Filsafat Kebudayaan: Ikhtiar Sebuah Teks

Posted on Updated on


Judul Buku: Filsafat Kebudayaan: Ikhtiar Sebuah Teks

Penulis: Prof. Dr. Mudji Sutrisno

Penerbit: Hujan Kabisat (Independent Management for Mudji Sutrisno)

Tahun Terbit: Cetakan Pertama 2008

Jumlah Halaman: 119 halaman

Buku ini adalah karya seorang penggiat filsafat yang terkenal dalam dunia filsafat Indonesia. Mudji Sutrisno, yang juga dikenal sebagai budayawan, sang penulis buku ini, merupakan alumus Ph.D Universitas Gregoriana, Roma Italia. Sehari-hari bekerja sebagai dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara dan dosen pascasarjana Universitas Indonesia, Prof. Mudji juga aktif tampil di berbagai media massa dengan menyuarakan tema-tema kemajuan peradaban manusia.

Buku ini adalah karya terbaru Prof. Mudji yang semakin mengukuhkannya sebagai budayawan. Buku setebal 119 halaman ini mencoba memberikan pemahaman kepada pembaca tentang kebudayaan secara lebih mendalam dan kompleks lewat pemikiran berbagai tokoh seperti Marx, Hegel, Marx, Alvin Toffler, Umar Kayam, C.A van Peursen, Pitirim Sorokin, dan Arnold Toynbee.

Terdiri dari 8 Bab pembahasan, pada bab I diawali dengan kajian teoritis tentang pengertian filsafat kebudayaan dan pendekatan seputar kebudayaan. Bab II, menelisik interaksi budaya asing dan kebudayaan pribumi (Indonesia). Bab III-V mengekslplor tentang bagaimanakah arah transformasi budaya kita (Indonesia) merupakan kutipan utuh dari Pidato Umar Kayam saat dikukuhkan sebagai Guru Besar Universitas Gadjah Mada. Bab VI membahas empat tingkatan pandangan dunia yakni common sense, ilmu pengetahuan, estetika, dan agama. Bab VII berisikan uraian tentang tiga tahap kebudayaan menurut C.A van Peursen. Dan buku ini ditutup dengan pembahasan Bab VIII, menguraikan perkembangan kebudayaan menurut Pitirim Sorokin dan Arnold Toynbee.

Buku dengan cover biru langit dan gambar wayang di depannya ini, terbilang cukup tipis untuk menampung seluruh kajian dalam filsafat kebudayaan. Dalam 119 halaman sang penulis begitu semangat hendak menguraikan semua hal dan berbagai pandangan tokoh-filsuf mengenai kebudayaan. Ditambah lagi pembahasan kondisi kebudayaan Indonesia yang juga sedemikian kompleks. Mungkin judul yang tepat menurut saya (tanpa mengabaikan dan dengan rasa hormat kepada sang penulis) buku ini lebih tepat diberi judul Filsafat Kebudayaan: Ikhtisar Berbagai Teks.

Teramat disayangkan buku yang padat dan sarat dengan uraian-uraian filsuf dan istilah-istilah ini tidak dilengkapi dengan footnote yang memadai. Apalagi tidak adanya daftar pustaka membuat pembaca semakin kesulitan untuk melacak lebih jauh tentang wacana-wacana dan pandangan yang disampaikan penulis.

Agaknya buku ini lebih diarahkan sebagai uraian reflektif dari penulis sehingga tidak terlalu dipusingkan dengan pencantuman kedua hal yang sangat vital dalam sebuah buku. Makanya tidak mengherankan di awal-awal, editor telah memberikan sebuah sinyal kepada pembaca bahwa buku ini merupakan rangkaian dari buku-buku Prof. Mudji Sutrisno sebelumnya. Sehingga pembaca disarankan untuk melengkapi bacaan dengan buku Hermeneutika Pascakolonial – Soal Identitas (Kanisius, 2004), Teori-Teori Kebudayaan (Kanisius, 2005) dan Culture Studies – Tantangan Bagi Teori-Teori Besar Kebudayaan (Koekoesan, 2007).

Kebudayaan adalah aktivitas khas manusia yang berkembang seiring kemajuan dayal pikir suatu masyarakat. Meski tidak tepat untuk menggolongkan budaya manusia dengan klasifikasi budaya primitif dan budaya maju, namun proses perkembangan kebudayaan terus berjalan seiring dinamisasi kehidupan manusia. Filsafat kebudayaan menjadi penting, karena memberikan penunjuk arah kemana manusia seharus berkembang dengan menyelidiki sedalam-dalamnya siapa manusia itu, kemana jalannya dan kemana tujuan akhir hidupnya (hal 15).

Interaksi antar bangsa-bangsa di dunia berkorelasi dengan proses saling mempengaruhi di bidang kebudayaan. Indonesia dengan berbagai kultur dan suku bangsa menghadapi dilema ketika masuknya pengaruh budaya asing. Dialektik menghadapi arus ini telah menjadi bahan kajian para pemikir seperti Mochtar Lubis, Mangunwijaya, Arswendi dan Sutan Syahrir.

Pada zaman awal-awal kemerdekaan, upaya mencari identitas alam pikiran Indonesia menghadapi kebudayaan luar telah membagi para pemikir dalam dua jalur yang berbeda. Ada pihak Sutan Takdir Alisjahbana yang bersikukuh seharusnya masyarakat Indonesia memasukkan kebudayaan Barat dikarenakan keterbelakangan bangsa Indonesia yang kurang rasional. Di sisi lain, pihak Sanusi Pane, Barat harus kita ambil secara dialektis. Individualisme Barat harus diintegrasikan dengan rasa keTimuran dan materialisme dimesrakan dengan rasa keTimuran sehingga tumbuh sesuatu yang baru (halaman 26-27).

Uraian-uraian dari kutub yang berbeda seperti ini juga pada teori-teori yang berbeda di dalam buku ini) dengan sangat cerdik “didamaikan” oleh Prof. Mudji melalui pengambilan inti pemikiran yang ada pada tiap-tiap pandangan sehingga didapatkan rumusan yang lebih komprehensif. Dalam hal ini sang penulis berhasil “menyelamatkan pembaca” dari perdebatan definisi yang cendrung memakan energi dan hanya mengarahkan sikap linear.

Buku ini ditutup dengan refleksif kritis tentang Tantangan Peradaban. Meskipun peradaban manusia telah jauh berkembang dibandingkan 100, 1000, 10000 tahun yang lalu, namun musuh peradaban (naluri anti kehidupan, balasan dendam, kepuasan melihat daran sesama dikorbankan) masih bersemanyam di hati manusia yang bengis dan penuh nafsu. Oleh karena itu, perjuangan terbesar manusia sampai detik ini adalah pencapaian kesadaran sehingga akal sehat dengan fajar budi dan beningnya nurani menjadi pemenang atas naluri liar yang memusnahkan kehidupan (halaman 118).

About these ads

One thought on “Filsafat Kebudayaan: Ikhtiar Sebuah Teks

    Matroni el-Moezany said:
    17 Desember 2009 pukul 12:58

    tapi masalahnya bukan terletak pada budaya itu sendiri, melainkan terletak pada diri manusia itu sendiri, sehingga manusia terpesona oleh kebduayaan barat, sehingga lupa akar sejarah dan tradisi kita sendiri. kalau tidak lupa. seperti apa karakteristika buadya INdaonesia sendiri saat ini? kita selalu mengagungkan barat. lalu dimana letak kemandirian kita di dalam segala aspek keilmuan?

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s