tapi tolong metodenya diperbaiki.

      Sunni adalah Harga Mati said:
      22 Maret 2013 pukul 01:50

      Ana tambahin lagi ya kejanggalannya dalam Sholat:
      SHALAT

      1. Mempromosikan “Sifat Shalat Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam?, dengan alasan kononnya shalat berdasarkan fiqh madzhab adalah bukan sifat shalat Nabi yang benar
      2. Menganggap melafazhkan kalimat “usholli” sebagai bid’ah.
      3. Berdiri dengan kedua kaki mengangkang.
      4. Tidak membaca “Basmalah? secara jahar.
      5. Menggangkat tangan sewaktu takbir sejajar bahu atau di depan dada.
      6. Meletakkan tangan di atas dada sewaktu qiyam.
      7. Menganggap perbedaan antara lelaki dan perempuan dalam shalat sebagai perkara bid?ah (sebagian Wahabiyyah Indonesia yang jahil).
      8. Menganggap qunut Subuh sebagai bid’ah.
      9. Menggangap penambahan “wa bihamdihi” pada tasbih ruku’ dan sujud adalah bid’ah.
      10. Menganggap mengusap muka selepas shalat sebagai bid’ah.
      11. Shalat tarawih hanya 8 rakaat; mereka juga mengatakan shalat tarawih itu
      sebenarnya adalah shalat malam (shalatul-lail) seperti pada malam-malam lainnya
      12. Dzikir jahr di antara rakaat-rakaat shalat tarawih dianggap bid’ah.
      13. Tidak ada qadha’ bagi shalat yang sengaja ditinggalkan.
      14. Menganggap amalan bersalaman selepas shalat adalah bid’ah.
      15. Menggangap lafazh sayyidina (taswid) dalam shalat sebagai bid’ah.
      16. Menggerak-gerakkan jari sewaktu tasyahud awal dan akhir.
      17. Boleh jama’ dan qashar walaupun kurang dari dua marhalah.
      18. Memakai sarung atau celana setengah betis untuk menghindari isbal.
      19. Menolak shalat sunnat qabliyyah sebelum Juma’at
      20. Menjama’ shalat sepanjang semester pengajian, karena mereka berada di landasan Fisabilillah

      dan masih banyak lagi yg tidak bisa tuliskan…

        Semut said:
        9 Desember 2013 pukul 16:03

        Penjelasan antum ga ada yg menanggapi. Hehehehe… bingung mereka.

        BTW, bukankah dalam sholat jika mengganggu kekhusyukan jama’ah disebelahnya itu tidak diperbolehkan?

        Saya sulit sekali sholat dengan khusyuk ketika ada jama’ah lain yang jarinya bergerak-gerak ketika tahiyat.

    dedy said:
    6 Maret 2010 pukul 11:37

    saudaraku seiman, kenapa harus ada salafi dan bukan salafi, bukannya kita Umat nabi Muhammad s.a.w bersaudara ?,jaga ukuwah islam kita, saling mengingatkan jgn saling menghujat…apa ini yang diajarkan nabi kita ?, semoga allah mengampuni kita semua

      abuerzha said:
      8 Juli 2010 pukul 16:40

      Assalamualaikum…
      Yaa…Akhii…asal muasal agama ini satu yaitu agama yg dibawa oleh Rosululloh yakni ISLAM..ISLAM yg blom terkontiminasi oleh ibadah2 yg menyimpang misal tahlilan..amalan2 nifsu sya’ban dan lain2..SALAF berarti org2 terdahulu siapa org2 terdahulu?mereka adalah para sahabat,tabiut,tabiin org2 yg terpilih setelah Rosululloh wafat yg begitu teguh menegakkan sunnah Rosululloh..inilah yg harusnya menjadi acuan kita dlm beribadah..

        Nasar Azis said:
        13 Januari 2013 pukul 08:39

        Setuju mas abuerzha, tapi ingat shalafush shaleh yang terdiri dari para sahabat r.hum ajma’ien, tabi’ien dan tabi’ tabi’ien adalah manusia-manusia teladan penuh hikmah. Akhlak mereka sangat terjaga. Santun dalam menyampaikan agama, membuat semua orang menaruh hormat, sampai-sampai orang kafirpun respek kepada mereka. Tidak ada generasi yang sebaik generasi shalafush shaleh sampai yaumul kiamah sekalipun !!! Mereka tidak pernah membid’ahkan saudaranya sesama muslim, tidak pernah pernah mengkafirkan, tidak pernah menyesatkan saudaranya, tidak pernah mau terima bayaran kalau di undang ceramah, tidak pernah minta akomodasi hotel dan ongkos transporatsi, tidak pernah menghujat ulama-ulama mutaqaddimin. Mereka sangat terjaga dari sifat-sifat negatif itu semua. Dan ingat, merekalah yang dipilih Allah SWT menjadi asbab ke-islam-an kita semua !!! Mereka meneruskan kerja Rasulullah SAW menyampaikan agama ke seluruh alam dengan harta dan diri mereka sendiri. Ooooo …. sungguh jauh kalau ada kelompok yang meng-klaim sebagai pengikut mereka yang setaia. Apanya yang diikuti? Akhlaknya jauh, ilmunya tidak mumpuni, apalagi ilmu yang diperoleh dengan cara otodidak !! Kata ulama barang siapa yang belajar ilmu fiqih secara otodidak (belajar sendiri tanpa pembimbing yang faqih), gurunya adalah syetan; karena hasilnya hanya pandai melihat kesalahan-kesalahan orang lain, na’udzubillahi min dzaalik !!

        Pokoknya mas abuerzha, islam itu indah dan orang islam itu juga indah. Menyenangkan siapa saja yang memandangnya. Islam itu mudah, jangan dibuat susah. Rasulullah SAW selalu menjaga senyum walaupun sedang dalam keadaan sedih, untuk menjaga agar semua sahabatnya senang. Tapi lihatlah hari ini, saudara-saudara kita yang di kenal dengan kelompok salafi wajahnya ‘ tidak bersaudara ‘ dengan orang-orang yang diluar kelompoknya. Pandainya melihat ‘ kesalahan-kesalahan ‘ orang lain, menghujat, membid’ahkan, mengkafirkan, menyesatkan, membodoh-bodohkan orang lain, merasa paling benar sendiri, merasa diluar kelompok mereka bukan ahlus sunah wal jamaah dan sederet sifat buruk lain yang membuat islam sebagai agama sulit dan tidak ramah. Semoga sifat-sifat buruk ini segera hilang digantikan dengan sifat seperti yang dimiliki para pendahulu kita generasi terbaik sepanjang sejarah yaitu generasi shalafush shalih Rahimahullah.
        Allahummaghfirlana wa lahum, wali jamii’el muslimiina wal muslimat, al ahyaa’i minhum wal amwaat. Subhanakallahu wa bihamdik, asyhadu’anlaa ilaaha illa Anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik.

    rizkimulasaputra said:
    6 Maret 2010 pukul 17:29

    islam = salaf
    muslim = salafi

      Adi said:
      25 Agustus 2012 pukul 11:23

      ISLAM=ALLAH
      MUSLIM=ROSULULLAH

        taslim said:
        17 Agustus 2013 pukul 22:18

        ISLAM itu milik ALLAH DAN ROSULNYA
        MUSLIM itu mengikuti WAHYU ALLAH dan MENGIKUTI PETUNJUK ROSULULLAH,,,,,

    yudi said:
    11 Maret 2010 pukul 07:55

    Tuhan yang menyuruh kita beribadah, Tuhan pula yang menilai ibadah kita, Tuhan pula yang menilai kita salah atau benar. Bagaimana ada suatu ajaran merasa paling benar padahal itu hanya penilaian dia. Kebenaran hanya milik Tuhan. “Janganlah kamu menyebut orang lain kafir, padahal kamu belum tentu lebih baik dari mereka”. Jaman dulu wajar jenggot panjang2, belum ada Gillete, hehe, jaman sekarang, dibilangnya teroris. yang rasional aja, Islam kan agama cerdas, bukan agama kerbau di cocok idung

    Kokok said:
    26 April 2010 pukul 23:08

    Assalaamu’alaikum

    maaf saya tidak sengaja menemukan blog ini..

    satu hal yang perlu dipahami bahwa islam itu sempurna, tak ada yang salah dengan islam, baik kemarin, hari ini atau pun esok.

    jadi ada baiknya jangan pernah menjelek-jelek kan syariat islam. bukan maksud saya berkata kasar, namun kebenaran dan keburukan harus jelas dipisahkan.

    sedangkan salafi, setahu saya , adalah ketika kita mampu menerapkan 3 konsep dalam kehidupan kita
    1. melakukan sesuatu karena Allah
    2. melakukan sesuatu dengan tuntunan yang Allah terangkan melalui Rasulullah SAW
    3. dan hanya mengharap ridho Allah

    bagi ku selama ia berpegang pada konsep itu, insya Allah ia seorang salafi.

    saya setuju dengan abu muhammad(maaf kalau salah baca, saya tidak pintar membaca huruf arab tanpa harakat). yang salah bukan lah manhajnya tapi manusianya. islam itu haq tidak kan pernah salah, ia langsung datang dari Allah. jadi ada baiknya kita tidak menyama ratakan keburukan pada semua orang ketika seseorang dari golongan itu melakukan kesalahan terebih lagi menyalahkan manhajnya..

    selama ini saya di yogya, saya belum pernah bertemu orang– yang menurut saya salafi–mengkafirkan, mengatakan ahlul bid’ah dengan sembarangan. konsekuensi mengkafirkan orang itu berat dan itu disadari oleh mereka.
    namun misalkan memang anda bertemu dengan yang seperti itu mungkin saja dia sedang memulai belajar, jadi maklumilah dan tentu saling mengingatkan. bukankah itu yang di perintahkan oleh oleh agar kita tak menjadi orang merugi…

    mohon maaf jika ada kata yang kurang berkenan, bukan maksud ku untuk menggurui atau merasa paling benar,
    Semoga kita semua diberi hidayah oleh Allah..
    Wallahu musta’an

    Wassalaamu’alaikum

    Kokok said:
    26 April 2010 pukul 23:11

    maaf salah ketik diatas.. pada tulisan

    bukankah itu yang di perintahkan oleh oleh agar kita tak menjadi orang merugi…

    seharusnya>>>>

    bukankah itu yang di perintahkan oleh Allah agar kita tak menjadi orang merugi…

    maaf yaa..

      ahmad said:
      3 Juni 2010 pukul 13:04

      Dik Gunawan yang saya cintai karena Allah,
      Dari uraian Adik, saya menyimpulkan bahwa adik (maaf) belum faham betul apa itu salafi dan adik terkena syubhat yang dulu saya juga punya anggapan seperti adik, tapi setelah saya berusaha terus mempelajari tentang dakwah salafiyah ini maka saya semakin bahwa dakwah inilah yang haq. Saya mengenal dakwah salafiyah dari teman dekat saya (semoga Allah menjaganya) pada tahun 1998 di Palembang tapi waktu itu saya belum faham. Pada tahun 2001 saya hijrah ke Bekasi kembali saya berteman dengan ikhwan salafi dan juga bergaul/ berteman dengan ikhwan harakah. Baru pada tahun 2005 saya faham dan benar-benar taslim dan ruju’ terhadap manhaj salaf. Jadi, prosesi saya ruju’ ke manhaj yang haq ini cukup lama yaitu 7 tahun. Hal itu disebabkan :
      1.begitu banyaknya syubhat yang masuk ke hatiku karena saya masih bermajlis/ mengikuti kajian selain ustadz salafi
      2.mengikuti kajian salafi kurang serius dan kurang sistematis
      Dik Gunawan sampai sekarang (juni 2010) saya terus belajar dan semoga Allah menjaga saya dan dik Gunawan. Perlu diketahui tidak semua ustadz lulusan Madinah/ timur tengah bermanhaj salaf, wallahu a’lam mungkin sangat bergantung dengan niat ia belajar disana dan Allah lah yang memberi hidayah bagi yang dikehendaki.Wong Abu Lahab saja gak masuk Islam. Dan juga untuk belajar siapa saja bisa asal lulus tes, tidak ada persyaratan harus pesantren salafiyah. Akhi yang saya cintai yang mengaku salafi banyak, oleh karena itu jangan lihat personnya tapi fahami ajarannya. Dan salafi tidak maksum sebagaimana para sahabat Nabi (secara person) tidak maksum, yang maksum hanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Saya mengajak dik Gunawan dan semua saudaraku pembaca agar terus mengkaji manhaj salaf secara benar dan tekun dan senantiasa berdoa agar ditunjukkan kebenaran dan istiqamah dengannya.Mohon maaf jika ada kesalahan.
      Note: website dakwah salafiyah 1.www. radiorodja.com, 2. http://www.majalahalfurqon.com

        Taid said:
        22 April 2013 pukul 09:37

        Untuk mas gunawan, gak usah ragu untuk tinggalkan salafi, belajarlah ke ulama Muhammadiyah dan Nahdlatul ulama.

    Ahmad rifai said:
    25 Mei 2010 pukul 23:39

    Di Madinah Juga harus hati hati karena disana juga asal ajaran salafi ya

      abuerzha said:
      8 Juli 2010 pukul 16:31

      antum dah tau blm apa itu salafy?..kalo antum menghujat salafy berarti antum sudah menghujat para sahabat..walahualam..

        Gue said:
        31 Januari 2013 pukul 09:04

        Seenaknya saja kamu mencatut nama sahabat.salafi atau wahabi itu mazhab paling muda,jaman ibnu tamiyah.sedang syech albani yg jadi rujukan salafi itu bnyk ulama memvonis kafir krn tak ada sanad ilmunya,dia belajar otodidak melalui buku.
        Dinasti saud itu yahudi yg mengejar ngejar dan membunuh bani hasyim melalui agen2nya
        pernah dengar hadist
        “kelak keluarga ku akan dibunuh dan dikejar kejar,sampai suatu saat datang seorang pemuda dari timur membawa bendera hitam,dia putra bani tamim”
        itu menceritakan tentang ibnu said.
        Salafi atau wahabi menghacurkan situs situs islam,sampai makam Rasulullah dan mesjid nabawipun ingin dihancurkan,akhirnya Tuhan memerintahkan petir untuk menghanguskannya,lihat aja diaatas mesjid nabawi sabagai saksi,seonggok mayat kaum wahabi ditembak petir sampai gosong dipaku Allah diatasnya,tak bisa diturunkan,menjadi saksi kesesatan mazhab ini.

        dayak said:
        12 April 2013 pukul 09:35

        ngaku2 salaf…. memalukan sekali. sanad gurunya aja ngga jelas :hadehhh

        Semut said:
        9 Desember 2013 pukul 16:10

        Kok bisa kita menghujat sahabat? Kapan kalimat itu kita tuliskan?

        Tidak ada satupun yang berhak mengkafirkan seseorang kecuali Allah. Allah Maha Membolak-balikkan Hati.

        Bukan bin Baz, bukan Al-Albani, bukan pula Taimiyyah ataupun Muhammad bin Abdul Wahhab yang jelas sekali adalah ulama modern, bukan kalangan salafus shalih (lahir tahun 1700 M).

        Hati-hati, hari ini anda ustad, besok bisa jadi preman, wallahu ‘alam….

    ahmad said:
    3 Juni 2010 pukul 15:58

    Assalamu’alaikum
    ( maaf pada tulisan saya sebelumnya, saya tidak mengucapkan salam)

    Salafy ( jamaknya salafiyyun)adalah nisbat/penyandaran kepada salaf/ salafusshalih, yaitu para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana sunny nisbat kpd sunnah, ikhwany nisbat kpd ikhwanul muslimin.
    Salafy/ salafiyyun bukan hizb/ golongan yang difahami sebagaimana golongan/aliran yang ada. Hal ini sering (maaf) tidak difahami oleh sebagian orang, termasuk saya dahulunya. Oleh karena itu, salafy tidak ada bendera, lambang, tidak ada pendiri atau tidak ada tokoh yang dikultuskan, salafy hanya fanatik kepada Nabi sebagaimana para sahabat fanatik kepada Nabi. Jadi mengikuti para sahabat karena mereka orang-orang yang paling taat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Jika ada di antara sahabat yang salah tidak boleh diikuti karena memang mereka tidak maksum (terbebas dari kesalahan), mereka bukan Nabi yang maksum. Jadi pribadi sahabat tidak maksum, tetapi para sahabat secara komunitas adal;ah maksum, karena dijamin oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam

    Salafy menolak pendapat ulama salafy/ahlussunnah yang bertentangan dengan al-Quran dan Sunnah, termasuk ijtihad (pendapat pribadi)sahabat, namun tetap menghormati mereka tidak melecehkan mereka karena seorang ulama (apalagi sahabat) yang berijtihad dijanjikan Rasulullah kalau salah dapat satu pahala jika benar dapat dua pahala, namun jika dikemudian hari diketahui ijtihad salah, kita tidak boleh mengikuti kesalahannya.

    Salafy/salafiyyun adalah ahlussunnah/ ahlussunnah wal jamaah karena mengikuti ahlussunnah yang lebih dulu, yaitu para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hal manhaj, aqidah, amaliyah dan dakwah.

    Mengapa harus mengikuti salaf dalam manhaj, aqidah, amaliyah dan dakwah?

    Karena salaf/ para sahabat:
    1.paling faham terhadap al-Quran dan as-Sunnah karena mereka dididik langsung oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
    2. lebih dulu dan lebih tahu cara mengamalkan al-Quran dan as-Sunnah karena bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
    3. sudah dinyatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai ummat yang terbaik (HR. Bukhari dan Muslim), mereka (secara komunitas) dijamin tidak bersepakat dalam hal yang salah (HR.Ibnu abi Ashim)
    4. sudah diridhai Allah dan mereka dijanjikan syurga (at-Taubah:100)
    5. menyelihi mereka dalam manhaj (cara beragama/ cara memahami agama) pasti sesat (an-Nisa:115). Orang-orang mu’min dalam ayat tersebut adalah para sahabat, karena mereka orang-orang yang pertama kali beriman bersama Nabi, bukan orang mu’min kebanyakan, karena orang mu’min/muslim kebanyakan/ selain sahabat tidak dijamin terbebas dari salah
    6. DST,
    Silahkan baca buku Syarah ‘Aqidah Ahlussunnah wal Jamah karya Ust. Yazid bin Abdul Qadir Jawas dari Pustaka Imam Syafi’i (www.pustakaimamsyafii.com) karena menurut pengalaman saya buku ini lebih mudah memahaminya.

    Saudara- saudaraku yang saya cintai karena Allah,
    Marilah belajar dengan benar manhaj salaf ini, dan mari belajar dengan ustadz-ustadz yang bermanhaj salaf, jangan sambil belajar dengan orang yang tidak benar manhajnya, karena kita khawatir terkena syubhat mereka dan menjadikan kita bingung dan futur.
    Semoga Allah selalu memberi hidayah taufiq saya dan kita semua. aamiin
    Assalaamu’alaikum

    aryan said:
    8 Juli 2010 pukul 17:33

    Dari kisah yang saya baca, menurut saya mas aja yang ga kuat sama tekanan(cobaan)nya. Ibnu Taimiyah juga belajar filsafat tapi dengan niat untuk mematahkan teori2nya dan menperkuat salafinya, jadi terus belajar filsafat pun ga masalah.

    Dan justru mas yang terlalu keras kepada orang tua. Berkatalah lembut, sabar dan tidak memaksa. Itu juga yang saya pelajari dari kajian2 salafi. Kalau anda berpendapat ustad2 salafi itu keras, sebenarnya bukan keras, tapi TEGAS. Kalau setengah2, yang terjadi ya seperti sekarang ini, banyak ibadah yang mengikuti nalar saja, cuma berpegang pada pemikiran: “yang penting saya Islaaaam”.

    apoy said:
    21 Juli 2010 pukul 14:27

    saya setuju dengan penulis…………….. silahkan bagi yang pengen mengetahui lebih lanjut.. baca saja arttikel ini http://pojokkairo.blogspot.com/2009/12/katakan-kita-salafi-bukan-aku-salafi.html

      legowo said:
      30 Mei 2014 pukul 17:40

      Perang pemikiran akhirnya.saya dulu juga salafi tapi banyang pertanya,an dihati saya akhirya pun saya sholat malam minta petunjuk akhirnya saya di berimimpi yng luar biasa yng akhirnya saya keluar dri salafi

    Agus Wijanarko said:
    28 Juli 2010 pukul 20:18

    Assalammu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…

    Saudaraku yang kumuliakan karena Allah…
    Ketahuilah bahwa Salaf bukanlah Salafi.

    Ketahuilah bahwa Salaf sebagai manhaj, adalah manhaj yang haq, yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya yang mulia radhiyallahu ‘anhum berjalan di atasnya, yang sudah seharusnya pula seorang muslim mengikuti jalan lurus tersebut.
    Maka jika ada yang berkata, bahwa manhaj salaf itu manhaj yang paling benar, perkataan ini adalah sebuah KENYATAAN.

    Adapun salafi dan salafiyun, adalah orang-orang yang menisbahkan diri mereka pada manhaj yang haq tersebut. Ada kalanya, mereka berbuat kesalahan, karena mereka adalah manusia biasa, yang bisa benar dan bisa salah.

    Maka, pertama-tama yang ingin kuluruskan adalah, janganlah kau cela manhaj salaf, ataupun meninggalkannya. Sekali-kali jangan! Terlebih lagi, hanya karena engkau–wahai saudaraku yang kucintai–melihat beberapa kesalahan pada saudaramnu, salafiyun.

    Maka perhatikanlah, bahwa Salaf (sebagai manhaj) berbeda dengan Salafiyun. Dan seringkali, masyarakat memiliki pemahaman yang rancu pada hal ini.

    Ketahuilah, bahwa salafiyun adalah orang-orang yang paling teguh dalam memegang sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum. Sungguh, hal ini sangat jelas bagi orang-orang yang adil dan jujur. Bagi orang-orang yang tidak memiliki sikap fanatik, pada perkataan guru, ustadz, kyai, atau bahkan ulama.

    Doaku untukmu, wahai saudaraku yang semoga Allah memuliakanmu dengan Islam…
    Semoga Allah menunjukkan kebenaran untukmu, dan melapangkan dadamu untuk mengikuti jalan tersebut.

    ………………………….
    Dan bagi engkau, wahai salafiyun…
    Teguhkanlah niatmu untuk memperdalam ilmu. Sungguh, dengan ilomu yang kokoh itulah kita dapat menghilangkan kebodohan dari diri kita, kemudian beramal dengan istiqamah di atas ilmu tersebut, dan kemudian mengajak umat pada kebaikan.

    Maka, bersemangatlah untuk belajar, karena sifat bijaksana akan semakin kokoh dalam diri kalian ketika engkau ilmumu semakin luas.

    Wassallamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    Saudaramu yang mencintaimu karena Allah ta’ala

    Agus Wijanarko (Abu ‘Abdullah)
    15 Sya’ban 1431

    Mba Uyung said:
    14 September 2010 pukul 19:56

    Manhaj salaf adalah manhaj para salafussholih ini adalah benar namun untuk zaman sekarang yg penuh fitnah dalam agama islam, perlu intropeksi diri apakah saya bermanhaj salaf atau bukan , sebagai contoh ada seklompok yg mengaku salafi namun bermanhaj keliru apa yg keliru? mempersamakan Amir dengan Presiden, sebetulnya satu hal saja sudah cukup menunjukan kekeliruan penisbatan mereka pada presiden sebagai amir ,yaitu sumpah /bai’at yg dilakukan Presiden tatkala dilantik menjadi presiden isi sumpah: “Demi Allah, saya bersumpah, akan memenuhi kewajiban Presiden (Wakil Presiden) Republik Indonesia dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya, memegang teguh Undang-Undang Dasar, dan menjalankan segala undang-undang dan peraturannya dengan selurus-lurusnya, serta berbakti kepada Nusa dan Bangsa”

    salafy sunny said:
    10 Oktober 2010 pukul 16:49

    Para salafy versi wahabi, mengatakan bid’ah berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
    “Artinya : Hendaklah kalian menjauhi perkara-perkara baru yang diada-adakan, karena setiap perkara baru (dalam agama) adalah bid ‘ah, setiap bid ‘ah itu sesat, dan setiap yang sesat itu (tempatnya) di neraka” [3]
    Tapi melupakan peranan akal tidak ditinggal dalam menentukan perbuatan baik dan buruk termasuk ilmu. Akal berarti rasio atau perbandingan antara beberapa hal dengan hati dapat dilihat hal itu baik atau tidak. Nabi Muhammad SAW memang menyuruh kita berpegah teguh pada Al-Quran dan Hadist, tapi tidak meninggalkan akal seperti yang dilakukan oleh salafy versi wahabi. Akal perlu untuk menambah jumlah alternatif masalah, hatilah yang memilih sesuai kehendak kita. Kalau kita berpatokan satu alternatif seperti halnya di zaman Nabi Maulid tidak ada jadi diharamkan, akal memberi tahu Maulid itu tujuannya apa ? Tidakkah gerakan melarang Maulid merugikan umat islam sendiri ? Kalau salafy / wahaby berpendapat maulid itu banyak pesta, tarian meniru budaya nasrani, akal memberi tahu budaya itu bisa diganti dengan ceramah kepahlawanan sahabat Rasullullah SAW, zikir, doa dsb. Produk akal adalah ilmu pengetahuan, jika kita berpatokan pada satu Alternatif karena tak menggunakan akal, bagaimana jika umat islam menghadapi masalah baru seperti politik? Umat islam tak akan bisa menyelesaikan masalah dengan baik sebab hanya satu solusi jangan bid’ah. Jika kalau tindakan mereka salafy / wahaby mengaku mengikuti jalan Rasullulah berakibat di setiap tempat bermasalah, kesulitan sosialisasi dan akhirnya mereka jadi robot tanpa kehendak lain (alternatif). Mereka (wahaby) patuh menafsifkan secara buta hadist sbb:
    “Akan ada sepeninggalanku nanti para pemimpin yang tidak mengambil petunjukku, dan tidak mengambil sunnah dengan sunnahku. Akan muncul pula di tengah-tengah kamu orang-orang yang hatinya adalah hati syaitan dalam bentuk manusia”. Aku (Hudzaifah) bertanya: “Apa yang perlu aku lakukan sekiranya aku menemuinya?”. Beliau menjawab: “(Hendaklah) kamu mendengar dan taat kepada amir, walaupun ia memukul punggungmu dan merampas hartamu, tetap-lah mendengar dan taat.” (Hadis Riwayat Muslim, Shohih Muslim, 3/387, no. 3435), seperti halnya terjadi sekarang di Arab Saudi, para pemimpin mereka menangkap ulama yang menyeru jihad melawan israel. Mereka tak mentelorir perbedaan pandangan, walaupun hal itu jelas2 merugikan umat islam seperti Merusak Maqam Sahabat dan Rasullullah SAW karena alasan syirik, padahal syirik itu bermulanya dihati. Anda hanya akan menangkap isi yang saya sampaikan hanya melalui akal, tak akan bisa dipahami oleh mereka karena tak pakai akal sebab mereka pasti mana dalilnya yang jelas tak mungkin dicari kita tidak menjadi saksi kejadian. Politik sangat rumit dan abstrak dan tak bisa mustahil dibuktikan oleh dalil manapun , karena pelaku pasti menghilangkan bukti. Hanya Allah yang tahu, yang jelas saya tak ingin ikut bersalah pada umat islam dan berkewajiban menerangkan pada anda dan berpikir lah objektif sebab hal ini bukan fitnah tapi niat tulus untuk membuka pikiran setiap muslim melihat umat islam tak bisa bertindak apa2 terhadap aksi mereka menghancurkan bukti kebudayaan islam bahkan menghancurkan masjidil Aq’sa, semoga kita berlindung kepada Allah dengan niat baik dan tulus, kalau ada kata yang salah, mohon maaf sebab saya manusia biasa, semoga bermanfaat

      lidya said:
      7 Oktober 2013 pukul 21:51

      Contoh di raudah aja…byk org yang sampe ngusap ngusap tiang, nangis menjerit jerit…belum lagi sekitar ka’bah…sampai kain kiswah pun digunting buat jimat…belum lg yg aneh2 dilakukan di uhud, jabal rahmah, dll …. apakah perbuatan ini juga tergantung niat y dlm hati? Padahal amalan itu tidak hanya sekedar yang penting niat…tp sesuai dengan yang dicontohkan rasul.

    jaka said:
    11 November 2010 pukul 09:38

    Cintai Rasulullah dengan mengamalkan amalan ibadah yg diperintahkannya, bukan mengamalkan yg tidak diperintahkannya dan justru mengganti atau meninggalkan amalan yg diperintahkannya. Mari gunakan akal kita untuk meneliti amalan ibadah tersebut termasuk yg mana?
    Buktikan CINTA KITA!

    Nur Kholis said:
    29 November 2010 pukul 08:47

    Assalamualaikum …! Dari cerita mas aku ikut salut sekaligus bersyukur !!! Semoga kehidupan ini bisa menjadi guru terbaik dalam penghambaan kita kepada Allah..! Kaum salafi atau Wahabi ibarat jas bukak iket blangkon sama juga sami mawon” kenapa karena menolak peran akal tapi berani mentahkim saudara seiman … sehingga terkesan lucu !!! lebih-lebih lagi mengaku dirinya sebagai pengikut salafussholih … tanpa adanya tabayyun sementara ketika munculnya ajaran ini tak lain mulai berdirinya kerajaan suud yang nota bene tak nyambung dengan kekhilafahan zaman para sahabat! apa klaim salafy itu bisa logis kalau mereka mengaku salaf pengikut para sahabat… mohon maaf marilah kaum salafi sadar bahwa kegiatanmu tak lain adalah tangan panjang dari sebuah konpirasi besar penghancuran Islam dari dalam … karena agama yang mestinya membawa kedamaian tapi malah jatuh dilubang permusuhan … aku yakin seandainya kau hunuskan pedang untuk saudaramu yang mengucapkan syahadat … siapa penghuni nerakanya!!! karena Rosulullah selalu mengedepankan akhlaq dan menghormati perbedaan …dan addin rohmatan lil alamin !!! Allah hu Akbar

    Muslim said:
    12 Desember 2010 pukul 04:02

    Mas Gun teruslah mencari kebenaran dimanapun. Jangan patah semangat walau mrk ‘salafi’ terus menggempur anda. Kebenaran itu hanya pada ISLAM dan bukan milik mutlak satu ‘sekte ato golongan’. Mrk ‘salafi’ sering tdk sadar taklid pd kelompoknya sendiri. Bila ada yg bicara spt anda, mrk akan balas dg mengatakan : ‘jgn lihat orang lihatlah manhajnya’, ‘anda terkena syubhatlah inilah itulah. Ya begitulah ‘salafi’ selalu ngeyel dg klaim kebenaran versinya sendiri. Terus berjuang mas…

    hardy said:
    13 Desember 2010 pukul 16:27

    Islam yaa islam.. ga usah pake embel2…..
    jgn asal mencap haram rasul jg ga gtu koo….
    makanya indonesia acak2an ..
    ingat berbeda2 tp tetap satu..
    Bersatulah wahai kaum muslim!

    Hasyim said:
    17 Desember 2010 pukul 00:57

    Hehehe… sungguh geli saya membacanya.

    Seperti itukah antum memandang, menilai & memahami salafi?

    Akhi… salafi itu bukan kelompok… kata salafi/ahlussunnah wal jama’ah adalah satu bentuk penisbatan. seperti halnya kita menisbatkan diri sebagai seorang muslim.

    Tidak penting sebuah wacana bahwa antum/ana keluar dari salafi. tidak ada urgensinya sama sekali wacana tersebut!

    Karena hakikatnya salafi/ahlussunnah wal jama’ah hanyalah penisbatan kepada Rosulullah, dan 3 generasi sahabat terbaik yang mengikuti jalannya. Generasi assalafussholih. itu saja pengetiannya!

    mengenai kenyataan banyak “kelompok salafi” yang saling bersinggungan, saling menghujat, saling mentahzir. Itu tergantung kejelian antum menilainya. Dan itu juga tergantung pemahaman antum mengenai salafi itu sendiri. Soalnya ada diantara mereka yang mengaku salafi tulen, hakikatnya mereka adalah khawarij! murjiah, sururi, dll. bahkan mereka yang seperti itu pertentangannya sangat besar terhadap ajaran tauhid yang lurus & shohih.

    Jadi, patokannya. berpegang teguhlah antum pada jalan yang lurus, jalan yang di ikuti dan dipahami oleh 3 generasi sahabat terbaik. jalan yang benar-benar shohih, jalan yang jelas asal usulny. Jalan ilmu syar’i yang terang benderang. itu saja! dan ketika antum sudah menemukan jalannya. Ana yakin antum akan mengerti bagaimana & apa sebetulnya salafi itu sendiri. Barokallahu fiikum.

    Hasyim said:
    17 Desember 2010 pukul 01:20

    @salafy sunny. Saya takjub dengan anda bukan karena kebenarannya.

    Anda memberikan komen di tulisan ini dengan nickname salafy sunny, kemudian anda mengomentari salafy wahabi. seolah-olah secara tidak langsung bahwa anda menilai bahwa sunny dan wahabi adalah kelompok yang bersebrangan?

    Anda ini benar2 seperti orang yang sangat mengerti seperti apa & bagaimana salafi itu sendiri! padahal hakikatnya (menurut saya) anda adalah seorang hizbi. hehehe (ngga perlu di jawab melalui komen gan! dalem hati aja)

    Akhi… nasihat buat antum hanya satu. Dan nasihat ini berlaku buat ana juga. Pelajarilah ilmu syar’i yang jelas sumbernya, jelas asal usulnya. yang shohih & benar-benar shohih. Dan fokuslah pada ilmu tersebut dan pada pengamalannya. Titik! Barokallahu fiikum.

    andreas said:
    3 Januari 2011 pukul 11:30

    Salafi itu = SALAh FIkir ya…?… mudah2n ente gak hny IP bagus, lulusan terbaik, masih baca al-qur’an, masih sholat…. tp tp mdh2an ente termasuk golongan orng yang senantiasa berjuang untuk tegaknya Islam, tidak ujub, ikhlas karena Allah… dan yang mesti jangan juga seperti salafi yang katany ahlussunah tp hobi jilat-jilat ekor thoghut.

    bekti said:
    6 Januari 2011 pukul 13:13

    ana apresiasi antum yang menulis blog ini untuk ingin belajar mondok karena ilmu agama itu penting sebgaimana sabda nabi “”Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan membuatnya pandai dalam agamanya” (HR. Bukhari dan Muslim)” jadi penting, mengenai belajar filsafat tidaklah sebuah cela karena itu dipergunakan sebagai pembantah ajaran filsafat, bukan untuk dipraktekkan. kuliah antum seharusnya diteruskan dan kalau punya biaya dan kesempatan waktu antum lanjutkan niat baik antum untuk belajar dipondok. kalau sikap ini yang antum ambil Insya ALLAH orang tau antum sangat mengerti.
    mengenai meninggalkan jenggot dan berisbal(memanjangkan calana diatas matakaki) itu bertentangan dengan sunnah yang shohih seperti kewajiban memelihara jenggot “Cukurlah kumis dan panjangkanlah jenggot, berbedalah dengan orang-orang majusi.” (riwayat Muslim)
    bagi yang tolibil ilmy sangat paham bahwa hukum asal perintah seperti dalam usul fiqih adalah wajib selama tidak ada dalil yang memalingkannya. bagaimana mungkin dapat meinggalkan sunnah nabi ini, sunnah nabi adalah indikator bahwa teguh diatas sunnah dan sehingga dikatakan ahlussunnah waljama’ah. sekian… bukan bermaksud ana menggurui tapi karena cinta karena ALLAH kepada sesama saudara semuslim.

    abu abdillah said:
    10 Januari 2011 pukul 09:28

    Uda Gunawan Assalamu ‘Alaikum Wr.wb.
    Uda tidak perlu menyematkan istilah salafi pada nama Uda, karena memang tidak ada sunnahnya, bahkan penamaan salafi diujung nama sesuatu yg mengada-ada (bid’ah), akan tetapi menjalankan Islam dengan benar tidak akan bisa Uda lakukan tanpa metode “Manhaj Salaf”
    Kata-kata “SALAFI” tidak akan menyelamatkan seorangpun dari azab kubur, siksa neraka, murka Allah dll sebagainya, tetapi yang menyelamatkan seorang muslim dari semua itu adalah ketika dia memilih jalan keselamatan dengan menjalankan Islam sebagaimana Rasulullah & Para sahabat serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik menjalankan Islam (inilah Manhaj Salaf).
    Uda sudah tidak berjenggot (menipiskannya), melakukan Isbal dan yang lain-lainnya, perbuatan itu adalah sebuah tindakan ngawur, dan itu adalah suatu sikaf meremehkan dosa besar, Maka oleh karena itu kembalilah ke “Manhaj Salaf”, dan uda tidak perlu memakai istilah “saya salafi”
    Demikian semoga bermanfaat, Wassalamu ‘Alaikum wr wb

    ayus said:
    7 Februari 2011 pukul 18:44

    assalamu’alaykum warahmatullah
    tidak sengaja nemu blog ini… sempat kaget dengan artikelnya.
    semoga Allah selalu menunjukkan bagiku jalan yang lurus. amin.

    aba zulfa said:
    15 Maret 2011 pukul 23:01

    Bismillah
    Saudaraku Gunawan,
    Ada beberapa poin yang rasanya mengganjal. Lihat nih:
    1. “Terserah dibilang membuang umur untuk mempelajari ilmu yang haram, terserah dibilang sebagai pengkhianat agama. Persetan dengan semua dalil dan argumen agamis yang mereka sampaikan.Aku mau menghormati orangtuaku meskipun dianggap sebagai “kedurhakaan” kepada Tuhan.”

    Komentar:
    Kata diatas bukanlah hujjah. Sekedar pembelaan diri, pemaksaan diri atas suatu hal, dengan ‘alasan’ “persetan”.
    Untuk memilih meneruskan kuliah, tentu dibutuhkan hujjah. Anda kelak akan ditanya oleh Allah. Jika hujjahnya “untuk membongkar kesesatan filsafat barat”, tentu diperlukan perangkat agama yang memadai. Jika alasannya untuk membahagiakan ortu, tentu ada cara lain yang lebih baik, bukan dengan menceburkan diri dalam kubangan filsafat.
    Ustadz salafi tidak salah ketika menyatakan filsafat itu haram. Aristoteles, Plato, Kant, filsafat yang mengajarkan pantheisme dll bukanlah dari Islam dan konsep aqidahnya berbeda dengan Islam. Ulama-ulama dulu (termasuk imam madzhab) juga keras terhadap ilmu filsafat. Imam Syafi’i memutuskan hukuman dengan diarak keliling kampung dan dipukul dengan sandal bagi yang mempelajari ilmu mantiq/ilmu filsafat (selengkapnya dalam buku Aqidah Empat Imam Madzhab).
    Untuk menghormati ortu supaya tetap kuliah, bisa kan dengan cara misalnya pindah kuliah di fakultas lain, seperti geologi, matematika atau lainnya.

    2.Aku mulai kuliah. Kajian Salafi masih tetap kuikuti. Aku masih senang dengan uraian hadist dan Al Qur’an dari Ustadz, meskipun sesekali sentilan negatif terhadap filsafat tetap memerahkan mukaku. Aku kemudian menjadi orang aneh. Pergaulanku dengan teman-teman Salafi semakin luas, karena aku adalah santri yang unik bagi mereka, menjadi Salafi tapi kuliah di filsafat.

    Komentar:
    Bagi yang mengikuti kajian salafi, akan nampak baginya al haq. Karena kajian salafi -yang bener-bener salafi- berdasarkan Al Qur’an, As Sunnah, dan memahami keduanya dengan pemahaman salafusshalih. Maka hujjah mereka akan kuat.

    3.Tak pernah kulihat Ustadz Yunahar memakai kopiah haji meskipun beliau sudah naik haji berkali-kali. Hanya kopiah hitam nasional yang menurut beberapa teman Salafi, tidak Islami.

    Komentar:
    Saya nggak tahu pemahaman dari mana bahwa kita harus memakai peci? Kata siapa kopiah itu tidak Islami? Tolong sampaikan yang jelas agar tidak menjadi tuduhan dusta. Kalau emang benar, ya perlu diluruskan. Baru kali ini saya dengar kopiah itu tidak islami.

    4.Kajian Salafi mulai jarang kuikuti, kecuali kajian Ustadz Ridwan Hamidi yang tak bisa kutinggalkan sama sekali.

    Komentar:
    Alhamdulillah Anda masih mau ngaji di majelis ta’lim salafi. Kalau ada masalah atau apa, tanyakan saja. Insya Allah bisa berdialog dengan baik.

    5.Penampilanku sudah biasa. Tak ada lagi celana jingkrang di atas mata kaki dan jenggot panjang yang awut-awutan.

    Komentar:
    Kenapa harus isbal (menjulurkan kain sampai ke mata kaki)? Dicari sampai mumet, minta bantuan ke Ustadz Yunahar dan Ustadz Fathurrahman boleh, tidak akan kita dapati para shahabat dan orang-orang shalih dengan sengaja dan membiasakan memakai kain dibawah mata kaki. Justru kita dapati sebaliknya. Shahabat Umar ibnul Khattab ditengah sakit keras, ada pemuda yang menjenguk dan dia memakai kain yang menutup mata kaki, Umar bin Khattab mengingatkan pemuda itu untuk tidak isbal.

    6.Aku masih sholat, baca Al Qur’an dan mempercayai Tuhan. Filsafat telah membuka wawasan dan perspektifku lebih luas dalam memandang dunia. Tidak seperti saat di Salafi dengan pola hitam-putih yang dibangun. Hidup dikurung dan dihiasi kebencian kepada orang lain dengan sekat “Kafir”, “Ahlul Bid’ah” dan “Kaum Sesat” yang didasarkan bingkai agama.

    Komentar:
    Syukurlah masih shalat. Sebagian mahasiswa jadi nggak shalat ketika pikirannya dijejali dengan filsafat. Sudah selayaknya Anda kembali mempelajari aqidah yang shahih dari kitab-kitab para ulama salaf, semisal kitab Aqidah Salaf Ashabil Hadits karya As Shabuni.
    Tentang hidup dikungkung kebencian dst… Bisa jadi Anda mengkaji salafi tetapi belum mengetahui secara utuh. Saya ngaji di majelis ta’lim salafi. Cinta dan benci diajarkan hanya karena Allah. Saya mencintai kaum muslimin, termasuk Anda. Saya membenci keburukan saudara saya sesama muslim, dan berusaha menghilangkan keburukan itu dengan cara yang paling baik. Saya mengimani hadits bahwa muslim yang satu dengan yang lain laksana cermin. Saya bercermin dengan Anda, nampak noda-noda pemikiran yang masih belum baik, syubhat (kerancuan berpikir) yang masih bergayut, dan semua itu saya berusaha bersihkan dengan tissu basah.

    Semoga komen saya itu bisa sebagai ’tissu basah berparfum’ yang bisa membersihkan –walau mungkin nggak tuntas– noda noda yang ada. Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam terlimpah kepada Rasulullah Shalallahu’alaihi wassalam.

    aba zulfa said:
    16 Maret 2011 pukul 21:41

    Tanggapan pertama dari saya diatas, alhamdulillah diterima dengan baik oleh saudaraku Gunawan via email. Karena privacy, saya nggak perlu menyampaikannya disini. Kita do’akan saja semoga saudara kita ini senantiasa dibimbing oleh Allah, dijaga oleh-Nya dari pengaruh filsafat, dibersihkan dari bebagai syubhat yang menyebabkan dia meninggalkan amalan shalih (termasuk sunnah Nabi Shalallahu’alaihi wassalam memanjangkan jenggot dan tidak isbal).
    Perlu diketahui oleh saudaraku Gunawan, bahwa catatan Anda ini tidak hanya dibaca oleh orang yang tahu, tapi juga oleh orang awam. Di sebuah tempat catatan Anda menjadi bahan diskusi guna menunjukkan “Ini lho orang yang meninggalkan kajian salafi” oleh orang-orang yang kurang memahami apa dan bagaimana da’wah salafi itu.

    Melengkapi tanggapan saya atas catatan Anda, baiklah saya lanjutkan:

    1. Tentang Filsafat
    Buku “Aqidah Empat Imam Madzhab” yang ditulis oleh Dr Muhammad bin Abdurrahman Al Khumais, didalamnya memuat penjelasan tentang kesamaan aqidah empat Imam dan sedikit perbedaan dalam masalah Iman. Yang menarik, ada poin larangan terhadap ilmu kalam atau filsafat dari empat imam itu.
    Pada jaman Abassiyah, khalifah Al Ma’mun mengirimkan utusan kepada pemimpin Sicilia (kristen) untuk dikirimi buku-buku filsafat. Mitran Agung menyetujui permintaan itu dan akhirnya diterjemahkanlah buku-buku filsafat yunani oleh Hunain bin Ishaq. Dari sinilah akhirnya muncul berbagai kerusakan aqidah, termasuk fitnah Khalqun Qur’an yang menimpa imam Ahmad bin Hambal.
    Dengan sekilas bahasan filsafat diatas, sangat perlu ditanyakan apa yang dilakukan Dr Yunahar Ilyas (kalau memang itu benar) yang tidak menyerang filsafat justru menyatakan filsafat diperlukan untuk menghadang musuh-musuh Islam. Padahal, tanpa ilmu filsafat barat dan mencukupkan diri dengan kitab-kitab para ‘ulama sudah cukup untuk menghadang pemikiran barat. Kalau mau yang berhubungan dengan filsafat, kitab Al ‘Aql wa An Naql karya Ibnu Taimiyyah bisa dikaji (di fakultas filsafat dikaji enggak ya?).

    2. Pernyataan Anda:
    “Suatu ketika, aku berpikir tak mungkin lagi melanjutkan kuliah di filsafat. Kuberanikan diri bicara lewat telpon kepada Bapak untuk berhenti kuliah. Aku ingin masuk pondok pesantren, mempelajari ilmu agama yang lebih mulia dari ilmu-ilmu lain. Kusampaikan kepada Bapak dalil-dalil keharaman filsafat sebagaimana yang kudapatkan dari ustadz. Bapak marah besar kepadaku. Aku cuek, karena yakin apa yang sampaikan benar menurut “agama”. Aku bersitegang dengan Bapak. Beberapa hari setelah percekcokanku dengan Bapak, Ibu datang ke Jogja. Tak henti Ibu menangis. Memberitahukan bagaimana Bapak kecewa berat dengan “kegilaan-ku” meninggalkan kuliah di UGM. Ibu memintaku untuk mengurungkan niat berhenti kuliah. Jiwaku masih memberontak waktu itu.”

    Komentar:
    Apa yang Anda lakukan merupakan kesalahan yang menimpa juga sebagian salafiyin. Ada beberapa kesalahan:
    Pertama: Lewat telepon
    Kedua: Penyampaian dalil dihadapan orang yang lebih tua.

    Membicarakan sesuatu yang penting tidaklah bijaksana lewat telephon, apalagi ada juga yang lewat sms. Coba saja seandainya Anda mengajak bapak makan di warung lesehan, kemudian setelah makan ngobrol-ngobrol tentang masalah perkuliahan. Tentu lebih enak. Lewat telephon bagaimanapun akan berbeda dengan dialog langsung.
    Penyampaian dalil, sekalipun kuat, belum tentu tepat disampaikan ke orang lain. Bapakmu lebih tua dari Anda (ya jelas dong…). Bapak tau saat Anda kecil, masih ingusan, nggak bisa cebok sendiri, nggak tau apa-apa. Bapak tau saat dimana Anda mau makan kerikil atau benda berbahaya, kemudian dicegah oleh bapak. Nah, dalam berhadapan dengan orang seperti itu, tiba-tiba Anda datang mengeluarkan seabreg dalil tentang sebuah permasalahan yang berbeda dengan bapak… Tentu tidak bijaksana. Cara yang baik, sampaikan uneg-uneg dengan cara ada keberatan dalam ilmu yang sekarang dipelajari, bisa juga dengan mengajak orang yang usianya sepadan dengan bapak, minta kepada bapak untuk mencarikan solusi dalam permasalahan yang ada dan sebagainya dengan cara yang hikmah. Bukan dengan cara menggurui. Manhaj salaf mengajarkan kita berdialog sesuai dengan kedudukan dan keilmuannya. Walau masalah filsafat sudah berlalu (dan Anda lulus dengan IP tinggi), kedepan akan banyak hal yang bisa jadi berbenturan dengan bapak dan masyarakat, terlebih kalau Anda mau komitmen dengan Islam.

    3. “Seniorku satu kamar yang mengenalkanku dengan Salafi diam masa bodoh. Sibuk dengan kerja dan kuliahnya yang memang begitu padat”.

    Komen:
    Tentu tidak semua salafi seperti itu. Kita harus mencari udzur saudara kita, dan terus berusaha dan berdoa mencari solusi atas permasalahan yang ada.

    4.”Aku tak peduli dengan sindiran keputusanku keluar dari Salafi.”

    Komen:
    Sebagaimana sudah disampaikan oleh rekan yang lain, bahwa salafi itu bukan organisasi, tetapi manhaj (metode) dalam memahami Islam. Kalau ‘keluar’ dari salafi, berarti mau beragama dengan pemahaman apa dan siapa? Pemahaman ahlul ahwa’ (hawa nafsu)?
    Manhaj salaf adalah kebenaran. Semua bisa didialogkan dengan hujjah. Jika ada yang mengganjal, tinggal dikaji aja, bener enggak salafusshalih berbuat atau berpehaman begini. Apakah memang para salaf memahami tentang sebuah permasalahan begini-begini dst. Misalnya, benarkah para salafusshalih membebaskan diri mempelajari filsafat? Benarkah para salafusshalih mencukur jenggotnya biar nggak awut-awutan? Benarkah para salafusshalih membiarkan celana panjangnya (atau sirwalnya) berjuntai kebawah mata kaki?
    Manhaj salaf adalah pemersatu, walaupun dalam permasalahan ijtihad fiqih nggak harus satu kata. Disaat seseorang memahami Al QUr’an dan As Sunnah lepas dari pemahaman salafusshalih, perpecahan dan kesesatan adanya. Semoga Allah Ta’ala membimbing dan melindungi langkah-langkah kita, segala puji bagi Allah, shalawat dan salam terlimpah kepada Rasulullah Shalallahu’alaihi wassalam, keluarga, shahabat dan siapa saja yang mengikuti jalan mereka sampai akhir jaman.

    Amin Yadi said:
    24 Oktober 2011 pukul 17:35

    Terkesan dengan tulisan Anda, salam kenal.

    Amin Yadi

    dany said:
    23 Desember 2011 pukul 09:50

    Jika dalam hidup kita, kita berjalan dg benar ‘dengan basmallah’ dalam setiap kegiatan di dunia, semata-mata Hanya Karena Allah, insyaAllah Allah akan memberi kemudahan bagi kita baik itu kesehatan, rizki, dan masih banyak nikmat lain yg Allah berikan…, dan yg tahu/mengetahui hubungan antara tindakan kita dengan efek nikmat/kemudahan dari Allah hanya kita sendiri yg menjalani…, Untuk itu Marilah kita instrospeksi diri kita…, kita rasakan… sesuai efek dari tindakan kita…, apakah Allah meridhoi tindakan kita….???

    Aryo said:
    1 Oktober 2012 pukul 10:46

    Assalaamu’alaykum warohmatullohi wabarokatuh
    Jika saya baca pengalaman hidup anda masuk dan kemudian keluar dari Salafy, mungkin anda bertemu rekan salafy yang cenderung extrem. Menurut saya, apa yang diajarkan oleh salafy, yaitu memeluk agama Islam sesuai dengan Qur’an dan Hadits dengan pemahaman para salafus sholih, itulah yang benar, dan inti dakwah salafy yang menyebarkan tauhid, itulah yang sesuai dengan dakwah Rosulullah sallallohu ‘alayhi wa sallam. Memang di Salafy, kita harus menghukumi sesuatu sesuai dengan hukum di dalam Qur’an dan Hadits, jika itu salah, katakan salah, jika itu haram katakan haram, jika memang pakaian seorang laki laki harus di atas mata kaki, berhukumlah sebagaimana Allah dan Rosul-Nya menghukumi. Namun, kondisi setiap personal tidak bisa disama ratakan, dan yang namanya manusia tidak akan pernah lepas dari dosa, contoh kasus, seseorang yang ketika mengenal dakwah salaf dia terlanjur bekerja di Bank, atau yang mungkin seperti saudara Gunawan alami. Semuanya memerlukan proses, berjalan setahap demi setahap. Saran saya, tetaplah berpegang teguh pada sunnah, tetaplah mempelajari ilmu Qur’an dan Hadits sesuai dengan pemahaman yang benar, dan berdoalah memohon pertolongan dan ampunan pada Allah. Karena dengan ilmu yang benar, InsyaAllah saudara Gunawan bisa memilah bagaimana harus berikap. Allah mengampuni semua dosa selain syirik, dan jangan berputus asa dari rahmat Allah. Semoga hadits berikut bisa bermanfaat bagi saudara Gunawan

    “Jagalah Allah, maka engkau mendapati-Nya dihadapanmu. Kenalilah Allah ketika senang, maka Dia akan mengenalmu ketika susah. Ketahuilah bahwa apa yang luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan luput darimu. Ketahuilah bahwa pertolongan itu bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan.”

    Syarah:

    Sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, “Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu.” Yakni jagalah perintah-perintah-Nya dan kerjakanlah, serta hindarilah larangan-larangan-Nya, maka Dia akan menjagamu dalam berbagai keadaanmu, di dunia dan akhiratmu. Allah SWT berfirman:

    “Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik…” (QS.An-Nahl:97)

    Segala yang diperoleh hamba berupa bencana dan musibah disebabkan karena menyia-nyiakan perintah Allah SWT. Dia berfirman:

    “Dan apa saja musibah yang menimpamu, maka itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri…” (QS.Asy-Syuura:30)

    Dari sini diketahui bahwa siapa yang tidak menjaga Allah, maka ia tidak berhak mendapat penjagaan-Nya.

    Sabdanya,”Jagalah Allah, maka engkau mendapati-Nya dihadapanmu.”

    Yakni engkau menjumpai-Nya dihadapanmu yang menuntunmu kepada segala kebajikan, mendekatkan dan menunjukkanmu kepadanya.

    Sabdanya,”Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah”. Yakni bahwa hamba itu tdk boleh menggantungkan rahasianya (urusannya) kepada selain Allah, tetapi hendaknya ia bertawakal kepada Allah dalam segala urusannya. Kemudian, jika hajat yg dimintanya menurut kebiasaan tdk berjalan melalui tangan makhluk-Nya, seperti meminta hidayah, ilmu, pemahaman terhadap Al-Qur’an dan as-Sunnah, menyembuhkan orang sakit, meraih keselamatan dari bencana dunia dan adzab akhirat, maka ia memohon hal itu kepada Rabb-Nya. Jika hajat yg dimintanya menurut kebiasaan bahwa Allah menjalankannya melalui tangan makhluk-Nya, maka ia memohon kepada Allah agar melembutkan hati mereka (sehingga mereka berbelas kasih) kepadanya, yaitu dengan mengatakan, “Ya Allah, jadikanlah hati-hati para hamba-Mu belas kasih terhadap kami,” dan sejenisnya. Tidak boleh berdoa kpd Allah dg menyatakan tdk butuh kepada makhluk.

    Sabdanya,”Dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah.” Yakni, jika engkau meminta pertolongan kpd seseorang, maka janganlah meminta pertolongan kecuali kepada Allah. Karena ditangan-Nya-lah tergenggam kerajaan langit dan bumi, dan Dia akan menolongmu jika Dia menghendaki. Jika engkau meminta pertolongan kepada Allah dengan ikhlas dan tawakal, maka Dia akan menolongmu. Jika dirimu meminta pertolongan kpd makhluk dlm perkara yg ia mampu, maka yakinilah bahwa ia hanyalah sebab belaka, dan Allah-lah yang menundukkannya untukmu.

    Sabdanya, “Ketahuilah bahwa seandainya satu ummat berkumpul untuk memberi suatu manfaat kepadamu, maka mereka tidak dapat memberi manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yg telah ditetapkan Allah untukmu.” Yakni, jika seluruh umat dari awal hingga akhir, seandainya mereka berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu, maka mereka tidak dapat memberi manfaat kepadamu kecuali dg sesuatu yg telah ditetapkan Allah untukmu. Berdasarkan hal ini, maka kemanfaatan makhluk yg datang kepada manusia pada hakikatnya berasal dari Allah. Karena Dia-lah yg menetapkan untuknya. Ini adalah anjuran bagi kita agar bersandar kepada Allah dan kita tahu bahwa umat tidak bisa mendatangkan kebaikan kepada kita kecuali dengan izin Allah.

    Panggah Laksono (@LaksonoPanggah) said:
    14 November 2012 pukul 20:08

    penulis gak faham apa itu salaf / salafy.

      Abu Haidar Al Jaffary said:
      8 Maret 2013 pukul 07:16

      antum benar…

    Nasar Azis said:
    17 Desember 2012 pukul 13:56

    Saya ingin menanggapi atas tanggapan-tanggapan dari ikhan salafi atas kasus pengakuan dari saudara kita yang menceritakan mengapa dia keluar dari salafi. Yang jelas shalafush shaleh akhlaknya tidak seperti akhlak kalian yang kasar, suka mengatakan ahlul badi’ kepada orang lain, menyesatkan, mengkafirkan para ulama mutaqaddimin. Rasulullah saw dalam salah satu mafhum hadisnya bersabda : ” Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, Allah SWT tidak akan meletakkan rahmat-Nya kecuali diatas orang yang menyayangi.” Para sahabat berkata : ” Semua kami menyayangi, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda : ” Bukan maksudnya salah seorang dari kalian menyayangi sahabatnya. Akan tetapi maksudnya adalah menyayangi semua manusia.” Dalam hadis lain Rasulullah saw bersabda : ” Barangsiapa yang tidak menyayangi manusia, maka Allah tidak akan menyayanginya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Pengikut salafy dikenal sangat fanatisme terhadap kelompoknya, sehingga mereka menganggap kalo tidak masuk kelompoknya berarti sesat atau dituduh ahlul badi’. Yang bener aja dong, kami juga mengikuti manhaj shalafush shaleh yang mengedepankan akhlak dalam berdakwah mengajak manusia kepada islam yang kaffah. Rasulullah saw bersabda yang mafhumnya : ” Bukanlah dari golonganku orang yang menyeru kepada ashabiyah (fanatisme golongan), bukanlah dari golonganku orang yang berperang (bertikai) karena ashabiyah, dan bukanlah dari golonganku orang yang mati atas ashabiyah.” (HR. Abu Dawud). Berdakwah atau mengajak orang lain harus dengan santun dan penuh kasih sayang. Allah SWT telah menggariskan azas dakwah secara tegas dengan firman-Nya ” Fabima rahmatim minallahi linta lahum, walau kunta fadzdzon gholidzal qolbi lan fadzdzu min haulik” . Yang mafhumnya kurang lebih : ” Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar niscaya mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imran : 159). Dalam tanggapan akhina Aryo diatas, beliau mengatakan saudara kita yang keluar dari salafy mungkin karena bertemu rekan salafy yang cenderung ekstrim dan kasar. Kalo begitu didalam tubuh salafy ada yang bersifat lemah lembut seperti perintah Allah SWT terhadap Rasul-Nya. Kalo begitu kalian perlu dakwah kedalam dulu memperbaiki azas dakwah yang sesuai dengan peritah Allah SWT, seperti yang di contohkan Rasulullah saw dan yang di aplikasikan oleh Shalafush Shaleh. Jangan dengan cara kalian sendiri yang kasar dan menyebabkan larinya hidayah seseorang, serta menimbulkan perpecahan umat. Na’udzubillahi min dzalik. Allahummaghfirlana wa lakum. Subhanakallahumma wa bi hamdika. Asyhadu’anlaa ilaaha illa Anta, astaghfiruka wa atuubu ilaika.

      domblank said:
      14 Maret 2013 pukul 12:23

      baguuuuus nasar azis……Lanjutkan……

    hasan nasrullah said:
    5 Januari 2013 pukul 22:02

    Sekali lagi ikhwan bukanlah manhaj salaf yang salah namun yang engkau temukan individu2 yang mengaku manhaj salaf tetapi berakhlak syetan lalu menjadi fitnah bagi dakwah manhaj yang lurus ini dan ihkwan yang istiqomah dalam manhajnya…….jangan engkau lemparkan cacian,hinaan,dan kebenciaan pada manhaj ini dan orng2 yang lurus dalam aqidah ini kalau engkau lakukan artinya engkau menyatakan perang dengan Allah dan Rosulnya karena pada hakekatnya engkau menghina terhadap Agama ini.

    Abdurrahman said:
    12 Januari 2013 pukul 12:34

    Ya beda kelas, Ibnu Taimiyyah yg belajar filsafat dgn mas Anggun Gunawan. kalo pingin seperti Ibnu Taimiyyah ya harus pelajari langkah2nya supaya bisa kokoh. Kalo pake metode sendiri kelamaan, entar malah belum nyampe2 kayak mas Anggun Gunawan ini.

    muhammad irsyad said:
    28 Januari 2013 pukul 10:57

    assalammualaikum w.b.t sya kamu belum betul-betul memahami tentang (bid’ah) terimakasih…

    saya syor kan kamu baca kitab yang bertajuk dibawah-
    sebagai rujukan

    Makna sebenar BID’AH: SATU PENJELASAN RAPI
    (al-syeikh al-hafiz abu al-fadl abdullah al-siddiq al-ghumari)

    (ULAMA AHLI SUNNAH WAL JAMA’AH, AL-ASHA’IRAH)

    disemak oleh:
    dato’ hj.mohd murtadza hj.ahmad
    (mufti negeri sembilan darul khusus)

    datuk hj. Md. Hashim hj. Yahya
    (bekas mufti wilayah persekutuan/pensyarah uiam)

    dato’ haji saleh haji ahmad
    (YDP persatuan ulama malaysia/pensyarah uiam)

    dato’ dr. Wan zahidi wan teh
    (mufti wilayah perseketuan)

    Fajar Setiawan said:
    3 Februari 2013 pukul 22:32

    ^_^ Mas anggun… pilihan yang tepat… Salafi kan cuman nama, kalau kajiannya salaf orang nya bejat….. sesat juga…

    Sayang_Yatim said:
    4 Februari 2013 pukul 14:56

    MANHAJ SALAFI ?. Btulkah mreka mngikuti salafushsholoih …knpa mrka sholat tarawih tdk 20 roka’at sprti Umar bin khothhob dan shahabat nabi lainnya?. kenapa mreka tidk adzan jum’at 2x sperti Utsman bin ‘affan dan lainnya ? knpa mreka bercelana cingkrang pdahal nabi dn pra shahabat ga prnah pake? dn msih bnyak lgi pertnyaan untuk mreka yg mngaku salafi dgn slogan kmbali kpd Al Qur’an dan As sunnah,mngikuti jejak gnerasi trdahulu yg sholih dri pra shahabat dan tabi’in bahkn tabi’ittabi’in, tpi knyataannya brseberangan dgn sunnah nabi dn atsar pra shahabat dn tbi’in.
    Beruntung anda ya akhi brkat hidayah dn taufiq dri Allah swt..tdk trperosok dlm faham dan ajaran salafi gaya mrka yg sesat dn mnyesatkan. smga anda istiqomah dan tdk goyah dlm msalah prinsip ini..IKUTILAH ajaran AHLUSSUNNAH WALJAMA’AH yg di anut oleh mayoritas muslim di dunia mulai dari jaman Nabi saw. hingga sekarang…plajarilah dgn baik dn bnar kpd pra ahlinya…dn hati2lah jgn smp mnjadi mangsa orng2 yg bertopeng salafi.

      wiwit said:
      2 Mei 2014 pukul 23:17

      “knpa mrka sholat tarawih tdk 20 roka’at sprti Umar bin khothhob dan shahabat nabi lainnya?” Karena Nabi Shalat hanya 8 Raka’at, sedang Umar bin khothhob yg shalat 20 rakaat hadits nya dhoif….
      “mreka tidk adzan jum’at 2x sperti Utsman bin ‘affan dan lainnya?” Karena dahulu belom ada Speaker kayak zaman sekarang, kalau udeh ada, pasti Utsman bin ‘affan 1x, Rasul aje cuman 1X, ngapain ditambah2in…?? “knpa mreka bercelana cingkrang pdahal nabi dn pra shahabat ga prnah pake?” Kata siape….???? ketauan ente nggak pernah baca hadits Nabi tentang Isbal….. Belum lagi kisah Umar disaat kristis menyuruh isbal kepada seorang pemuda agar tidak Isbal……
      Semakin ente komen, semakin keliatan isi otax ente………

    Fulan bin Fulan said:
    3 Maret 2013 pukul 23:24

    Assalamu’alaikum.
    memang setiap golongan selalu mengunggulkan golongannya tersendiri. ingatlah, salafi bukanlah golongan, tetapi dia adalah manhaj atau metode dalam beragama, berasas dari alqur’an dan assunnah. kalau kalian mencela salafi, maka ingatlah, berrarti kalian telah mencela tiga generasi terbaik, salafi bukan dari abdul wahab, bukan dari at-tabi’tabi’in, bukan dari tabi’in, bukan juga dari rasulullah, tetapi dari allah ta’ala. demi allah, jika kalian berbicara tanpa ilmu yg shohih, hanya mengikuti hawa nafsu atau dalil yg dho’if, maka kembalilah ke jalan yg shohih.
    Untuk mas gun, filsafat jika dikatakan sebagai ilmu yang haram, maka coba tanya ustadznya dahulu, segi mana pandangannya sehingga itu dikatakan haram, apa dalil, hadits, atau atsar yang digunakannya. dan tanya juga, gurunya siapa dan dari mana dia mengambil ilmu, jika dikatakan salafi yg anda maksud adalah sesuatu yg buruk yang bersumber dari makkah arab saudi, terus kenapa para ikhwah salaf di yaman yg manhajnya salaf juga, mereka semua pendapat karomah dari allah ketika diserang oleh syi’ah rofidhah. Tolonglah jika sebelum mencela, lihatlah dulu maslahat dan mudhoratnya, dan timbangkan haq dan bathilnya.

    Abu Haidar Al Jaffary said:
    8 Maret 2013 pukul 07:15

    Allahul musta’an…ini adalah hujjah As saghiir…………………………seandainya pengalamanmu tidak kamu tulis di blog niscaya tidak akan menjadi fitnah dirimu. dan engkaupun merasa pintar karena IP filsafat tinggi dan ngajai salafy..nas Alullohi as salamah wal hudaa. Ketahuilah banyak ikhwan salafy yang jauh lebih pandai dibidang keduniawian dan Agama sekaligus. Bahkan Ada ikhwan Dokter yang menjadi ustadz sekaligus,….paparanmu adalah sekelumit kebingunan seorang manusia yang takut mencari rizky dengan cara yang Halal, karena hidupmu kamu sandarkan kepada ijazah sekolahmu…

    orang awam said:
    19 Maret 2013 pukul 21:28

    Assalamu’alaikum … untuk saudaraku semua
    Kebenaran hanyalah dari Allah…
    maka sampaikanlah kebenaran dengan cara Allah, yaitu BIL HIKMAH…
    orang yang saat ini kau anggap adalah kafir sekalipun, besok bisa jadi adalah sebagai sahabat jihadmu…
    orang yang saat ini kau anggap golonganmu, besok bisa jadi adalah seorang murtad yang berbahaya…
    maka peliharalah lidah kalian, agar kalian saling mengasihi karena Allah…
    sampaikanlah kebenaran itu dengan hikmah….

    telkomnyet said:
    4 April 2013 pukul 14:07

    selamat kembali bersama
    ustadz muhammad arifin ilham,
    ust yusuf mansur, ust abdullah gymnastiar…

    insya allah mereka bukan ulama sesat…….

      Nasar Azis said:
      4 April 2013 pukul 23:10

      Saya setuju dengan pendapat anda bahwa ” bukanlah manhaj salaf yang salah namun yang engkau temukan individu2 yang mengaku manhaj salaf tetapi berakhlak syetan “. Pertanyaannya, siapakah yang anda maksud dengan INDIVIDU2 tsb? Apakah yang anda maksud mereka yang suka mencaci, membid’ahkan saudaranya sesama muslim, mengkafirkan saudaranya sesama muslim bahkan ulama, merasa paling benar dan menganggap diluar mereka salah, bahkan dianggap ahlu an naar. Apakah yang anda maksud mereka yang berdakwah dengan menerima imbalan jasa dan transport serta akomodasi hotel. Apakah yang anda maksud adalah para pimpinan salaf yang satu dengan yang lain saling berseberangan, bahkan saling menyerang dengan sangat kasar. Perlu anda ketahui wahai saudaraku bahwa kami tidak pernah menyalahkan manhaj salafus shaleh. Perlu anda ketahui wahai saudaraku, bahwa tidak seorangpun dari shalafus shaleh mempunyai sifat-sifat buruk seperti diatas. Kalo memang individu-2 seperti tsb diatas yang anda maksud, berarti anda telah menghujat tokoh-tokoh salafi seperti ustad Yazid Jawas dan Abdul Hakim Abdat. Berarti menurut anda beliau-beliau telah mengaku manhaj salaf tetapi berakhlak syetan !

      Perlu diketahui juga bahwa yang menjadi fitnah bagi dakwah manhaj yang lurus ini ihkwan dari salafi sendiri yang tidak istiqomah dalam manhajnya seperti yang dicontohkan para shalafus shaleh yang sangat terjaga akhlaknya. Jangan engkau lemparkan cacian,hinaan,dan kebenciaan pada mereka yang diluar aliran salafi. Sekali lagi, jangan dikira yang ittiba’ kepada salafus shaleh hanya kalian saja. Lebih baik dakwah kedalam dulu untuk memperbaiki diri. Perbaiki dulu hubunganmu dengan Allah, niscaya Allah akan memperbaiki hubunganmu dengan manusia. Ilmu harus di sampaikan dengan amal. Apabila ilmu tidak di sampaikan dengan amal, nantinya yang akan tersebar ditengah umat hanyalah maklumat. Kalo cuma kajian-kajian fiqih saja, maka akan melahirkan hati yang keras dan pandainya melihat ‘kesalahan’ orang lain. Allahummaghfirlana walakum, subhanakallahumma wa bi hamdika, asyhadu an laa ilaaha illa Anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik.

    nanang said:
    8 April 2013 pukul 17:21

    Dalam hadit 73 golongan, 1 golongan yang masuk surga. Mereka mengklaim yang satu golongan tersebut adalah Salafi. Menurut Rasulullah yang satu golongan tsb adalah : Mereka itu al-jama’ah… (HR. Abu Dawud dan Ad-Darimi). Siapa mereka ? yaitu (yang tetap dalam) jama’ah (HR. Ibn Majah dan Ibn Jarir). Siapa mereka ? Beliau menjawab: Apa yang aku dan sahabatku berpijak di atasnya. (HR. At-Tirmidzi).

    Orang yang mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya. Apa yang “Aku dan sahabatku berpijak di atasnya” (HR. At-Tirmidzi).

    Masuk Surga itu ada dua cara. Mampir dulu keneraka baru kesurga kedua tanpa mampir keneraka langsung ke surga. Maka golongan yang yang selamat tsb pasti, pasti, pasti dstnya pasti tanpa mampir keneraka. Mungkinkah “Aku dan sahabatku” mampir keneraka ?

    Amal sholeh mana yang pahalanya langsung masuk surga, dimana “Aku dan sahabatku” berada diatasnya. Perhatikan Hadits berikut : ” Telah menceritakan pada kami Uqbah bin Mukram dan Nashr bin Ali: Telah menceritakan pada kami Salam bin Qutaibah dari Tu’mah bin Amru dari Habib bin Abi Tsabit dari Anas bin Malik berkata: bersabda Rasulullah: “Siapa mengerjakan shalat (5 waktu) dengan ikhlas karena Allah selama 40 hari berjamaah dengan mendapatkan takbiratul ihram, dicatat untuknya dua kebebasan, yaitu bebas dari neraka dan bebas dari kemunafikan.” (H R.Tirmidzi)

    Bebas dari Neraka, maksudnya langsung masuk surga.

    Jadi yang satu golongan itu bukan golongan yang ada sekarang, tetapi setiap insan yang mampu seperti “Aku dan para sahabatku” diseluruh dunia dimanapun berada, baik mereka sekarang telah berada di alam kubur, atau anda yang masih hidup sekarang ini atau yang akan lahir nantinya. Mereka seperti “Aku dan para sahabatku” Mereka itulah yang masuk dalam golongan yang selamat.

    Kenapa sekarang ada yang mengklaim golongannya yang selamat ? Lalu mengkafirkan golongan yang lain ? Sementara salatnya masih masbuk dan terputus ? Kalaupun salatnya sudah bagus tidak selayaknya kita mengkafirkan sdr kita yang masih berusaha untuk menjadi baik .

    Apakah menghujat Salafi berarti menghujat generasi terbaik ? Belum tentu. Bisa jadi didalam golongan lain ada yang salaf. Walaupun tidak ikut salafi. Kok mengklaim Salafi generasi terbaik..? Itu namanya bersembunyi dibalik kata kata.? Karena dalam arti kata, salafi adalah orang orang salaf. Tetapi belum tentu yang masuk salafi ia salaf. Beda dengan generasi terdahulu yang salaf. Yang keluar dari salafi sekarang bukan maksudnya keluar dari generasi salaf. Tetapi dari Firqah Salafi yang baru muncul.

    Inilah kesalahan fikir mereka.

      Abusyofian said:
      8 April 2013 pukul 20:52

      Memang Salafi ini salah fikir, istilah salah fikir yang dilontarkan ternyata tidak meleset. Mari kita periksa kebenarannya.

      1. Salafi menghujat orang islam yang bodoh berdakwah, tak diketahui batasan bodoh menurut mereka. Toh mereka yang berilmupun masih belum bergerak untuk dakwah. Padahal dakwah itu bukan hanya dengan ilmu saja. 1a. Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat. 1b. Allah swt mengirim 2 ekor burung untuk mendakwahi Habil dan Qabil. (dakwah dengan contoh) 1c. Nabi dihujat habis habisan oleh perempuan yahudi yang buta dan menyuapinya. Nabi tidak membalas walaupun mampu. Akhirnya masuk Islam. (dakwah dengan akhlak)

      2. Membenci mereka yang mengamalkan bid’ah, dan lebih menyayangi / berteman dengan orang kafir. Padahal pelaku bid’ah yang mereka benci tsb telah mengucapkan kalimah “La ilaha Illallah” dan punya peluang untuk masuk Surga. Sementara sikafir kekal di Neraka. Saking bencinya dengan pelaku bid’ah lebih baik berteman dengan akhli Neraka. Masya Allah.

      3. Ulama mereka mengeluarkan fatwa tidak berdasarkan penelitian, terjun kelapangan dan bermusyawarah tetapi berdasarkan pertanyaan yang masuk atau berdasarkan selebaran yang disampaikan.

      4. Menganggap dia golongan yang selamat.

      5. Diundang dalam acara mendoa menaiki rumah baru, mereka hadir dan disaat tuan rumah melakukan doa bersama dia tidak berdoa karena alasan bid’ah, maka iapun purak purak tidur, Saat mau makan bersama baru dia bangkit.

      Saya masih bisa melihat sisi baik salafi. Saran saya sekiranya tak ingin mendoa bersama kenapa kita tidak menganggkat tangan dan berdoa sendiri saja, sesuka kita kalimatnya. Sehingga tuan rumah tidak kecewa, padahal mereka satu rt. Systim masyarakat seperti apa yang ingin mereka bangun ?

      Salafi….salafi. Semoga Allah menambah kepahaman kepada mereka.

    Abusyofian said:
    8 April 2013 pukul 20:36

    Syaikh Bin Baz As-Salafy Al-Muwahhid
    http://salafywahabi.blogspot.com/2012/08/vonis-salafy-bahwa-jemaah-tabligh-sesat.html

    “Dari sini teranglah bahwa tablighy di atas menyebutkan dalam selebarannya bahwa Jama’ah Tabligh menyeru untuk berpegang teguh dengan islam dan menerapkan ajaran-ajaran-Nya dengan membersihkan tauhid dari bid’ah dan khurofat. Oleh karena itulah, maka Syaikh Bin Baz memuji mereka.
    Seandainya penulis selebaran tersebut mengungkapkan fakta sebenarnya dan menggambarkan hakikat keadaan mereka serta menjelaskan hakikat manhaj mereka yang rusak, niscaya Syaikh Bin Baz As-Salafy Al-Muwahhid pasti mencela mereka dan memperingatkan umat dari bahayanya”

    Dikutip dari situs diatas,

    Heran…sungguh heran.
    Dengan sebuah selebaran saja seorang ulama mengeluarkan fatwa untuk jemaahnya.
    Kemudian dengan selebaran lain bisa pula malah bertolak belakang dengan fatwa semula. Inilah contoh Ulama yang bisa diutak atik dengan sebuah selebaran.

    Sungguh sayang fatwa ulama seperti itu yang diikuti. Tidak memiliki Integritas

    Telah lama memperhatikan Ulama yang satu ini cara mengeluarkan Fatwa. Sebuah Fatwa sesat bisa keluar dari sebuah pertanyaan. Bukan berdasarkan penelitian, analisa kelapangan lalu dimusyawarahkan bersama sama baru keluar Fatwa. Yang bikin heran katanya berilmu, tetapi dalam mengambil keputusan, lihatlah sendiri..

    Jadi, sekiranya ada Fatwa dari sdr Syaikh Bin Baz As-Salafy Al-Muwahhid yang menyudutkan golongan , firkah atau sebuah kelompok , nggak usah dipedulikan dan terlalu risau dengan fatwanya. Sebenarnya kitalah yang merasa risau dengan cara pengeluaran fatwa tsb..

    Hmm……Kasihan jemaahnya…

    suraji said:
    13 April 2013 pukul 17:07

    tetaplah berdoa agar ditunjuki jalan lurus, dan selalu berbuat baik kepada sesama. semua mengaku merekalah yg paling benar, bahkan menurut anda keluar dari salavi adalah jalan paling benar. tapi anda dan mereka lupa berdoa bahwa hidayah hanya milik yg maha kuasa.

    Muhammad Azka Ramadhan said:
    19 April 2013 pukul 08:14

    Alhamdulillah, antum telah kembali ke jalan yang benar. Saya dari SD – SMA sekolah di Muhammadiyah, yang memandang Islam secara proporsional. Jika kita pahami lebih jauh, semua ilmu yang ada di muka bumi ini ada dalam Islam, ini disebut sebagai ilmu fiqih. Termasuk yang antum pelajari, ilmu filsafat :)

    Sakera Alghozali said:
    21 April 2013 pukul 05:24

    sesungguhnya yg paling mulia di sisi ALLAH yg paling taqwa
    bukan salafi atau sunny atau yg lain

    muhammad iqbal said:
    13 Mei 2013 pukul 21:14

    rasulullah mengatakan bahwa islam terbagi 73 firqoh dan hanya 1 yg masuk surga yakni mengikuti al qur an dan sunnah, yg pasti yg baiknya sesuai al quran dan sunnah yg kita ambil artinya kita harus bijak mengikuti yg sebenarnya artinya jangan ikut ikutan dlm al quran mengatakan jangan kau masuki sesuatu tanpa tau apa yg kau masuki

    Nasar Azis said:
    14 Mei 2013 pukul 07:18

    Kayaknya anda harus berhati-hati dalam menafsirkan hadis dan al-qur’an. Apalagi dalam kaidah bahasa yang amburadul. Nanti bisa menimbulkan multi tafsir. Kalo bawakan hadis yang jelas, apalagi ayat al-qur’an, harus dicantumkan nama surat dan ayat berapa. Semoga Allah SWT memberi kefahaman agama kepada anda. Ingatlah, memahami agama tidak cukup dengan ilmu, tapi harus dengan amal.

    panrita said:
    2 Juni 2013 pukul 09:03

    salafi..satu2nya aliran yg memeningkan kepala ku

    dr.shofwan assegaf said:
    17 Juni 2013 pukul 23:00

    Just mas gunawan,selamat,and a be rada PD pilihan yg be nar.alhamdulillah.sbg seorang yg belajar filsafat anda tentu bs menilai bahwa ‘premis2′ yg diutarakan tmn2 salafi benar,to kesimpulannya salah Dan TDK ad hubungan sama sekali.ppremis2nya : generasi salafussholeh adlh yg terbaik pemahamannya,paling lurus akidahnya,itu benar.tp kl kesimpulannya : menolak salafi=menetang salafussoleh,ITU salah besar Karena salafi ITU generasi khalaf yg sama sekali TDK ad Ada kaitannya sama generasi salafussoleh,mere ka cm ‘mengklaim’ sbg pemegang ‘ham monopoli’ salaf. Semua penjelasan Bela diri tmn2 salafi TD menunjukkan mrk balm tau bnyk tipu days ajar an INI.salafussoleh ITU TDK prnh 1 Kara memahami masalah furu’,JD kl salafi memonopoli kebenaran,ITU dust a yg besar.RujUK bukunya syaikh albuthy ‘salafi sebuah false sejarah,bukan mazhab-GIP. Kalau tmn2 salafi menafikan hujatan kafir,syirik Dan bid’ah selain mark,saran saya,buka Mata hat I anda,believe buku2 selain salafi Dan duduk dgn ulama2 yg bin salafi yg sang at bnyk do sekitar and a,Dan saksikan APA yg terjadi…ITU..

    dr.shofwan assegaf said:
    17 Juni 2013 pukul 23:13

    oiya,buat tmn2 salafy,sy menantang anda jika bisa berberbahasa Arab,mari kita hitung Ada berapa kata ‘bid ah,tuduhan ‘syirik’ atau kafir yg ada di kitab2 salaf seperti al-mughni (karya I nu qudamah murid imam Ahmad bin hanbal),stay kitab imam nawawi (almajmu’) dibandingkan kitab2 karya bin baz,albani dan panutan salafi lain trmsk tokoh lokal seperti Abdul qadir jawaz…kits lihat faktanya bersama (kalau memang anda cinta ilmu,kebenaran,dan manhaj salaf)

    adi said:
    11 September 2013 pukul 23:03

    Bolehkah kubertanya satu saja: mengapa surga dalam Islam “menghadiahkan” 72 perawan? Ini sahih sekali karen ajelas tertulis dalam Al Quran. Dan ini satu hal yang sangat mengganggu nalar dan logika plus nuraniku. Apa kah kita setelah mati masih berpikir dan bertindak berdasar nafsu birahi? Bagaimana dengan kaum wanita, mereka dapat apa? ……Jangan dipandang ini sebagai hinaan atau hujatan agama, renungkanlah baik2 pertanyaan saya ini karena ini sangat mendasar sekali dalam agama. Bukankah ibadah tiap hari karena satu alasan ini, masuk surga?

    lidya said:
    7 Oktober 2013 pukul 22:09

    Pusing saya baca ini. Malah setelah baca baca artikel artikel salafi…kayaknya ga ada yang salah…masuk akal semua deh…ga ada yang bertentangan dengan quran hadist…

    lidya said:
    7 Oktober 2013 pukul 22:26

    Saya juga bingung ada yang mengagung kan maulid nabi. Dengan alasan bahwa sebetulnya ada hikmah dari pelaksaan maulid ini. Yang saya bingung…di kampung sebelah komplek saya, demi maulid nabi mereka sampai berhutang karena setiap kepala keluarga wajib menyumbang ke mesjid, dan membuat makanan2 untuk perayaan maulid. Apakah ini yang diinginkan islam? Kayaknya islam tidak mberatkan umat y setahu saya.

    Jammi said:
    10 Desember 2013 pukul 22:52

    Smoga Gunawan Slalu istiqomah diAqidah Ahlussunah Waljama’ah (Asya’riyah wal Maturidiyah)..Aamiin

    hameed said:
    13 Desember 2013 pukul 23:11

    Kalo albany bin baz dll….boleh ngaku paling nyalafy…padahal jarak antara mereka dan zaman salaf ribuan tahun…kenapa kita yg ikut mazhab 4 disebut tidak nyalafy…padahal para imam mazhab yg 4 zaman mereka lebih dekat dengan zaman sahabat dan lebih pantas untuk disebut mewarisi pemahaman salaf sahabat…lah kalo mereka iini dari bin baz ke moh bin wahab loncat ratusan tahun ke ibnu taymiyah loncat lagi ke sohabat..
    Belum lagi tahzir tahdziran ..tabdi’ bahkan takfir sesama “syekh-syekh” salafy yg dipertontonkan secara vulgar…bukan cuma ditingkat lokal bahkan nasional dan internasional…syekh robi mentahdzir yahya hajury…yahya hajury mentahdzir ibn mar’iy…ibn mar’iy mentahzir ali alhalaby…ali alhalaby mentahdzir syekh muhamad bin hady…walhasil ruwet ….ini sesama mereka jangan ditanya sikap mereka terhadap tokoh harokah islam…seperti alqardhowy…atau sayid qutb…tokoh sufy seperti para habib…jijik kita kalo lihat komentar mereka…
    Pesan saya buat siapapun yg tertarik dengan manhaj salafy….ketahuilah para salaf sohabat lebih agung dan lebih mulya daripada apa yg dipertunjukkan para syekh mu…dan ini telah diwarisi ulama ulama kita dari masa kemasa…sehingga kita bisa menikmati cahay islam walau kita nun jauh dari zaman dan negeri para Nabi dan salaf soleh…islam bisa berkembang berkat kemulyaan akhlak mereka …bukan seperti wahaby yg berkembang karena riyal saudi

    suqron said:
    20 Desember 2013 pukul 03:36

    Assalamuallaikum,,,
    Maaf ga sengaja nemuin blog ini saya cuma mau kasih saran buat yang namanya gunawan lain kali kalo menulis blog harus hati hati jangan sampai membuat provokasi seperti ini.emang ente ga sedih liat sodara” kita sesama muslim saling menghujat gara” artikel yang anda tulis coba ente merenung dan minta maaf kalo ente emang muslim…maaf gunawan kita kan sesama muslim jadi harus saling mengingatkan

    Tips Kesehatan said:
    1 Januari 2014 pukul 07:23

    Dari postingan di atas, sebaiknya ambil sisi positifnya aja..

    juaragan sual endek said:
    17 Januari 2014 pukul 20:13

    he he ayo tarung semua mau masuk sorga kok maksa,bunuh,serang,antem,………he he he

    nisa salsabila said:
    27 Januari 2014 pukul 13:23

    Saya sama dgn “lidya” setelah mendengar ceramah atw membaca artikel2 dr salafi ga ada yang salah dan masuk akal, jadi mas Gunawan hanya krn masalah “Pribadi” ( ambil jurusan filsafat ) lalu curhat jadi deh begini..

    Padahal jika kita berpikir jernih baca, dengarkan artikel atw ceramahnya dari Ustad salafi, bagus-bagus saja, sama spt mas Gunawan ketika pertama kali mau mengikuti kajian/ceramahnya, namun jadi berubah setelah jalan hidup tidak sesuia dan menjadi menjelek2an.. andaikan itu mas Gunawan simpan sendiri atau tidak perlu di share di internet mungkin tidak serunyam ini..

    semoga Allah selalu memberi kita petunjuk.. dan semoga mas Gunawan bisa meminta maaf atas curhatnya ini.. agar umat Islam tidak terpecah belah dan saling mennjelek2an spt ini..

    Saya juga masih awam dan selalu ingin menjadi lebih baik lagi maka sebaiknya kita selalu berdo’a ;

    Allahuma aAllahumma a’inni ‘ala dzikrika, wa syukrika, wa husni ‘ibadatika.” – Ya Allah, tolonglah aku untuk senantiasa dapat mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbagus ibadahku kepada-Mu”

    Semoga juga para salafiyun bertambah kuat ukhuwahnya dan membuang hal-hal negatif yang membuat orang-orang yang masih awam menjauhi..
    Semoga Allah selalu memberi petunjuk kepada kita semua sebagai umat Islam terbesar di bumi ini. amiin..

    dhanie said:
    10 Februari 2014 pukul 17:22

    Assalamualaykum, wr.wb, para ikhwan semua, sejujurnya saya sangat baru dalam dunia ini.

    Maaf kalau saya salah karena masuk dalam forum laki-laki (saya perempuan), saya mengenal salafi setelah ikut i’tikaf ramadhan tahun lalu. teman2 saya para akhwat yg mulia tidak menunjukkan manhaj apapun. tapi perilaku mereka subhanallah baik sekali, setiap kali melihat para wanita berjilbab besar di mesjid tempat saya itikaf, selalu keluar airmata saya.

    Saya mulai mencoba mencari dimana yang jual jilbab besar, sampai saya berburu di toko-toko tidak menemukan apa yg saya inginkan, kemudian saya cari via internet dan dari situ saya banyak tahu dimana yang jual pakaian syari yang bermuara kepada mereka yang berusaha mengikuti jalan sunnah. jujur saya masih baru sekali belajar ini, saya belajar untuk menggunakan pakaian-pakaian syari jilbab lebar yg saya dapatkan hasil berburu berbulan-bulan.

    Yang saya rasakan sungguh indah dan nikmat, saya merasa nyaman. Saya seperti orang yang baru masuk kedalam agama Islam.
    Pertama yang saya pikirkan, pakaian yang dikenakan para akhwat ini benar sesuai petunjuk Quran, krn saya yakin tidak ada satu pria nakal yang berani menggoda wanita berpakaian seperti ini, sebelum saya memakai pakaian seperti ini, masih sering saya di ganggu oleh pria iseng, padahal saya merasa sudah memakai jilbab (tidak ketat-tapi ternyata juga tidak syari).

    Kedua, saya melihat akhlak mulia para ikhwan salafi (yg saya tahu) benar2 menjaga pandangan ketika melihat wanita cantik bahkan ketika melihat akhwat lewat, sungguh bukankah ini contoh yang benar-bandingkan dengan perilaku alami kaum pria yang lemah di mata-ketika melihat wanita cantik tak cukup satu kali melihatnya bahkan bisa berkali-kali.

    ketiga, saya melihat perilaku para akhwat dan ikhwan yang menyeru kepada kebaikan, menjaga aqidah dari hal-hal yang merusak iman, bukankah ini suatu hal yang luar biasa di tengah masyarakat yg kehilangan arah hidup. Mereka menjauhi hal-hal buruk, termasuk musik (yg skrg diiringi tarian2 erotis ga jelas dan akhirnya harus disemprit KPI) misalnya karena dapat membuat orang terlena dan lupa kepada Allah, ini suatu hal yang luar biasa bagi saya. Karena hanya Allah yang pantas di utamakan bukan yang lain.

    Saya berasal dari keluarga sekuler, sungguh beda ketika saya belajar ilmu islam salaf-( kesan orang luar keras-padahal itu untuk melindungi kaum muslim dari kehancuran terselubung), keluarga kami hidup terbiasa memisahkan antara agama dan kehidupan sehari-hari. Agama hanya sebatas ritual tapi tidak menyentuh esensi beragama itu sendiri. Beragama tapi garing-beragama tapi hanya itu itu saja, dan saya tidak diajarkan bahwa tujuan kaum mukmin di dunia adalah untuk menggapai surga diakhirat.
    Saya pernah menangis ketika hendak membeli baju syari, si penjual mengatakan kepada saya-biarlah disini kita tidak bertemu lagi, tapi semoga kita bertemu di surga Allah.

    Ketika saya membaca biografi orang-orang terkenal yang mengenal Islam dengan salafinya, sungguh betapa berubahnya hidup mereka dari yang suka minum khmr, suka musik, tabaruj dan sejenisnya mereka lebur dalam ketaatan kepada Allah SWT, bahkan prototipe mereka sama…bukankah ini suatu hal yang luar biasa—-apa yang menyebabkan mereka bisa sama…satu tujuan?

    Jadi apanya yang salah dengan kaum salafi?…sungguh saya hanya berpikir hanya Allah yang dituju dengan kesederhanaan yang dicontohkan Nabi dan sahabatnya..jadi apa yang salah dengan Salafi. maaf saya benar2 baru sebatas belajar, bahkan saya belum paham siapa saja ustad2 yang masuk katergori salaf, juga belum tahu kitab-kitab apa yang dipakai..

      Afgu said:
      19 Februari 2014 pukul 09:14

      Tidak ada yang salah dhanie …Salafi, HTI, Tarbiyah, Jamaat Tabligh, Muhammadiyah, NU…semua sama..sama2 Islam..dan mereka bergerak di bidang mereka masing-masing subhanallah…kolaborasi yang indah bukan……

      Kecuali SYIAH—INI EMANG SESAT…nauzubillah…

    Awam said:
    8 Maret 2014 pukul 01:56

    Apapun Alasanya Tetap Jaga Kekompakan Jangan Sampai Membuat Hati Jd Kotor..Biarlah Penulis Memilih Jalanya..Ini Soal Keyakinan Jgn Dipaksa Dan Dipengaruhi apalagi di Intimidasi.Mari Dinginkan Diskusi Dengan Perbanyak Sholawat Okey..Alfatehah…

      pengetahuanuntukanda said:
      8 Maret 2014 pukul 10:13

      pertama yang saya baca dari tulisan anda adalah bingung, islam tapi merasa bukan islam, saya juga mengalami hal yang sama dengan anda, tapii saya lebih memilih bukan dari bagian mana2, saya pernah jadi muslim biasa, sy pernah ikut salafi dan jg pernah tau kajian2 NU, dalam bertingkah laku sy ikutin mana yang menurut saya paling benar, yaitu salafi, ajaran ini menurut saya tidak munafik, orang yang menjalankannya jarang yang bermuka 2 (“sering kajian tapi juga sering berkhalwat”), namun untuk mengikuti acara2 yang diadakan saya lebih memilih muslim biasa, yang mendatangi semuanya dalam rangka memenuhi undangan dan utk bersilahturahmi, saya sendiri juga masih belajar,, saya pernah berdiskusi dengan teman saya masalah ini, saya berkesimpulan sama seperti anda selama syahadat, percaya Alloh, Muhammad, dan menjalankan Al-quran dan hadist, tidak perlu saling menyerang, karena kita sama-sama Islam dan kita masih memiliki musuh yang lebih besar utk dihadapi..

    Rustam nggak pake Abu said:
    12 Maret 2014 pukul 13:03

    zia berkata:22 Februari 2010 pukul 05:26
    ……Mungkin maksud Uda, judulnya harusnya ‘akhirnya aku tidak bermanhaj salafi’. Tapi kalau beneran ni judulnya, jadinya ada 3 kemungkinan yakni 1. Tidak berlandaskan Al Quran 2. Tidak berdasarkan hadits Nabi, atau 3. Tidak memahami Al Quran dan hadits sesuai dengan pemahaman para shahabat dan shalafus shalih…..
    =======================================

    Ini komen yang paling sangat lucu.. :)

    Hasim said:
    12 Maret 2014 pukul 17:26

    Mbak Dhanie, pengalaman yg anda ceritakan itu sangat akrab terjadi ketika ane nyantren di Pesantren ala NU bahkan fanatik belajar agama begitu tinggi yg terjadi setiap hari bukan seminggu sekali atau hanya menjelang Ramadhan saja yg terjadi pada salafi. Pengalaman yg berkesan di hati. Jadi ane mohon jgn mengklaim pengalaman yg mbak katakan itu hanya terjadi di Salafi, asal mbak tau kalo Pesantren itu tak pernah diajarkan nabi dan generasi shalafush shalih itu adalah bidah tp bidah hasanah bukan bidah secara bahasa yg jd sanggahan kelompok salafi. Tak ada yg salah dikelompok Salafi itu saja sdh membuktikan ada yg salah. Tak mungkin ada asap kalo tak ada api, dalam artian tak mungkin kelompok salafi dibenci jika tak ada kesalahan. contoh salahnya adlh membagi tauhid menjadi 3 padahal itu mirip trinitas, mengharamkan berhubungan dgn non salafi kecuali dalam bermuamalah, menuduhkan penyembah kuburan kpd tradisi ziarah kubur yg sdh d ajarkan oleh nabi. menuduhkan perayaan maulid yg menyulitkan diri, menuduhkan taklid 4 mazhab itu bidah tp mengajurkan ijtihad padahal membaca Al-Quran saja sudah taklid mazhab (masalah ini pernah ditanyakan ke syech bin baz oleh syekh Al-Buthy n Bin Baz tak berkutik), menggunakan ayat2 Al-Quran yg ditujukan ke Kafirun ke Muslim non salafi. memelintir perkataan ulama non salafi n merubah kitab2 kuningnya. menghancurkan benang sejarah peradaban Islam n digantikan peradaban kelompok salafi. bertajsim Allah memiliki tangan n duduk di atas arsy, berusaha menjauhkan umat islam dgn ulamanya n digantikan taklid buta ke ibnu taymiyah, syech utsaimin, Muhamad Abdul Wahab, dan ustadz kelompok salafi. MASIH BANYAK LAGI YG SALAH DARINYA. Ane dulu aktif di salafi kampus n dipinggirkan karna ane alumnus pesantren milik KH Achmad Sjaichu, pikiran ane terbuka saat mulai aktif di PMII UI, ane mulai menyadari adanya penyimpangan dari paham2 salafi dgn yg ane pelajari di pesantren. Bahkan sangat anti pluralisme n sangat radikal. otak ane tercuci oleh isu2 kejayaan Islam n Ulama2 non salafi adlh penyebab umat islam tertidur. Alhamdulillah ane masih qunut shalat shubuh, bershalawat, tahlilan, maulidan n taraweh 20 rakaat dan amaliah itulah yg tetap membuat ane tak ada sifat takfiri n kembali ke paham yg lurus.
    ( ane adlh aktivis PMII musuh utama LDK )

    iwak peyek said:
    17 Maret 2014 pukul 06:16

    aku tambah bingung

    abuhaikal said:
    20 Maret 2014 pukul 15:10

    Saya mah jujur aja, kalau mau belajar dalil-dalil yang benar dalam ibadah salafi memang top. Yang penting jangan termakan propaganda / tulisan2 / artikel2 dari syaikhnya yang selalu saja ada embel2: “MANHAJ YANG PALING BENAR” atau “PEWARIS TUNGGAL SUNNAH RASULULLAH”.
    Belangnya salafi baru kelihatan kalau sudah membahas hal2 yang berkaitan dengan politik, ukhuwah islamiyah, apalagi pergerakan islam! Betul sekali dalam salah komentar dikatakan bahwa salafi sangat membenci islam haraqah! sangat sangat benci!!. Terbukti di Mesir mereka lebih senang berkawan dengan kawanan thogut dan berkhianat menggulingkan Mursi. Dalam konflik Palestina syekh Albani cuman bisa menyerukan agar bangsa Palestina hijrah…..duh kok bego amat yak syekh Albani kalo soal beginian. Mau hijrah kemana? adakah negara Islam yang siap menampung sebagaimana dulu kaum muhajirin hijrah ke Madinah? akankah kita biarkan Israel menguasai masjid Al Aqsa? Kalau dilihat sejarah emang salafi dibesarkan oleh negara2 kerajaan, jadi pantes aja mereka sangat takut kalau hegemoni monarki mereka jatuh oleh pergerakan Islam.
    Ada lagi sikap konyolnya salafi. Yaitu sikap ambigu dalam persoalan di Indonesia; mereka mengharamkan demokrasi, tapi dalam beberapa ceramahnya yang saya dengarkan mereka sering menyebut bahwa Indonesia adalah negara Islam, karena Presidennya orang Islam, dakwah tidak dilarang, mesjid ada dimana-mana, anggota DPR/MPR nya kebanyakan Islam…… loooh??? Aneh ya, demokrasi haram, tapi kita di ajak bersyukur karena semua tadi itu. Laah, kalau demokrasi haram, yang benar berarti kan semua umat Islam tidak ikut Pemilu, dan berarti akan terjadi negara Indonesia yang mayoritas Islam akan dipimpin oleh orang non Islam, mungkin juga DPRnya akan dipenuhi oleh orang2 non Islam….
    Tapi sekali lagi, kalo soal ibadah jangan ragu belajar dengan ustadz salafi, argumen dan hujahnya jelas dan sistematis. Kesimpulannya, tidak ada yang sempurna kecuali Rasulullah SAW. Jangan hanya belajar dari satu macam saja. Kecuali kalau jelas2 menyimpang seperti gerakan SEPILIS (Sekular, Pluralis dan Liberalisme), atau Syiah atau Ahmadiyah dan sempalan sempalan lain. Dengan mengaji di banyak tempat malah membuka wawasan kita.

      sukadisam@yahoo.com said:
      26 Maret 2014 pukul 10:00

      sukron dan sependapat dgn antum abuhaikal, sikap saya juga demikian kalau masalah ibadah saya agak cenderung ke salafi tapi kalau urusan muamalah dan politik agak kurang sreg…salam

    Kenapa Aku Meninggalkan Salafi? | Cintasunah's Blog said:
    26 Maret 2014 pukul 03:16

    […] Sumber: Klik disini […]

    aswaja yaman said:
    7 April 2014 pukul 00:30

    assalamualaikum sodaraku semuanya, memang islam sekarang sedang mengalami krisis persodaraan dan ukhuwah dan yang paling menyedihkan hal ini terus berkembang bahkan musuh islam sekarang sangat tau kelemahan dari pada islam . islam tidak akan kalah dengan serangan dari luar . tapi islam akan hancur dengan sendirinya karna perpecahan. maaf bagi yang berfaham salaf ala sekh nasrudin albani.. manusia itu diberi nafsu dan akal yang keduanya ini adalah fitrah manusia. dan memang kita dituntut untuk menggunakan akal kita untuk mencari kebenaran,,, bagai mana orang yang berkeyakinan agama lain bisa masuk agama islam tanpa melalui proses menggunakan akal. dalil yang antum soheh dan doifkan itu apakah antum benar2 sudah mendalami ilmu tentang itu atau antum hanya bertaqlid kepada ulama yang antum senangi saja.dalam hal ini kita harus menggunakan akal kenepa ulama sealim sewara imam syafii, kok ibadah nya tidak sesuai dengan ibadah antum yang mengaku salafi, apakah benar imam safii tidak mau mengikuti rosullulloh, padahal imamsafii dijuluki rijalul hadits, antum tidak mau solat kecuali solat itu sesuai dengan rosulluah. tapi apakah buku sifat solat nabi yang ditulis i oleh sekh nasrudin albani dimasa kini itu benar benar yang seperti dilakukan nabi. kenapa imam2 mazhab kitab2 tentang solat nya tidak ada yang sesuai dengan yang ditulis oleh sekh antum. apakah benar imam2 mazhab itu salah padahal beliau lah yang menjaga islam hingga saat ini , maaf saya memang pengikut salah satu mazhab akan tetapi saya tidak pernah mengenggap salah mazhab yang tidak sesuai dengan pendapat saya. saya juga tidak mau mengikuti solat yang tidak sesuai dengan rosulullah. karnanya saya mengikuti kitap fikih yang ditulis oleh imam safii. karna imam safii adalah ulama yang memeng sudah diakui kealimanya dan kehatihatianya dalam masalah hukum, akan tetapi saya tidak menutup kebenaran dari imam2 lain. termasuk dalam mazhab antum. perbedaan akan senantiasa ada sampai akhkir jaman . jadi masalah khilafiah itu sudah ada sejak masa imam bahkan dari para sahabat . hal ini tidak menjadikan masalah bagi orang yang mengerti islam secaradalam. selama tidak mengganggu aqidah. hal ini terbukti tidaklah keluar cercaan dari para ulama2 mazhab walaupun cara solat beliau2ini ada sedikit yang berbeda SATU SAMA LAINNYA bahkan beliau saling memuji . semoga kita terhindar dari sifat riya, ujub .dan perpecahan yang tidak kita dapatkan apa dari hasil ibadah kita kecuali murka ALLAH.

    ASTAGHFIRULLAH………

    Bang Jay said:
    2 Mei 2014 pukul 22:52

    Walah,… ngambil kuliah kok Filsafat, mau jadi ape…?? Gembel…??? Pengangguran Sarjana S-1 banyak tuh, jutaan malah……….Apa nggak ada Jurusan yg keren dan gampang kerja apa…??? Paling TOP Sarjana Filsafat paling2 jadi anggota gerombolan DPR yg biang KORUP………..
    Fakultas Kedokteran, Fakultas Teknik, Fakultas Ekonomi, Fakultas Pertanian, Fakultas Hukum…. Mash banyak Fakultas dan Jurusan yang Okehhhhh yang menjanjikan Pekerjaan Prestige, dan gaji besar, dan masa depan cemerlang, ngapain jurusan Filsafat….????
    Filsafat…??? Calon2 PENGANGGURAN sampah masyarakat……..

    lubis said:
    28 Mei 2014 pukul 22:04

    yahh panteslah broo…. nabi muhammad nabi yang sempurna, sbgi umatnya panteslah ada yg cuman bisa niru cara berpakainnya aja tp isi dalam kandungan ajarannya kosong mlompong…..

    dulu waktu masih jamannya penjajahan ulama nahdliyin mengharamkan memakai celana biar ada beda dgn bangsa belanda, sbg rasa anti penjajah.. nah skrg ya silahkan make celana di atas mata kaki, pas di mata kaki.. kan y g masalah…. ajaran nabi muhammad bukan hanya itu saja…. perlu banyak yg perlu dikaji..

    tri said:
    16 Juli 2014 pukul 14:21

    Sama seperti penulis, saya mahasiswa akuntasi di USU, suka juga ikut kajian salaf sampai sekarang. Dan saya juga kaget ketika salaf menjelaskan tentang riba, apalagi saya pernah bertekad bekerja di bank (yang notabene menganut praktik ribawi). Sama juga hal nya dengan musik, mereka juga mengatakan musik itu haram.

    Tapi setelah melewati masa2 dimana saya tukar pikiran, berselisih paham dengan ortu, akhirnya 1 saja prinsip saya: “siapapun kita, apapun profesi kita, tetap lakukan perbuatan baik dan jangan tinggalkan sunnah. Sisanya biar Allah yang mengatur”. Jika tidak sanggup dengan salaf, minimal hormati saja mereka, tidak perlu men judge pemeluknya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s