Pesantren (Thawalib Putra Padang Panjang)

Posted on


Bismillahirrahmanirrahim….

“Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama, dan untuk memeberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya’(Q.S. Attaubah : 122)”.

“Menuntut ilmu itu kewajiban setiap muslim dan muslimah “(Hadis).

“Sesungguhnya aku diutus semata-mata untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia” (Hadis).

*1. SEJARAH RINGKAS
Jauh sebelum tahun 1900 dibawah asuhan Syekh Abdullah Ahmad Perguruan Thawalib telah memulai pendidikannya dengan sisitim halaqah bertempat di Surau Jembatan Besi Padang Panjang, yang kemudian pada tahun 1991 dilanjutkan oleh DR. Abdul Karim Amarullah, seorang ulama besar yang baru pulang dari Mekah yang dikenal dengan sebutan Inyiak Rasul (ayah alm. Buya Hamka). Beliau sekaligus merubah sistim belajar dari halaqah menjadi klasikal.
Pada tahun 1926 dibawah pimpinan Tuanku Mudo Abdul Hamid Hakim dibangun lokal belajar di jalan lubuk mata kucing (Kampus Thawalib Putra sekarang).
Mulai tahun 1959 Perguruan Thawalib dipimpin oleh H.Mawardy Muhammad, dan pada tahun 1974 membuka Perguruan Tinggi Fakultas Dakwah dan Publistik, Fakultas Syari’ah wal Qanun bersama-sama dengan Prof.KH. Zainal Abidin Ahmad (alumni Thawalib, mantan ketua parlemen RI, Wartawan dan Pengarang).Perguruan Thawalib dipimpin oleh murid-murid H. Mawardy Muhammad.
tAHUN 1989 Perguruan Thawalib menerima siswi khusus putri , tempat belajar asramanya terpisah dari Thawalib Putra.
Tahun 2002 Thawalib menambah lagi jenjang pendidikan, yaitu dengan mendirikan Taman Kanak-kanak Al Quran (tka), yang kemudian dilanjutkan membuka Madrasah Ibtidaiyah unggul Terpadu (MIUT) pada tahun 2004.
Saat ini Perguruan Thawalib telah berkembang dengan memilki empat jenjang pendidikan mulai TKA, MIUT, Madrasah Tsanawiyah dengan nama Thawalib A, Madrasah Aliyah dengan nama Kulliyatul ‘ulum el islamiyah (KUI)Putra dan Putri.

2. VISI & MISI

VISI
Terwujudnya pendidikan yang konsern dan konsisten, ysng Tafaqquh Fiddin (mendalami ilmu-ilmu agama Islam) agar siswa/i yang dididik menjadi muslim-muslimah yang berakhlaq mulia, cerdas, dan menguasai serta mengamalkan ilmu agama.

MISI
Menyelenggarakan pendidikan Islam yang berorientasi mutu, baik keilmuan maupun moral serta memproses anak didik untuk mendapatkan kecerdasan sosial untuk menuju masyarakat madani yang islami, dengan semangat ” Bangkit Menjawab Tantangan, Maju Memandu Perubahan”.

3. Tujuan Pendidikan
a. Mendidik para santri agar menjadi kader-kader umat untuk mendalami masala-masalah agama dalam bentuk pemahaman yang benar serta mengaplikasikannya dalam kehidupannya sehari-hari.

b. Membina para santri berprilaku islami dan berakhlak mulia yang mulia, melatih dan membiasakan santri berpuasa sunnah senin-kamis dan shalat malam, sehingga bisa menjadi contoh teladan dan ikutan yang baik bagi lingkungannya.

c. Mengarahkan para siswa untuk bisa menselaraskan dasar-dasar agama dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi modern dalam memenuhi kebutuhan hidup dunia dan akhirat.

4. TINGKAT PENGAJAR

Tenaga Pengajar di Thawalib Padang panjangsaat ini terdiri dari guruguru yang sudah berpengalaman dalam bidang pengetahuan agama dan umum sesuai dengan disiplin ilmu yang dimilikinya yang berasal dari berbagai perguruan tinggi dalam dan luar negri, seperti :
Universitas Ibnu Su’ud Riyadh, Universitas al-Azhar Cairo, UNP, IAIN, Universitas Muhammadiyah Sumatra Barat, Lipia Jakarta, Akademi Managemen Ilmu Komputer Padang, dll.

5. Kegiatan Ekstra
*Muhadharah 3 bahasa (indonesia, arab, inggris)
*Tahfizul quran
*Kaligrafi
*Kesenian : rebana, nasyid
*Keorganisasian
*OLAH RAGA
*PENCAK SILAT
*KEPRAMUKAAN
Sumber: http://na-sya84.blogspot.com/2007/08/pesantren-thawalib-putra-padang-panjang.html

About these ads

40 pemikiran pada “Pesantren (Thawalib Putra Padang Panjang)

    GreenFresh berkata:
    13 November 2007 pukul 23:06

    bukan komen khusus untuk artikel ini,
    sekedar balesan sms yang tiba2 mentok karena pulsa . . :)

    Mulai dari mana?

    klo dari mana yang terbaik untuk mmulai . . ga tau juga
    tapi aku usul setelah mentok dengan gagasan diskusi rutin bagaimana
    kita buat tim untuk membuat dan mengelola blog kader dan alumni BSKM
    menampung tulisan2 kader baik pimpinan sekarang maupun alumni,
    m.ori-m.lukman-m.taufiq-m.arif-m.widi-m.defi-m.fatur dan kader2 lain pasti seneng nulis, salng komentar dan skaligus sbg forum komunikasi kader (webnya mati too .. ?) kemarin sdh saya komunikasikan dengan beberapa teman . . . dan kalupun masing2 sdah punya blog gpp skaligus dibuatkan link . .. biar kader tertantang untuk lebih produktif “fastabiqul khairat” . . . piye ?

    dengan adanya blog bersama akan lebih ramai dan karya kader akan terarsip rapi dalam database BSKM ini.

    terutama menyambut DAD ya . . bagaimanapun harus ditingkatklan lagi koordinasi instruktur . . . insya Allah semua sadar kalau kondisi perkaderan kita lumayan “bobrok” (maaf . ..)

    niat baik pasti ada jalannya. . . .

    moehamad nazir zaidan berkata:
    6 Desember 2007 pukul 16:48

    berjuang terus thawalib aku sebagai santrinya sangat bangga sekali

    BERJUANG TERUS THAWALIB

    beldian nitami berkata:
    5 April 2008 pukul 21:14

    aku cuman mau naggkat artikel ini dijadikan skripsi makisih aku minta supaya bisa aku jadikan sumber lisan aku minta bantuan kalian

    M.Ridho Nugroho,S.Si.T berkata:
    3 Mei 2008 pukul 10:23

    assalamualaikum. saya menjadi santri thawalib pada tahun 1990 sampai dengan 1994. saya lagi nostalgia mengingat-ingat masa lalu, kalo ada temen alumni thawalib yang inget aku please contact my email ridho78@yahoo.com, aku tunggu ya.
    pengalaman sekolah di thawalib padang panjang sangat berkesan dan bermanfaat sampe sekarang. aku beruntung bisa sekolah disana, meskipun dulunya agak sedikit dipakasain sama ortu, tapi setelah dijalanin ternyata asyik juga. yang gak bisa aku lupain adalah pengalamn yang sangat berkesan sampe sampe aku pengen banget sekolah lagi disana..kira kira masih pantes gak ya…hahahaha.
    salam buat uztad uztad di thawalib..yang aku masih inget seperti buya mawardi muhammad(alm), pak firdaus tamin BA, pak anti fasis, pak muslim, siapa lagi ya…?? trus akhi-akhi kabir dan akhi shagir..salam buat kalian semua, jangan lupakan thawalib. en kalo ada acara temu alumni please contact me(081373956202)..insyaalah saya datang.

    Ryo berkata:
    6 Mei 2008 pukul 14:15

    Ass. . Mw tanya neh info sputar thawlb p.pjg. Soalnya ada ponakan yg mw msk ke sana, kl ada yg pny web nya blh jg, kpn pndaftaranya? Thx b4, ws. .

    M. Syukri Usman berkata:
    15 Mei 2008 pukul 13:20

    Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wa Barakaatuhu!
    Melalui Comment ini kami informasikan alamat E mail Perguruan Thawalib Padang Panjang,dan juga kami baru belajar membuat blog dengan alamat : http://thawalibppanjang.blogspot.com dan kami mencoba memuat brusure Penerimaan Siswa Baru TP.2008/2009 kedalamnya dengan bentuk yang sangat sederhana (maklum masih belajar).Kami memohon kepada segenap Alumni Thawalib P.Panjang dan seluruh pembaca umumnya;untuk ikut mempuplikasikan brosure Thawalib ini.Jazaakumullahu khairan katsiiran!by : M. Syukri Usman (Waka bid.Kurikulum Thawalib Putra Padang Panjang.

    M. Syukri Usman berkata:
    15 Mei 2008 pukul 14:01

    Assalamu’alaikum WW.
    Oyaa !kelupaan.
    Terima Kasih Banyak Kami Kepada Adinda Anggun Gunawan yang telah memuat tulisan Tentang Thawalib di Blognya yang menarik.Walaupun Beliau bukan Alumni Thawalib tapi Kami yakin beliau berteman dengan Banyak alumni2 Thawalib dan yang terpenting punya atensi khusus kepada Thawalib. & dan bagi Alumni yang menyampaikan berita Ke Thawalib : silakan kirim ke E mail :thawalib.1911@gmail.com

    muhammad rais berkata:
    24 Mei 2008 pukul 14:45

    assalamua’laikum
    aku alumni thawalib tahun 2008-2009,buat adek2 yang tinggal,jangan sampai menyia-nyiakan waktu kamu,karena ilmu thawalib sangat berguna di kehidupan bermasyarat,baik masalah ibadah maupun muamalah.ketika kita menghadapi masalah di tengah2 masyarakat,dan ketika itulah ilmu yang kita tuntut di thawalib terasa sangat berguna,walaupun tak semua ilmu dikuasai.Kepada guru yang telah mendidik, secara pribadi saya ucapkan terima kasih dan juga mewakili teman2 seangkatan dengan saya.Next…Kepada teman2 teruskanlah perjuangan kalian mudah2an kita dapat mencapai cita2 dan tujuan kita masing2.Sekedar intermezo,buat temen2 buat anak2 silba,yarsi,busur,paus,balai2,gunuang,asrama,bintungan terkususnya yajid ane doain lo moga tercapai obsesi lo,randi moga diterima di persija,buat temen2 yang go to mesir mudah2an nyampai disana,pokoknya buat smua alumni thawalib terkhususnya alumni th.2008-2009 smoga sukses,amin….

    Delianur berkata:
    18 September 2008 pukul 23:11

    Assalamu’alaikum

    Bagaimana kabar Thawalib?

    nicho ady saputra berkata:
    25 September 2008 pukul 04:09

    assalam
    salam kompak dan taragak samo ayahanda kami guru2 kami kawan2 seperjuangan apalagi yang pernah bersama kami merasaakan dinginnya jeruji besi
    kepada adinda2 ku yang tercinta
    terus semangat menuntut ilmu
    kita tahu kita semua sudah sungguh banyak tertinggal dari pondok2 yang lain
    semoga keadaan ini manjadi motifasi kita bersama
    kenangan indah d kaki gunung merapi dan singgalang

    ana alumni thawalib tahun 2007
    alhamdulillah sekarang kuliah d mesir alazhar unifersiti
    kalau mau berkomunikasi bisa lewat email okin.py_mag@yahoo.com
    doakan semoga ana tetap istiqomah menuntut ilmu
    terakhir
    mohon maaf yang sebesar2nya kepada guru2 ana ayahanda tercinta
    wassalam

    M. Ridho Nugroho,S.Si.T berkata:
    18 Oktober 2008 pukul 22:58

    asaalamualaikum,,,
    apa kabar thawalib ?

    Syauqi El Afifie berkata:
    17 November 2008 pukul 02:11

    Assalamualaikum…Salam cinta dan perjuangan dari negri Anbiya’ buat Guru guruku dan Ustad-usatdku dan juga Adinda2. semoga thawlib kita bisa bangkit dan terus berjaya dalm membina kader Mujahid.. Allahu Akbar…
    Generasi 2006-2007 Fakhrie El Afifie

    zulkarim berkata:
    15 Januari 2009 pukul 23:52

    Tahniah dan shabas saya ucapkan buat bang syukri dengan blog thawalib ini…selangkah kedepan buat thawalib….selamat maju jaya….

    nina berkata:
    27 Januari 2009 pukul 12:05

    Ass,
    Saya perlu informasi syarat & tes masuk santri th 2009 ini, karena saya berencana mendaftarkan anak saya..terima kasih..

    zulfahmi berkata:
    11 Februari 2009 pukul 20:54

    assalamualaikum………
    “ana perwakilan alumni thawalib putra angkatan 2008″
    (pesan buat warga thawalib tercinta yang selalu kami ingat jasanya kepada kami)
    terima kasih guru2 yang telah membimbing kami sampai kami keluar membawa ijazah thawalib dengan membawa status alumni disekolah tercinta ini
    kami harap guru2 kami tetap istiqomah dijalan ini,….
    buat adik2 yang tinggal dithawalib baik KUI ataupun TSANAWIYAH rajin2 lah belajar…
    yang penting “JANGAN SIA SIA KAN”yang paling penting
    seperti:
    _jgn pernah mencoba untuk menyia nyiakan waktu…
    sangat berbahayA sekali ketika adik2 menyia nyiakan waktu,,
    dengan waktu adik2 akan bisa menjadi pintar,kreative,berhasil dengan syarat adik2 tidak menyia nyiakan nya….
    dan dengan waktu adik2 juga bisa membunuh diri adik2 sekalian….

    _jgn sia2kan guru2 yang ada,,,,
    rugi sekali rasanya jikalau adik2 menyia nyiakan guru2 yang ada dithawalib….
    jgn sekali2 meremehkan guru2 dithawalib…….

    dan terima kasih buat guru2 N ayahanda kami dithawalib…….
    kami pasti akan membantu sekolah tercinta ini kalau dibutuhkan….
    berjuang terus THAWALIB

    BY zulfahmi dan teman2 alumni 2008
    “sammy_zulfahmi@yahoo.com”

    zulfahmi berkata:
    11 Februari 2009 pukul 21:26

    Sebenarnya kisah Palestin tenggelam dan timbul kerana banyak isu lain yang lebih diutamakan di dalam akhbar-akhbar dan media massa. Sehinggalah beberapa hari ini Israel semakin mengganas dan membunuh lebih 300 orang Palestin.

    Apa hebatnya Palestin sehingga semua umat Islam perlu mengambil cakna kepadanya?

    Palestin dianggap tanah suci umat Islam berdasarkan firman Allah swt yang bermaksud :

    “Wahai kaumku! Masuklah kamu ke tanah suci yang telah Allah swt perintahkan bagi kamu sekalian.”
    (Surah al-Maidah : ayat 21)

    Palestin adalah tanah yang diberkati Allah. Firman Allah swt yang bermaksud :

    ” Maha suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada satu malam dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsa yang telah kami berkati di sekelilingnya.
    (Surah al-Isra’ : ayat 1)

    Firman-Nya lagi yang bermaksud :

    ” Dan telah Kami tundukkan untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintah-Nya ke negeri yang telah Kami memberkatinya. Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu.”
    (Surah al-Anbia’ : ayat 80)

    Di tanah itu terdapat Masjid al-Aqsa yang merupakan kiblat umat Islam yang pertama sebelum ditukar ke Masjidil Haram menghadap Kaabah. Rasulullah saw telah bersabda yang bermaksud :
    ” Tidak digalakkan mengambil berat dalam pengembaraan kecuali kepada 3 masjid : Masjid al-Haram, masjid ini (Masjid Nabawi) dan Masjid al-Aqsa.” (Riwayat Bukhari, Muslim, Ibnu Majah dan Abu Daud)

    Di bumi ini, terdapat ramai pesuruh Allah swt yang diutuskan di antaranya adalah Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, Nabi Ishak dan Nabi Luth. Di sini juga adalah bumi Nabi Muhammad saw diisra’kan.

    Allahu… Allah…

    Bangunlah Wahai Pahlawan Islam

    Bumi ini pernah diperintah oleh Kristian selama beberapa ketika dan akhirnya jatuh ke tangan pahlawan Islam yang terkenal iaitu Salahuddin al-Ayyubi, seorang pemuda bangsa Kurdi, bukan berbangsa Arab. (Sesiapa yang berjuang di atas nama Islam, pasti Allah akan tingkatkan darjatnya)

    British telah mengisytiharkan penubuhan negara haram Yahudi menerusi Perjanjian Balfour pada 2 November 1917 dan mendapat persetujuan Amerika Syarikat pada 31 Ogos 1918.

    Pelajar Melayu yang belajar di Mesir pernah berjuang dengan menubuhkan Persekutuan Putera-Putera Semenanjung (PPS) yang kemudiannya ditukar nama kepada Persekutuan Melayu Mesir (1952) dan akhirnya nama yang terakhir adalah Persekutuan Melayu Republik Mesir, PMRAM (1971) bersama-sama kerajaan Mesir pada masa itu untuk memerangi tentera Israel yang bergabung dengan Perancis dan British. Pada 29 Oktober 1956, di atas semangat persaudaraan Islam, PMRAM telah menyertai tentera Mesir memerangi tentera musuh hingga ke perbatasan Suez. Para pelajar yang tidak berkeupayaan menyertai jihad ini telah memberi sumbangan dengan menderma darah. Golongan siswi pula tidak ketinggalan memberikan sumbangan menerusi khidmat menjahit pakaian tentera.

    Mereka Saudara Kita

    Dan kini bumi Palestin telah digemparkan sekali lagi dengan peristiwa pembunuhan yang seolah-olah tidak akan sampai ke penghujungnya sehinggalah Yahudi melalui Israel Zionis menguasai setiap inci tanah Palestin. Namun yang perlu kita fikirkan adalah nasib saudara-saudara seIslam yang terkorban dan al-Aqsa di bawah penguasaan Israel Zionis.

    Apa yang dapat kami bantu wahai saudaraku…

    1. Sekiranya anda seorang guru, ustaz, penceramah, rakan-rakan yang sedar dan cintakan saudara seIslam serta al-Aqsa, sampaikanlah kepada mereka akan kepentingan Palestin, Masjidil Aqsa serta semaikan di jiwa mereka kisah pahlawan Islam dan penderitaan saudara kita di sana. Sesungguhnya kita ini disatukan dengan kalimah La ila ha illaAllah.

    2. Sekiranya anda berkemampuan dari segi kewangan maka bolehlah menderma di sini.

    3. Sampaikan berita-berita terkini mengenai Palestin dan umat Islam di negara lain melalui emel, YahooGroup, SMS, MMS, majalah dan sebagainya sebagai medium penyampaian untuk memberi kesedaran kepada umat Islam dan rakyat Malaysia tentang penderitaan rakyat Palestin.

    4. Anda boleh berusaha untuk memboikot barangan atau pengeluar yang membantu Israel dalam membangunkan ekonomi dan membunuh umat Islam di Palestin.

    5. Sekiranya anda seorang penulis, wartawan, kolumnis atau seorang yang mempunyai kesedaran tentang pentingnya menyelamatkan tanah Palestin, al-Aqsa dan umat Islam, silalah untuk menulis surat, menulis artikel dan petisyen. Mudah-mudahan dengan usaha ini, ada di antara mereka yang berkuasa dan benar-benar sayangkan Islam akan memanjangkannya kepada pihak atasan, kedutaan dan lebih dari itu, OIC.

    6. Sekiranya anda seorang penulis blog, admin web, pereka grafik yang kreatif membuat widget, bolehlah memaparkannya di blog dan web masing-masing. Anda disarankan juga untuk memakai baju “Bebaskan Palestin”.

    7. Jangan lupa untuk mendoakan mereka di Palestin, juga untuk para pejuang Islam yang sedang berjuang di negara masing-masing.

    Mudah-mudahan dengan usaha kecil kita ini dapat meringankan beban penderitaan umat Islam di Palestin. Dan Allah memandang kita sebagai Muslim yang telah berusaha untuk membantu saudara-saudaranya…InsyaAllah.

    Sumber Rujukan :

    1. Professor Madya Dr Mohsen M Salleh, Isu Palestin, Latarbelakang dan Kronologi Perkembangannya sehingga tahun 2000, 2001, Fajar Ulung, Kuala Lumpur.

    2. Abdullah Nasir Ulwan, Pejuang Pembaharuan Salahuddin al-Ayyubi, Cetakan Pertama 1999, Darul Nuqman,
    Kuala Lumpur

    3. Ibnu Ismail, Nostalgia Syuhada’ Palestin. Cetakan Pertama 2003, al-Qassam Library, Pahang.

    by
    zulfahmi alumni 2008

    zulfahmi berkata:
    11 Februari 2009 pukul 21:34

    “PERKATAAN SYUKUR YANG TERLUPAKAN”

    Ya Allah..Alhamdulillah, aku seorang Muslim
    Ya Allah..Alhamdulillah, aku hidup sekarang
    Ya Allah..Alhamdulillah, aku dapat bernafas sekarang
    Ya Allah..Alhamdulillah, aku sihat sekarang
    Ya Allah..Alhamdulillah, aku sempurna fizikal
    Ya Allah..Alhamdulillah, aku ada rumah
    Ya Allah..Alhamdulillah, aku ada ibu dan bapa
    Ya Allah..Alhamdulillah, aku dapat makan
    Ya Allah..Alhamdulillah, aku dapat minum
    Ya Allah..Alhamdulillah, aku dapat pakaian
    Ya Allah..Alhamdulillah, aku ada kerja
    Ya Allah..Alhamdulillah, aku dapat bersekolah
    Ya Allah..Alhamdulillah, aku hidup dalam keadaan aman
    Ya Allah..Alhamdulillah, aku dapat berhibur (cara yang terbatas)
    Ya Allah..Alhamdulillah, aku ada sahabat
    Ya Allah..Alhamdulillah, aku dapat tidur dengan nyenyak
    Ya Allah..Alhamdulillah, aku dapat menikmati udara segar
    Ya Allah..Alhamdulillah
    Ya Allah..Alhamdulillah!

    BERSYUKUR LAH ADIK2 KU……
    KITA MASIH BISA MERASAKAN SEKOLAH INGAT SAUDARA2 KITA YANG DIPALESTIN ADIK2KU………..

    amril tanjung berkata:
    25 Maret 2009 pukul 20:48

    e..ada zulkarim..juga ada delianur sang ketua pelajar indonesia..yendri junaidi mana?farhan mana?katanya sekarang udah jadi guru thawalib??syaiful ajo mana?dan lain2..oiya ana mau kasih saran ama thawalib nih..tolong pelajaran tentang ilmu haditsnya diperdalam lagi dong,trus hadits2 doif dan palsunya jangan disuguhin ke murid2 kaya waktu ana masih disitu dulu..guru guru yg gak berkualitas dieliminasi aja..

    ara supel berkata:
    26 Maret 2009 pukul 20:43

    assalamu’alaikum
    Salam sayang,rindu n perjuangan untuk ayahanda dan ibunda serta adinda ku di thawalib putri. rasa rindu dan sayang tak dapat ananda ungkapkan dengan kata-kata. Teruslah berjuang memajukan thawalib karena itu sama saja memperjuangkan islam yang sekarang sedang diuji dengan globalisasi dunia.

    ujang berkata:
    31 Maret 2009 pukul 11:28

    SAYA BACA DI SINI ADA KOMENTAR DARI AMRIL TANJUNG (TAMAT TAHUN 1999). kALAU AMRIL BACA KOMENTAR INI. TOLONG HUBUNGI BLOG AMBO. SOALNYA, HP AMRIL DAK BISA DIHUBUNGI LAGI…….GANTI KARTU YA???????

    Ihsan Dalimus berkata:
    6 April 2009 pukul 13:47

    Mudah2an….teori evolusinya Ibnu Khaldun tidak sesuai dg keadaan Thawalib kini.
    Jaya taruih Thawalib ku………..

    Novandi Ahmad berkata:
    8 Mei 2009 pukul 20:47

    Assalamu’alaikum Wr.Wb.
    q adl mntn siswa thawalib thn 2003-2005 (wlw bkn Alumni).
    q smpt mengecap enaknya pnddkn d Thawalib,
    bg adek2 q yg berada disana, wlw qt blm sempat bertemu n bertatap muka,
    q hrp adek2 ttp semangat mnuntut ilmu Agama dsna.
    Slm juga buad Ustdz2 q dsna, tmn2 seperjuangan q dulu, M Rais dr Curup, ZulFahmi, Afhagi Diaz,Syakhuna Ibnu Jarir, Uda Husain, Uda Khairul,dll yg g mgkn q sntkn 1/1.
    bg tmn2 yg mw contact, add j k FS q novandi1190@plasa.com
    Ditunggu y.

    Evan Hendra berkata:
    7 Juli 2009 pukul 21:24

    Thawalib-thawalib,, aku sebelumnya aku tidak pernah menyangka akan bisa menjadi santri di thawalib, tahun 1999, aku tinggal di asrama C, kemudian aku pindaj ke asrama B. dan seterusnya sesuai dengan jenjangnya,

    sewaktu sekolah disana, aku sangat jengkel kalau dibangunin pagi-pagi, tapi jika diingat sekarang ternyata manfaatnyas angat besar, jadi kepada seluruh yang membaca blok ini, syukurilah karena kita telah menjadi santri di sana, sangat beruntung orang yang bisa mengetahui keberadaannya..

    terkadang ada rasa jengkel dengan para guru disana, tapi ternyata semua apa yang mereka katakan adalah 90% benar, jadi, jangan bantah apa yang disuruh oleh gurumu disana, selagi tidak merendahkan kalian…….

    ketahuilah para santri THAWALIB,,, Ilmu para Guru disana sangat tinggi, mungkin selama kalian belajar disana kalian tidak menyadarinya, tapi…….. setelah kalian selesai dan pindah dari sana, kalian akan tahu betapa tinggi ilmu para guru yang ada disana, yang tidak mengakuinya adalah durhaka…

    ini hanya pengalaman,, selama beberapa tahun disana,, setiap hari jum’at selalu pergi kelubuk mata kucing untuk berenang…

    sewaktu baru masuk, selalu keluar setai habis subuh dan sore, alasannya kepasar atau segala macamnya,, tujuannya cuma satu,,, merokok,,,,,,,,, heheheheheh….
    Hub saya di: evanhendra@ymail.com

    wassalam,,,

    alma nasution berkata:
    28 Agustus 2009 pukul 14:34

    Assalamualaikuum Wr.Wb aku alma nasution aku alumni thawalib angkatan 2000-2003 d Thawalib banyak ilmu dan pengalaman yang kau akan dapat,,, asrama C dan A tempat yang memberikan ilmu yang sangat berharga,,,,

    sewaktu sekolah disana, aku sangat jengkel kalau dibangunin pagi-pagi, tapi jika diingat sekarang ternyata manfaatnyas angat besar, jadi kepada seluruh yang membaca blok ini, syukurilah karena kita telah menjadi santri di sana, sangat beruntung orang yang bisa mengetahui keberadaannya..

    ad rasa jengkel dengan para guru disana, tapi ternyata semua apa yang mereka katakan adalah 90% benar, jadi, jangan bantah apa yang disuruh oleh gurumu disana, selagi tidak merendahkan kalian……. Jangan Sia-siakan kalau sudah disana,
    dan kini saya kuliah di Palembang UNSRI Hub saya : alma.nasution@ymail.com
    Wassalam

    Dedi Iskandar berkata:
    8 November 2009 pukul 17:58

    tak ada kenangan yang paling indah selain masa2 di asrama thawalib dahulu.tapi kini semua hanya tinggal kenangan,hukum demi hukuman tlah dijalani,tapi smua itu menjadi sangat beraarti,rasa kekeluargaan nya yang amat dalam hinnga berpisah pun rasa rindu tetap ada,wahai dinda jika saat ini kalian termasuk orang yang beruntung tlah mendapat kan fasilitas belajar yang amat canggih en yang sangat efisien.jadi jangan sia-sia kan semua itu.separah2 nya keaadaan kalian saat ini lebih parah lagi masa2 kami dahulu dan yang dahulu nya

    hijrahsaputra berkata:
    26 November 2009 pukul 11:22

    sekolah di pesantren punya kenangan tersendiri buatq…

    andriansyah berkata:
    22 Maret 2011 pukul 23:36

    Thawalib…….
    I LOVe YoU…………

    Aulia Rahmat Amin berkata:
    12 Juni 2011 pukul 15:14

    thawalib….

    radiyah berkata:
    17 Agustus 2011 pukul 13:29

    Assalamu’alaikum

    Sdr Gunawan, bisa anda ceritakan sejarah thawalib dg rinci? Apa anda punya catatan ttg Syekh Tiku alias Husaini seangkatan dg ayah buya hamkan trimakasih.

    Ade Budi Surya berkata:
    16 Oktober 2011 pukul 21:44

    KHAZANAH ISLAM MINANGKABAU : al ‘ulama waratsatul anbiya’ ….. historia vitae magistra

    By : Ade Budi Surya ( Thawalib : ’92 – 98 )

    Minggu, 16 Okt 2011

    Dari Surau Jembatan Besi hingga Perguruan Islam Thawalib Padang Panjang

    Ditulis ulang : Muhammad Ilham

    Jauh sebelum tahun 1900, sudah berjalan lama pengajian di Surau Jembatan besi Padang Panjang di bawah asuhan Syekh Abdullah, merupakan salah satu di antara pengajian-pengajian cara lama yang banyak tersebar di Minangkabau. (Catatan : Pada mulanya terdapat di tempat itu hanya jembatan kayu yang pakai atap, kemudian diganti dengan jembatan besi. Itulah pertama kali adanya jembatan besi di Padang Panjang dan terkenal Surau Jembatan Besi , yang kemudian menjadi pusat pertumbuhan Ulama dan Zuama Islam yang bertebaran ke seluruh Indonesia). Pada tahun 1907 Syekh Abdullah pindah mengajar ke Padang, dan pimpinan pengajian Surau Jembatan Besi pindah kepada Syekh Daud Rasjidi (ayahanda dati H.M.D. Dt. Palimo Kayo) dan murid-murid pengajian bertambah-tambah mendapat kunjungan dari negeri-negeri sekelilingnya dan pelajaran kitab-kitab Arab meningkat. Berhubung dengan keberangkatan Syekh Daud Rasjidi ke Makkah al Mukarramah untuk memperdalam pengetahuannya dengan Syekh Ahmad Chatib, sementara digantikan oleh kakak beliau Syekh Abdul Lathif Rasjidi (ayahanda H. Mukhtar Luthfi). Tidak lama kemudian pada tahun 1901pimpinan Surau Jembatan Besi pindah ke tangan Syekh Abdul Karim Amarullah yang waktu itu terkenal dengan sebutan Inyiak Haji Rasul (ayahanda dari HAMKA).

    Di bawah asuhan Syekh Abdul Karim Amarullah, pengajian Surau Jembatan Besi bertambah maju, pelajaran kitab-kitab Arab bertambah meningkat, penuntut-penuntut ilmu agama (yang wktu itu terkenal dengan sebutan orang siak) bertambah banyak berdatangandari sekeliling Minangkabau dan juga dari daerah-daerah lain, Tapanuli, Aceh, Bengkulu, Malaya, Siam, dan lain tempat. Pada tahun 1912 jiwa ber-organisasi bertiup kencang menghidupkan kebathinan penuntut-penuntut ilmu Surau Jembatan Besi, maka terbentuklah satu organisasi dari guru-guru dan pelajar pengajian Surau Jembatan Besi, mulanya bernama SUMATERA THUWAILIB dan kemudian bernama Sumatera Thawalib. Organisasi tersebut pada tahun 1914 telah berubah bentuk , pengajian Surau Jembatan Besi mendekati bentuk Sekolah, terdiri atas tujuh kelas, dengan kitab-kitab yang lebih teratur untuk setiap kelas dengan Pimpinan Guru Besar Syekh Abdul Karim Amarullah dan Tuangku Mudo Abdul Hamid Hakim selaku wakil Guru Besar dan dibantu oleh guru-guru dibawahannya, dan pengawasan dari Pengurus Sumatera Thawalib yang ketika itu diketuai oleh Engku Hasjim Tiku dan dibimbing oleh Zainuddin Labay El Junusy yang baru saja pulang dari Padang Panjang. Pengajian Surau Jembatan Besi semakin maju dan ramai, walaupun masih duduk bersela di kelas masing-masing.

    Pada tahun 1915 Zainuddin Labay El Junusy menciptakan suatu system Perguruan Islam yang terbaru bernama Diniyyah School atau Madrasah Diniyyah, yang lebih banyak memasukkan pelajaran-pelajaran ilmu umum, telah menyebabkan Perguruan Sumatera Thawalib semakin hebat berlomba atas kebajikan. Kemajuan Perguruan Islam bertambah meningkat dengan Sumatera Thawalib yang lebih menjurus kepada ‘Alim Ulama ahli fiqih, sedang Madrasah Diniyah mengikutsertakan ilmu Umum. Sehingga kedua-duanya merupakan kader Alim Ulama yang intelek. Modernisasi Pengajian surau-surau yang telah dimulai oleh Surau Jembatan Besi tersebut sudah menjalar ke tempat lain, dan bertumbuhanlah Sumatera Thawalib di Parabek di bawah pimpinan Syekh Ibrahim Musa, di Padang Japang di bawah pimpinan dua orang bersaudara Syekh Mushtafa ‘Abdullah dan Syekh Abbas ‘Abdullah, di Sungayang di bawah pimpinan Syekh Muhammad Thaib, di Maninjau di bawah pimpinan Syekh Abdul Rasjid dan lain-lain. Masing-masingnya berlomba-lomba untuk lebih maju, sehingga pelajar-pelajar pun semakin bertambah membanjir, juga yang berdatangan dari luar pulau Sumatera dan juga Malaya dan Siam.

    Pada tahun 1918 Sumatera Thawalib Padang Panjangmelangkah maju lagi ke depan, di samping meningkatkan pelajaran dalam Perguruan Thawalib, juga mulai mengadakan penerbitan Majalah Al Munir dipimpin oleh Zainuddin Labay El Junusy dibantu oleh Tuangku Mudo Abdul Hamid Hakim, memuat karangan-karangan yang berisi : Pelajaran atau nasehat Agama, menjawab pertanyaan-pertanyaan, memberantas khurafat, tahkyul dan bid’ah, serta sejarah dll. Untuk kesempurnaan dan memupuk perkembangan ilmu karang mengarang (menulis), Sumatera Thawalib mengadakan Debating Club sekali seminggu yang diikuti oleh guru-guru dan pelajar-pelajar Thawalib yang sudah agak besar. Dalam Debating Club diasuh dan diasah mengarang, berpidato, berdebat, dan berlatih mengemukakan suatu pandangan dan mempertahankan pendapa-pendapat masing-masing. Dan disamping usaha penerbitan majalah Al Munir itu diadakan perpustakaan untuk mengumpulkan surat-surat Kabar dan Majalah-majalah dari seantero Indonesia (yang waktu itu disebut Hindia Belanda), juga surat-surat kabar dari Mesir. Sehingga kantor Al-Munir itu setiap sore penuh dikunjungi oleh pelajar-pelajar untuk membaca surat-surat kabar dan buku-buku baik yang berisikan politik, ekonomi, social dan pendidikan, menyebabkan pelajar-pelajar Thawalib mendapat pandangan yang luas selain dari pelajaran-pelajaran di Thawalib ataupun di Diniyah.

    Perkembangan yang demikian juga menjalar ke Perguruan-perguruan Thawalib yang lain, sehingga : di Parabek terbit Majalah Al-Bayan di bawah pimpinan Sain Al-Maliki dibantu oleh Jama’in Abdul Murad, di Sungayang terbit Majalah Al-Basir di bawah pimpinan Mahmud Junus dan Mahmud ‘Azizi, di Padang Japang terbit Majalah Al-Imam di bawah pimpinan Sa’aduddin Siarbaini, di Maninjau terbit Majalah Al-Ittiqan di bawah pimpinan Mahmud Rais, di Padang Panjang terbit lagi Majalah “Perdamaian” disamping majalah Al Munir yang dipimpin oleh H. Djalaluddin Thaib. Disamping kemajuan buku-buku pelajaran B. Arab untuk Thawalib dan Diniyyah yang sengaja dipesan dari Mesir, Damaskus, Beirut, Makkah dan lain-lain, mulailah pula pelajar-pelajar Thawalib dan Diniyyah ketika itu mendapatkan bacaan majalah-majalah, brosur-brosur dan surat kabar bahasa Arab dari Timur tengah itu. Umumnya berisikan propaganda pergerakan politik perjuangan kemerdekaan. Karena bertepatan pada ketika itu kebangkitan bangsa Arab yang berjuang melepaskan belenggu penjajahan bangsa Barat atas Tanah Air mereka. Karenanya setingkat lagi kemajuan Thawalib dan Diniyah ketika itu, bukan saja menjadi Pembina kader ulama dengan system pembaharuannnya tetapi juga merupakan sumber kader Pemimpin dan Pejuang kemerdekaan bangsa Indonesiayang diserap dari Timur Tengah itu. Maka para kader Alim Ulama dan Zu’ama dari Thawalib dan Diniyah itu lebih banyak belajar perfgerakan politik dari Timur Tengah yang bernafaskan Islam.

    Untuk meningkatkan kader Alim Ulama maka Sumatera Thawalib Padang Panjanh mengadakan perubahan, menambah kelas menjadi 6A daN 6B, barulah diteruskan ke kelas 7. Pada pokoknya kelas 7 itu hanyalah untuk kuliah penghabisan yang dipimpin langsung oleh guru besar Syekh Abdul Karim Amarullah , juga diikuti oleh guru-guru Agama dari sekeliling Padang-Panjang. Kelas 7 itulah yang tertinggi, sehingga dari kelas 7 itu sudah boleh dilepas untuk mengajar sendiri kemana-mana saja. Pada tahun 1920 semangat persatuan dan perjuangan mukin meningkat, maka terjadilah suatu permusyawaratan antara Sumatera Thawalib dari berbagai tempat yang berlangsung di Padang Panjang, yang telah menghasilkan satu keputusan yang sangat berharga, yaitu : Mempersatukan seluruh Perguruan Islam Thawalib dengan pimpinan pengurus besar yang pertama , terdiri dari : H. Djalaluddin Thaib, Voorzitter, dan Thaher by Secretaris teven Penningmeester, serta beberapa orang Commissarisen. Itulah hari bersejarah yang sangat penting dalam mewujudkan persatuan. Perguruan-perguruan Islam yang kelak menjadi promoter perjuangan Ummat Islam khususnya di Minangkabau ini.

    Pada tahun 1921 Sumatera Thawalib Padang Panjang mulai melangkah melatih diri dalam bidang koperasi dan perekonomian pada umumnya. Pertama kali menyediakan minuman kopi/ teh dan kue-kue untuk pelajar-pelajar Sumatera Thawalib yang sudah berjumlah lebih dari 1000 orang dalam bentuk sebuah nama “Buffet Merah” dimana disediakan juga alat-alat kepentingan pelajar-pelajar berupa pena, pensil, bulu-buku tulis, singlet, benang, penjahit dsb. Kemudian mengadakan juga perusahaan dobi, rumah pangkas semata-mata untuk kepentingan pealajar. Pada tahun 1922 tamatan Sumatera Thawalib sudah mulai dimanfaatkan. Pertama untuk mengajar di negeri masing-masing, menjadi Tuangku (Qadhi, Imam, Khatib), mendidrikan pula Sumatera Thawalib dan Diniyah School. Kedua untuk memenuhi kehendak Umat Islam menjadi Guru di Bengkulu, Tapak Tuan, Kuala Simpang, Meolaboh, Medan, dll. Sehingga nama Sumatera Thawalib Padang Panjang semakin masyhur kemana-mana, dan diantaranya adapula yang menyambung pelajarannya (studi) ke Universitas al-Azhar di Mesir.

    Pada tahun 1923 kota Padang Panjang menjadi bumi tempat tumbuh suburnya pergerakan politik yang terorganisir baik yang telah melibatkan Thawalib dan Diniyyah aktif mengikuti organisasi tersebut yang bertujuan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Dimana ketika itu mulai berkembangpropaganda komunis dengan memakai semboyan ke-Agamaan sehingga banyak diantara pelajar-pelajar Thawalib dan Diniyah yang terbawa-bawa. Tetapi setelah Alim Ulama guru-guru besar dari seluruh Thawalib dan Diniyah mendapat informasi yang lebih jelas mengenai Komunis dengan ideology Atheisnya, mulailah timbul kesadaran dikalangan Thawalib dan Diniyah bagaimana perbedaan pergerakan politik Islam dan Komunis itu. Namun untungnya organisasi pergerakan semakin mantap, walaupun dalam beberapa hal terdapat kerjasama dalam hal menghadapi kolonialisme dan imperialisme Barat. Pada ketika pecah pemberontakan rakyat tahun 1926 yang berpusat di Silungkang Sumatera Barat untuk menentang kekeuasaan Belanda, banyak juga pelajar-pelajar Thawalib dan Diniyah yang terseret kedalamnya dan tertangkap, dipenjarakan. Hal tersebut merupakan ujian berat bagi Thawalib dan Diniyah. Sehingga kecurigaan penguasa penjajahan Belanda kepada Thawalib dan Diniyah menjadi tajam dan meruncing. Tetapi Alhamdulillah Thawalib dan Diniyah berjalan terus dan semakin maju dengan semangat yang tinggi.

    Pada tahun 1926 di saat-saat Sumatera Thawalib sedang memuncak kehebatannya, Padang Panjang ditimpa musibah gempa bumi yang amat dahsyat sekali. Sehingga Sumatera Thawalib menghadapi dua persoalan besar : 1. Guru Besar Syekh Abdul Karim Amarullah pulang ke kampungnya di Sungai Batang Maninjau, dan pimpinan tertinggi Perguruan Islam Sumatera Thawalib pindah kepada Tuangku Mudo Abdul Hamid Hakim dibantu oleh guru-guru yang lain. Alhamdulillah Sumatera Thawalib berjalan baik dan semakin maju. Sumatera Thawalib selama ini masih berjalan menurut cara lama , belajar duduk bersela di Surau Jembatan Besi, dengan adanya gempa bumi yang dahsyat itu, seolah menghendaki dengan cepat membangun gedung perguruan dan asrama yang tertentu, dan untuk itu didapatlah tempat dijalan Lubuk Mata Kucing tempat komplek Perguruan Thawalib yang ada sekarang. Dan semenjak itu Perguruan Thawalib sudah berjalan merupai sekolah yang teratur dengan bangku-bangku dan alat-alat selengkapnya. Tamatan Perguruan Thawalib setiap tahun membanjiri masyarakat umum, bukan saja untuk menjadi Ulama, tetapi juga untu menjadi Zu’ama ( pemimpin-pemimpin pergerakan), bahkan juga ada yang menjadi pedagang, pegawai pemerintahdan sebagainya. Padahal semuanya itu masih tetap menjadi anggota Sumatera Thawalib. Maka dengan sendirinya pelajar-pelajar dan tamatan-tamatan Sumatera Thawalib itu pada umumnya tidak saja hanya terbatas dalam lingkungan Perguruan Islam saja, tetapi sudah meluas merupakan organisasi massa (masyarakat umum).

    Pada tahun 1928 berlangsung Konfrensi Sumatera Thawalib yang kedua yang dihadiri utusan-utusan seluruh Sumatera Thawalib memperkuat ikatan organisasi, yang berhasil dengan terbentuknya Pengurus Besar Sumatera Thawalib yang baru terdiri dari : 1. H. Djalaluddin Thaib, Voorzitter, 2. Ali Imran Djamil, Secretaris, 3. H. Syu’ib el Junusy, Penningmeester, 4. Doesqi Samad, 5. Thaher By, 6. H.Alaoeddin, 7. Sapardi.J St. Mangkuto, masing-masing Commissarisen, dengan cabang-cabangnya di seluruh Perguruan Islam Thawalib yang tersebar dimana-mana. Adapun perguruan Islam Sumatera Thawalib Padang Panjang, semakin ramai dan maju di bawah Pimpinan Guru Besar Tuangku Mudo Abdul Hamid Hakim dibantu oleh guru-guru lain. Kemudian silih berganti konfrensi Sumatera Thawalib berturut-turut, pada bulan November 1928 di Padang Panjang pada bulan Mei 1929 di Batu Sangkar, pada bulan Januari 1930 di Bukittinggi. Setiap adanya konfrensi perkembangannya bertambah baik dan lancar, yang menambah kuat dan luasnya masyarakat Thawalib.

    Pada tahun 1928 ketika Pemerintah Hindia Belanda hendak menjalankan ordonansi guru-guru Agama yang maksudnya hendak menjalankan kontrol terhadap guru-guru Agama yang mengajarkan Agama Islam di Minangkabau ini, maka ketika itu pemimpin-pemimpin Sumatera Thawalib ikut aktif bersama-sama ninik mamak, Alim Ulama dan cerdik pandai mengumpulkan seluruh potensi rakyat Minangkabau untuk menolaknya. Akhirnya Pemerintah Hindia Belanda menarik kembali niatnya yang hendak merugikan bagi Agama dan Umat Islam. Padahal ordonasi tersebut dudah semenjak tahun 1905 telah dijalankan di tanah Jawa dan Madura dan daerah-daerah lain. Pada tahun 1930 berlangsung kongres pertama dari Sumatera Thawalib di Bukittinggi. Semangat yang sudah matang dari tamatan-tamatan Thawalib mempertimbangkan pandangan-pandangan jauh ke masa depan untuk kepentingan Agama, bangsa dan tanah air, baik dalam bidang politik, ekonomi, social dan pendidikan. Akhirnya telah membulatkan tekad persatuan dan perjuangan, terutama dalam menghadapi kekuasaan dan penjajahan, telah menghantarkan Kongres Sumatera Thawalib tersebut kepada satu keputusan dengan suara bulat menjadikannya satu organisasi massa yang lebih kuat bernama “PERSATUAN MUSLIM INDONESIA” yang kemudian menjadi Partai Politik Islam “PERMI” bermarkas di Padang, dengan surat kabarnya bernama “MEDAN RAKYAT”. Disamping itu Perguruan Islam Thawalib berjalan terus di bawah pengawasan Departemen Pendidikan dan Pengajaran “PERMI”.

    Pada tahun 1932, seluruh guru dan siswa Thawalib dimanapun di seluruh cabang-cabangnya serentak sudah merupakan kader pemuda berjuang menuju Islam Mulia dan Indonesia Sentosa melalui Indonesia Merdeka. Bahkan disetiap negeri sudah terdapat cabang dan ranting PERMI. Bagaimanapun juga tekanan kecurigaan penguasa kolonial Belanda, tetapi semuanya itu tidaklah menyebabkan takut gentar dihari sanubari siswa-siswa itu yang tegak berdampingan sejejer dengan orang-orang dewasa anggota-anggota PERMI. Sehingga Thawalib dan PERMI itu tidak dapat dipisahkan, bukan saja di Sumatera Barat, tetapi juga di Tapanuli, Sumatera Timur, Aceh, Jambi, Bengkulu, Palembang dan dimana saja terdapat Perguruan Islam yang berasal dari Thawalib dan Diniyah.

    Ketika Pemerintah Kolonial Belanda hendak menjalankan ordonnasi Sekolah Liar (Wilde schoolen Ordonansi) di seluruh Indonesia, maka seluruh guru dan siswa Thawa;ib serta Diniyah serentak bangkit memprotes menolak rencana yang sangat merugikan itu, baik terhadap Islam maupun terhadap masyarakat umum. . Maka banyaklah guru dan siswa Thawalib itu yang ditangkap dan disakiti. Dan seringkali Perguruan Thawalib digeledah oleh kaki tangan pemerintah kolonial dengan cara-cara yang kasar dan zalim. Namun demikian, tiadalah semuanya mengendorkan semangat perjuangan mereka. Dan suatu ketika Thawalib Padang Panjang mendapatkan pukulan berat dengan keluarnya larangan mengajar oleh penguasa kolonial terhadap beberapa orang guru Thawalib, yaitu : 1. Zainal Abidin Ahmad, 2. Ahmad Syukur, 3. Burhanuddin Sutan Pamuncak, 4. Burhanuddin Datuk Bandaro Sati, 5. Ibrahim Madun, 6. Saydi Umar Sutan Permato, dan 7 Sutan Syarif Pitalah.

    Lulusan atau tamatan-tamatan Thawalib semakin meluas memenuhi seluruh bidang masyarakat, bukan saja menjadi guru, Tuangku-tuangku, pemimpin-pemimpin masyarakat, tetapi juga dalam bidang-bidang perdagangan, pertanian, perusahaan, penerbitan, percetakan, bahkan juga dalam bidang perjuangan politik dan organisasi-organisa massa. Sehingga banyak dari tamatan Thawalib itu yang menderita ancaman kekuasaan penjajahan Hindia Belanda, yang masuk penjara, korban bis dan ter, terjerat pengkap kolonial yang terkenal. Pada tahun 1943 ketika Jepang menguasai Indonesia, tamatan Thawalib banyak yang melibatkan diri dalam latihan-latihan militer dengan resiko yang sangat besar. Oleh karena tekanan ekonomi yang sangat buruk ketika itu, jumlah pelajar Thawalib Padang Panjang agak sedikit menurun.

    Pada tahun 1945 diproklamirkan kemerdekaan Indonesia, maka tamatan-tamatan Thawalib membanjir memenuhi segala lowongan untuk mempertahankan proklamasi dan membina Negara R.I dalam segala bidang apapun si seluruh Indonesia sedari bawah sampai atas, sedari pemerintahan negeri sampai pemerintah pusat, baik sipil, angkatan bersenjata, lapangan diplomatic dan lain sebagainya. Tak dapat disangkal lagi bahwa Thawalib berhasil memasukkan andil yang sebanyak-banyaknya dalam Negara R.I. Pada tahun 1946 didirikan Yayasan Thawalib Padang Panjang diketuai oleh guru besar Tuangku Mudo Abdul Hamid Hakim, dan seluruh milik dan kekuasaan Thawalib Padang Panjang jatuhlah menjadi hak milik dan kekuasaan Yayasan tersebut dengan Akte Notaris. Pelajar-pelajar Thawalib kembali ramai dibanjiri oleh pemuda-pemuda dari segenap jurusan setiap tahun lebih dari 1000orang, dan setiap tahun mengeluarkan tamatan Thawalib tidak kurang dari 100 orang.

    Ada zaman suka dan adapula zaman duka. Dalam saat-saat Perguruan Islam Thawalib sedang gembira di bawah pimpinan guru besar Tuangku Mudo Abdul Hamid Hakim, tibalah zaman gelap :

    a. Terjadilah pergolakan hebat di Sumatera Barat tahun 1958, keadaan tidak aman. Guru-guru dan pemuda-pemuda Thawalib ikut dalam pergolakan, pelajar yang kecil-kecil pulang ke kampong, sekolah ditutup, tinggal dengan tidak ada penjagaan.

    b. Dalam saat yang kritis itu 13 juli 1959, wafatlah Tuangku Mudo Abdul Hamid Hakim, berpulang kerahmatullah dipanggil Tuhan setelah semenjak dari mudanya sampai tuanya mencurahkan seluruh tenaganya untuk Agama Islam umumnya dan untuk mendidik mengasuh Thawalib khususnya.

    c. Selama masa lima tahun Thawalib Padang Panjang terhenti dan gedung perguruan serta asrama-asramanya tinggal dengan tidak ada penjaga bagai benda yang tidak bertuan. Disana-sini rusak : bocor, hancur dan sebagiannya sudah rubuh. Sungguh sangat menyedihkan.

    Pada tahun 1963 dengan tenaga berdikit-dikit dari beberapa orang pecinta Perguruan Islam Thawalib, dimulai meneruskan kembali. Langkah pertama ialah melengkapkanPengurus Yayasan, terdiri dari : 1. H. Mansur Daud Datuk Palimo Kayo, 2.Adam Sutan Tjaniago, 3. Mawardi Muhammad, 4. H. Kamili, 5. H. Datuk Tumamad, dan beberapa pembantu yang lain-lain. Maka dibukalah kembali Perguruan Islam Thawalib Padang Panjang dengan murid sebanyak 23 orang, di gedung Thawalib yang sudah bobrok itu. Dimana kalau hari hujan anak-anak belajar bagai orang berteduh di bawah rumpun betung, amat menyedihkan. Ketekunan guru-guru Thawalib di bawah pimpinan Ustadz Mawardi Muhammad dibantu oleh guru-guru yang lain yang tidak memandang keuntungan benda (gaji), sungguh-sungguh menjadi modal pertama bagi pembukaan kembali Perguruan Islam Thawalib Padang Panjang. Karena itu murid-murid bertambah, dari tempat yang jauh-jauh berangsur datang. Perasaan sedih dan pilu melihat gedung dan asrama-asrama Thawalib yang bocor, rusak, lapuk, dan sebagian yang sudah rubuh, membangkitkan kemauan Pengurus Yayasan Thawalib untuk membangun mengganti dengan yang baru, walaupun tidak samapi hati melihat penderitaan guru-guru yang telah beekorban demikian rupa dalam menghidupkan kembali Perguruan Islam Thawalib Padang Panjang, tetapi dalam hal ini tidaklah dapat dikecilkan sumbangan saudagar-saudagar terutama di kota Padang Panjang.

    Pada tahun 1964 dibuatlah gamabar rencana pembangunan gedung dan asrama-asrama serta Mushalla dan lain-lain, yang permanent, untuk perguruan Islam Thawalib Padang Panjang yang dishahkan oleh Kepala Jawatan P.U. Kota Padang Panjang, dengan rencana biaya kira-kira tiga puluh juta rupiah. Pada Pertengahan tahun 1964 dimulai perletakan batu pertama pembangunan asrama oleh Bapak Wali kota Padang Panjang dengan modal pertama sejumlah dua belas ribu rupiah. Alhamdulillah dalam tempo sembilan bulan lamanya, selesailah sebuah gedung asrama ukuran 6 lokal kali 7x8m yang menelan biaya lebih kurang 30jt rupiah, atas bantuan para dermawan dan hartawan Muslim. Dan tidak dilupakan antara lain sumbangan dari saudara Barmansyah dari Jakarta. Pada tahun 1966 di mulai pula pembangunan asrama yang kedua, sebesar asrama yang pertama juga. Alhamdulillah berkat usaha dan sumbangan dari dermawan dan hartawan Muslim dakam tempo setahun selesailah asrama yang kedua. Tinggal lagi hanya menyelesaikan dapur dari kedua asrama tersebut. Pembangunan ketika ini sedang terhenti, karena kehabisan biaya, namun demikian alhamdulillah murid-murid sudah bertambah banyak, setiap tahun semakin meningkat, dan ketika sejarah ini ditulis, murid-murid sudah mencapai jumlah lebih dari tiga ratus orang dari berbagai pelosok daerah. Dan guru-gurupun sudah bertambah lengkap juga dengan lebih menggembirakan.

    (c) Sumber : diringkas dari Dt. Palimo Kayo (1980) dan Rodiyanto (Skripsi, 2003

    yusrilsarlaw berkata:
    28 April 2012 pukul 10:25

    alhamdulillah thawalib masih eksis dalam masyarakat, tak ada yang pantas kita ungkapkan selain kata syukur atas perjuangan alumni yang masih tetap menjaga nama baik pondok ,mudah2an alumni tetap berjuang dan mencarikan santri .

    yusrilsarlaw berkata:
    28 April 2012 pukul 10:27

    Allahu Akbar gemetar hati mendengarkan gema thawalib, tapi apa dikata kami hanya dapat berdo’a semoga tafaqqu fiddin

    gazali, ketua pethas berkata:
    3 Mei 2012 pukul 09:51

    wa lillahi al-hamd, dengan ke ikhlasan perguruan kita thawalib masih eksis, tidak seorang alumnipun yang rela lamamternya di telan oleh waktu, thawalib.

    Ariyandi Darwin berkata:
    27 Mei 2012 pukul 11:07

    barubah lah lai………..

    leo bahana batubara berkata:
    8 Oktober 2012 pukul 02:26

    alhamdulilah thawalib dah smkin maju,smga thawalib smkin brjaya.doa kami alumni angkatan 2000.amin

    leo bahana batubara berkata:
    8 Oktober 2012 pukul 02:37

    assalamualaikum,bagi teman2 alumni angkatan tahun 2000,apa kbr kalian,tringat masa2 indah diasrama dlu.hub nmorku:081993333287 fb:bahana.batubara@yahoo.co.id wasalam.smga thawalib smkin jaya

    adriyamin berkata:
    16 Desember 2012 pukul 16:22

    assalamualaikummmm..saya adriyamin masuk thawalib 1982..hanya sampai kelas 5 KUI.untuk saudara2ku satu angkatan sudi kira nya untuk saling berkomunikasi no
    081312574074.yaminadri@yahoo.com..jaya lah thawalib

    fahmii khairunnas erfa berkata:
    7 April 2013 pukul 03:00

    assalamualaikum ya sohib….
    apa kabar thawalip sekarang….
    aku pernah sekolah di thawalib putra tahun 2002,hanya sampai kelas 2 thawalib….bagaimana kabar pak daud,pak akhiar jasid,pak maifal, pak budiman…dll…apa mereka masih ngajar….

    Mohd Nasir berkata:
    31 Agustus 2013 pukul 13:26

    Assalaamu`alaikum. Saya dan 2 lagi rakan dari Malaysia insha ALLAH, akan berkunjung ke Padang dan Bukit Tinggi dari 12.9.2013 – 14.9.2013. Tujuan ke Padang ialah untuk melawat sekolah agama, pesantren dan masjid-masjid lama. Alhamdulillah. saya telah bertemu dengan blog anda . Soalnya sekarang ialah bagaimanakah cara nak melawat ke perguruan diniyyah puteri Padang Panjang dan Sumatra Thawalib. Kami akan sampai di bandara Padang pada 12.9.2013. Kami nak naik bis dari bandara ke Padang Panjang. Adakah bis nya. Kalau ada bis nya berhenti di mana? Adakah kereta api dari bandara Padang ke Padang Panjang? shukran wajazakallahu khairan. wassalamuaalaikum warahmatullah.

    abdul aziz berkata:
    10 Maret 2014 pukul 12:08

    assalamu.alaikum,,,,,,,
    ada yang kenal HUSEN dari medan alumni mts. thawalib putra thn 2005/2006.
    saya ABDUL AZIZ alias MEMBLE pengen silaturohim ,,
    kalo ada yg kenal bisa hub. 085724788053 trima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s