Konsep Ketuhanan dalam Agama Hindu

Posted on Updated on


Pengunjung yang saya hormati, sebelum membaca artikel ini mohon sekiranya untuk mengklik link di bawah ini terlebih dahulu. Makasi…

*****************************

  • Wujud Tuhan

Pertanyaan awal yang menarik terkait dengan agama Hindu: Apakah Tuhan Agama Hindu mempunyai wujud? Hal ini terkait dalam sistem pemujaan agama Hindu para pemeluknya membuat bangunan suci, arca (patung-patung), pratima, pralinga, mempersembahkan bhusana, sesajen dan lain-lain. Hal ini menimbulkan prasangka dan tuduhan yang bertubi-tubi dengan mengatakan umat Hindu menyembah berhala.

Penjelasan lebih lanjut tentang pelukisan Tuhan dalam bentuk patung adalah suatu cetusan rasa cinta (bhakti). Sebagaimana halnya jika seorang pemuda jatuh cinta pada kekasihnya, sampai tingkat madness (tergila-gila) maka bantal gulingpun dipeluknya erat-erat, diumpamakan kekasihnya., diapun ingin mengambarkan kekasihnya itu dengan sajak-sajak yang penuh dengan perumpamaan. Begitu pula dalam peribadatan membawa sajen (yang berisi makanan yang lezat dan buah-buahan) ke Pura, apakah berarti Tuhan umat Hindu seperti manusia, suka makan yang enak-enak? Pura dihias dan diukir sedemikian indah, apakah Tuhan umat Hindu suka dengan seni? Tentu saja tidak. Semua sajen dan kesenian ini hanyalah sebagai alat untuk mewujudkan rasa bhakti kepada Tuhan.

  • Brahman/ Tuhan Yang Maha Esa

Tuhan dalam agama Hindu sebagaimana yang disebutkan dalam Weda adalah Tuhan tidak berwujud dan tidak dapat digambarkan, bahkan tidak bisa dipikirkan. Dalam bahasa Sanskerta keberadaan ini disebut Acintyarupa yang artinya: tidak berwujud dalam alam pikiran manusia. Tuhan Yang Maha Esa ini disebut dalam beberapa nama, antara lain:

* Brahman: asal muasal dari alam semestea dan segala isinya

* Purushottama atau Maha Purusha

* Iswara (dalam Weda)

* Parama Ciwa (dalam Whraspati tatwa)

* Sanghyang Widi Wasa (dalam lontar Purwabhumi Kemulan)

* Dhata: yang memegang atau menampilkan segala sesuatu

* Abjayoni: yang lahir dari bunga teratai

* Druhina: yang membunuh raksasa

* Viranci: yang menciptakan

* Kamalasana: yang duduk di atas bunga teratai

* Srsta: yang menciptakan

* Prajapati: raja dari semua makhluk/masyarakat

* Vedha: ia yang menciptakan

* Vidhata: yang menjadikan segala sesuatu

* Visvasrt: ia yang menciptakan dunia

* Vidhi: yan menciptakan atau yang menentukan atau yang mengadili.

Tuhan Yang Maha Esa ini apapun namaNya digambarkan sebagai:

· Beliau yang merupakan asal mula. Pencipta dan tujuan akhir dari seluruh alam semesta

· Wujud kesadaran agung yang merupakan asal dari segala yang telah dan yang akan ada

· Raja di alam yang abadi dan juga di bumi ini yang hidup dan berkembang dengan makanan

· Sumber segalanya dan sumber kebahagiaan hiudp

· Maha suci tidak ternoda

· Mengatasi segala kegelapan, tak termusnahkan, maha cemerlang, tiada terucapkan, tiada duanya.

· Absolut dalam segala-galanya, tidak dilahirkan karena Beliau ada dengan sendirinya (swayambhu)

Penggambaran tentang Tuhan Yang Maha Esa ini, meskipun telah berusaha menggambarkan Tuhan semaksimal mungkin, tetap saja sangat terbatas. Oleh karena itu kitab-kitab Upanisad menyatakan definisi atau pengertian apapun yang ditujukan untuk memberikan batasan kepada Tuhan Yang Tidak Terbatas itu tidaklah menjangkau kebesaranNya. Sehingga kitab-kitab Upanisad menyatakan tidak ada definsi yang tepat untukNya, Neti-Neti (Na + iti, na + iti), bukan ini, bukan ini.

Untuk memahami Tuhan, maka tidak ada jalan lain kecuali mendalami ajaran agama, memohon penjelasan para guru yang ahli di bidangnya yang mampu merealisasikan ajaran ketuhanan dalam kehidupan pribadinya. Sedangkan kitab suci Veda dan temasuk kitab-kitab Vedanta (Upanisad) adalah sumber yang paling diakui otoritasnya dalam menjelaskan tentang Brahman (Tuhan Yang Maha Esa).

Brahman memiliki 3 aspek:

1. Sat: sebagai Maha Ada satu-satunya, tidak ada keberadaan yang lain di luar beliau

Dengan kekuatanNya Brahman telah menciptakan bermacam-macam bentuk, warna, serta sifat banyak di alam semesta ini. Planet, manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan serta benda yang disebut benda mati berasal dari Tuhan dan kembali pada Tuhan bila saatnya pralaya tiba. Tidak ada satupun benda-benda alam semesta ini yang tidak bisa bersatu kembali dengan Tuhan, karena tidak ada barang atau zat lain di alam semesta ini selain Tuhan.

2. Cit: sebagai Maha Tahu

Beliaulah sumber ilmu pengetahuan, bukan pengetahuan agama, tetapi sumber segala pengetahuan. Dengan pengetahuan maka dunia ini menjadi berkembang dan berevolusi, dari bentuk yang sederhana bergerak menuju bentuk yang sempurna. Dari avidya (absence of knowledge- kekurangtahuan) menuju vidya atau maha tahu.

3. Ananda

Ananda adalah kebahagiaan abadi yang bebas dari penderitaan dan suka duka. Maya yang diciptakan Brahman menimbulkan illusi, namun tidak berpengaruh sedikitpun terhadap kebahagiaan Brahman. Pada hakikatnya semua kegembiraan, kesukaran, dan kesenangan yang ada, yang ditimbulkan oleh materi bersumber pula pada Ananda ini bersumber pula pada Ananda ini, bedanya hanya dalam tingkatan. Kebahagiaan yang paling rendah ialah berwujud kenikmatan instingtif yang dimiliki oleh binatang pada waktu menyantap makanan dan kegiatan sex. Tingkatan yang lebih tinggi ialah kesenangan yang bersifat sementara yang kemudian disusul duka. Tingkatan yang tertinggi adalah suka tan pawali duhka, kebahagian abadi, bebas dari daya tarik atau kemelekatan terhadap benda-benda duniawi.

Alam semesta ini adalah fragmenNya Tuhan. Brahman memiliki prabawa sebagai asal mula dari segala yang ada. Brahman tidak terbatas oleh waktu tempat dan keadaan. Waktu dan tempat adalah kekuatan Maya (istilah sansekerta untuk menamakan sesuatu yang bersifat illusi, yakni keadaan yang selalu berubah baik nama maupun bentuk bergantung dari waktu, tempat dan keadaan) Brahman.

Jiwa atau atma yang menghidupi alam ini dari makhluk yang terendah sampai manusia yang tersuci adalah unsur Brahman yang lebih tinggi. Adapun bnda-benda (materi) di alam semesta ini adalah unsur Brahman yang lebih rendah. Walaupun alam semesta merupakan ciptaan namun letaknya bukan di luar Brahman melainkan di dalam tubuh Brahman.

  • Devata atau Deva

Prasangka banyak orang yang menganggap konsep teologis Hindu adalah politeistik berangkat dari pemahaman yang salah tentang Deva. Deva adalah sesuatu yang memancar dari Tuhan Yang Maha Esa. Beraneka Deva itu adalah untuk memudahkan membayangkanNya.

Dewa-dewa atau devata digambarkan dalam berbagai wujud, yang menampakkan diri sebagai yang personal, yang berpribadi dan juga yang tidak berpribadi. Yang Berpribadi dapat kita amati keterangan tentang dewa Indra, Vayu, Surya, Garutman, Ansa yang terbang beas di angkasa, dan sebagainya. Sedang Yang Tidak Berpribadi, antara lain sebagai Om (Omkara/Pranava), Sat, Tat, dan lain-lain.

Dalam kitab suci Rgveda seperti halnya Atharvaveda disebutkan jumlah dewa-dewa itu sebanyak 33 dewa. Bila kita membaca mantram-mantram lainnya dari kitab suci Rgveda ternyata jumlah Dewa-dewa sebanyak 3339

  • Personal God dan Impersonal God

Tuhan menurut monotheisme Trancendent digambarkan dalam wujud Personal God (Tuhan Yang Maha Esa Berpribadi). Sedangkan menurut monotheisme Immanent, Tuhan Yang Maha Esa selalu digambarkan Impersonal God. Memang menyembah Tuhan Yang Maha Esa yang abstrak (Impersonal God) tanpa mempergunakan sarana jauh lebih sulit dibandingkan dengan menyembah Tuhan Yang Personal God melalui Bhakti dan Karma Marga.

Tuhan Yang Maha Esa di dalam Veda digambarkan sebagai Personal God, dapat dibagi menjadi tga kategori:

1. Penggambaran Antrophomorphic: sebagai manusia dengan berbagai kelebihan seperti bermata seribu, berkaki tiga, bertangan empat dan sebagainya.

2. Penggambaran Semianthrophomorphic: sebagai setengah manusia atau setengah binatang. Hal ini lebih menonjol dalam kitab-kitab Purana seperti dewa Ganesha (manusia berkepala gajah), Hayagriwa (manusia berkepala kuda, dan sebagainya.

3. Penggambaran Unantrophomorphic: tidak sebagai manusia melainkan sebagai binatang saja, misalnya Garutman (Garuda), sebagai tumbuh-tumbuhan, misalnya Soma dan lain-lain.

  • Referensi:

Cudami. 1989. Pengantar Agama Hindu Untuk Perguruan Tinggi. Yayasan Dharma Sarathi: Jakarta

Titib, I Made. 2003. Teologi & Simbol-Simbol dalam Agama Hindu. Penerbit Paramita: Surabaya.

About these ads

36 thoughts on “Konsep Ketuhanan dalam Agama Hindu

    Hermanto said:
    21 Maret 2009 pukul 07:23

    Pertanyaan saya adalah bahwa disebutkan oleh seorang teman Hindu di email bahwa Khrisna itu meninggal, aneh kan, masa dewa yang mahluk roh itu kok bisa meninggal sih?

      Gunk D3 said:
      23 November 2009 pukul 04:22

      Apakah Krishna meninggal? dalam ceritanya juga tidak ditemukan bagaimana jasadnya Sri Krishna… seluruh bangsa yadu akan hancur… ya termasuk Sri Krishna…

      Tapi secara lila rohani Sri Krishna tidak pernah tersentuh oleh unsur2 dunia material termasuk kematian…

      Warnet Golden Lotus said:
      12 September 2012 pukul 09:36

      Krisna itu avatar (awatara kalo dalam istilah hindu). Secara sederhana begini, avatar adalah roh dari level dewa yg diturunkan kedunia dengan mengambil bentuk badan mahluk yg ada dibumi ini. sifat badan mahluk hidup akan terbawa tetap seperti tua, sakit, lapar, emosi, senang, dll. Akan tetapi karena dia diturunkan dari roh pada tingkat dewa dia memiliki kesadaran dan atau kemampuan yg lebih dari manusia biasa. Maka krisna pun sekalipun katanya (karena saya tidak melihat langsung) merupakan turunan dari roh dewa wisnu, dia tetap meninggal. Sederhannya demikian, untuk memahaminya lebih jauh tentu tidak sesimple itu…

      M. Fajar Junariyata said:
      28 Desember 2012 pukul 16:25

      Krisna bukan roh, dalam pewayangan, krisna adalah raja kerajaan Dwarawati. Dia mempunyai orang tua, kakak dan adik. Dia juga punya anak.

      Ayu said:
      20 Januari 2013 pukul 13:10

      krishna tidak ada di dunia…

      Adi said:
      19 Juni 2014 pukul 16:38

      Khrisna bukan Tuhan itu makanya dia meninggal dunia dan berkemungkinan Khrisna itu adalah juga Nabi Allah yang pernah diutus ke bangsa Hindustan (India) karena ada sisa-sisa pengajaran Tauhid (mengesakan Tuhan) yang diajarkan oleh Krisna ini.
      Firman Allah dalam Al-Qur’an :
      Surat Al-’Anbiya’ 21:25

      وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِىٓ إِلَيْهِ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعْبُدُونِ

      Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku.
      Jadi berdasarkan ayat ini semua nabi dan rasul yang diutus oleh Allah semua menyerukan kalimah “Mengesakan Allah”
      Saya kutip sedikit mengenai sejarah Krisna dan ajaran Tauhidnya yang masih tersisa :
      Prof. Garbae menulusuri lima tahapan yang berbeda dalam
      Dalam taraf pertama, agama Krisna itu berkembang di luar
      Brahmanisme. Agama itu bersifat monoteisme yang menekankan
      kepada ketuluasan dan melaksanakan tugas kewajiban tanpa pamrih
      lahiriah. Pada tahap ini, Krishna dianggap sebagai nabi yang
      mendapat ilham dari Tuhan untuk mengajarkan agama yang benar.
      Pada tahap kedua, Sri Krishna dipertuhankan setelah kematiannya
      oleh para pengikut yang terlampau fanatik dan bodoh. Dalam tahap
      ketiga yang terjadi 500 tahun SM terjadilah Brahmanisme agama
      Bhagawat dan Sri Krishna dianggap sebagai Dewa Wisnu. Prof.
      Hiriyanna menulis:
      “Akhirnya keimanan monoteisme pun berubah dengan
      berlalunya waktu dengan dikombinasikan ajaran Weda tentang
      Wishnu Narayana; dan kombinasi ini terutama berperan dalam
      menciptakan Tuhan dari ajaran Weda dan bahkan lebih dari Siwa.
      Akhirnya Sri Krishna nabi dari agama Bhagawat dipertuhan-kan
      dan dikenal sebagai Wishnu Narayana sebagai penjelmaan dari
      Dia”.
      Agama Sri Krishna jelas pada awalnya monoteisme (Mengakui Tuhan itu Maha Esa):
      “Mereka yang fikirannya senantiasa tenang berarti
      memenangkan kehidupan di dunia ini. Tuhan adalah suci dan
      senantiasa Esa dan senantiasa bersatu dengan mereka” (Bhagawad
      Gita 5 : 19)”
      Agama Baghawad Gita adalah penyerahan diri kepada Tuhan:
      Bila seseorang menyerahkan segala keinginan yang muncul di
      hatinya dengan rahmat Tuhan, maka ia memperoleh kegembiraan
      beserta Tuhan dan sesungguhnya jiwa telah memperoleh
      kedamaian” (Bhagawad Gita 3 : 9)

      Bhagawad Gita, 2: 42 – 46, terjemahan oleh Juan Mascaro (Penguin classics).
      Terjemahan lain dari Bhagawad Gita dilihat dan dipetik bab ini bersumber dari (i) K.T.
      Telang (Sacred Book of the East); (ii) Mrs. Anni Besant (Theosopphical society); (iii)
      Swami Prabhavananda dan Christopher Ishewood (Mentor Book)AGAMA HINDU 23
      Sri Krishna, nabi agama Bhagawad, mengajarkan pengikutnya
      untuk men-jalankan tingkah laku dengan penuh kesucian atau
      sebagai kebaktian kepada Tuhan. Bhagawad Gita menyebutkan
      sebagai Bhakti Yoga:
      “Dunia selalu mengikat kita, kecuali penyerahan diri. Maka
      jadikanlah tin-dak tandukmu dengan kesucian dan bebas dari ikatan
      hawa nafsu” (Bhagawad Gita 3 : 9)
      Jadi setelah Krisna meninggal dunia dia yang semula dikatakan nabi oleh pengikutnya diubah menjadi salah satu dewa yang disembah menjadi Tuhan.

      Oleh karena itulah Allah mengutus Nabinya yang terakhir yaitu Nabi Muhammad, SAW untuk mengembalikan ajaran Tauhid dan ajaran para Nabi terdahulu yang sudah dirusak oleh pengikutnya setelah Nabi tersebut meninggal dunia termasuk Krisna, Budha, Kong Hu Cu, Yesus dan lain-lainnya.

        DEDY said:
        21 Oktober 2014 pukul 12:33

        MANTAAAAAAP. INI BARU NAMANYA PEYEJUK IMAN.

    bujaNG said:
    22 Maret 2009 pukul 08:58

    Thank’s atas artikelnya. Saya ijin copy untuk menyelesaikan tugas resume Konsep ketuhanan dari dosen saya…

    ashoka said:
    22 Juli 2009 pukul 12:40

    aq cinta ma cowok hindu Bali
    aq sendiri nasrani
    aq mau tanya, apa aku bisa hidup bersama cowok itu
    aq lom bisa lupain dy
    ato, bisa g kasih aq cara bwt lupain dy aja

      add said:
      3 November 2009 pukul 20:27

      kadang cinta membuat orang tersesat dalam keyakinan,kalo anda mementingkan cinta berarti anda harus mengorbankan keyakinan atau anda mementingkan keyakinan berarti anda harus mengorbankan cinta.setau saya semua keyakinan itu sama karena memuja Tuhan. Tuhan yang memberikan kesempatan buat umatnya untuk memilih.

      DEDY said:
      21 Oktober 2014 pukul 12:36

      BISA. SATUKAN KEYAKINAN DULU. SAYA JA DAH NIKAH SAMA CEWK KRISTEN. AGAMA ITU INDAH LUAR BIASA

    Cahya said:
    18 September 2009 pukul 01:01

    Artikel yang menarik :)

    bukan cebol said:
    7 Oktober 2009 pukul 07:25

    Konsep ketuhanan Hindu mengalami penyempurnaan dari bentuknya yg polytheis berangsur ke monotheis yg modern. Hanya saja Hindu berhenti pada Tri Murti yg mempresentasikan 3 kekuatan semesta. Satu konsep paling mungkin untuk jaman Upanisad saat itu. Sbgmana diketahui turunnya atau terbentuknya kitab Wedha melalui kurun waktu ratusan bahkan konon ribuan tahun (untuk mnnebut tiadanya penanggalan definitif kpn itu mulai). Dari Weda Brahmana (Brahmana di sini bkn mengacu Brahman yg tuhan, tapi pada para imam, pemegang otoritas, dlm ritual korban), Dewa Hindu terus mengalami penyempurnaan dan purna dlm Wedha Upanisad yg reflektif filosofis. Upanisad (’bersimpuh di kaki Guru) berisi tafsir reflektif atas makna korban, hymne liturgi, dan hubungan Brahmat dan Paramatman (jiwa manusia).

    oztranslation said:
    25 November 2009 pukul 08:51

    halo, salam knal…!
    trimaksh ya… aku uda ngopi artikel in untuk menambah pengetahuan sy dan terbuka…

    Realis Gea said:
    3 Desember 2009 pukul 17:21

    Tuhan sejati adalah “Yang tiada sesuatu apa pun yang diserupai-Nya”. Tuhan sejati tidak terlahir dari pucuk teratai, atau dari mana pun juga. Tuhan sejati tidak sesuai bila digambarkan dengan seorang wanita yang kita cintai. mencintai wanita adalah didasari oleh rasa ingin menikmati, sementara cinta kepada Tuhan adalah didasari oleh kesadaran bahwa kita tidak akan sanggup berbuat apa – apa tanpa pertolongan-Nya. hanyalah kepada-Nya kita mengharap segala kebaikan. Sesungguhnya Tuhan sejati : TIDAK ADA SESUATU PUN YANG SERUPA DENGAN DIA. Dia tidak bisa dibayangkan, wujud cinta kepada Tuhan adalah dengan melakukan segala sesuatu yang Ia perintahkan melalui orang – orang pilihan-Nya. bila kurang puas, hubungi saya di 085273319160

      doel said:
      2 Oktober 2010 pukul 09:41

      saya setuju dengan jalan pikiran anda, ini baru masuk akal.

    radit said:
    3 Desember 2009 pukul 17:32

    tuhan sejati tidak dipertuhan oleh orang yang merasa yakin bisa memuaskan keyakinan orang lain sampai harus memberikan nmr hp segala utk merasa mampu bisa jelaskan. sabar kawan. Maaf, jgn marah..sekedar mengingatkan supaya tetap bersih hati kita. jgn pula coba jelaskan atau jawab, krn begitu kau tersirat menjelaskan jawabnamu, sehalus apapun bhs yg hendak kau pakai…disitulah kesombonganmu nampak..dan setan teriak kemenangan.

      doel said:
      2 Oktober 2010 pukul 09:45

      kenapa anda yg jadi tersinggung, kita bebas mengungkapkan demi sesuatu yang benar.

    Reynato Yizreel Goga said:
    24 Mei 2010 pukul 22:40

    Terima ksih buat artikelnya…
    Saya seorang Kristiani, saya senang belajar mengenai konsep keTuhannan dalam berbagai agama, thaks buat artikel mengenai Agama Hindu ini, dengan ini saya bisa memahami dan menghargai teman2 Hindu…
    bisakah saya bertanya jawab mengenai Hindu lebih lanjut supaya saya tidak mengalami kebingungan dalam menfsirkan keyakinan Hindu… sekali lagi terima ksaih…
    Salam Kasih ^_^

      eka said:
      7 Maret 2013 pukul 16:28

      Agama Hindu ada kepercayaan tentang Gunung Meru atau Mahameru yang dianggap sebagai tempat bersemayam dewa-dewa dan sebagai sarana penghubung di antara bumi (manusia) dan Kahyangan. Banyak masyarakat Jawa dan Bali sampai sekarang masih menganggap gunung sebagai tempat kediaman Dewata, Hyang, dan mahluk halus. Selain itu legenda yang menyebutkan pulau Jawa yang kadang-kadang terguncang dianggap sebagai cara pandang tradisional untuk menjelaskan fenomena gempa bumi.

    gege alfha said:
    28 Mei 2010 pukul 02:32

    artikel yg bagus…saya minta ijin membaca dan mengcopy….semoga penulis senantiasa diberikan kesehatan dan keselamatan oleh Tuhan.

    Yudi said:
    15 Juli 2010 pukul 00:34

    Terima kasih tulisannya. Mohon ijin saya copy untuk menambah wawasan saya. Tuhan memberkati.

    deen said:
    16 Juli 2010 pukul 10:21

    saya juga sedang meneliti konsep2 agama lain…
    ada artikel menarik untuk dikongsi dengan semua…

    http://aduhaitoss.multiply.com/reviews/item/33

      yatie said:
      12 Agustus 2010 pukul 08:22

      boleh kongsikan hasil penelitian anda tentang konsep2 agama lain itu?

    deen said:
    16 Juli 2010 pukul 10:25

    saya juga sedang mengkaji agama2 dunia.

    artikel yg menarik utk dikongsi

    http://aduhaitoss.multiply.com/reviews/item/33

    doel said:
    2 Oktober 2010 pukul 09:39

    saya setuju kalau tuhan itu ga bisa digambarkan dan tidak bisa dipikirkan, terutama bentuknya kalau sifat tuhan pasti bisa dibayangkan, karena tuhan adalah sempurna disemua sifatynya.sesuai dengan apa yg anda bilang, tetapi kenapa ko dalam hindu umatnya sendiri mencoba untuk membayangkan bentuk tuhan sehingga terciptalah sosok dewa-dewa yang bentuknya seperti manusia setengah hewan, bentuk hewan penuh ada lagi dewa bentuk tumbuhan, yg justru itu tidak sesuai dengan akal manusia.

    deen said:
    3 Oktober 2010 pukul 09:33

    Saya setuju dengan Doel. kita sendiri mengatakan tuhan itu Maha Sempurna, paling sempurna, dan kita ingin gambarkan supaya dapat bersemuka. tetapi mengapa tuhan itu digambarkan dengan sesuatu yang lebih hina seperti haiwan. Mengapa kita manusia meletakkan martabat tuhan lebih tinggi daripada martabat kita? tak patut rasanya begitu. Sebab itu tuhan tidak izinkan zatnya digambarkan walau bagaimana sekalipun, sebab kita tidak kan bisa…

    Satria kejam said:
    6 Oktober 2010 pukul 18:37

    Salam kenal semuanya….
    Kalau kita membicarakn Tentang pemujaan arca yg di lakukn oleh umad hindu akan timbul brbagai prasangka dan praduga yg negative thinking…
    He he
    tolong di ralat kembali mengenai arca dan berhala..
    Arca => penggambaran yg sesuai dg kenyataan…
    Berhala=>hanya imajinasi saja…

    Samakah dewa dg Tuhan..???
    Dewa berasal dari bahasa sanskrit yakni “div” artinya sinar suci Tuhan..

    dalam Hindu mengenal 3 aspek keTuhanan yakni:
    1.Brahman(aspek tak berwujud)
    2.Bhagawad(aspek berwujud rohani)
    3.Paramaatman(berada pada setiap insan)

    tolong jangan brpikiran bahwa dewa sama dg Tuhan ok…
    Trimakasih

      M. Fajar Junariyata said:
      28 Desember 2012 pukul 16:32

      Saya pernah berdialog seharian dengan seorang pendanda di lombok. Beliau mengatakan bahwa dewa bukan Tuhan. Dewa berarti sinar. Dewa tidak maha kuasa, tapi hanya berkuasa atas satu hal, misalnya dewa matahari hanya berkuasa atas matahari, dewa angin hanya berkuasa atas angin dan sebagainya. bahkan dewa sendiri bisa dikalahkan oleh manusia atau makhluk lain seperti raksasa, contoh: Niwatakawaca bisa mengobrak-abrik kahyangan tempat tinggal dewata).

    super said:
    10 Januari 2011 pukul 14:56

    TRIMAKASIH, saya mau nulis thesis tentang tuhan impersonal hindu. semga makalah ini bisa menjadi
    modal awal. selebihnya saya mau tau buku-buku yang bisa saya jadikan referensi. salamdamai.

    gelgel said:
    12 Januari 2011 pukul 16:29

    makasi ya

    Andri Subandrio said:
    4 Februari 2012 pukul 14:45

    Saya hany ingin bertanya, agama islam pertama diturunkan di Arab, Yahudi di Palestina dan Nasrani di Dareah zazirah Arab juga, pertanyaan saya apakah Hindu Bali pertama diturunkan di India?

    Andri Subandrio said:
    4 Februari 2012 pukul 14:55

    Az Zumar 3: Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.

    vaprakeswara said:
    11 Juli 2012 pukul 07:32
    amin slamet said:
    17 Juli 2012 pukul 20:51

    Percaya terhadap Tuhan, mempunyai pengertian yakin dan iman terhadap Tuhan itu sendiri. Yakin dan iman ini merupakan pengakuan atas dasar keyakinan bahwa sesungguhnya Tuhan itu ada, Maha Kuasa, Maha Esa dan Maha segala-galanya. Tuhan Yang Maha Kuasa, yang disebut juga Hyang Widhi (Brahman), adalah ia yang kuasa atas segala yang ada ini. Tidak ada apapun yang luput dari Kuasa-Nya. Ia sebagai pencip…ta, sebagai pemelihara dan Pelebur alam semesta dengan segala isinya. Tuhan adalah sumber dan awal serta akhir dan pertengahan dari segala yang ada. Didalam Weda (Bhagavad Gita), Tuhan (Hyang Widhi) bersabda mengenai hal ini, sebagai berikut:

    Etadyonini bhutani

    sarvani ty upadharaya

    aham kristnasya jagatah

    prabhavah pralayas tatha. (BG. VII.6)

    Ketahuilah, bahwa semua insani mempunyai sumber-sumber kelahiran disini, Aku adalah asal mula alam semesta ini demikian pula kiamat-kelaknya nanti.

    Aham atma gudakesa

    sarva bhutasaya sthitah

    aham adis cha madhyam cha

    bhutanam anta eva cha. (BG.X.20)

    Aku adalah jiwa yang berdiam dalam hati segala insani, wahai Gudakesa. Aku adalah permulaan, pertengahan dan penghabisan dari mahluk semua.

    yach cha pi sarvabhutanam

    bijam tad aham arjuna

    na tad asti vina syan

    maya bhutam characharam. (BG. X.39)

    Dan selanjutnya apapun, oh Arjuna, aku adalah benih dari segala mahluk, tidak ada sesuatupun bisa ada, bergerak atau tidak bergerak, tanpa aku.

    Tuhan (Hyang Widhi), yang bersifat Maha Ada, juga berada disetiap mahluk hidup, didalam maupun doluar dunia (imanen dan transenden). Tuhan (Hyang Widhi) meresap disegala tempat dan ada dimana-mana (Wyapi Wyapaka), serta tidak berubah dan kekal abadi (Nirwikara). Di dalam Upanisad (k.U. 1,2) disebutkan bahwa Hyang Widhi adalah “telinga dari semua telinga, pikiran dari segala pikiran, ucapan dari segala ucapan, nafas dari segala nafas dan mata dari segala mata”, namun Hyang Widhi itu bersifat gaib (maha suksma) dan abstrak tetapi ada. Di dalam Bhuana Kosa disebutkan sebagai berikut:

    “Bhatara Ciwa sira wyapaka

    sira suksma tan keneng angen-angen

    kadiang ganing akasa tan kagrahita

    dening manah muang indriya”.

    Artinya:

    Tuhan (Ciwa), Dia ada di mana-mana, Dia gaib, sukar dibayangkan, bagaikan angkasa (ether), dia tak dapat ditangkap oleh akal maupun panca indriya.

    Walaupun amat gaib, tetapi Tuhan hadir dimana-mana. Beliau bersifat wyapi-wyapaka, meresapi segalanya. Tiada suatu tempatpun yang Beliau tiada tempati. Beliau ada disini dan berada disana Tuhan memenuhi jagat raya ini.

    “Sahasrasirsa purusah sahasraksah sahasrapat,

    sa bhumim visato vrtva tyatistad dasangulam”. (Rg Veda X.90.1)

    Tuhan berkepala seribu, bermata seribu, berkaki seribu, Ia memenuhi bumi-bumi pada semua arah, mengatasi kesepuluh penjuru.

    Seribu dalam mantra Rg Veda di atas berarti tak terhingga. Tuhan berkepala tak terhingga, bermata tak terhingga, bertangan tak terhingga. Semua kepala adalah kepa_Nya, semua mata adalah mata-Nya, semua tangan adalah tangan-Nya. Walaupun Tuhan tak dapat dilihat dengan mata biasa, tetapi Tuhan dapat dirasakan kehadirannya dengan rasa hati, bagaikan garam dalam air. Ia tidak tampak, namun bila dicicipi terasa adanya disana. Demikian pula seperti adanya api di dalam kayu, kehadirannya seolah-olah tidak ada, tapi bila kayu ini digosok maka api akan muncul.

    Eko devas sarva-bhutesu gudhas

    sarva vyapi sarwa bhutantar-atma

    karmadyajsas sarvabhutadhivasas

    saksi ceta kevalo nirgunasca. (Svet. Up. VI.11)

    Tuhan yang tunggal sembunyi pada semua mahluk, menyusupi segala, inti hidupnya semua mahluk, hakim semua perbuatan yang berada pada semua mahluk, saksi yang mengetahui, yang tunggal, bebas dari kualitas apapun.

    Karena Tuhan berada di mana-mana, ia mengetahui segalanya. Tidak ada sesuatu apapun yang ia tidak ketahui. Tidak ada apapun yang dapat disembunyikan kepada-Nya. Tuhan adalah saksi agung akan segala yang ada dan terjadi. Karena demikian sifat Tuhan, maka orang tidak dapat lari kemanapun untuk menyembunyikan segala perbuatannya. Kemanapun berlari akan selalu berjumpa dengan Dia. Tidak ada tempat sepi yang luput dari kehadiran-Nya.

    Yas tisthati carati yasca vancanti

    Yo nilayam carati yah pratamkam

    dvatu samnisadya yanmantrayete

    raja tad veda varunas trtiyah (A.W. IV.16.2)

    Siapapun berdiri, berjalan atau bergerak dengan sembunyi-sembunyi, siapaun yang membaringkan diri atau bangun, apapun yang dua orang duduk bersama bisikan satu dengan yang lain, semuanya itu diketahui oleh Tuhan (Sang Raja Alam Semesta), ia adalah uyang ketiga hadir di sana.

    Kendatipun Tuhan itu selalu hadir dan meresap di segala tempat, tetapi sukar dapat dilihat oleh mata biasa. Indra kita hanya dapat menangkap apa yang dilihat, didengar, dikecap dan dirasakan. Kemampuannya terbatas, sedangkan Tuhan (Hyang Widhi) adalah Maha Sempurna dan tak terbatas.

    Di dalam Weda disebutkan bahwa Tuhan (Hyang Widhi) tidak berbentuk (nirupam), tidak bertangan dan berkaki (nirkaram nirpadam), tidak berpancaindra (nirindryam), tetapi Tuhan (Hyang Widhi) dapat mengetahui segala yang ada pada mahluk. Lagi pula Hyang Widhi tidak pernah lahir dan tidak pernah tua, tidak pernah berkurang tidak juga bertambah, namun Beliau Maha Ada dan Maha Mengetahui segala yang ada di alam semesta ini. Tuhan berkuasa atas semua dan Tunggal atau Esa adanya.

    Yoccitdapo mahina paryapacyad

    daksam dadhana janayantiryajnam

    Yo deweswadhi dewa eka asit

    kasmai dewaya hawisa widhema. (R.W.X.121.Cool

    Siapakah yang akan kami puja dengan segala persembahan ini? Ia Yang Maha Suci yang kebesaran-Nya mengatasi semua yang ada, yang memberi kekuatan spiritual dan yang membangkitkan kebaktian, Tuhan yang berkuasa. Ia yang satu itu, Tuhan di atas semua.

    ya etam devam ekavrtam veda

    na dwitya na trtiyas cateutho napyucyate,

    na pancamo na sasthah saptamo napyucyate,

    nasthamo na navamo dasamo napyucyate,

    sa sarvasmai vi pasyati vacca pranati yacca na,

    tam idam nigatam sahah sa esa eka ekavrd eka eva,

    sarve asmin deva ekavrto bhavanti. (A.V.XIII.4)

    Kepada ia yang mengetahui ini Tuhan semata-mata hanya tunggal. Tidak ada yang kedua, ketiga, keempat Ia dipanggil. Tidak ada yang kelima, keenam, ketujuh, Ia dipanggil. Tidak ada yang kedelapan, kesembilan Ia dipanggil. Ia melihat segala apa yang bernafas dan apa yang tidak bernafas. Kepada-Nya-lah tenaga penakluk kembali. Ia hanya tunggal belaka. Padanya semua dewa hanya satu saja.

    Tuhan Yang Maha Esa, Yang Maha Kuasa, yang tak terjangkau oleh pikiran, yang gaib dipanggil dengan nama sesuai dengan jangkauan pikiran, namun ia hanya satu, Tunggal adanya.

    “Ekam eva advityam Brahma” (Ch.U.IV.2.1)

    Tuhan hanya satu tidak ada yang kedua.

    “Eko Narayanad na dvityo “Sti kaccit” (Weda Sanggraha)

    Hanya satu Tuhan sama sekali tidak ada duanya.

    “Bhineka Tungal Ika, tan hana Darma mangrwa” (Lontar Sutasoma)

    Berbeda-beda tetapi satu tidak ada Dharma yang dua.

    “Idam mitram Varunam

    agnim ahur atho

    divyah sa suparno garutman

    Ekam sad vipra bahudha vadantyagnim

    yamam matarisvanam ahuh. (R.W.I. 1964.46)

    Mereka menyebut Indra, Mitra, Varuna, Agni dan Dia yang Bercahaya, yaitu Garutman yang bersayap elok, Satu Itu (Tuhan), sang bijaksana menyebut dengan banyak nama, seperti Agni, Yama Matarisvam.

    Karena Tuhan tidak terjangkau oleh pikiran, maka orang membayangkan bermacam-macam sesuai dengan kemampuannya. Tuhan yang Tunggal (Esa) itu dipanggilnya dengan banyak nama sesuai dengan fungsinya. Ia dipanggil Brahma sebagai pencipta, Wisnu sebagai pemelihara dan Ciwa sebagai pelebur/pemralina. Banyak lagi panggilannya yang lain. Ia maha tahu, berada dimana-mana. Karena itu tak ada apapun yang dapat kita sembunyikan dihadapan-Nya. Orang-orang menyembah-Nya dengan bermacam-macam cara pada tempat yang berbeda-beda. Kepada-Nyalah orang menyerahkan diri, mohon perlindungan dan petunjuk-Nya agar ia menemukan jalan terang dalam mengarungi hidup ini.

      Adi said:
      21 Juli 2014 pukul 12:10

      Tuhan umat Hindu yang sebenarnya adalah Tuhan Yang Satu (Maha Esa), Tuhan yang tidak punya ibu, tidak punya anak dan tidak ada sesuatu apapun yang menyerupai Tuhan yang satu tersebut, sesuai dengan ayat-ayat Weda tersebut di atas. Tuhan umat Hindu yang terdiri dari 3 (tiga) Dewa atau Trimurti (Dewa Brahma, Dewa Wisnu dan Dewa Syiwa) adalah Tuhan yang menyimpang dari ayat-ayat Weda di atas. Jadi umat Hindu diminta kembali menyembah Tuhan yang satu tersebut sebagaimana ajaran para Nabi yang pernah diutus Allah ke India. Diminta agar mengikuti syariat Nabi terakhir Nabi Muhammad, SAW yang tertulis pada kitab Weda :
      kitab Atharva Weda , Kanda 20, Sukta 127, Mantra 1 – 3. Dalam kitab Bhavishya Purana, Parva 3, Kandha 3, Adhya 3, Sloka 5 Nabi
      Nabi Muhammad diramalkan dalam ayat sebagai berikut :
      “etan mitrantare mleccha acaryena samanvitah Mahamad iti Khyatah siyyagrasva samanvitah”
      Artinya : “An illeterate teacher will come along, Mohhamed by name, and he will give religion to his fifth-class companion” (Steven Rosen, 1996)
      Terjemahan bebasnya : Seorang guru (acarya) yang buta huruf akan datang, namanya Mohammad. Beliau akan mengajarkan agama pada kaum pemuja berhala (mleccha)”
      Ayat–ayat hindu yang lain menyatakan tentang Nabi Muhammad
      dalam Pratisarag Parv III, Khand 3, Adhyay 3, Shalokas 10 to 27 :
      “Aryadarma akan tampil di muka bumi ini. ‘Agama kebenaran’ akan memimpin dunia ini. Saya diutus oleh Isyparmatma. Dan pengikut saya adalah orang yg berada di lingkungan itu, yg kepalanya tidak dikucir, mereka akan memelihara jenggot dan akan mendengarkan wahyu, mereka akan mendengarkan panggilan sholat (adzan), mereka akan memakan apa saja kecuali daging babi, mereka tidak akan disucikan dg tanaman semak2x/umbi-umbian tapi mereka akan suci di medan perang. Meraka akan dipanggil “Musalaman” (perantara kedamaian).”
      Berdasarkan fakta-fakta di atas maka kepada umat Hindu diajak memeluk agama Islam karena Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir yang diberitakan oleh kitab Weda sudah muncul membawa agama Islam. Kalau tidak mau maka resikonya akan kekal di dalam neraka Jahannam di akhirat setelah meninggal dunia nanti. firman Allah, “Sesungguhnya orang-orang yang kafir, yakni ahli-kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya, mereka itulah seburuk-buruk makhluk.” [QS. Al-Bayyinah : 6].
      Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Demi Allah, yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, tidaklah mendengar tentang aku seseorang dari umat manusia ini, baik dia Yahudi maupun Nashrani, lalu dia tidak mengimani risalah yang aku bawa, kecuali dia termasuk penghuni neraka.” (HR.Muslim).

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s