HAK PEREMPUAN

Posted on Updated on


HAK PEREMPUAN
MENURUT PANDANGAN ISLAM
(TERHADAP TANAH ULAYAT DI MINANGKABAU)

Oleh : H. Mas’oed Abidin
Ketua Dewan Dakwah Islamiyah
Indonesia (DDII)
Perwakilan Sumatera Barat – Padang

Pendahuluan

Perjalanan Perempuan

1. Perempuan sering disebut dengan panggilan ‘wanita’.
Panggilan ini lazim dipakai di negeri kita. Seperti
darma wanita, karya wanita, wanita karir, korp wanita,
wanita Islam dsb. Kata-kata “wanita” (bhs.Sans),
berarti lawan dari jenis laki-laki, juga diartikan
perempuan (lihat :KUBI).

2. Ada lagi yang memanggil wanita dengan sebutan
‘perempuan.’ (bhs.kawi,KUBI). Kata “empu” berasal dari
Jawa kuno, berarti pemimpin (raja), orang pilihan,
ahli, yang pandai, pintar dengan segala sifat
keutamaan yang lain. Bila istilah ini yang lebih
mendekati kebenaran, saya lebih cenderung memakai kata
perempuan selain wanita. Karena di dalamnya tergambar
banyak peran.

3. Di masa jahiliyah berlaku pelecehan gender yang
terbukti dengan kelahirannya di sambut kematian.
Keberadaannya pada zaman jahiliyah sangat tidak
diterima, ada paham bahwa wanita pembawa aib keluarga.
Jabang-jabang bayi itu mesti dibunuh, begitu kesaksian
Kitab suci tentang perangai orang-orang jahiliyah.

4. Kondisi ini sama dengan masa Fir’aun, terhadap anak
lelaki yang di lahirkan kaum Musa (keluarga ‘Imran)
harus dibunuh, yang pada masa sekarang mirip
rasilalisme, atau ethnic cleansing.

5. Kitab suci Al Qur’an menyebutkan perempuan dengan
sebutan Annisa’ atau Ummahat. Konotasinya adalah ibu.
“Ibu” bisa berakronim “Ikutan Bagi Ummat.” Annisa’
adalah tiang bagi suatu negeri .
Dalam bagian lain Nabi saw meungkapkan, dunia ini
indah berisikan pelbagai perhiasan (mata’un),
perhiasan yang paling indah adalah isteri-isteri yang
saleh (perempuan atau ibu yang tetap pada perannya dan
konsekwen dengan citranya) (Al Hadits).
Begitu penafsiran Islam tentang kedudukan perempuan,
yang diyakini seorang Muslim (walau ditolak non Muslim
yang menganggap Islam sebagai misunderstood religion.)

6. Sejak hampir dua millenium berlalu, menurut Al
Qur’anul Karim, perempuan telah ditetapkan dalam
derajat yang sama dengan jenis laki-laki dengan
penamaan azwajan atau pasangan hidup (Q.S.16:72,
30:21, 42:11).
Dalam masa pemerintahan abad pertengahan “le roi cest
moi” di Perancis, orang masih mempertanyakan, apakah
makhluk perempuan tergolong jenis manusia yang punya
hak dan kewajiban yang sama dengan laki-laki?
Atau hanya sekedar benda yang boleh di
pindah-tangankan sewaktu-waktu atau untuk di
perjual-belikan sebagai komoditi budak yang menjadi
sumber pendapatan bagi pemiliknya?

Kata woman dalam bahasa Inggris berasal dari “womb
man”, atau manusia berkantong, sebuah pemahaman Eropa
klasik tentang suatu makhluk setengah manusia yang
mempunyai kantong dan bertugas menjadi tempat tumbuh
calon manusia. Ah “dia” kan hanya womb man atau
manusia kantong (“manusia” yang hanya kantong tempat
manusia).

7. Dalam kebudayaan Minangkabau sejak lama yang
kemudian berkembang menjadi “adat bersendi syara’,
syara’ bersendi kitabullah” menempatkan wanita sebagai
‘orang rumah’ dan ‘pemimpin’ masyarakatnya dengan
sebutan “bundo kandung”, menyiratkan kokohnya
kedudukan perempuan Minangkabau pada posisi sentral.
Dalam budaya Minangkabau perempuanlah pemilik seluruh
kekayaan, rumah, anak, suku bahkan kaumnya.
Namun, laki-laki dalam oposisi-biner perannya adalah
sebagai pelindung dan pemelihara harta untuk
‘perempuan’-nya dan ‘anak turunan’-nya.
Maka generasi Minangkabau yang dilahirkan senantiasa
bernasab ayahnya (laki-laki) dan bersuku ibunya
(perempuan), suatu persenyawaan budaya yang sangat
indah.

Hak asasi perempuan

Hak asasi perempuan dalam rangkuman Hak Asasi Manusia
yang diperjuangkan hingga hari ini, sudah diperlakukan
sangat sempurna sejak 15 abad dalam ajaran Islam.
Itu berarti delapan abad mendahului pandangan
ragu-ragu mengakui perempuan.
Agama Islam melihat perempuan (ibu) sebagai mitra yang
setara (partisipatif) bagi jenis laki-laki.

Dalam konteks Islam ini, sesungguhnya tak perlu ada
emansipasi bila emansipasi diartikan perjuangan untuk
persamaan derajat.
Yang diperlukan adalah pengamalan sepenuhnya peran
perempuan sebagai mitra, yang satu dan lainnya saling
terkait, saling membutuhkan, dan bukan untuk
eksploatasi.
Sebagai pemahaman azwaajan, pasangan atau kesetaraan.
Tidak punya arti sesuatu kalau pasangannya tidak ada.
Tidak jelas eksistensi sesuatu kalau tidak ada yang
setara di sampingnya.
“Pasangan”, mungkin tidak ada kata yang lebih tepat
dari itu.

Di barat, selama ini memang ada gejala kecenderungan
penguasaan hak?hak wanita itu, bahkan paling akhir
adalah hilangnya wewenang “ibu” dalam rumah tangga
sebagai salah satu unit inti dalam keluarga besar
(extended family).

a). Secara moral utuh, perempuan punya hak sebagai
IBU, adalah Ikutan Bagi Umat.
Masyarakat yang baik terlahir dari Ibu yang baik.
Kaum Ibu pemelihara tetangga, dan perekat
silaturrahim.Walaupun tidak jarang, kaum Ibu bisa
menjadi perusak rumah tangga tetangganya.

b). Penghormatan kepada Ibu menempati urutan kedua
sesudah iman kepada Allah.
Bersyukur kepada Allah dan berterima kasih kepada Ibu,
diwasiatkan sejalan untuk seluruh manusia.
Penghormatan kepada Ibu (kedua orang tua), merupakan
disiplin hidup yang tak boleh diabaikan. Disiplin ini
tidak terbatas kepada adanya perbedaan dari keyakinan
yang di anut.
Bahkan, dalam hubungan pergaulan duniawi sangat
ditekankan harus dipelihara jalinan yang baik (ihsan).

c). Ibu menjadi pembentuk generasi berdisiplin dan
memiliki sikap mensyukuri segala nikmat Allah. Dari
rahim dalam Ibu dilahirkan manusia yang bersih
(menurut fithrah, beragama tauhid).

Maka, pembinaan sektor agama merupakan faktor
terpenting membantu keberhasilan pendidikan anak yang
didasarkan kepada akhlaq Islami.
Dibawah telapak kakinya terbentang jalan kepada
keselamatan (Sorga)

Kebahagiaan menanti setiap insan yang berhasil meniti
jalan keselamatan yang di ajarkannya dengan baik,
penuh kepatuhan dan rasa hormat yang tinggi.
Dari dalam lubuk hatinya yang tulus dan dengan
tangannya yang terampil dicetak generasi bertauhid
yang berwatak taqwa, selalu khusyuk dalam berkarya
(amal) dan kaya dengan rasa malu.
Watak (karakter) yang manusiawi akan menjadi inti
masyarakat yang hidup dengan tamaddun (budaya).
Posisi perempuan dalam Al Quran

Sebagai yang di-wahyukan kepada Muhammad SAW, Al-Quran
telah menempatkan perempuan pada posisi azwajan
(pasangan hidup kaum lelaki), mitra sejajar/setara
(QS.16:72), berperan menciptakan sakinah
(kebahagiaan), mewujudkan rahmah yang tenteram,
melalui mawaddah berupa kasih sayang (QS.30:21).

Citra perempuan ini diperankan secara sempurna dengan
posisi sentral sebagai IBU (Ikutan Bagi Ummat), salah
satu unit inti dalam keluarga besar (extended family,
bundo kanduang di Minangkabau).
Perempuan adalah “tiang negeri” (al Hadist).
Posisi ini adalah penghormatan mulia, “sorga terletak
di bawah telapak kaki ibu” (al Hadist).

Tuntutan ekonomi atau mengumpulkan materi menjadi
perhatian utama yang perlu disegerakan, sehingga
seorang wanita tidak lagi mampu mengangkat wajahnya
jika ia tidak memiliki pekerjaan di luar rumah.
Perempuan sekarang mestinya tidak bergelimang dalam
dapur, sumur dan kasur. Tapi dia harus keluar dari
rotasi ini, dan masuk ke dalam lingkaran kantor,
mandor dan kontraktor.
Kondisi ini telah menyumbang lahirnya “X Generation”,
generasi yang sangat dicemasi masuk kelingkungan Asia
dimasa depan.

Pemelihara budaya dan Generasi

Generasi berbudaya memiliki prinsip yang teguh,
elastis dan toleran bergaul, lemah lembut bertutur
kata, tegas dan keras melawan kejahatan, kokoh
menghadapi setiap percabaran budaya dan tegar
menghadapi percaturan kehidupan dunia.

Generasi yang siap menghadapi pergolakan dan
pertarungan budaya kesejagatan (global), hanyalah yang
mampu menghindari teman buruk, sanggup membuat
lingkungan sehat serta bijak menata pergaulan baik,
penuh kenyamanan, tahu diri, hemat, dan tidak malas.
Sesuai pesan Rasulullah SAW;
“Jauhilah hidup ber-senang-senang (foya-foya), karena
hamba-hamba Allah bukanlah orang yang hidup
bermewah-mewah (malas dan lalai)” (HR.Ahmad).

Generasi yang memiliki kemampuan tinggi menghadapi
setiap perubahan dalam upaya mewujudkan kebaikan tanpa
harus mengabaikan nilai-nilai moral dan tatanan
pergaulan.
Maka, kedua orang tua wajib melakukan pengawasan
melekat terhadap anak-anaknya sepanjang masa.
Terutama terhadap tiga prilaku tercela (buruk), yaitu
dusta (bohong), mencuri dan mencela (caci maki).
Sesuai sabda Rasulullah SAW;
“Jauhilah dusta, karena dusta itu membawa kepada
kejahatan, dan kejahatan membawa kepada neraka”
(Hadist Shahih).

Pendidik Utama Bangsa

Peran Perempuan sebagai Ibu adalah inti di tengah
rumah tangga dan masyarakat (negara). Ibu merupakan
guru pertama dalam perkataan, pergaulan dan penularan
tauladan cinta kasih terhadap anak-anaknya.
Anak adalah amanah Allah, yang tumbuh melalui belajar
dari lingkungannya. Melalui pendidikan keteladanan.
Teladan yang baik adalah landasan paling fundamental
bagi pembentukan watak generasi.

Dalam perkembangan masa yang mengikuti gerak
globalisasi terjadi perubahan cuaca budaya. Perubahan
yang seringkali melahirkan ketimpangan-ketimpangan.
Bahkan kepincangan yang diperbesar oleh tidak adanya
keseimbangan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan
kesempatan serta terdapatnya perbedaan kesempatan yang
sangat mencolok (fasilitas, pendidikan, lapangan
kerja, hiburan, penyiaran mass-media,) antara kota dan
kampung.
Akibat nyatanya adalah mobilitas terpaksa yang pada
akhirnya sangat mengganggu pertumbuhan masyarakat
(social growth).
Perpindahan penduduk secara besar-besaran ke kota
sebenarnya merupakan penyakit menular di tengah?tengah
kemajuan negeri yang tengah berkembang.
Dusun-dusun mulai ditinggalkan, kota-kota menjadi
sempit untuk tempat tinggal pendatang baru. Kehidupan
yang keras menyebabkan orang terpaksa menjual diri.
Dasar-dasar kehidupan menjadi rapuh, akhlak karimahpun
hilang.

Materi dan uang sudah menjadi buruan.
Kehidupan terancam bahaya, karena kesinambungannya
berubah oleh meluasnya keluarga nomaden modern. Beban
resikonya tidak mudah diperhitungkan lagi. Kerusakan
yang sulit menghindarinya adalah hilangnya jati diri.
Mentalitas mengarah pada materialistik, permisivistik,
bahkan hedonistik. Biaya untuk perbaikannya niscaya
lebih besar dari biaya yang telah dikeluarkan untuk
pertumbuhan ekonomi.

Perempuan Minangkabau Profil Perempuan Mandiri

Dalam keadaan seperti itu, kaum perempuan harus
memaksimalkan peran keperempuanannya, sebagai ibu di
rumahtangganya dan pendidik di tengah bangsanya. Peran
dan citra perempuan mandiri terlihat jika pembedaan
jenis kelamin berlaku secara jelas dan pasti.
Perbedaan kewajiban dan hak serta kedudukan itu,
memastikan berlakunya dual?sex.

“Pendidikan formal yang dapat membuat wanita sejajar
dengan laki?laki berpeluang menjadikan wanita
kehilangan jati dirinya sebagai wanita. Secara tidak
sadar wanita yang terpelajar itu menjadi lebih
maskulin daripada laki?laki.

Ujung dari proses itu adalah ancaman kehidupan rumah
tangganya”, kata Hani’ah.
Selanjutnya, “Sifat feminim yang merupakan sumber
kasih sayang, kelembutan, keindahan, dan sumber cahaya
ilahi mempunyai potensi untuk menyerap dan mengubah
kekuatan kasar menjadi sensitivitas, rasionalitas
menjadi intuisi, dan dorongan seksual menjadi
spiritualitas sehingga memiliki daya tahan terhadap
kesakitan, penderitaan dan kegagalan.”
Sebenarnya tidak hanya ajaran Agama Islam yang
mengungkapkan secara jelas peran dan citra perempuan
itu.
Para penulis sastera juga mengungkapkan peran
perempuan Melayu (Timur) dengan pendirian yang kokoh,
seperti terungkapkan dalam Syair Siti Zubaidah Perang
China ; “Daripada masuk agama itu, baiklah mati supaya
tentu, menyembah berhala bertuhankan batu, kafir
laknat agama tak tentu,”
Perempuan Melayu dengan sifat?sifat mulia diantaranya
lembut hatinya, penyabar, penyayang kepada sesama,
keras dalam mempertahankan harga diri, tegas, teguh
dan kuat iman dalam melaksanakan suruhan Allah,
pendamai, suka memaafkan dan mampu menjadi pemimpin
masyarakatnya.
Wanita Melayu juga mempergunakan akal di dalam berbuat
dan bertindak, bahkan terkadang terlalu keras dan
berani, seperti ditunjukkan dalam syair Siti Zubaidah
itu,kata H. Ahmad Samin Siregar.

Kepemilikan Perempuan menurut Islam
1). Menjadi pemilik dari apa yang dimiliki
pasangannya.
2). Apa yang sudah diberikan kepadanya secara ikhlas
(nihlah) tidak boleh dirampas kembali.
3). Perempuan mempunyai hak perlindungan dari
pasangannya.
4). Perempuan mempunyai kewajiban menjaga kepemilikan
dibelakang pasangannya.
Dan semuanya terlihat dalam hukum perkawinan menurut
Islam.

Kepemilikan tanah ulayat
Sebagai pusako tinggi, sesuai hukum adat dikuasai
oleh lini materilineal, hukum garis keibuan. Kadang
ditemui kerancuan dalam pelaksanaannya. Bahwa gender
lelaki dari garis ibu menjadi penguasa dari harta
pusaka, baik dalam penyerahan kepada pihak lain,
menjualnya, menggadainya, tanpa mengindahkan hak-hak
kaum perempuan.
Kenapa ini terjadi. Jawabannya terserah kepada
kepatuhan orang beradat. Dari pandangan agama Islam,
bisa disimpulkan bahwa yang tidak mau mengindahkan
hak-hak perempuan, sebenarnya adalah mereka yang tidak
beriman atau lebih halus lagi, kurang mengamalkan
ajaran agama Islam.
Sebenar hakikat dari adat basandi syara’, syara’
basandi Kitabullah itu, adalah aplikatif, bukan
simbolis.

Catatan

Pada masa dahulu banyak penulisan cerita tentang
wanita yang dianggap hanya sejenis komoditi
penggembira, penghibur, teman bercanda.

Antara lain pemimpin, pandai, pintar, dan memiliki
segala sifat keutamaan rahim, penuh kasih sayang, juga
dengan jelas mengungkapkan citra perempuan sebagai
makhluk pilihan, pendamping jenis kelamin lain
(laki-laki).

Laki-laki yang kebanyakannya, dalam pandangan sebagian
wanita, memiliki sifat pantang kerendahan, pantang
kalongkahan, superiority complex, tak mau disalahkan
dan tak mau dikalahkan, tidak sedikit yang akhirnya
bisa bertekuk lutut dihadapan perempuan.
QS.QS.16,an-Nahl :57-60).

Bila Annisa’-nya baik, baiklah negeri itu, dan bila
Annisa’-nya rusak, celakalah negeri itu (Al Hadits).
Sorga di bawah telapak kaki ibu (Ummahat) sesuai
ajaran Islam.

Kaidah Al Qurani menyebutkan, Nisa’-nisa’ kamu adalah
perladangan (persemaian) untukmu, kamupun (para
lelaki) menjadi benih bagi Nisa’-nisa’ kamu. Kamu
dapat mendatangi ladang-ladangmu darimana (kapan
saja). Karena itu kamu berkewajiban memelihara
eksistensi atau identitas (Qaddimu li anfusikum)
dengan senantiasa bertaqwa kepada Allah (Q.S.2:23).

“Ibu (an-Nisak) adalah tiang negeri” (al Hadist).
Jika kaum Ibu dalam suatu negeri (bangsa) berkelakuan
baik (shalihah), niscaya akan sejahtera negeri itu.
Sebaliknya, bila kaum Ibu disuatu negeri berperangai
buruk (fasad) akibatnya negeri itu akan binasa
seluruhnya.

Banyak sekali hadist Nabi menyatakan pentingnya
pemeliharaan hubungan bertetangga, serta menanamkan
sikap peduli dengan berprilaku solidaritas tinggi
dalam kehidupan keliling.
Diantaranya Rasulullah SAW bersabda; “Demi Allah, dia
tidak beriman”, “Siapakah dia wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab, “Yaitu, orang yang tetangganya tidak
merasa aman dari kejahatan-kejahatannya”. (Hadist
diriwayatkan Asy-Syaikhan).
Dalam Hadist lainnya disebutkan ;”Tidaklah beriman
kepadaku orang yang perutnya kenyang, sedangkan
tetangganya (dibiarkan) kelaparan disampingnya,
sementara dia juga mengetahui (keadaan)nya”
(HR.Ath-Thabarani dan Al Bazzar).

Bimbingan Risalah ini menekankan pentingnya pendidikan
akhlaq Islam Satu bangsa akan tegak kokoh dengan
akhlak (moralitas budaya dan ajaran agama yang benar).

Tata krama pergaulan dimulai dari penghormatan di
rumah tangga dan dikembangkan kelingkungan tetangga
dan ketengah pergaulan warga masyarakat (bangsa).
Sesuai bimbingan Al Quran (QS.41, Fush-shilat, ayat
34).

Tuntunan Al Quran menjelaskan; (QS. 31, Luqman; ayat
14-15).

Rasulullah SAW menyebutkan bahwa; “Sorga terletak
dibawah telapak kaki Ibu”(al Hadist). Sahabat Abu
Hurairah RA., meriwayatkan ada seseorang bertanya
kepada Rasulullah;
“Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak
untuk aku pergauli dengan cara yang baik?”. Beliau
menjawab, “Ibumu”. (sampai tiga kali), baru terakhir
Beliau menjawab, “Bapakmu”. (HR.Asy-Syaikhan).
Dalam hadist lainnya ditemui pula; Shahabat Abdullah
Ibn ‘Umar menceritakan, “Berjihadlah dengan berbakti
kepada keduanya”. (HR.Asy-Syaikhan).

Disiplin tumbuh melalui pendidikan akhlak, teladan
paling ideal dimata anak (generasi).
Menanamkan ajaran agama yang benar (syari’at).
Jangan berbuat kedurhakaan.
Memperkenalkan hari akhirat, sebagai tempat kembali
terakhir.

Dalam rangka berbakti kepada dua orang tua (birrul
walidaini) diajarkan supaya jangan berkata keras.
Harus bergaul dengan lemah lembut, dan menyimak
perintah kedua orang tua dengan cermat. Jangan bermuka
masam (cemberut) kepada keduanya, tidak memotong
perkataan keduanya, serta mengajarkan dialog
(mujadalah) dengan cara baik (ihsan).

Bimbingan Kitabullah menyebutkan dengan sangat jelas
sekali. (QS.17, al-Israk; ayat 234-24). Dalam wahyu
lainnya, (QS.46, al Ahqaaf; ayat 15-16).

Generasi yang menolak kebenaran (al-haq) dari Allah,
akan berkembang menjadi generasi permissif (berbuat
sekehendak hati) dan menjadi mangsa dari perilaku
anarkisme dan hedonisme sepanjang masa.
Inilah generasi yang lemah (loss generation), yang
tercerabut dari akar budaya dan agama. Allah SWT
memperingatkan (QS: 46, al-Ahqaaf, ayat 17-18).

Maka birrul walidaini (berbakti kepada dua orang tua),
merupakan pelajaran dasar satu generasi, yang harus di
turunkan turun temurun. Nabi Muhammad SAW, bersabda;
“Berbaktilah kepada bapak-bapak (orang tua) kalian,
niscaya anak-anak kalian akan berbakti pula kepada
kalian. Dan tahanlah diri kalian (dari hal-hal yang
hina), niscaya istri-istri kalian juga akan menahan
diri (dari hal-hal yang hina)”.(HR. Ath-Thabarani).

Walaupun tidak jarang terjadi, kalangan liberal
seringkali merendahkan atau menolak peran perempuan
sebagai ibu di dalam rumah tangga. Melahirkan dan
mengasuh anak dilihat sebagai suatu peran yang out of
date. Bila seseorang memerlukan anak bisa ditempuh
jalan pintas melalui adopsi atau mungkin satu ketika
dengan teknologi kloning (?).

Akibat nyata adalah anak-anak dirawat baby-sitter,
paling-paling dititipkan di TPA (tempat penitipan
anak), atau dikurung di rumahnya sendiri sampai orang
tua kembali ke rumah.

Satu generasi yang bertumbuh tanpa aturan, jauh dari
moralitas, berkecendrungan meninggalkan tamaddun
budayanya. Tercermin pada perbuatan suka bolos
sekolah, memadat, menenggak minuman keras, pergaulan
bebas, morfinis, dan perbuatan tak berakhlak. “X”,
mereka hilang dari akar budaya masyarakat yang
melahirkannya. Disinilah pentingnya peran ibu.
Semestinya para perempuan (ibu) yang memelihara
perannya sebagai ibu berhak mendapatkan “medali”
sebagai pengatur rumahtangga dan ibu pendidik bangsa.
Inilah darma ibu yang sesungguhnya, yang sebenar-benar
darma.

Anak-anaknya (generasi pelanjutnya) senantiasa akan
berkembang menyerupai ibu dan bapaknya. Peran
pendidikan amat menentukan, karena pendidikan adalah
teladan paling ideal dimata anak (lihat Nashih ‘Ulwan,
dalam Tarbiyatul Aulaad). Jika ibu menegakkan
hukum-hukum Allah, begitu pula generasi yang di
lahirkannya. Urgensi pelatihan ibadah untuk anak
sedari kecil dengan membiasakan mengerjakan shalat dan
ibadah (puasa, shadaqah, mendatangi masjid, menghafal
al-Quran) akan menjadi alat bantu utama melatih
disiplin anak dari dini.
Sabda Rasulullah SAW. membimbingkan; “Suruhlah
anak-anak kamu mengerjakan shalat, selagi mereka
berumur tujuh tahun, dan pukulllah mereka (dengan
tidak mencederai) karena meninggalkan shalat ini,
sedang mereka telah berumur sepuluh tahun, dan
pisahkanlah tempat tidur mereka” (HR.Abu Daud dan Al
Hakim).

Peran orangtua menjadi tumpul karena
ketegangan-ketegangan antara ayah dan ibu yang umumnya
timbul karena tekanan ekonomi dan desakan materi.
Ujungnya, anak-anak terlantar dan keluarga menjadi
berantakan. Efisiensi sebagai kaidah produktifitas
mulai diterapkan secara salah dalam kehidupan keluarga
modern. Orangtua lanjut usia (Lansia) mulai tak
dihiraukan, dan tempat mereka adalah Panti Jompo.
Suatu tempat yang tak memungkinkan para lansia
mewariskan nilai-nilai luhur pada anak dan cucunya.
Gejala yang mulai meruyak dalam kehidupan modern
sekarang, atau setidaknya dalam masyarakat liberal,
adalah keinginan diterapkannya uni?sex (terlihat pada
pakaian, asessories, pergaulan, kesempatan, pekerjaan
dan jamahan keseharian sosial budaya).

(Hani’ah, “Wanita Karir dalam Karya Sastra: Ada Apa
Dengan Mereka?”, makalah Munas IV dan Pertemuan Ilmiah
Nasional VIII, HISKI 12?14 Desember 1997 di Padang).
(Syair Siti Zubaidah Perang China, Edisi Abdul
Muthalib Abdul Ghani, hal. 230).
Ibid. Pendapatnya diketengahkan pada Munas PIN VIII,
HISKI 12-14 Desember 1997 di Padang.

Padang, 18 Januari 2001.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s