Ke Arah Rekonstruksi Historiografi Islam Klasik

Posted on Updated on


Pengunjung yang saya hormati, sebelum membaca artikel ini mohon sekiranya untuk mengklik link di bawah ini terlebih dahulu. Makasi…

*****************************

Untuk mengkaji persoalan historiografi Islam klasik, penulis membatasi masa kajian dari masa awal Nabi Muhammad s.aw. sampai masa Abbasiyah sebagai batasan Islam klasik. Tetapi sebagai kajian sejarah, latar belakang masyarakat pre Islam (Jahiliyah) dalam kaitannya dengan kemunculan dan perkembangan historiografi Islam klasik menjadi bahasan tersendiri karena sifat kajian sejarah yang memanjang dalam waktu. Fokus kajian historiografi Islam klasik di sini membahas tiga karya historiografi Islam klasik; Sirah al-Nabi karya Ibn Ibn Ishaq, al-Maghazi karya al-Wakidi dan Tarikh al-Umam wa al-Muluk atau Tarikh al-Tabari karya al-Tabari, sebagai representasi karya-karya sejarah Islam klasik yang memiliki kaitan dengan persoalan historiografi Islam klasik. Di samping itu, fokus kajian juga diarahkan pada karya-karya sejarawan Muslim modern, seperti Hasan Ibrahim Hasan dan Muhammad Husain Haikal dan beberapa karya orientalis, seperti H.A.R. Gibb dan William Montgomery Watt dan yang lainnya, (Margoliouth, Muir, Wellhausen) yang menulis tentang sejarah Islam klasik sebagai perbandingan dan kaitan pengaruh karya kesejarahan tersebut.

Ada dua persoalan yang menjadi fokus utama dalam kajian historiografi Islam klasik, yaitu persoalan materi (kandungan isi) bahasan dan metodologi. Yang pertama berkaitan dengan dua persoalan yang saling berkaitan; persoalan politik oriented yang kemudian memunculkan sejarah politik dan materialisme sejarah. Sedangkan yang kedua berkaitan dengan penggunaan periwayatan (hadith), hauliyat (sejarah berdasarkan tahun) sebagai metode dalam penulisan histoiografi Islam klasik.

Sejarah yang berorientasikan politik (sejarah politik) memiliki latar belakang kesejarahan dan hubungan kontinyuitas yang saling berkaitan antara aspek konseptual, sumber-sumber kesejarahan, para sejarawan awal Islam, jiwa zaman dan pandangan dunia akhir abad ke-1 H. sampai akhir abad ke-3 H. yang ditandai oleh peran sentral dan dominasi kerajaan Islam klasik (Kerajaan Umayyah dan Abbasiyah). Keseluruhan aspek ini memiliki hubungan timbal balik dan pengaruh- mempengaruhi terhadap kemunculan dan perkembangan historiografi Islam klasik yang politik oriented .

Secara konseptual, konsep sejarah Islam klasik yang dibangun oleh para sejarawan awal Islam mengacu kepada pandangan bangsa Arab pre Islam (Jahiliyah) tentang sejarah sebagai suatu peristiwa penting, elitis dan politik. Konsep ini melestarikan corak penulisan sejarah awal Islam yang sarat dengan tema-tema politik, sehingga penulisan sejarah politik menjadi main stream dalam karya-karya kesejarahan awal Islam. Dari sisi sumber rujukan pula, ternyata sumber-sumber primer yang menjadi rujukan utama para sejarawan awal Islam dalam penulisan karya sejarah mereka mayoritasnya berasal dari dokumen- dokumen politik. Para sejarawan awal Islam, seperti Ibn Ishaq, al Wakidi dan al Tabari selain terpengaruh oleh konsep dan sumber- sumber kesejarahan Islam yang berasal dari dokumen dokumen politik, pada saat yang sama mereka memiliki hubungan timbal balik dengan
kerajaan/raja (Bani Umayyah dan Abbasiyah) dan terpengaruh pula oleh pandangan dunia dan mazhabnya. Hubungan timbal balik antara kerajaan dan para sejarawan itu terdapat dalam hubungan yang saling memerlukan di antara kerajaan atau raja dan sejarawan, pengaruh kerajaan atau raja terhadap sejarawan dan corak penulisan sejarah yang berpusat pada kerajaan. Sedangkan hubungan timbal balik antara sejarawan dan pandangan dunianya ialah keterlibatan teologi (mazhab keagamaan) dan pengaruhnya terhadap karya sejarawan tersebut. Kesemua hubungan ini memberikan kontribusi pula terhadap corak penulisan sejarah Islam klasik yang politik oriented, sehingga frame work dalam penulisan sejarah Islam klasik tidak pernah lepas dari main stream sejarah politik.

Pembahasan sejarah awal Islam yang melulu politik oriented ini memunculkan persoalan materialisme sejarah, karena peristiwa- peristiwa kesejarahan awal Islam yang bertemakan sejarah politik seperti peperangan-peperangan, (al-maghazi), pembukaan/perluasan wilayah (al-futuhat) , peristiwa thaqifah, al-fitnah al-kubra (Perang Jamal dan Perang Shiffin), dan al-khilafah, yang semuanya menjadi tema sentral dalam historiografi Islam klasik hanya dipaparkan dari aspek peristiwa per peristiwa secara lahirnya saja, tanpa menjelaskan motif utama, arah tujuan, maksud dan makna dari peristiwa-peristiwa tersebut, sehingga peristiwa-peristiwa seperti peperangan dan perluasan wilayah menjadi bagian dari persoalan materialisme sejarah.

Tetapi persoalan yang paling utama dalam kaitannya dengan materialisme sejarah ini justeru terdapat dalam karya mayoritas orientalis seperti H.A.R. Gibb, D.S. Margoliouth, W. Montgomery Watt, William Muir dan yang lainnya yang mengkaji dan menulis karya historiografi Islam klasik. Karya-karya mereka selain sarat dengan bahasan yang politik oriented dan materialisme sejarah, juga sarat dengan bias teologi, ideologi (Marxism) dan tafsir (interpretasi) dalam memahami sejarah awal Islam, khususnya dalam bahasan-bahasan tentang sejarah dan biografi Nabi Muhammad s.a.w. (Sirah al-Nabi), meskipun kajian mereka cukup analitis.

Sejarawan Muslim yang datang kemudian, seperti Muhammad Husain Haikal, sungguhpun telah melakukan kritik terhadap karya-karya sejarah orientalis dan interpretasi sejarah, tetapi pada saat yang sama beliau terjebak pula dalam penulisan sejarah yang politik oriented dan penafsiran sejarah yang berlebihan dan karenanya menjadi bias pula. Hasan Ibrahim Hasan, sejarawan Muslim modern yang lain, walaupun menulis karya sejarah awal Islam dari berbagai aspeknya (politik, agama, budaya dan sosial), tapi persoalan penulisan sejarah politik dalam karya beliau lebih kompleks lagi, karena di samping banyak menukil sumber sejarah dari al-Ya’qubi (Tarikh al-Ya’qubi) yang bermazhab Shi’ah dan anti Muawiyah (Krajaan Bani Umayyah), beliau banyak pula terpengaruh oleh karya orientalis Nicholson yang memiliki pandangan bias politik termasuk terhadap Kerajaan Bani Umayyah.

Secara metodologis, penggunaan metode periwayatan (hadith) oleh para sejarawan Islam klasik-seperti Ibn Ishaq, al-Wakidi dan al-Tabari di satu sisi memang telah memberikan peranan terhadap kemunculan dan perkembangan historiografi Islam klasik. Namun di sisi lain ianya juga meninggalkan persoalan, karena mereka hanya meriwayatkan, menukil dan menyampaikan ceritera, berita dan peristiwa yang diriwayatkan oleh para perawi dan pengkisah kepada perawi yang lainnya, sehingga fokus mereka ialah terbatas pada bagaimana cerita dan peristiwa yang diriwayatkan dan dikisahkan itu sampai kepada sejarawan, tanpa memperhatikan kandungan isi (materi) yang diriwayatkan itu dan bagaimana ia dapat dipahami dengan melibatkan konteks dan pemahaman yang utuh terhadap peristiwa dan berita tersebut. Dengan perkataan lain, metod periwayatan (hadith) yang digunakan oleh para sejarawan awal Islam baru memaknai sejarah dalam pengertian-meminjam istilah Ibn Khaldun-lahir saja, yaitu rentetan peristiwa dan cerita yang diriwayatkan oleh para perawi, belum sampai kepada makna sejarah dalam pengerian yang batinnya yang mencakup makna hakikat dari peristiwa tersebut yang melibatkan perangkat analisis, pentafsiran dan filsafat sejarah. Dalam kaitan ini pula metode periwayatan (hadith) telah menjadi alat bantu untuk memperkuat main stream sejarah politik dalam konteks historiografi Islam klasik karena hilangnya pemahaman yang utuh dan konteks dalam memahami sejarah.

Untuk memahami peristiwa-peristiwa sejarah awal Islam yang sarat dengan politik oriented (sejarah politik) dan materialisme sejarah secara utuh, penulis memberikan tawaran alternatif beberapa konsep dan perangkat analisis historiografis dari Ibn Khaldun tentang konsep peradaban dan penggunaan pendekatan pelbagai ilmu sosial budaya (`ilm al-umran), yang kemudian dikembangkan oleh Barat dengan pendekatan multidimensional dalam memahami sejarah, konsep spiritualitas sejarah Islam dari Prof. Masadul Hasan, konsep tentang konteks dari Berkhofer dan konsep kesepaduan dalam sejarah. Dari beberapa konsep ini penulis mengemukan sebuah tesis bahwa sejarah Islam klasik adalah sejarah peradaban dan peradaban Islam ialah peradaban spiritual yang dibangun oleh asas dan sendi-sendi Tauhid-meskipun dalam perkembangannya berwujud material. Oleh karena itu penulisan sejarah Islam klasik mesti melibatkan aspek spiritual yang menjiwai gerak dan proses peradaban, menggunakan pendekatan multidimensional dan pemahaman terhadap konteksnya. Dengan konsep sejarah peradaban peristiwa-peristiwa kesejarahan Islam klasik yang yang sarat dengan bahasan sejarah politik mesti diletakkan dalam konteks proses peradaban tersebut. Dari sinilah rekonstruksi historiografi Islam klasik dibangun dan dikembangkan.

Sumber: http://groups.yahoo.com/group/insistnet/message/8193

About these ads

6 pemikiran pada “Ke Arah Rekonstruksi Historiografi Islam Klasik

    Masrur berkata:
    18 Oktober 2008 pukul 14:08

    Dalam melakukan penelitian sejarah muslim, kita harus menggunakan objektivitas secara menyeluruh agar tidak terjadi penyimpangan. Segala kepentingan politik dan subjektivitas harus disingkirkan terlebih dahulu untuk menghindari penyimpangan dalam sejarah. Namun, tanpa menghilangkan intuisi dan gaya bahasa untuk menambah kemenarikan pembacaan sejarah dalam kesempatan ini yaitu sejarah Muhammad SAW

    AIP M IRPAN berkata:
    5 Desember 2008 pukul 22:00

    thanks
    kalau ibnu khaldun termasuk sejarawan modern apa enggak ?
    terima kasih atas jawabannya

      Suparman berkata:
      18 Mei 2009 pukul 09:46

      Pemikirannya Itu Bo! melintasi horizon modern. Dia hidup lebih awal dari zamannya, sehingga relevansi pemikirannya justeru aktual dan up to date untuk masa-masa kini.

      Abi berkata:
      12 Desember 2011 pukul 20:36

      Ibnu khaldun itu juga termasuk, akan tetapi masuk kedalam sejarawan modern. trims

    alfatih berkata:
    31 Desember 2009 pukul 23:54

    menurutku, sejarah peradaban islam hanya muncul sekali saja dan hanya terjadi pada masa rosul. kita selama ini hanya monopoli sepihak dengan mengatakan peradaban barat dan eropa berasal dari islam, ini adalah kenaifan. ilmu – ilmu islam berasal dari persia, mesir, irak bahkan yunani. jelas ini tak bisa diingkari ketika masa kholifah umar, islam melakukan penaklukan dan menyerap ilmu-ilmu budaya lain ; baca khasanah intelektual islam.
    dan yang final apakah anda bisa menjawabnya berikan satu contoh saja bentuk nyata sains/pemikirannya yang bersumber murni dari islam yang ditemukan oleh umatnya. bahkan arloji, mesiu, logaritma itu bukan dari islam tapi CAMPURAN.

    alfatih berkata:
    31 Desember 2009 pukul 23:55

    islam, ini adalah kenaifan. ilmu – ilmu islam berasal dari persia, mesir, irak bahkan yunani. jelas ini tak bisa diingkari ketika masa kholifah umar, islam melakukan penaklukan dan menyerap ilmu-ilmu budaya lain ; baca khasanah intelektual islam.
    dan yang final apakah anda bisa menjawabnya berikan satu contoh saja bentuk nyata sains/pemikirannya yang bersumber murni dari islam yang ditemukan oleh umatnya. bahkan arloji, mesiu, logaritma itu bukan dari islam tapi CAMPURAN.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s