Pemikiran Epistemologis Karl Raimund Popper

Posted on Updated on


Pengunjung setia yang saya hormati, mohon kesediaan anda untuk mengklik salah satu link di bawah ini sebagai bentuk apresiasi pengunjung terhadap blog ini. Terima kasih banyak saya ucapkan atas kebaikannya.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

  • Prolog

Karl Popper dihormati secara umum sebagai seorang filsuf ilmu pengetahuan abad ke 20. Dia juga seorang filsuf sosial dan politik terkemuka, ia disebut sebagai “critical-rasionalist” (rasionalis kritis), mempersembahkan diri sebagai lawan seluruh bentuk skeptisism, konvensionlisme, dan relativisme dalam ilmu dan hal ihwal manusia secara umum, seseorang yang komitmen menyokong dan pelindung setia “Open Society” (masyarakat terbuka), dan mengkritik keras totalitarianisme dalam seluruh bentuknya.

Satu dari banyak pemikiran brilian Popper adalah bagian dari pengaruh intelektualnya. Pada teknologi modern dan spesialisasi yang ketat dunia ilmuan, sedikit yang sadar akan kerja para filsuf. Hal ini hampir belum pernah terjadi untuk menemukan mereka berantri, seperti mereka dapat lakukan pada kasus Popper, menyaksikan pengaruh kuat manfaat praktis yang kerja filosofis berjalan pada dirinya. Tapi, meskipun faktanya seperti itu, dia menulis di atas berbagai hal teknis sangat mantap dengan kejernihan sempurna, lingkup kerja Popper adalah seperti itu hal yang biasa sekarang ini untuk menemukan kecendrungan komentator untuk berurusan dengan epistemologi, ilmu dan elemen sosial pada pikirannya, dimana mereka sangat berbeda dan terlepas, dan dengan demikian kesatuan fundamental visi dan metode filosofinya memiliki derajat yang merisaukan. Di sini kami akan mencoba melacak benang yang saling berhubungan pada berbagai elemen filsafat Popper, dan merangkainya dalam kesatuan fundamental.

  • Riwayat Hidup

Karl Raimund Popper dilahirkan pada 28 Juli 1902 di Vienna, yang pada waktu itu diklaim sebagai pusat kebudayaan dunia Barat. Ayahnya, Dr. Simon Siegmund Carl Popper, seorang Yahudi yang membawanya pada suasana yang belakangan ia lukiskan sebagai “sangat kebuku-bukuan” (decidedly bookish). Ayahnya bekerja sebagai pengacara profesional, tapi dia juga tertarik pada karya-karya sastra Yunani-Romawi Kuno dan filsafat, serta menginformasikan kepada anaknya minat pada masalah sosial dan politik yang lepas dari dirinya. Ibunya menanamkan pada ketertarikan pada musik, hingga dia sempat ingin mengambil karir di bidang ini dan sungguh-sungguh pada awalnya memilih sejarah music sebagai subjek kedua untuk ujian Ph. D.

Kemudian, kecintaanya terhadap musik menjadi kekuatan inspiratif dalam membangun pemikiran dan originalitas interpretasi antara dogmatis dan pemikiran kritis, kontribusinya dalam pembedaan objektifitas dan subjektivias, dan yang sangat penting, menumbuhkan perlawanan terhadap segala bentuk historisisme, termasuk ide-ide sejarawan tentang sifat alami “progresif” pada music. Karl muda menghadiri Realgymnasium lokal, dimana ia merasa tidak senang dengan standar pengajaran, dan setelah sakit yang membuatnya tinggal di rumah beberapa bulan, dia masuk University of Vienna pada tahun 1918. Bagaimanapun, dia tidak mendaftar secara formal di Universitas dengan mengambil pengujian matrikulasi 4 tahun yang lain. Baru pada tahun 1922 ia diterima sebagai mahasiswa di sana. 1919 adalah tahun kehormatan formatif penting dalam kehidupan intelektualnya. Pada tahun itu, dia melibatkan diri dalam politik sayap kiri, bergabung dengan Association of Socialist School Students dan menjadi Marxis pada saat itu.

Bagaimanapun, dia dengan cepat kemudian dikecewakan oleh karakter doktriner dan segera meninggalkan hal itu seluruhnya. Setelah perang dunia I dimana begitu banyak penindasan dan pembunuhan maka Popper terdorong untuk menulis sebuah karangan tentang kebebasan. Dan diusia 17 tahun ia menjadi anti Marxis karena kekecewaannya pada pendapat yang menghalalkan “segala cara” dalam melakukan revolusi termasuk pengorbanan jiwa. Dimana pada saat itu terjadi pembantaian pemuda yang beraliran sosialis dan komunis dan banyak dari teman-temannya yang terbunuh. Dan sejak saat itu ia menarik suatu kebijaksanaan yang diungkapkan oleh Socrates yaitu “Saya tahu bahwa saya tidak tahu”, dan dari sini ia menyadari dengan sungguh-sungguh perbedaan antara pemikiran dogmatis dan kritis.

Dia juga menemukan Teori Psikoanalisis Freud dan Adler ( hal ini terkait dengan aktivitasnya dalam kerja sosial dengan anak-anak yang serba kekurangan), dan terpesona mendengar kuliah yang diberikan Einstein di Vienna tentang teori relativitas (relativity theory). Kekuasaan semangat kritik pada Einstein dan kekurangan total pada Marx, Freud dan Adler, menyerang Popper sebagai kehadiran yang sangat penting: yang belakangan dia kembali berpikir, meletakkan teori-teori mereka dalam term-term yang bersedia untuk dikonfirmasi, sedangkan teori Einstein, dengan susah payah, memiliki implikasi yang dapat diuji, jika salah, teori itu bisa difalsifikasi.

Salah satu peristiwa yang mempengaruhi perkembangan intelektual Popper dalam filsafatnya adalah dengan tumbangnya teaori Newton dengan munculnya Teori tentang gaya berat dan kosmologi baru yang gikemukakan oleh Einstein. Dimana Popper terkesan dengan ungkapan Einstein yang mengatakan bahwa teorinya tak dapat dipertahankan kalau gagal dalm tes tertentu, dan ini sangat berlainan sekali dengan sikap kaum Marxis yang dogmatis dan selalu mencari verifikasi terhadap teori-teori kesayangannya.

Dari peristiwa ini Popper menyimpulkan bahwa sikap ilmiah adalah sikap kritis yang tidak mencari pembenaran-pembenaran melainkan tes yang crucial berupa pengujian yang dapat menyangkal teori yang diujinya, meskipun tak pernah dapat meneguhkannya.

Tokoh lain yang cukup berpengaruh pada Popper yang berkaitan dengan perkembangan pemikiran filsafatnya adalah Karl Buhler, seorang profesor psikologi di Universitas Wina. Buhler memperkenalkan pada Popper tentang 3 tingkatan fungsi bahasa, yaitu fungsi ekspresif, fungsi stimulatif, dan fungsi deskriptif. Dua fungsi pertama selalu hadir pada bahasa manusia dan binatang sedangkan fungsi ketiga khas pada bahasa manusia dan bahkan tidak selalu hadir. Dan pada perkembangannya Popper menambahkan fungsi keempat yaitu fungsi argumentatif, yang dianggapnya terpenting karena merupakan basis pemikiran kritis.

Dalam perkembangan selanjutnya ia banyak menulis buku-buku yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan epistemologi, dan sampai pada bukunya yang berjudul Logik der Forschung, ia mengatakan bahwa pengetahuan tumbuh lewat percobaan dan pembuangan kesalahan. Dan terus berkembang sampai karyanya yang berjudul The Open Society and Its Enemies, dalam karyanya ini Popper mengungkapkan bahwa arti terbaik “akal” dan “masuk akal” adalah keterbukaan terhadap kritik – kesediaan untuk dikritik dan keinginan untuk mengkritik diri sendiri.

Dari sini Popper menarik kesimpulan bahwa menghadapkan teori-teori pada fakta-fakta yang dapat menunjukkan ketidakbenarannya adalan satu-satunya cara yang tepat untuk mengujinya dan juga satu-satunya cara yang menungkinkan ilmu pengetahuan bisa berkembang terus menerus. Dan dengan adanya kemungkinan untuk menguji teori tentang ketidakbenarannya berarti teori itu terbuka untuk di kritik dan ia memunculkan apa yang dinamakan Rasionalisme kritis. Demikianlah sekelumit kehidupan Karl Raimund Popper yang meninggal dunia pada tahun 1994.

  • Karya-Karya Karl R. Popper

1. Logik der Forschung. Julius Springer Verlag, Vienna, 1935.

2. The Open Society and Its Enemies. (2 Vols). Routledge, London, 1945.

3. The Logic of Scientific Discovery. (translation of Logik der Forschung). Hutchinson, London, 1959.

4. Conjectures and Refutations: The Growth of Scientific Knowledge. Routledge, London, 1963.

5. The Poverty of Historicism (2nd. ed). Routledge, London, 1961.

6. Objective Knowledge: An Evolutionary Approach. Clarendon Press, Oxford, 1972.

7. Unended Quest; An Intellectual Autobiography. Fontana, London, 1976.

8. ‘A Note on Verisimilitude’, The British Journal for the Philosophy of Science 27, 1976, 147-159.

9. The Self and Its Brain: An Argument for Interactionism (with J.C. Eccles). Springer International, London, 1977.

10. The Open Universe: An Argument for Indeterminism. (ed. W.W. Bartley 111). Hutchinson, London, 1982.

11. Realism and the Aim of Science. (ed. W.W. Bartley III). London, Hutchinson, 1983.

12. The Myth of the Framework: In Defence of Science and Rationality. Routledge, London, 1994.

13. Knowledge and the Mind-Body Problem: In Defence of Interactionism. (ed. M.A. Notturno). Routledge, London, 1994.

  • Kritik Popper terhadap Analisis Linguistik

Para analis bahasa percaya bahwa tak ada persoalan-persoalan filosofis yang sejati (genuine), atau bahwa persoalan-persoalan filsafat, sekiranya ada, adalah persoalan-persoalan pemakaian linguistik atau makna kata-kata. Akan tetapi Popper percaya bahwa sedikitnya ada satu persoalan filosofis yang menarik bagi semua orang yang berpikir. Persoalan itu ialah persoalan kosmologi: persoalan pemahaman dunia-termasuk diri kita, dan pengetahuan kita. Pooper percaya, semua ilmu adalah kosmologi, dan baginya minat terhadap filsafat dan juga ilmu justru terletak pada sumbanga-sumbangan yang telah mereka berikan pada persoalan-persoalan itu. Bagaimanapun juga, baik filsafat maupun ilmu akan kehilangan daya tariknya jika mereka menghentikan percarian tersebut. tak dapat disangkal, memahami fungsi-fungsi bahasa adalah bagian filsafat yang penting; tetapi bukan sekedar menerangkan persoalan-persoalan manusia semata-mata sebagai ‘teka-teki’ linguistik belaka.

Persoalan utama epistemologi senantiasa dan tetap masih seputar persoalan pertumbuhan pengetahuan. Dan pertumbuhan pengetahuan dapat dipelajari paling baik dengan mempelajari pertumbuhan pengetahuan ilmiah.

Jika kita mengabaikan apa yang sedang dipikirkan orang lain, atau yang telah dipikirkan di masa lampau, maka diskusi rasional pasti berakhir sekalipun masing-masing orang mungkin terus berbicara kepada diri sendiri dengan bahagia. Beberapa filsuf telah membuat suatu kebajikan (virtue) dalam berbicara kepada diri mereka sendiri; barangkali karena merasa bahwa tak ada orang lain yang cukup pantas untuk diajak bicara. Popper khawatir, praktek berfilsafat pada taraf yang agung ini menjadi pertanda kemunduran diskusi rasional. Tak diragukan lagi Tuhan berbicara terutama kepada diriNya sendiri karena ia tidak mempunyai suatu apapun yang pantas untuk diajak biacara. Namun, para filsuf harus mengetahui bahwa mereka tidak lebih ilahiah daripada orang lain.

Keyakinan analisis linguistik adalah metode filsafat sejati, menurut Popper meluas karena beberapa alasan historis. Satu dari dari alasan tersebut adalah keyakinan yang tepat bahwa paradoks-paradoks logis, seperti paradoks si pendusta (“sekarang saya sedang berbohong”), membutuhkan metode analisis linguistik untuk pemecahannya, bersama pembedaan yang terkenal antara ungkapan-ungkapan linguistik yang bermakna dan yang tak bermakna. Keyakinan yang tepat ini kemudian digabungkan dengan keyakinan yang menurut Popper keliru bahwa persoalan-persoalan tradisional filsafat muncul dari usaha memecahan paradoks-paradoks filosofis yang strukturnya analog dengan paradoks-paradoks logis itu, sehingga pembedaan antara pembicaraan yang bermakna (meaningful talk) dengan yang tak bermakna (meaningless) pastilah hal yang sangat penting juga bagi filsafat.

Alasan utama untuk memuja metode analisis linguistik, tampaknya karena hal berikut ini. Pada waktu itu dirasakan bahwa apa yang disebut ‘cara baru ide-ide’ (new way of ideas) Locke, Berkeley, dan Hume, yakni metode psikologis atau lebih tepatnya pseudo-psikologis yang menganalisis ide-ide kita dan asal-usulnya dalam indera kita, harus digantikan dengan metode ‘objektif’ dan metode yang kurang genetis. Pada waktu itu dirasakan bahwa orang harus menganalisis kata-kata dan makna-maknanya atau penggunaanya kepada timbang ‘ide-ide’ atau ‘konsepsi-konsepsi’ atau ‘pengertian-pengertian’; bahwa orang harus menganalisis proposisi-proposisi atau pernyataan-pernyataan atau kalimat-kalimat ketimbang ‘pemikiran-pemikiran’ atau ‘kepercayaan-kepercayaan’ atau ‘putusan-putusan.

Menurut Popper, persoalan epistemologi dapat didekati dari dua sisi:

· Sebagai persoalan biasa atau pengetahuan akal-sehat.

· Sebagai persoalan pengetahuan ilmiah

Para filsuf yang mendukung pendekatan pertama berpikir bahwa pengetahuan ilmiahhanya dapat menjadi suatu perluasan pengetahuan akal sehat, dan mereka juga menyangka dengan keliru, bahwa dari kedua hal itu, pengetahuan akal-sehat lebih mudah dianalisis. Dengan begini para filsuf menggantikan ‘cara baru ide-ide’ tersebut dengan analisis terhadap bahasa biasa (ordinary langguage) – bahasa yang di dalamnya pengetahuan akal-sehat dirumuskan. Mereka mengantikan analisis terhadap visi atau persepsi atau pengetahuan tersebut dengan analisis terhadap frasa ‘aku melihat’ atau ‘aku mencerap’, atau ‘aku tahu’, ‘aku percaya’, ‘aku melihat bahwa ini mungkin’.

Kepada orang yang mendukung pendekatan ini bagi teori pengetahuan, Popper menjawab: “walaupun saya setuju bahwa pengetahuan ilmiah hanyalah suatu pengembangan pengetahuan biasa (ordinary knowledge) atau pengetahuan akal-sehat (common sense knowledge), saya berpendapat bahwa persoalan-persoalan epistemologis yang paling penting dan menarik (salah satunya adalah persoalan pertumbuhan pengetahuan manusia), pasti tetap tak terlihat sama sekali oleh orang yang membatasi dirinya pada analisis pengetahuan biasa atau akal sehat atau perumusannya dalam bahasa biasa. Sedikit renungan akan menunjukkan bahwa sebagian besar persoalan yang berhubungan dengan pertumbuhan pengetahuan manusia pasti selalu lebih penting daripada studi apapun yang dibatasi pada pengetahuan akal-sehat sebagai lawan dari pengetahuan ilmiah. Karena cara yang paling penting bagaimana pengetahuan akal-sehat bertumbuh, persisnya, adalah dengan kembali kepada pengetahuan ilmiah.

Dalam konteks ini, hampir semua persoalan epistemologi tradisional dihubungkan dengan persoalan pertumbuhan pengetahuan. Popper bahkan cendrung mengatakan lebih: dari Plato sampai Descartes, Leibniz, Kant, Duhem, dan Poincare; dan dari Bacon, Hobbes, dan Locke, sampai Hume, Mill, dan Russel, teori pengetahuan diilhami harapan bahwa ia akan memungkinkan kita bukan hanya mengetahui lebih banyak tentang pengetahuan, melainkan juga menyumbang bagi kemajuan pengetahuan – yaitu, pengetahuan ilmiah.

Sebagian besar filsuf yang percaya bahwa metode filsafat yang khas adalah analisis bahasa biasa, menurut Popper, telah menyerahkan kemajuan pengetahuan pada ilmuwan. Mereka bahkan mendefinisikan filsafat sedemikian rupa sehingga, per definisi, menjadi tak mampu membuat sumbangan apapun bagi pengetahuan manusia tentang dunia. Bagi Popper definisi kata ‘filsafat’ hanya bercirikan sebuah konvensi, suatu kesepakatan, bukan usulan sewenang-wenang dari orang-orang tertentu yang mencegah orang lain yang belajar filsafat untuk menyumbangkan pemikirannya.

Paradoksikal bagi Popper melihat para filsuf yang merasa bangga mengkhususkan diri dalam studi bahasa biasa namun percaya mereka cukup mengetahui tentang kosmologi sehingga dalam esensinya dikatakan kosmologi berbeda dari filsafat, sehingga filsafat tidak bisa memberikan sumbangan apapun kepadanya. Mereka keliru kata Popper, karena dalam faktanya bahwa ide-ide metafisik belaka (berarti juga ide-ide filosofis) mempunyai signifikansi yang terbesar bagi kosmologi. Dari Thales sampai Einstein, dari Atomisme kuno sampai spekulasi Descartes tentang materi, dari spekulasi-spekulasi Gilbert, Newton, Leibniz dan Boscovic tentang gaya (forces) sampai ke Faraday dan Einstein tentang medan gaya (field of forces), ide-ide metafisik telah menunjukkan jalan.

  • Kritik Popper terhadap Positivisme Logis

Popper menentang beberapa gagasan dasar Lingkaran Wina (pandangan yang dikembangkan oleh kelompok ini disebut neopositivisme atau kerap juga dinamakan positivisme logus atau empirisme logis). Pertama-tama ia menentang pembedaan antara ungkapan yang disebut bermakna (meaningfull) dari yang tidak bermakna berdasarkan kriterium dapat tidaknya dibenarkan secara empiris. Pembedaan ini digantinya dengan ‘garis batas’ (demarkasi) antara ungkapan ilmiah dan tidak ilmiah. Pokok demarkasi terletak pada ada tidaknya dasar empiris bagi ungkapan bersangkutan. Ungkapan yang tidak bersifat ilmiah mungkin sekali amat bermakna (meaningful). Apakah suatu ungkapan bersifat empiris atau tidak, atau dimanakah letak ungkapan itu dari garis batas – menurut Popper tidak dapat ditentukan berdasarkan asas pembenaran yang dianut positivisme logis yakni melalui proses induksi. Dalam hal ini Popper setuju dengan Hume, bahwa peralihan dari yang partikular ke yang universal tidak sah.

Kemudian Popper mengajukan prinsip falsifiabilitas, bahwa ciri khas pengetahuan ilmiah adalah sesuatu yang dapat dibuktikan salah (it can falsified). Untuk mencapai pandangan ini Popper menggunakan kebenaran logis yang sederhana. Dia memberikan contoh: “dengan observasi terhadap angsa-angsa putih, betapun besar jumlahnya, orang tidak dapat sampai pada kesimpulan bahwa semua angsa bewarna putih, tetapi sementara itu cukup satu kali observasi terhadap seekor angsa hitam untuk menyangkal pendapat tadi.”

Asumsi pokok teorinya adalah satu teori harus diji dengan menghadapkannya pada fakta-fakta yang dapat menunjukkan ketidakbenarannya, dan Popper menyajikan teori ilmu pengetahuan baru ini sebagai penolakannya atas positivisme logis yang beranggapan bahwa pengetahuan ilmiah pada dasarnya tidak lain hanya berupa generalisasi pengalaman atau fakta nyata dengan menggunakan ilmu pasti dan logika. Dan menurut positivisme logis tugas filsafat ilmu pengetahuan adalah menanamkan dasar untuk ilmu pengetahuan.

Hal yang dikritik oleh Popper pada Positivisme Logis adalah tentang metode Induksi, ia berpendapat bahwa Induksi tidak lain hanya khayalan belaka, dan mustahil dapat menghasilkan pengetahuan ilmiah melalui induksi. Tujuan Ilmu Pengetahuan adalah mengembangkan pengetahuan ilmiah yang berlaku dan benar, untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan logika, namun jenis penalaran yang dipakai oleh positivisme logis adalah induksi dirasakan tidak tepat sebab jenis penalaran ini tidak mungkin menghasilkan pengetahuan ilmiah yang benar dan berlaku, karena elemahan yang bisa terjadi adalah kesalahan dalam penarikan kesimpulan, dimana dari premis-premis yang dikumpulkan kemungkinan tidak lengkap sehingga kesimpulan atau generalisasi yang dihasilkan tidak mewakili fakta yang ada. Dan menurutnya agar pengetahuan itu dapat berlaku dan bernilai benar maka penalaran yang harus dipakai adalah penalaran deduktif.

Penolakan lainnya adalah tentang Fakta Keras, Popper berpendapat bahwa fakta keras yang berdiri sendiri dan terpisah dari teori sebenarnya tidak ada, karena fakta keras selalu terkait dengan teori, yakni berkaitan pula dengan asumsi atau pendugaan tertentu. Dengan demikian pernyataan pengamatan, yang dipakai sebagai landasan untuk membangun teori dalam positivisme logis tidak pernah bisa dikatakab benar secara mutlak.
· Pemikiran Popper Tentang Asas Falsifiabilitas

Menurut Popper teori yang melatar belakangi fakta-fakta pengamatan adalah titik permulaan ilmu pengetahuan dan teori diciptakan manusia sebagai jawaban atas masalah pengetahuan tertentu berdasarkan rasionya sehingga teori tidak lain hanyalah pendugaan dan pengiraan dan tidak pernah benar secara mutlak sehingga perlu dilakukan pengujian yang secermat-cermatnya agar diketahuan ketidakbenarannya.

Ilmu pengetahuan hanya dapat berkembang apabila teori yang diciptakannya itu berhasil ditentukan ketidakbenarannya. Dan Popper mengganti istilah verifikasi dengan falsifikasi.

Keterbukaan untuk diuji atau falsifiabilitas sebagai tolok ukur mempunyai implikasi bahwa ilmu pengetahuan dapat berkembang dan selalu dapat diperbaiki, dan pengetahuan yang tidak terbuka untuk diuji tidak ada harapan untuk berkembang, dan sifatnya biasanya dogmatis serta tidak dapat digolongkan sebagai pengetahuan ilmiah.

Adapun bagan mengenai metode falsifiabilitas yang dikemukankan oleh Popper dapat ditunjukkan sebagai berikut :

Tahap 1: P1 – TT – EE – P2

Tahap 2: P2 – TT1 – EE1 – P3

Tahap … dst…..

Keterangan :

P1 : Permasalahan/ Problem Awal
TT : Tentative Theory
EE : Error Elimination
P2 : Problem baru
TT1 : Tentative theory ke dua
EE1 : Error Elimination ke dua
P3 : Problem baru

Dari bagan ini terlihat bahwa ilmu pengetahuan terus berkembang mengikuti alur diatas dan penjelasan ini akan lebih jelas lagi dengan menyimak penjelasn yang berikut.

  • Proses Pengembangan Pengetahuan Ilmiah

Popper menekankan bahwa pengalaman merupakan unsur yang paling menentukan dan pengalaman tidak mengenai sesuatu yang berdiri sendiri yang dapat dipakai sebagai tolok ukur atau batu uji mutlak buat pembuktian atau embenaran suatu teori atay pernyataan, melainkan mengenai cara menguji, atau metode penelitian itu sendiri. Jadi Popper mengatakan bahwa pengalaman sama dengan pengujian dan pengujian sama dengan metode penelitian.

Popper juga mengungkapkan adanya tahap-tahap pengembangan pengetahuan ilmiah, yaitu tahap 1, Penemuan masalah, ilmu pengetahuan mulai dari satu masalah yang bermula dari suatu penyimpangan, dan penyimpangan ini mengakibatkan orang terpaksa mempertanyakan keabsahan perkiraan itu dan ini merupakan masalah pengetahuan. Tahap 2, Pembuatan Teori, langkah selanjutnya adalah merumuskan suatu Teori sebagai jawabannya yang merupakan hasil daya cipta pikiran manusia dan sifatnya percobaan atau terkaan. Teori sifatnya lebih abstrak dari masalah. Tahap 3, Perumusan ramalan atau hipotesis, Teori selanjutnya digunakan untuk menurunkan ramalan atau hipotesis spesifik secara deduktif dan ini ditujukan kepada kenyataan empiris tertentu. Tahap 4, Pengujuan ramalan atau hipotesis, selanjutnya hipotesis diuji melalui pengamatan dan eksperimen tujuannya adalah mengumpulkan keterangan empiris dan menunjukkan ketidakbenarannya. Tahap 5, Penilaian hasil, tujuan menilai benar tidaknya suatu teori oleh Popper dinamakan pernyataan dasar yang menggambarkan hasil pengujian. Pernyataan dasar ini memainkan peranan khusus yaitu pernyataan yang bertentangan dengan teori, dan ini semacam petunjuk ketidakbenaran potensial dari teori yang ada. Dalam tahap ke 5 ini terdapat dua kemungkinan, pertama, teori ini diterima sehingga tidak berhasil ditunjukkan ketidakbenarannya dan untuk sementara teori ini dapat dikategorikan sebagai pengetahuan ilmiah sampai pada suatus aat dapat dirobohkan dengan menyusun suatu pengujian yang lebih cermat. Kemungkinan kedua, adalah teori ini ditolak sehingga terbukti bahwa ketidakbenarannya dan konsekuensinya muncul masalah baru dan harus segera dibentuk teori baru untuk mengatasinya. Tahap 6, Pembuatan Teori Baru, dengan ditolaknya teori lama maka muncullah masalah baru yang membutuhkan teori baru untuk mengatsinya dan sifat dari teori ini tetap abstrak dan merupakan perkiraan atau dugaan sehingga merupakan suatu percobaan yang harus tetap diuji.

Dari penjelasan diatas bahwa untuk mengembangkan pengetahuan ilmiah tentunya manusia tidka akan lepas dari kegiatan percobaan, kesalahan, terkaan dan penolakan yang silih berganti dan menurut Popper teori adalah unsur tetap dalam evolusi manusia dan teori pula adalah unsur rasio dan bagian dari pembawaan manusia.

Menurut Popper filsafat ilmu pengetahuan tidak lain merupakan suatu pengujian untuk memberikan alasan atau argumentasi untuk memilih teori satu dan membuang teori yang lain dan bukan mengenai pembenaran suatu teori. Dan apa yang dapat dibuat tidak lain hanya mengadakan pilihan rasional dalam keputusan tentang suatu pernyataan. Filsafat ilmu pengetahuan hanya dapat berbicara tentang pengetahuan dalam arti kata produksi, sedangkan masalah bagaimana pengetahuan itu dihasilkan atau ditemukan tidak bisa menjadi pokok pembicaraan oleh karena meliputi “intuisi kreatif” yang tidak terbuka untuk ditelaah.

Apa yang dimaksud oleh Popper Rasionalisme Kritis adalah memberikan kebebasan pada manusia untuk berfikir penuh kepada manusia. Pikiran manusia merupakan percobaan atau terkaan belaka. Untuk memperbaiki nasibnya manusia dituntut mengembangkan pengetahuan ilmiah dengan cara mengungkapkan kesalahan-kesalahan yang tersimpan dalam pikirannya sendiri. Teori disatu pihak hanyalah alat untuk mencapai pikiran yang lain dan lebih tepat. Teori pada hakekatnya merupakan jalan menuju fakta-fakta baru. Tugas Ilmuwan menurut Popper adalah membebaskan manusia dari terkaan dan ia dituntut untuk berkarya dan menciptakan fakta barusehingga dengan cara ini manusia dapat dibebaskan dari cengkraman kesalahan.

  • Pandangan Popper tentang 3 Dunia

Popper membedakan tiga dunia:

a. Dunia 1 (world I), yaitu kenyataan fisis dunia.

b. Dunia 2 (world II), yaitu segala kejadian dan kenyataan psikis dalam diri manusia

c. Dunia 3 (World III), yaitu segala hipotesa, hukum, dan teori ciptaan manusia dan hasil kerja sama antara dunia 1 dan dunia 2 serta seluruh bidang kebudayaan, seni, metafisik, agama, dan lain sebagainya.

Dunia 3 ini hanya ada selama dihayati, yaitu dalam karya dan penelitian ilmiah, dalam studi yang sedang berlangsung, membaca buku, dalam ilham yang mengalir dalam diri para seniman, dan penggemar seni yang mengandaikan adanya suatu kerangka. Sesudah penghayatan itu, semuanya langsung ‘mengendap’ dalam bentuk fisik alat-alat ilmiah, buku-buku, karya seni, kitab-kitab suci, dan lain sebagainya, yang semuanya merupakan bagian dari dunia 1. Dalam pergaulan manusia dengan sisa-sisa dunia 3 dalam dunia 1 itu, dunia 2-lah yang membuat manusia bisa membangkitkan kembali dan mengembangkan dunia 3 tersebut. menurut Popper, dunia 3 itu mempunyai kedudukan sendiri. Dunia 3 bedaulat, artinya tidak semata-mata begitu saja terikat pada dunia 1, tetapi sekaligus tidak terikat juga pada subjek tertentu. Maksudnya tidak terikat pada dunia 2, yaitu pada orang tertentu, pada suatu lingkungan masyarakat, maupun pada periode sejarah tertentu.

Poppe ingin menghindari dua kubu objektivisme kasar dan subjektivisme semata-mata. Terhadap objektivisme kasar, dimana seolah-olah hukum-hukum alam ada dalam kenyataan fisis bersangkutan, popper menganut indeterminisme (Pandangan indeterminisme memandang segalanya serba tak pasti. Kebebasan manusia menunjukkan ketidakpastian itu dengan jelas). Dan terhadap subjektivisme semata-mata, di mana seolah-olah hukum-hukum alam dimiliki atau dikuasai manusia, Popper memilih pandangan yang mengatakan bahwa manusia bergerak semakin mendekati kebenaran.

  • Penutup

Bagi Popper, ilmu dan filsafat menjadi menarik karena ia ingin mempelajari sesuatu tentang teka-teki dunia tempat kita hidup, dan teka-teki pengetahuan manusia mengenai dunia itu. Dia percaya bahwa hanya dengan penghidupan kembali minat pada teka-teki inilah yang dapat menyelamatkan ilmu-ilmu dan filsafat dari spesialisasi sempit dan dari keyakinan kabur pada keahlian khusus sang pakar dalam pengetahuan dan otoritas pribadinya.

  • Daftar Bacaan

Tulisan ini bersumber pada literatur berikut ini:

  • Verhaak, C dan R. Haryono Imam. Cetakan Kedua 1991. Filsafat Ilmu Pengetahuan. Penerbit. Gramedia: Jakarta.
  • Popper, Karl R. Cetakan Pertama 2008. Logika Penemuan Ilmiah. Diterjemahkan oleh M. Mustafied dari Buku Asli “The Logic of Scientific Discovery”. Penerbit Pustaka Pelajar: Yogyakarta.
  • Wibowo, Arif. Published 31 Maret 2008. Karl Raimund Popper. Didownload pada tanggal 11 Desember 2008 dari http:// staff.blog.ui.edu/ arif51/ 2008/03 /31/ karl-raimund-popper/.
  • Editor. First published 13 November 1997; substantive revision Mon Oct 9, 2006. Karl Popper. Didownload tanggal 11 Desember 2008. Stanford Encyclopedia of Philosophy: http://plato.stanford. edu/entries/popper/
About these ads

2 thoughts on “Pemikiran Epistemologis Karl Raimund Popper

    Sari Handayani said:
    1 Juli 2009 pukul 09:21

    Bagaimana menggambarkan Bagan peralihan dari satu teori ke teori lainnya menurut Popper?

    lamhot said:
    8 April 2010 pukul 14:29

    thanks atas penjelasannya di atas. apakah tersedia penjelasan tentang metode demokrasi menurut karl popper.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s