Satu Lagi Intelektual Beken dari Minang: Taufik Abdullah

Posted on


“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai akan sejarahnya”. Inilah ungkapan yang sering kita dengar dari banyak kalangan sebagai bentuk kesadaran akan urgensi sejarah bagi suatu bangsa. Tentu yang dimaksudkan kalimat tersebut bukan dalam artian sejarah yang dipahami sebagai rentetan-rentetan peristiwa masa lalu yang ditulis kembali pada masa sekarang. Melampaui itu, sejarah haruslah mengulas persepsi dan pandangan masyarakat atas peristiwa yang terjadi.

Penyajian sejarah merupakan tugas berat yang harus dipikul oleh para sejarahwan. Selain harus berkutat menelusuri teks-teks asli, dan jejak-jejak historis untuk menyajikan sejarah yang sesuai dengan apa terjadi sejarahwan juga mengalami tekanan psikologis dari penguasa. Terutama di Indonesia, rekayasa sejarah begitu kuat terjadi pada masa Orde baru. Menurut sejarahwan LIPI Asvi Warman Adam, “strategi awal pegendalian sejarah masa Orde Baru mencakup dua hal: pertama, mereduksi peran Soekarno dan kedua, membesar-besarkan jasa Soeharto” (Adam, dalam Pemahaman Sejarah Indonesia: 2005, xix). Tidak hanya itu, manipulasi sejarahpun, yang tentunya dilakukan oleh sejarahwan pro penguasa, “telah digunakan sebagai sarana untuk melakukan penindasan terhadap kelompok-kelompok masyarakat” (Adam, dalam William H. Frederick: 2005, xviii-xix), yang dianggap sebagai penghambat laju pembangunan bangsa.

Taufik Abdullah adalah salah satu sosok yang terus secara kritis mengemban tugas sebagai sejarawan. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Lucien Febvre, sejarahwan hendaknya mampu mengorganisasi masa lalu sebagai fungsi dari masa sekarang (to organize the past as a function of present). Bahkan sejarahwan dituntut untuk menjadi mediator antara masa lampau dan masa kini seperti yang diungkapkan oleh Aaron I Gurevich, “the only intermediary between contemporary world and the past” (Adam, dalam William H. Frederick: 2005, xi).

Sikap teguh tidak mau terikat pada kepentingan penguasa membuatnya dipecat dari jabatan Direktur Lembaga Ekonomi dan Kemasyarakatan Nasional (LEKNAS) – LIPI. Tepatnya pada tahun 1978, tanpa pengadilan, ia dihukum, tidak hanya diberhentikan dari jabatan Direktur, tapi juga diberhentikan dari jabatan fungsional peneliti dan dikucilkan dari lingkungan kekuasaan. Dalih yang digunakan saat itu adalah ia dituduh melakukan tindakan subversi yang merongrong kewibawaan Pemerintah Orde Baru (Lapian, dkk: 2005; v-vi).

Manipulasi sejarah oleh Penguasa tampaknya sudah menjadi takdir dunia sejarah yang banyak memakan korban di pihak yang kontra. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Francois Bedarida, “memang manipulasi sejarah terjadi sepanjang masa” (Adam, dalam William H. Frederick: 2005). Taufik Abdullah yang menjadi arus sempalan pada masa Orde Baru terus berkarya dengan idealisme, mendapatkan kesempatan ilmiah yang berharga lewat peran-peran di luar negeri. Sebagai sejarahwan lulus doktoral universitas terkemuka di dunia, Cornell University US, ia memiliki koneksi internasional yang luas sehingga ia tetap berkarya meskipun menjadi “musuh” bagi Orde Baru.

Ratusan karya berupa buku, jurnal, makalah seminar, ataupun kata pengantar ilmiah untuk buku, telah dihasilkan oleh Drs. Sastra lulusan Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Gadjah Mada ini. Tema-tema yang beliau angkat berkisar pada kajian sejarah dan historiografi, ilmu sosial, Islam, dan politik kontemporer. Tentu saja penguasaan beliau di bidang ilmu sosial, politik dan Islam tidak terlepas dari keharusan sejarahwan untuk mengerti faktor yang melingkupi sejarah sehingga didapatkan pemahaman yang komprehensif.

About these ads

One thought on “Satu Lagi Intelektual Beken dari Minang: Taufik Abdullah

    Yusuf said:
    2 November 2008 pukul 12:16

    memang apa yang dialami sejarawan dewasa ini cukup berat. hal ini dikarenakan oleh adanya usaha pemerintah menjadikan sejarah wilayah/negara ini satu arah (sentrisme sejarah) jadi sejarawan harus berusaha bagaimana pemerintah memberikan kesempatan masyarakat sejarah untuk menyampaikan pandangan berdasarkan eakta dan realita yang terjadi. selamat berjuang sejarawan.lebih-lebih untukmu wahai guruku (Pak La Malihu UNM)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s