Bersandar Pada Alam Yang Nyata:Konsep Realis Falsafah Minangkabau

Posted on Updated on


Falsafah adat Minangkabau didasarkan pada ketentuan alam. Adat minangkabau akan tetap ada selama alam ini ada. Beranjak dari fenomena dan gejala alam yang nyata, maka adat Minangkabau itupun dengan sendirinya mempunyai dasar falsafah yang nyata pula. Adat Minangkabau tidak bersifat spekulatif. Kedudukan dan pengaruh penting alam dalam adat Minangkabau dinukilkan dalam pepatah adat:

Panakiak pisau sirauit, Ambiak galah batang lintabuang, Salodang ambiak ka nyiru.

Nan satitiak jadikan lauik, Nan sakapa jadikan gunuang, Alam takambang jadikan guru.

(Penakik pisau seraut, Ambil galah batang lintabung. Selodang jadikan niru.

Yang setitik jadikan laut, Yang sekepal jadikan gunung, Alam terkembang jadikan guru.)

Adat minangkabau sebelum Islam masuk tidak mempunyai sistem mengenai keakhiratan. Yang ada hanya pemujaan nenek moyang. Dari nenek moyanglah adat itu diterima sebagai pusaka, maka wajib generasi penerus berterima kasih atas jasa nenek moyang itu.

Ketentuan adat yang didasarkan dari keadaan alam nyata digambarkan dengan berbagai bentuk dan corak baik melalui pernyataan langsung maupun pernyataan tidak langsung (indirect/perumpamaan) berupa pepatah, petitih, mamang, pantun dan sebagainya. Yang dominan dalam ketentuan adat adalah pernyataan yang tidak langsung ini.

Untuk mencari dasar falsafah minangkabau ada 2 kesulitan yang ditemui. Pertama mencari makna tersembunyi dalam pepatah, petitih, mamang dan pantun. Kedua, mencari dan menemukan sistem dari falsafah adat Minangkabau sebagai satu keseluruhan.

Menurut M. Nasroen ada 3 corak dan derajat falsafah Minang:

1. Pandangan yang tertinggi adalah falsafah yang berdasarkan agama. falsafah ini didasarkan firman Tuhan yang terdapat dalam kitab suci yang disampaikan para Rasul.

2. Pandangan yang kedua adalah pandangan hidup yang didasarkan ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam alam nyata ini.

3. Pandangan hidup yang rendah adalah pandangan hidup yang didasarkan pada pemikiran seorang filsuf yang lahir dari keyakinan sang pencetus sehingga sangat besar tingkat subjektivitasnya.

Menurut M. Nasroen ketika Islam belum masuk ke Minangkabau sistem pandangan hidup masyarakat Minangkabau berada pada tingkatan yang kedua.

Adat Minang memberikan ketentuan beberapa ketentuan alam kepada dirinya sendiri, yakni:

“Adat dipakai , baru, Kain dipakai usang,”

“Cupak nan sapanjang batuang, adaik nan sapanjang jalan”

(Adat jika dipakai baru, kain jika dipakai usang)

(Cupak menurut dibuat panjang bambu, adat adalah sepanjang jalan)

Artinya adat yang berlaku dalam masyarakat bersifat awet dan berkelanjutan. Namun keawetan adat ini tidak bersifat statis, tapi mengalami proses pembaharuan terus menerus sesuai dengan pepatah:

“Sakali aia gadang, Sakali tapian berubah”

(Sekali air bah, Sekali tepian berkisar)

Ketegaran dan aktualitas dari adat dikarenakan ada proses adaptasi dari:

“Mancaliak contoh ka nan sudah, mancaliak tuah ka nan manang”

(Melihat contoh kepada yang lampau, melihat tuah pada yang menang)

Adat diubah ketika telah dikenali tanda ketidakmampuannya bertahan:

“Usang-usang dipabaharui,Lapuak-lapuak dikajangi”

“Nan elok dipakai, Nan buruak dibuang”

K ok singkek mintak diuleh, panjang mintak dikarek, nan umpang mintak disisiat”

(Usang diperbaharui, lapuk disokong)

(Yang baik dipakai, yang buruk dibuang)

(Jika singkat/pendek harap diulas, panjang harap dipotong, rumpang harap disisit)

Sangat ditekankan dinamisasi adat dari waktu ke waktu sesuai dengan kehendak zaman dan keadaan. Namun, agar proses ini tidak mengalami distorsi maka adat mesti kenalkan dari generasi ke generasi:

“Dari niniak turun ka mamak, Dari mamak turun ka kamanakan

Patah tumbuah hilang baganti, Pusako baitu juo.”

(Dari ninik/sesepuh turun kepada mamak/paman

Dari mamak/paman turun kepada keponakan

Patah tumbuh hilang berganti, Pusaka demikian jua)

Berdasarkan beberapa syarat-syarat itulah orang Minang berkeyakinan bahwa adat yang dipunyainya akan kekal sebagaimana pepatah:

“Indak lapuak dek hujan, indak lakang dek paneh”

(tidak lapuk karena hujan, tidak lekang karena panas)

Keyakinan kekekalan adat ini disandarkan pada pandangan kekalnya ketentuan alam. Ketentuan alam yang kekal itu adalah bahwa terjadi perubahan terus menerus di alam. Sungguhpun banjir selalu terjadi di sungai dan membuat tepian terus beranjak dari keadaan semula, namun sungai tetap ada. Malahan lebarnya semakin besar. Contoh yang lain adalah biji tumbuh menjadi pohon, pohon akan mati. Tetapi dengan meninggalkan biji juga. Dengan demikian jenis pohon itu akan tetap ada.Itulah perputaran kekal selama alam itu ada. Tumbuh, dewasa, mati dan disambut/disambung dengan yang baru. Orang Minang melandaskan ketentuan adatnya kepada alam karena alam dapat kita amati secara langsung, tidak sulit dan berbelit-belit.

Terkait dengan konsepsi ontologi Minangkabau yang bersandar pada alam yang nyata ini, menurut hemat penulis berdekatan dengan pemikiran Aristoteles (384-324 SM). Hal tidak mengherankan karena dalam Tambo, orang Minang mengklaim dirinya sebagai anak keturunan Alexander The Great/Iskandar Zulkarnain (Maharaja Diraja) yang pernah diajar oleh Aristoteles. Sangat dimungkinkan pemikiran Aristoteles menyebar seiring kekuasaan Iskandar Zulkarnain.

Menurut pakar filologi, Henri Chambert-Loir, Iskandar Zulkarnain yang hidup sekitar tiga ratus tahun sebelum Masehi baru dikenal secara luas dalam sastra Melayu pada abad ke-15 Masehi. Nama Iskandar Zulkarnain diadopsi secara lokal karena kuatnya pengaruh Yunani sampai ke Asia.

Sebagai catatan, Iskandar Zulkarnain, yang merupakan raja Macedonia, melakukan penaklukan sampai ke wilayah India. Kemasyhurannya sebagai penakluk dan raja yang adil bijaksana tersebar sampai ke Asia Tenggara.

Henri mengungkapkan, masing-masing budaya lokal di Nusantara membuat cerita mengenai Iskandar Zulkarnain sesuai versinya sendiri. Dalam cerita Minangkabau, misalnya, Iskandar Zulkarnain dikisahkan sebagai orang yang menurunkan raja-raja di Melayu.

Aristoteles menyatakan bahwa hakikat suatu benda itu berada dalam benda itu sendiri. Hakikat suatu benda mengejewantahkan dirinya secara rii dan bertahap dalam serangkaian kejadian dan penampakan. Aristoteles menekankan adanya gerak tertentu atau proses perkembangan dalam setiap benda. Proses atau perkembangan itu, mencerminkan kekuatan internal suatu benda untuk mengarahkan dirinya pada tujuan akhir (telos).

Suatu kejadian atau penampakan dimungkinkan menurut Aristoteles dikarenan 4 sebab:

1. Causa formalis: bentuk yang menyusun bahan

2. Causa finalis: tujuan yang menjadi arah seluruh kejadian

3. Causa efficiens: motor yang menjalankan kejadian

4. Causa materialis: bahan dari mana suatu benda dibuat.

Menurut Aristoteles causa materialis inilah yang menjadi faktor timbulnya ketidakmantapan dalam suatu benda.

Bagi Aristoteles realitas mesti dicari dalam dunia yang ditemukan manusia, yaitu dunia yang teramati. Dunia yang konkrit itulah kenyataan real. Aristoteles juga mengakui bahwa realitas konkret itu tidak tetap. Materi tidak pernah mendapat bentuk yang sempurna, terus menerus mengalami perubahan wujud. Kemampuan benda untuk berubah dinamakan potensi (potentia). Menurut Aristoteles potensi dapat dipahami dalam 3 pengertian:

1. Potensi sebagai sumber perubahan

2. potensi sebagai kekuatan (power)

3. Potensi sebagai kemampuan bertahan dalam perubahan yang bersifat merusah (destruktion)

Terminologi yang disandingkan dengan potensi adalah aktus (actus), yakni sesuatu yang telah menjadi realitas, mencapai kesempurnaan dalam Ada. Dalam subtansi terdapat peralihan terus menerus dari potensi menuju aktus. Sebagaimana yang terdapat pemikiran orang Minang, perubahan yang ada di alam merupakan gejala yang wajar karena masing-masing materi mengalami proses menjadi aktual. Potensi sebagai kemampuan bertahan dari destruction menandakan kekekalan alam nyata yang diyakini alam pikiran Minang.

Tentu kesesuaian ini sepanjang pikiran Minang yang belum dipengaruhi Islam. Karena dalam konsepsi Minang yang telah dipengaruhi oleh Islam, alam nyata ini kekal sampai limit hari kiamat. Sementara Aristoteles tidak mengisyaratkan kiamat dalam pemikirannya.

Referensi:

  • Ahmad, Datuak Batuah. 1956. Tambo Minangkabau dan Adatnya. Dinas Penerbitan Balai Pustaka: Jakarta.
  • Editor. Kuatnya Pengaruh Budaya Yunani di Nusantara. Website Kompas tanggal Sabtu, 18 Oktober 2008 10:56 WIB. http://www.kompas.com/read/xml/2008/10/18/10562564/kuatnya.pengaruh.budaya. yunani. di.nusantara
  • Nasroen, M. 1957. Dasar Falsafah Adat Minangkabau. Penerbit Pasaman: Jakarta.
  • Siswanto, Joko. 1998. Sistem-Sistem Metafisika Barat dari Aristoteles sampai Derrida. Penerbit Pustaka Pelajar: Yogyakarta.
  • Tjahjadi, Simon Petrus L. 2004. Petualangan Intelektual. Penerbit Kanisius Yogyakarta.
About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s