Perang Si Padang (Kisah Nyata)

Posted on


Cerita di bawah ini adalah kisah nyata yang disampaikan oleh Bapak Zulkarnain Kahar. Beliau sekarang bekerja sebagai staff penting di Exxon Mobile, perusahaan minyak terbesar di dunia saat ini. Sungguh takdir Allah itu tiada bisa kita tebak dan perkirakan sebelumnya. Berikut kisah Pak Zul sebagaimana yang beliau sampaikan di milis Rantaunet.

============================

“…Man must be equipped with the capacity to listen to and obey the ten thousand demands in the ten thousand situations with which life is confronting him.” (1975, p. 120), Viktor Frankl’s theory

Dalam perjalan hidup ini kita sering mengatakan, “Pasti ada hikmah di balik setiap kejadian. Kebanyakan kita tidak sadar bahwa ungkapan tersebut tidak sekedar untuk diucapkan, tetapi mengandung pengertian yang penting dalam kehidupan sehari-hari .

Di pinggiran danau yang tercipta dari kaldera runtuhan yang terbentuk dari letusan besar jauh sebelum terjadinya super vulcano Toba yang menjadi ukuran besarnya letusan gunung berapi di dunia ini. Tanggal 15 September 1958 lahirlah seorang anak laki-laki diiringi siraman mitraliur oleh Tentara Nasional Indonesia dari puncak embun pagi. Cincin yang melekat di jari Pamanku terpaksa lepas untuk membayar jasa Bu bidan yang membantu kelahiranku. Kemenakan pertama dan cucu pertama di rumah kami disambut gembira. Setelah melepas cincinnya sang paman kembali lari ke hutan. Itulah sekeping cerita nenekku. Suasana kacau akibat pemberontakan PRRI yang gagal ini tanpa kusadari menjadikan aku seorang single fighter dalam perang yang lain yang bernama kehidupan. PRRI boleh kalah karena salah memilih perang, but I don’t.

Di sebuah sekolah dasar perguruan Tjahaya milik masyarakat Tionghua di Meral Tanjung Balai Karimun aku mulai membaca dan berhitung dan berlanjut di Sekolah Dasar Negeri di sebuah kota tambang bouksit Kijang di pulau Bintan. SMP pun selesai disini terus di SMA Negeri Tanjung Pinang dan menempuh garis finish di Bagan Siapi-api Riau.

Masa kanak-kanak ku kuhabiskan di Meral. Aku dari kecil dibesarkan dalam pangkuan nenekku karena ayah dan ibuku bekerja. Nenek adalah orang yang paling berkesan di dalam hidupku. Ketegasan, kasih sayangnya, cerita rutinnya menemani hari-hari ku mengenal dunia. Nenek ku namanya Nuraini orang di kampung memanggilnya uncu Ani ada pula yang memanggilnya uwaik anduang. Ayah nenek adalah seorang Mentri Candu di Medan sampai saat ini aku pun tidak tahu apa tugas Mentri Candu zaman Belanda itu. Nenek punya satu adik laki-laki dan tak pernah pulang ke kampung. Aku memanggilnya Abo Kutar. Sampai akhir hayatnya di dihabiskannya di Medan. Lorong -lorong di Simpang Limun, Gang Aman , Sukaramai Jalan Bakti. Nenek hafal luar kepala.

Kalau ada kesempatan pulang kampung nenek selalu membawaku ke tempat sanak saudara dan mengenalkan-ku pada mereka. Biasanya akan berakhir dengan kunjungan ke tanah perkuburan keluarga kami. Di sini nenek akan bercerita banyak seperti Dosen Sejarah. Ini pusaro Nenek Betawi, ini pusaro Nenek Aceh, Ini pusaro Abo Medan dan itu rantaunyo ka Sidempuan, dan lain-lain. Masing-masing orang dikenal dengan kemana dia merantau. Ternyata keluarga besarku adalah keturunan keluarga perantau sejak jaman Belanda. Ada yang pulang dihari tua dan banyak pula yang tak pernah mau pulang sampai akhir hayatnya.

Sepanjang pengetahuan-ku hanya satu Abo yang pulang dihari tuanya, Abo Jala namanya. Nenek-ku sangat mengormati beliau walaupun beliau bukan abang kandung beliau tetapi ibunya Abo Jala bersadara dengan ibunya Nenek. Rasa persaudaraan di antara generasi nenek sangat kuat. Ada lagi adik nenek saudara ibu, namanya Nenek Kasimah. Beliaupun sangat dekat juga denganku sampai akhir hayatnya aku juga yang mengendongya memasuki liang-lahat saat aku masih bekerja di Lhokseumawe Aceh. Beliau meninggal di Medan di rumah anak perempuannya. Mazda Capella merahku kupacu dari Lhokseumawe menuju Medan saat dikabari bahwa beliau meninggal pada tahun 1998.

Kami adalah dari keturunan suku Melayu. Nenek hanya punya satu anak perempuan yaitu ibuku dan satu anak laki laki pamanku. Aku memanggilnya Adang. Ibuku punya dua anak laki-laki, aku dan adiku. Dan kami adalah the last melayu on board dari keturunan nenekku. Kebesaran suku Melayu dari garis keturunan nenek berhenti di sini.

Nenek hidup mewah di Medan pada saat anak-anak. Sayang ayahnya keburu meninggal pada saat dia beranjak remaja. Kemudian beliau menikah dengan seorang Jaksa, setelah punya dua anak yang masih kecil-kecil Ibu dan Paman, suami beliau meninggal. Inilah awalnya nenek bersahabat dengan penderitaan panjang.

Awal tahun 1970, Ibuku dipindah tugas kan ke Kijang Tanjung Pinang, Ibu berangkat duluan ke Kijang sedangkan aku belakangan menuggu teman sesama kerja Ibu mengambilkan gaji Ibu dan nanti aku yang akan membawa ke Kijang sekalian menuggu surat pindah dari sekolahku keluar. Nenek kemudian kembali ke kampung. Tanpa nenek yang mengawasi hari-hariku menjadi liar.

Di Kijang kami tinggal di bekas gudang Cina, daerah dekat pelabuhan. Daerah tersebut terkenal dengan nama Barek Motor. Di sebelah rumah ada Kantor Jaksa dan pak Kaksa bujangan juga tinggal dan berkantor disana. Saya sering jadi kenek Pak Jaksa tersebut dan selalu dikasih duit. Pak Jaksa inilah jadi penyelamat saya karena Ibu tak pernah memberi uang jajan . Dan bukan itu saja, Pak jaksa juga punya kekuasaan hebat. Dia bisa ngambil mercon dan mainan di toko Cina tanpa bayar dan langsung dikasihkan saya. Kalau lebaran tiba, kantor yang merangkap sebagai rumah pak Jaksa penuh kue dan minuman pemberian para warga Tionghua, donatur setia beliau.

Ibu seorang karyawan rendahan. Uang gaji beliau walau sudah berhemat, masih tak cukup dimakan untuk satu bulan. Saya sudah masuk SMP Negeri Kijang, saya coba mengirim surat kepada Presiden Soeharto untuk minta bantuan beasiswa. Tak berapa lama saya mendapat balasan dengan stempel Kabinet Pembangunan yang berisi tentang penjelasan beasiswa dan tata cara mendapatkannya. Kepala sekolah justru memanggil saya dan marah besar karena saya begitu lancang. Ditambah lagi dengan perkataan sekolah malas mau minta beasiswa pula. Sebenarnya saat kelas satu SMP saya sudah goyah, melihat kondisi ibu yang diserang penyakit Psoriasis. Gajinya yang sedikit yang tidak cukup dimakan satu bulan harus membeli obat pula. Pulang sekolah saya selalu memetik daun ubi di kebun orang untuk ditumis dan memetik cabe rawit di kebun sekolah dulu. Karena inilah saya mencoba menulis surat pada Presiden. Penyakit Psoriasis yang menyerang ibu ini adalah penyakit yang berhubungan dengan gen sampai saat ini belum ada obatnya. Obatnya mahal dan tidak pula bisa menyembuhkan, hanya mengurangi saja. Bila obat habis kembali bertambah parah, sekujur tubuh terkelupas. Penyakit ini juga menyerang saya sejak tahun 2000. Tapi bedanya dengan ibu yang PNS, saya bekerja di Perusahaan minyak terbesar di dunia. Medical treatmentnya cukup baik.

Setelah lulus SMP tahun 1973, saya melanjutkan ke SMA Tanjung Pinang yang berjarak 30 km dari Kijang. Kami anak kelas satu masuk siang. Dari Kijang ke Pinang kami naik bis persis seperti metro mini (mereka memanggilnya uspen) yang disediakan oleh PT Aneka Tambang Bouksit buat anak anak karyawan mereka. Saya adalah penumpang gelap. Kalau uspen penuh muka anak-anak kuli tambang yang keren-keren tersebut mulai kelihatan tak bersahabat karena saya penumpang haram atau ilegal. Karena tak pernah bayar uang sekolah, masuk sekolah pun mulai tak jelas. Pada saat tiba waktu membawa rapor pulang saya kebingungan, gimana caranya uang sekolah belum dibayar, gimana bisa dapat rapor? Dalam kepanikan inilah saya mencuri blanko rapor kosong di sekolah dan mengisi sendiri nilai nilainya, memalsukan tanda tangan guru dan mencuri stempel sekolah. Kwartal pertama, kedua dan ketiga selamat pada saat kenaikan karena buru-buru cap stempel terbalik capnya di raport saya.

Inilah awal bencana. Ibu langsung membawa raport menghadap kepala sekolah, dan ibu pula yang bersikeras memaksa pak kepala sekolah untuk melaporkanku ke kantor polisi. “Rule must be put in place”, yang salah harus dapat hukuman. Kalau tidak, anak saya tidak pernah belajar. Hasilnya saya masuk lokap 21 hari di sel tahanan polisi Tanjung Pinang. Untunglah kasus ini tak berlanjut ke pengadilan. Polisi setangah hati meneruskan perkara ke pangadilan gara-gara penyalahgunaan stempel sekolah. Sebenarnya selama ditahan di kantor polisi saya tidak digabung dengan tahanan dewasa lainnya. Saya menempati kamar sebelahnya yang sebenarnya diperuntukan untuk wanita. Walau pintu sel tidak pernah di kunci, saya tak bisa keluar karena harus melewati pos jaga didepan.

Padahal kalau stempel saya tidak terbalik dan ibu dapat saya kibuli, rencana jangka panjang saya adalah pulang kampung tinggal bersama nenek dan akan bersekolah di Maninjau. Surat pindah sudah saya siapkan lengkap dengan tujuannya SMA Maninjau.

1975, karena tak bisa lagi sekolah di SMA Tanjung pinang, tak ada pilihan lagi selain Pulang kampung ke tempat nenek. Karena sudah bulan April, satu kwartal sudah berlalu saya tak bisa diterima di SMA Maninjau. Kalau sudah berjalan satu kwartal, saya baru mau mulai lagi sekolah. Terpaksalah pergi ke Lubuk Basung diantar Nenek. Mungkin karena kasihan Kepala sekolah SMA Filial Lubuk Basung langsung menerima saya. Beliau menulis remarks dirapor saya “Tidak ada Nilai karena sakit sakitan”. Sungguh bijaksana bapak itu. Kalau beliau maju jadi caleg pasti akan saya pilih dia. Di Lubuk Basung ini saya habiskan tahun 1975. Bila tiba hari sabtu saya jalan kaki ke Maninjau untuk pulang ke tempat nenek mengambil bekal untuk satu minggu kedepan. Perjalanan ini biasanya saya tempuh selama lima jam. Air yang mengalir di sepanjang jalan dari Antokan ke bawah terasa nikmat sekali mengalir di tengorokan saya.

Di Lubuk basung ini untuk cari uang tambahan, saya bekerja sebagai kuli panggul menurunkan karung-karung berisi jengkol yang berdatangan dari perdesaan sekitar dari truk dan gerobak. Ini biasaya saya lakukan sesudah magrib. Belajar, yang satu ini hanya di sekolah saja. Begitu keluar dari sekolah otak saya hanya berfikir “bagaimana mengisi perut”.

Setelah naik ke kelas dua IPS, walaupun sebenarnya saya tak bego-bego amat di pelajaran aljabar, kimia dan fisika tapi karena blank di kwartal pertama, banyak merah di kwartal ke dua dan biru semua di kwartal berikutnya. Sekolah rupanya mau cari selamat dengan menaikan saya ke II IPS walau tidak satupun angka merah di rapor saya. Saya pindah ke SMA Negeri Maninjau setelah di legalisasi oleh SMA Filial Lubuk Basung.

Masa-masa indah di Maninjau saya jalani dengan nikmatnya rokok SOOR, yang dibeli dari upah panggul menurunkan barang dari pedati bang Ujang. Waktu pulang kampung tahun 2006 setelah dua puluh tahun tak pernah mudik sejak tahun 1986 membawa nenek ke Jakarta, saya jumpai sang pemilik pedati dan bertanya “Mana pedatinya bang?”. “Kini ndak laku padati lai, lah banyak oto”, katanya dengan senyum yang hambar. Di Maninjau ini pula saya jadi petani bertanam kacang tanah. Setiap malam harus dijaga sampai bertunas menghindari gangguan babi. Pada saat menulis ini, terbayang oleh saya saat memanen hasil panen bersama Nenek. Kami harus berlomba dengan kera-kera yang juga berpesta. Kami mencabut didepan, kera-kera itu mencabut di belakang kami. Sedih, tertawa, marah bersatu jadi kenangan indah.

Maninjau pada masa itu terkenal dengan cengkeh. Kalau pada musim cengkeh kantong saya tebal dengan rupiah. Apakah dari hasil mencuri cengkeh saudara atau dari upah memanjat cengkeh yang tak pernah jujur, selalu saja ada yang digelapkan. Dunsanak saya itu tahu apa yang saya lakukan tapi beliau pura pura tidak tahu. Kata-kata seperti “inyo kan urang rantau ma lo kapandai inyo mamanjek”. Dalam hati saya, “jangan under estimate bang!”. Kenangan kampung bagiku jauh berbeda dengan kawan-kawan Minang lain. Di Maninjau aku tinggal di pasar Maninjau. Tempat segala macam tingkah-polah pareman (preman). Kalau aku ke Payakumbuh ke tempat Bako, juga di pasar dekat terminal bus. Nunang namanya. Segala macam tinggkah polah orang pasar yang hidup di kepalaku.

Kehidupan manis di Maninjau ini berakhir dengan sebuah berita yang disampaikan oleh pak guru SMA Maninjau, ada telpon dari Rumah Sakit Umum Bukit Tinggi. “Ayah saya sakit keras “. Dari cara pak guru menyampaikan berita, saya bisa menebak Ayah sudah tiada. Setelah mengemasi buku-buku pelajaran, saya pulang dan memberitahu nenek, saya mau RSU Bukit Tinggi. Ayah sudah meninggal. Entah dari mana nenek meminjam uang lalu dia memberi saya ongkos. Berangkatlah saya ke Bukit Tinggi dan langsung ke Rumah Sakit Umum. Di sana saya temui adik saya sedang termenung. Dia saat itu baru kelas satu SMP. Kami hanya dua bersaudara, laki-laki pula. Dia juga berjuang sendiri mencari garis tangannya dan tidak kalah kerasnya dari saya karena Ibu hanya mampu menyekolahkan kami berdua sampai SLTA. Itupun sudah kami syukuri sepanjang hayat kami berdua. Kini adikku satu-satunya itu berhasil pula berkarya di sebuah Bank terbesar di Indonesia dan bergelar Master pula. Kini Ibu mondar mandir, kalau bosan di rumah adikku, beliau ke rumahku. Kadang-kadang beliau mengomel, “coba kalau punya anak perempuan, Aku pasti betah dengannya.” Kami berdua selalu berkata, “Tuhan itu lebih tahu apa yang terbaik buat Ibu.”

Menurut adikku, ayah sudah jatuh sakit saat saya pulang kampung. Saya tak diberitahu mungkin beliau masih menyimpan kemarahan akan keamburadulan saya. Celana yang menyapu jalan sepatu hak tinggiku membuat gigi beliau selalu sakit. Setelah sakitnya semakin parah, ia minta pulang ke kampungnya di Nunang Payakumbuh. Agar ada yang menemaninya ikutlah adik dengannya pulang kampung ke Payakumbuh. Sementara Ibu dipindahkan oleh kantornya ke Bagansiapi siapi dari Kijang.

Setelah ayah meninggal, kami berdua berangkat ke Bagansiapi-api dan tinggallah kami bertiga bersama ibu. Pertengahan tahun 1976, saya masuk di SMA Negeri Bagan Siapi-api. Di sini saya sangat menikmati lari pagi sambil ngambilin buah-buahan seperti apel, jeruk dan lain-lain yang ada di atas meja sembahyang orang-orang Cina yang diletakkan di depan rumah mereka. Di depan rumah kontrakan kami di bagan ini tinggal seorang Jaksa. Beliau sangat hobi main catur. Beranda di depan rumahnya selalu ramai dengan anak-anak muda yang diajaknya main catur. Hampir semua dibuatnya tumbang. Setelah beberapa kali mendekat akhirnya saya dapat kesempatan bermain dengan beliau. Sebenarnya beliau tidak pintar-pintar amat. Saya tak butuh waktu lama untuk menghajarnya tapi tidak saya lakukan. Bahkan sering saya beritahu “awas pak, Kuda itu atau Menteri itu bakal melayang” atau saya bilang “jangan buru buru pak lihat dulu itu terbuka”, dan sebagainya. Cara saya ini membuat kami kalau main selalu lama dan hampir semua permainan saya biarkan dia yang menang. Gara-gara main catur begini, perkawanan kami semakin akrab. Saya sering dibawa keluar makan dan dia bilang kalau mau nonton di bioskop dia bisa masukan saya gratis kapan saja saya mau. Jadilah setiap malam saya minta memonya untuk nonton gratis dan kemudian saya jual.

Suatu hari pak Jaksa mengajak saya ke rumah seorang Toke Cina. Entah apa yang dia bicarakan di dalam, manalah saya tahu. Karena lama menunggu di ruang tamu sang Toke cina saya lihat ada gitar merek Kapok, lalu saya ambil dan mainkan pelan pelan. Pada saat pak Jaksa keluar, dia lihat saya main gitar. Lalu dia bilang “kau bisa main gitar”. Dia lalu melirik ke Cina pemilik rumah sambil berkata “Untuk dia saja gitar itu ya?”. Saya hanya melihat sang pemilik menganggukan kepala dan jadilah gitar itu hak milik saya yang akhirnya saya jual juga karena uang lebih menarik dari barang saat itu. Hebat sekali pak Jaksa kita dalam hati saya.

Persahabatan saya dengan pak Jaksa ini bukanlah persahabatan saling menguntungkan karena saya yang paling banyak diuntungkan. Dapat pakai motor pak Jaksa dengan gratis, dll. Sampai suatu hari dia bilang “Kalau kau tamat SMA masuk hukum saja di UNRI nanti saya bantu saya kenal dengan banyak dosen-dosen di sana, Dekannya pun saya kenal”. Saya tambah binggung saja dengan pak Jaksa ini. Dia kerja di Bagan Siapi-Api tapi dia bisa memasukan saya di UNRI. Pertemanan ini berantakan karena saya menolak mengumpulkan teman-teman SMA saya untuk ikut kampanye pemilu di bawah bendera Partai Pemerintah waktu itu dan membagi-bagikan uang dan kaus gratis agar barisan kampanye jadi ramai katanya. Dia tahu semua anak SMA yang tukang nogkrong di pasar adalah konco-konco saya.

Sebenarnya saya tak ada urusan dengan partai tersebut dan uang lebih menarik dari idealisme, tapi dendam saya sama sang Presiden belum mau hilang karena menolak memberi saya beasiswa. Ini membuat saya tidak mau terlibat dan dilibatkan dalam pemilu, kalau sekarang lebih populer dengan golput. Sepanjang hidup saya baru satu kali saya nyoblos pemilu, tahun 2004. Aneh bin ajaib, saya memilih partai yang dulu saya benci. Alasan saya sederhana, Sang pendiri sudah tumbang sementara partai yang lain tak jelas juntrungannya.

Kenakalan saya waktu di SMA Bangan sudah kelewatan gara gara menikmati anggur vigor setiap jam istirahat, hampir saya dikeluarkan dari SMA Negeri Bagan siapi api. Sebenarnya ada banyak alasan kepala sekolah dan guru guru untuk mendepak saya keluar. Entah apa yang membuat mereka selalu saja memberikan warning warning dan warning lagi…

Hari ini saya bersyukur pak guru Nurdin yang orang minang itu dengan sabar memanggil saya dan menasehati saya berulang ulang “ zul, suatu hari nanti kau akan berterima kasih sama saya”. “Orang minang apalagi pindahan dari SMA Maninjau yang terkenal dengan alumninya yang melenggang masuk keperguruan tinggi negeri di Indonesia ini tak ada yang jadi bandit zul, semua pasti pintar pintar dan berkelakuan baik barangkali kau ini pengecualian”

Yup beliau benar hari ini saya berterima kasih yang sebesar besarnya buat walikelas saya Pak Guru Nurdin walaupun saya tidak mampu melenggang ke Universitas seperti ucapan beliau.

Main kartu selama liburan bulan puasa sudah biasa, kalau menang puasa terus, kalau kalah langsung buka. Trik menyelipkan beberapa katru disela kelingking adalah makanan saya kalau saya yang mengocok kartu selesailah uang dimeja saya makan. Lulus SMA juara umum pula mungkin para guru kami tidak mengkorelasikan kenakalan saya dengan nilai ujian. Padahal sehari sebelum ujian begadang sampai pagi bersama abang abang tukang becak. Mengikuti ujian hari pertama dengan mata terkantuk-kantuk. Tiga bulan sebelum ujian saya mendengar ada penerimaan pegawai baru di BNI 46 cabang Bagan Siapi Api.

Saya nekat memasukan lamaran dengan modal raport kelas tiga SMA. Sebulan kemudian ada dua puluh orang termasuk saya dipanggil untuk ikut test semua soal saya jawab. Dua hari setalah menerima Ijazah saya dapat panggilan untuk datang ke Kantor BNI. Saya hubungi semua kawan kawan alumni SMA yang ikut test dengan saya kecuali yang ada beberapa yang bukan orang Bagan. Sambil bertanya apa mereka dapat surat dari BNI. Semua kawan menjawab dapat tapi surat maaf anda belum berhasil. Karena masih anak SMA bloon saya tidak menyadari itu adalah wawancara dengan Pimpinan BNI hari itu adalah hari YES or NO. Karena yang datang untuk wawancara hanya ada dua orang saya dan seorang wanita yang tak pernah saya lihat di Bagan siapi api sebelumnya. Dengan menenteng Ijazah SMA yang masih baru dan wangi saya dipanggil masuk.

Setelah mereka meperkenalkan diri salah satu dari tiga orang tersebut bertanya “ Kok kamu berani memasukan lamaran padahal belum tentu kamu lulus”. Saya jawab dengan super yakin “Kalau saya tidak yakin saya lulus saya tidak melamar pak, ini dia Ijazah saya sambil menyodorkan ke hadapan beliau”. Dari atas kebawah berjejer angka delapan satu angka lima berwarna merah untuk bahasa arab angka enam olah raga. Saya jelaskan lima itu karena saya pindahan dari tiga SMA, di SMA pertama dan kedua kami belajar bahasa jerman di Bagan kelas tiga bahasa Arab habislah saya pak. Kalau olah raga dapat enam karena saya tidak suka senam pagi Indonesia itu dan tak pernah ikut, kok rasanya seperti waktu penjajahan jepang padahal kita sudah lama merdeka.

Akhir dari wanwancara saya disuruh menunggu dirumah. Kemudian saya katakan “Pak waktu saya hanya satu minggu, kalau lebih dari itu, saya anggap saya gagal”. Setelah satu minggu tak ada kabar berita saya berkata sama sama kawan kawan saya yang sedang bergembira akan melanjutkan kuliah dan bercerita tentang universitas, akademi dan lajutan berikutnya. Dengan suara keras dan lantang saya berkata ” I will beat this damned world my friend”, tidak ada yang tahu saya sebenarnya terpukul telak oleh kemiskinan karena tak punay biaya untuk melanjutkan kependidikan lebih tinggi.

30 tahun kemudian saya kembali ke bagan bersama anak anak dan melihat Bagan telah berubah , dari kota ikan jadi kota burung layang layang. Dari kecamatan jadi kabupaten. Dulu tak ada mobil, sekarang jalan-jalan sudah macet.

Lelaki itu harus berbuat sesuai dengan apa yang diucapkannya. Awal tahun 1978 setelah tak ada berita dari BNI dan waktu yang saya berikan terlewati walau belakangan hari saya menyesali kebodohan saya, yang mau kerja itu saya bukan pejabat BNI tapi nasi sudah jadi bubur..

Dengan menumpang kapal kayu pengangkut belacan dan ikan asin yang baunya minta ampun selama dua hari dua malam akhirnya saya memijakan kaki saya di pelabuhan tua sunda kelapa. Tanpa sepeserpun uang disaku yang ada hanya sebuah alamat di dalam kepala “Tanah Abang” aku pun sudah lupa kapan pertama kali mendengar nama Tanah abang ini, mungkin di film barangkali. Tak ada kawan dan saudara. Jalan kaki dari Sunda Kelapa ke Tanah Abang sambil bertanya pada setiap orang. Setiap langkah semakin mantap karena ternyata semua orang tahu Tanah Abang, dan rupanya ia benar benar ada. Yes, I am here, Tanah Abang. Saking kelelahan tertidurlah badan di Mesjid lantai atas tanah abang. Bangun-bangun adzan Magrib dan sepatu kesayangan pun lenyap, saat mencari cari sepatu yang hilang inilah bertemu dengan beberapa orang anak muda minang Buyung dan Syaf yang berjualan “Air Haus” istilah mereka waktu itu. Mereka pun mengajak sama sama mereka. Berjalanlah ke daerah bongkaran
daerah kumuh, suara musik melengking yang terasa aneh ditelinga, belakangan saya tahu itu musik daerah jawa barat. Kamar kontrakan sempit yang sudah dihuni oleh 4 orang, Buyung, Asbar, Arifin, dan Syaf ditambah saya satu bertambahlah sumpeknya. Hanya ada satu lampu. Asbar kerja sama Rifin. Mereka Jualan kaos 3 sepuluh ribu, Buyung join sama si Syaf jualan air haus dan berencana mau buka sendiri.

Arifin berasal dari Tiku, buyung asbar dan Syaf berasal dari pariaman mereka berempat semua kelahiran Medan. Arifin sekarang sudah sukses dengan bisnis konveksinya. Asbar kembali ke Medan dan berjualan dari pajak ke pajak dalam kamus hidupku juga masuk kategory berhasil karena mampu mengirim anaknya ke univerwsitas. Aku pernah mengajaknya menikmati hotel Bintang lima Medan saat aku ada dapat training di Medan tahun 1998. setiap aku ke medan aku selalu mampir kerumahnya dan tak pernah tidak. Buyung tetap di Jakarta entah beribu kali pula bertukar profesi sampai terdampar berjualan di Glodok. Ia Juga dalam kamusku masuk kategory sukses karena sudah mampu memiliki rumah sendiri di Kalideres dan tiga Anaknya di pesantren ternama di Jawa Barat.
Pada saat kami masih berputar di Tanah Abang kami selalu berkumpul bersama setiap jam 7:30 menjelaang makan malam. Kami sama sama makan diwarung milik orang bukit Tinggi di pinggiran Project tanah Abaang. Beliau memiliki anak gadis cantik yang selalu membantu. Arifin adalah yang adalah yang paling berduit diantara kami tapi dia tidak bisa menulis dan membaca tapi dia pula yang paling tekun dan serius tak banyak bicara bahkan cendrung pemalu. Dia tertarik dengan anak penjual nasi tersebut yang berinitial D. Mulailah ku olah sebuah surat perkenalan seolah olah datang dari si D untuk rifin dan dibacakan oleh Asbar. Kemudian si rifin memintaku membalas, balas membalas surat ini sebenarnya aku seorang yang menulis. Lebih dari tiga bulan kami makan gratis dibayarin rifin, dia pun yang terkenal sampilik mulai berbaik hati pada kami bertiga, sampai kami semua berpisah. Aneh bin ajaib mungkin kebesaran Tuhan lima tahun kemudian Si rifin resmi menyunting so D.
sampai hari ini mereka adalah pasangan yang setia. Allah Akbar.

Suatu hari aku bersama si Saf mendorong gerobak haus . Kami mendorong gerobak ke Senayan karena katanya ada bola. Sampai di Senayan tak ada apa apa, karena itu malam minggu didoronglah gerobak menuju Taman Ria monas menyusuri Thamrin yang penuh dengan lampu dan gedung gedung bertingkat.

Sambil mendorong gerobak, saya tak henti hentinya melihat gedung gedung mewah itu yang dulu hanya di film-film sekarang jadi nyata di depan mata. Tak pernah terbayang oleh saya bahwa 20 tahun kemudian saya akan sering menginap disana. Hanya dua bulan saya ikut si Saf. Akhirnya karena terlalu sering jualan di Taman ria monas,s aya berkenalan dengan arek arek dan keluarlah saya dari grup minang. Jadilah saya anak monas yang akrab dengan Taman Ria dan Casino Cendrawasih yang terletak di dalam jakarta fair yang menghirup setiap rupiah yang saya punya. Malakin supir taksi setelah naikin penumpang adalah kerjaan rutin saya kalau untuk makan tinggal comot saja dari pada para pedagang kakilima yang bertebaran disekitar monas, terkadang saya minta duit mereka. Kok tega-teganya saya ,orang cari makan secara halal dikerjaain. Akhir dari semua ini harus saya bayar dengan kepala menerima 12 jaitan dan bukan itu saja saya pun tergeletak terserang typus hampir berlayar
jauh. Sebelum berakhir th 78 saya keluar dari Jakarta.

Sepanjang tahun 1979 saya masih mengikuti alur kemanakah gerangan garis tangan akan membawa saya, Bali, Lombok, Sumbawa, Bima saya rambah dengan berbagai jenis pekerjaan saya lakukan untuk bertahan hidup. Mulai dari kuli bangunan, jualan bubur kacang hijau dengan gerobak berkeliling, jualan keliling antar pulau pulau kecil di sekitar NTB sampai pula ke labuhan bajo akhirnya kembali ke bali kerja di Swiss Restoran Bali dan berlanjut jadi guide. Tak puas sampai disini entah apa yang ada dikepalaku waktu itu tahun 1980 sepasang kaki ini membawaku ke Muaradua Sumatera Selatan, sebuah profesi baru sebagai Guru di SMP Cokroaminito pagi hari dan SMA Muhammadiah sore hari. 27 tahun kemudian, tahun 2007, saya kembali ke Muaradua ada tiga mantan murid saya jadi Camat, satu jadi kepala transmigrasi dan satu lagi bendahara pemda. Mereka pada datang menemui saya sambil bernostalgia akan masa masa lalu mereka.
Berhenti disini sejenak memikirkan tentang kehidupan yang lalu. Semua ingatan akan masa lalu tak berarti apa apa, hanya sebagai perbincangan beberapa menit saja. Apa yang pernah saya pikir penting, atau yang benar-benar saya kejar, atau yang saya coba hindari, kini semuanya adalah bagian dari masa lalu. Apapun yang mengingatkan saya pada pikiran-pikiran dan perasaan ini, itu hanyalah kenangan.

Aku masih mencari, 1981 kembali ke Jakarta, Monas – Taman Ria dan sekitarnya, kembali tempat uang mudah dicari. Tujuannya hanya satu cari uang bikin passport dan terbanga juah jauh. Dengan menumpang Tampomas yang masih gagah kala itu awal tahun 1982, aku menuju Tanjung Pinang dan terus naik ferry ke negeri tuan Rafles. Cita cita baru ku ingin keliling dunia dengan cara jadi pelaut. Jadi pelaut tak bertahan lama berakhir dengan 20 hari masuk Sel di Muscat Oman.

Tuhan punya rencana lain yang aku tak pernah tahu. Inilah suara takdir “Bila tiba saatnya, kau akan keliling dunia lewat udara dengan Singapore Airline dan duduk di muka. Kursimu 1A First Class. Kata orang, the best Airline in the world”. yang dulu tak pernah sampai ke telingaku. Aku juga tidak pernah tahu 16 tahun kemudian aku melihat kembali jalan jalan yang dulu pernah kutapaki dari berbagai kamar Hotel 5 Bintang di Singapura ini. Terbayang kembali saat kehausan masuk toilet bayar 10 sen untuk melepas dahaga kalau orang ke toilet buang air, awak minum air.

Capek di Singapura tahun 1983 aku melangkah ke utara “ Kualalumpur”. Dengan berjualan kue Pau ringgitpun masuk ke kantongku. Hanya sementara saya menikmati manisnya uang malaysia, semua uang yang terkumpul saya kirimkan untuk Nenek saya di maninjau. Belakangan saya tahu dari cerita paman saya beliau sangat senang sekali dan langsung shopping ke Bukit Tinggi. Ini adalah yang pertama dan terakhir saya berbagi nikmat dengan almarhum nenek saya. Setelah itu saya masuk penjara pudu sembilan bulan karena berkelahi memecahkan kepala orang masih untung dia tidak mati, kalau mati berakhirlah hidup ini di tiang gantungan.

Dibalik setiap peristiwa ada pelajaran. Seakan berulang, kembali lagi disini saya tidak mendengar suara Takdir bahwa 16 tahun kemudian saya akan kembali lagi kemari sebagai turis dan melihat Penjara Pudu ini menjadi Museum. Disini di kamar no 42, saya pertama kali dalam hidup melihat para pencandu heroin tak bisa tidur bermalam malam yang belakangan saya tahu itu namanya sakau. Disini pula bertemu dengan kawan sewaktu SMP Kijang Untung dan M.Nuh. Ah, reuni kok di penjara pudu. M.Nuh masuk karena ilegal. Kawan Untung ditransfer dari klantan setelah menjalani hukuman perompakan 12 tahun dan menunggu dipulangkan ke Indonesia. Setelah sidang berkali kali kawan yang mengadu tidak pernah datang ke pengadilan akhirnya dengan berat hati pak hakim membebaskan saya. Karena saya memegang RedCard nya Malaysia , saya tidak dipulangkan ke Indonesia.

Akhirnya saya memutuskan kembali ke Singapura dan mencoba lagi peruntungan disini, kerja selama enam bulan dipabrik Beer Tiger dengan modal IC malaysia. Saat itu mudah mendapatkan work permit enam bulanan di Singapura. “Ibu sakit keras ” begitu yang tertulis dari telegram yang kuterima yang membuatku berfikir ulang untuk terus berjuang di luar hanya ada satu kata “Pulang”. —

2 may 1986, ada telegram dari Maninjau, Nenek sakit. Naik ALS saya pulang ke maninjau berdua dengan Ibu. Nenek tergeletak badannya tidak berfungsi sebelah, dia hanya bisa tidur. Ibu hanya dua hari dikampung dan kembali ke jakarta. Tinggalah saya dengan Nenek yang sedang terbujur tak bisa apa apa. Satu bulan saya mengurus beliau dari memandikan, menyuapin, dan membersihkan kotoran, serta mencuci pakaian kotor beliau. Kalau waktu saya kecil beliau yang menjaga saya nampaknya sekarang pay back time nek, kata saya. Tersungging senyum pahit dibibirnya. Karena penyakit nenek tidak ada perubahan dan saya tidak mungkin lama lama di kampung ini. Istri saya di Jakarta sedang hamil tua akhirnya saya dan ibu di jakarta memutuskan membawa nenek ke Jakarta.

Diiringi derai air mata saudara saudara di kampung, kugendong nenek menaiki Bis sampai di bukit tinggi. Ketika membeli tiket Bis AC di Bukit Tinggi tak ada satupun Bis yang mau, alasan mereka kalau terjadi apa dijalan bagaimana. Yang non AC pun sama sama menolak. Akhirnya saya buat perjanjian kalau nenek saya meninggal ditengah jalan tinggalkan kami berdua, dan kalian bisa jalan terus. Nenek tak bisa duduk dan berbicara lagi, yang bisa dilakukannya hanya mengangguk dan menggeleng. Dua hari dua malam dengan bus Non AC dan pandangan mata tak bersahabat dari para penumpang sampai juga kami di Pulo Gadung. Inilah nasib, mau dibawa ke rumah sakit uang tidak ada. Hampir setiap malam saya berdoa dipinggir ranjang nenek di rumah kami di Jakarta. Doa ku sederhana saja, ” Ya Allah, kami tak punya uang untuk membawa nenek ke Rumah Sakit. Yang ada, cuma hati dan kasih sayang. Bila Engkau berkenan , sembuhkanlah Nenekku dan bila kesembuhan bukan lagi pilihan, kami
rela melepas beliau”. Jumat pagi, setelah 30 hari nenek di jakarta, beliau menghembuskan nafas terakhir. Sebagai rasa terima kasih untuk nenek yang menjagaku dengan kasih sayang dari kecil, kuantar beliau hingga melepas tali kafan di liang lahat perkuburan di Jakarta Timur. Selamat jalan Nek.

Sempurnalah kemiskinan. Ibu adalah seorang PNS rendahan, kami tak pernah punya rumah sendiri, hidup selalu berpindah pindah, dari kontrakan ke kontrakan, dari tumpangan ke tumpangan. Lebih parah lagi, sejak aku masih di sekolah dasar, Ibu sudah menderita penyakit Psoriasis. Sekujur tubuh memerah dan mengelupas. Dengan kondisi seperti itu beliau selalu masuk kantor dengan rajin. Bolak kalik ke rumah sakit adalah hal rutin. Suatu ketika beliau down dan dirawat RSCM, hampir satu bulan masuk awal puasa sehingga kami berhari raya di rumah sakit. Giliran mau keluar, uang tidak ada yang mau dijual pun tak ada, ya satu satunya cara adalah kabur dari rumah sakit. Pagi pagi setelah mandi dan bersih bersih ibu berpakaian agak rapi walaupun wajah masih kelihatan pucat pada saat orang orang besuk mulai ramai disitulah kami pelan pelan menyusun strategi untuk keluar dan kabur dengan taksi yang sudah saya siapkan. Maafkan kami Dr Cipto. Sampai hari ini kami memang
tidak membayar biaya rumah sakit tersebut, karena aku merasa pajak yang kubayar setiap bulan jauh diatas biaya rumah sakit tersebut
—–
Ya Allah tunjukkanlah saya jalan untuk mendapatkan pekerjaan, tukang sapu pun jadi selama itu halal. Anakku akan tumbuh dewasa, Aku ingin membesarkan mereka dengan rezeki yang Engkau ridhoi. Itulah doa yang selalu kupanjatkan setelah bekeluarga dan punya anak satu masih juga tidak jelas kemana arah jalan hidup. “ BANG”, 20 October 1988. jam 00:00 adalah hari pertama saya kerja, shift malam sebagai Janitor atau tukang sapu saat ini lebih populer dengan sebutan OB (office Boy), kami berempat kerja bergantian, Aziz yang masih muda yang belakangan hari jadi supir, Pak Usman dan Pak Ibrahim tetap jadi janitor sampai dipensiunkan. Kami bekerja dibawah bendera PT Koalisi. Cluster III NGL Plant adalah nama tempat saya mulai bekerja di tanah air tercinta ini. Bekerja bergiliran selama delapan jam sehari. Gaji pertama hanya puluhan ribu rupiah semua kusedekahkan ke mesdjid sebagai rasa syukurku, dan tak pula ada bayangan di benakku bahwa suatu hari nanti
akan bergaji puluhan juta rupiah.

“Kalian berempat disini hanya sementara paling lama tiga bulan bila sudah selesai masa sibuk start-up paling hanya satu orang yang dibutuhkan” Itulah kata Bapak MI salah seorang supervisor yang bertugas beliau adalah satu satunya orang Indonesia yang jadi supervisor di kilang LPG tersebut yang lainnya adalah orang asing.

Saya hanya butuh satu minggu saja untuk meyakinkan bapak bapak disini bahwa saya akan terus bekerja disini pak. Delapan jam waktu kerja tidak satu menitpun saya sia siakan, mengepel lantai sampai berkilat, membuat minuman, menyediakan piring dan gelas bila tiba waktu makan, dan membersihkan toilet. Dan saya pastikan tidak ada satu titik noda pun di lantai dan di toilet, walau para operator operator dan konsultan konsultan sibuk keluar masuk control room karena berbagai masalah operasi pabrik gas LPG yang baru mulai tersebut.

“Zul, you kerja kayak robot. Istirahatlah”, kata pak Muhktar suatu hari. Dalam hati saya lalu berkata, “Yes ,”. Itulah yang saya inginkan, someone must recognize what I am doing . Setelah tiga bulan saya tinggal dan tiga kawan aceh saya harus keluar serperti apa yang pernah dikatakan pak Mukhtar. Menurut informasi beberapa teman, beliau kini bekerja di Lybia. Ini bukanlah hal mudah, saya bukan orang aceh dan tak pula bisa berbahasa aceh dan bersaing pula dengan orang aceh di daerah aceh untuk jenis pekerjaan yang mampu dilakukan semua orang.

Strategy pertama passed. Tinggal saya sendiri janitor, jadwal kerja berubah hanya siang saja . Tidak ada lagi kerja shift malam, siang dan sore. Next, saya harus keluar dari janitor ini. Caranya hanya satu, “Tell them you can do more than janitor”, itu yang ada dalam benak saya. BANG kedua – “Komputer”. Ya, inilah kendaraan saya untuk mencapai tujuan. Tapi bagaimana caranya? Waktu kerja janitor dari jam tujuh pagi sampai jam empat sore, istirahat jam 12 sampai jam satu siang. Setiap jam dua belas Bos besar JTJ, namanya orang Amerika, makan siang ke kamp dan baru kembali jam satu kurang 10 menit dan selalu begitu. Saya selalu masuk kekamar beliau membersihkan meja, menyapu, dsb. Di sudut ruangan beliau ada satu komputer IBM yang selalu on. Otak saya mulai berputar inilah jalan keluar pertama yang kelihatan oleh saya. Kalau saya penakut takdir saya hanya seorang janitor. Saya harus menemukan takdir saya yang lebih baik dan ini perlu keberanian
dan sedikit kenekatan dengan persiapan yang terukur.

Saya kirim surat pada adik saya di Jakarta mohon dikirimi buku belajar komputer. Entah dia mengerti atau tidak, dua bulan berikutnya saya dapat kiriman 3 buku belajar komputer, Belajar bahasa Basic, Lotus 123, dan Formtool. Setelah membaca mungkin seratus kali mengulang dan melihat komputer yang terpajang di kamar sang bos. Tibalah hari nekat saya, hidup ini bukan penantian tapi sebaliknya, kamu harus mengambil setiap kesempatan yang ada. 45 menit setiap hari dengan buku disebelah kiri dan tangan bergetar mulailah menekan keyboard, Lotus 123 kelihatan dalam menu persis seperti apa yang dikatakan oleh pengarang buku yang saya baca. Formtool juga begitu.

Satu minggu berjalan lancar. Now what, tak ada artinya latihan tanpa kerja nyata. Pada saat menyapu dan membersihkan control room dimana para bapak bapak operator bertugas saya melihat sebuah kesempatan emas, ada banyak form berbentuk tabel tabel yang dibuat dengan tangan, form form itu itu diperlukan untuk mencatat setiap perubahan temperatur, pressure dan indikasi indikasi lainnya yang dimonitor dari panel panel DCS maupun diluar di area kilang LPG. Dengan mendekati beberapa operator saya mulai melakukan pendekatan dan mangatakan saya bisa buat dengan komputer itu formulir formulir dengan cepat dan rapi. Ada dua hal yang saya lakukan satu membuat form form itu dan mencantumkan nama si operator dibagian bawahnya.

Dari form beralih ke grafik dengan Lotus 123, nama yang nyuruh buat selalu saya ketik disetiap lembaran ini semua saya lakukan jam 12 siang. Para operator dan leadernya mulai dekat dengan saya yang akhirnya berdampak baik saya tidak lagi pulang jam empat sore. Bila bos besar pulang, saya masuk ke kamar beliau menyelesaikan order-order operator dan leadernya. implikasi-nya, mereka tidak merecoki saya memakai komputer Toke besar sampai larut malam. Satu lagi kebaikan mereka, memberikan tumpangan pulang jam 12 malam besama rombongan shift mereka. Rupanya Pak Mukhtar diam diam melihat sepak terjang saya. Syukur Alhamdulillah beliau juga diam tidak melapor ke kolega supervisornya yang bule semua.

Sepandai-pandainya tupai melompat, suatu hari jatuh juga. Hari naas itu tiba seperti biasa begitu bos pergi makan siang saya lalu masuk mengerjakan order operator membuat grafik, rupanya hari itu bos tidak punya selera makan dia kembali lebih cepat dari biasanya. Karena pintu masuk ke ruang kerjanya di belakang saya, saya tidak tahu entah sudah berapa lama beliau berdiri dibelakang saya. Waktu saya berdiri melihat hasil printout saya terperangah dan berdiri kaku tak mampu bergerak sedikitpun jantung berdebar tak keruan, beliau diam saja lalu mengambil topi dan keluar melihat kilang. Saya tambah bingung.

Hari itu saya pulang dan bercerita sama istri saya. Habislah kita mungkin kita akan kembali ke Jakarta lagi. Kami berdua hanya terdiam sambil memandang satu sama lain. Besok paginya saya masuk kerja seperti biasa ambil sapu, nyapu, ngepel , buat minum dan semua rutin kerjaan saya lakukan. Jam 10, saya dipanggil si Bos besar. Jantung saya seakan mau copot. Inilah akhirnya perjalanan tukang sapu dalam benak saya. Tapi Tuhan berkata lain “Zul, can you make this?”, sambil menunjukan bentuk sebuah sketsa form dengan berbagai kolom dan header, itu lah kata pertama yang saya dengar seakan tidak percaya. Thanks God. 12 th kemudian beliau menggedor kamar hotel saya di Houston Texas sambil berkata ” God Damned. You made it, Man”.

Setahun kemuadian GS salah seorang supervisor bule, memberi saya komputer merek Tandy. Inilah komputer pertama saya. Tidak ada harddisk. Dengan adanya komputer dirumah percepatan kemampuan aplikasi komputer saya meningkat drastis.

Setelah dua tahun jadi pesuruh dengan kemampuan aplikasi komputer yang lumayan saya dipindahkan dari Clerk ke Cluster II, dan bos saya sekarang adalah Pak MA, orang Aceh. Sekarang beliau bertugas di Houston, Jasa beliau pada saya juga tak terbayar dengan memberikan keleluasaan berkreasi dengan komputer. Nama saya mulai dikenal oleh para sekretaris-sekretaris jadi tempat bertanya, bagai mana bikin ini, bagaimana bikin itu. Semakin banyak orang bertanya semakin terasah kemampuan saya. Ada yang minta tolong di buatkan, saya buat dirumah. Semuanya berdasarkan ke ihklasan. Ada yang minta tolong komputernya diperbaiki, saya tolong tanpa seperser duit pun. Ada yang minta tolong ditemani ke Medan untuk beli komputer komisi yang diberikan toko komputer dimedan tidak saya ambil malah saya suruh mengurangi harga kumputer tsb, saya bantu dengan senang hati. Kawan kawan pada menertawai saya dikasi duit kok tidak mau, hidup sendiri saja susah. Mereka barangkali tidak
atau belum tahu bahwa saya tidak suka istilah sampingan saya punya rencana besar. Kalau gaji saya sepuluh ribu, saya harus hidup dengan sepuluh ribu.

Di tempat kontrakan saya, di Cunda Lhokseumawe yang kebetulan dekat pasar yang banyak anak anak muda yang mulai tertarik bongkar pasang komputer. Mulailah saya mengajari mereka dengan persahabatan, mulai instalasi, utak atik hardware, video editing dengan software yang kemudian berbuah baik. Tidak saja mereka mampu berdiri sendiri tapi berdampak baik bagi saya dan keluarga apalagi pada saat aceh ribut ribut dengan Gam.
Hampir semua orang yang akan pindah dari aceh th 1999 didatangin oleh preman preman minta uang yang berlebihan pada saat menaikan barang ke atas truk. Giliran saya memberi uang, malah mereka menolak, bahkan beberapa yang tak pernah kelihatan tersenyum mengeluarkan air mata. Sampai hari ini persaudaraan dengan kawan kawan masih terjalin baik kalau mereka ke Jakarta selalu mengabari saya.

Sepanjang hidup saya disini pula saya pertama kali menerima parcel lebaran dari Toko accesories mobil Kawan Kita. Awalnya sang pemilik bengkel membawa komputernya yang bermasalah ke Reparasi Electronic Ayub asal Sigli yang pas didepan rumah saya. Entah kenapa ayub minta tolong agar saya melihat apa yang salah. Saya datang dan setelah otak atik tak ada yang salah. Apa yang dilakukan ayub sudah benar. Edie, orang cina dan sang pemilik bercerita , dia pingin buat program database untuk tokonya yang baru akan dibuka di Pekan Baru tapi dia tak tahu mau mulai dari mana. Saya anjurkan pakai clipper saja, tapi kamu yang ngerjain, saya akan bantu anda. Tiga bulan kemudian program pun jalan. Mungkin karena sudah disarankan oleh Si ayub bahwa saya tidak mau kalau dikasih uang, seminggu sebelum lebaran seseorang mengatar parcel kerumah. WOW! Keranjangnya besar sekali dengan kartu bertuliskan ‘Terima Kasih’ dan sebuah kipas angin yang bisa digantung di ceiling rumah.
Kipas angin itu sampai sekarang masih tergantung di ruang keluarga rumah saya dan masih aktif. Apakah ini harga untuk sebuah program inventory database clipper saya? Mudah-mudahan tidak, karena saya selalu menganggap persaudaraan jauh lebih bernilai dari uang.

Beberapa orang menyarankan agar saya pindah ke IT, saya menolak. Saya pasti tidak mampu bersaing dengan para ahli ahli IT. Tetap di technical, dengan kemampuan teknik terbatas dan bahasa inggris yang buruk tapi disupport oleh kemampuan applikasi technical software membuat saya unik sendiri. Sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui.

Berganti-ganti nama PT setiap tahun yang mengurusi para karyawan kontrak ditempatku bekerja. Masalah keterlambatan pembayaran gaji sudah jadi hal biasa. Setiap ganti PT selalu saja ada masalah baru. Bosku pun berganti semua, mereka orang orang pintar lulusan luar negeri. Aku terus belajar, kini arahnya berbeda. Semua orang mulai dari labour, operator, supervisor kutemani dengan baik dan belajar dari mereka tentang operasional. Kalau dulu jam makan siang aku belajar komputer sekarang setiap jam makan siang aku keluar bergabung dengan para labor-labor di lapangan. Bertanya ini apa, itu apa, kalau ada kesempatan ikut pula bertanya dengan kawan yang operator di lapangan, memahami prosess kerja setiap alat. Buku buku panduan mulai kubuka-buka, bila ada yang tidak tahu aku bertanya. Cita-citaku kini mau jadi operator.

Kembali ada rencana Tuhan yang aku tidak tahu. 1995, ada pegurangan pegawai besar besaran di tempatku bekerja. Para engineer dan ahli ahli banyak yang keluar karena dapat uang tolak yang cukup besar. Reorganisasi ini menciptakan departement baru, Asset Optimization namanya. Suatu sore aku ditelpon GF, ” Zul, do you want to join my team?” katanya. Dia ditunjuk sebagai Asset Optimization Manager, saya kenal beliau ketika dia datang untuk project start-up Booster Compressor. Dan dia sering datang ketempat saya minta tolong dibuatkan flow diagram dan berbagai jenis production chart untuk presentasinya.

BANG ketiga, Juni 1995. Zulkarnain Kahar resmi jadi Computer Operator, itu yang tertulis dalam selip gaji yang kuterima dari PT Kesayangan. Selamat tinggal “Clerk typist”. Cita cita jadi operator gagal total, juga tak ada dalam bayanganku bahwa lima tahun kemudian, th 2000 aku kembali Cluster ini melakukan Test beberapa sumur produksi dari Control room. Mengarahkan bapak operator yang dulu kulayani dengan membuatkan kopi mereka dan memcuci piring bekas makan mereka. Mereka dengan segala senang hati membantuku agar proses testing berjalan dengan sempurna.

Setahun jadi Computer Operator yang jauh bertentangan dengan apa yang sebenarnya kulakukan, berkutat dengan data produksi, data sumur sumur produksi hasil analisa Lab, dll. Akhirnya th 1996, Bos merubah title Jadi Reservoir Technician, masih sebagai kuli kontrak yang bergaji kecil.

Kebiasaan menolong orang yang bermasalah dengan komputer membuahkan hasil. Pak AA, salah seorang supervisor Wellhead wireline Dept. , datang menemuiku. “Zul, kamu bisa tolong Pak KN? Komputernya bermasalah tuh. Dia udah minta tolong orang IT, tapi belum juga bisa. Kalau sempat nanti malam kita kesana berdua. Kasihan bapak itu, orangnya baik”. Pak KN adalah bos nya HRD

Malamnya berdua dengan pak AA Kami kerumah beliau. Selesai mengutak atik dan sukses, Pak KN memberi uang yang dilipatnya kecil-kecil, langsung saya tolak. “Pak, saya datang kemari untuk menolong, bukan cari uang tambahan. Walaupun gaji sangat kecil, cukup untuk makan. Kalau bapak mau membantu, reviewlah kembali gaji kami, para buruh kontrak ini”. Pak AA langsung memelototi saya. Kami langsung pulang.

Implikasi dari insiden tersebut rupanya berdampak baik. Beberapa bulan kemudian seluruh kontraktor mendapat perubahan gaji dan rasionanlisasi jenis pekerjaan, dengan upah yang signifikan. Seluruh kawan-kawan bergembira tapi mereka tidak tahu apa yang ada dibalik semua itu. Hanya selang lima bulan kemudian, beliau meniggal karena kecelakaan pesawat dalam penerbangan Jakarta-Medan. Terima kasih Pak, dan selamat jalan. Now what apakah sampai disini.

Banyak orang tidak mau menginjak pedal gas nasibnya sampai kandas menembus batas tolerance kemampuannya, ada yang takut, ada pula yang dengan senang hati menerima saja apa adanya sambil berkata “Garis tangan ku sudah seperti ini”. Padahal Tuhan memberikan pilihan yang tak terbatas dan waktu yang cukup, tempat dimana fenomena sebab akibat terjadi. Bahkan di salah satu ceramahnya Qurais Sihab mengatakan manusia diberi kemampuan oleh Allah untuk memilih takdirnya sendiri dalam ruang lingkup yang ditetapkan oleh Tuhan.

Inilah sepatuku tepatku berpijak dalam mengarungi lautan kehidupan ini. Rasionalisasi karyawan kontrak menuai pro dan kontra para karyawan kontrak yang mempunyai skill khusus seperti mechanic, welder, dll terdongkrak gradenya dan naiklah gajinya dan sebaliknya karyawan yang dibesar besarkan gradenya karena koneksi dan sebagainya terjungkal dengan bayaran rendah.

Aku sendiri merasa mendapat durian runtuh karena aku adalah karyawan lokal pertama yang masuk kategory staff dan sebuah fasilitas yang tak pernah diberikan pada karyawan kontrak manapun seperti entitle pula mengunakan facsilitas pesawat perusahaan dari Lhokseumawe ke Medan termasuk juga keluargaku dengan priority empat. Bahkan mengalahkan Karyawan Tetap yang bersatus nonstaff hanya priority lima kalau saya ingin terbang sang karyawan nonstaff harus mndur. Tentu saja tidak pernah kulakukan membuat karyawan tetap tak bisa terbang. Sampai detik ini tak ada yang menanyakan ijazahku.

Hari hariku kujalani dengan berbagai cara dan strategy untuk mengisi otakku yang bodoh ini. Aku mulai hariku selalu dengan “there must be a way to improve this job”. Tersebutlah beberapa nama tempat ku belajar sambil bekerja. AHI anak muda briliant jebolan ITB, YF juga anak ITB dengan Master di NewMexico, AM dan MD jebolan Texas University dan lain lain termasuk beberapa Expatriate. Apa ini apa itu bagaimana caranya mengisi hari hariku. Dengan kemampuan Visual Basic dan Excel ku yang diatas rata dan pemahaman tentang mesin Unix yang lumayan terjadilah semacam bargaining tidak nyata. Aku mampu mensiplify tugas mereka dengan hitungan menit bahkan second sementara mereka melakukan dalam hitungan jam. Kegembiraan bapak bapak itu membuat aku semakin sibuk mengerjakan pekerjaan mereka.

Prinsipku berubah lagi “ Dimana lagi aku dapat di dunia ini bisa belajar dan dibayar pula”. dari berbagai jenis data manipulasi, plotting, transfer dan conversi. Aku mulai tertarik dengan pekerjaan Economic Evaluasi. MD beliau kini bekerja di Chevron G&G Jakarta adalah orang pertama yang mengenalkan ku pada teknik eveluasi ekonomi di dalam Production Sharing Contract yang sedang ramai dibicarakan oleh media kini.

Pekerjaan ini menyita waktu yang tidak sedikit. Pernah aku harus pulang jam empat pagi dan kembali lagi kekantor jam enam pagi, karena terlalu banyak sensitivity yang harus dilakukan untuk Project Lepas Pantai kala itu. Para toke-toke besar keesokan harinya ingin melihat berbagai scenario dan implikasinya sebelum dimajukan ke Pusat untuk persetujuan go or no go project tersebut. Suatu kredit tersendiri juga bagi ku bahwa Project tersebut disetujui dan masih beroperasi sampai hari ini dan menyumbang devisa untuk Negeri ini.

Dengan kesibukanku aku sempat ditanyai istriku”udah gajian belum”?. Holy woly sudah tanggal sepuluh rupanya aku belum mengambil gaji dari PT tempat ku bekerja. Aneh ada orang lupa gajian kata istriku. Kawan kawan sesama kontraktor selalu bertanya kenapa tidak minta jadi pegawai zul?, Emangnya ini perusahaan bapakku. I just do my best, keep learning dan tidak lupa berdoa agar diberikan rezeki yang halal supaya anak anak ku bisa sekolah tinggi and the rest is belong to God.

Kembali pada waktu. Secara definisi, waktu adalah dimensi di mana fenomena sebab dan akibat terjadi. Tidak ada waktu, tidak ada sebab dan akibat.. dan aku diberi waktu kenapa tidak aku maksimalkan. Sebab aku menerima segala bentuk pekerjaan tanpa pamrih akibatnya bos merasa harus melatihku dengan berbagai pemahaman dan merasa aku harus ikut pelatihan tentang Basic Pertoleleum Enginnering yang di adakan di Bandung 1997, Economic Risk analisis di Medan dan menyusul kemudian dengan Project Economic Evaluation June 1998 di Jakarta. Indonesia yang baru saja melakukan reformasi politik dan ekonomi secara bersamaan yang membuat kota jakarta rawan demo, Uni Sovyet hancur karena Glassnot dan Perestoika, Yugoslavia menyusul kemudian. RRT belajar dari kesalahan orang lain dan hanya melakukan reformasi ekonomi. Dan kini sovyet mulai me-rem politik reformnya dan tetap melepas ekonomic reformnya.

Pada saat mengikuti kursus Project Economic Evaluation di Jakarta saya ditelpon dan disuruh pulang dengan menumpang pesawat perusahaan dari Halim langsung ke Lhoksukon. Sesampai di Halim ternyata penumpang pesawat hanya berdua saja, saya dan orang nomor satu di Arun Field. Hampir empat jam terbang dengan pesawat kecil tersebut sepanjang perjalanan saya optimalkan komunikasi dengan sang penguasa tersebut. Pembicaraan hanya seputar pekerjaan saya tentang manfaat kursus yang baru saja saya ikuti. Saya selalu mengarahkan pembicaraan seputar pekerjaan sampai pesawat landing di Lhoksukon.

Keesokan harinya saya ambil cuti selama dua minggu. Hari pertama kembali dari cuti saya ditelpon ole Pak HP orang HRD, ada apa gerangan kembali jantung saya berdebar keras apa lagi ini, apa saya salah ngomong pula dengan toke besar itu dipesawat maklumlah bahasa inggris saya hancur.

Ternyata pak hendrik menyodorkan formulir yang harus diisi oleh seorang calon pegawai regular. Saya berdiri seperti patung tangan seakan kaku tak mampu digerakan jangankan untuk mengisi furmulir mengangkat tangan saja tidak mampu. Formulir di-isi, disitu tercamtum efective tanggal 1 july 1998 saya resmi sebagai karyawan kontrak langsung atau first party kontrak, gaji saya dibayar oleh Perusahaan tidaklagi oleh PT PT lokal. Salah satu keanehan isi kontrak itu adalah saya beserta seluruh keluarga saya berada dalam tanggungan Perusahaan semua fasilitas kesehatan dan benefid lainnya saya tidak berbeda dengan pegawai tetap.

Jakarta, December 2000, Perusahaan temopat saya bekerjabaru saja menyelesaikan process merger dan menjadi perusahaan minyak terbesar dimuka bumi ini. Hari itu pula saya direkrut jadi karyawan penuh. Beberapa teman secara bercanda berkata hansip langsung jadi kapten. Sejak tahun 1991 tidak pernah ada rekrutment pegawai oleh boleh dibilang saya adalah ice breaker pad waktu itu. Sejak saat itu berkali kali saya dapat pelatihan pelatihan keluar negeri.

Hari ini 28 july 2008 jam lima sore saya dipanggil mengehadap bos. “You are transfer to Head Quarter as a Global Company Resourse”. Report to CV. You will be made a lot of travel around the world zul. dst dst… Another “BANG” untuk si padang . Sepanjang Tuhan masih memberikanku waktu, I will do my best….for my self and for the others.

Wassalam
Zulkarnain Kahar

About these ads

14 thoughts on “Perang Si Padang (Kisah Nyata)

    ahisyna said:
    7 Oktober 2008 pukul 12:09

    Luar biasa !!! Saya adalah salah satu saksi sepenggal kisah dari dahsyatnya perjalanan hidup bang Zul ini. Tak disangka apa yang saya pernah dengar langsung dari beliau 10 tahun yang lalu hanya sekelumit kecil saja. Semoga pengalaman hidup beliau ini jadi penyemangat bagi semua terutama saya pribadi … bahwa kerja keras teriring doa akan mampu membawa kita ke takdir yang lebih baik. Saya akan sampaikan kisah hebat ini ke anak-anak saya. Terima kasih bang Zul.

    Salam takzim dari saya,
    Alex (anak Dumai yang kesasar di Doha)

    Risman said:
    13 November 2008 pukul 13:23

    Subhanalloh…! Sungguh sebuah cerita Nyata yg me-motivasi kita untuk berusaha lebih baik dari hari ini dan Yakinlah dengan perjuangan yg keras, ikhlas, tabah dan tawakal kepada Allah SWT akan membuahkan kasil yg maksimal.

    Sukses selalu untuk pak Zulkarnain dan keluarga.
    Website ini saya temukan dari cerita salah satu saksi hidup perjalanan pak Zul yg disebutkan oleh pak ZUL diatas….

    Wassalam,

    Risman
    Dukhan State of Qatar

    jelitar said:
    10 Desember 2008 pukul 18:16

    Luar biasa. tak jauh berbeda dengan saya. Walau saya tak pernah menamatkan pendidikan di Universitas tapi Alhamdulillah saya terpilih sebagai penasehat Ahli untuk negara Besar seperti China. Terlbat dengan masalah yang pelik dibidang investasi, perdagangan dan keuangan, berinteraksi dengan lulusan terbaik Universitas di Dunia. Namun saya tetaplah orang Indonesia, putra minang yang pernah merasakan sejuknya embun pagi dan air danau maninjau. Inilah budaya minang yang kekal didalam sanubari putra minang ” Merantaulah buyung dahulu, dikampung berguna belum ” Saya yakin tak terbilang putra minang yang seperti itu. Melintasi banyak negara dan menjadi obor penerangan bagi banyak orang. Dimana bumi dipijak disitu langit di junjung…yang pasti kami rindu kampung dan rindu negeri kami dan berharap suatu saat pulang untuk berkarya ” anak dipangku kemanakan dibimbing orang kampung dipatenggangkan..salam untuk Uda Kahar..

    chairuman said:
    11 Februari 2009 pukul 18:58

    Subhanallah….
    sebuah kisah yang penuh dengan makna. sangat memacu saya untuk bisa melakukan yang terbaik dalam hidup.

    mulky said:
    1 Agustus 2009 pukul 14:09

    allahu akbar, luar biasa..

    bekerja tanpa pamrih, mengutamakan persaudaraan, kemauan belajar yang tidak pernah terputus, mencintai pekerjaan diiringi mimpi untuk dapat lebih baik dan lebih dari itu keyakinan yang tinggi serta rasa berserah diri pada penguasa semesta telah menjadikan sebab – sebab hampir tidak berkutik..

    saya telah menemukan selaksa mutiara mutiara penyemangat dalam setiap rekam hidup beliau, mantan janitor yang dengan sebab sebab diatas mampu bersanding manis dengan para alumni universitas universitas terkemuka dimuka bumi..??

    saya yakin diusianya yang hampir di kepala lima saat ini, uda masih akan mampu menyatukan ramuan kerja keras dan keberuntungan menjadi keajaiban keajaiban di masa mendatang..

    amin

    Riadi Tanjung said:
    17 Oktober 2009 pukul 21:35

    Sebuah perjalanan hidup yang penuh liku, keras, melewati tanjakan yang begitu tajam, menembus batuan cadas yang keras, dan dengan usaha (kerja keras) dan doa ternyata sibalik semua itu ada ada nikmat Allah yang begitu besar…
    moga bisa jadi inspirasi bagi yang membaca..Amin

    Sjamsir Sjarif said:
    10 Agustus 2010 pukul 06:11

    Saya lihat pesan SMS saya waktu mengetik ini ternyata saya sent jam 01:29PM Monday August 09, 2010. Setelah saya kairim SMS itu saya dapat website ini, langsung saya baca non-stop. Makan waktu lebih dari satu setengah jam, jelasnya, 95 menit. Yah Tuhan Allah Subhanahuata’ala Maha Besar. Itulah kalimat keluar dar imulut saya selesai membaca Kisah ini. SMS itu mengucapkan selamat dalam perjalanan dari San Francisco ke Salt Lake City. Saya menerka mereka waktu itu kira-kira mendekati LakeTahoe.

    Saya baca dengan penuh mixed feeling, rasa sedih bercapur duka, bahagia dan kagum dengan Kisah Kehidupan Nyata dari seorang yang baru saya jumpa pribadi Jam 6:00PM hari Sabtu kemarin dulu. Hari Sabtu itu, jam 8 pagi saya dapat call dari Los Angeles, “MakNgah, saya di LA. Kami akan ambil Hy-1 menyusyur pantai barat. InsyaAllah akan sampai di Santa Cruz jam 8:00 malam nanti.”

    Setelah sampai di Santa Cruz, California, jam 6:00 sore, kami pun berangkulan selamat datang berurutan dengan Angku Zul, Santi, isteri beliau, Lisa si gadis cantik 16 tahun multilingual, dan Adam kakak Lisa. Kami langsung berbahasa Minang, Bahasa Kampuang kami yang tidak pernah terupakan. Betapa mesranya pertemuan ini. Kenapa tidak. Selama beberapa tahun ini kami hanya kenal dengan komunikasi saling berposting di Mailing Liist kami “Rantaunet”. Saya noticed posting Angku Zul Pertama kali dari Angola, Africa, beberapa tahun yang lalu. Saya langsung hubungi dengan jalur pribadi, mudah-mudahan kita berjumpa, kalau tidak di Angola, entah di mana. Sekarang dengan bimbingan dan lindunganIlahi Angku Zul sampai di Santa Cruz berempat sekeluarga, dengan sengaja mampir menjelang MakNgah [begitu panggilan saya di Rantaunet].

    Dari posting-posting Angku Zul yang pertama di Rantaunet saya sudah menyimpulkan beliau merupakan suatu sosok unik yang tiada duanya. Itulah sebabnya saya merasa berbahagia sekali dapat menemukan website ini dan dapat mengkonfirmasi apa yang saya bayangkan dalam kenangan posting-poosting di Rantaunet itu. Menghubungakn dan mempererat silaturrahim adalah salah satu tujuan Rantaunet. Lagi, untuk sekian kali dalam pengalaman para anggotanya, Rantaunet telah membuktiikan lagi misinya yang berharga ini.

    Di Santa Cruz kami dinner di Crow’s Nest di pinggir pantai indah “di Tapai Riak nan Badabua”. Terima kasih atas kunjungannya; kita bersyukur kepada Ilahi Rabbi , Allah subhanahuata’ala yang telah mempertemukan kita.

    Salam,
    –MakNgah
    Sjamsir Sjarif
    Santa Cruz, Caliifornia, USA

    asnul nazar said:
    19 Agustus 2010 pukul 10:12

    That’s great story

    amir hamzah said:
    27 Agustus 2010 pukul 01:37

    Tarimokasih mak ngah nan alah meantaan ambo ka kisah hiduik pak zul nan bana2 panuah inspirasi kok,,,

    Mudah2an ambo lai lo bisa saketek manaladani jalan iduik baliau nan positif.

    dosko said:
    7 April 2011 pukul 17:45

    wewww, bner-bener luar biasa. “waktu adalah dimensi di mana fenomena sebab dan akibat terjadi”, like this

    Sarah Youl Zulkarnain said:
    3 Juni 2011 pukul 06:52

    Ayah saya juara satu! :)

    mazuardi said:
    14 Juli 2011 pukul 22:57

    Allahuakbar,merinding rasanya tubuh ini dan kalau tidak kutahan mungkin air mata ini sudah meleleh dipipi ini,suatu kisah nyata yang menakjubkan, ya Allah mungkinkah aku bisa seperti uda zulkarnain,aku mohon kepada Engkau ya Allah semoga kisah nyata yang saya baca ini menjadi motivasi dan inpirasi untuk mengarungi samudra kehidupan ini. seperti kata-kata bijak ” kalau kita keras pada kehidupan maka kehidupan itu akan lunak,tapi kalau kita lunak pada kehidupan maka kehidupan itu akan keras kepada kita.Walupun semua yang terjadi atas kehendak Illahi namun tanpa keja keras dan ikhtiar mustahil kita memperoleh kesuksesan.salamaik uda Zul,doakan ambo dalam berjuang,sehingga dapat pulo ambo bacarito di forumko nantinyo.Amin.!

    Adam Zulkarnain said:
    3 November 2011 pukul 19:02

    bapak saya emang paling paling, mudah mudahan buah jatoh ga jauh dari pohonnya :) aminn

    Fakhrurrazi Nourman said:
    15 Desember 2012 pukul 07:37

    Great………Saya jadi ingat beliau ketika OS windows masih belum populer di tempat saya kerja. Saya datang ke rumah kontrakan beliau di Cunda dan belajar computer dari Compu pribadi beliau. Karena OS nya berbeda (yg di kantor masih pakai DOS) sya jadi susah makainya.

    Istr beliau, (Kak Sinta?), adalah sosok yang sangat ramah, sopan dan tegas. Yang buat saya malu (dan pingin lagi) adalah, ketika istrinya berkata : “Dek, ini Mie goreng dan Teh manis, nikmati aja, santai… Kalau mau apa-apa…ini kulkas dan ini dapurnya, anggap aja rumah sendiri (padahal saya sudah merasa berada seperti di restoran)”.

    Oh ya…ketika saya “hung” dan ngga tahu lagi cara ememakai Compunya, saya langsung ke Telpon Umum di seberang jalan (waktu itu hp masih barang langka dan unik), saya tinggal kau “Si Padang Kriboo” ini. Tapi syaratnya ya bawa kertas dan Ballpoint. Karena “Sang Preman” ini kalau bicara tentang Compu bakal nyerocos seperti M-16″.

    Yang palingberkesan….ketika saya memintya tolong belaiu memprintkan sebuah rangkaian puisi untuk pacar saya (sekarang sudah jadi “mantan pacar”/istri), dimana pada saat itu printer warna masih merupakan barang mewah dan windows masih “balita”.

    “Ogy and Adam”…..Buah jatuh ngga bakal jauh dari pohon….kecuali ada badai atau tsunami.hehehee

    Bro…..Selamat…..Wishing your continue success……………..Fakhrurrazi Nourman.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s