Studi Agama-Agama

Posted on


Tantangan terbesar yang diakibatkan oleh kaum orientalis diantaranya juga dalam bidang studi agama-agama, dengan mengembangkan epistemology relativisme dalam memandang kebenaran agama-agama. Selama ratusan tahun, para ulama Islam telah mengembangkan studi perbandingan agama, yang berangkat dari keimanan Islam, bahwa hanya Islam satu-satunya agama yang benar dan yang diterima Allah SWT (QS. 3:19, 85). Metodologi studi semacam itu kini digugat, dipandang subjektif, menerapkan standar ganda, dan tidak objektif. Sarjana Muslim kini banyak yang mengambil metodologi para orientalis dalam studi agama-agama dengan menempatkan Islam sebagai objek kajian dan penelitian yang sejajar dengan semua agama yang ada.

Prof. Jacques Waardenburg menyatakan: “Saya ingin menunjuk dua problem mendasar bagi perkembangan studi agama-agama di dunia Islam. Problem pertama adalah adagium bahwa Islam adalah agama final dan benar.” Prof. Wilfred Cantwell Smith, pendiri Islamic Studies di Mc Gill University menyatakan : “Pernyataan tentang suatu agama tidaklah valid kecuali benar-benar diakui oleh pemeluk agama tersebut.” (Dikutip dari artikel Dr. Anis Malik Thoha, “Religionswisenschaft, antara Objektivitas dan Subjektivitas Praktisinya”, Majalah Islamia edisi 8/2006).

Perubahan metodologi studi agama-agama di perguruan tinggi dengan memasukan metode orientalis sudah dilakukan sejak 1973 di Ciumbuluit Bandung, Departemen Agama RI memutuskan: buku “ Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya” (IDBA) karya Prof. Dr. Harun Nasution direkomendasikan sebagai buku wajib rujukan mata kuliah Pengantar Agama Islam – mata kuliah komponen Institut yang wajib diambil oleh setiap mahasiswa IAIN. Tokoh utama dalam hal ini adalah Prof. Dr. Harun Nasution. Karena ada instruksi dari pemerintah (Depag) yang menjadi penaung dan penanggung jawab IAIN – IAIN, maka materi dalam buku Harun Nasution itu pun dijadikan bahan kuliah dan bahan ujian untuk perguruan swasta yang menginduk kepada Departemen Agama.

Pada tanggal 3 Desember 1975, mantan Guru Besar di McGill University Prof. HM. Rasjidi, yang juga Menteri Agama pertama, sudah menulis laporan rahasia kepada Menteri Agama dan beberapa eselon tertinggi di Depag. Dalam bukunya, Koreksi terhadap Dr. Harun Nasution tentang ‘Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya’, Prof. Rasjidi menceritakan isi suratnya:

“Laporan Rahasia tersebut berisi kritik terhadap buku Sdr. Harun Nasution yang berjudul Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya. Saya menjelaskan kritik saya fasal-demi fasal dan menunjukkan bahwa gambaran Dr. Harun tentang Islam itu sangat berbahaya, dan saya mengharapkan agar Kementrian Agama mengambil tindakan terhadap buku tersebut, yang oleh Kementrian Agama dan Direktorat Perguruan Tinggi dijadikan sebagai buku wajib di seluruh IAIN di Indonesia.” (HM. Rasjidi, Koreksi terhadap Dr. Harun Nasution tentang ‘Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya’, Jakarta: Bulan Bintang, 1977. Hal 1).

Selama satu tahun lebih surat Prof. Rasjidi tidak diperhatikan. Rasjidi akhirnya mengambil jalan lain untuk mengingatkan Depag, IAIN, dan umat Islam Indonesia pada umumnya. Setelah nasehatnya tidak diperhatikan, ia menerbitkan kritiknya terhadap buku Harun. Maka, tahun 1977, lahirlah buku Koreksi terhadap Dr. Harun Nasution tersebut.

Nasehat Prof. Rasjidi sangat penting direnungkan saat ini, mengingat buku IBDA karya Harun Nasution itu memang penuh dengan berbagai kesalahan fatal, baik secara ilmiah maupun kebenaran Islam. Misalnya, tentang hadist Nabi Muhammad saw, Harun menulis: “Berlain halnya dengan Al Qur’an, hadist tidak dikenal dicatat tidak dihafal di zaman Nabi… Karena hadist tidak dihafal dan tidak dicatat sejak semula, tidaklah dapat diketahui dengan pasti mana hadist yang betul-betul berasal dari Nabi dan mana hadist yang dibuat-buat… tidak ada kesepakatan kata antara umat Islam tentang keorisinalan semua hadist dari Nabi.” (Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jakarta: UI Press, 1986, Jilid 1, hal 29)

Sekilas saja mencermati kata-kata tersebut, jelas sangat keliru, sebab banyak sahabat yang sejak awal sudah mencatat dan menghafal hadist Nabi saw. Juga, tidak benar, bahwa umat Islam tidak pernah bersepakat tentang otentisitas hadist Nabi. Kata-kata Harun itu jelas hanya upaya meragu-ragukan hadist Nabi sebagai pedoman kaum Muslim setelah Al Qur’an. Prof. Musthafa Azhami, dalam disertasinya di Cambridge, berjudul “Studies in Early Hadith Literature” membuktikan proses pencatatan hadist sejak zaman Nabi, disamping proses hafalannya.

Kesalahan yang sangat fatal dari buku IDBA karya Harun adalah dalam menjelaskan tentang agama-agama. Di sini, Harun menempatkan Islam sebagai agama yang posisinya sama dengan agama-agama lain, sebagai evolving religion (agama yang berevolusi). Padahal, Islam satu-satunya agama wahyu, yang berbeda dengan agama-agama lain, yang merupakan agama sejarah dan agama budaya (historical dan cultural religion). Harun menyebut agama-agama monoteis – yang dia istilahkan juga sebagai ‘agama tauhid’ – ada empat, yaitu Islam, Yahudi, ,Kristen dan Hindu. Ketiga agama pertama, kata Harun, merupakan satu rumpun. Agama Hindu tidak termasuk dalam rumpun ini. tetapi, Harun menambahkan, bahwa kemurnian tauhid hanya dipelihara oleh Islam dan Yahudi. Kemurniaan tauhid agama Kristen dengan adanya paham Trinitas, sudah tidak terpelihara lagi (Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jakarta: UI Press, 1986, Jilid 1, hal 15-22).

Apakah benar agama Yahudi merupakan agama dengan tauhid murni sebagaimana Islam? Jelas pendapat Harun itu sangat tidak benar. Kalau agama Yahudi Ahlul Kitab? Kesimpulan Harun itu jelas sangat mengada-ada. Sejak lama Prof. HM Rasjidi sudah memberikan kritik keras, bahwa: :Uraian Dr. Harun Nasution yang terselubung uraian ilmiyah sesungguhnya mengandung bahaya bagi generasi Islam yang ingin dipudarkan keimanannya.” (HM Rasjidi, op.cit, hal 24).
Tetapi, kritik-kritik tajam Prof. Rasjidi seperti itu tidak digubris oleh petinggi Depag dan IAIN, sehingga selama 32 tahun, buku IDBA dijadikan buku wajib dalam mata kuliah pengantar Studi Islam di perguruan-perguruan tinggi Islam di Indonesia. Padahal, kesalahannya begitu jelas dan fatal. Malah, bukannya bersikap kritis, banyak ilmuwan yang memuji-muji Harun Nasution secara tidak proporsional (Lihat, Abdul Halim (ed), Teologi Islam Rasional, (Ciputat Press, 2005, hal xvi-xvii).

Kini, metode kajian agama yang berbasis pada epistemology relativisme kebenaran dikembangkan di berbagai kampus Islam. Sadar atau tidak. Sebagai contoh sebuah buku berjudul “Ilmu Studi Agama” untuk mahasiswa Fakultas Ushuluddin di UIN Bandung, ditulis:
“Setiap agama sudah pasti memiliki dan mengajarkan kebenaran. Keyakinan tentang yang benar itu didasarkan kepada Tuhan sebagai satu-satunya sumber.” (hal. 17)…”Keyakinan bahwa agama sendiri yang paling benar karena berasal dari Tuhan, sedangkan agama lain hanyalah konstruksi manusia, merupakan contoh penggunaan standar ganda itu. Dalam sejarah, standar ganda ini biasanya dipakai untuk menghakimi agama lain, dalam derajat keabsahan teologis di bawah agamanya sendiri. Melalui standar ganda inilah, terjadi perang dan klaim-klaim kebenaran dari satu agama atas agama lain.” (hal. 24)… Agama adalah seperangkat doktrin, kepercayaan, atau sekumpulan norma dan ajaran Tuhan yang bersifat universal dan mutlak kebenarannya. Adapun keberagamaan, adalah penyikapan atau pemahaman para penganut agama terhadap doktrin, kepercayaan, atau ajaran-ajaran Tuhan itu, yang tentu saja menjadi relative, dan sudah pasti kebenarannya menjadi bernilai relative. (hal. 20) (Adeng Muchtar Ghazali, Ilmu Studi Agama, Bandung: Pustaka Setia, 2005).

Dampak penggunaan epistemology relativisme dalam pendekatan studi agama – dengan menghilangkan aspek keyakinan pada kebenaran agama sendiri – sangatlah besar dalam cara pikir dan cara pandang terhadap kebenaran. Epistemology relative ini telah cukup luas menyebar, sehingga banyak yang menyatakan bahwa semua agama adalah sama, semuanya jalan menuju kebenaran, dan jalan yang berbeda-beda menuju Tuhan yang sama. Padahal, sebagaimana telah dikutip pernyataan pernyair terkenal Pakistan, Moh. Iqbal, bahwa jika manusia kehilangan keyakinan, maka itu lebih buruk dari perbudakan (Lack of conviction is worse than slavery).

Tantangan yang serius dari metode studi agama gaya orientalis, misalnya ditandai dengan program studi agama-agama untuk tingkat doctor (Ph.D) di Yogyakarta (Inter-Religious International Ph.D Program), yang merupakan hasil kerjasama UGM, UIN Sunan Kalijaga dan Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW). Ketiga kampus itu bekerjasama membentuk satu konsorsium yang diberi nama “Indonesian Concortium for Religious Studies” (ICRS – Yogya).

Program yang dipimpin oleh Prof. Dr. Bernard Adeney – Risakotta ini selain bertujuan untuk mempelajari lebih mendalam tentang keberagamaan agama di Indonesia, jug bertujuan untuk member pencerahan bagi masyarakat Indonesia agar tidak terjebak dalam fanatisme sempit (Kompas, 7 Oktober 2006). Menurut Prof. Bernard, ICRS Yogya merupakan konsorsium pertama yang mengabungkan universitas-universitas dengan semangat saling percaya untuk belajar satu sama lain tentan keberagaman agama di Indonesia. “Program doctor ini akan mengkaji semua agama-agama di Indonesia melalui dialog dan pendekatan ilmu sosial sekuler, studi agama perspektif Islam, dan tradisi ilmu teologi Kristen. Agama-agama lain juga diteliti melalui pendekatan masing-masing yang diperkaya dengan dialog lintas agama, ujarnya.

Program doctoral studi lintas agama ICRS ini menawarkan tiga areas kajian, yaitu: (1) Cultural and Historical Studies of Religion (2) Religion, Social Theory and Contemporary Issues, dan (3) Comparative Interpretation of Sacred Texts. Disebutkan dalam brosur program ini, dalam kajian agama-agama versi ICRS Yogya, misalnya mahasiswa akan diajak untuk mendengarkan paparan tentang berbagai sejarah agama di Indonesia ditinjau dari berbagai perspektif dan diajar oleh para dosen dari berbagai disiplin dan berbagai agama. Sebagai contoh, para mahasiswa akan mendengarkan sejarah agama-agama di Indonesia dari agama Budha, Hindu, Islam, Kristen, juga dari kaum yang aspirasinya terabaikan (forgotten voices) seperti “indigenous Indonesian religions (agama suku)” dan kelompok-kelomok terlarang (forbidden groups). Diantara dosen tamu yang dicadangkan member kuliah adalah Prof. Dr. Nasr H. Abu Zaid (Utrecht, ISIM), Prof. Dr. Abdullah A. An Na’im, dan Dr. Khaled M Abou El Fadl (UCLA).

Oleh: Adian Husaini, M.A. (Kandidat Doctor ISTACS IIUM Malaysia, Dosen Pasca Sarjana Pusat Studi Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia)

About these ads

10 thoughts on “Studi Agama-Agama

    1. Studi Agama-Agama adalah sama dengan menyampaikan RISALAH TUHAN / RISALAH ALLAH sesuai Al Maidah (5) ayat 67, Al An Aam (6) ayat 124,125, Al A’raaf (7) ayat 62,68,79,93,144, Al Ahzaab (33) ayat 38,39,40, Al Jinn (72) ayat 23,26,27,28. (isinya skema tunggal yang disusun sejak Adam sampai kiamat yang disyiarkan oleh nabi-nabi mengikuti syiar-syiar Allah pada Baitullah dan sekitarnya atau manasik haji sesuai Al Baqarah (2) ayat 125, Ali Imran (3) ayat 96,97, Al Maidah (5) ayat 97).

    2. Studi Salah Satu Agama adalah sama dengan menyampaikan RISALAH SALAH SATU NABI / RASUL sangat dilarang dan adalah benar-benar kafir sesuai An Nisaa (4) ayat 150,151,152.

    3. Untuk mengerti penjelasannya manusia wajib menunggu-nunggu dan tidak melupakan datangnya Allah menurunkan HARI TAKWIL KEBENARAN KITAB sesuai Al A’raaf (7) ayat 52,53.

    4. Untuk menjelaskan semuannya secara total, kami telah menerbitkan buku panduan terhadap kitab-kitab suci agama-agama berjudul:

    “BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
    berikut 4 macam lampiran acuan:
    SKEMA TUNGGAL ILMU LADUNI TEMPAT ACUAN AYAT KITAB SUCI TENTANG KESATUAN AGAMA (GLOBALISASI)”
    hasil karya tulis ilmiah otodidak penelitian terhadap isi kitab-kitab suci agama-agama selama 25 tahun oleh:
    “SOEGANA GANDAKOESOEMA”
    dengan penerbit:
    “GOD-A CENTRE”
    dan mendapat sambutan hangat tertulis dari:
    “DEPARTEMEN AGAMA REPUBLIK INDONESIA” DitJen Bimas Buddha, umat Kristiani dan tokoh Islam Pakistan.

    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

    Kepada yang mulia Adian Husaini M.A.,

    1. Didalam ulasan diatas anda baru menyampaikan Ali Imran (3) ayat 19,85 saja.

    2. Coba perhatikan: Ali Imaran (3) ayat 19,81,82,83,85, Al Miadah (5) ayat 3, Al Hajj (22) ayat 78, Al Baqarah (2) ayat 208 dan An Nashr (110 ) ayat 1,2,3.

    3. Pertanyaannya;
    1. Apakah yang disebut agama disisi Allah adalah Islam yang mengalami masa muslimin sesuai Al Baqarah (2) ayat 132, Ali Imran (3) ayat 102, Al A’raaf (7) ayat 126, Yusuf (12) ayat 101, Muhammad (47) ayat 34, At Taubah (9) ayat 125.
    2. Apakah Agama Allah sesuai Ali Imran (3) ayat 83 (semuanya apa yang dilangit dan bumi sujud kepadanya suka rela atau terpaksa dukungan Fushshilat (41) ayat 11).
    3. Agama Allah tempat manusia berbondong masuk kepadanya berbondong-bondong dengan kemenangan sesuai An Nahsr (110) ayat 1,2,3 (kapankan ini terjadi pada awal millennium ke-3 masehi).

    Kalau anda mengerti ini semuannya ini, berarti anda mempergunakan I.Q. nya Nabi Susi Muhammad saw. hari ini.
    Silahkan membahas Islam sejak Adam sampai kiamat (syariat kiamat sesuai Al Jaatsiyah (45) ayat 16,17,18)

    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembararu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

    Sedang pengertian Allah menciptaan langit dan bumi didalam kitab suci, kebiasan manusia diarahkan kepad penciptaan benda-beda dan lain-lain yang berada diangkasa selurunhnya.
    Padahal yang dimaksud oleh Nabi Suci adalah susunan penciptaan agama-agama sejak Adam sampai kiamat disebut langit dan bumi yang biasa dibinasakan oleh nafsu manusia sesuai Al Mu’minuun (23) ayat 71:
    1. Langit sebanyak 7 sesuai Al Baqarah (2) ayat 29.
    2, Lanigit dekat 1 sesuai Fushshilat (41) ayat 12, Ash Shaffat (37) ayat 6, Al Mulk (67) ayat 5.
    3. Bumi terbelah sesuai Qaaf (50) ayat ayat 44, Ar Ra’ad (13) ayat 31 atau bumi didanti dengan yang lain sesuai Ibrahim (14) ayat 48.
    4. Langit digulung sesuai Al Anbiyaa (21) ayat 104.
    5. Bumi digenggam sesuai Az Zumar (39) ayat 67.
    6. Langit dan bumi asalnya satu sesuai Al Anbiyaa (21) ayat 30 (pengertiannya umat asal satu umat kembali kepada satu umat sesuai An Nahl (16) ayat 93, atau asal dari ilmu Adam sesuai Al Baqarah (2) ayat 30-39, kembali kepada ilmu Adam sesuai Al A’raaf (7) ayat 27, Thaha (20) ayat 117, maka oleh kerena itu kewajiban manusia mencari Ilmu Pengetahuan Agama Ajaran Adam yang dapat membawa kepada sorga kesatuan agama sesuai maksud An Nashr (110) ayat 1,2,3.)
    7. Langit dan bumi dihubungkan dengan bahasa dan warna kuli sesuai Ar Ruum (30 ayat 22.
    8. Khalifah dibumi sama dengan rahasia langit dan bumi sesuai Al Baqarah (2) ayat 30,33.
    9. Langit dan bumi diciptakan dalam 2 masa sesuai Fushshilat (41) ayat 9,12.
    10. Langit dan bumi diciptakan dalam 4 masa sesuai Fushshilat (41) ayat 10.
    11. Langit dan bumi diciptakan dalam 6 masa sesuai Al A’raaf (7) ayat 54, Yunus (10) ayat 3, Huud (11) ayat 7, Al Furqaan (25) ayat 59, AsSajdah (32) ayat 4, Al Hadiid (57) ayat 4.
    12. Kepada langit dan bumi diwahyukan sesuai Fushshilat (41) ayat 12.
    13. Penciptaan kepercayaan, keyakinan diantara keduanya langit dan bumi itu sesuai Al Hijr (15) ayat 85, Maryam (19) ayat 65, Ruun (30) ayat 8 dll.
    14. Yang ghaib dilangit dan bumi sesuai An Naml (27) ayat 75,87, Al Kahfi (18) ayat 26, Huud (11) ayat 123 Al Furqaan (25) ayat 16 dll.
    15. Bumi diwariskan kepada orang shaleh sesuai Al Anbiyaa (21) ayat 105, dan banyak lagi hal-hal yang berhubungan dengan langit dan bumi dan dapat dicari oleh saudara!
    Ilmu Pengetahan Persepsi Tunggal Agama seperti inilah yang wajib dicari agar semua umat beragama tidak berselisih dan tidak pecah-belah didalam agam sebanyak 73 firqah, sesuai Ar Ruum (30) ayat 32, Al Mu’minuun (23) ayat 53,54 (sesat), An Nahl (16) ayat 93, An Nashr (110) ayat 1,2,3 (menang).
    Demikianlah penjelasan kami, mohon maaf apabila salah?

    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Perspepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

    Kalau manusia sungguh-sungguh menginginkan Berstudi Agama-Agama, tidak ada duanya dan mutlak wajib melaksanakan perintah Allah didalam Yunus (100) ayat 94: Maka jika kamu (Muhammad dan umatnya) dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepad orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu (kitab perjanjian lama dan baru, Weda, Tipitaka, Su Si dan lain sebagainya seperti dahulu nabi Muhammad saw. menanyakan kepada Waraqah bin Naufal bin Asab bin Abdul Uzza, seorang nasrani anak paman Hadijah isteri nabi). Sungguh telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu (sejak Adam sampai kiamat), sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.
    Prinsip mutlak nabi Muhammad saw. seperti ini wajib diikuti oleh umat Islam era globalisasi, bahkan oleh semua umat beragama, sebagaimana pembawa HARI TAKWIL KEBENARAN KITAB sesuai Al A’raaf (7) ayat 52,53, atau orang pembawa hari kebangkitan semua manusia dengan ilmu pengetahuan agama sesuai Al Mujaadilah (58) ayat 6,18,22, telah berbuat seperti nabi suci.
    Kami sarankan andapun berbuat seperti nabi suci !

    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

    Buku panduan terhadap kitab-kitab suci agama-agama berjudul:

    “BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
    Penulis: Soegana Gandakoesoema

    Tersedia ditoko buku K A L A M
    Jl. Raya Utan Kayu 68-H, Jakarta 13120
    Telp. 62-21-8573388

    Buku “BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
    Penulis: Soegana Gandakoesoema
    Penerbit: GOD-A CENTRE

    Tersedia ditoko-toko buku distributor tunggal
    P.T. BUKU KITA
    Telp. 021,78881850
    Fax. 021.78881860

    fitri said:
    27 April 2009 pukul 20:31

    bisa minta no kontak Pak Aoegana Gandakoesoema

    fitri said:
    27 April 2009 pukul 20:32

    bisa minta no kontak Pak soegana Gandakoesoema

    Nomor kontak pak Soegana Gandakoesoema umur 79 tahun Telp.021.77884755 Hp. 081383456359

    Soegana Gandakoesoema said:
    24 Januari 2013 pukul 10:40

    Studi agama-agama
    Buku Bhinneka Catur Sila Tunggal Ika
    bonus
    Skema Tunggal Ilmu Laduni Tempata Acuan Ayat Kitab Suci Tentang Kesataun Agama”
    Penulis: Soegana Gandakoesoema

    Tesedia di
    Perumahan Puri BSI Permai Blok A3
    Kelurahan Rangkapan Jaya
    Kecamatan PancoranMas
    Depok 16435
    Telp./Fax. 02177884755
    HP. 085881409050

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s