Setelah lama menanti, akhirnya malam ini acara “The Candidate” ditayangkan oleh Metro TV sejak jam 19.35-20.30 barusan. Prof. Yusril Ihza Mahendra diuji oleh tiga panelis kawakan Indria Samego, Bustanul Arifin dan pengamat politik urang awak Andrinof Chaniago peneliti senior The Habibie Center. Selain itu besok malam, Pak Yusril juga akan muncul di Metro Tv di serial Kick Andy yang mengupas pembuatan film Laksaman Cheng Ho. Keesokkan harinya, Sabtu malam pemirsa bisa menikmati acting Pak Yusril lewat Film Kolosal “Laksamana Cheng Ho” juga di Metro Tv.
Banyak pertanyaan yang disampaikan mulai dari masalah hukum, ketahananan energi dan pangan, penyusunan kabinet, menikah lagi, kemandirian ekonomi dan seputar kerja presiden yang diajukan kepada Pak Yusril. Jawaban tentang bisa pembaca lihat di blog Pak Yusril. Yang menarik bagi saya adalah pernyataan beliau tentang mahasiswa. Mahasiswa selepas kuliah, binggung mencari pekerjaan. Yang pertama dia cari adalah backingan dari pejabat. Kalau dia anak HMI maka cari pejabat yang dulu juga HMI. Kalau dia aktivis GMNI maka dicarinya pejabat yang dari GMNI. Saya hanya bisa tersenyum. Karena demikianlah realita yang ada. Kedekatan emosional masih mempengaruhi paradigma berpikir.
Maka tak salah kata beliau, banyak ibu-ibu di kampungnya yang marah dan ngomel sama Ibu Pak Yusril karena anaknya tak bisa dicarikan kerja atau diterima di UI. Percuma saja Yusril itu jadi pejabat, kalau tak bisa meloloskan anak kita di instansi dan perguruan tinggi. Begitulah beratnya gelombang nepotisme yang menjangkiti bangsa ini. Kasus terakhir yang saya alami erat kaitan dengan ini. Beberapa waktu yang lalu saya menghadiri Bedah Buku yang dilaksanakan oleh BEM KM UGM dengan menghadirkan Fajroel Rachman dan Yuddy Crisnandy. Di pamlet panitia mengatakan akan memberikan buku gratis kepada peserta yang datang duluan. Buru-buru saya datang satu jam sebelum acara dimulai. Dalam absen nama saya masuk peserta yang datang 50 awal. Tapi ternyata ngak kebagian buku. Malahan saya melihat panitia ketawa-tawa karena udah dapat buku. Dan mereka cuma berkilah bahwa jatah buku sudah habis. Heran deh… Tapi untung saja saat itu, Pak Yuddy sang penulis buku menjanjikan akan mengirimkan buku sebanyak peserta yang datang di sore itu. Namun sampai sekarang belum jua terealisasi.
Hal kedua yang menarik bagi saya adalah keyakinan Pak Yusril akan kesempurnaan Islam. islam dulu, sekarang dan yang di masa yang akan datang akan terus mewarnai perjalanan bangsa ini. Sebenarnya inilah yang paling saya suka dari politisi Islam. Sebagaimana tokoh yang mempengaruhi pemikiran politik beliau yakni Negarawan terkemuka negeri ini, Moehammad Natsir.
Saya menilai, dengan pengalaman dan intelektualitasnya, Pak Yusril menyadari problem bangsa ini sungguh kompleks. Tidak seperti kandidat presiden yang lain nan cendrung berapi-api menawarkan solusi baru, sebagai pemain lama saya melihat Pak Yusril telah bisa merumuskan apa yang akan dilakukan. Kalau kandidat lain saya melihat lebih cendrung masih meraba-raba.
Meski polling sms yang ditayangkan oleh Metro di akhir acara menempatkan Yusril di nomor paling buncit dan Fajroel Rachman di posisi pertama, saya melihat ini tidaklah menunjukan representasi dari pilihan publik.
Demikianlah acara The Candidate untuk malam hari ini. Pembaca sekalian bisa menyaksikan kembali acara ini tiap Kamis malam (19.30 – 20.30) di Metro TV. Buat Pak Yusril, TERUSLAH BERJUANG UNTUK RI SATU. MUDAH-MUDAHAN CAHAYA ISLAM BISA MENERANGI BANGSA YANG SEDANG DIRUDUNG DERITA INI. AMIIN

