AlKitab/Bible Mampu, Tetapi Al Qur’an Tidak Mampu Tahan Uji, Menurut Pengakuan Tokoh-tokoh Islam

Posted on


Salah satu dasar keyakinan Kristen terhadap keaslian semua teks Alkitab adalah kemampuannya tahan uji selama 2000 tahun terhadap semua lawannya. Sebaliknya, Al-Qur’an dipastikan akan hancur kalau diuji dengan kriteria yang sama. Ternyata Alkitab adalah Firman Allah yang diturunkan – pasti, diuji dan lulus. Sama nyata adalah fakta bahwa Al Qur’an hanya karangan seorang untuk suku bangsanya sendiri yang tidak mampu tahan uji kalau keasliannya dites (diuji).

Pengaruh Metodologi Bibel Terhadap Studi Alquran
Laporan : Adnin Armas, Republika 29 November 2004

Para Orientalis dan pujangga ilmiah keislaman seperti Ignaz Goldziher (m. 1921), mantan mahasiwa al-Azhar, Mesir, Theodor Noldeke (m. 1930), Friedrich Schwally (m. 1919), Edward Sell (m. 1932), Gotthelf Bergstresser (m.1933), Leone Caentani (m. 1935), Alphonse Mingana (m. 1937), Otto Pretzl (m. 1941), Arthur Jeffery (m. 1959), John Wansbrough (m. 2002) dan muridnya Prof Andrew Rippin, serta Christoph Luxenberg (nama samaran), dan masih banyak lagi yang lain, membawa pandangan hidup mereka (world view) ketika mengkaji Islam.

Mereka mengadopsi metodologi Bibel ketika mengkaji al-Quran. Pendeta Edward Sell, misalnya, menyeru sekaligus mendesak agar kajian terhadap historisitas al-Quran dilakukan. Menurutnya, kajian kritis-historis al-Quran tersebut perlu menggunakan metodologi analisa bibel (biblical criticism). Untuk merealisasikan gagasannya, ia menggunakan metodologi higher criticism dalam bukunya Historical Development of the Quran, yang diterbitkan pada tahun 1909 di Madras, India.

Senada dengan Pendeta Edward Sell, Pendeta Alphonse Mingana di awal-awal artikelnya menyatakan bahwa:

Sudah tiba masanya untuk melakukan kritik teks terhadap al-Quran sebagaimana telah kita lakukan terhadap Bibel Yahudi yang berbahasa Ibrani-Aramaik dan kitab suci Kristen yang berbahasa Yunani.”

Alphonse Mingana, Syriac Influence on the Style of the Kur’an, Manchester Bulletin 11: 1927.

Noldeke, Schwally, Bergstresser, dan Pretzl bekerja sama menulis buku Geschichte des Qorans (Sejarah al-Quran). Buku yang menggunakan metodologi Bibel ini, mereka tulis selama 68 tahun sejak edisi pertama dan selama 40 tahun sejak diusulkannya edisi kedua. Hasilnya, sampai saat ini, Geschichte des Qorans menjadi karya standar bagi para orientalis khususnya dalam sejarah kritis gubahan dan penyusunan al-Quran.

Seirama dengan yang lain, Arthur Jeffery mengatakan:

“Kita memerlukan tafsir kritis yang mencontoh karya yang telah dilakukan oleh orientalis modern sekaligus menggunakan metode-metode penelitian kritis modern untuk tafsir al-Quran.

(Arthur Jeffery, Progress in the Study of the Quran Text, The Moslem World 25: 1935).

Jeffery selanjutnya menumpukan hasratnya untuk membuat tafsir-kritis al-Quran. Salah satu caranya dengan membuat kamus al-Quran. Menurutnya, karya-karya tafsir selama ini tidak banyak memuat mengenai kosa kata teknis di dalam al-Quran. Menurutnya lagi, para mufasir dari kalangan Muslim, masih lebih banyak yang tertarik untuk menafsirkan masih dalam ruang lingkup hukum dan teologi dibanding untuk menemukan makna asal (original meaning) dari ayat-ayat al-Quran.

Merealisasikan impiannya, pada tahun 1925-1926, ia mengkaji dengan serius kosa-kata asing di dalam al-Quran. Hasilnya, ia menulis buku The Foreign Vocabulary of the Quran (Pengaruh Kosa-Kata Asing di dalam al-Quran), Baroda: Oriental Institute, 1938). Ia berharap kajian tersebut bisa dijadikan kamus al-Quran, sebagaimana kamus Milligan-Moulton, sebuah kamus untuk Perjanjian Baru (The New Testament).

Tidak berhenti dengan kajian filologis (philological study), Jeffery juga mengadopsi analisa teks (textual criticism) untuk mengkaji segala aspek yang berkaitan dengan teks al-Quran. Tujuannya untuk menetapkan akurasi teks al-Quran. Analisa teks melibatkan dua proses, yaitu revisi (recension) dan amandemen (emendation). Merevisi/recension adalah memilih, setelah memeriksa segala material yang tersedia dari bukti yang paling dapat dipercaya, yang menjadi dasar kepada sebuah teks. Amandemen adalah menghapuskan kesalahan-kesalahan yang ditemukan sekalipun di dalam manuskrip-manuskrip yang terbaik.

Jeffery telah mendapati, sejarah teks (textual history) al-Quran sangat problematis (bermasalah) karena secara hakiki, tidak ada satupun dari ortografi naskah al-Quran asli dulu yang masih ada pada hari ini (sejak ratusan tahun yang telah berlalu).

Tidak ada naskah al-Quran yang ada saat ini, yang tidak berubah.
Sekalipun perubahan naskah itu alasannya demi kebaikan, namun tetap saja, menurut Jeffery, wajah teks asli sudah berubah.

Manuskrip-manuskrip awal al-Quran, misalnya, tidak memiliki titik dan baris dan ditulis dengan khat Kufi yang sangat berbeda dengan tulisan yang saat ini digunakan.

Jadi, menurut Jeffery, modernisasi tulisan dan ortografi, yang melengkapi teks dengan tanda titik dan baris, sekalipun memiliki tujuan yang baik, namun telah merusak teks asli. Teks yang diterima (textus receptus) saat ini, bukan fax dari al-Quran yang pertama kali.

Namun, ia adalah teks yang merupakan hasil dari berbagai proses perubahan ketika periwayatannya berlangsung dari generasi ke generasi di dalam komunitas masyarakat. (Arthur Jeffery, The Quran as Scripture, New York: R. F. Moore: 1952).

Dalam pandangan Jeffery, tindakan masyarakat (the action of community) yang menyebabkan sebuah kitab itu dianggap suci. Fenomena ini, menurutnya, terjadi di dalam komunitas lintas agama. Komunitas Kristen (Christian community), misalnya, memilih 4 dari sekian banyak Gospel, mengumpulkan sebuah korpus yang terdiri dari 21 Surat (Epistles), dan menggabungkan dengan Perbuatan-Perbuatan (Acts) dan Apokalipse, yang semua itu membentuk Perjanjian Baru (New Testament).

Ini sama halnya, menurut Jeffery, dengan

o penduduk Kufah yang menganggap mushaf ‘Abdullah ibn Mas’ud sebagai al-Quran edisi mereka (their recension of the Quran),
o penduduk Basra dengan mushaf Abu Musa,
o penduduk Damaskus dengan mushaf Miqdad ibn al-Aswad, dan
o penduduk Syiria dengan mushaf Ubay.

Bagaimanapun, mushaf-mushaf tersebut lagi-lagi paralel sekali dengan sikap masing-masing pusat-pusat gereja terdahulu yang masing-masing menetapkan sendiri beragam variasi teks di dalam Perjanjian Baru. Teks Perjanjian Baru memiliki berbagai versi seperti teks Alexandria (Alexandrian text), teks Netral (Neutral text), teks Barat (Western text), dan teks Kaisarea (Caesarean text). Masing-masing teks tersebut memiliki varian bacaan tersendiri.

Melanjutkan analisisnya, Jeffery berpendapat mushaf-mushaf tersebut merupakan bagian dari mushaf-mushaf tandingan (rival codices) terhadap mushaf Usmani. Ia kemudian berkolaborasi dengan Bergstresser, guru Joseph Schacht merancang untuk membuat al-Quran edisi kritis (a critical edition of the Quran).

Dua Ilmuan Islam: Mohammed Arkoun dan Nasr Hamid
Dalam perkembangannya, metodologi tersebut juga sudah diterapkan oleh sebagian pemikir Muslim. Mohammed Arkoun, misalnya, sangat menyayangkan jika sarjana Muslim tidak mau mengikuti jejak kaum Yahudi-Kristen. Dia menyatakan:

“Sayang sekali bahwa kritik-kritik filsafat tentang teks-teks suci — yang telah digunakan kepada Bibel Ibrani dan Perjanjian Baru, sekalipun tanpa menghasilkan konsekuensi negatif untuk ide wahyu –terus ditolak oleh pendapat kesarjanaan Muslim.”

Mohammed Arkoun, Rethinking Islam: Common Questions, Uncommon Answers. London: Saqi Books, 2002

Dia juga menegaskan bahwa studi al-Quran sangat ketinggalan dibanding dengan studi Bibel (Al-Kitab)(“Quranic studies lag considerably behind Biblical studies to which they must be compared). (Mohammed Arkoun, The Unthought in Contemporary Islamic Thought, London: Saqi Books, 2002).

Menurut Arkoun, metodologi John Wansbrough, memang sesuai dengan apa yang selama ini ingin dia kembangkan. Dalam pandangan Arkoun, intervensi ilmiah Wansborugh cocok dengan framework yang dia usulkan. Framework tersebut memberikan prioritas kepada metode-metode analisa sastra yang, seperti bacaan antropologis-historis, menggiring kepada pertanyaan-pertanyaan dan sebuah refleksi yang bagi kaum fundamentalis saat ini tidak terbayangkan. (Mohammed Arkoun, Contemporay Critical Practices and the Quran, di dalam Encyclopaedia of the Quran, Editor Jane Dammen McAuliffe, Leiden: Brill, 2001).

Padahal John Wansbrough, yang menerapkan analisa Bibel, yaitu form criticism dan redaction criticism kepada al-Quran, menyimpulkan bahwa teks al-Quran yang tetap ada baru ada setelah 200 tahun wafatnya Rasulullah (Muhammad). Menurut John Wansbrough lagi, riwayat-riwayat mengenai al-Quran versi Usman adalah sebuah fiksi yang muncul kemudian, direkayasa oleh komunitas Muslim supaya asal-muasal al-Quran dapat dilacak ke Hijaz (Issa J Boullata, Book Reviews: Qur’anic Studies: Sources and Methods of Scriptural Interpretation, The Muslim World 67: 1977).

Menurut Arkoun, kaum Muslimin menolak pendekatan kritis-historis al-Quran karena nuansa politis dan psikologis. Politis karena mekanisme demokratis masih belum berlaku, dan psikologis karena kegagalan pandangan muktazilah mengenai kemakhlukan al-Quran. Padahal, menurut Arkoun, mushaf Usmani tidak lain hanyalah hasil sosial dan budaya masyarakat yang kemudian dijadikan ”tak terpikirkan” dan makin menjadi ”tak terpikirkan” karena kekuatan dan pemaksaan penguasa resmi. Ia mengajukan istilah untuk menyebut mushaf Usmani sebagai ”mushaf resmi tertutup (closed official corpus)”. (Mohammed Arkoun, Rethinking Islam Today di dalam Mapping Islamic Studies, Editor Azim Nanji).

Dalam pandangan Mohammed Arkoun, apa yang dilakukannya sama dengan apa yang diusahakan oleh Nasr Hamid Abu Zayd, seorang intelektual asal Mesir. Arkoun menyayangkan sikap para ulama Mesir yang menghakimi Nasr Hamid. Padahal metodologi Nasr Hamid memang sangat layak untuk diaplikasikan kepada al-Quran.

Nasr Hamid berpendapat bahwa al-Quran sebagai sebuah teks dapat dikaji dan ditafsirkan bukan hanya oleh kaum Muslim, tapi juga oleh Kristen maupun ateis.

Al-Quran adalah teks linguistik-historis-manusiawi. Ia adalah hasil budaya Arab.

Adopsi sarjana Muslim terhadap metodologi Bible terhadap al-Quran sangat disayangkan. Jika adopsi ini diamini, maka hasilnya fatal sekali. Otentisitas (kesahihan) al-Quran sebagai kalam Allah akan tergugat.

Al-Quran akan diperlakukan sama dengan teks-teks yang lain.

Ia akan menjadi teks historis, padahal sebenarnya (menurut iman & kepercayaan Muslim saja) ia adalah “Tanzil”. Ia jelas berbeda dengan sejarah Bible. Sumbernya juga berbeda. Setting sosial dan budaya juga berbeda. Bahkan bahasa asli Bibel sudah tidak banyak lagi digunakan oleh penganut Kristen. Sangat berbeda dengan kaum Muslimin, yang dari dulu telah, sekarang masih, dan akan datang terus membaca dan menghapal al-Quran dalam bahasa Arab. Oleh sebab itu, mengadopsi metodologi Bibel terhadap al-Quran adalah adopsi dan metodologi yang orang Islam anggapi dan akui sebagai salah kaprah.

Penulisnya ialah Kandidat Doktor di ISTAC-IIUM, Kuala Lumpur

Source: Republika Online, Juga paparan di Indonesia Watch dengan seizinnya.

Sumber: http://www.answering-islam.de/Main/Bahasa/Quran/AQmmg_tidak_tahan_uji.html

About these ads

28 thoughts on “AlKitab/Bible Mampu, Tetapi Al Qur’an Tidak Mampu Tahan Uji, Menurut Pengakuan Tokoh-tokoh Islam

    el-zein said:
    19 Agustus 2007 pukul 12:05

    Aktualisasi Metodologi Bibel

    Saya baru gabung di sini. Tapi boleh ikutan nimbrung, khan….Apalagi saya melihat banyak wacana tentang Islam yang sepihak dan berantakan di sini. Tulisannya Adnin Armas kayaknya perlu saya tanggapi, tuh.

    Memang benar bahwa al-Qur’an tidak bisa dipertemukan dengan metodologi Bibel. Begitu juga al-Qur’an akan buyar ketika dihadapkan dengannya. Namun sungguh keliru bila lantas timbul kesimpulan al-Qur’an adalah wacana yang tidak tahan uji.

    Sebenarnya kekacauan al-Qur’an terjadi justru karena ia mencoba dinalar oleh metodologi buatan manusia. Islam memiliki metodologi sendiri yang syar’ie (islami) untuk mengkaji al-Qur’an. Sebuah kitab suci yang memiliki kadar ilmiah tak tertakar hanya bisa dikaji lewat metodologi mumpuni pula. Apa jadinya bila ada kelas tiga SMU diisi oleh anak kelas tiga SD. Tentunya guru yang masuk mengajar akan segera merasakan betapa kacaunya kelas tersebut.

    Metodologi Bibel atau lebih dikenal dalam Islam dengan metodologi hermeneutika telah banyak diulas oleh tokoh-tokoh Islam. KH. Zuhrul Anam Hisyam , salah satu pengasuh PP. at-Taujieh al-Islami Banyumas, menuturkan soal hermeneutika teks ini. Beliau menyajikan definisi, klasifikasi, dan perbandingan tentang hermeneutika teks. Berikut saya sarikan tulisannya

    A. SEKILAS TENTANG HERMENEUTIKA

    Secara etimologi, istilah “hermeneutics” (Inggris) berasal dari bahasa Yunani “hermeneuin” yang berarti “menafsirkan”. Kata ini sering diasosiasikan dengan “Hermes”, yang dalam mitologi Yunani dianggap sebagai dewa yang diutus oleh Zeus (Tuhan) untuk menyampaikan pesan dan berita kepada manusia di bumi. Hermes akan mengubah pesan dari Tuhan, yang terkadang ‘melangit’ dan sulit dimengerti, ke dalam bahasa yang ‘membumi’ dan bisa dimengerti oleh manusia.

    Karena hermeneutika memiliki banyak aliran, maka arti teknis istilah ini juga bermacam-macam. Namun, kita ambil saja arti singkat dari istilah tersebut yang, menurut hemat saya, bisa disepakati oleh semua aliran hermeneutika. Pada intinya, hermeneutika adalah penafsiran yang mempertimbangkan teks, konteks, dan kontekstualisasi. Dengan memakai hermeneutika, maka pertama, penafsir akan melihat ‘teks’ (nushush) dari semua aspek kebahasaan sampai semua arti bahasanya akan jelas.

    Lalu, tahap kedua, dia akan meluncur pada ‘konteks’ (bi’ah), baik itu konteks di mana teks itu dikeluarkan maupun konteks sekarang. Ia harus bisa memahami kenapa teks itu ada, arti yang berlaku pada saat teks tersebut dikeluarkan, arti pada saat teks itu ditafsirkan oleh penafsir lain dalam konteks tertentu, dan apa artinya pada saat teks itu ditafsirkan sekarang. Dalam tahap ini, penafsir akan mendapatkan maksud teks yang sesungguhnya dan—kalau memang ada—perubahan arti teks dari waktu ke waktu. Tahap terakhir, adalah bagaimana penafsir harus bisa meng-‘kontekstualisasi’-kan maksud teks ke dalam kondisi kekinian, dengan cara mengatasi berbagai kesenjangan bahasa dan budaya.

    Menurut Dr. Ugi Suharto, perkembangan hermeneutika dari arti bahasa menjadi arti istilah terjadi ketika para teolog Yahudi dan Kristen mengkaji ulang secara kritis teks-teks kitab suci mereka. Mereka menggunakan hermeneutika karena mereka menghadapi problem dengan teks kitab suci mereka yang sudah tidak asli lagi. Sebagaimana diketahui, redaksi kata-kata yang ada dalam Bibel sekarang bukanlah asli “Kalam Tuhan” (The Word of God), tapi hasil—kalau boleh saya permudah—“riwayat bil ma’na” dari beberapa orang atas apa yang diyakini sebagai kalam Tuhan. Makna ini diriwayatkan dan diungkapkan dengan bahasa sang rawi yang juga merangkap sebagai penulis Bibel. Karena itu, redaksi antara riwayat orang yang satu dan lainnya sering berbeda-beda, bahan tidak jarang bertentangan satu sama lain. Dalam kondisi yang demikian inilah kemudian hermeneutika hadir untuk mengungkap “nilai kebenaran Bibel” yang asli.

    Dalam tradisi Kristen, ada dua mazhab penafsiran kitab suci: (a) penafsiran harfiah yang dianut oleh mazhab Anthiokia, dan (b) penafsiran simbolik yang dianut oleh mazhab Alexandria. Penggunaan hermeneutika dalam penafsiran teks kitab suci Kristen muncul pada masa reformasi pada agama Kristen yang memunculkan dua mainstream: Protestan dan Katolik.

    Keadaan terus berkembang, sampai salah seorang dari kubu Protestan, yakni Friedrich Ernest Daniel Schleiermacher (kemudian dikenal sebagai “Bapak Hermeneutika Modern”) menggariskan metode hermeneutika-nya yang masyhur dengan sebutan Hermeneutika Romantik. Dengan konsepnya ini, Schleiermacher ingin bermain dalam dua wilayah:

    1. pemahaman gramatikal terhadap bentuk ekspresi dan bahasa dari budaya di mana “sang pengarang” menentukan pemikirannya.

    2. pemahaman teknis atau psikologis terhadap ciri khas subyektifitas atau kreativitas “sang pengarang”.[1]

    Dengan memakai hermeneutika Schleiermacher, maka ‘penafsir yang sekarang’ akan melihat, pertama, redaksi bahasa dalam teks Bibel dan budaya di mana “sang pengarang” menyusunnya, kemudian kedua, meraba-raba kondisi psikologis yang mempengaruhi subyektifitas dan kreativitas “sang pengarang” ketika ia membuat teks. Dengan dua hal ini diharapkan seorang penafsir baru dapat memahami “sang pengarang” dengan baik, bahkan seringkali lebih baik dari pemahaman “sang pengarang” atas dirinya sendiri. Dari sinilah maka “nilai kebenaran Bibel” yang benar-benar ‘original’ bisa didapatkan.

    Hermeneutika kemudian terus berkembang sesuai dengan perkembangan persepsi dan model pemakaiannya. Dr. Ugi Suharto menyimpulkan tiga tahap perkembangan hermeneutika: dari makna bahasa, makna teologi, sampai kemudian filsafat.[2] Richard E. Palmer membagai kronologi perkembangan pendefinisian hermeneutika ini ke dalam enam kategori, yaitu:

    1. Hermeneutika sebagai teori penafsiran kitab suci

    2. Hermeneutika sebagai metode filologi

    3. Hermeneutika sebagai pemahaman linguistik

    4. Hermeneutika sebagai fondasi dari ilmu sosial (geisteswissenschaft)

    5. Hermeneutika sebagai fenomena das sein

    6. Hermeneutika sebagai sistem interpretasi.[3]

    Ketika hermeneutika telah menjadi subyek filsafat maka ada banyak aliran di sana. Ada hermeneutika yang digagas oleh Emilio Betti (sarjana hukum Romawi berbangsa Itali), ada hermeneutika yang digagas oleh Eric D. Hirsch (kritikus sastra berbangsa Amerika), ada hermeneutika yang digagas oleh Hans-Georg Gadamer (ahli filsafat dan bahasa), dan ada lagi aliran-aliran hermeneutika yang lain seperti Dilthey, Heidegger, dan lain-lain. Masing-masing aliran-aliran tersebut memiliki karakteristik dan pandangan-pandangan tersendiri.[4]

    B. TAFSIR DAN TA’WIL

    Dalam ‘Ulum Al-Qur’an sebenarnya ada penjelasan rinci mengenai konsep-konsep dasar yang berkaitan dengan penafsiran Al-Qur’an. Sedangkan teknis pelaksanaan dari konsep-konsep tersebut telah dijelaskan dengan sangat gamblang dalam ilmu Ushul Fiqih. Semuanya itu telah dipraktekkan selama berabad-abad, sejak dari generasi paling awal sampai sekarang, dan menghasilkan ribuan karya.

    Sebagaimana diketahui, untuk menggali kandungan Al-Qur’an, ada dua cara yang selama ini dipraktekkan, yaitu tafsir dan ta’wil. Tanpa bermaksud berbicara terlalu detail, di sini akan digambarkan beberapa definisi mengenai tafsir dan ta’wil, sekedar menggambarkan hakikat kedua metode itu. Tafsir secara bahasa berarti ‘penjelasan’ (al-idlah wa al-tabyin).[5] Menurut Al-Zarkasyiy, tafsir secara istilah adalah ilmu yang digunakan untuk memahami Al-Qur’an, menjelaskan makna-maknanya, dan menarik hukum-hukum serta hikmah-hikmahnya.[6] Menurut Al-Shabuniy, tafsir adalah makna yang jelas dari suatu ayat.[7]

    Sedangkan ta’wil, secara bahasa berasal dari ‘awl’ yang bermakna ‘kembali’ (al-ruju’).[8] Menurut istilah, ta’wil adalah mengunggulkan sebagian makna yang terkandung dari suatu ayat yang mengandung banyak makna. Ta’wil seakan-akan memindahkan suatu ayat terhadap apa yang dikandungnya berupa makna-makna (sharf al-ayat ila ma tahtamiluh min al-ma’ani). Kesan yang timbul dari definisi ini adalah bahwa ta’wil lebih dalam penggaliannya daripada tafsir.

    Sekilas dua istilah ini memang tidak ada bedanya, dan memang keduanya dianggap sama artinya oleh para mutaqaddimin. Tapi dalam Al-Itqan, Al-Suyuthiy membedakan keduanya. Menurutnya, tafsir adalah ‘mengungkapkan makna-makna Al-Qur’an yang jelas’, sedangkan ta’wil adalah ‘apa yang dipetik oleh al-‘arifun, berupa makna-makna yang samar dan rahasia-rahasia ilahiah yang halus, yang dikandung oleh ayat Al-Qur’an’.[9] Ada yang berpendapat bahwa “al-tafsir ma yata’allaq bi al-riwayah, wa al-ta’wil ma yata’allaq bi al-dirayah”.[10]

    Saya hanya ingin mengatakan bahwa apapun definisi tentang tafsir dan ta’wil, keduanya jelas masih berada dalam wilayah makna (atau makna-makna) suatu ayat. Ta’wil juga tidak bisa dilakukan dengan serampangan, sebab ada adagium yang mengatakan bahwa: “man dzahaba ila al-ta’wil, yaftaqir ila al-dalil”. Keduanya juga memiliki aturan main yang jelas. Dengan demikian, kedua metode ini tidak pernah ‘melampaui’ teks, apalagi sampai menegasikan dan menundukannya di bawah akal penafsir atau penakwil. Permainan keduanya juga hanya sebatas memahami teks, sehingga tidak pernah mengkritik teksnya itu sendiri.

    C. HERMENEUTIKA SEBAGAI METODE PENAFSIRAN AL-QUR’AN

    1. PERBEDAAN QUR’AN DAN BIBEL

    Ada beberapa perbedaan mendasar antara Bibel dan Al-Qur’an. Pertama, para peneliti sepakat bahwa redaksi kata-kata Bibel bukanlah firman Tuhan yang asli, sementara Al-Qur’an jelas Kalamullah yang terjaga keasliannya. Apa yang tercatat dalam Al-Qur’an sekarang, yakni dalam Al-Mushaf Al-‘Utsmaniy, semua riwayatnya mutawatir dan tidak diperselisihkan sedikitpun di kalangan umat Islam, baik Sunni maupun Syi’ah.[11]

    Kedua, Bibel yang ada sekarang tidak dibaca dan ditulis dalam bahasa aslinya. Bahasa asli Perjanjian Lama (Old Testament, Al-‘Ahd al-Qadim) adalah Hebrew, sedangkan bahasa asli Perjanjian Baru (New Testament, Al-‘Ahd al-Jadid) adalah Greek. Nabi Isa sendiri berbicara dalam bahasa Aramaic. Sekarang ini bahasa Hebrew kuno telah punah, sehingga untuk memahami Bibel yang berbahasa Hebrew, para penafsir memerlukan bahasa lain yang serumpun (semitic), yang dalam hal ini adalah bahasa Arab.[12] Sementara Al-Qur’an, seperti kita lihat sekarang, masih dalam redaksi dan bahasa aslinya, Arab, yang sampai sekarang jelas-jelas masih hidup dan digunakan banyak orang.

    Ketiga, perbedaan pengarang yang menuliskan Bibel mengakibatkan perbedaan gaya dan kosa kata dalam Bibel.[13] Di dalamnya juga tidak ada standar transmisi yang jelas dan bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.[14] Bahkan menurut Pendeta Martin Lukito Sinaga, D.Th., teks Bible yang ditulis oleh para pengarangnya perlu dicurigai, baik dari sisi penambahan atau pengurangan yang mereka lakukan. Beliau tidak menampik adanya kecurigaan terhadap diri para Pengarang Bible dalam menerima teks Bible dari generasi ke generasi. Karena masalah perbedaan gaya bahasa dan kosakata Bibel, Lembaga Al-Kitab Indonesia merevisi terjemahan setiap 40 tahun.

    Sekedar contoh, Bibel edisi Indonesia. Dalam cetakan dan terbitan yang sama namun beda tahun (1971 dan 1978) terdapat perubahan kata `babi’ sebagai hewan yang haram dimakan dalam Imamat Al-Kitab. Dalam cetakan tahun 1971 ditulis ‘babi’ saja, sedang dalam cetakan 1978 berubah menjadi ‘babi hutan’.

    Sementara itu, Al-Qur’an disampaikan secara langsung oleh Muhammad SAW, kemudian dihafal oleh para sahabat dan umat Islam bahkan hingga sekarang. Harap diingat, Al-Qur’an pada dasarnya adalah ‘bacaan’, bukan ‘tulisan’, sehingga tradisi transmisi (riwayah) Al-Qur’an yang paling pokok adalah dilakukan melalui ‘hafalan bacaan’, bukan ‘tulisan’.[15] Tulisan yang ada sekarang hanya penopang dari proses transmisi yang ada dan memudahkan saja. Seandainya tidak ditulis pun, Al-Qur’an tetap terjaga dalam hafalan orang-orang Islam.

    2. MENIMBANG HERMENEUTIKA SEBAGAI METODE PENAFSIRAN AL-QUR’AN

    Dr. Sa’id Ramadlan al-Buthiy mengatakan bahwa segala metode untuk mengetahui ajaran Islam–termasuk metode penafsiran nushush syar’iyyah–pada dasarnya tumbuh secara alami dalam lingkungan para ilmuwannya. Jadi kita tidak perlu mempertanyakan siapa yang meletakkan metode tersebut dan siapa yang mengharuskan kita untuk mengikutinya. Metode itu muncul dalam praktek secara alami dan turun temurun dari generasi paling awal sampai sekarang. Dalam proses itu, ada yang kemudian mencermatinya dan merumuskan praktek itu dalam kaidah-kaidah.[16]

    Dengan demikian, adalah sangat aneh, jika kita kemudian tiba-tiba ingin mematahkan rangkaian itu, dengan mengambil ‘metode asing’ (yang tidak pernah dipraktekkan para mufassirin) dan memaksakan penerapannya dalam budaya tafsir kita. Alasannya jelas, karena para mufassirin telah memiliki metode sendiri yang dipraktekkan selama sekian abad, yaitu tafsir dan ta’wil beserta segala aturan mainnya.

    Pemaksaan ini tak ubahnya memaksakan metode penafsiran bahasa Arab untuk menafsirkan bahasa Jawa. Padahal masing-masing bahasa itu mempunyai cara penafsiran, seperti halnya masing-masing tradisi ilmu yang memiliki metodenya sendiri-sendiri. Metode dalam tradisi penafsiran Al-Qur’an adalah tafsir dan ta’wil, sementara metode dalam tradisi penafsiran Bibel adalah hermeneutika, sehingga tidak boleh dipertukarkan. Meski dalam beberapa hal—mungkin—ada persamaan, tapi siapapun tidak bisa menolak bahwa keduanya memiliki pijakan pra-asumsi dan epistemologi yang berbeda.

    Dari segi pra-asumsi yang mendasari, hermeneutika akan selalu menganggap suatu teks sebagai hal yang bermasalah. Ini adalah pra-asumsi paling pokok dari ‘hermeneutika kritis’. Karena itu, ia bukan hanya memahami teks, tapi juga mengkritisi. Kalau diterapkan untuk Bibel, metode ini sangat cocok, karena, sebagaimana telah disebutkan di depan, teks Bibel memang bermasalah. Tapi pra-asumsi kebermasalah teks a la hermeneutika ini tidak tepat bila diterapkan untuk Al-Qur’an, karena Al-Qur’an tidak pernah menghadapi problem dengan originalitas redaksi teksnya.

    Dari sisi epistemologis, hermeneutika bersumber dari akal semata-mata, oleh karenanya hermeneutika memuat dzann (dugaan), syakk (keraguan), mira’ (asumsi). Sedangkan di dalam tafsir, sumber epistemologi adalah wahyu Al-Qur’an. Ketika orang mempraktekkan metode tafsir dalam tradisi Islam, maka ia akan, dan bahkan harus senantiasa, berada dalam epistemologi yang sumbernya dari Al-Qur’an, yakni epistemologi yang memadukan keimanan dan akal.

    Ambil contoh hermeneutikanya Gadamer. Hans-George Gadamer berpendapat bahwa interpretasi selalu diawali dengan sebuah asumsi. Sederet asumsi penafsir meniscayakan kesalahfahaman dan distorsi penafsiran, sekecil apapun itu. Interpretasi adalah sebuah ‘pra-pemahaman’ yang ditentukan oleh sejarah dan berkaitan erat dengan nilai-nilai tradisional, yang mengasumsikan horizon intelektual yang melatarbelakanginya. Sang penafsir, tidak bisa tidak, akan senantiasa terpengaruh oleh itu semua.

    Mungkin apa yang dikatakan Gadamer benar, tapi perkataannya ini akan runtuh dengan sendirinya jika dihadapkan pada fakta adanya kesepakatan para mufassirin dalam beberapa hal tertentu. Khazanah tafsir Al-Qur’an memang banyak ikhtilaf-nya, tapi banyak pula bagian-bagian tertentu yang tampaknya bisa ‘melampaui’ latar belakang situasi, budaya, dan sosial, sehingga tetap terjadi konsensus di kalangan para mufassirin dalam bagian-bagian tersebut.

    Kalaupun, taruhlah, hermeneutika akan kita sepakati layak untuk digunakan dalam penafsiran Al-Qur’an, maka ia masih menyisakan persoalan. Sebagaimana diketahui, hermeneutika memiliki corak dan aliran yang sangat beragam. Lalu hermeneutika mana yang akan kita pakai? Siapa yang menjamin bahwa aliran hermeneutika itulah yang paling tepat menunjukkan pemahaman yang sebenarnya tentang Al-Qur’an? Bukankah ketika seseorang memilih aliran hermeneutika tertentu, berarti ia memasuki ’sistem pemikiran’ tokoh tertentu yang mengajarkan hermeneutika itu? Kenapa ia tidak mengambil tokoh lain saja, dan lalu di mana obyektifitasnya?

    Demikianlah, pada akhirnya kita memang harus sepakat dengan pendirian Al-Buthiy, bahwa metode tafsir al-nushush al-syar’iyyah yang ada dalam Islam bukanlah hasil ciptaan atau rekayasa. Ia tumbuh secara alami dan turun-temurun bersamaan dengan aktifitas para ilmuwan Islam dalam menafsirkan nushush tersebut. Metode ini tumbuh dengan sendirinya sebagai metode yang paling sesuai bagi seorang mukmin ketika ia berhadapan dengan nushush yang berbahasa Arab.

    Hal yang sama juga terjadi dalam tradisi Kristen. Hermeneutika tumbuh secara alami dalam lingkungan mereka, karena metode itu memang yang paling cocok untuk menyikapi kondisi nushush mereka. Adalah sangat tidak logis, karenanya, jika kita kemudian berusaha meminjam atau menukarkan metode tersebut; hermeneutika digunakan untuk memahami Al-Qur’an, sedangkan tafsir dan ta’wil digunakan untuk memahami Bibel. Kalau ini sampai terjadi, maka inilah kekonyolan ilmiah terbesar yang sangat bertentangan dengan akal sehat.

    Mengutip Prof. Dr. Wan Mohd Daud Wan Daud, Guru Besar di ISTAC-IIUM Malaysia, metode tafsir yang selama ini berkembang jelas memenuhi kualifikasi untuk disebut ilmiah, bahkan jauh lebih baik dari hermeneutika. Karenanya, kita perlu ’malu’ untuk berpegang teguh dengan metode kita ini.[17]

    3. DAMPAK PENGGUNAAN HERMENEUTIKA DALAM PENAFSIRAN AL-QUR’AN

    Anda lihat di atas, ada perbedaan yang sangat mencolok antara Al-Qur’an dan Bibel. Dari sela-sela paparan di atas, Anda juga bisa merasakan betapa hermeneutika sangat berbeda dengan tafsir dan ta’wil. Hermeneutika akan melihat secara sangat kritis terhadap “pengarang” atau “penafsir awal” dan produk yang mereka keluarkan. Seandainya ini kita terapkan dalam penafsiran Al-Qur’an, lalu siapa yang akan kita lihat secara kritis? Apakah kita akan mengkritisi “pengarang” atau “penafsir awal” (dalam hal ini Allah dan Rasulullah) dan ‘produk’ mereka (redaksi teks Al-Qur’an)?

    Hermeneutika Gadamer menggambarkan bahwa para penafsir tidak akan terlepas daripada latar belakang situasi, budaya dan sosial, yang kemudian membentuk asumsi-asumsi dan mengakibatkan kesalahan penafsiran. Kalau hermeneutika Gadamer ini akan kita bawa ke dalam penafsiran Al-Qur’an, lalu bagaimana dengan asumsi para penafsir, seperti asumsi tentang otoritas Allah, kerasulan Muhammad, dan hal lain yang menandakan keimanan seseorang? Apakah semua ini harus dilepas atau dikritisi, agar penafsirannya bisa obyektif? Tentu ini sangat berbahaya, sebab bila seorang mukmin sampai melepas ‘asumsi-asumsi’ keislaman yang mendasari penafsirannya, maka ia jelas sudah tidak Islam lagi.

    Hermeneutika Schleiermacher lebih banyak bermain dalam wilayah psikologis. Lalu jika kita memakai hermeneutikanya Schleiermacher, apakah kita juga akan mengkritisi ‘kondisi psikologi’ mereka (Allah dan Rasulullah)? Hermeneutikanya Wilhem Dilthey menggambarkan bahwa pengarang tidak mempunyai kekuasaan untuk menentukan makna teks, tapi sejarahlah yang menentukan maknanya. Kalau memakai logika seperti ini, apakah kita juga akan mengatakan bahwa makna Al-Qur’an senantiasa ‘tunduk’ pada sejarah?

    Dalam tataran arti teologis, hermeneutika akan mempersoalkan kembali ayat-ayat yang sudah dzahir dari al-Qur’an. Selain itu, ia juga bisa mengakibatkan keragu-raguan atas Mushaf Utsmani yang telah disepakati oleh kaum Muslimin. Tidak heran, karenanya, jika kita kemudian melihat, misalnya, Muhammad Arkon yang ingin men-“deconstruct” (merubah ulang) Mushaf Utsmani. Ia mencurigai Mushaf ‘Utsmani telah terkontaminasi faktor politik, dan karenanya, perlu ‘ditinjau ulang’.

    Sedangkan dalam tataran arti filosofis, hermeneutika bisa lebih berbahaya lagi ketika dipakai untuk memahami Al-Qur’an. Contoh ‘korban’-nya adalah Nashr Hamid Abu Zaid. Ia menyatakan bahwa posisi Nabi Muhammad saw adalah semacam ‘pengarang’ al-Qur’an. Nabi Muhammad saw sebagai seorang Ummiy bukanlah penerima wahyu pasif, tetapi mengolah redaksi al-Qur’an, sesuai dengan kondisinya sebagai manusia biasa. Karena itu, setelah al-Qur’an disampaikan oleh Rasulullah saw kepada umatnya, maka ia telah berubah menjadi teks Insani bukan teks Ilahi yang suci dan sakral. Dalam ungkapannya yang cukup populer, “Al-Qur’an adalah ‘produk peradaban’ (al-muntaj al-tsaqafiy)”.[18]

    Kemudian, sebagaimana telah dipaparkan di depan, hermeneutika akan mengkaji secara kritis tiga hal: teks, konteks (dulu dan sekarang), serta kontekstualisasi. Sayangnya, dalam hal ini, hermeneutika tidak memberikan konsep yang jelas mengenai hubungan ketiga hal tersebut dan posisinya ketika mereka saling berbenturan. Padahal, perbenturan yang sangat hebat antara ketiga hal ini adalah sebuah keniscayaan. Karena tidak adanya konsep dan aturan yang jelas mengenai hubungan ketiganya itulah, bukan tidak mungkin jika nantinya konteks akan mengalahkan teks, dan kontekstualisasi akan mengalahkan baik teks maupun konteks.

    Contoh akibat ketidakjelasan aturan main adalah pendapat Ahmad Sahal, salah seorang aktivis JIL. Dengan menggunakan hermeneutika, ia kemudian mengatakan bahwa ’khinzir’ yang dilarang untuk dimakan itu sudah punah, dan jenis babi saat ini berbeda jenisnya.

    Jika kita terlalu melihat konteks dan kontekstualisasi dengan mereduksi teks, bukan tidak mungkin jika kemudian mengatakan: (a) khamr diharamkan karena daerah Arab panas, sehingga kalau di daerah dingin boleh; (b) jilbab wajib bagi perempuan karena syahwat lelaki Arab sangat besar, sehingga hijab tidak wajib di Indonesia; (c) zina diharamkan untuk menjaga tercampurnya nasab karena saat itu belum ada kontrasepsi dan tes DNA, sehingga ketika kontrasespi dan tes DNA sudah ada, zina menjadi boleh……, dan seterusnya.

    Berbagai pandangan seperti itu bisa saja muncul jika hermeneutika digunakan dalam memahami Al-Qur’an. Argumen saya sederhana: karena hermeneutika tidak punya aturan jelas mengenai hubungan ketiga hal tersebut. Hermeneutika tidak bisa menjamin saling-tumpang-tindihnya teks, konteks, dan kontekstualisasi. Hermeneutika bisa diibaratkan sebagai bengkel yang hanya bisa membongkar dan merusak, tapi tidak bisa memperbaiki kembali. Akibat minimal dari penggunaan hermeneutika dalam penafsiran Al-Qur’an adalah: (a) Al-Qur’an harus diragukan orisinalitasnya, (b) teks Al-Qur’an yang sakral akan tereduksi menjadi teks biasa (c) Al-Qur’an dianggap produk budaya. Karenanya, saya sepakat dengan Dr. Ugi Suharto, yang menyatakan:

    “Apabila filsafat hermeneutika digunakan kepada al-Qur’an maka yang muhkamat akan menjadi mutasyabihat, yang ushul menjadi furu’, yang tsawabit menjadi mutaghayyirat, yang qath’iyy menjadi dzanniyy, yang ma’lum menjadi majhul, yang ijma’ menjadi ikhtilaf, yang mutawatir menjadi ahad, dan yang yaqin akan menjadi dzann, bahkan syakk.”

    Kalau saya boleh menambahkan, khusus untuk penafsir: dari yang tadinya mu’min bisa menjadi mulhid !!!

    D. KESIMPULAN

    Paparan di atas menunjukkan dengan sangat jelas apa itu hermeneutika beserta (kenyataan dan kemungkinan) dampak penggunannya. Kesimpulannya pun menjadi tegas: hermeneutika tidak layak digunakan untuk menafsirkan Al-Qur’an, sebab Al-Qur’an sudah memiliki tradisinya sendiri, yakni tafsir dan ta’wil. Antara hermeneutika di satu sisi, dan tafsir serta ta’wil di sisi yang lain, memilik perbedaan yang sangat tajam, sehingga tidak boleh disamakan.

    Saya yakin, tidak ada seorang muslim pun yang mau menggunakan metode tersebut, kecuali karena dua kondisi. Pertama, karena dia tidak paham apa itu hermeneutika, tapi hanya ikut-ikutan ’trend wacana’. Atau kedua, dia paham apa itu hermeneutika, tapi dalam dirinya telah tersemai benih pemikiran Mu’tazilah yang menganggap bahwa Al-Qur’an adalah makhluk.

    Memang, sekarang ini kita semakin bisa melihat secara nyata adanya gerakan kebangkitan kembali Neo-Mu’tazilah (al-fikr al-i’tizal al-hadits).[19] Inti pemikirannya tidak berbeda dengan pemikiran Mu’tazilah dulu,[20] tapi ’Mu’tazilah kontemporer’ menjadi terkadang kabur dari pandangan kebanyakan orang, karena mereka sering menanamakan diri berbeda. ’Mu’tazilah kontemporer’ ini juga lebih rumit argumennya, karena melibatkan berbagai disiplin ilmu yang sangat beragam, yang kebanyakan diimpor dari luar tradisi keilmuan Islam.

    Karena itulah, kecerdasan dan kecermatan kita sebagai para pemikir muslim menjadi sangat dibutuhkan untuk menghadapi masalah ini. Pemikir muslim kontemporer jelas tidak bisa menghadapi tantangan-tantangan tersebut, bila hanya bermodalkan ilmu-ilmu keagamaan saja. Minimal ia harus menguasai perkembangan wacana pemikiran, atau bahkan kalau bisa menjadi ”Ghazali-Ghazali Baru” yang menguasai berbagai bidang ilmu……. Semoga Allah selalu memberi kita petunjuk !!!

    REFERENSI:

    § ‘Abd al-Rahman Hasan Habannakah, Al-‘Aqidah al-Islamiyyah wa Ususuha

    § Adian Husaini, MA., Studi Awal atas Keragaman Teks Bibel, dalam jurnal Al-Insan Vol. 1. No. 1. Januari 2005 (Al-Qur’an dan Serangan Orientalis)

    § Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat

    § Al-Nadwah al-Islamiyyah li al-Syabab al-Islamiy, Al-Mawsu’ah al-Muyassarah fi al-Adyan wa al-Madzahib wa al-Ahzab al-Mu’ashirah

    § Al-Shabuni, Al-Tibyan fi ‘Ulum al-Qur’an

    § Al-Suyuthiy, Al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an

    § Al-Syahrastaniy, Al-Milal wa al-Nihal

    § Al-Zarkasyiy, Al-Burhan fi ‘Ulum al-Qur’an

    § Dr. Sa’id Ramadlan al-Buthiy, Qawa’id Tafsir al-Nushush wa Atsaruha fi al-Taqrib Bayn al-Madzahib wa al-Firaq, makalah dalam ISESCO, Al-Taqrib bayn Al-Madzahib

    § Dr. Syamsuddin Arif, Al-Qur’an, Orientalisme, dan Luxenberg, dalam jurnal Al-Insan Vol. 1. No. 1. Januari 2005 (Al-Qur’an dan Serangan Orientalis)

    § Dr. Ugi Suharto, Apakah Al-Qur’an Memerlukan Hermeneutika, artikel dalam Jurnal Pemikiran dan Peradaban Islam ISLAMIA, Thn. 1, No. 1, Maret 2004, hal. 46-53.

    § Fakhruddin Faiz, Hermeneutika Qur’ani: Antara Teks, Konteks, dan Kontekstualisasi

    § Nasiful Atho’ dan Arif Fahrudin, Hermeneutika Transendental: Dari Konfigurasi Filosofis menuju Praksis Islamic Studies.

    § Prof. Dr. Wan Mohd Daud Wan Daud, Tafsir dan Takwil sebagai Metode Ilmiah, artikel dalam Jurnal Pemikiran dan Peradaban Islam ISLAMIA, Thn. 1, No. 1, Maret 2004

    Oleh: el-zein, wongcilacap@yahoo.com

    ——————————————————————————–

    [1] Fakhruddin Faiz, Hermeneutika Qur’ani: Antara Teks, Konteks, dan Kontekstualisasi, hal. 25-26

    [2] Dr. Ugi Suharto, Apakah Al-Qur’an Memerlukan Hermeneutika, artikel dalam Jurnal Pemikiran dan Peradaban Islam ISLAMIA, Thn. 1, No. 1, Maret 2004, hal. 46-53.

    [3] Fakhruddin Faiz, Hermeneutika Qur’ani: Antara Teks, Konteks, dan Kontekstualisasi, hal. 22-41.

    [4] Untuk mendalami aliran-aliran dalam hermeneutika, lihat Nasiful Atho’ dan Arif Fahrudin, Hermeneutika Transendental: Dari Konfigurasi Filosofis menuju Praksis Islamic Studies.

    [5] Al-Shabuni, Al-Tibyan fi ‘Ulum al-Qur’an, hal. 65.

    [6] Al-Suyuthiy, Al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an, hal. 2/174

    [7] Al-Shabuniy, Al-Tibyan, hal. 66.

    [8] Al-Zarkasyiy, Al-Burhan fi ‘Ulum al-Qur’an, hal. 2/146.

    [9] Al-Shabuni, Al-Tibyan, hal. 66.

    [10] Al-Suyuthi, Al-Itqan, hal. 2/173.

    [11] Penjelasan tentang ini lihat, misalnya, Dr. Syamsuddin Arif, Al-Qur’an, Orientalisme, dan Luxenberg, dalam jurnal Al-Insan Vol. 1. No. 1. Januari 2005 (Al-Qur’an dan Serangan Orientalis), hal. 9-26.

    [12] Lihat Dr. Ugi Suharto, Apakah Al-Qur’an Memerlukan Hermeneutika, artikel dalam Jurnal Pemikiran dan Peradaban Islam ISLAMIA, Thn. 1, No. 1, Maret 2004, hal. 46-53.

    [13] Untuk pendalaman, lihat, misalnya, Adian Husaini, MA., Studi Awal atas Keragaman Teks Bibel, dalam jurnal Al-Insan Vol. 1. No. 1. Januari 2005 (Al-Qur’an dan Serangan Orientalis), hal. 115-130.

    [14] Pemaparan tentang problem seputar penulisan dan invaliditas Bibel sekarang sebagai Kitab Suci, lihat ‘Abd al-Rahman Hasan Habannakah, Al-‘Aqidah al-Islamiyyah wa Ususuha, hal. 559-586.

    [15] Kajian yang sangat bagus mengenai hal ini dapat dilihat dalam Dr. Syamsuddin Arif, Al-Qur’an, Orientalisme, dan Luxenberg, dalam jurnal Al-Insan Vol. 1. No. 1. Januari 2005 (Al-Qur’an dan Serangan Orientalis), hal. 9-26.

    [16] Lihat Dr. Sa’id Ramadlan al-Buthiy, Qawa’id Tafsir al-Nushush wa Atsaruha fi al-Taqrib Bayn al-Madzahib wa al-Firaq, makalah dalam ISESCO, Al-Taqrib bayn Al-Madzahib, hal. 89-98.

    [17] Lihat argumennya dalam Prof. Dr. Wan Mohd Daud Wan Daud, Tafsir dan Takwil sebagai Metode Ilmiah, artikel dalam Jurnal Pemikiran dan Peradaban Islam ISLAMIA, Thn. 1, No. 1, Maret 2004, hal. 58-69.

    [18] Lihat analisis penggunaan hermeneutika dalam pemikiran Nashr Hamid Abu Zayd dalam Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat, hal. 304-319.

    [19] Al-Nadwah al-Islamiyyah li al-Syabab al-Islamiy, Al-Mawsu’ah al-Muyassarah fi al-Adyan wa al-Madzahib wa al-Ahzab al-Mu’ashirah, hal. 72-74.

    [20] Penjelasan detail tentang tokoh, pecahan, dan pemikiran Mu’tazilah, lihat Al-Syahrastaniy, Al-Milal wa al-Nihal, hal. 34-68.

    rony said:
    19 Agustus 2007 pukul 13:07

    Assalamu ‘alaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Kalau kita pahami alur berfikir ‘mereka’, mungkin kita akan memaklumi mengapa ‘mereka’ berkata dan bertindak demikian.
    Sebenarnya salah-satu metode yang bisa dipakai adalah ‘tes kejujuran’ dalam menyampaikan berita / maksud. Karena mengupas Al Quran tidak bisa dilepaskan dari kejujuran. Berkata jujur sesuai apa yang disampaikan oleh TUHAN, mungkin akan berakibat secara langsung kepada kita. Entah itu sekedar perkataan ‘tidak modern’ atau ‘tidak ilmiah’.

    Kalau kita mau jujur, ‘apa motivasi sesungguhnya mempertanyakan keabsahan Al Quran’. Sekedar coba-coba, atau memang mencari kebenaran yang sesungguhnya. Cara berfikir ini juga bisa kita uji coba kepada ‘mereka’.

    Seseorang yang tidak jujur akan tercermin dari perkataan dan perbuatan. Sehingga ‘apakah perlu menerima argumen / pernyataan dari seseorang yang memang tidak jujur ( diindikasikan kuat tidak jujur)’.

    Jangankan jujur kepada kita, mungkin ‘mereka’ juga tidak jujur kepada dirinya sendiri. Apa perlunya mempertanyakan keabsahan Al Quran ?.

    Dan untuk kita, sebenarnya apakah kita juga masih mempertanyakan keabsahan Al Quran dan Hadits ?.

    Bagi Anda yang masih mempertanyakan keabsahan Al Quran, silakan baca seluruh Al Quran dengan cermat dan jujur pada diri Anda sendiri. Apa ruginya jika percaya tentang ‘berita dan keterangan’ disampaikan ?. Dan jika masih tidak percaya, tidak seorangpun dari kami yang memaksa Anda untuk percaya. Kami menyampaikan apa yang diamanatkan kepada kami untuk disampaikan, tanpa menambah atau mengurangi.

    Dan bagi Anda yang sudah mantap terhadap Al Quran, Silakan baca juga, untuk memantapkan diri Anda.

    Agungk said:
    10 September 2007 pukul 05:49

    Kalau memang Bible lulus uji hermeneutika, saya ingin tahu pengertian yesus sebagai anak tuhan, lalu kemudian yesus sebagai tuhan.

    lukman b said:
    11 Oktober 2007 pukul 13:07

    Kita tahu bahwa qur’an pada awalnya dihafal oleh para sahabat atas perintah Rasulullah SAW. Kemudian disatukan dan dibukukan atas perintah Khalifah Umar. Umat Islam sangat yakin bahwa Al Qur’an dijaga kemurniannya oleh Allah yang maha kuasa.

    Untuk bible kita dengan mudah melihat perubahan di dalam text ayat sucinya.

    ” Sekedar contoh, Bibel edisi Indonesia. Dalam cetakan dan terbitan yang sama namun beda tahun (1971 dan 1978) terdapat perubahan kata `babi’ sebagai hewan yang haram dimakan dalam Imamat Al-Kitab. Dalam cetakan tahun 1971 ditulis ‘babi’ saja, sedang dalam cetakan 1978 berubah menjadi ‘babi hutan’.”

    Ini conton yang mudah.

    zullyvans said:
    29 Oktober 2007 pukul 22:37

    Aku gak ngerti dengan apa yang kau pikirkan…
    Al-Quran mempunya banyak makna tersembunyi yang bila kau dapatkan ilmu untuk memahaminya akan terbuka seluruh rahasia dunia.
    Tak hanya kefanaan yang kau jalani saat ini.
    Sungguh aku mengasihani dirimu yang meribukan hal yang tak kau coba pahami tapi kau langsung membencinya.
    Aku mengakui Bible sebagai kitab yang dibawa Nabi Isa.
    Semoga seberkas cahaya mampu menyentuhmu…amin…

    allan said:
    15 November 2007 pukul 13:13

    logika yang anda sampaikan justru berbalik 380 derajat.kalau memang bible yang ada sekarang orisinil sebagai firman Allah, mana mungkin terjadi perubahan-perubahan. tidak ada satu agamapun di dunia ini yang pernah merubah kitab sucinya seperti ajaran kresten yang merubah kitabnya dari perjanjian lama ke perjanjian baru.Kalau anda jujur, berapa banyak kesalahan tulisan yang ada di dalam kitab anda. sekali lagi kalu memang murni firman Tuhan, maka tidak akan pernah terjadi kesalahan tulis. beda halnya dengan al-Qur’an, sering kali ada usaha untuk merubah dan memanipulasinya dari kalangan musush Islam, tetapi jangankan merubah redaksi, merubah satu tanda baca saja selalu ketahuan,begitulah cara Allah menjaga kitab sucinya.
    Jika anda pergi ke eropa atau negara-negara maju, justru mereka mengalami kemajuan karena mereka tidak mengindahkan kitab beble.sebab ajaran bebel mengajak kepada kependetaaan. banyak gereja di eropa yang dibuang begitu saja (tidak laku), karena mereka merasa ajaran agama kresten tidak bisa menjawab tantangan zaman.
    kalau ajaran buble bisa menjawab perkembangan zaman, saya ingin mengajukan satu tantangan. di bidang ekonomi baik bersekala mikro atau makro, adakah ayat-ayat dalam bible yang menguraikan tentang persoalan ekonomi ? orientalis yang jujur dan menegakkan prinsif ilmiah dan rasionalitas justru dengan jujur mengatakan bahwa al-Qur’an satu2nya kitab suci yang berbicara tentang persoalan ekonomi secara lengkap dan gamblang.begitu juga dengan persoalan lainnya.
    Kalau anda mengatakan bahwa bible telah teruji lebih dari 1000 abad. tolong jawab dengan jujur, apakah bible yang ada di tangan anda saat ini merupakan firman Tuhan yang dibawa oleh yesus ? kalau anda jawab YA, lalu kenapa terjadi perubahan jauh setelah Yesus anda mati dari perjanjian lama ke perjanjian baru.
    belum lagi semua ayat yang anda yakini sebagai firman Tuhan itu adalah surat-surat para paus, pendeta dan tokoh2 agama anda pada masanya, semuanya anda bisa saksikan dan baca sendiri.Kalau bible itu firman Tuhan, lalu kenapa dalam bible anda tidak sedikitpun memperlihatkan keindahan bahsa seorang Tuhan, tetapi justru sangat vulgar jauh lebih vulgar dari buku komik porno predi s.
    Cobalah anda jujur dengan menggunakan kaca mata ilmiah dan akal sehat anda.
    satu tantangan lagi yang perlu anda jawab, tantangan ini ada dalam al-Qu’an.KALAU ANDA MERAGUKAN ORISINALITAS AL-QUR’AN SEBAGAI FIRMAN ALLAH, MAKA TOLONG ANDA BUATKAN SATU SURAT ATAU BAHKAN SATU AYATSAJA YANG BISA MENANDINGI KEINDAHAN AL-QUR’AN.SEBUAH TANTANGNA YANG TIDAK AKAN BISA DILAKUKAN SEJAK DAHULU SAMPAI KELAK.COBA ANDA BUKTIKAN.
    TERAKHIR MARI KITA ADAKAN FORUM TERBUKA YANG DIHADIRI OLEH SEMUA KALANGAN UNTUK MENDEBAT HAL INI. SAYA INGIN ANDA BISA MENGHADIRKAN PARA PENDETA,ROMO ATAU PAUS ANDA UNTUK MENDEBATKAN HAL INI DENGAN SAYA .SAYA TUNGGU JAWABAN ANDA

      pppppp97 said:
      26 Mei 2013 pukul 17:19

      perjanjian lama dan perjanjian baru:
      sejak awal mula kehidupan umat pilihan, Allah telah mengadakan perjanjian dengan Adam, Abraham dan bangsa Israel. Tapi, semua perjanjian tersebut diingkari, manusia mengingkari perjanjian tsb ketika melakukan ketidaktaatan, penyembahan berhala, dan pelanggaran2 lainnya. Krn itulah, atas inisiatif dan kasih karuniaNya, Allah membuat perjanjian baru.

      mengenai apakah Alkitab bisa menjawab tntg perkembangan jaman:
      di Alkitab juga tidak tertuliskan kita tidak boleh merokok, tapi apakah kalau tidak tertulis di Alkitab bahwa tidak boleh lalu kita berasumsi merokok itu tidak apa-apa? di Alkitab juga tidak tertulis boleh atau tidaknya penggunaan narkoba, tapi apakah penggunaan narkoba itu benar? Yang ada di Alkitab hanyalah bahwa kita tidak boleh merusak tubuh kita, karena tubuh kita adalah Bait Allah tapi tidak secara jelas-jelasan mengatakan ‘jangan merokok’ atau ‘jangan pakai narkoba’. Kita harus menginterpretasikan itu sendiri.

    viant said:
    22 November 2007 pukul 20:25

    assalammualikum,

    shalawat dan salam kita sertakan kepada junjungan kita rasulullah Muhammad SAW beserta para sahabat dan pengikut2 setia beliau sampai akhir jaman, banyak sudah kita berbicara kepada orang2 atau kaum yang sama sekali memang tidak di berikan hidayah ALLAH SWT agar mereka terselamatkan di yaumil akhir kelak, mereka akan selalu bersikukuh mencoba terus dan terus mencari pembenaran bagi keadaan mereka, mencari-cari dan menjelek-jelekkan rasulullah karena sejak awalnya kehadiran rasulullah yang bukan dari golongan mereka membuat mereka dengki, iri hati dan akhirnya mendustai tuhan pemilik semesta alam dan segala hidup kehidupan ALLAH SWT, tetap yakinlah saudara2ku semuslim dan seiman terus dan teruslah tingkatkan ilmu keislaman kita yang akan membawa keselamatan bagi kita di yaumil akhir kelak

    wassalammualikum

    ab said:
    27 November 2007 pukul 08:40

    DIALOG MASALAH KETUHANAN YESUS
    Oleh : KH. BAHAUDIN MUDHARY

    A: Sejak Kapankah saudara beragama atau masuk Kristen
    B: Sejak saya dilahirkan
    A: Apakah saudara benar-benar mempelajari bahwa agama Kristen itu suatu agama yang paling benar
    B: Ya, memang saya menyadari
    A: Apakah saudara berkeyakinan bahwa Kitab Injil itu suci
    B: Guru saya menerangkan bahwa Bibel adalah Kitab Suci berisi pengajaran Tuhan Yesus, yang dicatat oleh Rasul-rasul Matius, Lukas, Johanes dan Rasul Markus
    A: Apakah yang dimaksud suci pada Bibel itu mempunyai arti bahwa Bibel bersih daripada kesalahan-kesalahan
    B: Betul demikian. Tetapi kesalahan yang bagaimana yang Bapak maksudkan
    A: Misalnya: Pada suatu saat ada orang mengabarkan pada saudara si A sakit, sedangkan orang lain memberitahukan bahwa pada saat itu si A tidak sakit. Kedua berita itu apakah benar semuanya atau salah semuanya, atau salah satunya yang benar
    B: Diantara keduanya itu tentu salah satu yang benar, atau keduanya salah dan MUSTAHIL kedua-duanya benar.
    A: Satu misal lain; ada orang berkata si A mempunyai tiga orang anak dan seorang lain mengatakan si A mempunyai sepuluh orang anak. Apakah dua perkataan itu benar semuanya atau salah semuanya, atau salah satu saja yang benar
    B: Tidak mungkin benar semuanya, melainkan salah satunya yang benar atau salah semuanya
    A: Kalau saya mengatakan benar semuanya, bagaimana pendapat saudara
    B: Itu adalah mustahil, karena ternyata ada perselisihan diantara keduanya
    A: Andaikata ada suatu kitab suci, akan tetapi ayat-ayat didalamnya diantara yang satu dengan yang lain terdapat perselisihan, apakah kitab itu dinamakan Kitab Suci
    B: Tentu bukan kitab suci, karena yang dinamakan kitab suci itu adalah Ilham (wahyu) dari Tuhan, yang mustahil terdapat kesalahan atau perselisihan
    A: Jadi kalau begitu bukan Kitab Suci lagi
    B: Betul Kesuciannya telah batal
    A: Kalau demikian, tentu isinya tidak dapat dipercaya kesuciannya atau kebenarannya, karena diantara ayat-ayatnya terdapat perselisihan
    B: Yang jelas diantara ayat-ayatnya pasti bukan dari Tuhan, atau sudah dicampur adukkan dengan karangan manusia, sehingga kesuciannya ternoda, Ringkasnya sudah tidak suci lagi.
    A: Kalau misalnya Bibel terdapat selisih antara satu ayat dengan ayat lain, apakah saudara masih berkeyakinan Bibel itu Kitab Suci
    B: Saya tidak yakin kalau Kitab Bibel tidak suci, Terkecuali kalau ada bukti-bukti nyata yang menunjukkan ayat-ayatnya berselisih antara yang satu dengan yang lain, yang dapat menimbulkan keraguan saya tentang kesuciannya. Menurut penelitian Bapak, apakah ayat-ayat Bibel ada yang berselisih
    A: Ya BANYAK yang berselisih
    B: Di Perjanjian Lama atau Perjanjian Baru
    A: Dua-duanya terdapat beberapa perselisihan antara satu ayat dengan ayat yang lain
    B: Di bab apa dan pasal serta ayat berapa
    A: Supaya berurutan saya atur dalam beberapa pasal: PERTAMA soal Ketuhanan Yesus, karena soal ketuhanan adalah termasuk kepercayaan pokok pada tiap-tiap agama. Jadi soal ini perlu sekali didahulukan. Sesudah itu kita berpindah kepada soal yang lain yang berhubungan dengan soal agama Kristen yang termaktub dalam kitab Bibel. Bagaimana pendapat saudara
    B: Baik, saya menyetujui pendapat Bapak
    A: Sekarang saya ingin bertanya, apakah alasan saudara bahwa Yesus menjadi ANAK TUHAN
    B: Dalam Matius Pasal 3 ayat 17 menyebutkan demikian: “Maka suatu suara dari langit mengatakan: “Inilah anakku yang kukasihi. Kepadanya Aku berkenan”. Juga di Lukas pasal 4 ayat 41, menyebutkan bahwa Yesus itu anak Allah”.
    A: Kalau begitu silahkan buka Matius pasal 5 ayat 9
    B: Baik, Dalam pasal dan ayat itu menyebutkan :”Berbahagialah segala orang yang mendamaikan orang, karena mereka itu akan disebut Anak-anak Allah”.
    A: Berdasarkan ayat tersebut yang dimaksudkan “ANAK ALLAH” itu ialah orang yang dihormati seperti Nabi. Kalau Yesus dianggap Anak Allah, maka semua orang mendamaikan manusiapun menjadi ANAK-ANAK ALLAH. Jadi bukan Yesus saja Anak Allah, tetapi ada terlalu banyak.
    B: Dalam Yahya pasal 14 ayat 9 disebutkan: “Siapa yang sudah nampak Aku, ia sudah nampak Bapa”, dan di Ayat 10 disebutkan: “Tiadakah engkau percaya bahwa aku ini di dalam Bapa, dan Bapa pun di dalam Aku? Segala perkataan yang Aku ini katakan kepadamu, bukanlah Aku katakan dengan kehendak sendiri, melainkan Bapa itu yang tinggal di dalam Aku. Ia mengadakan segala perbuatan itu”.
    A: Baiklah, silahkan saudara periksa Yahya pasal 17 ayat 23
    B: Baik, di pasal ini disebutkan bahwa: “Aku di dalam mereka itu, dan engkau di dalam Aku; Supaya mereka itu sempurna di dalam persekutuan”.
    A: Perhatikan di ayat ini ada tersusun kata “Aku didalam mereka”. Kata mereka di ayat ini adalah sahabat Yesus. Sedang yang dimaksudkan dengan “Aku” ialah Tuhan. Jadi kata “Aku” beserta “mereka” artinya Tuhan beserta sahabat-sahabat Yesus. Kalau saudara percaya hal kesatuan Yesus dengan Bapa, maka saudarapun harus percaya tentang kesatuan Bapa itu dengan sekalian sahabat Yesus 12 orang jumlahnya. Jadi bukan Yesus dan Roh suci saja yang menjadi satu dengan Tuhan, melainkan harus ditambah 12 orang lagi. Ini namanya persatuan Tuhan atau Tuhan Persatuan bukan hanya Tri Tunggal tetapi 15 tunggal. Jadi berdasarkan perselisihan ayat-ayat tersebut yang manakah yang benar. Tiga menjadi tunggal atau 15 menjadi Tunggal. Ayat yang manakah yang akan saudara yakinkan, yang tiga menjadi tunggalkah atau yang 15 itu?
    B: Tunggu dulu Pak, ini agak membingungkan saya
    A: Tentu akan lebih membingungkan Saudara kalau saya tunjukkan ayat yang lain. Silahkan periksa Yahya pasal 17 ayat 3
    B: Baik, di sini menyebutkan: “Inilah hidup yang kekal, yaitu supaya mereka mengenal engkau, Allah yang Esa, dan Yesus Kristus yang telah engkau suruhkan itu”
    A: Di ayat ini menyebutkan Tuhan adalah Esa. Dalam Kamus bahasa Indonesia oleh E. St. Harahap cetakan ke II, disebutkan bahwa Esa itu berarti satu, pertama (tunggal), dan di ayat itu juga disebutkan bahwa Yesus Kristus adalah pesuruh Allah (Utusan/Rasul).
    Kalau demikian manakah yang benar. Bibel yang diakui kitab suci oleh saudara, tetapi isinya bertentangan antara yang satu dengan yang lain. Disatu ayat menyebutkan Tuhan dan Yesus menjadi satu, dilain ayat lima belas menjadi satu dan yang lain lagi Tuhan itu tunggal, sedangkan di ayat itu pula menyebutkan bahwa Yesus itu Pesuruh Allah bukan Tuhan. Menurut pengakuan saudara suatu kitab suci yang kandungan ayat-ayatnya bertentangan antara yang satu dengan yang lain tentu sulit sekali dipercaya kesuciannya, karena yang disebut suci itu bersih dari kekeliruan dan perselisihan.
    B: Masih adakah ayat yang menyebutkan demikian
    A: Ayat yang bagaimana yang saudara maksudkan ?
    B: Ayat yang mengatakan bahwa Tuhan itu Esa (tunggal), bukan tiga menjadi satu.
    A: Silahkan buka di Ulangan pasal 4 ayat 35
    B: Baik, di pasal dan ayat ini menyebutkan: “Maka kepadamulah ia itu ditunjuk, supaya diketahui olehmu bahwa Tuhan itulah Allah, dan kecuali Tuhan yang Esa tiadalah yang lain lagi”.
    A: Jelas di dalam Bibel sendiri menerangkan bahwa Tuhan itu Esa, Tunggal
    B: Tetapi itu di dalam Kitab Perjanjian Lama, apakah terdapat juga di Perjanjian Baru.
    A: Saudara minta di Perjanjian Baru, baiklah, Silahkan saudara buka Markus, pasal 12 ayat 29
    B: Baik, di pasal dan ayat tersebut menyebutkan: “Maka jawab Yesus kepadanya. Hukum yang terutama ialah: Dengarlah olehmu hai Israil, adapun Allah Tuhan kita ialah Tuhan yang Esa”.
    A: Periksa lagi di Perjanjian Lama di Ulangan pasal 6 ayat 4
    B: Baik, di sini disebutkan :” Dengarlah olehmu hai Israil, sesungguhnya Hua Allah kita, Hua itu Esa adanya”.
    A: Adakah belum jelas bahwa Bibel sendiri yang menjadi kitab sucinya orang Kristen menyebutkan seterang-terangnya bahwa Tuhan itu Tunggal, bukan tiga menjadi satu atau satu menjadi tiga.
    Taruh kata di Bibel ada ayat yang menyebutkan Tuhan itu Tiga menjadi satu, saya ingin bertanya yang manakah di antara kedua ayat itu yang benar, yang tunggalkah atau yang tiga menjadi tunggal.
    Jadi salah satu dari dua ayat tersebut pasti ada yang benar, karena sudah jelas dua ayat itu tidak sama, Kalau salah satu atau dua-duanya salah, maka kandungan kitab suci yang salah; jadi bukan kitab suci namanya.
    B: Betul, salah satu Pasti salah atau kedua-keduanya salah
    A: Kalau demikian apakah dapat diyakinkan kebenarannya suatu Kitab Suci, kalau kitab suci itu mengandung kesalahan atau tidak benar isinya.
    B: Ya, yang disebut kitab suci itu harus bersih dari kesalahan-kesalahan, kalau tidak demikian maka batallah kesucian kitab itu
    A: Menurut kepercayaan saudara apakah Yesus bersatu dengan Allah..??
    B: Ya, demikian
    A: Kalau demikian tentu Yesus adalah selalu bersama Allah dan Allah selalu bersama Yesus
    B: Betul demikian sebagaimana tersebut dalam Yahya 10, 30, yang bunyinya sebagai berikut: “Aku dan Bapa itu satu adanya”. demikian juga Roh Suci sebab Roh Suci itu menjadi satu dengan Yesus, sebagaimana tersebut dalam Injil, ialah setelah Yesus berumur 30 tahun turun Roh Suci kepadanya dan dibaptiskan oleh Pembaptis yaitu Yahya. Jadi jelas bahwa Yesus, Roh Suci, Tuhan adalah tunggal
    A: Kalau begitu silahkan buka Matius pasal 27 ayat 46
    B: Baik, di pasal dan ayat tersebut menyebutkan:” Maka sekira-kira pukul tiga itu berserulah Yesus dengan suara yang Nyaring katanya: “Eli, eli lama sabaktani” artinya: “Ya Tuhan, apakah sebabnya Engkau meninggalkan aku”.
    A: Berdasarkan seruan Yesus di ayat itu, jelas bahwa Yesus tidak bersatu dengan Tuhan, yakni Tuhan meninggalkan Yesus, waktu akan disalibkan. Mestinya kalau Tuhan menjadi satu dengan Yesus, disaat itulah saat tepat untuk menolong Yesus, tetapi kenyataannya Tuhan tidak bersatu dengan Yesus sehinga Yesus sendiri minta tolong.
    B: Tetapi Yesus itu hidupnya memang untuk disalib guna menebus dosa manusia.
    A: Kalau hidupnya Yesus memang untuk di salib, mengapa Yesus tidak bersedia dan menolak untuk di salib. Buktinya ia berseru dengan suara nyaring minta tolong pada Tuhan agar ia terlepas dari disalibkan. Dengan lain kata Yesus tidak bersedia selaku penebus dosa
    B: Betul, saya lantas tidak mengerti mengapa ayat-ayat Bible itu ada yang simpang siur
    A: Dari sebab itu mengapa saudara menyembah Yesus selaku Tuhan yang tidak berkuasa menyelamatkan dirinya sendiri, malah minta tolong. Pantaskah ada tuhan demikian. Dan saya lanjutkan bertanya apakah manusia-manusia yang menyalibkan Yesus itu dilaknat
    B: Pasti dilaknat
    A: Mestinya tidak dilaknat, malah Yesus harus berterima kasih kepada mereka yang menyalibkan dia, bahkan mereka itu seharusnya mendapat ganjaran., oleh karena menurut keterangan saudara, hidupnya Yesus itu harus disalib untuk menebus dosa-dosa manusia. Andaikan tidak ada manusia yang bersedia menyalibkan Yesus maka dosa-dosa manusia tentu tidak ada yang menebusnya. Jadi manusia-manusia yang telah menyalibkan Yesus itu berjasa kepada Yesus dan penganut-penganut Kristen. Akan tetapi mereka yang sudah terbukti berjasa itu malah dilaknat. Mestinya mereka itu masuk Sorga dan dipuji-puji atas jasanya.
    B: Ini memang tidak masuk di akal atau sekurang-kurangnya memang sulit dimengerti; akan tetapi Roh Tuhan bersatu dengan Yesus itu tidak mustahil. Sebagaimana banyak manusia yang kesurupan hantu, jin, malaikat atau makhluk-makhluk halus lainnya, sehingga tindakan-tindakan dan perbuatannya menurut kehendak makhluk halus tersebut. Demikian juga ada yang kemasukan Roh Suci seperti Roh malaikat, sehingga tindakan-tindakan dan perbuatannya adalah suci.
    A: Kalau demikian baiklah saya bikin pertanyaan; Manusia bersatu (kesurupan) jin itu, apakah dia disebut jin
    B: tidak
    A: Yesus yang bersatu (menerima) Roh Tuhan itu apakah ia disebut Tuhan?
    B: Mestinya tidak juga
    A: Seharusnya begitu. Jadi jelas bahwa Yesus yang menerima Roh Ketuhanan tentunya bukan Tuhan. Manusia yang menerima wahyu Tuhan itu bukan Tuhan melainkan adalah utusannya (pesuruh)Tuhan. Sesuai dengan pengakuan Yesus sendiri sebagaimana tersebut dalam Yahya pasal 17 ayat 3 yang berbunyi: “supaya mereka mengenal Engkau, Allah Yang Maha Esa dan Benar, dan Yesus Kristus yang telah Engkau suruhkan itu”
    B: Saya lantas tambah tidak mengerti tentang Ketuhanan Yesus itu.
    A: Menurut keterangan saudara tadi, bahwa manusia yang bersatu dengan (kesurupan) makhluk halus seperti roh-roh, jin dan malaikat maka tindakan dan perbuatannya pasti menurut kehendak atau menyerupai perbuatan makhluk-makhluk halus itu.
    B: Benar Begitu
    A: Kalau demikian maka Yesus yang saudara akui bersatu dengan Tuhan mestinya tindakan-tindakan dan perbuatannya menyerupai perbuatan Tuhan.
    B: Mestinya begitu
    A: Akan tetapi kenyataannya tidak demikian. Tuhan tidak tidur tetapi Yesus Tidur, Tuhan tidak makan tetapi Yesus Makan, Tuhan tidak Sakit tetapi Yesus Sakit, Tuhan tidak menyembah kepada siapapun tetapi Yesus Menyembah Tuhan, Tuhan tidak mati tetapi Yesus Mati, walaupun menurut i’tikad Kristen hidup kembali tetapi ia mati.
    B: Menurut anggapan orang Kristen salah satu yang menyebabkan Yesus bersatu dengan Tuhan, karena ia mengetahui yang gaib.
    A: Kalau begitu silahkan buka Markus pasal 13 ayat 31, 32.
    B: Baik, ayat itu menyebutkan: “Sesungguhnya langit dan Bumi akan lenyap, tetapi perkataanku kekal. Tetapi akan harinya atau ketikanya itu ada diketahui oleh seorang jua pun, baik segala malaikat yang disurgapun tidak, anak itupun tidak, hanyalah Bapa saja.
    A: Jelas di Bibel sendiri tertulis, Yesus sendiri mengaku tidak ada yang tahu kapan hari kiamat, melainkan hanya Tuhan sendiri. Jadi tegas Yesus sendiri tidak mengetahui waktunya kiamat, yang termasuk sesuatu yang gaib. yang tidak tahu itu pasti bukan tuhan.
    B: Tetapi Yesus menyebutkan dirinya diayat ini dengan kata “Anak” yang berarti ia anak tuhan.
    A: Silahkan buka Matius pasal 1 ayat 16
    B: Baik, di situ disebutkan: “dan Yakub memperanakkan Yusuf, yaitu suami Maria; ialah yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus”
    A: Jelas bahwa yang diperanakkan itu pasti bukan Tuhan sebagaimana tersebut dalam ayat tersebut. Silahkan periksa lagi Keluaran pasal 4 ayat 22.
    B: Baik, di situ disebutkan: “Maka pada masa itu hendaklah katamu kepada Fir’aun demikian: “Inilah Firman Tuhan: Bahwa Israil itulah anakKu laki-laki, yaitu anakKu yang sulung”
    A: Di ayat ini disebutkan bahwa Israil adalah anak Tuhan yang sulung, sedangkan Yesus tidak disebutkan anak keberapa, silahkan buka lagi Yeremia pasal 31 ayat 9.
    B: Ayat ini menyebutkan; “Akulah Bapak bagi Israil; dan Afraim itulah anak yang sulung”
    A: Jelas sekali bahwa berdasarkan Bibel sendiri Anak tuhan itu banyak bukan Yesus saja, padahal sebenarnya yang dimaksudkan dengan Anak dalam itu ialah mereka yang dikasihi oleh Tuhan, termasuk Yesus jadi bukan anak yang sebenarnya.
    B: tetapi dalam Matius pasal 1 ayat 18 menyebutkan sebagai berikut: “Adapun kelahiran Yesus Kristus demikian adanya: Tatkala Maria, yaitu ibunya, bertunangan dengan Yusuf, sebelum keduanya bersetubuh, maka nyatalah Maria itu hamil dari pada Rohulkudus”. Roh Kudus artinya Roh Tuhan. Oleh karenanya maka Yesus itu adalah anak tuhan, sebagaimana juga di Matius pasal 1 ayat 20 menyebutkan: “Yusuf bermimpi seorang Malaikat, Tuhan berkata: “Hai Yusuf, anak Daud janganlah engkau kuatir menerima Maria itu menjadi istrimu karena kandungannya itu terbitnya dari pada Rohulkudus”
    A: Kalau Begitu silahkan buka: Kisah Rasul pasal 6 ayat 5
    B: Baik, ayat itu menyebutkan: “Maka perkataan ini diperkenankan oleh sekalian orang banyak itu, lalu memilih Stepanus, yaitu seorang yang penuh dengan iman, dan Rohulkudus, dan lagi Philipus, dan Prokhorus, dan Nikanor, dan Simon, dan Parmenas, dan Nikolaus yaitu mualaf asalnya dari negeri Antiochia.
    A: Jadi berdasarkan ayat Bibel sendiri menunjukkan bahwa Rohulkudus itu bukan pada Yesus saja. Ini menunjukkan bahwa Rohulkudus itu Roh Suci, atau Roh Kesucian yang maksudnya roh yang bersih dari roh-roh kotor, bukan seperti roh setan atau hantu. Sebagaimana halnya pada Nabi lainnya dengan roh sucinya. Menurut Al Qur’an Rohulkudus (Roh Suci) itu berarti Jibril. Di Bibel sendiri menyebutkan bahwa para Nabi yang terdahulu adalah Kudus.
    B: Di Bibel pasal berapa menyebutkan demikian
    A: Silahkan Periksa surat Petrus yang kedua pasal 3 ayat 2
    B: Baik, Pasal dan ayat ini menyebutkan: “Supaya kamu ingat perkataan yang sudah disabdakan, dahulu oleh Nabi yang kudus dan akan hukum Tuhan lagi juru Selamat, dengan jalan Rasul-rasul yang disuruhkan kepadamu”
    A: Jelas di Bibel Sendiri menyebutkan bahwa Rohulkudus itu bukan Tuhan; dengan lain kata bahwa Yesus dalam kandungan Maria itu bukan Tuhan atau Roh Tuhan, melainkan adalah roh bersih, suci, dengan izin atau perintah Allah yang dikaruniakan kepada hamba yang dikehendakinya. Lebih jelas harap saudara periksa dalam Kisah Rasul pasal 5 ayat 32
    B: Ayat tersebut menyebutkan: “Dalam kami inilah saksi atas segala perkara itu, demikian juga Rohulkudus yang dikaruniakan Allah kepada sekalian orang yang menurut Dia”
    A: Silahkan periksa lagi dalam Lukas pasal 1 ayat 41
    B: Pasal ini menyebutkan bahwa: “Maka berlakulah tatkala Elisabeth mendengar salam Maria itu, meloncatlah kanak-kanak yang di dalam rahimnya itu dan Elisabeth penuh dengan Rohulkudus”.
    A: Sudah jelas sekali bahwa arti Rohulkudus adalah Roh Suci yang dikaruniakan oleh Allah kepada siapapun yang dikehendakinya. Kalau sekiranya Rohulkudus itu diartikan dengan Allah atau Roh Allah, maka bukan Yesus saja menjadi Tuhan atau anak tuhan, melainkan segala orang yang taat kepada Tuhan, para Nabi dan Elisabeth (Istri Zakaria)pun mestinya Tuhan juga.
    B: Yesus dianggap tuhan oleh karena ia mempunyai Roh Ketuhanan, terbukti dengan pangkat Ketuhanannya sehingga ia dapat menghidupkan orang mati, Inilah kesamaan Allah dengan Yesus.
    A: Kalau begitu, periksa di Kitab raja-raja yang kedua pasal 13 ayat 21.
    B: Baik, di sini ada menyebutkan: “Maka sekali peristiwa apabila dikuburkannya seorang Anu, tiba-tiba terlihat mereka itu suatu pasukan, lalu dicampakkannya orang mati itu kedalam kubur Elisa, maka baru orang mati itu dimasukkan kedalamnya dan kena mayat Elisa itu, maka hiduplah orang itu pula, lalu bangun berdiri.
    A: Di sini menyebutkan malah tulang-tulang Ilyas (Elisa) dapat menghidupkan orang mati. Jadi bukan Yesus saja dapat menghidupkan orang mati, bahkan tulang-tulang Ilyas dapat menghidupkan orang mati. Yang berarti Tulang-tulang Ilyas adalah tulang-tulang Ketuhanan. Kalau Yesus diwaktu hidupnya dapat menghidupkan orang mati, akan tetapi Elisa diwaktu tidak bernyawa, malah hanya dengan tulang-tulangnya yang didalam kubur dapat menghidupkan orang mati. Kalau perbuatan Yesus dikatakan ajaib, maka Elisa lebih ajaib dari pada Yesus. Jadi seharusnya Ilyas-pun dianggap Tuhan juga. Periksa lagi di Kitab raja-raja yang pertama pasal 17 ayat 22.
    B: Ya, disini menyebutkan: ” Maka di dengar akan Do’a Elisa itu, lalu kembalilah nyata kanak-kanak itu kedalamnya sehingga hiduplah ia pula.
    A: Kalau secara adil, seharusnya Elisa dianggap tuhan juga.
    B: Tapi Yesus dapat menyembuhkan orang buta sehingga melihat
    A: Kalau begitu periksa Kitab raja-Raja yang kedua pasal 6 ayat 17 dan ayat 30
    B: Ya, di pasal itu menyebutkan yang maksudnya bahwa Elisa dapat menyembuhkan orang buta, sehingga dapat melihat.
    A: Kalau begitu Elisapun harus dianggap Tuhan juga, karena menyamai Yesus dan menyamai sifatnya Tuhan.
    B: Sekali lagi, Tuhan Yesus dapat menyembuhkan penyakit Lepra (penyakit kusta)
    A: Silahkan periksa Kitab Raja-Raja yang kedua pasal 3 ayat 10 dan ayat 11
    B: Baik. Di pasal dan ayat itu menyebutkan yang maksudnya bahwa Elisa dapat menyembuhkan orang sakit kusta bernama Naaman.
    A: Jadi Elisapun dapat menyembuhkan orang buta dan penyakit kusta, malah dapat menghidupkan orang mati. Mengapa tidak diangkat juga menjadi Tuhan.
    B: Akan tetapi pasal kejadian Yesus tanpa percampuran laki-laki dengan istrinya. Inilah kelebihan rohnya Yesus daripada rohnya Elisa.
    A: Asal kejadian Nabi Adam tanpa Bapa dan Ibu. Mengapa Adam tidak dianggap Tuhan. Juga Hawa (eve) asal kejadiannya tanpa ibu, iapun bisa dianggap juga Tuhan wanita
    B: Tapi Adam dan Hawa kedua-duanya berdosa
    A: Kalau begitu Yesuspun berdosa, Karena Yesus keturunan Maria, sedangkan Maria Keturunan Adam dan Hawa. Yesus sendiri pernah dibawa oleh Iblis ke puncak gunung. Pantaskah Tuhan dibawa Iblis.
    B: Dimana ceritera itu disebutkan
    A: Di Bibel. Silahkan saudara periksa Lukas, pasal 4 ayat 5
    B: Baik, di situ menyebutkan: “Maka iblispun membawa dia kepuncak gunung ……”
    A: Nah, suatu kejadian aneh, Tuhan dibawa iblis yang berarti ia tunduk kepada kemauan iblis.
    B: Walaupun demikian Yesus tetap suci daripada dosa.
    A: Para Nabi lainnya pun suci dari pada dosa. Akan tetapi mereka tidak menganggap dirinya selaku Tuhan, malah Yesus sendiripun tidak juga mengaku Tuhan, sedangkan pengikut-pengikutnya mempertuhankan dia.
    B: Tidak demikian, Nabi-nabi berbuat dosa tetapi Yesus tidak.
    A: Nabi-nabi yang berbuat dosa atau kesalahan itu telah bertobat, lalu diberi ampun oleh Tuhan, sebagaimana juga Yesus pernah minta ampun dan diberi ampun oleh Tuhan. Mereka para Nabi diberi ampun, artinya dosanya telah habis karenanya, lalu mereka disebut bersih dari dosa dan kesalahan-kesalahan.
    B: Dimanakah menyebutkan bahwa Yesus merasa ia minta ampun kepada Tuhan.
    A: Silahkan saudara periksa sendiri di “Matius” pasal 6 ayat 12.
    B: Baik, di pasal dan ayat tersebut menyebutkan: “Dan ampunilah kiranya kami segala kesalahan kami, seperti kami ini sudah mengampuni orang yang berkesalahan kepada kami.
    A: Jelas Yesus sendiri meminta ampun akan kesalahannya. Jadi dia pernah berbuat kesalahan.
    B: Tetapi di ayat ini juga ada menyebutkan bahwa Yesus suka memberikan ampun semua kesalahan orang kepadanya.
    A: Kalau hanya begitu, kitapun bisa. Kitapun bersedia memberikan ampun kepada orang-orang yang berbuat kesalahan kepada kita.
    B: Tetapi tidak ada manusia selain Adam yang dilahirkan kedunia ini tanpa Bapak, melainkan Yesus saja. Jafi masih dapat dibenarkan kalau Yesus disebut “Putera Tuhan” atau “Tuhan Anak”.
    A: Kalau misalnya ada seorang manusia yang dilahirkan tanpa Bapak dan Ibu, maka orang itu pasti akan diakui oleh saudara bahwa ia lebih berhak menduduki jabatan Tuhan daripada Yesus dilahirkan tanpa Bapak saja.
    B: Tetapi dalam sejarah manusia belum pernah ada, dan mustahil adanya.
    A: Kalau kiranya ada, maka yang manakah diantara keduanya yang lebih tinggi derajat Ketuhanannya antara Yesus yang dilahirkan hanya tanpa bapak saja dengan manusia yang dilahirkan tanpa Bapak dan Ibu.
    B: Menurut akal tentunya manusia yang dilahirkan tanpa Bapak dan Ibu itu lebih tinggi derajat ketuhanannya. Oleh karena ia dilahirkan lebih ajaib keadaannya dari pada kelahiran Yesus.
    A: Benarkah demikian pendapat Saudara..?
    B: Ya, saya akui, manusia yang demikian lebih ajaib dari pada Yesus; akan tetapi saya minta supaya Bapak tunjukkan di Kitab; dan Bapak harus mengambil dari Kitab yang terkenal, bukan dari buku-buku dongengan atau ceritera-ceritera khayalan saja.
    A: Supaya Lekas beres urusan ini, silahkan saudara periksa di Kitab Bibel atau Injil, Kitab Suci saudara sendiri.
    B: di Bab dan pasal berapakah ada menyebutkan.>?
    A: Silahkan saudara periksa di “Ibrani” pasal 7 ayat 1, 2 dan 3
    B: Baik, di pasal dan ayat ini menyebutkan seperti berikut: “Adapun Malkisedik itu, yaitu raja di Salem dan Imam Allah taala, yang sudah berjumpa dengan Ibrahim tatkala Ibrahim kembali daripada menewaskan raja-raja, lalu diberkatinya Ibrahim”.
    “Kepadanya juga Ibrahim sudah memberi bahagian sepuluh Esa. Makna Malkisedik itu kalau diterjemahkan, pertama-tama artinya raja keadilan, kemudian pula raja di Salem, yaitu raja damai”. Yang tiada berbapak dan tiada beribu dan tiada bersilsilah, dan tiada berawal..”.
    A: Cukup, saudara telah membaca di kitab suci saudara sendiri, bahwa Malkisedik seorang raja di Salem tanpa Bapak dan Ibu, malah tiada silsilahnya. Sesuai dengan pendapat saudara, apakah cerita yang disebutkan dalam kitab suci saudara ini berupa dongengan atau cerita-cerita khayalan.
    Kalau dikatakan dongeng atau cerita khayalan, maka apakah saudara akan terima kalau ada yang mengatakan bahwa kitab suci saudara ada mengandung cerita-cerita khayalan atau dongengan yang dibuat-buat.
    Dan kalau saudara masih mempertahankan kesucian kitab saudara itu mengapakah saudara tidak mengangkat Malkisedik menjabat tuhan juga, malah jabatan ketuhanannya tentunya lebih tinggi daripada Yesus.
    Dan berpegang dengan pendirian saudara sendiri bahwa kelahiran Malkisedik itu lebih ajaib dari Yesus, oleh karena Yesus dilahirkan tanpa Bapak sedangkan Malkisedik dilahirkan tanpa Bapak dan Ibu. Selain itu Malkisedik masih mempunyai kelebihan lagi daripada Yesus, oleh karena Yesus dilahirkan dengan bersilsilah, yaitu dari Maria, sedangkan menurut Bibel sendiri Malkisedik dilahirkan tanpa silsilah sama sekali. Apakah saudara masih akan mempertahankan ketuhanan Yesus…?
    B: Saya lantas tidak mengerti dan menjadi bingung!!
    A: Tidak mengerti itu tidak apa-apa, dan bingung sebenarnya tidak apa-apa, karena kalau sudah mengerti rasa bingung akan lenyap dengan sendirinya.
    B: Ya, saya membenarkan keterangan Bapak. Tetapi dalam kitab Injil Johanes pasal 1 ayat 1 dan 2 menyebutkan: “Maka pada mulanya ada itu Kalam maka Kalam itu, serta dengan Allah, dan Kalam itu Allah, dan kalau itu Allah . Ia itu pada mulanya serta dengan Allah. Kata “Ia” di ayat ini maksudnya ialah “Yesus”. Jadi Yesus beserta dengan Allah.
    A: Dalam susunan ayat tersebut di atas ada kata penghubung ialah : “Serta” atau beserta.
    Kalau ada orang berkata “Si Salim dengan si Amin” maka susunan kalimat ini semua orang dapat mengerti bahwa si Salim tetap si Salim bukan si Amin jadi berdasarkan ayat Bibel yang Saudara baca dengan susunan “Ia” (Yesus) beserta Allah, langsung dapat dimengerti bahwa Yesus bukan Allah, dan Allah bukan Yesus. Jelaslah bahwa Yesus tidak sama dengan Allah: dengan kata lain kata Yesus bukan Tuhan. Dan di ayat itu juga disebutkan bahwa Kalam itu Allah. Padahal Kalam itu bukan Allah dan Allah bukan Kalam. Jadi Allah dan Kalam-pun lain.
    B: Bagaimana kalau Yesus disebut saja Anak Tuhan.
    A: Saya sudah jelaskan tentang itu pada saudara dalam pembicaraan kita yang lalu. Dan saudara telah mengakui kebenaran keterangan saya. Sekarang saya tambah, Kalau Tuhan itu beranak, baik anaknya berupa manusia seperti Yesus atau lainnya, maka ke Esa-an Tuhan sudah ternoda karenanya. Sedang kita-pun tidak mungkin menodai ke Esa-an Tuhan.
    B: Tetapi dalam kitab: “Wahyu”, pasal 22 ayat 13 menyebutkan: “Maka Aku inilah Alif dan Ya, yang terdahulu dan yang kemudian. Yang Awal dan Yang Akhir”.
    A: Rangkaian perkataan itu bukan perkataan Yesus sendiri, melainkan firman Allah kepada Yesus. Bukti kebenaran perkataan saya ini silahkan saudara periksa di Kitab “Wahyu” tersebut pasal 21 ayat 6.
    B: Baik, pasal dan ayat ini menyebutkan: “Maka firmannya kepadaku: “Sudahlah genap; Aku inilah Alif dan Ya, yaitu yang awal dan yang Akhir”.
    A: Jelas di ayat itu menyebutkan: “Maka firmannya kepadaku”, Siapakah yang berfirman kepadaku (kepada Yesus) di ayat ini..???
    B: Tentu Allah yang berfirman.
    A: Jadi yang berfirman Aku inilah Alif dan Ya, yang Awal dan Yang Akhir, bukan perkataan Yesus sendiri, tetapi firman Allah kepada Yesus.
    B: Di Johanes pasal 8 ayat 58 Yesus berkata: “Sebelumnya Ibrahim aku sudah ada”. Jadi bisa dianggap Yesus itu permulaan.
    A: Kalau Yesus dikatakan “Permulaan”. maka diapun tidak benar. Karena pada mulanya Yesus itu tidak ada, lalu diperanakkan oleh Maria dan sesudah itu Yesus mati. Walaupun ia dikatakan hidup lagi. Dan orang sudah mati itu tidak bisa dikatakan: “seorang yang terkemudian”, dan kalau Yesus itu hidup lagi, tidak bisa dikatakan: “Permulaan”, bukan pula “yang terkemudian”, bukan yang “awal”, maupaun: “yang akhir”.
    B: Saya lantas makin tidak mengerti, malah tambah membingungkan saya karena pada mulanya Yesus itu tidak ada, lalu diperanakkan oleh Maria dan sesudah itu Yesus mati. Yang pada mulanya tidak ada, tidak bisa disebut: “permulaan”. Kalau Yesus diperanakkan, mustahil bisa disebut “Permulaan”. dan kalau Yesus pernah mati, mustahil bisa disebut “yang terkemudian”
    A: Supaya lebih jelas kepada saudara maka saya hadapkan pertanyaan: Andaikata Yesus itu disebut “permulaan”, maka apa dengan dasar inikah saudara mengakui Yesus itu Tuhan.
    B: Ya, betul begitu.
    A: Kalau demikian, bagaimanakah anggapan saudara, kalau sekiranya dalam kitab suci saudara ada menyebutkan bahwa ada seseorang manusia Yesus, yang tidak ada permulaannya dan tidak ada kesudahannya. Apakah manusia itu akan diakui tuhan juga oleh saudara.
    B: di pasal manakah menyebutkan demikian.
    A: Sebelum saya tunjukkan, apakah saudara masih tetap berpendirian akan mengakui Tuhan kepada seorang yang tidak ada permulaan dan kesudahannya, sebagaimana saudara bertuhan kepada Yesus.
    B: Kalau betul ada, tentu saya bimbang atau sekurang-kurangnya meragukan saya atas kebenaran Yesus selaku Tuhan.
    A: Mestinya saudara mengakui Tuhan dua-duanya, dengan lain kata disamping Yesus ada lagi Tuhan Tambahan.
    B: Ya, bisa juga begitu. Akan tetapi tentu saja keyakinan saya lantas tambah tidak karuan. Di pasal manakah ada menyebutkan ada seorang manusia yang tidak ada permulaan dan kesudahannya.
    A: Saya telah katakan dikitab suci saudara sendiri. Silahkan buka Ibrani pasal 7 ayat 2 dan 3.
    B: Baik, seperti tadi sudah saya bacakan sampai baris pertama ayat ketiga dari pasal tersebut sebagai berikut:
    “Malkisedik yang tiada berbapa dan tiada beribu dan tiada bersilsilah dan tiada berawal dan berkesudahan hidupnya, melainkan ia diserupakan Anak Allah. maka kekallah ia selama-salamanya”.
    A: Bagaimana perasaan saudara dengan susunan ayat ini. Berdasarkan ayat ini bukan Yesus saja yang menjadi permulaan tetapi juga Malkisedik.
    B: Keyakinan saya memang jadi bimbang terhadap Ketuhanan Yesus.
    A: Bimbang atau tidaknya terserah saudara, yang jelas tidak ada niat sama-sekali untuk mengajak saudara meninggalkan Agama Kristen. Yang penting adalah rembukan dan penelitian semata-mata. Meneliti dan menganalisa terhadap sesuatu adalah hak semua orang, asalkan penelitian itu benar-benar tidak mengganggu ketentraman umum.
    B: Terimakasih, dan saya masih akan bertanya lagi pada Bapak; maklumlah saya ini sedang mencari kepuasan yang dapat menimbulkan keyakinan saya dalam memeluk agama.
    A: Silahkan saudara bertanya, keyakinan itu timbul setelah menyelidiki dan meneliti dengan kepuasan. Di dalam Agama Islam tidak ada paksaan. Yang penting menyampaikan (da’wah), tidak lebih dari itu. Teruskanlah pertanyaan saudara.
    B: Setelah kita bersoal jawab tentang Ketuhanan Yesus timbullah keraguan dalam hati saya, namun apakah bapak masih bersedia menunjukkan ayat-ayat Bibel yang menyatakan bahwa Yesus itu bukan Anak Tuhan.
    A: Walau telah saya tunjukkan ayat-ayat Bibel sendiri, tentang pengakuan Yesus sendiri bahwa Tuhan itu Tunggal, namun demi pengharapan saudara akan saya penuhi juga. Akan tetapi apakah tidak sebaiknya kita lanjutkan besok malam saja oleh karena waktu sudah malam (Jam 12.25
    PERTEMUAN YANG KETIGA
    A: Sebagaimana kita telah rembuk kemarin malam, apakah akan dilanjutkan juga musyawarah kita ini
    B: Memang demikian, karena kedatangan kami kemari khususnya untuk melanjutkan pertemuan kita kemarin malam
    A: Kalau tidak khilaf, pembicaraan kita masih berkisar dalam soal ketuhanan Yesus dalam Bibel.
    B: Betul begitu. Kemarin malam saya mengharapkan agar bapak menunjukkan ayat-ayat dalam Kitab Injil; apakah Yesus itu Tuhan atau bukan.
    A: Kemarin malam, telah saya tunjukkan. Agar berurutan sebaiknya kita ulangi lagi ayat-ayat Injil tersebut, lalu akan saya tunjukkan lagi ayat-ayatnya yang lain; setujukah saudara pendapat saya ini.
    B: Memang sebaiknya begitu, agar berurutan dan bertambah jelas baiklah diulangi lagi.
    A: Silahkan Buka Matius pasal 1 ayat 16
    B: Baik, dalam pasal dan ayat tersebut menyebutkan: “Dan Yakub memperanakkan Yusuf, yaitu suami Maria ialah yang melahirkan Yesus, yang disebut Kristus”.
    A: Di sini jelas , ayat ini menyebutkan sendiri, bahwa Yesus diperanakkan oleh Maria. Jadi Yesus adalah anak manusia, bukan anak Tuhan, sebagaimana telah saya terangkan dalam pertemuan pertama.
    B: Ya, pada pertemuan pertama bapak telah terangkan dan saya telah mengerti. Menurut pendapat bapak, apakah sebenarnya yang dimaksudkan dengan kata: “Yesus dan Kristus”.
    A: Apakah saudara belum mengetahui arti daripada dua buah kata tersebut..?
    B: Saya mengerti. Tetapi hanya untuk mencocokkan saja dengan penafsiran bapak.
    A: Baik, Yesus adalah bahasa Yunani, yang berarti: “Melepaskan”, melepaskan manusia daripada dosa.
    B: Darimanakah adanya keterangan bahwa Yesus itu berarti melepaskan dosa.
    A: Sebetulnya susunan pertanyaan itu timbul dari saya. Tetapi saya mengerti mungkin saudara akan menguji saya tentang Injil, walaupun begitu saya penuhi juga pengharapan saudara. silahkan periksa di Matius pasal 1 ayat 21
    B: Di pasal dan ayat ini menyebutkan : “Maka ia akan beranakkan seorang anak laki-laki, dan hendaklah engkau namakan Dia, Yesus, karena ialah yang akan melepaskan kaumnya dari pada segala dosanya”.
    A: Itulah ayatnya, Arti Kristus ialah Almasih, Sang Sabda, Adil, Ratu Salem dan ada beberapa lagi artinya yang lain: Kata Almasih dalam Injil bahasa Inggris disebut: “Christ the Lord”, didalam Injil bahasa Arab disebut: “Almasih Ar-Robb”. Kata “Lord dan Robb” artinya tuanku, paduka tuan, dan ada juga dengan arti Tuhan, dan lain-lain lagi. Akan tetapi karena Yesus sendiri mengaku bahwa ia bukan Tuhan melainkan utusanNya bagaimana tersebut dalam kitab Injil Johanes pasal 17 ayat 23, dan ia diperanakkan oleh manusia, sebagaimana tersebut dalam Injil Matius pasal 1 ayat 16 dan 21, malah ia sendiri yang berkata dan mengakui bahwa Tuhan itu Esa (Tunggal), sebagaimana disebutkan dalam Injil Markus, pasal 12 ayat 29 dan diayat-ayat Injil yang lain-lain, maka berdasarkan pengakuan Yesus itu, jelas Yesus itu bukan Tuhan dan bukan anak Tuhan.
    B: Benar yang bapak maksudkan itu.
    A: Selanjutnya harap periksa lagi di Markus pasal 12 ayat 29
    B: Di sini menyebutkan : “Maka jawab Yesus kepadanya: “Hukum yang terutama inilah: dengarlah olehmu hai Israil, adapun Allah Tuhan Kita, ialah Tuhan Yang Esa””
    A: Jelas bahwa Tuhan itu Esa, artinya satu, Tunggal, jadi Yesus bukan Tuhan sebagaimana telah saya terangkan.
    B: Ya, sudah bapak terangkan kemarin malam.
    A: Periksa lagi Ulangan pasal 4 ayat 35
    B: Di sini menyebutkan: “Maka kepadamulah Ia itu ditunjuk, supaya diketahui olehmu bahwa Tuhan itu Allah, dan kecuali Tuhan yang Esa tiadalah yang lain lagi”.
    A: Kitab Injil saudara sendiri yang menyebutkan dan Yesus sendiri yang menyampaikan bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah yang Esa. Jadi tegas sekali Yesus sendiri tidak mengaku menjadi Tuhan. Inipun telah saya terangkan pada pertemuan kita kemarin malam.
    B: Ya, saya sudah mengerti dan menerimanya.
    A: Periksa lagi di Ulangan pasal 6 ayat 4
    B: Di Ulangan pasal dan ayat tersebut menyebutkan demikian: “Dengarlah olehmu hai Israil! Sesungguhnya Hua Allah kita, Hua itu Esa adanya”.
    A: Jelas di kitab Injil sendiri menyebutkan Allah itu Esa, Tunggal. Yesus telah mengakui sendiri bahwa dia bukan Tuhan. Bagaimana pendapat saudara. Kaum Kristen mengatakan Yesus itu tuhan, sedangkan Yesus sendiri menolak disebut dirinya Tuhan.
    B: Ya, saya tidak mengerti dan tambah bingung.
    A: Biarlah tidak apa-apa. Marilah kita teruskan lagi. Periksa di Matius pasal 27 ayat 1.
    B: Baik, di sini menyebutkan: “Setelah hari siang, maka segala kepala iman dan orang tua-tua kaumpun berundinglah atas hal Yesus, supaya dibunuh Dia”.
    A: Kalau betul Yesus itu Tuhan, mustahil ada manusia merencanakan untuk membunuh Dia. Silahkan buka lagi di Matius pasal 26 ayat 38
    B: Di ayat ini ada menyebutkan: “Kemudian kata Yesus kepada mereka itu: “Hatiku amat sangat berdukacita, hampir mati rasaku; tinggallah kamu disini dan berjagalah sertaku””
    A: Di ayat ini menyebutkan bahwa Yesus amat sangat berduka cita pantaskah ada tuhan berduka cita. Ini menunjukkan bahwa Yesus bukan Tuhan.
    Periksa lagi di Lukas pasal 2 ayat 11
    B: Baik diayat ini menyebutkan: “Sebab pada hari ini sudah lahir bagimu Juru Selamat, yaitu Kristus Tuhan itu di dalam negeri Daud”.
    A: Wajarkah tuhan dilahirkan oleh manusia (Maria). Terus periksa di Johanes pasal 5 ayat 30
    B: Baik, di sini menyebutkan : “Maka aku tidak boleh berbuat satu apa dari mauku sendiri, Seperti aku dengar begitu aku hukumkan, dan hukumku itu adil adanya, karena tidak aku coba turut mauku sendiri, melainkan maunya Bapa yang sudah mengutus aku”
    A: Ayat itu Yesus sendiri yang berkata bahwa ia tidak berkuasa berbuat sekehendaknya. Wajarkah tuhan tidak berkuasa berbuat sekehendaknya. Di ayat itupun Yesus mengaku sendiri bahwa kehendaknya itu menurut kehendak Tuhan yang mengutus dia. Kalau Yesus betul Tuhan, tentu tidak dapat diperintah oleh siapapun. Di ayat ini juga Yesus mengaku, bahwa dia bukan Tuhan melainkan diutus oleh tuhan. Yang diutus itu tentu bukan Tuhan.
    B: Kalau berdasarkan ayat tersebut, memang benar keterangan Bapak.
    A: Kalau begitu jelas bahwa:
    1. Yesus Datang kedunia ini bukan kemauannya sendiri tetapi utusan Tuhan atas kehendak Tuhan, sebagaimana juga Tuhan telah mengutus Nabi-nabi dan rasul-rasul yang lain.
    2. Yesus menghidupkan orang mati bukan maunya sendiri melainkan atas kehendak Tuhan, sebagaimana juga Ilyas dapat menghidupkan orang mati.
    3. Yesus dapat menyembuhkan penyekit kusta (lepra), bukan kehendaknya sendiri, melainkan atas kehendak Tuhan sebagaimana Ilyas dapat menyembuhkan penyakit lepra.
    Keterangan saya ini berdasarkan pengakuan Yesus sendiri di ayat tadi bahwa “tidak aku coba mauku sendiri, melainkan maunya Bapa yang sudah mengutus Aku”
    Apakah Saudara memerlukan lagi ayat-ayat Bibel yang menerangkan pengakuan Yesus sendiri bahwa Ia bukan Tuhan.
    B: Buat saya masih memerlukan lagi, bukankah telah saya sampaikan kepada bapak, bahwa saya ingin mencari kepuasan dalam meneliti ajaran-ajaran agama, terutama dalam hal Ketuhanan yang hakiki. Tetapi saya ingin bertanya, dan maaf sebelumnya, bagaimanakah bapak bisa hafal diluar kepala tentang ayat-ayat Bibel, dan keistimewaan bapak ini saya merasa kagum.
    A: Itu adalah petunjuk Tuhan. Alhamdulillah saya memang mempelajari bermacam agama, akhirnya saya bertambah yakin akan kebenaran Agama Islam. Kalau saudara merasa kagum kepada saya, maka sayapun lebih merasa kagum lagi kepada saudara selaku pemeluk agama Kristen berhasrat meneliti ajaran-ajaran agamanya. Juga dengan bantuan bapak Markam ini. Baiklah kita lanjutkan, periksa lagi di Ulangan pasal 4 ayat 39.
    B: Baik, dipasal dan ayat ini disebutkan sebagai berikut: “Maka sekarang ketahuilah olehmu dan perhatikanlah ini baik-baik, bahwa Tuhan itulah Allah, baik di langit yang di atas, baik di bumi yang di bawah, dan kecuali ia tiadalah lain lagi.”
    A: Tegas sekali, dikitab Injil sendiri yang menyebutkan bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah, dan Yesus sendiri pula yang berkata bahwa tiada tuhan melainkan Allah. Jadi Yesuspun bukan Tuhan. Ayat ini tentu tidak dapat diputar-putar lagi. Kalau ada penganut agama Kristen mengakui Yesus itu Tuhan, maka pengakuannya bertentangan dengan kitab sucinya sendiri, dan bertentangan pula dengan ajaran Yesus.
    B: Tetapi dalam Injil Johanes pasal 10 ayat 38 ada menyebutkan: “Supaya kamu dapat tahu dan percaya, yang Bapa ada di dalam aku, dan aku ada di dalam Bapa”.
    Ayat ini menunjukkan bahwa Yesus di dalam Tuhan dan Tuhan di dalam Yesus, maksudnya Tuhan dan Yesus itu satu adanya atau singkatnya bahwa Yesuspun Tuhan. Juga dalam Johanes pasal 14 ayat 11 ada menyebutkan: “Percayalah yang aku ini dalam Bapa, dan Bapa dalam aku”.
    A: Kalau saudara berpegang dengan ayat tersebut, bahwa Yesus itu Tuhan, maka saudara harus mengakui juga bahwa Tuhan itu Yesus dan Yesus itu Tuhan.
    B: Tidak demikian, tetapi Yesus dan Tuhan itu satu.
    A: Kalau begitu, saya ingin bertanya: “Di ayat itu ada dua rangkaian kata ialah “Yesus dan Tuhan”. Siapakah yang lebih berkuasa di antara keduanya. Tuhan Bapakah atau Yesus.
    B: Tentu Tuhan Bapa.
    A: Kalau masih ada yang lebih berkuasa dari Yesus, maka Yesus tentu bukan Tuhan, lebih jelas periksa di Injil Johanes pasal 14 ayat 28.
    B: Baik, di ayat ini ada menyebutkan: “Kamu sudah dengar aku bilang, yang aku pergi serta datang kembali sama kamu. Coba kamu cinta sama aku, hati, sebab aku sudah bilang: “Yang aku pergi sama Bapa, karena bapaku itu lebih dari aku”
    A: Di ayat ini Yesus sendiri mengatakan: “Bapaku itu lebih dari aku”, ini menunjukkan bahwa, kalau Yesus itu Tuhan, maka ialah tuhan yang tidak sempurna, oleh karena masih ada yang melebihi tingkatnya. Yang tidak sempurna itu tentu bukan Tuhan. Harap saudara periksa lagi di Injil Johanes pasal 12 ayat 45.
    B: Baik, di pasal dan ayat tersebut menyebutkan sebagai berikut: “Dan barang siapa yang melihat aku, dia melihat sama Dia yang mengutus aku”
    A: Pantaskah tuhan diutus. Kalau Yesus itu Tuhan, mengapa ada Tuhan yang di utus. Maksud ayat tersebut siapa yang melihat Yesus, seolah-olah ia melihat Tuhan yang mengutus Yesus. Jadi perkataan Yesus diatas menunjukkan bahwa ia bukan Tuhan, melainkan utusan Tuhan.
    B: Saya belum meneliti maksud ayat di Johanes pasal 10 ayat 38 dan pasal 14 ayat 11 yang menyebutkan bahwa “Bapa dalam aku dan aku dalam Bapa”, seperti yang telah saya bacakan tadi. Akan tetapi dalam ayat ini saya berpendapat ada dua macam penafsiran :
    1. Yesus adalah Tuhan.
    2. Berdasarkan Injil Johanes pasal 12 ayat 45 yang kita baca itu menyebutkan, Yesus itu adalah utusan Tuhan. Utusan disini maksudnya selaku Tuhan ia menyampaikan sendiri ajarannya kepada manusia.
    A: Ayat itu bukan berarti mempunyai dua macam penafsiran, tetapi diantara dua ayat tersebut yakni di Johanes pasal 10 ayat 38, dan pasal 14 ayat 11 dan Johanes pasal 12 ayat 45 itu adalah bertentangan. Disatu ayat ditafsirkan Yesus itu Tuhan, dan di ayat lain disebutkan bahwa Yesus itu utusan Tuhan. Jadi di dalam Injil sendiri terdapat ayat-ayatnya antara yang satu dengan yang lain bertentangan. Kita perlu ingat kembali pada pembicaraan kita semula kalau ada kitab suci yang isinya berselisih antara satu ayat dengan ayat yang lain, maka apakah kitab suci itu masih akan dipertahankan kesuciannya..?.
    B: Betul, kita telah bicarakan hal itu pada pertemuan yang lalu.
    A: Andaikan saudara masih juga mempertahankan ketuhanan Yesus dengan berdasarkan ayat Bibel yang menyebutkan: “Yesus dalam Bapa dan Bapa dalam Yesus” sebagaimana tersebut dalam Johanes pasal 10 ayat 38 dan pasal 14 ayat 11 itu maka saudarapun akan dijawab oleh kitab Injil saudara sendiri, bahwa penafsiran saudara itu tidak benar.
    B: Dimanakah menyebutkan demikian?
    A: Silahkan saudara periksa di Injil Johanes pasal 17 ayat 21.
    B: Di pasal dan ayat ini menyebutkan: “Supaya semua jadi satu, ia Bapa! seperti Bapa dalam saya dan saya dalam Bapa dan supaya dia orang jadi satu dalam kita, biar dunia percaya Bapa sudah mengutus saya”.
    A: Jelas di ayat ini kalau Yesus sendiri berkata bahwa Yesus dalam Bapa dan Bapa dalam Yesus dan muridnya pun ada dalam Bapa. Kalau begitu harus saudara akui bahwa murid-murid Yesuspun Tuhan juga.
    B: Kalau begitu bagaimana arti yang sebenarnya ayat itu menurut Bapak.
    A: Kalimat, “Bapa dalam saya”, dan muridnya jadi satu dengan kita (Allah dan Yesus) di ayat tersebut maksudnya, supaya Yesus senantiasa tidak melupakan Allah (Bapa) demikian juga muridnya tidak melupakan Yesus dan Allah (Bapa). Dan di akhir ayat tersebut Yesus berkata “biar dunia percaya yang Bapa mengutus saya”. Rangkaian kata-kata ini tegas sekali Yesus mengakui bahwa ia bukan anak Allah, melainkan utusannya, dan teruskan saudara baca di Johanes pasal 17 ayat 23
    B: Baik, ayat tersebut menyebutkan: “Saya dalam dia orang, dan Bapa dalam saya, supaya dunia boleh tahu yang Bapa sudah mengutus saya”
    A: Apakah susunan ayat tersebut belum jelas bahwa Yesus sendiri yang berkata dan mengaku bahwa ia bukan Tuhan, melainkan utusan Tuhan. Apakah saudara masih belum puas tentang ayat-ayat Injil yang menunjukkan bahwa Yesus bukan Tuhan, karena saya anggap telah cukup banyak tunjukkan kepada saudara.
    B: Sebagaimana telah saya sampaikan kepada bapak, saya ingin kepuasan. Sebetulnya keterangan-keterangan bapak telah memuaskan saya, namun demikian kalau masih ada ayat-ayatnya lagi harap bapak tunjukkan.
    A: Baik saya penuhi pengharapan saudara silahkan saudara periksa di kitab Samuel yang kedua pasal 7 ayat 22.
    B: Pasal dan ayat tersebut menyebutkan sebagai berikut: “Maka sebab itu besarlah Engkau, ya Tuhan Allah karena tiada yang dapat disamakan dengan dikau dan tiada Allah melainkan Engkau sekedar yang telah kami dengar dari telinga kami”
    A: Di ayat ini jelas bahwa Yesus sendiri menghadapkan kata-katanya kepada Allah, bahwa tiada yang dapat disamakan dengan Allah. Jadi Yesus sendiri mengakui bahwa dirinya tidak sama dengan Tuhan, dengan kata lain ia bukan Tuhan dan ditengah-tengah ayat itu Yesus sendiri berkata: “Tiada Allah melainkan engkau”. Jadi Yesus termasuk yang lain, yakni ia bukan Tuhan Allah. Rangkaian ayat tersebut, Yesus sendiri yang berkata bahwa, “tiada Tuhan melainkan Allah” mengapa kaum kristen mengangkat Yesus selaku Tuhan. Silahkan periksa lagi Injil Yahya pasal 17 ayat 8.
    B: Baik, sebutan ayat tersebut adalah sebagai berikut: “Karena segala firman yang telah Engkau firmankan kepadaku, itulah Aku sampaikan kepada mereka itu, dan mereka itu sudah menerima dia, dan mengetahui dengan sesungguhnya bahwa Aku datang dari Ada-Mu, dan lagi mereka itu percaya bahwa Engkau yang menyuruh aku.
    A: Di ayat ini Yesus sendiri berkata bahwa ia menerima firman dari Allah. Kalau Yesus Tuhan, tentunya tidak membutuhkan firman dari siapapun juga. Di akhir ayat itu juga Yesus sendiri berkata bahwa “Engkaulah yang menyuruh aku”. Jadi Yesus itu bukan tuhan, melainkan pesuruh Tuhan, sebagaimana Nabi-nabi dan utusan-utusan Allah yang lain-lain juga. Teruskan saudara periksa Injil Matius pasal 26 ayat 2.
    B: Baik, disini menyebutkan : “Kamu memang mengetahui bahwa dua hari lagi akan ada hari raya Paskah, dan Anak manusia akan diserahkan supaya ia disalibkan”
    A: Yang dimaksud dengan anak manusia di ayat itu ialah Yesus sendiri. Jadi jelas Yesus mengakui bahwa ia bukan anak Tuhan, melainkan anak manusia. Lanjutkan periksa Injil Matius pasal 5 ayat 45.
    B: Baik, ayat ini menyebutkan: “Supaya kamu menjadi anak-anak Bapamu yang disurga…”
    A: Cukup sampai disitu. Di ayat ini saudara saksikan sendiri, bahwa Yesus sendiri yang berkata kepada murid-muridnya, supaya kamu menjadi anak-anak bapamu yang di surga; yakni apabila murid-muridnya taat atas perintah-perintah Tuhan, menurut Yesus mereka akan jadi anak Tuhan juga. Berdasarkan ayat Bibel tersebut tentunya anak tuhan akan menjadi banyak jumlahnya, bukan Yesus saja.
    B: Tetapi di Injil Johanes pasal 1 ayat 34 menyebutkan : “Maka aku sudah melihat itu, serta bersaksi yang dia inilah anak Allah”.
    Juga di Injil Matius pasal 3 ayat 17 menyebutkan: “Maka suatu suara dari langit mengatakan:” Inilah Anakku yang kukasihi, kepadanya aku berkenan”
    Di Injil Lukas pasal 1 ayat 32 juga menyebutkan: “Maka ia akan menjadi besar, dan Ia akan dikatakan anak Allah yang Maha Tinggi, maka Allah, Tuhan kita akan mengaruniakan kepadanya takhta Daud, nenek moyangnya itu”.
    Di Ibrani pasal 4 ayat 14 menyebutkan: “Sedangkan ada kepada kita seorang Imam Mahabesar yang sudah melintas segala langit, yaitu Yesus Anak Allah, maka hendaklah kita memegang pengakuan itu”.
    Dan masih banyak lagi ayat-ayat Bibel yang menerangkan bahwa Yesus Anak Allah. Kalau Bapak memerlukan akan saya tunjukkan ayat-ayatnya.
    A: Saya mengerti, bahwa ayat-ayat Bibel yang menyebutkan Yesus Anak Allah sebagaimana tersebut di:
    Matius : Pasal 3 ayat 17, pasal 4 ayat 3, pasal 14 ayat 33, pasal 26 ayat 63 dan Pasal 16 ayat 17
    Johanes : Pasal 3 ayat 16, pasal 1 ayat 34 dan 40, pasal 17 ayat 1, pasal 19 ayat 7, pasal 16 ayat 27 dan ayat 30, pasal 15 ayat 23 dan beberapa ayat lainnya di Johanes.
    Rum : Pasal 1 ayat 9, pasal 5 ayat 10, pasal 8 ayat 3, pasal 29 ayat 32.
    Galitiah : Pasal 1 ayat 16, pasal 4 ayat 4 dan 6.
    Lukas : Pasal 1 ayat 32 dan 35, pasal 3 ayat 22, pasal 4 ayat 3 dan 9, pasal 4 ayat 43 dan 41.
    Ibrani : Pasal 1 ayat 2,5 dan 8, pasal 3 ayat 6, pasal 4 ayat 14, pasal 5 ayat 5 dan 8.
    Matius : pasal 2 ayat 15, pasal 3 ayat 17, pasal 4 ayat 3 dan ayat 6, pasal 14 ayat 33, pasal 26 ayat 63, pasal 16 ayat 17.
    Korintus : Pasal 1 ayat 9
    Dan masih ada beberapa ayat lain di kitab Injil yang menyebutkan Yesus itu Anak Allah tetapi maksudnya bukan anak Allah yang sebenarnya, karena Yesus sendiri mengaku dikitab Injil bahwa ia adalah utusan Allah, bukan Anak Allah. Dan ia sendiri berkata: “anak manusia” bukan anak Tuhan, Jadi jumlah ayat-ayat di kitab Injil yang menyebutkan Yesus itu anak Allah tidak menjamin kebenarannya bahwa ia anak Allah betul-betul, sebagaimana kita sering mendengar ucapan-ucapan “Anak Kapal”, “Anak Sekolah”, tidak berarti bahwa kapal dan sekolah itu beranak, melainkan mempunyai arti bahwa orang itu selalu terikat oleh peraturan-peraturan kapal dan pelajaran-pelajaran di sekolah. Periksa lagi Yahya pasal 5 ayat 30.
    B: Ayat tersebut demikian bunyinya : “Suatu pun tidak aku dapat berbuat menurut kehendakku sendiri melainkan aku menjalankan hukum sebagaimana yang aku dengar, dan hukumku itu adil adanya, karena bukannya aku mencari kehendak diriku, melainkan kehendak Dia yang menyuruhkan aku.
    A: Di sini jelas sekiranya Yesus itu Tuhan, tentu dapat berbuat sekehendaknya sendiri. Tetapi di Bibel sendiri menyebutkan bahwa perbuatan Yesus itu adalah kehendak Tuhan. Dan sekiranya Yesus itu Tuhan, tentunya tidak ada yang mengutus. Mustahil Tuhan menjadi utusan Tuhan, atau dengan lain kata “Utusan Tuhan itu adalah Tuhan”, bisakah terjadi demikian.
    B: Sudah jelas dan terima kasih.
    A: Silahkan periksa lagi di Yahya pasal 3 ayat 13.
    B: Baik, disini menyebutkan: “Seorang pun tiada naik kesurga, kecuali ia yang sudah turun dari surga, yaitu anak manusia”.
    A: Jelas di Bibel sendiri menyebutkan bahwa Yesus sendiri adalah anak manusia bukan anak Tuhan.
    B: Betul berdasarkan ayat tersebut Yesus adalah anak manusia.
    A: Periksa lagi di Matius pasal 27 ayat 30
    B: Baik, disini menyebutkan : ” Maka mereka itupun meludahi Dia, serta mengambil buluh itu memalu kepalanya”.
    A: Kalau Yesus itu betul Tuhan, bagaimana Tuhan bisa diludahi dan diperolok-olokkan. Mengapa ada Tuhan yang begitu lemah. Sesuai dengan pengharapan saudara supaya puas dengan soal ketuhanan Yesus menurut Bibel dan perkataan Yesus sendiri ada menyebutkan Ia bukan Tuhan, sekali lagi periksa di Matius pasal 21 ayat 18 dan 19.
    B: Baik, di sini menyebutkan: ” Pada pagi-pagi harinya, apabila Ia kembali kenegeri itu, ia merasa lapar”. Serta dipandangnya sepohon ara di sisi jalan, pergilah ia kesitu dan didapatinya suatu apapun tiada dipohon itu, melainkan daun sahaja. Lalu berkatalah Ia kepadanya: Janganlah jadi buah dari padamu lagi selama-lamanya. Maka dengan seketika itu juga layulah pohon ara itu”.
    A: Kalau Yesus itu Tuhan tentu ia tidak akan mengutuk pohon itu supaya tidak berbuah melainkan ia akan menciptakan buah pada pohon itu dengan kekuasaannya selaku Tuhan. Akan tetapi pohon yang tidak berbuat kesalahan apa-apa kepada Yesus dan pohon yang tidak tahu apa-apa itu malah dikutuk oleh Yesus. Wajarkah Tuhan mengutuk makhluk yang tidak bersalah. Padahal kalau betul Yesus itu Tuhan tentu Ia berkuasa menciptakan pohon itu supaya mengeluarkan buahnya seketika itu juga, tidak lalu mengutuknya.
    B: Bapak hafal betul tentang ayat-ayat di Kitab Injil, jadi sudah jelas berdasarkan ayat-ayat Injil yang bapak sebutkan dan dikuatkan lagi dengan beberapa ayat lainnya, nyatalah bahwa Yesus itu bukan anak Tuhan.
    A: Persoalan Yesus anak Tuhan itu telah kita bicarakan pada pertemuan pertama, dan sudah dibereskan oleh Injil sendiri yang menyebutkan bahwa selain Yesus masih banyak lagi beberapa manusia yang harus diakui Anak Tuhan, dan seharusnya mereka itu diakui juga oleh golongan Kristen, menjabat anak tuhan, bukan Yesus saja, karena berdasarkan Kitab Injil sendiri anak Tuhan itu banyak.
    B: Ya betul kita telah bicarakan tentang itu.
    A: Supaya lebih Jelas, baiklah saya ulangi, di Injil ada menyebutkan bahwa:
    1. Daud anak Allah yang sulung (Mazmur, pasal 89 ayat 27)
    2. Yakub (Israil) adalah anak Allah yang Sulung (Keluaran pasal 4 ayat 22 dan 23)
    3. Afraim adalah anak Allah yang Sulung (Yeremia pasal 31 ayat 9)
    Jadi Daud anak Allah yang sulung, Yakub anak Allah yang sulung, dan Afraim juga anak Allah yang sulung. Ketiga-tiganya atau kesemuanya adalah anak sulung. Yang manakah yang betul-betul sulung. Apakah ayat ini benar semuanya atau salah semuanya. Karena itu saya jelaskan bahwa Anak Allah yang tersebut dalam Bibel itu, tidak berarti anak Allah yang sebenarnya melainkan maksudnya ialah kekasih Allah, atau mereka yang taat kepada perintah-perintah tuhan.
    B: Saya sudah mengerti terima kasih.
    A: Tetapi saudara mungkin belum mengerti betul tentang arti “Anak dan Bapa” dalam bahasa Ibrani, atau susunan bahasa yang terpakai dalam Bibel.
    B: Kalau begitu bagaimanakah arti yang sebenarnya.
    A: Dalam bahasa Ibrani kata “Bapa” itu dipakai buat Tuhan, sedangkan kata “anak” dipakai buat mereka yang dihormati, seperti para Nabi dan para Rasul.
    B: Dasar apakah yang dipergunakan oleh bapak tentang keterangan itu.
    A: Saya sudah sebutkan pada pertemuan yang pertama ialah tersebut dalam Injil Matius
    B: Saya tidak ingat, di pasal dan ayat berapa.
    A: Silahkan buka Matius, pasal 5 ayat 9.
    B: Baik, di sini disebutkan: “Berbahagialah segala orang yang mendamaikan orang karena mereka itu akan disebut anak Allah”.
    A: Jelas siapa saja mendamaikan manusia akan disebut akan menjabat “Anak Allah”, kalau begitu anak Allah itu ratusan, ribuan malah mungkin jutaan orang, jadi bukan Yesus saja.
    B: Apakah tidak sebaiknya kita lanjutkan besok malam saja, karena sudah larut malam.
    A: Terserah saudara, tetapi baiklah besok malam saja kita lanjutkan.
    PERTEMUAN YANG KE EMPAT
    Yesus Penebus Dosa
    A: Betulkah Kepercayaan Kristen bahwa datangnya Yesus adalah untuk menebus Dosa.
    B: Memang demikian.
    A: Dimanakah menyebutkan
    B: Dalam kitab Perbuatan Rasul-rasul pasal 5 ayat 31
    A: Tolong bacakanlah
    B: Baik, di sini ada menyebutkan: “Ia inilah ditinggalkan oleh tangan kanan Allah menjadi Raja dan Juru Selamat akan mengaruniakan tobat kepada Bani Israil dan jalan keampunan dosa”.
    A: Susunan kata ini diucapkan oleh Petrus, bukan perkataan Yesus dan bukan wahyu dari Tuhan
    B: Tetapi dalam Injil Lukas pasal 2 ayat 10 dan 11 juga ada menyebutkan.
    A: Bacakanlah
    B: Disini menyebutkan: “Maka kata malaikat itu kepada mereka itu: “Jangan takut, karena sesungguhnya Aku memberikan kepadamu suatu kesukaan besar yang akan jadi bagi segenap kaum. Sebab pada hari ini sudah lahir bagimu Juru Selamat, yaitu Kristus Tuhan itu, di dalam negeri Daud”.
    A: Malaikat itu berkata kepada siapa menurut ayat itu
    B: Di Lukas pasal 2 ayat 8 dan 9 menyebutkan bahwa malaikat berkata kepada orang gembala yang tinggal di padang, menjaga kawan binatangnya pada waktu malam.
    A: Tidak ada keterangan bahwa yang berkata itu malaikat, dan tidak ada pernyataan dari orang gembala sendiri mengenai peristiwa tersebut.
    B: Buat saya tidak perlu memeriksa lebih mendalam lagi, karena di Injil menyebutkan Yesus adalah Juru Selamat dan penebus dosa, itu sudah cukup.
    A: Baik, kalau saudara tidak perlu memeriksa kembali ayat tersebut tidak apa, saya ikuti kemauan saudara, namun saya ingin memberitahukan kepada saudara, bahwa dalam kitab Kisah Rasul pasal 5 ayat 31 yang saudara baca tadi ada menyebutkan bahwa Yesus, hanya penebus dosa bagi Bani Israil saja, bukan untuk semua manusia. Dan saudara sendiri selaku penganut agama Kristen tentunya tidak tertebus dosanya oleh Yesus, oleh karena saudara bukan turunan Bani Israil. Demikianlah kalau saudara betul-betul berpegang pada Kitab Suci saudara kitab Injil saudara, yang telah saudara baca sendiri.
    B: Diwaktu itu mungkin hanya Bani Israil saja yang ada. Karena itulah Yesus berkata begitu, tetapi pada hakekatnya untuk semua manusia.
    A: Kalau benar sanggahan saudara, silahkan saudara buka di Matius pasal 1 ayat 21.
    B: Baik, di Matius pasal 1 ayat 21 menyebutkan: “Maka Ia akan beranakkan seorang anak laki-laki, dan hendaklah engkau menamakan Ia Yesus, karena Ia-lah yang akan melepaskan kaumnya dari pada segala dosanya”.
    A: Apakah belum Jelas, Bibel sendiri yang menerangkan bahwa kedatangan Yesus hanya untuk melepaskan dosa kaumnya saja bukan untuk semua manusia, sebagaimana kita telah bicarakan.
    B: Akan tetapi dapat juga saya artikan: “Kaum” itu dengan “Bangsa”, ialah bangsa manusia. Jadi yang dimaksudkan ialah untuk semua bangsa.
    A: Dengan dasar apa saudara memberi arti begitu. Di Bibel sendiri nyata-nyata menyebutkan dengan kata “Kaumnya”. Taruh kata saudara alihkan kata: “Kaum” dengan arti “Bangsa”, maka yang demikianpun tidak dapat diartikan lain, kecuali hanya bangsanya Yesus sendiri saja ialah bangsa Ibrani (Israil).
    B: Saya masih belum yakin keterangan bapak selama di Bibel sendiri tidak menyebutkan dengan tegas, bahwa kedatangan Yesus untuk Bani Israil saja.
    A: Sekiranya di Bibel ada menyebutkan, betulkah saudara akan menjadi yakin, bahwa kedatangan Yesus itu bukan untuk semua bangsa.
    B: Ya, saya yakin, dan demikianlah pendapat saya.
    A: Apakah saudara sudah periksa di Bibel.
    B: Saya sudah periksa, tetapi saya tidak hafal ayat-ayat Bibel yang ratusan malah mungkin ribuan ayat itu.
    A: Kalau begitu, silahkan periksa Injil Matius pasal 15 ayat 24.
    B: Baik, disini menyebutkan: “Maka jawab Yesus, katanya “Tiadalah aku disuruhkan yang lain hanya kepada segala domba yang sesat diantara Bani Israil””.
    A: Bukankah ayat ini sudah jelas, dan tidak bisa diputar-putar lagi, Yesus sendiri mengakui bahwa ia di Utus untuk Bani Israil saja, bukan untuk semua manusia atau lain. Jadi kalau penganut Yesus (umat kristen) yang bukan golongan Bani Israil, tentunya tidak termasuk umatnya Yesus, dan dosanya tidak bisa ditebus/tertebus, karena Yesus hanya menjadi Juru Selamat untuk Bani Israil saja, sedangkan saudara sendiripun bukan dari golongan Bani Israil.
    B: Ya, kalau demikian bagi saya agak repot. Entah bagaimana ini semestinya.
    A: Nah, kalau begitu orang bisa berpendapat apakah faedahnya orang-orang Kristen menyebarkan agamanya kepada manusia yang bukan Bani Israil. Sedangkan Yesus sendiri tidak berbuat demikian. Apakah cara yang demikian tidak bisa dinamakan melangkahi ajaran Yesus.
    Dan di Injil Matius yang saudara baca baru-baru ini ada menyebutkan juga susunan kata Yesus sendiri “Tiadalah aku disuruhkan kepada yang lain”. Jelas disini Yesus sendiri ia mengakui ia disuruh. Kalau Yesus itu dikatakan Tuhan, maka pantaskah Tuhan itu jadi pesuruh. Jadi Yesus itu bukan Tuhan, melainkan pesuruh Tuhan sesuai dengan pengakuan Yesus sendiri, yang menyebutkan dalam Kitab Injil saudara sendiri.
    B: Betul begitu, akan tetapi maaf terlebih dulu apakah misalnya tidak mungkin ayat itu ada salah cetak. Ini hanya kira-kiraan saya sendiri saja, tetapi sekali lagi saya minta maaf.
    A: Tidak apa saudara bersikap ragu-ragu, tetapi untuk menghilangkan keragu-raguan baiklah kita periksa kitab yang berbahasa Belanda ini yang kebetulan saudara bawa. Kitab ini berjudul : “Bijbellezingen voor het Huisgezin”. Setujukah saudara.
    B: Baiklah, dan memang demikian maksud kami sebelumnya, agar dapat kita periksa bersama-sama apakah ayat Bibel yang berbahasa Indonesia, ada bersamaan maksudnya dengan yang berbahasa belanda.
    A: Silahkan saudara periksa di bab: “De onderdanen van het koningrijk” halaman 834, ayat 12 apakah sudah diketemukan ayatnya.
    B: Sudah ini dia.
    A: Nah mari kita periksa, di ayat ini menyebutkan: “Toen de vrouw van Kanaan tot Christus kwan, Hem om smehende haar dochter te genezen, wat zei Hijtoen?. Maar Hij antwoordende, zeide : “Ik ben niet gezenden dan tot de verloren schapen van huis israel””
    Kalau kita salin kedalam bahasa Indonesia: “Ketika seorang perempuan dari Kanaan datang di hadapan Kristus mengemis-mengemis padanya supaya mengobati (menyembuhkan) anaknya, lalu apakah katanya ?. Maka jawab Yesus, katanya : “Tiadalah aku disuruhkan yang lain, hanya kepada segala domba yang sesat dari antara Bani Israil””
    B: Yah terus terang saja, tampaknya pendirian saya sudah mulai condong kepada keterangan-keterangan bapak.
    A: Alhamdulillah, saya bersyukur, karena saudara sudah tambah bimbang dalam keyakinan saudara. Pada pertemuan yang lalu, kita sudah membaca susunan ayat di Injil Matius pasal 26 ayat 1 dan 2.
    B: Betul saya ingat, saya akan menjelaskan ayat tersebut
    A: Baik, kalau saudara masih merasa perlu memberikan penjelasan.
    B: Saya akan bacakan lagi bunyi ayat tersebut.
    A: Baik, pada pertemuan yang lalu telah saya terangkan. Mungkin saudara masih perlu membantah (membantah keterangan saya tersebut). Silahkan saudara membacanya.
    B: Ayat tersebut berbunyi sebagai berikut: “Setelah Yesus menyudahi ucapan itu, maka bertuturlah pula ia kepada murid-muridnya: “Kamu memang mengetahui bahwa dua hari lagi akan ada hari raya Paskah, dan Anak manusia akan diserahkan supaya ia disalibkan”.
    Jadi kedatangan Yesus memang untuk disalib. Berdasarkan ayat ini.
    A: Mengapa Yesus berteriak minta tolong kepada Tuhan di waktu akan disalib, kalau memang benar kedatangan Yesus untuk disalib.
    Mestinya dia bersedia untuk disalib. Seruan Yesus minta-minta tolong itu, sebagaimana saya telah sebutkan pada pertemuan kita yang pertama, ialah di Matius pasal 27 ayat 46: yang bunyinya sebagai berikut: “Maka sekira-kira pukul tiga itu, berserulah Yesus dengan suara yang nyaring, katanya: “Eli, Eli, lama sabachtani”, artinya “Ya Tuhanku, Ya Tuhanku, apakah sebabnya Engkau meninggalkan Aku”.
    B: Di ayat yang dibacakan tadi menunjukkan badan ketuhanan Yesus sudah mengetahui lebih dahulu bahwa badan kemanusiaannya akan di salib. Jadi yang berteriak itu bukan anak Tuhan , melainkan badan kemanusiaannya Yesus , oleh karenanya itu ia menyerah untuk disalib.
    A: Kalau begitu, diwaktu Yesus di Salib ada dimanakah badan ketuhanannya Yesus itu. Kalau saudara menjawab terpisah, maka hal itu menunjukkan bahwa tidak selamanya Yesus menjadi satu dengan Tuhan. Tetapi kalau saudara menjawab tetap disitu, mengapa badan ketuhanannya tidak dapat menolong Yesus, sehingga ia berteriak-teriak minta tolong.
    B: Saya tidak mengerti bagaimana soal ini sebenarnya.
    A: Bukan itu saja, malah kita masih bisa meneruskan lagi di Matius pasal 26 ayat 38 yang menyebutkan: “Kemudian kata Yesus kepada mereka itu: Hatiku amat sangat berduka cita hampir mati rasaku; tinggallah kamu di sini dan berjagalah sertaku”
    Mengapa badan Ketuhanan Yesus tidak berkuasa menghilangkan duka cita yang dirasakan olehnya. Malah ia berkata kepada muridnya minta berjaga bersama dia. Pantaskah Tuhan minta-minta kepada manusia.
    B: Kalau saya berpegang pada ayat Injil tersebut, bahwa kedatangan Yesus untuk bani Israil saja, maka apakah salahnya kalau kita mengajak manusia diluar bani Israil supaya percaya kepada Yesus.
    A: Kalau saudara konsekwen berpegang pada ayat Injil itu mestinya tidak demikian pendapat saudara. Kalau saudara telah menyimpang dari langkah Yesus oleh karena Yesus sendiri mengatakan bahwa kedatangannya hanya untuk menebus dosa bani Israil semata-mata, bukan manusia lainnya.
    B: Taruh kata kedatangan Yesus itu hanya untuk bani Israil saja, dan andaikata ada orang dari luar Bani Israil yang masuk Kristen, maka hal tersebut tidak berarti ayat Injil dan ajaran Kristen itu ada kesalahan.
    A: Kalau begitu apakah orang Bani Israil yang menyalibkan Yesus itu sudah tertebus dosanya
    B: Entahlah
    A: Mengapa dalam kitab Injil tersebut Yesus berkata bahwa kedatangannya untuk menebus dosanya bani Israil, Dengan demikian maka orang bani Israil yang menyalibkan Yesus mestinya sudah tertebus dosanya. Terlebih lagi berdasarkan keterangan saudara mestinya manusia yang menyalibkan Yesus itu tidak berdosa, malah menerima pahala besar, kalau kedatangannya Yesus memang untuk disalib.
    Andaikata tidak ada orang yang bersedia menyalibkan Yesus, tentu tidak terlepas dosanya bani Israil dan kedatangannya Yesus tidak dapat lagi disebut selaku penebus dosa.
    Mestinya orang yang menyalibkan Yesus itu menerima pahala besar, tidak dilaknat, karena mereka telah berjasa menyalibkan Yesus, karena perbuatan mereka itulah, dosa-dosa bani Israil tertebus semuanya. Jawaban ini sebagian telah saya sampaikan pada pertemuan kita yang lalu.
    B: Dalam hal ini saya belum bisa menjawab sekarang, tetapi mungkin dilain waktu.
    A: Saya akan ulangi lagi pertanyaan saya: Betulkah lantaran Yesus di Salib dosa bisa terhapus.
    B: Ya, betul begitu menurut ayat Injil.
    A: Alat apakah digunakan untuk menyalibkan Yesus.
    B: Kalau saya tidak salah, ialah kayu yang disebut: “Kayu Salib”
    A: Kalau begitu Yesus tergantung pada kayu pada waktu disalibkan.
    B: Ya, demikian, sebagaimana kita sering melihat gambar Yesus disalib.
    A: Silahkan saudara periksa di Galatia pasal 3 ayat 13
    B: Baik, disini disebutkan: “Maka Kristus sudah menebus kita dari pada kutuk Torat itu dengan menjadi satu kutuk karena kita, karena ada tersurat: “Bahwa terkutuklah tiap-tiap orang yang tergantung pada kayu””
    A: Menurut keterangan saudara, Yesus rela untuk di salib, sedangkan menurut Galatia yang saudara baca menyebutkan: Terkutuklah tiap-tiap orang yang tergantung pada kayu, dan kalau begitu apakah bisa menebus dosa manusia.
    B: Terima kasih , saya sudah menyadari. Apakah tidak sebaiknya kita pindah kepada pasal-pasal yang lain. Tetapi di lain malam, karena sekarang waktunya sudah terlalu larut malam.
    A: Baiklah terserah saudara

    ab said:
    27 November 2007 pukul 08:44

    MALAM YANG KELIMA
    Dosa Waris
    B: Saya ingin menerima penjelasan dari bapak kyai, tentang kepercayaan kepada dosa waris yang disebabkan karena dosanya Adam dan Hawa.
    A: Baiklah, saya akan berikan jawabannya, tetapi sebelumnya saya ajukan pertanyaan: Betulkah menurut kepercayaan Kristen bahwa anak cucu Adam dan Hawa dari sejak dilahirkan sudah membawa dosa.
    B: Betul begitu, karena Adam dan Hawa berdosa, maka cucunya menerima warisan dosa dari keduanya.
    A: Mengapa dosa Adam dan Hawa diwariskan kepada cucunya, mestinya setiap manusia memikul dosanya dari perbuatannya sendiri, bukan memikul dosanya orang lain.
    B: Tetapi menurut ajaran Kristen, setiap manusia pada sejak waktu dilahirkan sudah memikul dosa, atau menerima warisan dosa dari dosanya Adam dan Hawa. Oleh karena kedatangan Yesus itu adalah untuk menebus dosa-dosa manusia dari warisan Adam dan Hawa tersebut.
    A: Kalau keterangan saudara benar pada ajaran Kristen, silahkan saudara periksa kitab Nabi Yehezkiel pasal 18 ayat 20.
    B: Pasal dan ayat tersebut menyebutkan: “orang berbuat dosa, ia itu juga akan mati; maka anak tiada akan menanggung kesalahan bapaknya, dan Bapa pun tiada akan menanggung kesalahan anak-anaknya; kebenaran orang yang benar akan tergantung atasnya dan kejahatan orang fasik pun akan tergantung atasnya”.
    A: Jelas Bibel sendiri menyebutkan bahwa setiap manusia akan menanggung sendiri perbuatan baik maupun buruk, tidak boleh dibebankan atau diwariskan kepada orang lain. Berdasarkan ayat tersebut, maka dosa Adam dan Hawa harus ditanggung sendiri oleh keduanya. Tetapi mengapa dosa Adam dan Hawa harus diwariskan atas anak cucunya, sehingga anak cucunya ikut serta menanggung dosanya; padahal kitab Injil sendiri tegas menyebutkan bahwa setiap perbuatan baik atau buruk yang dikerjakan oleh seseorang tidak dapat dibebankan atas orang lain. Baiklah, saya teruskan pertanyaan saya pada saudara; sejak umur berapa saudara di baptis.
    B: Kata orang tua saya, sejak umur tiga bulan dibawa ke gereja dan disana dibaptis, oleh karena setiap manusia sejak dilahirkan sudah membawa dosanya Adam dan Hawa yang disebut Dosa Waris, jadi sejak bayipun sudah membawa dosa; oleh karenanya saya dibaptis waktu masih kecil.
    A: Apakah perbuatan demikian itu berdasarkan kitab Bibel
    B: Saya berkeyakinan demikian. Sebagaimana saya terangkan bahwa bayi yang baru dilahirkan itu tidak suci, yakni sudah membawa dosanya Adam dan Hawa.
    A: Kalau begitu, bayi yang belum dibaptis sekiranya ia meninggal dunia (mati) tentu tidak akan masuk surga, sebab matinya ada membawa dosanya Adam dan Hawa.
    B: Ya, mestinya demikian.
    A: Silahkan periksa Matius pasal 19 ayat 14.
    B: dipasal dan ayat ini menyebutkan: “Tetapi kata Yesus. “Biarkanlah kanak-kanak itu, jangan dilarangkan mereka itu datang kepadaku, karena orang yang sama seperti inilah yang empunya kerajaan surga””
    A: Nah,…perhatikanlah di ayat itu nyata-nyata Yesus sendiri yang berkata ia mengakui kesuciannya kanak-kanak. Sedangkan mereka belum mengakui kesalibannya Yesus dan juga belum dibaptiskan, tetapi mempunyai kerajaan surga. Jadi berdasarkan pengakuan Yesus sendiri bahwa kanak-kanak itu tidak membawa dosa waris dari Adam dan Hawa, oleh karena itulah Yesus berkata : Mereka adalah suci dari dosa dan dengan sendirinya masuk surga. Saya ingin bertanya lagi, Saudara waktu umur tiga bulan itu sudah membawa dosakah atau belum.
    B: Kalau berdasarkan perkataan Yesus yang bapak katakan tadi, tentu tidak.
    A: Jadi masih suci dari dosa walaupun tanpa dibaptiskan.
    B: Ya betul demikian.
    A: Kalau begitu, apakah gunanya saudara dibaptis pada waktu umur tiga bulan itu.
    B: Waktu umur tiga bulan tentu saya tidak tahu apa-apa
    A: Saya bertanya sekarang, bukan bertanya kepada saudara diwaktu saudara berumur tiga bulan, Jadi apakah sekarang saudara sudah menyadari tentang tidak adanya dosa waris.
    B: Seperti bapak terangkan tadi, berdasarkan pengakuan Yesus sendiri tentu saya menyadarinya. Karena, Yesus sendiri yang mengatakan bahwa anak-anak itu suci pada waktu dilahirkan.
    A: Nah, bagaimanakah sekarang, masih adakah pandangan saudara terhadap dosa waris
    B: Tentu saja harus menyadari berdasarkan perkataan Yesus sendiri bahwa aman-anak yang baru dilahirkan itu suci tidak membawa dosa sedikitpun.
    A: tidak membawa dosa yang bagaimana.
    B: Ya, tidak membawa warisan dosa dari Adam dan Hawa.
    A: Kalau begitu saudara telah mengakui bahwa dosa waris itu tidak ada
    B: Ya, demikianlah harus saya akui berdasarkan Kitab Bibel sendiri.
    A: Syukur saudara telah mengakui tidak adanya dosa waris, kalau dosa waris itu turun-temurun, maka anak yang baru lahir yang belum tahu apa-apa belum bisa memisahkan antara yang baik dan buruk, kalau bayi itu mati ia membawa dosa dan masuk neraka, dan dimanakah letaknya keadilan Tuhan kalau demikian.
    B: Ya, saya bisa terima keterangan Bapak.
    A: Nah, coba pikirkan dengan penuh kesadaran. Kalau ada seorang tua dari beberapa orang anak, dan orang tua itu menjadi penipu, pencuri, penghianat, berbuat aniaya, kejam, dan bermacam-macam dosa ia kerjakan, lalu ia dihukum masuk penjara, apakah anak-anaknya juga diharuskan menanggung dosa orang-orang tuanya, lalu anak-anak itu harus dihukum juga masuk penjara dengan alasan dosa waris. Apakah pengadilan semacam itu akan dikatakan penegak keadilan.
    B: Terima kasih, saya sudah menyadari, bahwa dosa itu tidak bisa diwariskan atau dioperkan kepada orang lain.
    A: Syukur kalau begitu.
    B: Akan tetapi kalau dosa itu tidak bisa diwariskan mestinya pahala juga tidak diwariskan. Bagaimanakah menurut ajaran agama Islam dalam hal itu.
    A: Tidak bisa, malah tidak boleh; baik pahala maupun dosa dioperkan pada orang lain.
    B: Jawaban “tidak boleh” itu apakah menurut pendapat bapak sendirikah atau menurut ajaran Islam.
    A: Menurut ajaran Islam, pahala seseorang tidak boleh diwariskan atau dioper kepada orang lain, begitu juga dosanya seseorang tidak boleh diwariskan kepada orang lain. Setiap orang menanggung sendiri pahala dan dosanya atas perbuatannya sendiri.
    B: Akan tetapi saya pernah membaca sebuah buku agama Islam yang menerangkan bahwa Nabi Muhammad pernah berkorban seekor kambing buat umatnya sekalian dan buat familinya. Ini berarti bahwa Nabi Muhammad mewariskan atau mengoperkan pahala kepada orang lain, yakni kepada umatnya dan familinya. Yang demikian itu bukan dosa waris, tetapi jelas pahala waris.
    Jadi di dalam ajaran Islam ada juga pahala waris, maka saya kira bapak tidak perlu urus tentang dosa-dosa waris dalam ajaran Kristen, kalau di dalam ajaran Islam terdapat ajaran pahala waris atau ajaran oper pahala.
    A: kalau buku agama Islam yang saudara baca mau dijadikan pokok tentang bolehnya warisan pahala, mestinya orang Islam boleh sembahyang dan berpuasa, lalu diwariskan pahalanya buat sekalian umat Islam yang masih hidup dan yang mati, tetapi tidak ada umat Islam yang berbuat demikian, kalaupun ada, mungkin karena mereka tidak tahu, bahwa perbuatan yang demikian itu, bertentangan dengan kitab sucinya Al Qur’an. Jadi bukan kitab sucinya yang salah, tetapi penganutnya sendiri, dan berbeda dengan kitab Bibel yang mengandung banyak perselisihan antara satu ayat dengan yang lain. Di dalam kitab suci Al Qur’an, tidak terdapat ajaran pahala waris maupun dosa waris. Akan tetapi dalam kitab Bibel (Kristen) antara satu ayat dengan ayat yang lain bersimpang siur.
    B: Saya pernah membaca kitab terjemahan Al Qur’an bahasa Indonesia, kalau tidak keliru di dalam surat Ath Thurr ayat 21 ada menyebutkan yang maksudnya bahwa anak-anak orang mukmin akan dimasukkan surga lantaran ibu bapaknya. Jadi lantaran amalan ibu bapaknya anak-anak itu masuk surga. Kalau yang demikian itu bukan pahala waris, lalu apakah namanya.
    A: Ayat Al Qur’an yang saudara maksudkan itu bunyinya akan saya bacakan sebagai berikut:
    Yang artinya: “Dan mereka yang beriman dan diikuti oleh anak-anak cucunya (keturunannya) dengan keimanan pula. Kami (Allah) kumpulkan anak cucu itu dengan mereka dan tiadalah kami kurangi pahala amalan mereka sedikit juapun” (Surat Ath Thurr ayat 21).
    Diayat ini jelas menyebutkan tidak adanya pahala waris, malah tanggungan pun mengenai pahala warispun tidak ada. Yang masuk surga bersama Ibu bapaknya itu adalah anak-anak yang belum baligh, karena yang sudah baligh tentu bertanggung jawab sendiri. Oleh karenanya dalam ayat tersebut ada sambungannya.
    Yang artinya: “Setiap orang bertanggung jawab (terikat) oleh amalannya sendiri-sendiri (masing-masing)”.
    Jadi setiap orang menanggung dosa dan pahala atas perbuatannya masing-masing bukan warisan dari orang lain.
    B: Apakah di dalam Kitab Al Qur’an ada yang lebih tegas menyebutkan bahwa dosa dan pahala itu tidak dapat diwariskan atau dihadiahkan pada orang lain.
    A: Ada, cukup banyak.
    B: Maafkan, kami ingin mengetahui di surat apa, dan di ayat berapa, kami akan cocokkan dirumah, karena kami ada mempunyai kitab terjemahan Al Qur’an Bahasa Indonesia. Mungkin juga saudara-saudara yang hadir di sini juga memerlukan juga.
    HADIRIN: Perlu diterangkan, karena memang penting diterangkan.
    A: Apakah tidak sebaiknya kita bersama-sama memeriksa di sini saja, kalau saudara menyetujui saya suruh ambilkan Al Qur’an lalu saya tunjukkan surat dan ayatnya sekali. Bagaimana, apakah sekarang juga.
    B: Kalau Bapak hafal lebih baik sebutkan sekarang saja ayat-ayatnya , akan kami catat: lalu akan kami cocokkan dirumah dengan Al Qur’an kami. Tapi kalau bapak tidak hafal kami minta besok malam untuk menghemat waktu.
    A: Insya Allah saya hafal ayat-ayatnya.
    B: Baik, silahkan bapak sebutkan, kami akan catat.
    A: Saya akan sebutkan nama-nama surat dan nomor ayatnya, lalu saya akan beri keterangan dan saudara catat nama Surat dan nomor ayatnya yang sebut, lalu cocokkan lagi dirumah.
    B: baik, kami setuju.
    A:
    1. Surat Al Baqarah, ayat 286.
    “Kepada dirinya apa yang ia kerjakan, dan atas dirinya apa yang dia lakukan” Maksudnya, baik dan buruknya suatu perbuatan, harus ditanggung sendiri oleh yang mengerjakannya, tidak boleh dibebankan atas orang lain.
    2. Surat Al Baqarah, ayat 123.
    “Dan Hendaknya kamu takut pada suatu hari (kiamat) tidak berkuasa seorang membebaskan sesuatu atas orang lain”.
    Maksudnya, kelak dihari kiamat, seseorang tidak berkuasa menebus dosanya orang lain, dan pahala tidak diperbolehkan atas orang lain. Masing-masing harus menanggung sendiri perbuatannya baik maupun jahat.
    3. Surat Al Ankabut, ayat 6
    “Siapa yang giat berusaha maka usahanya itu untuk dirinya sendiri”.
    4. Surat Yaasiin, ayat 54
    “Maka pada hari kiamat, tidak seorangpun akan teraniaya, dan kamu tidak akan dibalas, melainkan apa yang kamu sendiri telah kerjakan”.
    5. Surat Al Isra’ , ayat 15
    “Dan seseorang tidak berkuasa memikul dosanya orang lain “.
    6. Surat An Najm, ayat 38 dan 39
    “Bahwa seseorang tidak berkuasa menanggung dosanya orang lain dan sesungguhnya seorangpun tidak akan menerima pahala melainkan daripada perbuatannya sendiri”.
    7. Surat Luqman, ayat 33.
    “Hai Manusia hendaklah kamu takut kepada suatu hari (kiamat) seorang bapak tidak berkuasa membebaskan anaknya (dari perbuatan anaknya), seorang anak tak akan berkuasa membebaskan perbuatan bapaknya”.
    Ayat-ayat yang saya sebutkan di atas tadi jelas sekali menunjukkan bahwa seseorang tidak berkuasa menebus dosanya atau mengambil oper pahala orang lain. Jadi dalam Islam, tidak ada manusia yang berkuasa menebus dosa, atau seorang pejabat menebus dosa, perbuatan baik atau jahat harus ditanggung sendiri oleh yang mengerjakannya.
    Saya kira sudah cukup ayat-ayat yang saya sebutkan, tetapi kalau saudara masih memerlukan, saya akan sebutkan lagi ayat-ayat yang lain.
    B: Sudah cukup, dan kami sudah mengerti, akan tetapi kami pernah membaca sebuah kitab yang menyebutkan sebuah Hadist Nabi Muhammad, yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim yang menerangkan bahwa: “Mayit itu disiksa lantaran ditangisi oleh familinya”.
    Berdasarkan Hadist tersebut berarti bahwa siksaan atas mayit itu, disebabkan perbuatan orang lain, bukan dari perbuatan dirinya sendiri. Mayit itu disiksa lantaran “perbuatan” tangisnya orang lain. Kami telah tanyakan kepada beberapa orang yang kami pandang mengerti tentang agama Islam, dan salah seorang guru agama Islam mengenal susunan Hadist tersebut memberikan jawaban bahwa hadist itu benar (sahih), oleh karena yang meriwayatkan adalah Imam Bukhari dan Imam Muslim.
    A: Hadist Nabi yang saudara bawakan itu susunannya demikian:
    “Telah berkata Umar dan Ibnu Umar: Bersabda Nabi Muhammad SAW sesungguhnya mayit itu disiksa lantaran ditangisi oleh keluarganya (riwayat Bukhari dan Muslim)”. Akan tetapi hakekatnya Hadist itu Tidak Sahih, oleh karena berlawanan dengan ayat-ayat Al Qur’an. Walaupun oleh karena saudara yang beragama Kristen, mungkin belum mengetahui tentang Hadist-hadist Sahih dan Hadist-hadist Palsu, maka agar saudara yang hadir dipertemuan ini dapat mengikuti juga, merasa perlu saya terangkan bahwa menurut kitab-kitab Ushul Fiqih dan kitab Musthalahul Hadist, yang disebut Hadist Nabi, bukan saja mesti sah riwayatnya malah mesti beres susunannya dan arti dari pada hadist itu HARUS tidak berlawanan dengan kitab Al Qur’an.
    Dalam riwayat Bukhari dan Muslim jelas diterangkan demikian. Maksud Hadist tersebut , tatkala hadist yang menerangkan bahwa mayit itu disiksa lantaran ditangisi oleh familinya, di dengar oleh Siti Aisyah (Istri Nabi), maka Siti Aisyah menolak kebenaran Hadist tersebut. Aisyah berkata: “Cukuplah buat kamu Ayat Al Qur’an; Dan tidak berkuasa seseorang menanggung dosa orang lain.
    B: Nah, kalau begitu pak kyai, sekarang kami telah mengerti bahwa berdasarkan Kitab Bibel sendiri dan Kitab Al Qur’an pada hakekatnya dosa waris dan pahala waris itu tidak ada. Yakni setiap manusia menanggung sendiri dosanya, dan pahalanya menurut perbuatannya masing-masing. Ini adil namanya.
    A: Ya, seharusnya begitu; sebagaimana tersebut dalam kitab Bibel dan Al Qur’an yang telah kita baca tadi. Akan tetapi supaya lebih jelas dan tambah meyakinkan saudara, silahkan saudara periksa di Injil: “Surat kiriman Rasul Paulus kepada orang Rum Pasal 2 ayat 5 dan 6.
    B: Baik, surat dan ayat ini menyebutkan sebagai berikut: “Tetapi menurut degilmu dan hati yang tiada mau bertobat, engkau menghimpunkan kemurkaan keatas dirimu untuk hari murka dan kenyataan hukum Allah yang adil”. ” yang akan membalas ke atas tiap-tiap orang menurut perbuatan masing-masing”
    A: Apakah di ayat ini Bibel menerangkan Dosa Waris.
    B: Tidak, malah sebaliknya setiap orang akan dibalas menurut amalnya masing-masing.
    A: Periksa lagi Matius pasal 16 ayat 27
    B: Ayat ini menerangkan /menyebutkan: “Karena anak manusia akan datang dengan kemuliaan Bapanya beserta dengan segala malaikatnya; pada masa itu Ia akan membalas kepada tiap orang menurut perbuatannya:
    A: Apakah di ayat ini Bibel menerangkan Dosa Waris.
    B: Tidak ada, menurut ayat ini perbuatan dosa dan perbuatan baik akan ditanggung sendiri, tidak boleh dibebankan atau diwariskan pada orang lain.
    A: Jadi di Kitab Injil sendiri yang menyebutkan tidak adanya dosa waris.
    B: Ya, dari mana asalnya ada sebutan dosa waris itu.
    A: Apakah saudara masih memerlukan penjelasan lebih lanjut.
    B: Sudah sangat jelas sekali.
    A: Kalau begitu baiklah kita lanjutkan. Diayat saudara bacakan tadi ada sebutan “Anak manusia”. Bapanya silahkan saudara bacakan sekali lagi.
    B: Baik, awal ayat tersebut menyebutkan: “Karena Anak Manusia akan datang dengan kemuliaan Bapanya…”
    A: bagaimana menurut pengertian saudara yang dimaksudkan dengan “Anak Manusia dan Bapanya”
    B: Anak manusia itu tentulah Yesus, sedang Bapa ialah Tuhan.
    A: Periksa lagi: “Surat kiriman yang kedua kepada orang Kristen ” pasal 5 ayat 10
    B: Baik ayat ini menyebutkan: ” Karena tak dapat tiada kita sekalian akan jadi nyata dihadapan kursi pengadilan Kristus, supaya tiap-tiap orang menerima balasan, sebagaimana yang telah dilakukan oleh tubuh itu, baik atau jahat”
    A: Ayat Injil sendiri yang menyebutkan, bahwa setiap orang harus bertanggung jawab atas perbuatannya masing-masing, baik maupun jelek, tidak boleh dibebankan atau diwariskan kepada orang lain.
    B: Berdasarkan ayat-ayat Bibel yang bapak tunjukkan bahwa perbuatan baik atau jelek seseorang tidak dapat diwariskan kepada orang lain. Oleh karenanya, kepercayaan saya kepada dosa waris itu mulai luntur.
    A: Kalau begitu lantas bagaimana dosanya Adam dan Hawa, apakah dapat diwariskan kepada orang lain, tegasnya kepada anak cucunya.
    B: Berdasarkan ayat Bibel tersebut di atas tentu tidak. Jadi dosa yang dilakukan oleh Adam dan Hawa, seharusnya ditanggung sendiri oleh keduanya, tidak bisa diwariskan kepada anak cucunya.
    A: Dalam sejarah Agama Kristen kita kenal yang disebut: “biechten”, ialah orang yang berbuat dosa, dan “de biechtafleggen”, ialah orang yang meminta ampun atas kesalahannya , dan “Biecht-vader”, ialah orang-orang yang diberi wewenang memberi ampun. Setiap orang merasa menyesal atas kesalahannya dapat menerima ampunan dengan jalan membeli selembar surat yang menyebutkan bahwa orang yang berdosa sudah diberi ampun atas dosanya. Surat ampunan itu disebut “Aflaat-brieven” atau Indul gences, yang artinya kemurahan Tuhan.
    B: Ya, saya menyadari soal itu, keterangan bapak memuaskan saya.
    A: Bukan hanya demikian, akan tetapi Aflaat-brieven itu pada zaman dulu dipropaganda (gepredicht) di Negara Jerman oleh seorang rabib (nonnik) bernama “Tetzel” dalam tahun 1517 atas perintah Paus Leo, yang menjadi Paus pada tahun 1513-1521. Sebahagian dari pada hasil penjualan Aflaat-brieven itu digunakan untuk pendirian bangunan gereja “Saint Pieter Kerk” di kota Roma. Terlalu panjang kalau saya uraikan sejarah pemerintahan gereja di Eropa pada permulaan abad pertengahan.
    B: Terima kasih, kita lanjutkan saja soal yang lain, sekarang sudah larut malam, lain kali kami akan datang lagi.
    MALAM YANG KE ENAM
    Kitab Al Qur’an dan Kitab Bibel
    A: Pembicaraan kita yang berkenaan dengan dosa waris, saya rasa telah cukup.
    B: Sudah cukup jelas uraian bapak pada pertemuan yang terdahulu. Dan saya telah mencocokkan ayat-ayat Al Qur’an yang disebutkan bapak kemarin malam lalu dengan kitab terjemahan Al Qur’an bahasa Indonesia kepunyaan saya, semuanya cocok baik tentang surat-suratnya maupun ayat-ayatnya. Semua yang bapak sebutkan cocok dan tepat serta kami pikir-pikir di rumah tentang ayat Bibel dan Al Qur’an yang bapak tunjukkan ayat-ayatnya ternyata dosa waris dan oper pahala dan oper dosa itu tidak mungkin ada malah tidak masuk di akal.
    A: Syukur kalau saudara telah mengakuinya, sekarang kita bicarakan soal-soal lainnya, dan saya serahkan kepada saudara saja mengenai acaranya. Terserah saudara soal yang akan diajukan.
    B: Baiklah kami mulai; kami pernah membaca ayat-ayat Al Qur’an yang tampaknya pada kami ada juga perselisihan antara satu ayat dengan ayat lainnya, sehinga menimbulkan keragu-raguan; apakah mungkin Nabi Muhammad sendiri yang keliru menyampaikan wahyu dari Allah. Kalau betul beliau seorang Nabi, tentu tidak mungkin beliau salah menerimanya atau menyampaikannya, ataukah memang ayat-ayat Al Qur’an nya yang berselisihan.
    A: Baiklah saudara terangkan saja ayat-ayat Al Qur’an yang saudara maksudkan itu.
    B: Kami telah membaca ayat-ayat Al Qur’an mengenai asal kejadian manusia dalam kitab terjemahan Al Qur’an bahasa Indonesia, dalam sebuah surat yang nampaknya antara satu ayat dengan ayat yang lain ada berselisihan sehingga timbul dalam pikiran saya bukan Bibel saja yang berselisih ayat-ayatnya, tetapi kitab Al Qur’an demikian juga.
    A: Silahkan saudara sebutkan ayat-ayat Al Qur’an yang akan ditanyakan, Insya Allah yang diragukan oleh saudara itu akan terhapus.
    B: Baiklah, Saya mencatat ayat-ayatnya, saya akan baca.
    1. Dikitab Al Qur’an surat Ar Rahman ayat 14 menyebutkan bahwa Allah menjadikan manusia berasal dari tanah yang dibakar.
    2. Di surat Al Hijr ayat 28 menyebutkan: “Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat; sesungguhnya Aku (Allah) hendak menciptakan seorang manusia (Adam) dari tanah kering dan lumpur hitam yang berbentuk (berupa).
    3. Disurat As Sajadah ayat 7 menyebutkan: “dan Tuhan menciptakan manusia dari Tanah”
    4. Di Surat Ash Shafaat ayat 11 menyebutkan: “Sesungguhnya Aku (Allah) menciptakan manusia berasal dari tanah liat”
    5. Disurat Ali Imran ayat 59 menyebutkan: “Sesungguhnya Aku menciptakan manusia daripada tanah”
    Lima ayat yang saya sebutkan ini antara satu dengan ayat yang lain terdapat perselisihan. Cobalah kita teliti. Di ayat ketiga menyebutkan dari “tanah”, diayat ke empat menyebutkan daripada “tanah liat”. Di ayat kelima menyebutkan dari pada “tanah”. Bukankah ayat-ayat Al Qur’an nyata-nyata berselisihan antara yang satu dengan yang lain.
    A: Ya, nampaknya memang demikian. Saya tidak akan mengecewakan saudara. Teruskan pertanyaan saudara.
    B: Kami ingin bertanya; yang manakah yang benar tentang asal kejadian manusia itu. Apakah dari tanah yang dibakar, apakah dari tanah kering dan lumpur, atau dari pada tanah biasa, atau dari tanah liatkah ?. Jadi menurut pendapat saya, ayat-ayat Al Qur’an terdapat perselisihan antara satu ayat dengan ayat yang lain. Bukan ayat-ayat Injil atau di Bibel saja terdapat perselisihan. Kiranya Bapak bisa menerangkan dengan jelas dan tepat.
    A: Di kitab Al Qur’an ada menyebutkan bahwa asal kejadian manusia terdiri dari 7 (tujuh) macam kejadian. Agar diketahui juga oleh saudara-saudara yang hadir disini, saya sebutkan susunan ayat-ayatnya satu demi satu, sebagaimana yang saudara bacakan artinya tadi.
    Pertama : Di surat Ar Rahman ayat 14: “Dia (Allah) menjadikan manusia seperti tembikar, (tanah yang dibakar)”. Yang dimaksudkan dengan kata “Shal-shal” di ayat ini ialah : Tanah kering atau setengah kering yakni “Zat pembakar” atau Oksigen.
    Kedua: Di ayat itu disebutkan juga kata “Fakhkhar”, yang maksudnya ialah “Zat Arang” atau Carbonium.
    Ketiga: Di surat Al Hijr, ayat 28: “dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat; sesungguhnya Aku (Allah) hendak menciptakan seorang manusia (Adam) dari tanah kering dan lumpur hitam yang berbentuk (berupa)” . Di ayat ini. Tersebut juga “shal-shal”, telah saya terangkan, sedangkan kata “Hamaa-in” di ayat tersebut ialah “Zat Lemas” atau Nitrogenium.
    Keempat : Di surat As Sajadah ayat 7: “Dan (Allah) membuat manusia berasal dari pada “tanah””. Yang dimaksud dengan kata “thien” (tanah) di ayat ini ialah “Atom zat air” atau Hidrogenium.
    Kelima: Di Surat Ash Shaffaat ayat 11: “Sesungguhnya Aku (Allah) menjadikan manusia dari pada Tanah Liat”. Yang dimaksud dengan kata “lazib” (tanah liat) di ayat ini ialah “Zat besi” atau ferrum.
    Keenam: Di Surat Ali Imran ayat 59: ” Dia (Allah) menjadikan Adam daripada tanah kemudian Allah berfirman kepadanya “jadilah engkau, lalu berbentuk manusia”. Yang dimaksud dengan kata “turab” (tanah) di ayat ini ialah: “Unsur-unsur zat asli yang terdapat di dalam tanah” yang dinamai “zat-zat anorganis”.
    Ketujuh: Di surat Al Hijr ayat 28: “Maka setelah Aku (Allah) sempurnakan (bentuknya), lalu Kutiupkan ruh-Ku kepadanya (Ruh daripada-Ku)”
    Ketujuh ayat Al Qur’an yang saya baca ini Allah telah menunjukkan tentang proses kejadiannya Nabi Adam sehingga berbentuk manusia, lalu ditiupkan ruh kepadanya sehingga manusia bernyawa (bertubuh jasmani dan rohani). Sebagaimana disebutkan pada ayat yang keenam tentang kata “turab” (tanah) ialah zat-zat asli yang terdapat didalam tanah yang dinamai zat anorganis. Zat Anorganis ini baru terjadi setelah melalui proses persenyawaan antara “Fakhkhar” yakni Carbonium (zat arang) dengan “shal-shal” yakni Oksigenium (zat pembakar) dan “hamaa-in” yaitu Nitrogenium (zat lemas) dan Thien yakni Hidrogenium (Zat air).
    Jelasnya adalah persenyawaan antara:
    1. Fachchar (Carbonium = zat arang) dalam surat Ar Rahman ayat 14.
    2. Shalshal (Oksigenium = zat pembakar) juga dalam surat Ar Rahman ayat 14.
    3. Hamaa-in (Nitrogenium = zat lemas) dalam surat Al Hijr ayat 28
    4. Thien (Hidrogenium = Zat Air) dalam surat As Sajadah, ayat 7.
    Kemudian bersenyawa dengan zat besi (Ferrum), Yodium, Kalium, Silcum dan mangaan, yang disebut “laazib” (zat-zat anorganis) dalam surat As Shafaat ayat 11. Dalam proses persenyawaan tersebut, lalu terbentuklah zat yang dinamai protein. Inilah yang disebut “Turab” (zat-zat anorganis) dalam surat Ali Imran ayat 59. Salah satu diantara zat-zat anorganis yang terpandang penting ialah “Zat Kalium”, yang banyak terdapat dalam jaringan tubuh, teristimewa di dalam otot-otot. Zat Kalium ini dipandang terpenting oleh karena mempunyai aktivitas dalam proses hayati, yakni dalam pembentukan badan halus. Dengan berlangsungnya “Proteinisasi”, menjelmakan “proses penggantian” yang disebut “Substitusi”. Setelah selesai mengalami substitusi, lalu menggempurlah electron-electron cosmic yang mewujudkan sebab pembentukan (Formasi), dinamai juga “sebab ujud” atau Causa Formatis.
    Adapun Sinar Cosmic itu ialah suatu sinar mempunyai kemampuan untuk merubah sifat-sifat zat yang berasal dari tanah. Maka dengan mudah sinar cosmic dapat mewujudkan pembentukan tubuh manusia (Adam) berupa badan kasar (jasmaniah), yang terdiri dari badan, kepala, tangan, mata, hidung telinga dan seterusnya. Sampai disinilah ilmu pengetahuan exact dapat menganalisa tentang pembentukan tubuh kasar (jasmaniah, jasmani manusia/Adam). Sedangkan tentang rohani (abstract wetenschap) tentu dibutuhkan ilmu pengetahuan yang serba rohaniah pula, yang sangat erat hubungannya dengan ilmu Metafisika.
    Cukup jelas tentang ayat-ayat Al Qur’an yang saudara sangka berselisih antara satu ayat dengan ayat yang lain dalam hal kejadian manusia (Adam), pada hakikatnya bukanlah berselisih, melainkan menunjukkan proses asal kejadian tubuh jasmani Adam (visible), hingga pada badan halusnya (invisible), sampai berujud manusia. Apakah belum jelas penafsiran ayat-ayat Al Qur’an yang saya sampaikan pada saudara? Kalau ada waktu saya akan terangkan juga proses asal kejadian tubuh rohani dari segi ilmu metafisika.
    B: Sangat jelas, malah betul-betul ilmiah dan saya tidak mengira sekali bahwa ayat-ayat Al Qur’an itu mengandung ilmu pengetahuan yang tinggi. Mengenai kesanggupan bapak yang akan menerangkan atau menguraikan proses asal kejadian tubuh rohani manusia itu, betul-betul menarik. Tetapi saya mohon di beri waktu yang khusus.
    A: Baiklah sekarang kita lanjutkan: Tentunya saudara pernah membaca biografi Nabi Muhammad. Beliau tidak tahu tulis baca, tidak pernah belajar ilmu kepada siapapun, tidak pernah berguru dan belum pernah sama sekali bergaul dengan orang pandai.
    B: Ya, saya pernah membaca biografi Nabi Muhammad. Nah, kalau Nabi Muhammad seorang yang buta huruf, tidak pernah belajar ilmu, maka dari siapakah atau dari manakah beliau mengetahui tentang kejadian manusia secara ilmiah yang pada zaman ini dibenarkan oleh ilmu pengetahuan. Nabi Muhammad SAW menerangkan tentang asal kejadian manusia dari segi ilmu urai (Anatomi), Ilmu Kimia, Ilmu hayat (biologi), dan dari segi ilmu alam sampai kepada rohaniahnya.
    A: Maka dari manakah beliau belajar ilmu urai, kepada siapakah beliau belajar ilmu kimia, ilmu hayat, ilmu alam dan soal-soal kerohanian, kalau bukan wahyu dari tuhan Allah SWT. Dan tidak mungkin beliau menerima wahyu dari Allah sekiranya beliau bukan seorang Nabi dan Rasul.
    B: Tetapi ada juga orang yang tidak pernah belajar dan bersekolah, buta huruf, tetapi menjadi orang-orang besar.
    A: Coba saudara sebutkan nama-nama orang yang tidak pernah belajar (buta huruf), lalu mengaku jadi Nabi dan menerima wahyu, dan berhasil membentuk suatu masyarakat dan negara yang mengagumkan para ahli sejarah dan mempunyai pengikut beratus juta manusia setiap masa dan zaman. Sebutkan nama orang yang saudara maksudkan itu.
    B: Ya, tidak ada.
    A: Memang tidak ada, baiklah saya tanyakan, kalau saudara berpegang dengan keterangan saudara bahwa Nabi Muhammad itu bukan Nabi dan Rasul, karena ada juga orang yang buta huruf menjadi orang besar, maka kalau Yesus itu anak Tuhan, karena dapat menyembuhkan penyakit kusta, menghidupkan orang mati, dilahirkan tanpa Ayah dan dipenuhi juga dengan ruhul kudus, maka selain Yesus terdapat juga orang lahir tanpa Bapak, dapat menyembuhkan penyakit kusta, menghidupkan orang mati sebagaimana tersebut dalam kitab Injil. Kisah Rasul pasal 6 ayat 5, pasal 5 ayat 31; Kitab Raja-raja kedua pasal 13 ayat 21; Matius pasal 5 ayat 9; Kitab Raja-raja kedua pasal 5 ayat 10 mengapa mereka itu tidak Tuhan juga, mengapa kepada Nabi Muhammad saudara berkeberatan untuk mengakui beliau sebagai seorang Nabi dan Rasul, sedangkan kepada Yesus saudara tidak Berkeberatan mengakuinya sebagai Tuhan, padahal kewajiban-kewajiban yang dilakukan oleh Yesus, orang lain dapat juga melakukannya.
    B: Baiklah kalau begitu.
    A: Baik yang bagaimana yang saudara maksudkan.
    B: Keterangan-keterangan bapak adalah baik dan memuaskan saya dan saya diberi waktu untuk menentukan keputusan saya sampai besok malam atau malam pertemuan berikutnya.
    A: Baiklah saya serahkan sepenuhnya atas pertimbangan saudara, Kami tidak berhak memaksa saudara, atau mempengaruhi saudara. Kita hanya bermusyawarah dan bersoal jawab tentang hasilnya terserah atas pertimbangan masing-masing.
    B: Baiklah kita lanjutkan Besok Malam
    MALAM KETUJUH
    Mengakui Nabi Muhammad SAW Utusan Allah
    A: Sesudah saya terangkan pada saudara tentang ayat-ayat Al Qur’an yang menerangkan tentang proses asal kejadian manusia yang saudara tanyakan ayat-ayatnya kemarin malam itu, apakah terdapat pertentangan? Apakah Nabi Muhammad ada kekeliruan menyampaikan sebagaimana saudara sangka semula?
    B: Tidak ada, Bapak telah menerangkan dari segi Ilmiah yang seharusnya secara jujur saya mempercayainya.
    A: Jadi Nabi Muhammad Benar, tidak kelirukah penyampaiannya
    B: Tidak keliru, malah benar.
    A: Jadi saudara mengakui bahwa Nabi Muhammad benar sebagai Rasul Allah.
    B: Saya mengakui, karena beliau benar.
    A: Terima kasih , Saudara-saudara yang hadir menyaksikan sendiri pengakuan saudara Antonius sendiri atas ke Rasulannya Nabi Muhammad SAW, tanpa paksaan, melainkan dengan kesadarannya sendiri setelah berlangsung dengan diskusi. Betulkah saudara mengakui kerasulannya Nabi Muhammad dan mengakui Nabi Muhammad itu utusan Allah.
    B: Betul, dengan saksi Tuhan saya mengakuinya.
    A: Alhamdulillah, saudara Antonius sudah 50 % Islam. Saya katakan 50% Islam oleh karena hanya mengerti dan mempercayai atas kerasulan Nabi Muhammad, jadi masih tinggal 50% lagi, oleh karena Saudara belum meyakinkan atas ke Esaan Tuhan yang Maha Tunggal .
    B: Ya, betul begitu. Keyakinan saya terhadap Trinitas (Tuhan Bapak, Tuhan Anak dan Ruhul Kudus) masih belum lenyap sama sekali, walaupun Bapak telah menerangkan Kitab Bibel yang tak dapat saya membantahnya. Akan tetapi dengan keterangan-keterangan bapak saya mulai ragu-ragu terhadap Trinitas itu. Sungguhpun begitu, apakah bapak masih bersedia lagi memberikan keterangan-keterangan (alasan-alasan) dalam kitab Bibel yang menyebutkan bahwa Yesus itu bukan Tuhan.
    A: Sebetulnya pada pertemuan kita yang pertama telah saya sebutkan berdasarkan kitab Injil sendiri bahwa Yesus bukan Tuhan seperti telah Saudara Periksa sendiri dalam Matius pasal 1 ayat 16; Markus pasal 13 ayat 32; Ulangan pasal 4 ayat 33; Ulangan pasal 6 ayat 4; Markus pasal 12 ayat 29. Kesemuanya itu telah kita baca. Tetapi demi untuk memenuhi pengharapan saudara agar lebih meyakinkan, saya lanjutkan lagi. Silahkan baca Lukas pasal 4 ayat 1 dan 2.
    B: Baik, di sini disebutkan : “Maka Yesuspun penuhlah dengan Rohul Kudus, balik dari Yarden, lalu Roh itu membawa Dia ke padang belantara. Empat puluh hari lamanya dicobai Iblis. Selama itu suatu apapun tiada dimakannya. Setelah genap hari itu ia merasa lapar.
    A: 1. Diayat ini menyebutkan bahwa Rohul Kudus membawa Yesus ke padang belantara. Kalau Yesus itu tuhan, mustahil akan dapat dibawa oleh siapapun juga.
    2. Diayat ini menyebutkan bahwa Yesus dicobai oleh Iblis. Pantaskah Tuhan dicobai oleh Iblis atau wajarkah Iblis berani mencobai Tuhan.
    1. Di ayat inipun ada menyebutkan bahwa Yesus merasa lapar. Wajarkah Tuhan itu lapar? Kalau begitu sifat-sifat Yesus itu sama saja dengan sifat manusia biasa; bisa dibawa, bisa dicobai iblis dan merasa lapar.
    Periksa lagi Matius pasal 4 ayat 5
    B: Baik , di situ menyebutkan: “Kemudian dari pada itu Iblis itupun membawa Yesus ke negeri suci, lalu ditaruhnya Dia di atas bumbung bait Allah”
    A: Di ayat ini ada menyebutkan bahwa Yesus dibawa oleh Iblis. Pantaskah Tuhan dibawa oleh Iblis. Wajarkah Tuhan tunduk kepada kemauan Iblis sehingga dibawa kemana-mana, kesuatu tempat. pantaskah Iblis begitu berani kepada Tuhan.
    Periksa lagi Matius pasal 27 ayat 1 dan 2
    B: Baik, di situ menyebutkan : “Setelah hari siang, maka segala kepala Imam dan orang tua-tua kaum pun berundinglah atas hal Yesus supaya dibunuhkan Dia. Maka diikatnya Dia serta dibawa pergi, lalu diserahkan kepada Pilatus, yaitu wakil pemerintah”
    A: DI ayat ini menyebutkan bahwa Yesus diikat; pantaskah Tuhan dapat diikat oleh manusia. Kalau begitu dimanakah kekuatan Tuhan, sehingga dengan rela menyerahkan dirinya kepada manusia? Periksa lagi Lukas pasal 2 ayat 21.
    B: Baik, di situ menyebutkan: “Apabila genap delapan hari, Ia bersunat, lalu disebut namanya Yesus..”
    A: Wajarkah Tuhan itu disunat? Perlu apakah Tuhan itu disunat?
    B: Apakah ada keterangan yang lebih tegas bahwa Yesus itu benar-benar anak manusia bukan anak Tuhan?.
    A: Silahkan buka Matius pasal 26 ayat 2
    B: Baik, disitu menyebutkan bahwa: Anak manusia akan diserahkan supaya disalibkan.
    A: Yang dimaksud anak manusia di situ Yesus. Jadi jelaslah bahwa Yesus itu bukan anak Tuhan, melainkan anak manusia. Silahkan periksa di Matius pasal 5 ayat 45.
    B: Baik, di situ menyebutkan bahwa: Supaya kamu menjadi anak Bapamu ….. dan seterusnya.
    A: Di sini menyebutkan bahwa orang-orang yang taat kepada Tuhan, menurut Yesus akan menjadi anak Tuhan. Jadi bukan saya yang mengatakan bahwa Yesus itu bukan anak Tuhan yang Tunggal, melainkan anak-anak tuhan itu akan bertambah lagi jumlahnya, berdasarkan kitab Bibel sendiri di Matius pasal 5 ayat 45 yang kita baca tadi ialah: “Supaya kamu menjadi anak-anak Bapamu…” Silahkan buka Matius pasal 7 ayat 21.
    B: Disitu menyebutkan: “Bukannya tiap-tiap orang yang menyeru aku Tuhan, Tuhan, akan masuk ke dalam kerajaan sorga, hanyalah orang-orang yang melakukan kehendak Bapaku yang di sorga.
    A: Di Bibel sendiri jelas, bahwa Yesus menyangkal malah menolak kepada orang yang menyerukan: “Tuhan, Tuhan” kepadanya, malah orang itu tidak dapat masuk ke dalam kerajaan sorga. Apakah belum cukup bukti-bukti yang telah saya tunjukkan kepada saudara.
    B: Sudah Cukup. Terima kasih; tetapi kalau masih ada, saya minta, demi kepuasan saya
    A: Minta yang mana lagi yang saudara maksudkan.
    B: Yang menyebutkan di kitab Injil bahwa Yesus anak manusia “bukan anak tuhan”
    A: Baik, akan saya penuhi harapan saudara, silahkan saudara periksa di Matius pasal 16 ayat 27.
    B: Di pasal dan ayat ini ada menyebutkan: “Karena anak manusia datang dengan kemuliaan Bapanya beserta dengan malaikatnya; pada masa itu Ia akan membalas kepada tiap-tiap orang menurut perbuatannya”
    A: Di ayat ini ada menyebutkan anak manusia, menurut tafsiran saudara, siapakah yang dimaksudkan dengan anak manusia di ayat ini.
    B: Ya, tentu Yesus.
    A: Jadi dikitab Injil sendiri ada menyebutkan bahwa Yesus itu adalah “anak manusia”; bukan anak Tuhan, betulkah atau tidak.
    B: Ya, betul.
    A: Nah, kalau betul, mengapa saudara menyebutkan Yesus anak Tuhan?
    B: Yesus itu Tuhan tapi diserupakan dengan manusia.
    A: Kalau Yesus itu Tuhan, mengapa diperanakkan oleh manusia (Maria). Yesus berupa manusia karena diperanakkan oleh manusia (Maria). Terlalu janggal kalau manusia (Maria) memperanakkan Tuhan. Bisakah ilmu pengetahuan lahir maupun ilmu pengetahuan bathin (Kerohanian) menerima bahwa ada Tuhan yang diperanakkan oleh manusia? Bisakah ilmu pengetahuan exact maupun yang abstract (Exact abstract Wetenschap) menerimanya?
    B: Ya, memang mustahil ada Tuhan yang diperanakkan oleh manusia.
    A: Bukan itu saja, malah di kitab Injil saudara Yesus sendiri yang berkata bahwa ia bukan anak Tuhan, melainkan Utusan Tuhan. Sebagaimana telah saya tunjukkan ayatnya pada pertemuan kita yang lalu.
    B: Betul, telah bapak sebutkan. Tetapi saya minta di ulangi lagi ayatnya, oleh karena saya agak lupa susunannya.
    A: Silahkan periksa di Yahya pasal 5 ayat 30
    B: Di pasal dan ayat ini menyebutkan: “Suatupun tiada aku dapat berbuat menurut kehendak sendiri, melainkan aku menjalankan hukum sebagaimana aku dengar, dan hukuman itu adil adanya; karenanya bukannya aku mencari kehendak diriku, melainkan kehendak Dia yang menyuruhkan aku”.
    A: Ayat ini tegas sekali, jelas menunjukkan bahwa Yesus sendiri mengaku bahwa ia bukan Tuhan, melainkan pesuruh Tuhan. Di ayat ini Yesus memberitahukan bahwa ia tidak berbuat menurut kehendak Tuhan, maka wajarkah Tuhan tidak dapat berbuat sekehendaknya, dan pantaskah ada Tuhan disuruh (diutus) menjadi utusan.
    B: Ya, saya mengaku; Yesus sendiri mengaku bukan anak Tuhan.
    A: Demi kepuasan saudara silahkan periksa lagi di Yahya pasal 3 ayat 13
    B: Baik, di pasal dan ayat ini menyebutkan: “Seorangpun tidak naik ke surga, kecuali Ia yang sudah turun dari surga, yaitu anak manusia”
    A: Berdasarkan ayat-ayat Bibel yang saya tunjukkan dan saudara sendiri yang memeriksa dan membacanya itu, maka sekali lagi saya bertanya: “Anak manusiakah Yesus itu atau anak tuhan”?.
    B: Ya, berdasarkan ayat-ayat tersebut saya berkata: “Yesus adalah anak manusia”
    A: Di ayat yang saudara baca tapi, Matius pasal 16 ayat 27, selain menyebutkan bahwa Yesus itu anak manusia, juga menyebutkan bahwa akan membalas tiap-tiap orang menurut perbuatannya. Betulkah begitu? silahkan periksa kembali.
    B: Ya, betul di ayat itu ada menyebutkan.
    A: Menurut susunan ayat tersebut, jelas: “Menolak adanya dosa waris”, berdasarkan ayat tersebut setiap orang akan dibalas menurut perbuatannya masing-masing, jadi tidak ada penebus dosa.
    B: YA, tentang dosa waris telah selesai kita bicarakan dan memang saya telah mengakui “tidak ada dosa waris”.
    A: Betul, sudah kita bicarakan, saya hanya menambah saja, untuk lebih menguatkan lagi keterangan yang lalu.
    B: Sudah cukup jelas keterangan Bapak.
    A: Jelas bagaimana?
    B: Berdasarkan ayat-ayat Injil sendiri bahwa Yesus itu bukan anak tuhan melainkan anak manusia. Dan berdasarkan kitab Injil menyebutkan bahwa Yesus sendiri mengakui ia bukan anak Tuhan, melainkan “pesuruh (Utusan) Tuhan”
    A: Syukurlah kalau begitu. Jadi bagaimanakah kepercayaan saudara sekarang terhadap “Trinitas” (Tuhan Bapa, Tuhan Anak dan Ruhul Kudus).
    B: Dengan sendirinya kepercayaan saya terhadap Trinitas terhapus.
    A: Alhamdulillah, jadi saudara mengakui bahwa Tuhan itu TUNGGAL.
    B:Sebelum itu saya ingin menyampaikan pertanyaan
    A: Baik, tetapi saudara telah mengakui pada pertemuan yang lalu dan saudara-saudara yang hadir juga telah ikut menyaksikan bahwa: Pertama, Saudara telah membenarkan kitab Al Qur’an. Beberapa ayat Al Qur’an yang saudara kemukakan yang pada mulanya oleh saudara dianggap berselisih antara satu ayat dengan ayat yang lain, setelah saya terangkan dan saya tafsirkan, lalu saudara akui bahwa ayat-ayat tersebut pada hakikatnya tidak ada perselisihannya antara yang satu dengan yang lain. Bukankah begitu pengakuan saudara.
    B: Ya, betul begitu
    A: Kedua, Pada pertemuan yang lalu saudara telah mengakui kebenaran nabi Muhammad SAW selaku Utusan Tuhan, betulkah demikian
    B: Ya, betul saya telah mengakuinya.
    A: Ketiga, Saudara telah membenarkan bahwa ayat-ayat di kitab Injil (Bibel) terdapat beberapa ayat yang berselisih antara yang satu dengan yang lain. Sebagaimana telah saya tunjukkan ayat-ayatnya pada pertemuan yang lalu, benarkah pengakuan saudara itu.
    B: Ya, saya mengakui. Akan tetapi saya masih memerlukan bukti-bukti yang lain tentang ayat-ayat Injil yang ada perselisihannya antara yang satu dengan yang lain, demi kepuasan bagi saya, walaupun sebenarnya keterangan bapak saya pandang cukup memuaskan. Tetapi mungkin ada lagi ayat-ayat yang lain untuk meresapnya ke perasaan saya.
    A: Baiklah, saya penuhi pengharapan saudara, silahkan saudara periksa kitab Yahya pasal 8 ayat 14
    B: Baik, dipasal dan ayat ini menyebutkan: “Jikalau Aku menyaksikan dari hal diriku sendiripun, benar juga kesaksian itu”
    A: Silahkan periksa lagi Yahya 5 ayat 31.
    B: Baik, di pasal dan ayat ini menyebutkan: “Jikalau Aku menyaksikan dari hal diriku, maka kesaksianku tidak benar”
    A: Nah, saudara membuktikan sendiri perselisihan di dua ayat ini. Di satu ayat menyebutkan: “Kesaksianku benar”, sedangkan di ayat lain menyebutkan “Kesaksianku tidak benar”. Dua ayat yang berselisih itu, tersebut di kitab suci. Dan yang berbicara adalah seorang. Manakah yang benar antara dua ayat ini. Wajarkah di dalam kitab suci mengandung ayat-ayat yang berlawanan antara yang satu dengan yang lain.
    B: Ya, saya akui memang tidak cocok.
    A: Bukan saja tidak cocok, tetapi adalah satu selisih yang menyolok.
    B: Tetapi mungkin salah satu dari ayat tersebut salah cetak.
    A: Sekiranya salah cetak, tentunya ada ralat; tetapi di kitab ini tidak disebutkan apa-apa.
    B: Bibel ini berbahasa Indonesia, permisi sebentar, saya akan memeriksa Bibel yang berbahasa Inggris.
    A: Itu lebih baik, sayakah yang akan memeriksa ataukah saudara?
    B: Oleh karena bapak banyak hafal ayat-ayat Bibel maka saya serahkan agar bapak saja memeriksanya, sepaya lebih cepat.
    A: Baiklah; harap saudara memperhatikan juga saudara-saudara yang hadir, kitab yang saya pegang ini adalah Bibel berbahasa Inggris ialah “The Holy Bible”, “Containing the Old and New Testaments (American Bible Society)”. Saya serahkan kitab ini kepada saudara Antonius dan saya akan menunjukkan pasal dan ayatnya untuk diteliti bersama.
    B: Baik, saya terima kitab Bibel yang berbahasa Inggris.
    A: Silahkan saudara periksa di Yahya pasal 8 ayat 14 pada halaman 104
    B: Baik, dihalaman 104 kitab Yahya pasal 8 ayat 14 disini ada menyebutkan: “THOUGH I BEAR RECORD OF MY SELF, YET MY RECORD IS TRUE”
    A: Kalau susunan ayat ini kita salin kedalam bahasa Indonesia, adalah demikian: “Jikalau aku menyaksikan dari hal diriku sendiripun, benar juga kesaksianku itu” Betulkah begitu artinya?
    B: Ya, betul begitu
    A: Jadi sama artinya dengan Injil yang berbahasa Indonesia di Yahya pasal 8 ayat 14, harap saudara cocokkan dulu.
    B: Betul, artinya sama kuatnya
    A: Sekarang silahkan periksa di Yahya pasal 5 ayat 31.
    B: Disini menyebutkan : “IF BEAR WITNES OF MYSELF, MY WITNES IS NOT TRUE”
    A: Ayat ini kalau kita salin kedalam bahasa Indonesia akan demikian: “Jikalau aku menyaksikan dari hal diriku, maka kesaksianku itu tiada benar”. Betulkah begitu?.
    B: Ya, benar
    A: Silahkan saudara periksa lebih teliti lagi di kitab Bibel yang berbahasa Inggris ini. Di satu ayat menyebutkan “IS TRUE”, adalah benar, sedangkan di ayat lain menyebutkan “IS NOT TRUE”, adalah tidak benar.
    B: Ya, memang berbeda
    A: Kalau begitu, di Injil yang berbahasa Indonesia maupun yang berbahasa Inggris tidak ada perbedaan arti dan maksudnya.
    B: Betul Demikian
    A: Jadi tidak salah cetak, yang salah ialah yang mengisi kitab suci itu. Kalau betul kitab suci (Injil) itu wahyu dari Tuhan, mustahil ayat-ayatnya akan berselisih antara yang satu dengan yang lain. Jadi kitab itu telah dicampuri oleh tangan manusia.
    B: Menurut pendapat saya, dua ayat itu bukan berlawanan, mungkin ayat yang satu dicabut, lalu kemudian diganti dengan ayat yang lain. Jelasnya , ayat yang satu di hapus diganti dengan ayat yang lain (yang baru). Setahu saya dalam ayat-ayat Al Qur’an terdapat apa yang disebut “Nasich dan Mansuch” ialah satu ayat terhapus hukumnya, lalu diganti dengan ayat yang lain (hukum yang baru).
    A: Di dalam Al Qur’an terdapat “Nasich dan Mansuch” ada disebutkan ayatnya tetapi di kitab Injil sama sekali tidak disebutkan.
    B: Dimanakah di dalam Al Qur’an yang menyebutkan ayat tentang Nasich dan Mansuch itu
    A: Sebetulnya sayalah yang harus bertanya kepada saudara, oleh karena dari saudaralah timbulnya ucapan Nasich-Mansuch itu. Akan tetapi sekalipun demikian saya tunjukkan, ialah di surat Al Baqarah ayat 106. Susunan ayat itu ada ulama yang menafsirkan tentang adanya “Nasich dan Mansuch”. Sebagian lagi ada yang menafsirkan bahwa susunan ayat tersebut tidak menunjukkan adanya Nasich-Mansuch. Kalau saudara memerlukan , akan saya terangkan tafsirnya ayat tersebut.
    B: Hal itu, baiklah kita tangguhkan dulu. Tetapi sehubungan dengan dua ayat di Bibel yang tadi, saya berpendapat bukan berlawanan, melainkan satu ayat digantikan dengan ayat lain, sehingga nampaknya ada berlawanan. Bolehkah saya berikan misal.
    A: Silahkan, saudara berhak penuh berbicara dengan saya dalam pertemuan kita ini.
    B: Saya sebutkan misal: Dikeluarkan suatu peraturan, setiap pengendara sepeda diwaktu malam diharuskan memakai lampu. Kemudian datang lagi peraturan tidak boleh pakai lampu, karena ada peperangan misalnya. Disini ada dua peraturan, yang pertama: “Diharuskan memakai lampu” sedang yang kedua “Dilarang”. Dua perintah itu, yang terpakai adalah yang kemudian. Demikian juga dua ayat di Bibel tadi tidak berlawanan, melainkan salah satu diantaranya sudah tidak berlaku lagi (dicabut). Ini menurut pendapat saya.
    A: Baiklah, tetapi tentunya saudara mengerti, apabila suatu peraturan yang diganti, mestinya harus diikuti penjelasan, bahwa artikel nomer sekian ayat sekian, tahun sekian dicabut, diganti dengan artikel nomer sekian dan selanjutnya. Akan tetapi dua ayat di Bibel itu, tidak ada sebutan ayat yang satu diganti , dengan lain kata dua ayat tetap berlawanan antara yang satu dengan yang lain. Tidak ada penjelasan bahwa salah satu telah dicabut, atau diganti.
    PERTEMUAN YANG KEDELAPAN
    Perselisihan Ayat-ayat Dalam Bibel
    A: Pada pertemuan kemarin malam saya telah terangkan ayat yang berlawanan dalam Bibel. Pada pertemuan sekarang apakah masih ada pertanyaan saudara yang akan disampaikan kepada saya.
    B: Kalau masih ada ayat-ayat dalam Bibel yang berlawanan antara satu ayat dengan yang lain, saya minta diterangkan untuk menambah keyakinan saya sampai dimanakah kesucian kitab Bibel itu ada dicampuri oleh tangan manusia.
    A: Kemarin malam saudara mengakui sudah puas. Apakah tidak lebih baik, kita bicarakan saja pasal-pasal yang saudara pandang terpenting.
    B: Ya, tetapi keterangan bapak mengenai ayat-ayat yang berlawanan di kitab Bibel itu baru sedikit membuka hati saya. Karena itulah saya bawa lagi kitab Bibel ini.
    A: baiklah, saya akan tunjukkan, demi kepuasan saudara
    B: Terima kasih. Harapan, Bapak sudi tunjukkan lagi bukti-bukti ayat-ayat yang berlawanan. Saya ingin mengetahui lebih banyak lagi.
    A: Silahkan saudara periksa di Yahya pasal 1 ayat 18
    B: Dipasal dan ayat ini menyebutkan: “Maka Allah belum pernah dilihat oleh seorang juapun, tetapi Anak yang tunggal yang diatas pengakuan Bapa, ialah yang sudah menyatakan Dia”.
    A: Bagaimanakah menurut tafsiran saudara susunan ayat ini.
    B: Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak pernah dilihat oleh siapapun juga, melainkan hanya Yesus saja yang pernah melihatnya.
    A: Kalau begitu silahkan saudara periksa di kitab Kejadian pasal 18 ayat 1
    B: Disini menyebutkan: “Hatta, maka kemudian dari pada itu kelihatanlah Tuhan kepada Ibrahim hampir dengan pohon jati mamre tatkala duduklah di pintu kemahnya ketika hari panas”.
    A: Nah, disini saudara membuktikan sendiri perselisihan di dua ayat ini, disatu ayat menyebutkan Tuhan hanya dinyatakan oleh Yesus saja, tidak seorang juapun melihatnya. Sedang di ayat yang lain ada menyebutkan bahwa Ibrahim juga melihat Tuhan. Bukankah dua ayat ini berlawanan. Yang manakah yang benar di dua ayat ini.
    B: Ya, saya mengakui memang tidak cocok.
    A: Saya lanjutkan. Silahkan periksa lagi di kitab: “Kejadian pasal 32 ayat 30″
    B: Ya, di sini menyebutkan: “Maka dinamai oleh Yakub akan tempat itu peniel karena katanya: “Sudah kulihat Allah muka dengan muka, maka nyawaku selamatlah”.
    A: Perhatikan: disatu ayat menyebutkan, tidak seorangpun melihat Tuhan, melainkan Yesus. Di ayat yang lain menyebutkan bahwa Ibrahim melihat Tuhan. Di ayat yang lain lagi ada menyebutkan Yakub melihat Tuhan malah bertemu muka dengan muka. Yang manakah yang benar diantara tiga ayat tersebut? Mustahillah benar semuanya, karena jelas sekali susunan ayatnya yang nyata-nyata mengandung ayat yang berselisih antara yang baru dengan yang lain. Kalau dikatakan salah satu dari pada ayat-ayat itu yang benar, maka yang dua ayat tentunya salah semuanya. Pantaskah suatu kitab suci mengandung ayat yang salah? Dan kalau dikatakan salah semuanya, maka apakah kitab itu dapat dipertahankan kesuciannya, kalau ayat-ayatnya terdapat berlawanan.
    B: Ya, saya mengakui ayat-ayat tersebut tidak cocok antara yang satu dengan yang lain.
    A: Pengakuan saudara itu memang penting, tetapi lebih utama kalau diikuti dengan kesadaran.
    B: Saya harap tunjukkan lagi ayat-ayat di kitab Injil yang berselisih
    A: Baiklah, silahkan periksa di kitab Samuel yang ke-II pasal 8 ayat 9, 10.
    B: Di pasal dan ayat ini menyebutkan: “Bermula, maka setelah kedengaranlah kabar kepada TOI, raja Hamat, mengatakan Daud sudah mengalahkan segenap balatentara Hadar Ezar, disuruhkan TOI akan YORAM anaknya menghadap raja Daud akan bertanyakan selamat baginda dan menyampaikan berkat selamat kepada baginda……”.
    A: Cukup dibaca sampai disitu, bagaimana menurut pendapat saudara maksud ayat itu, siapakah nama raja Hamat?
    B: Menurut ayat ini, raja Hamat bernama “Toi”
    A: Sekarang silahkan periksa kitab: “Tawarikh yang pertama”, pasal 18 ayat 9
    B: Di sini menyebutkan: “Hatta apabila kedengaranlah kabar kepada TOHU, raja Hamat, mengatakan Daud sudah mengalahkan segenap balatentara Hadar Ezar raja Zoba itu”
    A: Di ayat ini siapakah nama raja Hamat
    B: Menurut ayat ini, nama raja Hamat ialah “Tohu”
    A: Nah, perhatikanlah : disuatu ayat menyebutkan nama Raja Hamat ialah “Toi” sedangkan di ayat lain menyebutkan “Tohu”. Yang manakah namanya benar Tohukah atau Toi.
    B: Ya, namanya memang berselisih. Akan tetapi hanya selisih tentang nama saja. Jadi hanya perselisihan yang kecil saja.
    A: Kalau kesalahan dari manusia biasa, tentu kita tidak keberatan, akan tetapi ini adalah kesalahan “Wahyu” atau “Ilham”.
    B: Betul juga pendapat bapak, Ini adalah kesalahan wahyu atau ilham. Mustahil wahyu atau ilham dari Tuhan terdapat kesalahan walaupun kesalahan yang sedikit dan sekecil-kecilnya.
    (pada halaman ini terdapat footnote: Al Kitab edisi 1994, kata Tohu diganti Tou. Mungkin pada tahun berikutnya kata Tou akan diganti dengan Toi)
    A: Bukan itu saja, Silahkan periksa lagi kitab Samuel yang kedua pasal 8 ayat 9 dan 10
    B: Di sini menyebutkan: “Bermula, maka setelah kedengaranlah kabar kepada TOI, raja Hamat, mengatakan Daud sudah mengalahkan segenap balatentara Hadar Ezar, disuruhkan TOI akan YORAM anaknya menghadap raja Daud ……”
    A: Cukup dibaca sampai disitu dulu, di ayat itu ada tersebut seseorang bernama Yoram, siapakah Yoram menurut ayat tersebut?
    B: Menurut ayat tersebut Yoram itu anaknya Toi, raja Hamat.
    A: Betul, sekarang lanjutkan periksa di kitab: Tawarikh yang pertama pasal 18 ayat 9 dan 10.
    B: Di sini ada menyebutkan : “Hatta apabila kedengaranlah kabar kepada TOHU, raja Hamat, mengatakan Daud sudah mengalahkan segenap balatentara Hadar Ezar raja Zoba itu”. “Disuruhnyalah Hadoram puteranya pergi menghadap baginda raja Daud……”
    A: Cukup dibaca sampai disitu. Diayat itu ada disebutkan seorang bernama Hadoram, Siapakah Hadoram itu menurut susunan ayat tersebut?.
    B: Menurut susunan ayat tersebut orang yang bernama Hadoram itu adalah anak Tohu, raja hamat
    A: Buktikan, disatu ayat menyebutkan bahwa Yoram itu anaknya Toi, sedangkan di ayat lain menyebutkan anaknya Toi itu bukan Yoram, melainkan Hadoram.
    B: Saya tidak tahu
    A: Saya bertanya bukan tentang tahu atau tidaknya, melainkan tentang kebenaran di dua ayat itu.
    B: Saya tidak tahu yang mana yang benar.
    A: Bukan saudara saja yang tidak mengetahui kebenarannya, malah yang menulis ayat itupun tidak bisa menunjukkan yang tepat tentang kebenarannya nama anaknya Toi itu; padahal yang dinamakan kitab suci pasti benar isinya, bersih dari segala macam kesalahan, sampai kepada kesalahan yang sekecil-kecilnya, sesuai dengan pengakuan saudara tadi.
    B: Mestinya begitu.
    A: Tetapi kenyataannya tidak begitu. Buktinya, silahkan saudara periksa lagi di kitab Samuel ke II pasal 8 ayat 8.
    B: Baik, di pasal dan ayat ini menyebutkan: “Maka dari dalam Betach dan dari dalam Berotai, dua buah negeri Hadar Ezar, diambil raja Daud akan banyak Tembaga.
    A: Bagaimana maksud ayat ini menurut tafsiran saudara.
    B: Maksudnya ialah raja Daud mengambil banyak tembaga dari dua tempat bernama Betach dan Berotai.
    A: Silahkan periksa di Kitab Tawarich yang pertama pasal 18 ayat 8
    B: Baik disini ada menyebutkan: “Maka dari dalam Tibchat dan dari dalam Chun, negeri Hadar Ezar itu diambil Daud amat banyak tembaga.
    A: Buktikan disatu ayat menyebutkan dua tempat yang diambil tembaganya oleh Daud ialah Betach dan Berotai, sedangkan di ayat lain menyebutkan dua tempat itu ialah Tibchat dan Chun. Di dua ayat itu tempat manakah yang sebenarnya diambil tembaganya oleh Daud. Kalau betul kitab Injil itu mestinya suci dari pada kesalahan dan perselisihan atau berlawanan tentang ayat-ayatnya.
    B: Betul, dua ayat ini memang tidak cocok, yang satu dengan yang lain bertentangan.
    A: Apakah saudara masih memerlukan lagi ayat-ayat yang berlawanan didalam Bibel.
    B Saya merasa beruntung kalau bapak masih bersedia menunjukkan demi untuk meningkatkan kesadaran saya.
    A: Baiklah saya ikuti kehendak saudara. Silahkan periksa lagi di Kitab Raja-raja kedua pasal 8 ayat 26.
    B: Baik, dipasal dan ayat ini menyebutkan: “Adapun umur raja Ahazia pada masa ia naik raja itu dua puluh dua tahun, maka kerajaanlah ia Jerusalem setahun lamanya, adapun nama bunda-bunda baginda itu Atalia anak Omri raja orang Israil”.
    A: Menurut susunan ayat ini, berapakah umur raja Ahazia pada waktu ia menjadi raja.
    B: Berdasarkan ayat ini diwaktu umur 22 tahun.
    A: Silahkan saudara periksa lagi di kitab: Tawarikh ke II pasal 22 ayat 2
    B: Di pasal dan ayat ini menyebutkan: “Adapun pada masa ia naik raja itu empat puluh dua tahun, dan kerajaanlah ia di Jerusalem setahun lamanya, maka nama bunda baginda itu Atalia anak Omri”
    A: Di ayat ini menyebutkan berapakah umur Ahazia diwaktu menjadi raja.
    B: Di ayat ini menyebutkan diwaktu berumur 42 tahun.
    A: Nah Di dua ayat ini yang manakah yang benar, diwaktu berumur 22 tahunkah atau berumur 42 tahun. Di satu ayat menyebutkan Ahazia menjadi raja di waktu berumur 22 tahun, dan di ayat yang lain menyebutkan pada waktu berumur 42 tahun. Bukankah ini menunjukkan perselisihan yang menyolok sekali di kitab Injil yang dikatakan suci itu.
    B: Ya, perselisihan di dua ayat ini tak dapat dipungkiri lagi.
    A: Supaya makin bertambah tak dapat dipungkiri lagi oleh saudara tentang ayat-ayat yang berlawanan di kitab Bibel itu. Silahkan saudara periksa lagi di kitab Raja-raja II pasal 24 ayat 8.
    B: Baik, disini ada menyebutkan : “Jojachin pada masa ia naik raja itu delapan belas tahun, maka kerajaanlah ia di Jerusalem tiga tahun lamanya dan nama bunda baginda itu Nehusta anak Elmatan dari Jerusalem”
    A: Siapakah nama raja di ayat ini
    B: Namanya Jojachin
    A: Silahkan saudara periksa di kitab: Tawarikh yang kedua pasal 36 ayat 9
    B: Di sini ada menyebutkan: “Adapun umur Jehojachin pada masa ia naik raja itu delapan belas tahun, maka kerajaanlah ia di Jerusalem tiga bulan dan sepuluh hari lamanya, maka diperbuatnya barang yang jahat kepada pemandangan Tuhan”.
    A: Buktikan perselisihan yang menyolok pada dua ayat ini; di satu ayat menyebutkan Jojachin dan di ayat yang lain menyebutkan Jehojachin. Selanjutnya di satu ayat menyebutkan kerajaan Jojachin di Jerusalem tiga tahun lamanya dan diayat yang lain menyebutkan 3 bulan 10 hari. Yang manakah yang benar di dua ayat ini, Jojachinkah atau Jehojachin, dan kerajaan Jerusalem selama 3 tahunkah atau 3 bulan 10 hari? Harap saudara periksa lagi dengan teliti susunan dua ayat yang saudara baca tadi.
    B: Betul, memang tidak cocok antara dua ayat ini.
    >Catatan kaki: Al Kitab yang diterbitkan tahun 1994, Kata “Yehoyakhin” diganti dengan “Yoyakhin”
    >dan di Alkitab edisi tahun 1994, kata “tiga tahun” diganti “tiga bulan”.
    A: Aneh, lagi-lagi tidak cocok dan memang tidak cocok.
    B: Memang mustahil dikitab suci mengandung ayat-ayat yang berlawanan antara yang satu dengan yang lain.
    A: Supaya lebih nyata kemustahilannya, teruskan saudara periksa di kitab Saul yang kedua pasal 23 ayat 8
    B: Di ayat ini tersusun sebagai berikut: “Bermula, maka inikah nama segala pahlawan yang mengiringi Daud, Josech Basjebet bin Tachkemoni, kepala segala penghulu iapun bergelar penyucuk dan penikam lembing, sebab ditikamnya akan kedelapan ratus orang dalam sekali saja berperang”.
    A: Berdasarkan ayat ini saya ingin bertanya pada saudara: “Siapakah nama pahlawan yang mengiringi Daud menurut ayat ini
    B: Namanya Josech Basjebet bin Tachkemoni
    A: Menjabat apakah ia
    B: Kepala segala penghulu
    A: Berapa orangkah yang ditikamnya dalam sekali berperang.
    B: Delapan ratus orang
    A: Kalau begitu, silahkan saudara periksa di Kitab Tawarikh yang pertama pasal 11 ayat 11
    B: Di ayat ini susunan kalimatnya seperti berikut: “Maka inilah bilangan segala pahlawan yang mengiringi Daud, Yasobam bin Hachmoni, kepala orang tiga puluh, yang melayangkan lembingnya kepada orang tiga ratus, ditikamnya akan mereka itu sekalian dalam sekali berperang”.
    A: Berdasarkan ayat ini saya ingin bertanya pada saudara: “Siapakah nama pahlawan yang mengiringi Daud menurut ayat ini
    B: Namanya Yasobam bin Hachmoni
    A: Menjabat apakah ia
    B: Kepala dari orang tiga puluh
    A: Berapa orangkah yang ditikamnya dalam sekali berperang.
    B: Sebanyak Tiga ratus orang
    A: Cocokkan dua ayat ini antara yang satu dengan yang lain.
    B: Terlalu tidak cocok malah dalam dua ayat ini terdapat 3 macam selisih yang jelas sekali.
    A: Memang. Di satu ayat menyebutkan pahlawan yang mengiringi Daud bernama Josech Basjebet bin Tachkemoni dan di ayat yang lain bernama Yasobam bin Hachmoni. Di ayat inipun menyebutkan Kepala orang tiga puluh. Di ayat itupun ada menyebutkan lagi Menikam 800 (delapan ratus) orang dalam sekali berperang dan di ayat yang lain menyebutkan menikam 300 (tiga ratus) orang dalam sekali berperang.
    B: Intermezzo sedikit pak Kyai.
    A: Ya, boleh intermezzo jenis apa
    B: Saya merasa sungguh kagum, karena Bapak Kyai hapal diluar kepala tentang ayat-ayat Bibel. Padahal kalau tidak salah ayat-ayat dikitab Bibel itu ada ribuan. Dengan cara bagaimana Bapak menghafalnya.
    A: Lain waktu saya bisa terangkan pada saudara.
    B: Menghafalkannya saja tentu amat berat, Yang betul-betul mengherankan saya, dapat bapak menunjukkan dengan tepat letaknya ayat-ayat di Bibel dan tambah mengherankan lagi hafalnya ayat-ayat Bibel yang berlawanan antara satu dengan yang lain. Baik tentang nama-nama suratnya, pasalnya, maupun ayat-ayatnya, kesemuanya dengan tepat sekali bapak menunjukkannya. Betul saya bertanya; malah diantara saudara-saudara yang hadir kemarin malam ada yang membisikkan pada telinga saya, memberikan dorongan supaya menanyakan kepada bapak.
    A: Supaya tidak banyak makan waktu, saya jawab dengan singkat saja, saya kalau menghafalkan sesuatu tidak hanya menggunakan alat pancaindera lahir (sensus exterior) semata-mata, akan tetapi juga alat-alat pancaindera bathin (sensus interior). Keterangan mengenai soal ini cukup panjang, membutuhkan antara dan waktu tersendiri. Kalau saudara ada hasrat, lain waktu akan saya jelaskan.
    B: Baiklah kalu begitu, sekarang kita lanjutkan
    A: Sebagai bukti, bahwa alat pancaindera bathin itu dapat menembus, maka saya tembuskan pandangan bathin saya ke dalam kitab Bibel, untuk saya tunjukkan lagi pada saudara ayat-ayat di Bibel yang berlawanan.
    B: Terima kasih
    A: Silahkan saudara periksa lagi di kitab Samuel yang kedua pasal 24 ayat 1
    B: Di pasal dan ayat ini ada menyebutkan: “Bermula maka kembali pula bangkitlah murka Tuhan akan orang Israil, diajaknya Daud akan lawan mereka itu katanya: Bilangkanlah olehmu akan orang Israil dan akan orang Jehuda””
    A: Menurut ayat ini, siapakah yang mengajak Daud membilang dan melawan orang Israil.
    B: Menurut susunan ayat ini yang mengajak Daud ialah Tuhan.
    A: Betul, sekarang silahkan saudara periksa di kitab Tawarikh yang pertama pasal 21 ayat 1.
    B: Baik, dipasal dan ayat ini ada menyebutkan: “Sebermula, maka pada masa itu, berbangkitlah syetan akan celaka orang Israil, diajaknya Daud supaya dia membilang banyak orang Israil”
    A: Menurut ayat ini siapakah yang mengajak Daud membilang orang Israil.
    B: Berdasarkan ayat ini yang mengajak Daud, ialah Syetan.
    A: Nah, perhatikan; disatu ayat menyebutkan yang mengajak Daud adalah Tuhan. Kemudian di satu ayat yang lain menyebutkan, yang mengajak Daud adalah Syetan. Yang manakah yang benar diantara dua ayat ini, Tuhankah atau syetan.
    B: Ya, betul; ini adalah suatu perselisihan yang menyolok sekali.
    A: Kalau demikian tentunya saudara dapat membayangkan, apakah Bibel yang sekarang ini masih tetap dikatakan sucikah atau sudah dicampuri oleh tangan manusia.
    B: Kalau sudah terang-terangan begini, tentunya sulit untuk dipertahankan kesuciannya.
    A: Apakah saudara masih belum merasa puas bukti-bukti yang saya tunjukkan tentang ayat-ayat Bibel yang berlawanan antara yang satu dengan yang lain itu.
    B: Sudah cukup jelas.
    A: Jangankan di kitab suci itu sampai terdapat beberapa ayat yang berlawanan malah satu ayat saja terdapat ayat yang berselisih dengan ayat lain, sudah cukup alasan untuk tidak dapatnya dipertahankan dan diyakinkan tentang kesuciannya.
    B: Kalau begitu kitab Bibel yang dianggap suci oleh penganutnya itu lantas bagaimana.
    A: Sebetulnya pertanyaan saudara itu harus dijawab oleh saudara sendiri karena saudara saudara sendiri masih mempunyai kitab itu. Tetapi saya tolong menjawabnya. Setiap agama mempunyai kitab suci. Akan tetapi kalau di kitab sucinya itu ternyata terdapat beberapa ayatnya yang berselisih atau berlawanan dan tidak cocok antara yang satu denganyang lain, apakah penganut-penganut agama itu masih berkeyakinan bahwa kitab sucinya itu tetap suci. Padahal yang dinamai kitab suci adalah wahyu, ilham dari tuhan. Mustahil sekali kalau wahyu Tuhan itu tidak cocok. Di satu ayat Tuhan berkata YA lalu diayat yang lain lagi menyatakan TIDAK. Di satu ayat Tuhan berkata “A” lalu diayat lain Tuhan berkata lagi bukan “A” tetapi “B”. Kalau sampai terjadi demikian, tidak mustahil bahwa tangan manusia sudah ikut campur di dalamnya.
    B: Betul begitu, Tetapi maaf. Kalau Bapak tidak berkeberatan, saya minta lagi.
    A: Minta yang mana lagi yang dimaksudkan oleh saudara.
    B: Minta satu ayat lagi yang berselisih di Bibel
    A: Agaknya saudara akan menguji saya tentang Bibel.
    B: Tidak, betul-betul tidak. Hanya minta satu saja. Betul-betul saya hanya minta satu ayat saja lagi.
    A: Saudara minta satu ayat lagi atau lebih, saya bisa tunjukkan. Tetapi waktunya sudah jauh malah. Kecuali kalau saudara suka menerima sampai pagi.
    B: Tidak, betul-betul hanya minta satu ayat lagi. Setelah itu kita lanjutkan pasal-pasal yang lain.
    YANG HADIR: Teruskan sampai waktu subuh, kita setuju dan akan tetap tenang.
    A: Baiklah saya penuhi pengharapan saudara Antonius. Silahkan saudara periksa di kitab Samuel yang kedua pasal 10 ayat 18.
    B: Baik, di pasal dan ayat ini ada menyebutkan: “Tetapi kemudian, larilah segala orang syam itu dari hadapan orang Israil, maka daripada orang Syam itu dibinasakan Daud tujuh ratus ekor kuda kereta dan empat puluh ribu orang berkuda, tambahan pula dikalahkannya Sobach, panglima perang mereka itu, sehingga matilah ia disana…..”
    A: Cukup dibaca sampai disitu dulu, saya akan bertanya pada saudara, diayat ini ada berapakah jumlahnya kuda kereta yang dibinasakan oleh Daud.
    B: Di ayat ini menyebutkan 700 (tujuh ratus) banyaknya yang dibinasakan oleh Daud.
    A: Di ayat itu juga ada berapakah jumlahnya orang berkuda yang dibinasakan oleh Daud.
    B: Menurut ayat ini ada 40.000 (empat puluh ribu) orang berkuda yang dibinasakan oleh Daud.
    A: Dan di ayat itu juga, siapakah namanya panglima perang yang dibunuh
    B: Menurut ayat ini panglima perang yang dibunuh bernama Sobach
    A: Betulkah semuanya itu, silahkan periksa lagi.
    B: Betul demikian jawaban-jawaban saya berdasarkan ayat ini.
    A: Kalau begitu silahkan saudara periksa di Kitab Tawarikh yang pertama pasal 19 ayat 18.
    B: Di sini ada menyebutkan: “Maka larilah segala orang Syam dari hadapan orang Israil, maka dibinasakan Daud daripada orang Syam itu tujuh ribu ekor kuda kereta, dan empat puluh ribu orang yang berjalan kaki, tambahan pula dibunuhnya Sofach panglima perang itu…”
    A: Saya akan bertanya; Ada berapakah jumlah kuda kereta yang dibinasakan oleh Daud menurut ayat ini
    B: Menurut ayat ini, menyebutkan ada 7000 (tujuh ribu).
    A: Di ayat ini juga yang dibinasakan oleh Daud apakah 40.000 orang yang berkuda atau 40.000 orang yang berjalan kaki
    B: Di ayat ini yang dibinasakan oleh Daud ada menyebutkan 40.000 yang berjalan kaki, bukan orang berkuda.
    A: Pun di ayat ini juga, disebutkan siapakah namanya panglima perang, apakah bernama Sobach-kah atau Sofach
    B: Di ayat ini disebutkan bernama Sofach.
    A: Coba saudara perhatikan dengan seksama perselisihan di dua ayat ini. Satu ayat saja sudah terdapat 3 macam selisih. Di kitab Samuel yang kedua pasal 10 ayat 18 menyebutkan; yang dibinasakan oleh Daud sebanyak 700 (tujuh ratus) kuda kereta, sedangkan di kitab Tawarikh yang pertama pasal 19 ayat 18 menyebutkan 7.000 (tujuh ribu) kuda

    ac said:
    27 November 2007 pukul 08:46

    MALAM YANG KELIMA
    Dosa Waris
    B: Saya ingin menerima penjelasan dari bapak kyai, tentang kepercayaan kepada dosa waris yang disebabkan karena dosanya Adam dan Hawa.
    A: Baiklah, saya akan berikan jawabannya, tetapi sebelumnya saya ajukan pertanyaan: Betulkah menurut kepercayaan Kristen bahwa anak cucu Adam dan Hawa dari sejak dilahirkan sudah membawa dosa.
    B: Betul begitu, karena Adam dan Hawa berdosa, maka cucunya menerima warisan dosa dari keduanya.
    A: Mengapa dosa Adam dan Hawa diwariskan kepada cucunya, mestinya setiap manusia memikul dosanya dari perbuatannya sendiri, bukan memikul dosanya orang lain.
    B: Tetapi menurut ajaran Kristen, setiap manusia pada sejak waktu dilahirkan sudah memikul dosa, atau menerima warisan dosa dari dosanya Adam dan Hawa. Oleh karena kedatangan Yesus itu adalah untuk menebus dosa-dosa manusia dari warisan Adam dan Hawa tersebut.
    A: Kalau keterangan saudara benar pada ajaran Kristen, silahkan saudara periksa kitab Nabi Yehezkiel pasal 18 ayat 20.
    B: Pasal dan ayat tersebut menyebutkan: “orang berbuat dosa, ia itu juga akan mati; maka anak tiada akan menanggung kesalahan bapaknya, dan Bapa pun tiada akan menanggung kesalahan anak-anaknya; kebenaran orang yang benar akan tergantung atasnya dan kejahatan orang fasik pun akan tergantung atasnya”.
    A: Jelas Bibel sendiri menyebutkan bahwa setiap manusia akan menanggung sendiri perbuatan baik maupun buruk, tidak boleh dibebankan atau diwariskan kepada orang lain. Berdasarkan ayat tersebut, maka dosa Adam dan Hawa harus ditanggung sendiri oleh keduanya. Tetapi mengapa dosa Adam dan Hawa harus diwariskan atas anak cucunya, sehingga anak cucunya ikut serta menanggung dosanya; padahal kitab Injil sendiri tegas menyebutkan bahwa setiap perbuatan baik atau buruk yang dikerjakan oleh seseorang tidak dapat dibebankan atas orang lain. Baiklah, saya teruskan pertanyaan saya pada saudara; sejak umur berapa saudara di baptis.
    B: Kata orang tua saya, sejak umur tiga bulan dibawa ke gereja dan disana dibaptis, oleh karena setiap manusia sejak dilahirkan sudah membawa dosanya Adam dan Hawa yang disebut Dosa Waris, jadi sejak bayipun sudah membawa dosa; oleh karenanya saya dibaptis waktu masih kecil.
    A: Apakah perbuatan demikian itu berdasarkan kitab Bibel
    B: Saya berkeyakinan demikian. Sebagaimana saya terangkan bahwa bayi yang baru dilahirkan itu tidak suci, yakni sudah membawa dosanya Adam dan Hawa.
    A: Kalau begitu, bayi yang belum dibaptis sekiranya ia meninggal dunia (mati) tentu tidak akan masuk surga, sebab matinya ada membawa dosanya Adam dan Hawa.
    B: Ya, mestinya demikian.
    A: Silahkan periksa Matius pasal 19 ayat 14.
    B: dipasal dan ayat ini menyebutkan: “Tetapi kata Yesus. “Biarkanlah kanak-kanak itu, jangan dilarangkan mereka itu datang kepadaku, karena orang yang sama seperti inilah yang empunya kerajaan surga””
    A: Nah,…perhatikanlah di ayat itu nyata-nyata Yesus sendiri yang berkata ia mengakui kesuciannya kanak-kanak. Sedangkan mereka belum mengakui kesalibannya Yesus dan juga belum dibaptiskan, tetapi mempunyai kerajaan surga. Jadi berdasarkan pengakuan Yesus sendiri bahwa kanak-kanak itu tidak membawa dosa waris dari Adam dan Hawa, oleh karena itulah Yesus berkata : Mereka adalah suci dari dosa dan dengan sendirinya masuk surga. Saya ingin bertanya lagi, Saudara waktu umur tiga bulan itu sudah membawa dosakah atau belum.
    B: Kalau berdasarkan perkataan Yesus yang bapak katakan tadi, tentu tidak.
    A: Jadi masih suci dari dosa walaupun tanpa dibaptiskan.
    B: Ya betul demikian.
    A: Kalau begitu, apakah gunanya saudara dibaptis pada waktu umur tiga bulan itu.
    B: Waktu umur tiga bulan tentu saya tidak tahu apa-apa
    A: Saya bertanya sekarang, bukan bertanya kepada saudara diwaktu saudara berumur tiga bulan, Jadi apakah sekarang saudara sudah menyadari tentang tidak adanya dosa waris.
    B: Seperti bapak terangkan tadi, berdasarkan pengakuan Yesus sendiri tentu saya menyadarinya. Karena, Yesus sendiri yang mengatakan bahwa anak-anak itu suci pada waktu dilahirkan.
    A: Nah, bagaimanakah sekarang, masih adakah pandangan saudara terhadap dosa waris
    B: Tentu saja harus menyadari berdasarkan perkataan Yesus sendiri bahwa aman-anak yang baru dilahirkan itu suci tidak membawa dosa sedikitpun.
    A: tidak membawa dosa yang bagaimana.
    B: Ya, tidak membawa warisan dosa dari Adam dan Hawa.
    A: Kalau begitu saudara telah mengakui bahwa dosa waris itu tidak ada
    B: Ya, demikianlah harus saya akui berdasarkan Kitab Bibel sendiri.
    A: Syukur saudara telah mengakui tidak adanya dosa waris, kalau dosa waris itu turun-temurun, maka anak yang baru lahir yang belum tahu apa-apa belum bisa memisahkan antara yang baik dan buruk, kalau bayi itu mati ia membawa dosa dan masuk neraka, dan dimanakah letaknya keadilan Tuhan kalau demikian.
    B: Ya, saya bisa terima keterangan Bapak.
    A: Nah, coba pikirkan dengan penuh kesadaran. Kalau ada seorang tua dari beberapa orang anak, dan orang tua itu menjadi penipu, pencuri, penghianat, berbuat aniaya, kejam, dan bermacam-macam dosa ia kerjakan, lalu ia dihukum masuk penjara, apakah anak-anaknya juga diharuskan menanggung dosa orang-orang tuanya, lalu anak-anak itu harus dihukum juga masuk penjara dengan alasan dosa waris. Apakah pengadilan semacam itu akan dikatakan penegak keadilan.
    B: Terima kasih, saya sudah menyadari, bahwa dosa itu tidak bisa diwariskan atau dioperkan kepada orang lain.
    A: Syukur kalau begitu.
    B: Akan tetapi kalau dosa itu tidak bisa diwariskan mestinya pahala juga tidak diwariskan. Bagaimanakah menurut ajaran agama Islam dalam hal itu.
    A: Tidak bisa, malah tidak boleh; baik pahala maupun dosa dioperkan pada orang lain.
    B: Jawaban “tidak boleh” itu apakah menurut pendapat bapak sendirikah atau menurut ajaran Islam.
    A: Menurut ajaran Islam, pahala seseorang tidak boleh diwariskan atau dioper kepada orang lain, begitu juga dosanya seseorang tidak boleh diwariskan kepada orang lain. Setiap orang menanggung sendiri pahala dan dosanya atas perbuatannya sendiri.
    B: Akan tetapi saya pernah membaca sebuah buku agama Islam yang menerangkan bahwa Nabi Muhammad pernah berkorban seekor kambing buat umatnya sekalian dan buat familinya. Ini berarti bahwa Nabi Muhammad mewariskan atau mengoperkan pahala kepada orang lain, yakni kepada umatnya dan familinya. Yang demikian itu bukan dosa waris, tetapi jelas pahala waris.
    Jadi di dalam ajaran Islam ada juga pahala waris, maka saya kira bapak tidak perlu urus tentang dosa-dosa waris dalam ajaran Kristen, kalau di dalam ajaran Islam terdapat ajaran pahala waris atau ajaran oper pahala.
    A: kalau buku agama Islam yang saudara baca mau dijadikan pokok tentang bolehnya warisan pahala, mestinya orang Islam boleh sembahyang dan berpuasa, lalu diwariskan pahalanya buat sekalian umat Islam yang masih hidup dan yang mati, tetapi tidak ada umat Islam yang berbuat demikian, kalaupun ada, mungkin karena mereka tidak tahu, bahwa perbuatan yang demikian itu, bertentangan dengan kitab sucinya Al Qur’an. Jadi bukan kitab sucinya yang salah, tetapi penganutnya sendiri, dan berbeda dengan kitab Bibel yang mengandung banyak perselisihan antara satu ayat dengan yang lain. Di dalam kitab suci Al Qur’an, tidak terdapat ajaran pahala waris maupun dosa waris. Akan tetapi dalam kitab Bibel (Kristen) antara satu ayat dengan ayat yang lain bersimpang siur.
    B: Saya pernah membaca kitab terjemahan Al Qur’an bahasa Indonesia, kalau tidak keliru di dalam surat Ath Thurr ayat 21 ada menyebutkan yang maksudnya bahwa anak-anak orang mukmin akan dimasukkan surga lantaran ibu bapaknya. Jadi lantaran amalan ibu bapaknya anak-anak itu masuk surga. Kalau yang demikian itu bukan pahala waris, lalu apakah namanya.
    A: Ayat Al Qur’an yang saudara maksudkan itu bunyinya akan saya bacakan sebagai berikut:
    Yang artinya: “Dan mereka yang beriman dan diikuti oleh anak-anak cucunya (keturunannya) dengan keimanan pula. Kami (Allah) kumpulkan anak cucu itu dengan mereka dan tiadalah kami kurangi pahala amalan mereka sedikit juapun” (Surat Ath Thurr ayat 21).
    Diayat ini jelas menyebutkan tidak adanya pahala waris, malah tanggungan pun mengenai pahala warispun tidak ada. Yang masuk surga bersama Ibu bapaknya itu adalah anak-anak yang belum baligh, karena yang sudah baligh tentu bertanggung jawab sendiri. Oleh karenanya dalam ayat tersebut ada sambungannya.
    Yang artinya: “Setiap orang bertanggung jawab (terikat) oleh amalannya sendiri-sendiri (masing-masing)”.
    Jadi setiap orang menanggung dosa dan pahala atas perbuatannya masing-masing bukan warisan dari orang lain.
    B: Apakah di dalam Kitab Al Qur’an ada yang lebih tegas menyebutkan bahwa dosa dan pahala itu tidak dapat diwariskan atau dihadiahkan pada orang lain.
    A: Ada, cukup banyak.
    B: Maafkan, kami ingin mengetahui di surat apa, dan di ayat berapa, kami akan cocokkan dirumah, karena kami ada mempunyai kitab terjemahan Al Qur’an Bahasa Indonesia. Mungkin juga saudara-saudara yang hadir di sini juga memerlukan juga.
    HADIRIN: Perlu diterangkan, karena memang penting diterangkan.
    A: Apakah tidak sebaiknya kita bersama-sama memeriksa di sini saja, kalau saudara menyetujui saya suruh ambilkan Al Qur’an lalu saya tunjukkan surat dan ayatnya sekali. Bagaimana, apakah sekarang juga.
    B: Kalau Bapak hafal lebih baik sebutkan sekarang saja ayat-ayatnya , akan kami catat: lalu akan kami cocokkan dirumah dengan Al Qur’an kami. Tapi kalau bapak tidak hafal kami minta besok malam untuk menghemat waktu.
    A: Insya Allah saya hafal ayat-ayatnya.
    B: Baik, silahkan bapak sebutkan, kami akan catat.
    A: Saya akan sebutkan nama-nama surat dan nomor ayatnya, lalu saya akan beri keterangan dan saudara catat nama Surat dan nomor ayatnya yang sebut, lalu cocokkan lagi dirumah.
    B: baik, kami setuju.
    A:
    1. Surat Al Baqarah, ayat 286.
    “Kepada dirinya apa yang ia kerjakan, dan atas dirinya apa yang dia lakukan” Maksudnya, baik dan buruknya suatu perbuatan, harus ditanggung sendiri oleh yang mengerjakannya, tidak boleh dibebankan atas orang lain.
    2. Surat Al Baqarah, ayat 123.
    “Dan Hendaknya kamu takut pada suatu hari (kiamat) tidak berkuasa seorang membebaskan sesuatu atas orang lain”.
    Maksudnya, kelak dihari kiamat, seseorang tidak berkuasa menebus dosanya orang lain, dan pahala tidak diperbolehkan atas orang lain. Masing-masing harus menanggung sendiri perbuatannya baik maupun jahat.
    3. Surat Al Ankabut, ayat 6
    “Siapa yang giat berusaha maka usahanya itu untuk dirinya sendiri”.
    4. Surat Yaasiin, ayat 54
    “Maka pada hari kiamat, tidak seorangpun akan teraniaya, dan kamu tidak akan dibalas, melainkan apa yang kamu sendiri telah kerjakan”.
    5. Surat Al Isra’ , ayat 15
    “Dan seseorang tidak berkuasa memikul dosanya orang lain “.
    6. Surat An Najm, ayat 38 dan 39
    “Bahwa seseorang tidak berkuasa menanggung dosanya orang lain dan sesungguhnya seorangpun tidak akan menerima pahala melainkan daripada perbuatannya sendiri”.
    7. Surat Luqman, ayat 33.
    “Hai Manusia hendaklah kamu takut kepada suatu hari (kiamat) seorang bapak tidak berkuasa membebaskan anaknya (dari perbuatan anaknya), seorang anak tak akan berkuasa membebaskan perbuatan bapaknya”.
    Ayat-ayat yang saya sebutkan di atas tadi jelas sekali menunjukkan bahwa seseorang tidak berkuasa menebus dosanya atau mengambil oper pahala orang lain. Jadi dalam Islam, tidak ada manusia yang berkuasa menebus dosa, atau seorang pejabat menebus dosa, perbuatan baik atau jahat harus ditanggung sendiri oleh yang mengerjakannya.
    Saya kira sudah cukup ayat-ayat yang saya sebutkan, tetapi kalau saudara masih memerlukan, saya akan sebutkan lagi ayat-ayat yang lain.
    B: Sudah cukup, dan kami sudah mengerti, akan tetapi kami pernah membaca sebuah kitab yang menyebutkan sebuah Hadist Nabi Muhammad, yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim yang menerangkan bahwa: “Mayit itu disiksa lantaran ditangisi oleh familinya”.
    Berdasarkan Hadist tersebut berarti bahwa siksaan atas mayit itu, disebabkan perbuatan orang lain, bukan dari perbuatan dirinya sendiri. Mayit itu disiksa lantaran “perbuatan” tangisnya orang lain. Kami telah tanyakan kepada beberapa orang yang kami pandang mengerti tentang agama Islam, dan salah seorang guru agama Islam mengenal susunan Hadist tersebut memberikan jawaban bahwa hadist itu benar (sahih), oleh karena yang meriwayatkan adalah Imam Bukhari dan Imam Muslim.
    A: Hadist Nabi yang saudara bawakan itu susunannya demikian:
    “Telah berkata Umar dan Ibnu Umar: Bersabda Nabi Muhammad SAW sesungguhnya mayit itu disiksa lantaran ditangisi oleh keluarganya (riwayat Bukhari dan Muslim)”. Akan tetapi hakekatnya Hadist itu Tidak Sahih, oleh karena berlawanan dengan ayat-ayat Al Qur’an. Walaupun oleh karena saudara yang beragama Kristen, mungkin belum mengetahui tentang Hadist-hadist Sahih dan Hadist-hadist Palsu, maka agar saudara yang hadir dipertemuan ini dapat mengikuti juga, merasa perlu saya terangkan bahwa menurut kitab-kitab Ushul Fiqih dan kitab Musthalahul Hadist, yang disebut Hadist Nabi, bukan saja mesti sah riwayatnya malah mesti beres susunannya dan arti dari pada hadist itu HARUS tidak berlawanan dengan kitab Al Qur’an.
    Dalam riwayat Bukhari dan Muslim jelas diterangkan demikian. Maksud Hadist tersebut , tatkala hadist yang menerangkan bahwa mayit itu disiksa lantaran ditangisi oleh familinya, di dengar oleh Siti Aisyah (Istri Nabi), maka Siti Aisyah menolak kebenaran Hadist tersebut. Aisyah berkata: “Cukuplah buat kamu Ayat Al Qur’an; Dan tidak berkuasa seseorang menanggung dosa orang lain.
    B: Nah, kalau begitu pak kyai, sekarang kami telah mengerti bahwa berdasarkan Kitab Bibel sendiri dan Kitab Al Qur’an pada hakekatnya dosa waris dan pahala waris itu tidak ada. Yakni setiap manusia menanggung sendiri dosanya, dan pahalanya menurut perbuatannya masing-masing. Ini adil namanya.
    A: Ya, seharusnya begitu; sebagaimana tersebut dalam kitab Bibel dan Al Qur’an yang telah kita baca tadi. Akan tetapi supaya lebih jelas dan tambah meyakinkan saudara, silahkan saudara periksa di Injil: “Surat kiriman Rasul Paulus kepada orang Rum Pasal 2 ayat 5 dan 6.
    B: Baik, surat dan ayat ini menyebutkan sebagai berikut: “Tetapi menurut degilmu dan hati yang tiada mau bertobat, engkau menghimpunkan kemurkaan keatas dirimu untuk hari murka dan kenyataan hukum Allah yang adil”. ” yang akan membalas ke atas tiap-tiap orang menurut perbuatan masing-masing”
    A: Apakah di ayat ini Bibel menerangkan Dosa Waris.
    B: Tidak, malah sebaliknya setiap orang akan dibalas menurut amalnya masing-masing.
    A: Periksa lagi Matius pasal 16 ayat 27
    B: Ayat ini menerangkan /menyebutkan: “Karena anak manusia akan datang dengan kemuliaan Bapanya beserta dengan segala malaikatnya; pada masa itu Ia akan membalas kepada tiap orang menurut perbuatannya:
    A: Apakah di ayat ini Bibel menerangkan Dosa Waris.
    B: Tidak ada, menurut ayat ini perbuatan dosa dan perbuatan baik akan ditanggung sendiri, tidak boleh dibebankan atau diwariskan pada orang lain.
    A: Jadi di Kitab Injil sendiri yang menyebutkan tidak adanya dosa waris.
    B: Ya, dari mana asalnya ada sebutan dosa waris itu.
    A: Apakah saudara masih memerlukan penjelasan lebih lanjut.
    B: Sudah sangat jelas sekali.
    A: Kalau begitu baiklah kita lanjutkan. Diayat saudara bacakan tadi ada sebutan “Anak manusia”. Bapanya silahkan saudara bacakan sekali lagi.
    B: Baik, awal ayat tersebut menyebutkan: “Karena Anak Manusia akan datang dengan kemuliaan Bapanya…”
    A: bagaimana menurut pengertian saudara yang dimaksudkan dengan “Anak Manusia dan Bapanya”
    B: Anak manusia itu tentulah Yesus, sedang Bapa ialah Tuhan.
    A: Periksa lagi: “Surat kiriman yang kedua kepada orang Kristen ” pasal 5 ayat 10
    B: Baik ayat ini menyebutkan: ” Karena tak dapat tiada kita sekalian akan jadi nyata dihadapan kursi pengadilan Kristus, supaya tiap-tiap orang menerima balasan, sebagaimana yang telah dilakukan oleh tubuh itu, baik atau jahat”
    A: Ayat Injil sendiri yang menyebutkan, bahwa setiap orang harus bertanggung jawab atas perbuatannya masing-masing, baik maupun jelek, tidak boleh dibebankan atau diwariskan kepada orang lain.
    B: Berdasarkan ayat-ayat Bibel yang bapak tunjukkan bahwa perbuatan baik atau jelek seseorang tidak dapat diwariskan kepada orang lain. Oleh karenanya, kepercayaan saya kepada dosa waris itu mulai luntur.
    A: Kalau begitu lantas bagaimana dosanya Adam dan Hawa, apakah dapat diwariskan kepada orang lain, tegasnya kepada anak cucunya.
    B: Berdasarkan ayat Bibel tersebut di atas tentu tidak. Jadi dosa yang dilakukan oleh Adam dan Hawa, seharusnya ditanggung sendiri oleh keduanya, tidak bisa diwariskan kepada anak cucunya.
    A: Dalam sejarah Agama Kristen kita kenal yang disebut: “biechten”, ialah orang yang berbuat dosa, dan “de biechtafleggen”, ialah orang yang meminta ampun atas kesalahannya , dan “Biecht-vader”, ialah orang-orang yang diberi wewenang memberi ampun. Setiap orang merasa menyesal atas kesalahannya dapat menerima ampunan dengan jalan membeli selembar surat yang menyebutkan bahwa orang yang berdosa sudah diberi ampun atas dosanya. Surat ampunan itu disebut “Aflaat-brieven” atau Indul gences, yang artinya kemurahan Tuhan.
    B: Ya, saya menyadari soal itu, keterangan bapak memuaskan saya.
    A: Bukan hanya demikian, akan tetapi Aflaat-brieven itu pada zaman dulu dipropaganda (gepredicht) di Negara Jerman oleh seorang rabib (nonnik) bernama “Tetzel” dalam tahun 1517 atas perintah Paus Leo, yang menjadi Paus pada tahun 1513-1521. Sebahagian dari pada hasil penjualan Aflaat-brieven itu digunakan untuk pendirian bangunan gereja “Saint Pieter Kerk” di kota Roma. Terlalu panjang kalau saya uraikan sejarah pemerintahan gereja di Eropa pada permulaan abad pertengahan.
    B: Terima kasih, kita lanjutkan saja soal yang lain, sekarang sudah larut malam, lain kali kami akan datang lagi.
    MALAM YANG KE ENAM
    Kitab Al Qur’an dan Kitab Bibel
    A: Pembicaraan kita yang berkenaan dengan dosa waris, saya rasa telah cukup.
    B: Sudah cukup jelas uraian bapak pada pertemuan yang terdahulu. Dan saya telah mencocokkan ayat-ayat Al Qur’an yang disebutkan bapak kemarin malam lalu dengan kitab terjemahan Al Qur’an bahasa Indonesia kepunyaan saya, semuanya cocok baik tentang surat-suratnya maupun ayat-ayatnya. Semua yang bapak sebutkan cocok dan tepat serta kami pikir-pikir di rumah tentang ayat Bibel dan Al Qur’an yang bapak tunjukkan ayat-ayatnya ternyata dosa waris dan oper pahala dan oper dosa itu tidak mungkin ada malah tidak masuk di akal.
    A: Syukur kalau saudara telah mengakuinya, sekarang kita bicarakan soal-soal lainnya, dan saya serahkan kepada saudara saja mengenai acaranya. Terserah saudara soal yang akan diajukan.
    B: Baiklah kami mulai; kami pernah membaca ayat-ayat Al Qur’an yang tampaknya pada kami ada juga perselisihan antara satu ayat dengan ayat lainnya, sehinga menimbulkan keragu-raguan; apakah mungkin Nabi Muhammad sendiri yang keliru menyampaikan wahyu dari Allah. Kalau betul beliau seorang Nabi, tentu tidak mungkin beliau salah menerimanya atau menyampaikannya, ataukah memang ayat-ayat Al Qur’an nya yang berselisihan.
    A: Baiklah saudara terangkan saja ayat-ayat Al Qur’an yang saudara maksudkan itu.
    B: Kami telah membaca ayat-ayat Al Qur’an mengenai asal kejadian manusia dalam kitab terjemahan Al Qur’an bahasa Indonesia, dalam sebuah surat yang nampaknya antara satu ayat dengan ayat yang lain ada berselisihan sehingga timbul dalam pikiran saya bukan Bibel saja yang berselisih ayat-ayatnya, tetapi kitab Al Qur’an demikian juga.
    A: Silahkan saudara sebutkan ayat-ayat Al Qur’an yang akan ditanyakan, Insya Allah yang diragukan oleh saudara itu akan terhapus.
    B: Baiklah, Saya mencatat ayat-ayatnya, saya akan baca.
    1. Dikitab Al Qur’an surat Ar Rahman ayat 14 menyebutkan bahwa Allah menjadikan manusia berasal dari tanah yang dibakar.
    2. Di surat Al Hijr ayat 28 menyebutkan: “Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat; sesungguhnya Aku (Allah) hendak menciptakan seorang manusia (Adam) dari tanah kering dan lumpur hitam yang berbentuk (berupa).
    3. Disurat As Sajadah ayat 7 menyebutkan: “dan Tuhan menciptakan manusia dari Tanah”
    4. Di Surat Ash Shafaat ayat 11 menyebutkan: “Sesungguhnya Aku (Allah) menciptakan manusia berasal dari tanah liat”
    5. Disurat Ali Imran ayat 59 menyebutkan: “Sesungguhnya Aku menciptakan manusia daripada tanah”
    Lima ayat yang saya sebutkan ini antara satu dengan ayat yang lain terdapat perselisihan. Cobalah kita teliti. Di ayat ketiga menyebutkan dari “tanah”, diayat ke empat menyebutkan daripada “tanah liat”. Di ayat kelima menyebutkan dari pada “tanah”. Bukankah ayat-ayat Al Qur’an nyata-nyata berselisihan antara yang satu dengan yang lain.
    A: Ya, nampaknya memang demikian. Saya tidak akan mengecewakan saudara. Teruskan pertanyaan saudara.
    B: Kami ingin bertanya; yang manakah yang benar tentang asal kejadian manusia itu. Apakah dari tanah yang dibakar, apakah dari tanah kering dan lumpur, atau dari pada tanah biasa, atau dari tanah liatkah ?. Jadi menurut pendapat saya, ayat-ayat Al Qur’an terdapat perselisihan antara satu ayat dengan ayat yang lain. Bukan ayat-ayat Injil atau di Bibel saja terdapat perselisihan. Kiranya Bapak bisa menerangkan dengan jelas dan tepat.
    A: Di kitab Al Qur’an ada menyebutkan bahwa asal kejadian manusia terdiri dari 7 (tujuh) macam kejadian. Agar diketahui juga oleh saudara-saudara yang hadir disini, saya sebutkan susunan ayat-ayatnya satu demi satu, sebagaimana yang saudara bacakan artinya tadi.
    Pertama : Di surat Ar Rahman ayat 14: “Dia (Allah) menjadikan manusia seperti tembikar, (tanah yang dibakar)”. Yang dimaksudkan dengan kata “Shal-shal” di ayat ini ialah : Tanah kering atau setengah kering yakni “Zat pembakar” atau Oksigen.
    Kedua: Di ayat itu disebutkan juga kata “Fakhkhar”, yang maksudnya ialah “Zat Arang” atau Carbonium.
    Ketiga: Di surat Al Hijr, ayat 28: “dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat; sesungguhnya Aku (Allah) hendak menciptakan seorang manusia (Adam) dari tanah kering dan lumpur hitam yang berbentuk (berupa)” . Di ayat ini. Tersebut juga “shal-shal”, telah saya terangkan, sedangkan kata “Hamaa-in” di ayat tersebut ialah “Zat Lemas” atau Nitrogenium.
    Keempat : Di surat As Sajadah ayat 7: “Dan (Allah) membuat manusia berasal dari pada “tanah””. Yang dimaksud dengan kata “thien” (tanah) di ayat ini ialah “Atom zat air” atau Hidrogenium.
    Kelima: Di Surat Ash Shaffaat ayat 11: “Sesungguhnya Aku (Allah) menjadikan manusia dari pada Tanah Liat”. Yang dimaksud dengan kata “lazib” (tanah liat) di ayat ini ialah “Zat besi” atau ferrum.
    Keenam: Di Surat Ali Imran ayat 59: ” Dia (Allah) menjadikan Adam daripada tanah kemudian Allah berfirman kepadanya “jadilah engkau, lalu berbentuk manusia”. Yang dimaksud dengan kata “turab” (tanah) di ayat ini ialah: “Unsur-unsur zat asli yang terdapat di dalam tanah” yang dinamai “zat-zat anorganis”.
    Ketujuh: Di surat Al Hijr ayat 28: “Maka setelah Aku (Allah) sempurnakan (bentuknya), lalu Kutiupkan ruh-Ku kepadanya (Ruh daripada-Ku)”
    Ketujuh ayat Al Qur’an yang saya baca ini Allah telah menunjukkan tentang proses kejadiannya Nabi Adam sehingga berbentuk manusia, lalu ditiupkan ruh kepadanya sehingga manusia bernyawa (bertubuh jasmani dan rohani). Sebagaimana disebutkan pada ayat yang keenam tentang kata “turab” (tanah) ialah zat-zat asli yang terdapat didalam tanah yang dinamai zat anorganis. Zat Anorganis ini baru terjadi setelah melalui proses persenyawaan antara “Fakhkhar” yakni Carbonium (zat arang) dengan “shal-shal” yakni Oksigenium (zat pembakar) dan “hamaa-in” yaitu Nitrogenium (zat lemas) dan Thien yakni Hidrogenium (Zat air).
    Jelasnya adalah persenyawaan antara:
    1. Fachchar (Carbonium = zat arang) dalam surat Ar Rahman ayat 14.
    2. Shalshal (Oksigenium = zat pembakar) juga dalam surat Ar Rahman ayat 14.
    3. Hamaa-in (Nitrogenium = zat lemas) dalam surat Al Hijr ayat 28
    4. Thien (Hidrogenium = Zat Air) dalam surat As Sajadah, ayat 7.
    Kemudian bersenyawa dengan zat besi (Ferrum), Yodium, Kalium, Silcum dan mangaan, yang disebut “laazib” (zat-zat anorganis) dalam surat As Shafaat ayat 11. Dalam proses persenyawaan tersebut, lalu terbentuklah zat yang dinamai protein. Inilah yang disebut “Turab” (zat-zat anorganis) dalam surat Ali Imran ayat 59. Salah satu diantara zat-zat anorganis yang terpandang penting ialah “Zat Kalium”, yang banyak terdapat dalam jaringan tubuh, teristimewa di dalam otot-otot. Zat Kalium ini dipandang terpenting oleh karena mempunyai aktivitas dalam proses hayati, yakni dalam pembentukan badan halus. Dengan berlangsungnya “Proteinisasi”, menjelmakan “proses penggantian” yang disebut “Substitusi”. Setelah selesai mengalami substitusi, lalu menggempurlah electron-electron cosmic yang mewujudkan sebab pembentukan (Formasi), dinamai juga “sebab ujud” atau Causa Formatis.
    Adapun Sinar Cosmic itu ialah suatu sinar mempunyai kemampuan untuk merubah sifat-sifat zat yang berasal dari tanah. Maka dengan mudah sinar cosmic dapat mewujudkan pembentukan tubuh manusia (Adam) berupa badan kasar (jasmaniah), yang terdiri dari badan, kepala, tangan, mata, hidung telinga dan seterusnya. Sampai disinilah ilmu pengetahuan exact dapat menganalisa tentang pembentukan tubuh kasar (jasmaniah, jasmani manusia/Adam). Sedangkan tentang rohani (abstract wetenschap) tentu dibutuhkan ilmu pengetahuan yang serba rohaniah pula, yang sangat erat hubungannya dengan ilmu Metafisika.
    Cukup jelas tentang ayat-ayat Al Qur’an yang saudara sangka berselisih antara satu ayat dengan ayat yang lain dalam hal kejadian manusia (Adam), pada hakikatnya bukanlah berselisih, melainkan menunjukkan proses asal kejadian tubuh jasmani Adam (visible), hingga pada badan halusnya (invisible), sampai berujud manusia. Apakah belum jelas penafsiran ayat-ayat Al Qur’an yang saya sampaikan pada saudara? Kalau ada waktu saya akan terangkan juga proses asal kejadian tubuh rohani dari segi ilmu metafisika.
    B: Sangat jelas, malah betul-betul ilmiah dan saya tidak mengira sekali bahwa ayat-ayat Al Qur’an itu mengandung ilmu pengetahuan yang tinggi. Mengenai kesanggupan bapak yang akan menerangkan atau menguraikan proses asal kejadian tubuh rohani manusia itu, betul-betul menarik. Tetapi saya mohon di beri waktu yang khusus.
    A: Baiklah sekarang kita lanjutkan: Tentunya saudara pernah membaca biografi Nabi Muhammad. Beliau tidak tahu tulis baca, tidak pernah belajar ilmu kepada siapapun, tidak pernah berguru dan belum pernah sama sekali bergaul dengan orang pandai.
    B: Ya, saya pernah membaca biografi Nabi Muhammad. Nah, kalau Nabi Muhammad seorang yang buta huruf, tidak pernah belajar ilmu, maka dari siapakah atau dari manakah beliau mengetahui tentang kejadian manusia secara ilmiah yang pada zaman ini dibenarkan oleh ilmu pengetahuan. Nabi Muhammad SAW menerangkan tentang asal kejadian manusia dari segi ilmu urai (Anatomi), Ilmu Kimia, Ilmu hayat (biologi), dan dari segi ilmu alam sampai kepada rohaniahnya.
    A: Maka dari manakah beliau belajar ilmu urai, kepada siapakah beliau belajar ilmu kimia, ilmu hayat, ilmu alam dan soal-soal kerohanian, kalau bukan wahyu dari tuhan Allah SWT. Dan tidak mungkin beliau menerima wahyu dari Allah sekiranya beliau bukan seorang Nabi dan Rasul.
    B: Tetapi ada juga orang yang tidak pernah belajar dan bersekolah, buta huruf, tetapi menjadi orang-orang besar.
    A: Coba saudara sebutkan nama-nama orang yang tidak pernah belajar (buta huruf), lalu mengaku jadi Nabi dan menerima wahyu, dan berhasil membentuk suatu masyarakat dan negara yang mengagumkan para ahli sejarah dan mempunyai pengikut beratus juta manusia setiap masa dan zaman. Sebutkan nama orang yang saudara maksudkan itu.
    B: Ya, tidak ada.
    A: Memang tidak ada, baiklah saya tanyakan, kalau saudara berpegang dengan keterangan saudara bahwa Nabi Muhammad itu bukan Nabi dan Rasul, karena ada juga orang yang buta huruf menjadi orang besar, maka kalau Yesus itu anak Tuhan, karena dapat menyembuhkan penyakit kusta, menghidupkan orang mati, dilahirkan tanpa Ayah dan dipenuhi juga dengan ruhul kudus, maka selain Yesus terdapat juga orang lahir tanpa Bapak, dapat menyembuhkan penyakit kusta, menghidupkan orang mati sebagaimana tersebut dalam kitab Injil. Kisah Rasul pasal 6 ayat 5, pasal 5 ayat 31; Kitab Raja-raja kedua pasal 13 ayat 21; Matius pasal 5 ayat 9; Kitab Raja-raja kedua pasal 5 ayat 10 mengapa mereka itu tidak Tuhan juga, mengapa kepada Nabi Muhammad saudara berkeberatan untuk mengakui beliau sebagai seorang Nabi dan Rasul, sedangkan kepada Yesus saudara tidak Berkeberatan mengakuinya sebagai Tuhan, padahal kewajiban-kewajiban yang dilakukan oleh Yesus, orang lain dapat juga melakukannya.
    B: Baiklah kalau begitu.
    A: Baik yang bagaimana yang saudara maksudkan.
    B: Keterangan-keterangan bapak adalah baik dan memuaskan saya dan saya diberi waktu untuk menentukan keputusan saya sampai besok malam atau malam pertemuan berikutnya.
    A: Baiklah saya serahkan sepenuhnya atas pertimbangan saudara, Kami tidak berhak memaksa saudara, atau mempengaruhi saudara. Kita hanya bermusyawarah dan bersoal jawab tentang hasilnya terserah atas pertimbangan masing-masing.
    B: Baiklah kita lanjutkan Besok Malam
    MALAM KETUJUH
    Mengakui Nabi Muhammad SAW Utusan Allah
    A: Sesudah saya terangkan pada saudara tentang ayat-ayat Al Qur’an yang menerangkan tentang proses asal kejadian manusia yang saudara tanyakan ayat-ayatnya kemarin malam itu, apakah terdapat pertentangan? Apakah Nabi Muhammad ada kekeliruan menyampaikan sebagaimana saudara sangka semula?
    B: Tidak ada, Bapak telah menerangkan dari segi Ilmiah yang seharusnya secara jujur saya mempercayainya.
    A: Jadi Nabi Muhammad Benar, tidak kelirukah penyampaiannya
    B: Tidak keliru, malah benar.
    A: Jadi saudara mengakui bahwa Nabi Muhammad benar sebagai Rasul Allah.
    B: Saya mengakui, karena beliau benar.
    A: Terima kasih , Saudara-saudara yang hadir menyaksikan sendiri pengakuan saudara Antonius sendiri atas ke Rasulannya Nabi Muhammad SAW, tanpa paksaan, melainkan dengan kesadarannya sendiri setelah berlangsung dengan diskusi. Betulkah saudara mengakui kerasulannya Nabi Muhammad dan mengakui Nabi Muhammad itu utusan Allah.
    B: Betul, dengan saksi Tuhan saya mengakuinya.
    A: Alhamdulillah, saudara Antonius sudah 50 % Islam. Saya katakan 50% Islam oleh karena hanya mengerti dan mempercayai atas kerasulan Nabi Muhammad, jadi masih tinggal 50% lagi, oleh karena Saudara belum meyakinkan atas ke Esaan Tuhan yang Maha Tunggal .
    B: Ya, betul begitu. Keyakinan saya terhadap Trinitas (Tuhan Bapak, Tuhan Anak dan Ruhul Kudus) masih belum lenyap sama sekali, walaupun Bapak telah menerangkan Kitab Bibel yang tak dapat saya membantahnya. Akan tetapi dengan keterangan-keterangan bapak saya mulai ragu-ragu terhadap Trinitas itu. Sungguhpun begitu, apakah bapak masih bersedia lagi memberikan keterangan-keterangan (alasan-alasan) dalam kitab Bibel yang menyebutkan bahwa Yesus itu bukan Tuhan.
    A: Sebetulnya pada pertemuan kita yang pertama telah saya sebutkan berdasarkan kitab Injil sendiri bahwa Yesus bukan Tuhan seperti telah Saudara Periksa sendiri dalam Matius pasal 1 ayat 16; Markus pasal 13 ayat 32; Ulangan pasal 4 ayat 33; Ulangan pasal 6 ayat 4; Markus pasal 12 ayat 29. Kesemuanya itu telah kita baca. Tetapi demi untuk memenuhi pengharapan saudara agar lebih meyakinkan, saya lanjutkan lagi. Silahkan baca Lukas pasal 4 ayat 1 dan 2.
    B: Baik, di sini disebutkan : “Maka Yesuspun penuhlah dengan Rohul Kudus, balik dari Yarden, lalu Roh itu membawa Dia ke padang belantara. Empat puluh hari lamanya dicobai Iblis. Selama itu suatu apapun tiada dimakannya. Setelah genap hari itu ia merasa lapar.
    A: 1. Diayat ini menyebutkan bahwa Rohul Kudus membawa Yesus ke padang belantara. Kalau Yesus itu tuhan, mustahil akan dapat dibawa oleh siapapun juga.
    2. Diayat ini menyebutkan bahwa Yesus dicobai oleh Iblis. Pantaskah Tuhan dicobai oleh Iblis atau wajarkah Iblis berani mencobai Tuhan.
    1. Di ayat inipun ada menyebutkan bahwa Yesus merasa lapar. Wajarkah Tuhan itu lapar? Kalau begitu sifat-sifat Yesus itu sama saja dengan sifat manusia biasa; bisa dibawa, bisa dicobai iblis dan merasa lapar.
    Periksa lagi Matius pasal 4 ayat 5
    B: Baik , di situ menyebutkan: “Kemudian dari pada itu Iblis itupun membawa Yesus ke negeri suci, lalu ditaruhnya Dia di atas bumbung bait Allah”
    A: Di ayat ini ada menyebutkan bahwa Yesus dibawa oleh Iblis. Pantaskah Tuhan dibawa oleh Iblis. Wajarkah Tuhan tunduk kepada kemauan Iblis sehingga dibawa kemana-mana, kesuatu tempat. pantaskah Iblis begitu berani kepada Tuhan.
    Periksa lagi Matius pasal 27 ayat 1 dan 2
    B: Baik, di situ menyebutkan : “Setelah hari siang, maka segala kepala Imam dan orang tua-tua kaum pun berundinglah atas hal Yesus supaya dibunuhkan Dia. Maka diikatnya Dia serta dibawa pergi, lalu diserahkan kepada Pilatus, yaitu wakil pemerintah”
    A: DI ayat ini menyebutkan bahwa Yesus diikat; pantaskah Tuhan dapat diikat oleh manusia. Kalau begitu dimanakah kekuatan Tuhan, sehingga dengan rela menyerahkan dirinya kepada manusia? Periksa lagi Lukas pasal 2 ayat 21.
    B: Baik, di situ menyebutkan: “Apabila genap delapan hari, Ia bersunat, lalu disebut namanya Yesus..”
    A: Wajarkah Tuhan itu disunat? Perlu apakah Tuhan itu disunat?
    B: Apakah ada keterangan yang lebih tegas bahwa Yesus itu benar-benar anak manusia bukan anak Tuhan?.
    A: Silahkan buka Matius pasal 26 ayat 2
    B: Baik, disitu menyebutkan bahwa: Anak manusia akan diserahkan supaya disalibkan.
    A: Yang dimaksud anak manusia di situ Yesus. Jadi jelaslah bahwa Yesus itu bukan anak Tuhan, melainkan anak manusia. Silahkan periksa di Matius pasal 5 ayat 45.
    B: Baik, di situ menyebutkan bahwa: Supaya kamu menjadi anak Bapamu ….. dan seterusnya.
    A: Di sini menyebutkan bahwa orang-orang yang taat kepada Tuhan, menurut Yesus akan menjadi anak Tuhan. Jadi bukan saya yang mengatakan bahwa Yesus itu bukan anak Tuhan yang Tunggal, melainkan anak-anak tuhan itu akan bertambah lagi jumlahnya, berdasarkan kitab Bibel sendiri di Matius pasal 5 ayat 45 yang kita baca tadi ialah: “Supaya kamu menjadi anak-anak Bapamu…” Silahkan buka Matius pasal 7 ayat 21.
    B: Disitu menyebutkan: “Bukannya tiap-tiap orang yang menyeru aku Tuhan, Tuhan, akan masuk ke dalam kerajaan sorga, hanyalah orang-orang yang melakukan kehendak Bapaku yang di sorga.
    A: Di Bibel sendiri jelas, bahwa Yesus menyangkal malah menolak kepada orang yang menyerukan: “Tuhan, Tuhan” kepadanya, malah orang itu tidak dapat masuk ke dalam kerajaan sorga. Apakah belum cukup bukti-bukti yang telah saya tunjukkan kepada saudara.
    B: Sudah Cukup. Terima kasih; tetapi kalau masih ada, saya minta, demi kepuasan saya
    A: Minta yang mana lagi yang saudara maksudkan.
    B: Yang menyebutkan di kitab Injil bahwa Yesus anak manusia “bukan anak tuhan”
    A: Baik, akan saya penuhi harapan saudara, silahkan saudara periksa di Matius pasal 16 ayat 27.
    B: Di pasal dan ayat ini ada menyebutkan: “Karena anak manusia datang dengan kemuliaan Bapanya beserta dengan malaikatnya; pada masa itu Ia akan membalas kepada tiap-tiap orang menurut perbuatannya”
    A: Di ayat ini ada menyebutkan anak manusia, menurut tafsiran saudara, siapakah yang dimaksudkan dengan anak manusia di ayat ini.
    B: Ya, tentu Yesus.
    A: Jadi dikitab Injil sendiri ada menyebutkan bahwa Yesus itu adalah “anak manusia”; bukan anak Tuhan, betulkah atau tidak.
    B: Ya, betul.
    A: Nah, kalau betul, mengapa saudara menyebutkan Yesus anak Tuhan?
    B: Yesus itu Tuhan tapi diserupakan dengan manusia.
    A: Kalau Yesus itu Tuhan, mengapa diperanakkan oleh manusia (Maria). Yesus berupa manusia karena diperanakkan oleh manusia (Maria). Terlalu janggal kalau manusia (Maria) memperanakkan Tuhan. Bisakah ilmu pengetahuan lahir maupun ilmu pengetahuan bathin (Kerohanian) menerima bahwa ada Tuhan yang diperanakkan oleh manusia? Bisakah ilmu pengetahuan exact maupun yang abstract (Exact abstract Wetenschap) menerimanya?
    B: Ya, memang mustahil ada Tuhan yang diperanakkan oleh manusia.
    A: Bukan itu saja, malah di kitab Injil saudara Yesus sendiri yang berkata bahwa ia bukan anak Tuhan, melainkan Utusan Tuhan. Sebagaimana telah saya tunjukkan ayatnya pada pertemuan kita yang lalu.
    B: Betul, telah bapak sebutkan. Tetapi saya minta di ulangi lagi ayatnya, oleh karena saya agak lupa susunannya.
    A: Silahkan periksa di Yahya pasal 5 ayat 30
    B: Di pasal dan ayat ini menyebutkan: “Suatupun tiada aku dapat berbuat menurut kehendak sendiri, melainkan aku menjalankan hukum sebagaimana aku dengar, dan hukuman itu adil adanya; karenanya bukannya aku mencari kehendak diriku, melainkan kehendak Dia yang menyuruhkan aku”.
    A: Ayat ini tegas sekali, jelas menunjukkan bahwa Yesus sendiri mengaku bahwa ia bukan Tuhan, melainkan pesuruh Tuhan. Di ayat ini Yesus memberitahukan bahwa ia tidak berbuat menurut kehendak Tuhan, maka wajarkah Tuhan tidak dapat berbuat sekehendaknya, dan pantaskah ada Tuhan disuruh (diutus) menjadi utusan.
    B: Ya, saya mengaku; Yesus sendiri mengaku bukan anak Tuhan.
    A: Demi kepuasan saudara silahkan periksa lagi di Yahya pasal 3 ayat 13
    B: Baik, di pasal dan ayat ini menyebutkan: “Seorangpun tidak naik ke surga, kecuali Ia yang sudah turun dari surga, yaitu anak manusia”
    A: Berdasarkan ayat-ayat Bibel yang saya tunjukkan dan saudara sendiri yang memeriksa dan membacanya itu, maka sekali lagi saya bertanya: “Anak manusiakah Yesus itu atau anak tuhan”?.
    B: Ya, berdasarkan ayat-ayat tersebut saya berkata: “Yesus adalah anak manusia”
    A: Di ayat yang saudara baca tapi, Matius pasal 16 ayat 27, selain menyebutkan bahwa Yesus itu anak manusia, juga menyebutkan bahwa akan membalas tiap-tiap orang menurut perbuatannya. Betulkah begitu? silahkan periksa kembali.
    B: Ya, betul di ayat itu ada menyebutkan.
    A: Menurut susunan ayat tersebut, jelas: “Menolak adanya dosa waris”, berdasarkan ayat tersebut setiap orang akan dibalas menurut perbuatannya masing-masing, jadi tidak ada penebus dosa.
    B: YA, tentang dosa waris telah selesai kita bicarakan dan memang saya telah mengakui “tidak ada dosa waris”.
    A: Betul, sudah kita bicarakan, saya hanya menambah saja, untuk lebih menguatkan lagi keterangan yang lalu.
    B: Sudah cukup jelas keterangan Bapak.
    A: Jelas bagaimana?
    B: Berdasarkan ayat-ayat Injil sendiri bahwa Yesus itu bukan anak tuhan melainkan anak manusia. Dan berdasarkan kitab Injil menyebutkan bahwa Yesus sendiri mengakui ia bukan anak Tuhan, melainkan “pesuruh (Utusan) Tuhan”
    A: Syukurlah kalau begitu. Jadi bagaimanakah kepercayaan saudara sekarang terhadap “Trinitas” (Tuhan Bapa, Tuhan Anak dan Ruhul Kudus).
    B: Dengan sendirinya kepercayaan saya terhadap Trinitas terhapus.
    A: Alhamdulillah, jadi saudara mengakui bahwa Tuhan itu TUNGGAL.
    B:Sebelum itu saya ingin menyampaikan pertanyaan
    A: Baik, tetapi saudara telah mengakui pada pertemuan yang lalu dan saudara-saudara yang hadir juga telah ikut menyaksikan bahwa: Pertama, Saudara telah membenarkan kitab Al Qur’an. Beberapa ayat Al Qur’an yang saudara kemukakan yang pada mulanya oleh saudara dianggap berselisih antara satu ayat dengan ayat yang lain, setelah saya terangkan dan saya tafsirkan, lalu saudara akui bahwa ayat-ayat tersebut pada hakikatnya tidak ada perselisihannya antara yang satu dengan yang lain. Bukankah begitu pengakuan saudara.
    B: Ya, betul begitu
    A: Kedua, Pada pertemuan yang lalu saudara telah mengakui kebenaran nabi Muhammad SAW selaku Utusan Tuhan, betulkah demikian
    B: Ya, betul saya telah mengakuinya.
    A: Ketiga, Saudara telah membenarkan bahwa ayat-ayat di kitab Injil (Bibel) terdapat beberapa ayat yang berselisih antara yang satu dengan yang lain. Sebagaimana telah saya tunjukkan ayat-ayatnya pada pertemuan yang lalu, benarkah pengakuan saudara itu.
    B: Ya, saya mengakui. Akan tetapi saya masih memerlukan bukti-bukti yang lain tentang ayat-ayat Injil yang ada perselisihannya antara yang satu dengan yang lain, demi kepuasan bagi saya, walaupun sebenarnya keterangan bapak saya pandang cukup memuaskan. Tetapi mungkin ada lagi ayat-ayat yang lain untuk meresapnya ke perasaan saya.
    A: Baiklah, saya penuhi pengharapan saudara, silahkan saudara periksa kitab Yahya pasal 8 ayat 14
    B: Baik, dipasal dan ayat ini menyebutkan: “Jikalau Aku menyaksikan dari hal diriku sendiripun, benar juga kesaksian itu”
    A: Silahkan periksa lagi Yahya 5 ayat 31.
    B: Baik, di pasal dan ayat ini menyebutkan: “Jikalau Aku menyaksikan dari hal diriku, maka kesaksianku tidak benar”
    A: Nah, saudara membuktikan sendiri perselisihan di dua ayat ini. Di satu ayat menyebutkan: “Kesaksianku benar”, sedangkan di ayat lain menyebutkan “Kesaksianku tidak benar”. Dua ayat yang berselisih itu, tersebut di kitab suci. Dan yang berbicara adalah seorang. Manakah yang benar antara dua ayat ini. Wajarkah di dalam kitab suci mengandung ayat-ayat yang berlawanan antara yang satu dengan yang lain.
    B: Ya, saya akui memang tidak cocok.
    A: Bukan saja tidak cocok, tetapi adalah satu selisih yang menyolok.
    B: Tetapi mungkin salah satu dari ayat tersebut salah cetak.
    A: Sekiranya salah cetak, tentunya ada ralat; tetapi di kitab ini tidak disebutkan apa-apa.
    B: Bibel ini berbahasa Indonesia, permisi sebentar, saya akan memeriksa Bibel yang berbahasa Inggris.
    A: Itu lebih baik, sayakah yang akan memeriksa ataukah saudara?
    B: Oleh karena bapak banyak hafal ayat-ayat Bibel maka saya serahkan agar bapak saja memeriksanya, sepaya lebih cepat.
    A: Baiklah; harap saudara memperhatikan juga saudara-saudara yang hadir, kitab yang saya pegang ini adalah Bibel berbahasa Inggris ialah “The Holy Bible”, “Containing the Old and New Testaments (American Bible Society)”. Saya serahkan kitab ini kepada saudara Antonius dan saya akan menunjukkan pasal dan ayatnya untuk diteliti bersama.
    B: Baik, saya terima kitab Bibel yang berbahasa Inggris.
    A: Silahkan saudara periksa di Yahya pasal 8 ayat 14 pada halaman 104
    B: Baik, dihalaman 104 kitab Yahya pasal 8 ayat 14 disini ada menyebutkan: “THOUGH I BEAR RECORD OF MY SELF, YET MY RECORD IS TRUE”
    A: Kalau susunan ayat ini kita salin kedalam bahasa Indonesia, adalah demikian: “Jikalau aku menyaksikan dari hal diriku sendiripun, benar juga kesaksianku itu” Betulkah begitu artinya?
    B: Ya, betul begitu
    A: Jadi sama artinya dengan Injil yang berbahasa Indonesia di Yahya pasal 8 ayat 14, harap saudara cocokkan dulu.
    B: Betul, artinya sama kuatnya
    A: Sekarang silahkan periksa di Yahya pasal 5 ayat 31.
    B: Disini menyebutkan : “IF BEAR WITNES OF MYSELF, MY WITNES IS NOT TRUE”
    A: Ayat ini kalau kita salin kedalam bahasa Indonesia akan demikian: “Jikalau aku menyaksikan dari hal diriku, maka kesaksianku itu tiada benar”. Betulkah begitu?.
    B: Ya, benar
    A: Silahkan saudara periksa lebih teliti lagi di kitab Bibel yang berbahasa Inggris ini. Di satu ayat menyebutkan “IS TRUE”, adalah benar, sedangkan di ayat lain menyebutkan “IS NOT TRUE”, adalah tidak benar.
    B: Ya, memang berbeda
    A: Kalau begitu, di Injil yang berbahasa Indonesia maupun yang berbahasa Inggris tidak ada perbedaan arti dan maksudnya.
    B: Betul Demikian
    A: Jadi tidak salah cetak, yang salah ialah yang mengisi kitab suci itu. Kalau betul kitab suci (Injil) itu wahyu dari Tuhan, mustahil ayat-ayatnya akan berselisih antara yang satu dengan yang lain. Jadi kitab itu telah dicampuri oleh tangan manusia.
    B: Menurut pendapat saya, dua ayat itu bukan berlawanan, mungkin ayat yang satu dicabut, lalu kemudian diganti dengan ayat yang lain. Jelasnya , ayat yang satu di hapus diganti dengan ayat yang lain (yang baru). Setahu saya dalam ayat-ayat Al Qur’an terdapat apa yang disebut “Nasich dan Mansuch” ialah satu ayat terhapus hukumnya, lalu diganti dengan ayat yang lain (hukum yang baru).
    A: Di dalam Al Qur’an terdapat “Nasich dan Mansuch” ada disebutkan ayatnya tetapi di kitab Injil sama sekali tidak disebutkan.
    B: Dimanakah di dalam Al Qur’an yang menyebutkan ayat tentang Nasich dan Mansuch itu
    A: Sebetulnya sayalah yang harus bertanya kepada saudara, oleh karena dari saudaralah timbulnya ucapan Nasich-Mansuch itu. Akan tetapi sekalipun demikian saya tunjukkan, ialah di surat Al Baqarah ayat 106. Susunan ayat itu ada ulama yang menafsirkan tentang adanya “Nasich dan Mansuch”. Sebagian lagi ada yang menafsirkan bahwa susunan ayat tersebut tidak menunjukkan adanya Nasich-Mansuch. Kalau saudara memerlukan , akan saya terangkan tafsirnya ayat tersebut.
    B: Hal itu, baiklah kita tangguhkan dulu. Tetapi sehubungan dengan dua ayat di Bibel yang tadi, saya berpendapat bukan berlawanan, melainkan satu ayat digantikan dengan ayat lain, sehingga nampaknya ada berlawanan. Bolehkah saya berikan misal.
    A: Silahkan, saudara berhak penuh berbicara dengan saya dalam pertemuan kita ini.
    B: Saya sebutkan misal: Dikeluarkan suatu peraturan, setiap pengendara sepeda diwaktu malam diharuskan memakai lampu. Kemudian datang lagi peraturan tidak boleh pakai lampu, karena ada peperangan misalnya. Disini ada dua peraturan, yang pertama: “Diharuskan memakai lampu” sedang yang kedua “Dilarang”. Dua perintah itu, yang terpakai adalah yang kemudian. Demikian juga dua ayat di Bibel tadi tidak berlawanan, melainkan salah satu diantaranya sudah tidak berlaku lagi (dicabut). Ini menurut pendapat saya.
    A: Baiklah, tetapi tentunya saudara mengerti, apabila suatu peraturan yang diganti, mestinya harus diikuti penjelasan, bahwa artikel nomer sekian ayat sekian, tahun sekian dicabut, diganti dengan artikel nomer sekian dan selanjutnya. Akan tetapi dua ayat di Bibel itu, tidak ada sebutan ayat yang satu diganti , dengan lain kata dua ayat tetap berlawanan antara yang satu dengan yang lain. Tidak ada penjelasan bahwa salah satu telah dicabut, atau diganti.
    PERTEMUAN YANG KEDELAPAN
    Perselisihan Ayat-ayat Dalam Bibel
    A: Pada pertemuan kemarin malam saya telah terangkan ayat yang berlawanan dalam Bibel. Pada pertemuan sekarang apakah masih ada pertanyaan saudara yang akan disampaikan kepada saya.
    B: Kalau masih ada ayat-ayat dalam Bibel yang berlawanan antara satu ayat dengan yang lain, saya minta diterangkan untuk menambah keyakinan saya sampai dimanakah kesucian kitab Bibel itu ada dicampuri oleh tangan manusia.
    A: Kemarin malam saudara mengakui sudah puas. Apakah tidak lebih baik, kita bicarakan saja pasal-pasal yang saudara pandang terpenting.
    B: Ya, tetapi keterangan bapak mengenai ayat-ayat yang berlawanan di kitab Bibel itu baru sedikit membuka hati saya. Karena itulah saya bawa lagi kitab Bibel ini.
    A: baiklah, saya akan tunjukkan, demi kepuasan saudara
    B: Terima kasih. Harapan, Bapak sudi tunjukkan lagi bukti-bukti ayat-ayat yang berlawanan. Saya ingin mengetahui lebih banyak lagi.
    A: Silahkan saudara periksa di Yahya pasal 1 ayat 18
    B: Dipasal dan ayat ini menyebutkan: “Maka Allah belum pernah dilihat oleh seorang juapun, tetapi Anak yang tunggal yang diatas pengakuan Bapa, ialah yang sudah menyatakan Dia”.
    A: Bagaimanakah menurut tafsiran saudara susunan ayat ini.
    B: Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak pernah dilihat oleh siapapun juga, melainkan hanya Yesus saja yang pernah melihatnya.
    A: Kalau begitu silahkan saudara periksa di kitab Kejadian pasal 18 ayat 1
    B: Disini menyebutkan: “Hatta, maka kemudian dari pada itu kelihatanlah Tuhan kepada Ibrahim hampir dengan pohon jati mamre tatkala duduklah di pintu kemahnya ketika hari panas”.
    A: Nah, disini saudara membuktikan sendiri perselisihan di dua ayat ini, disatu ayat menyebutkan Tuhan hanya dinyatakan oleh Yesus saja, tidak seorang juapun melihatnya. Sedang di ayat yang lain ada menyebutkan bahwa Ibrahim juga melihat Tuhan. Bukankah dua ayat ini berlawanan. Yang manakah yang benar di dua ayat ini.
    B: Ya, saya mengakui memang tidak cocok.
    A: Saya lanjutkan. Silahkan periksa lagi di kitab: “Kejadian pasal 32 ayat 30″
    B: Ya, di sini menyebutkan: “Maka dinamai oleh Yakub akan tempat itu peniel karena katanya: “Sudah kulihat Allah muka dengan muka, maka nyawaku selamatlah”.
    A: Perhatikan: disatu ayat menyebutkan, tidak seorangpun melihat Tuhan, melainkan Yesus. Di ayat yang lain menyebutkan bahwa Ibrahim melihat Tuhan. Di ayat yang lain lagi ada menyebutkan Yakub melihat Tuhan malah bertemu muka dengan muka. Yang manakah yang benar diantara tiga ayat tersebut? Mustahillah benar semuanya, karena jelas sekali susunan ayatnya yang nyata-nyata mengandung ayat yang berselisih antara yang baru dengan yang lain. Kalau dikatakan salah satu dari pada ayat-ayat itu yang benar, maka yang dua ayat tentunya salah semuanya. Pantaskah suatu kitab suci mengandung ayat yang salah? Dan kalau dikatakan salah semuanya, maka apakah kitab itu dapat dipertahankan kesuciannya, kalau ayat-ayatnya terdapat berlawanan.
    B: Ya, saya mengakui ayat-ayat tersebut tidak cocok antara yang satu dengan yang lain.
    A: Pengakuan saudara itu memang penting, tetapi lebih utama kalau diikuti dengan kesadaran.
    B: Saya harap tunjukkan lagi ayat-ayat di kitab Injil yang berselisih
    A: Baiklah, silahkan periksa di kitab Samuel yang ke-II pasal 8 ayat 9, 10.
    B: Di pasal dan ayat ini menyebutkan: “Bermula, maka setelah kedengaranlah kabar kepada TOI, raja Hamat, mengatakan Daud sudah mengalahkan segenap balatentara Hadar Ezar, disuruhkan TOI akan YORAM anaknya menghadap raja Daud akan bertanyakan selamat baginda dan menyampaikan berkat selamat kepada baginda……”.
    A: Cukup dibaca sampai disitu, bagaimana menurut pendapat saudara maksud ayat itu, siapakah nama raja Hamat?
    B: Menurut ayat ini, raja Hamat bernama “Toi”
    A: Sekarang silahkan periksa kitab: “Tawarikh yang pertama”, pasal 18 ayat 9
    B: Di sini menyebutkan: “Hatta apabila kedengaranlah kabar kepada TOHU, raja Hamat, mengatakan Daud sudah mengalahkan segenap balatentara Hadar Ezar raja Zoba itu”
    A: Di ayat ini siapakah nama raja Hamat
    B: Menurut ayat ini, nama raja Hamat ialah “Tohu”
    A: Nah, perhatikanlah : disuatu ayat menyebutkan nama Raja Hamat ialah “Toi” sedangkan di ayat lain menyebutkan “Tohu”. Yang manakah namanya benar Tohukah atau Toi.
    B: Ya, namanya memang berselisih. Akan tetapi hanya selisih tentang nama saja. Jadi hanya perselisihan yang kecil saja.
    A: Kalau kesalahan dari manusia biasa, tentu kita tidak keberatan, akan tetapi ini adalah kesalahan “Wahyu” atau “Ilham”.
    B: Betul juga pendapat bapak, Ini adalah kesalahan wahyu atau ilham. Mustahil wahyu atau ilham dari Tuhan terdapat kesalahan walaupun kesalahan yang sedikit dan sekecil-kecilnya.
    (pada halaman ini terdapat footnote: Al Kitab edisi 1994, kata Tohu diganti Tou. Mungkin pada tahun berikutnya kata Tou akan diganti dengan Toi)
    A: Bukan itu saja, Silahkan periksa lagi kitab Samuel yang kedua pasal 8 ayat 9 dan 10
    B: Di sini menyebutkan: “Bermula, maka setelah kedengaranlah kabar kepada TOI, raja Hamat, mengatakan Daud sudah mengalahkan segenap balatentara Hadar Ezar, disuruhkan TOI akan YORAM anaknya menghadap raja Daud ……”
    A: Cukup dibaca sampai disitu dulu, di ayat itu ada tersebut seseorang bernama Yoram, siapakah Yoram menurut ayat tersebut?
    B: Menurut ayat tersebut Yoram itu anaknya Toi, raja Hamat.
    A: Betul, sekarang lanjutkan periksa di kitab: Tawarikh yang pertama pasal 18 ayat 9 dan 10.
    B: Di sini ada menyebutkan : “Hatta apabila kedengaranlah kabar kepada TOHU, raja Hamat, mengatakan Daud sudah mengalahkan segenap balatentara Hadar Ezar raja Zoba itu”. “Disuruhnyalah Hadoram puteranya pergi menghadap baginda raja Daud……”
    A: Cukup dibaca sampai disitu. Diayat itu ada disebutkan seorang bernama Hadoram, Siapakah Hadoram itu menurut susunan ayat tersebut?.
    B: Menurut susunan ayat tersebut orang yang bernama Hadoram itu adalah anak Tohu, raja hamat
    A: Buktikan, disatu ayat menyebutkan bahwa Yoram itu anaknya Toi, sedangkan di ayat lain menyebutkan anaknya Toi itu bukan Yoram, melainkan Hadoram.
    B: Saya tidak tahu
    A: Saya bertanya bukan tentang tahu atau tidaknya, melainkan tentang kebenaran di dua ayat itu.
    B: Saya tidak tahu yang mana yang benar.
    A: Bukan saudara saja yang tidak mengetahui kebenarannya, malah yang menulis ayat itupun tidak bisa menunjukkan yang tepat tentang kebenarannya nama anaknya Toi itu; padahal yang dinamakan kitab suci pasti benar isinya, bersih dari segala macam kesalahan, sampai kepada kesalahan yang sekecil-kecilnya, sesuai dengan pengakuan saudara tadi.
    B: Mestinya begitu.
    A: Tetapi kenyataannya tidak begitu. Buktinya, silahkan saudara periksa lagi di kitab Samuel ke II pasal 8 ayat 8.
    B: Baik, di pasal dan ayat ini menyebutkan: “Maka dari dalam Betach dan dari dalam Berotai, dua buah negeri Hadar Ezar, diambil raja Daud akan banyak Tembaga.
    A: Bagaimana maksud ayat ini menurut tafsiran saudara.
    B: Maksudnya ialah raja Daud mengambil banyak tembaga dari dua tempat bernama Betach dan Berotai.
    A: Silahkan periksa di Kitab Tawarich yang pertama pasal 18 ayat 8
    B: Baik disini ada menyebutkan: “Maka dari dalam Tibchat dan dari dalam Chun, negeri Hadar Ezar itu diambil Daud amat banyak tembaga.
    A: Buktikan disatu ayat menyebutkan dua tempat yang diambil tembaganya oleh Daud ialah Betach dan Berotai, sedangkan di ayat lain menyebutkan dua tempat itu ialah Tibchat dan Chun. Di dua ayat itu tempat manakah yang sebenarnya diambil tembaganya oleh Daud. Kalau betul kitab Injil itu mestinya suci dari pada kesalahan dan perselisihan atau berlawanan tentang ayat-ayatnya.
    B: Betul, dua ayat ini memang tidak cocok, yang satu dengan yang lain bertentangan.
    A: Apakah saudara masih memerlukan lagi ayat-ayat yang berlawanan didalam Bibel.
    B Saya merasa beruntung kalau bapak masih bersedia menunjukkan demi untuk meningkatkan kesadaran saya.
    A: Baiklah saya ikuti kehendak saudara. Silahkan periksa lagi di Kitab Raja-raja kedua pasal 8 ayat 26.
    B: Baik, dipasal dan ayat ini menyebutkan: “Adapun umur raja Ahazia pada masa ia naik raja itu dua puluh dua tahun, maka kerajaanlah ia Jerusalem setahun lamanya, adapun nama bunda-bunda baginda itu Atalia anak Omri raja orang Israil”.
    A: Menurut susunan ayat ini, berapakah umur raja Ahazia pada waktu ia menjadi raja.
    B: Berdasarkan ayat ini diwaktu umur 22 tahun.
    A: Silahkan saudara periksa lagi di kitab: Tawarikh ke II pasal 22 ayat 2
    B: Di pasal dan ayat ini menyebutkan: “Adapun pada masa ia naik raja itu empat puluh dua tahun, dan kerajaanlah ia di Jerusalem setahun lamanya, maka nama bunda baginda itu Atalia anak Omri”
    A: Di ayat ini menyebutkan berapakah umur Ahazia diwaktu menjadi raja.
    B: Di ayat ini menyebutkan diwaktu berumur 42 tahun.
    A: Nah Di dua ayat ini yang manakah yang benar, diwaktu berumur 22 tahunkah atau berumur 42 tahun. Di satu ayat menyebutkan Ahazia menjadi raja di waktu berumur 22 tahun, dan di ayat yang lain menyebutkan pada waktu berumur 42 tahun. Bukankah ini menunjukkan perselisihan yang menyolok sekali di kitab Injil yang dikatakan suci itu.
    B: Ya, perselisihan di dua ayat ini tak dapat dipungkiri lagi.
    A: Supaya makin bertambah tak dapat dipungkiri lagi oleh saudara tentang ayat-ayat yang berlawanan di kitab Bibel itu. Silahkan saudara periksa lagi di kitab Raja-raja II pasal 24 ayat 8.
    B: Baik, disini ada menyebutkan : “Jojachin pada masa ia naik raja itu delapan belas tahun, maka kerajaanlah ia di Jerusalem tiga tahun lamanya dan nama bunda baginda itu Nehusta anak Elmatan dari Jerusalem”
    A: Siapakah nama raja di ayat ini
    B: Namanya Jojachin
    A: Silahkan saudara periksa di kitab: Tawarikh yang kedua pasal 36 ayat 9
    B: Di sini ada menyebutkan: “Adapun umur Jehojachin pada masa ia naik raja itu delapan belas tahun, maka kerajaanlah ia di Jerusalem tiga bulan dan sepuluh hari lamanya, maka diperbuatnya barang yang jahat kepada pemandangan Tuhan”.
    A: Buktikan perselisihan yang menyolok pada dua ayat ini; di satu ayat menyebutkan Jojachin dan di ayat yang lain menyebutkan Jehojachin. Selanjutnya di satu ayat menyebutkan kerajaan Jojachin di Jerusalem tiga tahun lamanya dan diayat yang lain menyebutkan 3 bulan 10 hari. Yang manakah yang benar di dua ayat ini, Jojachinkah atau Jehojachin, dan kerajaan Jerusalem selama 3 tahunkah atau 3 bulan 10 hari? Harap saudara periksa lagi dengan teliti susunan dua ayat yang saudara baca tadi.
    B: Betul, memang tidak cocok antara dua ayat ini.
    >Catatan kaki: Al Kitab yang diterbitkan tahun 1994, Kata “Yehoyakhin” diganti dengan “Yoyakhin”
    >dan di Alkitab edisi tahun 1994, kata “tiga tahun” diganti “tiga bulan”.
    A: Aneh, lagi-lagi tidak cocok dan memang tidak cocok.
    B: Memang mustahil dikitab suci mengandung ayat-ayat yang berlawanan antara yang satu dengan yang lain.
    A: Supaya lebih nyata kemustahilannya, teruskan saudara periksa di kitab Saul yang kedua pasal 23 ayat 8
    B: Di ayat ini tersusun sebagai berikut: “Bermula, maka inikah nama segala pahlawan yang mengiringi Daud, Josech Basjebet bin Tachkemoni, kepala segala penghulu iapun bergelar penyucuk dan penikam lembing, sebab ditikamnya akan kedelapan ratus orang dalam sekali saja berperang”.
    A: Berdasarkan ayat ini saya ingin bertanya pada saudara: “Siapakah nama pahlawan yang mengiringi Daud menurut ayat ini
    B: Namanya Josech Basjebet bin Tachkemoni
    A: Menjabat apakah ia
    B: Kepala segala penghulu
    A: Berapa orangkah yang ditikamnya dalam sekali berperang.
    B: Delapan ratus orang
    A: Kalau begitu, silahkan saudara periksa di Kitab Tawarikh yang pertama pasal 11 ayat 11
    B: Di ayat ini susunan kalimatnya seperti berikut: “Maka inilah bilangan segala pahlawan yang mengiringi Daud, Yasobam bin Hachmoni, kepala orang tiga puluh, yang melayangkan lembingnya kepada orang tiga ratus, ditikamnya akan mereka itu sekalian dalam sekali berperang”.
    A: Berdasarkan ayat ini saya ingin bertanya pada saudara: “Siapakah nama pahlawan yang mengiringi Daud menurut ayat ini
    B: Namanya Yasobam bin Hachmoni
    A: Menjabat apakah ia
    B: Kepala dari orang tiga puluh
    A: Berapa orangkah yang ditikamnya dalam sekali berperang.
    B: Sebanyak Tiga ratus orang
    A: Cocokkan dua ayat ini antara yang satu dengan yang lain.
    B: Terlalu tidak cocok malah dalam dua ayat ini terdapat 3 macam selisih yang jelas sekali.
    A: Memang. Di satu ayat menyebutkan pahlawan yang mengiringi Daud bernama Josech Basjebet bin Tachkemoni dan di ayat yang lain bernama Yasobam bin Hachmoni. Di ayat inipun menyebutkan Kepala orang tiga puluh. Di ayat itupun ada menyebutkan lagi Menikam 800 (delapan ratus) orang dalam sekali berperang dan di ayat yang lain menyebutkan menikam 300 (tiga ratus) orang dalam sekali berperang.
    B: Intermezzo sedikit pak Kyai.
    A: Ya, boleh intermezzo jenis apa
    B: Saya merasa sungguh kagum, karena Bapak Kyai hapal diluar kepala tentang ayat-ayat Bibel. Padahal kalau tidak salah ayat-ayat dikitab Bibel itu ada ribuan. Dengan cara bagaimana Bapak menghafalnya.
    A: Lain waktu saya bisa terangkan pada saudara.
    B: Menghafalkannya saja tentu amat berat, Yang betul-betul mengherankan saya, dapat bapak menunjukkan dengan tepat letaknya ayat-ayat di Bibel dan tambah mengherankan lagi hafalnya ayat-ayat Bibel yang berlawanan antara satu dengan yang lain. Baik tentang nama-nama suratnya, pasalnya, maupun ayat-ayatnya, kesemuanya dengan tepat sekali bapak menunjukkannya. Betul saya bertanya; malah diantara saudara-saudara yang hadir kemarin malam ada yang membisikkan pada telinga saya, memberikan dorongan supaya menanyakan kepada bapak.
    A: Supaya tidak banyak makan waktu, saya jawab dengan singkat saja, saya kalau menghafalkan sesuatu tidak hanya menggunakan alat pancaindera lahir (sensus exterior) semata-mata, akan tetapi juga alat-alat pancaindera bathin (sensus interior). Keterangan mengenai soal ini cukup panjang, membutuhkan antara dan waktu tersendiri. Kalau saudara ada hasrat, lain waktu akan saya jelaskan.
    B: Baiklah kalu begitu, sekarang kita lanjutkan
    A: Sebagai bukti, bahwa alat pancaindera bathin itu dapat menembus, maka saya tembuskan pandangan bathin saya ke dalam kitab Bibel, untuk saya tunjukkan lagi pada saudara ayat-ayat di Bibel yang berlawanan.
    B: Terima kasih
    A: Silahkan saudara periksa lagi di kitab Samuel yang kedua pasal 24 ayat 1
    B: Di pasal dan ayat ini ada menyebutkan: “Bermula maka kembali pula bangkitlah murka Tuhan akan orang Israil, diajaknya Daud akan lawan mereka itu katanya: Bilangkanlah olehmu akan orang Israil dan akan orang Jehuda””
    A: Menurut ayat ini, siapakah yang mengajak Daud membilang dan melawan orang Israil.
    B: Menurut susunan ayat ini yang mengajak Daud ialah Tuhan.
    A: Betul, sekarang silahkan saudara periksa di kitab Tawarikh yang pertama pasal 21 ayat 1.
    B: Baik, dipasal dan ayat ini ada menyebutkan: “Sebermula, maka pada masa itu, berbangkitlah syetan akan celaka orang Israil, diajaknya Daud supaya dia membilang banyak orang Israil”
    A: Menurut ayat ini siapakah yang mengajak Daud membilang orang Israil.
    B: Berdasarkan ayat ini yang mengajak Daud, ialah Syetan.
    A: Nah, perhatikan; disatu ayat menyebutkan yang mengajak Daud adalah Tuhan. Kemudian di satu ayat yang lain menyebutkan, yang mengajak Daud adalah Syetan. Yang manakah yang benar diantara dua ayat ini, Tuhankah atau syetan.
    B: Ya, betul; ini adalah suatu perselisihan yang menyolok sekali.
    A: Kalau demikian tentunya saudara dapat membayangkan, apakah Bibel yang sekarang ini masih tetap dikatakan sucikah atau sudah dicampuri oleh tangan manusia.
    B: Kalau sudah terang-terangan begini, tentunya sulit untuk dipertahankan kesuciannya.
    A: Apakah saudara masih belum merasa puas bukti-bukti yang saya tunjukkan tentang ayat-ayat Bibel yang berlawanan antara yang satu dengan yang lain itu.
    B: Sudah cukup jelas.
    A: Jangankan di kitab suci itu sampai terdapat beberapa ayat yang berlawanan malah satu ayat saja terdapat ayat yang berselisih dengan ayat lain, sudah cukup alasan untuk tidak dapatnya dipertahankan dan diyakinkan tentang kesuciannya.
    B: Kalau begitu kitab Bibel yang dianggap suci oleh penganutnya itu lantas bagaimana.
    A: Sebetulnya pertanyaan saudara itu harus dijawab oleh saudara sendiri karena saudara saudara sendiri masih mempunyai kitab itu. Tetapi saya tolong menjawabnya. Setiap agama mempunyai kitab suci. Akan tetapi kalau di kitab sucinya itu ternyata terdapat beberapa ayatnya yang berselisih atau berlawanan dan tidak cocok antara yang satu denganyang lain, apakah penganut-penganut agama itu masih berkeyakinan bahwa kitab sucinya itu tetap suci. Padahal yang dinamai kitab suci adalah wahyu, ilham dari tuhan. Mustahil sekali kalau wahyu Tuhan itu tidak cocok. Di satu ayat Tuhan berkata YA lalu diayat yang lain lagi menyatakan TIDAK. Di satu ayat Tuhan berkata “A” lalu diayat lain Tuhan berkata lagi bukan “A” tetapi “B”. Kalau sampai terjadi demikian, tidak mustahil bahwa tangan manusia sudah ikut campur di dalamnya.
    B: Betul begitu, Tetapi maaf. Kalau Bapak tidak berkeberatan, saya minta lagi.
    A: Minta yang mana lagi yang dimaksudkan oleh saudara.
    B: Minta satu ayat lagi yang berselisih di Bibel
    A: Agaknya saudara akan menguji saya tentang Bibel.
    B: Tidak, betul-betul tidak. Hanya minta satu saja. Betul-betul saya hanya minta satu ayat saja lagi.
    A: Saudara minta satu ayat lagi atau lebih, saya bisa tunjukkan. Tetapi waktunya sudah jauh malah. Kecuali kalau saudara suka menerima sampai pagi.
    B: Tidak, betul-betul hanya minta satu ayat lagi. Setelah itu kita lanjutkan pasal-pasal yang lain.
    YANG HADIR: Teruskan sampai waktu subuh, kita setuju dan akan tetap tenang.
    A: Baiklah saya penuhi pengharapan saudara Antonius. Silahkan saudara periksa di kitab Samuel yang kedua pasal 10 ayat 18.
    B: Baik, di pasal dan ayat ini ada menyebutkan: “Tetapi kemudian, larilah segala orang syam itu dari hadapan orang Israil, maka daripada orang Syam itu dibinasakan Daud tujuh ratus ekor kuda kereta dan empat puluh ribu orang berkuda, tambahan pula dikalahkannya Sobach, panglima perang mereka itu, sehingga matilah ia disana…..”
    A: Cukup dibaca sampai disitu dulu, saya akan bertanya pada saudara, diayat ini ada berapakah jumlahnya kuda kereta yang dibinasakan oleh Daud.
    B: Di ayat ini menyebutkan 700 (tujuh ratus) banyaknya yang dibinasakan oleh Daud.
    A: Di ayat itu juga ada berapakah jumlahnya orang berkuda yang dibinasakan oleh Daud.
    B: Menurut ayat ini ada 40.000 (empat puluh ribu) orang berkuda yang dibinasakan oleh Daud.
    A: Dan di ayat itu juga, siapakah namanya panglima perang yang dibunuh
    B: Menurut ayat ini panglima perang yang dibunuh bernama Sobach
    A: Betulkah semuanya itu, silahkan periksa lagi.
    B: Betul demikian jawaban-jawaban saya berdasarkan ayat ini.
    A: Kalau begitu silahkan saudara periksa di Kitab Tawarikh yang pertama pasal 19 ayat 18.
    B: Di sini ada menyebutkan: “Maka larilah segala orang Syam dari hadapan orang Israil, maka dibinasakan Daud daripada orang Syam itu tujuh ribu ekor kuda kereta, dan empat puluh ribu orang yang berjalan kaki, tambahan pula dibunuhnya Sofach panglima perang itu…”
    A: Saya akan bertanya; Ada berapakah jumlah kuda kereta yang dibinasakan oleh Daud menurut ayat ini
    B: Menurut ayat ini, menyebutkan ada 7000 (tujuh ribu).
    A: Di ayat ini juga yang dibinasakan oleh Daud apakah 40.000 orang yang berkuda atau 40.000 orang yang berjalan kaki
    B: Di ayat ini yang dibinasakan oleh Daud ada menyebutkan 40.000 yang berjalan kaki, bukan orang berkuda.
    A: Pun di ayat ini juga, disebutkan siapakah namanya panglima perang, apakah bernama Sobach-kah atau Sofach
    B: Di ayat ini disebutkan bernama Sofach.
    A: Coba saudara perhatikan dengan seksama perselisihan di dua ayat ini. Satu ayat saja sudah terdapat 3 macam selisih. Di kitab Samuel yang kedua pasal 10 ayat 18 menyebutkan; yang dibinasakan oleh Daud sebanyak 700 (tujuh ratus) kuda kereta, sedangkan di kitab Tawarikh yang pertama pasal 19 ayat 18 menyebutkan 7.000 (tujuh ribu) kuda

      Ci-we LoYcia said:
      9 Mei 2012 pukul 20:56

      sudahkah anda memahami dan membaca bible dengan jelas, dari awal hingga ahir?

    rony said:
    25 Januari 2008 pukul 20:44

    Seperti kita tahu bahasa / teks / simbol / gambar mempunyai banyak makna dan pengertian. Dapat bergantung pada zaman dan letak geografis.

    Salah satu kerumitan bahasa Arab adalah suatu maksud atau pengertian, bisa disampaikan dengan kata yang berbeda. Sebagai contoh :

    Dalam Bahasa Indonesia : Kamu
    Dalam Bahasa Inggris : You
    Dalam Bahasa Arab : Anta, Anti, Antuna, Antum…. ( kira-kira ada 14 )
    ( tergantung pada laki-laki, perempuan, tunggal atau jamak ).

    Namun tidak untuk ‘pengertian’ atau ‘tafsir’.
    Bahwa pengertian atau tafsir tidak dapat dibelokkan atau salah pengertian.
    Sebagai contoh :
    Dalam bahasa indonesia : kursi
    Dalam bahasa inggris : chair
    Dalam bahasa arab : kursiyun

    Kita tidak dapat menyampaikan maksud ‘kursi’ kepada orang arab atau inggris secara langsung, jika kita tidak menceritakan karakteristik ‘kursi’ atau menunjukkan ‘kursi’. Sehingga tidak mungkin ia akan salah pengertian dengan ‘meja’. Karena ‘kursi’ dan ‘meja’ adalah berbeda.

    Itulah mengapa, Rasulullah Muhammad SAW, saat pertama kali menerima wahyu yang disampaikan melalui malaikat Jibril, berupa kata iqra’ ( baca ) belum mengerti apa maksudnya. Baru setelah diulang 3x ( iqra’, iqra’ dan iqra’, baru beliau mengerti apa yang mesti dilakukan / dikatakan.
    Jika kita analisa, mengapa Rasul belum mengerti maksud iqra’ untuk pertama kalinya ?.
    Kita bisa mengetahuinya lewat kisah rasul dan sahabat, bahwa beliau tidak dapat membaca dan menulis. Itulah sebabnya beliau tidak dapat ‘mengarang’ ataupun menulis al quran. Bukti sejarah lainnya bahwa beliau terkenal sebagai al amin. Yaitu orang yang dapat dipercaya. Dan perkataan beliau sudah terbukti jujur. Predikat ini diberikan oleh masyarakat arab sebelum beliau diangkat menjadi Rasul.
    Jika kita teliti lagi, Al Quran lebih banyak dihafal daripada ditulis / dibaca. Sebagai bukti adalah banyak penghafal Al Quran baik di zaman dulu sampai kini. Kalau dihitung, sudah lebih dari 1juta orang yang hafal Al Quran diluar kepala. 30 juz / 114 surat / 6666 ayat / lebih dari 240rb kata.
    Mengapa dihafal ?
    Jika kita analisa, manusia untuk mengetahui dan paham sesuatu, perlu beberapa tahap :
    Membaca / Mengamati -> Menganalisa -> Menghafal -> Mengerti

    Coba kita ambil sebuah surat yang pertama kali turun…

    iqra’ bismirabbikalladzikholaq.
    ( Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan ).
    kholaqol insanamin alaq
    ( Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah ).
    iqra’ warabbukal aqram
    ( Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah
    alladzi allama bil qalam
    ( Yang mengajar manusia dengan perantaraan Qalam )
    allamal insanama lam ya’ lam
    ( Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya ).

    Ayat yang pertama kali turun saja sudah mengindikasikan dan memerintahkan supaya penerima / pendengar mengerti apa yang akan dikatakan. Bukan sekedar tahu kata / kalimat atau sekedar hafal saja.
    Jadi lebih ke arah konteks atau pengertian yang lebih ditekankan.
    Ini bisa kita pahami karena berbagai suku, bangsa, bahasa dapat menjadi kendala penyampaian maksud. Namun jika suatu maksud sudah dapat dimengerti, itulah tujuannya.

    Dengan kata lain, maksud yang sama dapat disampaikan dengan berbagai macam kata dan bahasa namun dengan catatan bahwa si penerima / pendengar mengerti maksud dari yang disampaikan.

    Bahwa Al Quran telah dijamin oleh Allah tidak ada yang menyamai atau memalsukan sampai akhir zaman, dapat kita pahami karena berbagai hal :
    1. Banyak yang menghafal Al Quran.
    2. Banyak yang mengerti maksud isinya.
    3. Banyak yang melaksanakan isinya.
    Sehingga boleh saja manusia membakar / menghancurkan kitab Al Quran, namun Al Quran yang sebenarnya, masih dikepala Jutaan penghafal dan yang mengerti tentangnya.

    Apakah Al Quran Konsisten ?.
    Coba kita cek, dari bahasa, suku bangsa dan daerah manapun di dunia ini ?. Misal tentang surat Al Alaq diatas…
    bahwa :
    iqra’ = bacalah = read = ….
    qalam = tulisan = ….

    Apakah bisa kita katakan bahwa Al Quran dimulai dengan kata ‘bacalah’ adalah tidak konsisten ?. Karena Rasulullah berkata iqra’ ?

    Padahal Rasulullah berkata iqra’ pun bukan bermaksud menyampaikan kata iqra’ itu sendiri. Namun lebih ke makna iqra’ = bacalah = read = …

    Kita ambil contoh yang lain, dari surat Al Baqarah…
    alif laam miim
    dzalikal kitabu la roybafih
    ( Kitab ini tidak ada keraguan padanya )
    hudallil muttaqin
    ( Petunjuk bagi mereka yang bertakwa )

    Manakah yang kita pahami ?
    hudallil muttaqin … atau… ( petunjuk bagi mereka yang bertakwa ) ?
    walaupun memang secara kata adalah hudallil muttaqin.

    Siapakah orang yang bertakwa ?…
    Kita bisa lihat di ayat lanjutannya…

    alladzina yu’ minuna bil ghoibi
    ( yaitu mereka yang percaya kepada yang ghaib )
    wa yuqiimuunassolati
    ( yang mendirikan shalat )
    wa mimma rozaqna hum yun fiqun
    ( dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka )

    Bisa kita lihat…bahwa ayat demi ayat merupakan kesatuan konteks atau pengertian. Ayat yang satu menjelaskan ayat yang lain. Dan jika tidak ada dalam Al Quran, misal tentang tata cara shalat, ada dalam Hadits / Assunah.

    Apakah hadits / Assunah ?
    Bisa diibaratkan dengan manual booknya Al Quran atau penjelasan teknis / konteks dari Al Quran.

    Mengapa ?
    Karena pengertian kita terhadap maksud Al Quran tidak menyeluruh / bisa salah maksud sehingga perlu dijelaskan sendiri maksudnya oleh penerima wahyu itu sendiri ( Rasul ).
    Hadits / Assunah = perkataan / perbuatan Rasul.

    Dari kesemuanya sudah lengkap…
    Ada sumber berita ( Al Quran )
    Ada perantara berita ( Al Quran )
    Ada penerima berita ( Al Quran )
    Ada penjelasan teknis dan konteks berita ( Al Quran )
    Jutaan orang mengerti dan mengajarkan kepada anak, murid, orang lain tentang berita ( Al Quran ) = banyak kegiatan pengajaran / pembelajaran ( baik formal maupun non formal ).

    Dan kalaupun referensi yang disampaikan tidak sama, mestinya arah kiblat tidak di mekkah. dan sholat tidak sebagaimana yang ada…
    Namun kenyataan dibuktikan oleh ratusan juta orang…jutaan orang berhaji tiap tahunnya…ratusan juta orang puasa serentak di Bulan Ramadhan. Shalat 5 x sehari dan sebagainya…

    Sebagaimana kita tahu bahwa manusia tidak akan percaya sesuatu tanpa pembuktian dan logika akal. dan yang terpenting…

    bahwa islam dibangun dari kejujuran para penyampainya. Nabi, Rasul, sahabat, ulama’ dan penerusnya berkata apa adanya / sesuai dengan kata dan konteks yang diterima. Tidak ditambah, juga tidak dikurangi. Tidak menyembunyikan kebenaran. Tidak membelokkan kebenaran. Ataupun menutup-nutupi kebenaran. Apapun konsekuensinya…

    Allahu ahad ( Allah adalah satu ). Jika kita katakan lebih dari satu / mungkin lebih dari satu maka jadinya adalah musyrik ( menyekutukan Allah ). Sedangkan muslim / mukmin TIDAK SAMA dengan musyrik. Dan tidak boleh disamakan.
    Itulah intinya…

    basuki said:
    8 Februari 2008 pukul 14:50

    siapa yang membela agama Alloh maka ia akan di bela oleh Alloh..

    agung said:
    31 Maret 2008 pukul 16:45

    Saya setuju artikel di atas ttg “Sudah tiba masanya untuk melakukan kritik teks terhadap al-Quran sebagaimana telah kita lakukan terhadap Bibel Yahudi yang berbahasa Ibrani-Aramaik dan kitab suci Kristen yang berbahasa Yunani”
    Saya pernah belajar ttg berbagai macam kritik yg ditimpakan kepada Alkitab dan itu sangat menyakitkan keyakinan saya, tetapi setelah itu saya justru mempunyai paradigma baru. Nah untuk menuju ke sana nampaknya sulit karena 1. orang kita mana mau berubah terhadap pembaharuan. 2. orang kita kan suka kemapanan, 3. orang kita kan punya mentalitas “suka menerabas” kata mbah koentjaraningrat jadi mustahil hal itu dilakukan.

    Saiful said:
    11 Juni 2008 pukul 10:55

    UnDangaN AkseS Ke Study Al Quran InovationBy Metode MSQ dan Sofftware AlQuraN

    UnDangaN AkseS Ke Study Al Quran InovationBy Metode MSQ dan Sofftware AlQuraN

    Yth Para PenCinTA dan PenKAjI AlQuran
    diMAnapUn BerAdA

    Assalaamu’alaykumwarahmatullahiwabarokaatuh

    Dengan hormat. Semoga hidayah,kesehatam dan keberkahan senatiasa rahman Allah menyertai kita.amin

    Bersama ini perkenankan saya mengundang anda semua darimana pun anda, juga tidak lupa para pengkaji dan pecinta khasanah keilmuan Al Quran untuk mengunjungi web yang bersikan artikel tentang study al quran dengan metode Innovation (MSQ), apa itu metode MSQ dan implementasinya untuk pengembangan keilmuan Al Quran silaakan kunjungi :
    http://www.studialquran.co.nr

    Bagaimana janji Allah bahwa Al Quraan adalah lautan khasanah keilmuan yang karena berkandungan Ilmu lah Alquran salah satunya Al Quran memosisikan diri sebagai toolbook/kunci untuk memperoleh hudawwarohmah, barokah wassyifak (soluai segala permasalahan kehidupan), Bahwa salah satu pokok problematika kehidupan manusia juga bersumber dari tiap diri manusia sendiri . maka psikologi sebagai salah satu cabang keilmuan yang amat penting sebagai salah alternativf untuk mengatasi permasalahan hambatan dalam menggapai kesuksesan , karenanya sudah semestinya karena alquran adalah hudan (sumber solusi dari Illahi yang maha lengkap ),tentunya Al Quran juga bisa berbicara tentang psikologi, apa itu psikologi alquran dan bagaimana metode,manfaat dan keilmiahan index keakurasianya, silahkan anda klik
    http://www.psikologialquran.co.cc

    Namun kritikan perihal lambatnya web, maaf saya belum bisa menjawabnya karena ini domain gratisan, saya akan sangat beruntung bilamana ada yang bersdia membantu mendesainkan web lebih menarik dan mensosialisasikannya.

    Semuanya Free
    Juga pada kesempatan ini saya informasikan kepada semua pecinta alquran yang memerlukan software alquran yang berbasis tentang data alquran, seperti jumlah pengulangan suatu kata di alquran dan penafsirannya dari beberbagai mufasir konvensional dan modern bisa di dapat pada kajian rutin bulanan tiap tanggal 7 pukul 19.30.di Bandung, alamat bergilir, berminat software qsoft dan akan mengunjungi kajian alquran dan share tetang alquran berbasis data base dan managemen informatika atau IT Al Quram bisa hubungi saya di 0227100227 atau 081802030299.ingin bersilaturahmi dengan saya bisa kunjungi

    http://www.gusiful.co.nr

    Billlahittaufiq wal hidayah wassalamulaikum wr wb.

    Bandung 27 Mei 2008

    saiful bahrie

    _

    ndrahaes said:
    4 Juli 2008 pukul 14:58

    Setiap kebenaran haruslah melalui sebuah pengujian. Makanya dalam hidup ini Tuhan sendiri membiarkan adanya pertentangan di dalam manusia mengenai siapa diriNya. Jikalau Tuhan yang Maha Pencipta dan Maha Kuasa itu saja merelakan diriNya dipertentangkan oleh ciptaanNYa, maka apakah kitab kitab suci itu tidak boleh diuji ? . Ketahuilah bahwa keadilan TuhaN LUAR BIASA, KALAU DikehendakiNya, semua manusia dengan kekuasaanNya bisa semua diselamatkan. Tetapi Ia adalah Tuhan yang ” Fair Play “. Ia tak memaksa manusia menyembahNya, Ia juga mengizinkan iblis menggoda manusia tanpa sekalipun Ia membentengi mereka dengan kuasaNya. Dari hal ini dapatlah kita saksikan bahwa :
    1. Allah taat kepada putusanNya sendiri untuk adil
    2. Allah hanya ingin menyelamatkan manusia yang benar benar cinta dan berimana kepadaNya, bukan dengan suatu paksaan tapi benar benar ikhlas dari diriNya sesudah menghadapi berbagai godaan dunia ( iblis ).

    Saya sangat setuju adanya pro dan kontra baik terhadap bible maupun al quran atau kitab suci agama apapun, karena dengan demikian secara objektif kita dapat menilai kebenaran sesungguhnya dari yang kita yakini.
    Ketika film Da Vinci Code diputar , maka saya pikir akan ada banyak sekali reaksi keras dari umat kristiani baik kristen maupun katholik ,tetapi perkiraan saya meleset, karena ternyata hanya segelintir orang yang melakukan protes melalui demo . Ini pencerminan kedewasaan umat bahwa iman mereka memang harus diuji juga melalui media atau karya film atau karya tulis lainnya . Sesuatu desertasi yang diterima adalah buah karya atau karya cipta yang sudah melalui tahap pengujian dimana kontra itu lebih banyak disampaikan daripada pro nya . Secara jujur kita harus mengakui bahwa banyak sekali kitab kitab suci yang belum mendapat pengujian itu. Marilah kita bukan ditinjau dari agamanya apapun, bisa berwawasan luas dan berbesar hati bahwa kitab suci kita juga diuji secara cermat .

    Mr. Nunusaku said:
    28 Agustus 2008 pukul 20:09

    Kalau kita berdialog bersama muslim perihal turunnya Al Quran, kita tahu dalam kehidupan muslim tidak ada kejujuran, selalu kebohongan diamalkan sesuai apa yang terdapat dalam Al Quran kita suci mereka.

    Dalam Quran 40;28 SESUNGGUH ALLAH TIDAK MENUNTUT SEORANGPUN YANG MELANGGAR DAN PEMBOHONG.

    Jadi didalam ajaran Al Quran untuk pengikutnya islam mereka dapat berbohong untuk mempertahan Quran karangan nabi Muhammad yang merekatakan wahyu turun dari surga, walupun tidak mempunyai saksi harus tetap dipertahan kebohngan mereka. seperti apa yang pernah terjadi di Goa Hira perjumpaan malaikat Gibriel dan Muhammad tanpa saksi harus tetap dipertahan kebohongan untuk mempercayai apa yang muhammad katakan.
    Kalau tidak…? pengikutnya sudah diberi ancaman oleh Muhammad dengan kutukan dan teror neraka jahanam
    yang keluar dari mulut Muhammad untuk tetap patu dalam kebohongan Muhammad.

    Kalau kita mempelajari Al Quran karangan Muhammad… dia selalu banyak sumpah atas nama Allah, sedangkan
    Allah tidak menyuruhnya.(Ulangan 18;20) Seorang nabi yang terlalu berani bersumpah atas nama-Ku yang tidak kuruhkan, nabi itu harus mati dibunuh. Akhirnya Muhammad mati diracuni di Khaybar. firman itu telah menjadi kenyataan kepada nabi Muhammad. nah apa yang dikatakan: APA YANG KELUAR DARI MULUTMU ITULA NAJIS….KUTUKAN INI TELAH BERLAKU TERHADAP MUHAMMAD….KARENA MEMAKAI NAMA ALLAH. INGAT….BAHWA ALLAH ITU MASA ESA DAN MAHA TAHU TENTANG KEBOHONGAN SESEORANG, JIKA ENGKAU MEMAKAI NAMA ALLAH UNTUK MEMPERTAHANMU…,PASTI KUTUK DAN AZAB ALLAH AKAN BERLAKU BAGI MEREKA.

    Mr. Nunusaku said:
    30 Agustus 2008 pukul 15:39

    Islam tidak dapat membuktikan kemampuan mereka tentang wahyu dari GOA HIRA kepada Muhammad,
    Apakah ada saksi yang menguatkan wahyu tersebut dari malaiket Gebriel kepada Muhammad…?

    Beritahukan siapa yang menyaksihan hal tersebut…? agar wahyu tersebut dapat dipercaya.
    Tanpa seorang saksi tetap hanya yang saksi adalah Muhammad sendiri, apakah dapat dipercaya…?

    Siapa yang mengatakan Quran turun dari langin…? Muhammad
    Siapa yang saksinya….? Muhammad
    Siapa yang katakan Muhammad rasul terakhir….? Muhammad

    Semua Muhammad yang katakan, seribu kali membaca Quran….semua Muhammad yang katakan.

    Semua: Muhammad….Muhammad…ini namanya iman yang buta 100% harus diimani, kalau tidak
    Muhammad membuat ancaman, teror kepada pengikutnya dengan neraka jahanam….Wow iman muslim
    harus tetap tunduk dalam pembodohn bangsa Arab…..selahkan anda jalan menuju kebinasaan
    kepintu neraka. Tayakan pada Muhammad mengapa nabimu gak gak berada disurga seperti Isa anak
    Maryam yang sekarang berada disisi Allah disurga. Mengapa Muhammad berada dikuburan Medinah.

    Apakah dia sedang tunggu Isa Anak Maryam yang akan datang menghakimi Muhammad,
    Loh katanya nabi Muhammad nabi terakhir kekasih Allah, mengapa dan mengapa Muhammad
    diliang kuburan…..? apakah benar dia seorang nabi….? jawabannya>>>>NABI PALSU DARI ARAB <<<<

    blur said:
    22 Maret 2009 pukul 11:49

    “Menurutnya, kajian kritis-historis al-Quran tersebut perlu menggunakan metodologi analisa bibel (biblical criticism)”

    kalo Al Quran dikaji dengan metode bibel,,,ga bakal ketemu lha,,

    izmy said:
    7 Mei 2010 pukul 14:23

    gampangnya: orang islam yang mengkritik al-QUr’an itu tidak dapat dikatakan al-QUr’an bermasalah, tetapi orang yang mengkritik itu yang bermasalah, sebagian besar mereka hasil dari didikan orientalis di barat. jadi jelas mereka tidak lebih perpanjangna dari orientalis yang berasal dari kristen…

    bicara kodifikasi, silahkan baca buku the history of qur’anic text from revelation to compilaton, Dr. M. A’zami

    bantah kalau bisa…

    soal kodifikasi bibel, baca buku misteri Yesus dalam sejarah… itu fakta bahwa bible bermasalah dalam kodifikasinya…..

      az said:
      29 Agustus 2010 pukul 14:36

      memang gampang mulut kamu ya.apa bukti yang kamu kata muhammad pembohong?jadi bolehlah saya katakan yang orang yang menulis kitab bible kamu itu juga pembohong?apa bukti jelas yang membuktikan bahawa mereka yang menulis kitab bible itu tidak berbohong?kamu yang BODOH !memang dalam alquran ad mengatakan bahawa haram berbohong, kamu tahu juga ya?tetapi kitab bible membohong umatnya kamu tidak pikir plak?umat islam yang melakukan pembohongan bukan bermakna alquran itu salah.contohnya, jika kamu ada anak, anak kamu membunuh, adakah kamu yang dihukum?tentulah orang yang melakukannya.
      begitu juga alquran.Orang-orang agama kamu juga tidak melakukan segala suruhan yang baik dari kitab bible, mengapa?kerana bible itu benar?

      “Sembahlah allah yang maha agung”…itu antara kata-kata dari kitab bible.kalau kamu tidak beriman dengan kitab bible, maka kamu dikira murtad dan keluar dari agama kamu. Tetapi kenapalah kebodohan kamu menyebabkan kamu masih mengaku yang tuhan kamu ad 3?hahahahahahahahahaha…
      kamu lebih bodoh dari lembu.
      hahahahahahahahaa

    az said:
    29 Agustus 2010 pukul 14:26

    kenapa kamu kata alquran tak tahan ujian?yang peliknya,banyak mukjizat dari alquran berbanding bible.nape bible mengutuk bible sendiri?nape bible ad banyak edisi?tuhan salah turunkan firman ke sampai banyak sangat edisi?macam komek lah pula?buktikan dan senaraikan mana kelemahan alquran?tak de…tapi bible…macam orang bodoh yang menulis novel yang ntah ape-ape,lepas tu cakap firman dari tuhan.kita lihat sahaja paderi, tidak dibenarkan berkahwain sedangkan alquran membenarkan manusia berkahwin kerana itu adalah fitrah.kenapa tuhan bible pun kawin?kalau dianggap perkahwinan itu adalah menjijikkan dan kotor, maka tuhan kamu melakukan perkara yang kotor kerana tuhan kamu juga berkahwin dengan Maryam dan dapat anak yesus.siapa yang tulis artikel ini, saya harap kaji dahulu alquran kerana hipotesis yang melulu menyebabkan anda jadi manusia paling BODOH dalam dunia.apa yang kamu faham tentang alquran?manakah kitab yang paling banyak bukti kebenarannya?tentu sekali alquran.contohnya, Allah mencabar segala yang ada di bumi dan langit agar membuat satu ayat yang setanding dengan alquran,tetapi kenapa kamu yang ‘pandai’ sangat ni tak mampu nk buat?kerana alquran dari Allah !.tapi saya sendiri boleh buat ayat yang lebih baik dari bible kerana bible sendiri mengutuk bible, tak ke pelik tu?sila nyatakan kepada saya di manakah kecacatan yang ada dalam alquran? dan jawab soalan saya, bible mengatakan tuhan adalah ruhul kudus, Allah dan Yesus.kamu katakan bahawa ia adalah SATU.cuba anda tulis di papan hitam ketiga-tiga nama tersebut dan anda tanya pelajar yang palin BODOH di sekolah rendah,dia akan membilang menggunakan jari dan apakah hasilnya ?sebelum anda jawab,biar saya bagi jawapannya, tentulah TIGA.siapa kata satu?bodoh namanya tu.kalau anda ade anak iaitu Allah, ruhul kudus dan Yesus,jika ada orang bertanyakan kepada anda, berapakah bilangan anak anda?

    irsanarzani said:
    9 Januari 2012 pukul 16:47

    kalau ada terdapat kesalahan yang kita temukan dalam al-quran,itu berarti pemikiran kita yang masih kerdil dan ilmu yang sangat sedikit..karena al-quran itu memang tidak ada cacat celanya sediktipun.tentang keritikan terhadap al-quran bukan hanya muncul sekarang, tapi sudah sejak awal islam ada,karena didorong oleh kesombongan dan tidak mau menerima kebenaran al-quran.

    Adi said:
    16 Agustus 2012 pukul 14:55

    Injil yang diwahyukan Allah kepada Yesus tidak lagi dipertahankan kemurniannya dari serbuan ajaran penyembah berhala. Para penulis injil bukannya menulis ajaran Tauhid yang diajarkan Yesus tetapi ajaran baru yang mengawinkan ajaran Yesus dengan ajaran penyembah berhala disesuaikan dengan keinginan para penyembah berhala di kerajaan Romawi. Hal ini dikemukakan dengan jelas oleh Max I Dimont, professor sejarah Yahudi di amerika Serikat, Kanada, Afrika Selatan, Brazilia dan Finlandia dalam bukunya Jews, God and History, 1962, hal 147:
     
    ” The accounts o f the history o f Christianity in the Pauline Epistles and the Gospels, especially the latter relate to the trial o f Christ, become under-standable now that we realize they were written not for the Jews but for the pagans”
    (Cerita tentang sejarah Kristen dalam Surat-Surat Paulus dan Injil-injil (dalam Alkitab), terutama (Injil-injil) yang menulis tentang penyaliban Yesus, menjadi jelas dan kita sadari sekarang bahwa (Surat-Surat Paulus dan Injil-injil) tersebut bukan ditulis untuk umat Yahudi (umatnya Yesus), tetapi untuk penyembah berhala).
     
    Ajaran Yesus yang bercampur baur dengan ajaran penyembah berhala yang ditulis oleh para penulis Injil dari kerajaan Romawi, menjadi lebih parah ketika para penyalin Injil mendapat restu Gereja untuk merubah, menambah dan mengurangi atau menciptakan ayat-ayat baru dan memasukkannya kedalam Alkitab seakan-akan ayat asli atau ucapan Yesus. James H. Charlesworth dalam bukunya Jesus and the Dead Sea Scrolls, 1992, hal 150 menjelaskan:
    ” It is certain that Jesus’ authentic words were altered signi f icantly in the f orty years that separated his cruci f ixion f rom the composi tion o f the first Gospel”
    (Jelas bahwa kata-kata yang diucapkan Yesus telah banyak dirubah selama 40 tahun yang memisahkan antara penyaliban dan penulisan Injil yang pertama (Injil Markus)
    Pernyataan serupa juga datang dari Robert W. funk dan Roy W. hoover dalam buku mereka The Five Gospels:
    “Word borrowed f rom the f und o f common lore or the Greek scriptures are o f ten put on the lips o f Jesus.. the evangelists f requently attributed their own statement to Jesus”
    (Kata-kata yang diambil dari cerita rakyat atau naskah Yunani sering disuapkan kepada Yesus untuk diucapkan… Para penginjil sering mengaku bahwa ucapan yang mereka ciptakan adalah ucapan Yesus)
    Selanjutnya mereka menambahkan:
    “And handmade manuscript have almost always been ‘corrected’ here and there, o f ten b y more than one hand”
    (Dan naskah yang ditulis tangan hampir selalu ‘dikoreksi’ (dirubah) disana sini, kebanyakan oleh lebih dari satu orang).
    Perbuatan ini sangat dicela oleh Allah SWT yang tercermin dalam Al-Qur’an surat al-Baqarah 2:79:
    “Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan”. (al-Baqarah 2:79)

    inqur6236 said:
    12 Oktober 2012 pukul 21:15

    untuk tidak ber-tele2 maka saya persilahkan anda semua untuk mampir ke akun twiter kami (studi-banding) di : https://twitter.com/QMS_R , https://twitter.com/#!/@inqur6236 , http://twitter.com/#!/santanasultana , https://twitter.com/DAJJAL2015 , disana anda akan mendapatkan bagaimana Al Quran Menurut Sunnah-Rasul akan menjawab segala permasalahan Hidup & kehidupan secara komprhensip yang dikaji secara Objektip ILMI-ah sesuai dengan Mau-NYA (ALLAH), sedikit sebagai contoh silahkan anda simak :tl.gd/jd1v1j , http://tl.gd/j9sqp1 , http://www.twitlonger.com/show/jbh0lf , http://www.twitlonger.com/show/jbg4uv , atas tanggapan anda saya ucapkan terimakasih. Salaaam..

    lathe cutting tools said:
    12 Juni 2013 pukul 23:05

    Hi there, I discovered your web site by the use of Google
    even as looking for a related topic, your site
    got here up, it appears to be like great. I’ve bookmarked it in my google bookmarks.
    Hi there, simply changed into alert to your weblog via Google, and located that it is truly informative. I’m gonna be careful for brussels.
    I will be grateful for those who continue this in future.

    Lots of other people shall be benefited from your writing.
    Cheers!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s