GERAKAN PEMBAHARUAN ISLAM (I)

Posted on Updated on


GERAKAN PEMBAHARUAN ISLAM (I)

PENGERTIAN ISTILAH
1.Harun Nasution cendrung menganalogikan istilah “pembaharuan” dengan “modernisme”, karena istilah terakhir ini dalam masyarakat Barat mengandung arti pikiran, aliran, gerakan, dan usaha mengubah paham-paham, adt-istiadat, institusi lama, dan sebagainya unutk disesuaikan dengan suasana baru yang ditimbulkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Gagasan ini muncul di Barat dengan tujuan menyesuaikan ajaran-ajaran yang terdapat dalam agama Katolik dan Protestan dengan ilmu pengetahuna modern.
Karena konotasi dan perkembangan yang seperti itu, harun Nasution keberatan menggunakan istilah modernisasi Islam dalam pengertian di atas ( Azra, Azyumardi : 1996 )

2.Revivalisasi
Menurut paham ini, “pembaharuan adalah “membangkitkan” kembali Islam yang “murni” sebagaimana pernah dipraktekkan Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dan kaum Salaf ( Azra, Azyumardi : 1996 )

3.Kebangkitan Kembali ( Resugence )
Dalam kamus Oxford, resurgence didefinisikan sebagai “kegiatan yang muncul kembali” (the act of rising again ). Pengertian ini memnagandung 3 hal :
a.suatu pandangan dari dalam, suatu cara dalam mana kaum muslimim melihat bertambahnya dampak agama diantara para penganutnya. Islam menjadi penting kembali. Dalam artian, memperoleh kembali prestise dankehormatan dirinya.
b.“kebangkitan kembali” menunjukkan bahwa keadaaan tersebut telah terjadi sebelumnya. Jejak hidup nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam dan para pengikutnya memberikan pengaruh besar terhadap pemikiran orang-orang yang menaruh perhatian pada jalan hidup Islam saat ini.
c.Kebangkitan kembali sebagai suatu konsep, mengandung paham tentang suatu tantangan, bahkan suatu ancaman terhadap pengikut pandangan-pandangan lain ( Muzaffar, Chandra : 1988 )

FAKTOR-FAKTOR PENDORONG PEMBAHARUAN ISLAM

1.Kepercayaan terhadap Barat secara keseluruhan yang dialami oleh generasi baru muslim.
2.Gagalnya system social yang bertumpu pada kapitalisme dan sosialisme
3.Gaya hidup elit sekuler di negara-negara Islam.
4.Hasrat untuk memperoleh kekuasaan diantara segmen kelas menengah yang semakin berkembang yang tidak dapat diakomodasi secara politik.
5.pencarian keamanan psikologis diantara kaum pendatang baru di daerah perkotaan.
6.Lingkungan kota
7.Ketahanan ekonomi negara-negara Islam tertentu akibat melonjaknya harga minyak.
8.Rasa percaya diri akan masa depan akibat kemenangan Mesir atas Israel tahun 1973, Revolusi Iran 1979, dan fajar kemunculan kembali peradaban Islam abad ke 15 Hijriah ( Mazaffar, Chandra ;1988 )

CIRI-CIRI PEMBARUAN ISLAM

1.Kepercayaan yang kuat bahwa masyarakat harsu ditata atas dasar Al-Qur’an dan As-Sunnah / hadist nabi
2.Kebuadayaan barat harus ditolak. Meskipun ada yang mau menerima kemajuan-kemajuan barat dalam ilmu pengetahuan dan teknologi ( Muzaffar, Chandra ; 1988 ).

GERAKAN-GERAKAN PEMBAHARUAN ISLAM

Muhammad Bin Abdul Wahab ( 1703-1787 )
Beliau dilahirkan di Uyainah, sebuah dusun di Najed bagian Timur Saudi Arabia. Ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga beragama yang ketat di bawah pengaruh mazhab Hanbali, yaitu mazhab yang memperkenalkan dirinya sebagai aliran Salafiyah.
Muhammad Bin Abdul Wahab menamakan gerakannya, “Gerakan Muwahidin yaitu suatu gerakan yang bertujuan untuk mensucikan dan meng-Esakan Allah dengan semurni-murninya yang mudah, gampang dipahami, dan diamalkan persis seperti Islam pada masa permulaan sejarahnya.
Gerakan yang dipimpin Muhammad bin Abdul Wahab ini dinamakan “Gerakan Wahabi” sebagai ejek-ejekan oleh lawan-lawannya.
Hal-hal yang ditekankan oleh gerakan ini adalah :
1.Penyembahan kepada selain Allah adalah salah, dan siapa yang berbuat demikian ia dibunuh.
2.Orang yang mencari ampunan Allah dengan mengunjungi kuburan orang-orang sholeh, termasuk golongan musyrikin.
3.Termasuk perbuatan musyrik memberikan pengantar dalam sholat terhadap nama Nabi-nabi atau wali atau Malaikat ( seperti sayidina Muhammad ).
4.Termasuk kufur memberikan suatu ilmu yang tidak didasarkan atas Alqur’an dan Sunnah, atau ilmu yang bersumber kepada akal pikiran semata-mata.
5.Termasuk kufur dan ilhad yang menginkari “Qadar” dalam semua perbuatan dan penafsiran Qur’an dengan jalan ta’wil.
6.Dilarang memaki buah tasbih dalam mengucapkan nama Tuhan dan do’a-do’a (wirid ) cukup menghitung dengan jari.
7.Sumber syariat Islam dalam soal halal dan haram hanya Alqur’an semata-mata dan sumber lain sesudahnya ialah sunnah Rasul. Perkataan ulama mutakallimin dan fuqaha tentang haram-halal tidak menjadi pegangan, selama tidak didasarkan atas kedua sumber tersebut.
8.Pintu Ijtihad tetap terbuka dan siapapun juga boleh melakukan Ijtihad, asal sudah memenuhi syarat-syaratnya.
Sifat gerakan Wahabi yang keras, lugas, dan sederhana benar-benar tenaga yang sanggup mengoncangkan dan membangkitkan kembali kesadaran kaum muslimin yang sedang lelap tidur dalam kegelapan. Bersama dengan Ibnu Su’ud, pendiri Dinasti Su’udiyah ( Saudi Arabia ) berjuang dengan sikap pantang menyerah. Ibnu Su’ud dalam menjalankan roda pemerintahannya dilhami oleh syaikh Muhammad.

About these ads

11 thoughts on “GERAKAN PEMBAHARUAN ISLAM (I)

    rony said:
    19 Agustus 2007 pukul 11:25

    ‘Kebangkitan islam’ adalah suatu hal yang lumrah, wajar dan normal. Sebagaimana kebangkitan kita dari tidur. Kita menginginkan ‘suatu hal’ yang dulu ada namun ‘kini hilang tak berbekas’.

    Kita mulai berpikir, bagaimana caranya agar ‘seperti dahulu’. Namun kadang kita lupa bahwa terjadinya sesuatu ada sebab dan akibat yang mendasar dan penting.

    Kita katakan bahwa api yang membakar minyak dan memanaskan panci sehingga kita bisa memasak. Namun kita lupa siapakah yang menyebabkan ‘api’ menjadi panas dan bukannya dingin.

    Bukan fakta yang menyebabkan kita ‘tidak mampu membangkitkan islam’ namun lebih kepada ‘cara berfikir kita’ yang berbeda.

    Sebagaimana para Nabi dan Rasul tidak menginginkan banyaknya pengikut. Namun lebih kepada ‘menyampaikan apa yang telah diamanatkan untuk disampaikan’.

    Mirip dengan pikiran kita yang kadang mempertanyakan ‘mengapa para ulama membahas suatu hal yang tidak penting, misalnya seekor lalat yang jatuh kedalam minuman kita’, dan tidak membahas secara detail tentang ‘kebangkitan islam’.

    Secara tidak sadar kita telah melupakan ‘hakekat’ dibalik cerita ‘lalat’. Kita belum mampu ‘memahami’ bahwa bukan sekedar persoalan ‘lalat’ yang disampaikan. Tapi lebih kepada persoalan ‘amanat’ berupa ‘berita’ tentang ‘lalat’ yang disampaikan dari Allah kepada Rasulullah kemudian ke ulama dan ke kita. Seseorang yang jujur akan menyampaikan berita tanpa ditambah maupun dikurangi dan menyampaikan rahasia dibalik peristiwa tersebut.

    DaRiaz said:
    20 September 2008 pukul 06:05

    bagus…

    nizar ahmad saputra said:
    10 Agustus 2009 pukul 20:14

    tulisannya menarik, simpel dan mudah dipahami. hanya saja, referensinya harus lebih detail lagi. hal ini penting agar isi dari tulisan kita benar-benar terpercaya dan dapat dipertanggungjawabkan. ada hal yang perlu ditinjau kembali mengenai beberapa hal yang ditekankan oleh gerakan wahabi dalam tulisan Antum di atas. di antaranya:
    1. Termasuk perbuatan musyrik memberikan pengantar dalam sholat terhadap nama Nabi-nabi atau wali atau Malaikat ( seperti sayidina Muhammad ). pertanyaannya apakah gerakan wahabi menganggap yang memakai kalimat “sayidina muhammad” dalam shalat adalah musyrik atau bid’ah??? ini harus diperjelas lagi.
    2.Termasuk kufur memberikan suatu ilmu yang tidak didasarkan atas Alqur’an dan Sunnah, atau ilmu yang bersumber kepada akal pikiran semata-mata. ini juga perlu diperjelas. apakah gerakan ini (baca; wahabi) secara mutlak mengkufurkan orang yang memberikan ilmu yang tidak didasarkan al-QUran atau al-sunnah. atau apakah hal itu berlaku ketika membicarakan masalah agama saja???
    selain beberapa hal di atas, nampaknya tulisan Antum akan lebih kaya nilainya manakala mengutip defenisi pembaharuan Islam dengan landasan teori dari al-Quran dan al-Sunnah. bukankah pembaharuan Islam merupakan sesuatu yang telah ada konsepnya dalam al-Quran dan al-Sunnah. jika ini dipaparkan, pembaca akan bisa membandingkan konsep pembaharuan Islam (tajdid) dengan proses modernisasi ala Barat.
    terlepas dari semua itu, tulisan Anda patut diapresiasi. ma’akum al-najah……

      egie said:
      7 Desember 2010 pukul 20:50

      Aslm. wr.wb. pembaharuan tidak mesti kembali kepada konsep seseorang ( Muhammad bin Abdul Wahab) alngkah baiknya ketika membahas pembaharuan lebih fokus pada satu tema atau pembaharuan islam di tinjau dari berbagai macam asspeknya, jadi bukanlah maksud dan tujuan menggolkan suatu ajaran Muhammad bin Abdul Wahab atau gerakan wahabi, Toh ajaran Islam itu sangat luas akan mendatangkan hikmah bila kita banyak menggali dari berbagai macam konsep.

    ANIK WIJAYANTI said:
    4 September 2011 pukul 17:31

    GERAKAN TSB MEMG CKP BGS

    naraya said:
    15 September 2011 pukul 14:55

    emh, menarik.. tapi ko,,, di akhir tulisan jd agak serampangan ya? mengidentikan gerakan pembaharuan islam pada gerakan wahabi menurut saya adalah serampangan.

    abdul muin gazaly said:
    22 September 2011 pukul 07:55

    Pembaharuan perlu satu kesatuan pendapat yang berkompeten, karena saat ini telah berkembang pembaharuan yang mengarah kepada, tahditz, tahdid dikalangan umat, yang selalu meniti pada titik pertentangan terutama kaum intelektual muslim dengan ulama intelektual

    abulhusna said:
    31 Oktober 2011 pukul 21:10

    hemmmm, gimana ya.
    saya sih ga ngelihat kemana-mana. maksud saya kepada siapapun disandarkan sebuah gerakan pembaharuan itu, bukan masalah bagi saya.
    yang menjadi masalah adalah bukti bahwa orang yang dituangkan di atas/disebut namanya sebagai pembaharu, di lapangan apakah dia betul-betul sebagai pembaharu?
    kalau ya, apa salahnya diakui.
    kalau tidak, maka saya nashihatkan kepada yang mengingkari untuk lebih bijak. dalam arti begini, ketika anda memandang ada mujaddid lain yang lebih cocok bagi anda, coba anda tuangkan di web ini. ya kan?!!!
    sebab jika tidak, berarti anda mungkin jatuh dalam dua kekeliruan.
    1. anda tidak mengakui kelebihan orang lain
    2. anda tidak mau beri solusi, mengkritik,,,, ya anda bisa.
    dua hal di atas sangat berbahaya, semoga anda tidak bermaksud seperti itu. oleh karena itu anda tidak perlu merasa………………..

    Alfa said:
    16 Desember 2011 pukul 18:23

    referensi bukunya apa aja ini…???

    edi mulyadi said:
    18 Maret 2012 pukul 12:16

    Menurut saya orang yang memakai kalimat “saidina Muhammad” ketika shalat bukan musyrik tapi bid’ah, dengan dasar hadits Nabi “fainna ashdaqol hadits kitaballoh, wakhoirul huda hadyun-Muhammad, wasyarrol umur muhdatsatun, kullu muhdatsatin bid’atun, wakullu bid’atin dholalatun, wakullu dholalah fin-Naar”. jadi sesuatu perbuatan apalagi dalam ibadah shalat yang tidak di contohkan oleh Rasul Muhammad alias ditambah-tambah atau dikurangi adalah bid’ah. Ingat pesan Rasul ” Wama atakumur-Rasul fahudzuhu wama nahakum fantahu anhu” artinya apa yang datang dari Rasul ambillah apa yang dilarang jauhilah. jelas sekali bahwa orang yang menambah-nambah dalam ibadah itu adalah bid’ah, sedang yang bid’ah tempatnya di Neraka. Na’udzubillahi min dzalik

    Fitry Marina said:
    26 Juni 2012 pukul 16:18

    makasih ya.. tulisannya dah bantu tgs aku.. :-)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s